Kali ini aku hanya membawa seperempat makanan bagianku dengan keranjang dan segera pergi mengunci diriku diruang pribadiku.
Duduk didepan jendela, aku merokok sambil memperhatikan kumpulan zombie dibawah supermarket.
Aku sama sekali tidak peduli jika aku hanya memiliki sedikit makanan, karena cepat atau lambat aku akan mati dan menjadi kawanan mereka. Rias lebih membutuhkannya daripada aku, dan dengan makanan sebanyak itu aku bisa memperkirakan jika tiga bulan kedepan dia akan dapat hidup tanpa merasa kelaparan.
Dari berita tentang penelitian yang sebelumnya kami tonton ditelevisi, fase perubahan manusia ke zombie membutuhkan waktu selama seminggu. Virus aneh ini dikatakan hampir mirip seperti HIV Aids, menggerogoti metabolisme tubuhmu dan perlahan-lahan mematikan fungsi otakmu. Manusia akan mati, selanjutnya farasit yang terkandung dalam virus tersebut akan membuatmu hidup kembali sebagai zombie. Akan tetapi, ketika kau dikerubungi zombie, menjadi kudapan mereka dan berakhir mati disana, kau akan langsung bangkit menjadi zombie beberapa menit setelah kematianmu.
Zombie buruk rupa adalah contoh kematian yang seperti itu.
Untuk itu, sampai seminggu kedepan aku akan mengunci diriku diruangan ini, aku tidak akan membiarkan Rias tahu tentang keadaanku yang menyedihkan ini. Selain itu, dengan aku yang mengunci diriku disini akan membuatnya sangat aman karena tidak perlu menghawatirkan tentang ancamanku yang akan menjadikannya kudapan setelahnya aku menjadi zombie.
Sebelumnya aku selalu selamat ketika mengalami beberapa kecelakaan yang mengancam nyawa, namun kali ini akhirnya kematian datang dengan cara yang sama sekali tidak pernah kupikirkan akan terjadi.
Keberuntunganku sudah sampai batasnya, membuatku hanya mampu menertawakan takdirku ini.
Final Destination, ne?
ooo
*Tok! Tok! Tok!
"Naruto-san? Naruto-san?"
Keesokan harinya beberapa kali pintu ruangan pribadiku diketuk oleh Rias, aku tak mempedulikannya dan terus terduduk disofa menghadap jendela.
Aku tidak bisa tidur, memaksakan diri untuk tertidur, namun entah kenapa aku tidak bisa menutup kedua mataku.
Seharian, untuk membunuh waktu, aku menghabiskan 5 bungkus rokok dan 12 kaleng bir.
"Apa kau baik-baik saja, Naruto-san?!"
Getaran dalam nadanya terus meningkat, mungkinkah Rias menghawatirkanku (?). Namun apa alasannya (?), ketika dia sendiri sebelumnya selalu mengurung diri didalam ruang pribadinya.
"Apa kau yang menaruh makanan itu didepan kamarku?"
Ya, tentu saja. Setelah insiden masturbasiku itu, Rias tidak pernah mau akrab lagi denganku. Dia terus mengurung dirinya didalam sana, dan kemungkinan dia keluar kamarnya adalah ketika perutnya merasa lapar dan mencoba bertanya untuk meminta makanan lagi denganku.
"Kenapa kau harus melakukannya sendiri? Bukankah kau bisa mengajakku? Dan,,, dan,,,"
Aku bangkit berdiri, menghampiri pintu dan membukanya menemukan Rias yang berdiri memeluk tubuhnya sendiri.
Dia terlihat gelisah.
",,,Syukurlah kau baik-baik saja!"
Aku terkejut. Ketika dia menemukanku membuka pintu, dia begitu saja langsung memelukku.
"Kau pikir aku kenapa?"
Tanyaku ingin tahu.
"Kau pergi sendirian kesana, aku pikir kau,,," Tubuhnya gemetar dipelukanku. ",,,Kau mati seperti teman-temanku yang lain."
Misi untuk mengambil persediaan makanan sebelumnya berakhir dengan kematian 4 teman sekolah Rias. Meskipun kita sudah bekerjasama, namun tetap saja cara berburu zombie lebih superior dan mampu membunuh teman-temannya.
Mengetahui aku sendirian kesana, mungkin itu yang membuatnya sangat hawatir.
Menyadari itu aku langsung menyembunyikan lengan kananku. Meskipun aku sedang memakai kaos lengan panjang, entah kenapa aku bertingkah seperti itu.
"Konyol!"
Aku mendengus kasar.
"T- tapi,,,"
"Mereka lemah! Selain gerakannya yang lambat, zombie juga tidak bisa melihat dengan jelas dikegelapan. Jika kau bisa menghindari mereka maka kau akan selamat!"
Kataku sambil tersenyum.
Rias mendongkakan kepalanya dan aku bisa melihat jejak airmata dikedua pipinya.
Seurius? Dia menangis untukku?
"Benar kau tidak apa-apa?"
"Bukankah aku sekarang ada dihadapanmu?"
Aku balik bertanya membuatnya bersemu merah karena pertanyaan konyolnya itu.
Setelah percakapan itu, aku mengajak Rias masuk keruanganku.
Ketika melihat sofa yang berantakan oleh bekas puntung rokok Rias menjerit, berkacak pinggang dia melotot kearahku.
Aku menggaruk bagian belakang kepalaku canggung.
Tanpa membuang waktu, aku segera membersihkan kekacauan yang kubuat dan setelah semua bersih, kami berdua duduk berdampingan menghadap jendela.
"Maafkan aku karena sebelumnya menghindarimu!" Katanya dengan muka bersemu merah.
"Tidak apa-apa."
"Meskipun begitu,,," Rias sedikit bergeser dari duduknya. "K- kau pria dewasa, dan seharusnya aku bisa mengerti alasanmu melakukan 'itu'!"
Aku bersemu merah ketika dia membawa masalah masturbasi itu.
"Ya, secara seksual aku aktif. Untuk itu aku sangat membutuhkan sebuah pelepasan."
Kataku berterus terang, tidak peduli jika kata-kata itu sangat vulgar untuk dibicarakan bersama seorang gadis muda siswi sekolah.
Rias terdiam dia merenung seolah sedang memikirkan sesuatu.
"A- apa,,, apa kau selalu melakukan hal itu?"
Apa-apaan dia bertanya seperti itu? Apakah dia berniat untuk menertawakanku?!
"Aku tidak mungkin memperkosamu, untuk itu aku melakukannya sendiri!" Aku menembak perntanyaannya tadi.
"Ma- Maaf!"
Rias kembali menunduk, lag-lagi dia melakukan kesalahan yang sama dengan pertanyaan konyolnya itu.
Suasana canggung mulai hadir diantara kami.
Kami hanya duduk diam sambil menyenderkan punggung kami disandaran sofa, masing-masing dari kami seolah tidak ada yang ingin memulai percakapan lagi.
Waktu terus berlalu, perlahan kepala Rias menyender dibahuku dan tubuh kami semakin dekat saling menempel.
Tubuhnya sangat hangat, kami seakan sedang saling menghangatkan tubuh masing-masing.
Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana, aku merasa hawatir dengan posisi kami ini.
Merasakan kehangatan tubuh gadis muda secara langsung sedikit membuat tubuhku merasa bergairah.
Apakah ini naluri reproduksi manusia? Ini sangat berbahaya!
Aku tidak bisa lepas kendali dan menyerangnya. Dia akan terkejut, dia akan membenciku dan itu akan merusak segalanya.
Naluriku seakan sedang berdebat dengan pikiranku, mereka saling berperang untuk menentukan siapa pemenang diantara mereka.
Naluriku berbisik untuk segera memperkosanya, namun pikiran tentang resiko yang akan aku dapatkan sangatlah besar.
Aku berhasil bertahan. Pikiranku menang, dan aku berhasil menekan keinginanku untuk memperkosa gadis it-
"Ne, Naruto-san."
Rias bergerak semakin dekat, kepalanya bertumpu didadaku dengan wajahnya mendongkak langsung berhadapan dengan wajahku.
"A- apa?"
"Apakah aku harus melakukan i- itu?"
"E- eh? I- itu?"
Pikiranku langsung blank, aku secara tidak sadar mengulang kata-katanya.
"A- aku akan membantumu masturbasi."
"A- apa yang kau katakan!"
Masturbasi, masturbasi,,, Rias tentu tadi bilang tentang membantuku untuk masturbasi.
Kenapa gadis ini malah menyarankan hal seperti itu? Aku tahu Rias sudah tidak perawan, dia memiliki kekasih sangat mesum yang tidak tahu malu selalu berterus terang dengan keinginannya mengeksplorasi payudara Rias.
"I- itu,,, A- aku pikir kerjasama tim sangat penting. Kau sudah membawakanku makanan, sangat memalukan jika aku tidak bisa membantu Naruto-san!"
Alasan. Aku tahu seorang perempuan juga memiliki hasrat seksual, dan kemungkinan besar dia merasa sangat kesepian karena sebulan terakhir ini tidak bermanja-manja dengan seorang laki-laki.
Seorang Ibu rumah tangga saja tidak akan segan untuk berselingkuh jika dia tidak mendapatkan perhatian seksual dari suaminya, tidak jauh berbeda dengan apa yang Rias alami sekarang ini.
"Aku mengerti."
Naluriku mulai tersenyum, dia berusaha merangkak datang dan perlahan menerkam pikiranku.
"Aku sangat menghargai jika kau mau membantuku!"
Memikirkan tentang mendapatkan Blowjob dari siswi sekolah membuat Penisku ereksi.
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Insfirasi? Dari salah-satu Novel yang pernah aku baca, aku lupa judulnya 'apa' karena sudah lama aku membaca Novel itu.
Word memiliki banyak kendala. Selain otak yang terkuras, juga untuk membuat satu chapter akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Maaf, kemampuanku hanya sampai 1k tiap chapter.
Sampai jumpa dichapter selanjutnya,,,
