Tittle: OMONA

Summary:
Chanyeol dan Sehun adalah Pasangan suami istri yang bahagia dengan 2 orang putra, tapi karena Suatu hal, Sehun harus kembali menjadi Siswa SMA dan menemukan cinta yang baru, upss.../CHANHUN/TAOHUN/CHANSOO/KRISHUN/GS UKE

Main Cast:
OH SEHUN - 32 tahun
PARK CHANYEOL - 35 tahun
HUANG ZITAO- 17 tahun
DO KYUNGSOO - 28 tahun
KRIS WU - 36 tahun

other cast:
SANHA ASTRO as PARK SANHA - PUTRA PERTAMA(15 TAHUN)
JACKSON as PARK JACKSON - PUTRA KEDUA (4 TAHUN)
DINO SEVENTEEN as LEE CHAN (15 TAHUN)

Cameo:

Kim Heechul GS - Chanyeol's Mother.
Kim Namjoon
Lee Taeyong
Park Jimin
Irene Bae

Pairing: Chanhun(Main Pair) , TaoHun , Chansoo

Rated: 15+

Warning: GS for Uke, TYPO EVERYWHERE ,ADEGAN KEKERASAN

Chapter 3

Ruangan ini begitu sempit pengap dan kotor, siapapun yang masuk didalamnya pasti akan sesak karena begitu banyak debu didalamnya. Begitu pula Sanha, Bocah tinggi itu tak berhenti menggeliat dari kungkungan tali yang mengikat kuat kaki dan tangannya, Nafasnya sudah hampir habis rasanya. Bayangkan saja, Dari pagi saat Ia akan masuk kelas, Ia di bekap oleh senior yang mengganggunya dan Ia dibawa ke gudang di belakang sekolah mereka, tak hanya Itu, kaki dan tangan Sanha diikat kuat dan mulutnya diberi sebuah Lakban hitam. Rasanya Sanha ingin pingsan Saja, mengingat dadanya sudah sesak karena terlalu lama menghirup debu, bernafas dengan hidung saja tak Cukup.

"Eomma...", lirihnya sebelum mata itu terpejam.

.

.

DEG!

Entah kenapa perasaan Sehun makin merasa tak tenang, sudah 2 jam Sehun mencari Sanha, berkeliling tempat Audisi hingga kaki jenjangnya terasa pegal. Sehun memutuskan untuk menghubungi nomor Sanha lagi, entah kesekian kalinya. Jika Sanha masih tak menjawab telephonnya, maka Sehun yakin jika dirinya Akan menelfon polisi.

'Yeoboseyo?', sahut seseorang yang ada di Seberang.

Sehun bersyukur, Akhirnya ada yang menjawab telephon Sanha, "Yeoboseyo, Sanha Kau dimana Sayang? Eomma mencarimu di tempat audisi tapi Eomma tak menemukanmu dimanapun, Katakan pada Eomma Kau dimana? Eomma akan menjemputmu", cerocos Sehun tanpa henti.

'Maaf, Apa Anda orang tua Anak yang memiliki Handphone ini?, Saat ini Putra Anda sedang ada di Seoul International Hospital', jelas seseorang diseberang.

"A...apa? Apa yang terjadi pada putraku? Katakan?"

'Lebih baik anda segera kemari sekarang, Saya akan menjelaskannya kepada Anda jika Anda sudah tiba, Kami sedang ada Di UGD sekarang jadi Saya harap Anda segera kemari", BIP!

Sehun segera saja berlari menuju mobilnya, sesegera mungkin melaju ke Rumah sakit, Di perjalanan Sehun berusaha menghubungi Chanyeol.

Sehun meneteskan Air matanya, Chanyeol tak menjawab telephon darinya sementara Kini Ia terjebak oleh kemacetan kota, Ia sangat khawatir pada Sanha, bagaimana jika terjadi hal yang buruk pada Putranya.

"Arghhh! Tak bisakah kalian bergerak hah? Hiks hiks putraku sedang dalam kondisi menghawatirkan, Aku mohon bergeraklah", lirih Sehun sambil menangis makin keras. Sehun memencet klaksonnya dengan brutal, melampiaskan kekesalannya.

.

.
.

45 menit menunggu jalanan yang macet Akhirnya Sehun berhasil sampai di Seoul International Hospital, tempat dimana Sang Suami bekerja dan putranya dirawat.

Sehun berlari menuju ruang UGD poly Anak Seoul International Hospital, Setelah berkeliling sebentar, Akhirnya Sehun menemukan Sanha yang terbaring dengan masker oksigen melekat di hidung dan mulutnya.

Sehun segera menggengam tangan Sanha yang terbebas dari jarum infus, Sehun menatap sedih putra kesayangannya yang memejamkan matanya erat.

"Tadi Saya menemukan putra Anda di gudang Sekolah", Sebuah suara menyadarkan Sehun jika di sana tak hanya ada dirinya, tapi ada seorang Siswa berseragam sama dengan putranya dengan Sanha, dengan kantung mata tebal membuat Sehun merasa kasihan pada Siswa itu, 'pasti anak ini kurang tidur', pikir Sehun dalam hati.

"Bagaimana bisa Sanha ada di Gudang, dan bagaimana bisa kau menemukan putraku dalam keadaan begini? Apa yang terjadi pada putraku nak?", tanya Sehun bertubi-tubi.

"Ahjumma, bisakah Anda mengulang pertanyaan Anda? Saya masih belajar bahasa Korea hehe", Siswa itu tersenyum, menunjukkan gigi putihnya yang sedikit panjang dibagian taring.

"Bagaimana bisa. Kau. Menemukan. Sanha. Dengan. Keadaan. Seperti itu?", tanya Sehun dengan perlahan dan penuh penekanan, berusaha membuat siswa dihadapannya faham.

"Tadi Aku sedang berkeliling sekolah, Aku siswa yang baru masuk SOPA di tahun kedua, jadi Aku berkeliling dan saat Aku melewati sebuah gudang tua Aku mendengar dering ponsel yang tak hanya terdengar sekali dua kali, Awalnya Aku mengira itu Ponsel hantu, tapi saat Aku mendekati gudang itu, Aku mengintip ke dalamnya dan melihat ada siswa yang terikat disana, mulutnya juga di beri lakban, Aku sangat terkejut dan langsung saja mendobrak pintu gudang itu, dan membawa dia ke rumah sakit ini", Sehun sedikit bingung dengan ucapan Siswa dihadapannya tapi dia Faham apa yang dimaksud oleh lelaki muda dihadapannya.

"Terima kasih, sudah menyelamatkan Sanha", Sehun tersenyum dan mengacak rambut hitam siswa tersebut, "Ah iya, siapa namamu?".

"Namaku Huang Zitao, Aku baru pindah dari China", Siswa itu membungkukkan badannya sopan.

"Aku Park Sehun, dan Dia putraku namanya Park Sanha", Sehun mengusap rambut kecoklatan milik Sanha dan mengecup dahi bocah itu dengan sayang.

Tao memandang Sehun tanpa berkedip, kenapa wanita ini nampak Sangat menawan dan Anggun dimatanya?, Benar-benar type idealnya.

"yeobo!", Lamunan Tao buyar mendengar sebuah teriakan yang membuat Sehun mengalihkan pandangannya Dari Sanha ke arah si pemanggil.

"Yeobo~", Sehun memeluk sosok berpakaian khas ruang operasi itu dengan erat. "Uri Sanha... ".

"Sssttt... jangan khawatir eoh?, Sanha akan baik-baik saja", Sosok yang adalah Chanyeol itu mengusap punggung istri tercintanya dengan lembut, berusaha menenangkan Sehun. Tapi bukannya tenang, Sehun malah mengeraskan tangisannya.

Mereka melupakan Sosok Siswa yang memandang iri kemesraan mereka.

"Ehmh!", Tao berdehem keras, membuat Chanyeol dan Sehun melepaskan pelukan mereka, "Ahjussi... Ahjumma... ada anak dibawah umur disini, jangan bermesraan sembarangan, dan apa kalian tidak dengar dari tadi ada Suster yang memanggil kalian?".

Benar Saja, Seorang Suster sedang memandang mereka dengan pandangan kikuk, "Dokter Park, Saya membutuhkan tanda tangan Anda sebagai Wali dari pasien Park Sanha", Suster itu menyodorkan dokumen pada Chanyeol dan Chanyeol menanda tanganinya, "Sanha Akan segera dipindahkan ke Ruang rawat, dan Jika kalian sudah selesai dengan acara keluarga kalian, Kalian dipersilahkan keruangan Dokter Wu", Suster itu tersenyum dan membungkukkan badannya sebelum menjauh.

"Biar Aku yang datang ke ruangan Dokter Wu, kau ikut ke ruangan rawat Sanha saja", Chanyeol mengusap mata Sehun yang sembab, "Kau harus Kuat jika ingin Sanha menjadi kuat juga, Semangatlah Nyonya Park, Ayo Senyum em?".

Sehun tersenyum dan segera mendorong Chanyeol agar segera menemui Dokter Wu.

.

.

.

"Aku Akan melakukan apapun untuk Sanha, Aku harus melakukannya Park Chanyeol, kau izinkan atau tidak, Aku akan tetap melakukannya".

Kini Chanyeol dan Sehun berada disebuah Caffe dekat Seoul International Hospital, Sehun nampak memasang wajah juteknya, wajah ketika keinginannya tak didukung oleh Suaminya.

"Yeobo~~ , Aku tahu Kau sangat menyayangi putra-putra kita, tapi Kau tidak perlu melakukan hal konyol ini", Chanyeol menggengam tangan Sehun yang berada diatas meja, "masih ada cara lain, kita cari Cara lain saja ya?", bujuk Chanyeol.

"Cara lain apa lagi?, selama ini kita sudah melakukan segala cara agar Sanha tidak jadi korban pembullyan, tapi apa yang terjadi? Kasus pembullyan Sanha malah semakin parah", bukan Sehun namanya jika tidak keras kepala.

"Kita sewa Bodyguard, kita coba saja itu", Chanyeol masih berusaha membujuk Sehun.

"Kuharap Kau masih ingat saat Sanha kelas 5 SD, Kita pernah menyewa Bodyguard dan mereka dipecat oleh Nyonya Heechul yang terhormat", Sehun menghela nafas, "Hanya ada satu cara, Aku harus ada disamping Sanha 24 jam, dan Cara paling ampuh adalah... Aku kembali menjadi siswa SMA"

"Yeobo...", Chanyeol menghela nafas berat.

"Kau hanya perlu membuatkan Aku identitas baru dan Sisanya biar Aku yang urus Sendiri", Sehun bangkit dari kursinya dan berjalan keluar Caffe, kembali menemani Sang Putra yang belum juga membuka mata.

.

.

.

OMONA

.

.

.

Sehun nampak menyuapi semangkuk bubur hangat pada Sanha, sesekali Ia mengusap sudut bibir putranya yang terkena noda bubur.

"Sanha-ya... kau mau ceritakan pada Eomma kan? Bagaimana kejadiannya? Bagaimana bisa kau ada digudang itu em?", Sanha sudah menghabiskan buburnya dan kini Ia berbaring nyaman dengan tangan Sang Ibu yang tak henti-henti membelai kepalanya.

"Mereka..."

Flashback

Sanha Sangat terkejut mendapati sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya, serta 2 orang lain yang menarik paksa tubuhnya menuju gudang tak terpakai di belakang sekolah.

Ada tiga orang siswa dihadapan Sanha kini, Salah satunya adalah Sunbae yang terkena Air minum Lee Chan, Sunbae yang bernama Kim Namjoon dan Dua pengikutnya yang tak lain adalah Lee Taeyong dan Park Jimin. Dengan tak berperikemanusiaan mereka bertiga mengikat Kaki dan tangan Sanha dengan kuat, tak hanya itu mereka melakban mulut Sanha, Sanha didorong hingga terbaring di antara tumpukan debu yang menyesakkan.

"Heh payah! Kau menangis heuh?!", Namjoon berjongkok di samping terbaringnya Sanha, menjambak rambut anak itu dengan keras membuat Sanha melotot sakit, "ou ou ou... lihatlah Taeyong-ah, Jimin-ah.. si manis ini kesakitan hahaha, bagaimana jika kita menambah kesakitannya? Kalian setuju?"

"Dengan senang hati Namjoon", Jimin nampak mengangkat kakinya tinggi-tinggi sebelum menghempaskan telapak kakinya ke dada kurus Sanha. Melihat Sanha yang hanya melungker-lungker(?) Tak bisa berontak membuat mereka bertiga tertawa nista.

Seperti tak Puas, Taeyong menendangi tubuh Sanha tanpa Ampun dan membuat darah merembes dari sela lakban.

Melihat Sanha yang sudah tak berdaya, Namjoon dan kawan-kawannya berlalu pergi dan mengunci kembali pintu gudang itu. Tak lupa tawa tak lepas dari mereka bertiga.

Flashback end

Sehun tak bisa untuk tak menangis mendengar cerita putranya, Sungguh... Sehun merasa lelah mendapati anaknya selalu ditindas begini.

"Eomma... jangan menangis, maaf Sanha sudah membuat Eomma sedih, Sanha Janji akan menjadi lebih kuat demi Eomma", Sehun segera memeluk putranya, meski sedikit susah mengingat Sanha sedang terbaring.

"Eomma janji Akan menjagamu Sayang, tak akan Eomma biarkan Sanha diperlakukan begini lagi, Eomma akan memastikan Sanha hanya perlu belajar saja disekolah, tanpa ada penindasan lagi", Sehun melepas pelukannya dan mencium kening putranya tersebut.

CKLEK! Seseorang membuka ruang rawat Sanha, membuat Sanha dan Sehun mengalihkan pandangannya kearah pintu, Tampak Seorang wanita dewasa bersetelan rapi memasuki ruangan itu, Sehun segera berdiri dari duduknya dan memeluk sosok itu.

"Sehun-ah lama tak jumpa", Wanita itu mengusap punggung kurus Sehun, lalu menggandeng Sehun menuju dekat ranjang Sanha, "Hallo Sanha? Kau ingat Aku?"

"Emm?", Sanha hanya menggeleng saja.

"Hahaha tentu saja tidak ingat, Aku melihatmu saat bayi dan sekarang kau sudah sebesar ini, pertumbuhanmu sangat cepat eoh?".

Melihat putranya bingung, Sehun berinisiatif memperkenalkan teman sekolahnya dulu pada putranya, "Sayang... perkenalkan ini tante Irene, teman SMA Eomma, Dia juga guru disekolahmu, maklum jika kau tidak tahu, kau baru sekali masuk sekolah"

"Eommamu cerita tadi di telephon, jika Kau menjadi korban penindasan, Kau tenanglah ya, jika ada yang mengganggumu Kau tinggal bilang pada tante okey?", Sanha mengangguk dan tersenyum.

Sehun membelai rambut putranya dan menyuruhnya tidur.

.

.

.

OMONA

.

.

.
.

Sehun dan Irene kini ada di kantin rumah sakit, Sehun ingin membicarakan hal yang serius pada Sahabatnya itu.

"Jadi bagaimana? Kau mau membantuku kan?", Sehun memandang penuh harap pada Irene.

"Ya... mau bagaimana lagi? Aku harus membantumu Sehunie", Irene menyeruput teh nya, "Apapun itu jika Aku bisa, Aku akan membantumu, beritahu Aku apa yang bisa Aku bantu?"

"Bantu Aku menjadi Siswa SMA lagi", Irene menyemburkan tehnya mendengar kata-kata Sehun.

"Kau gila? Bagaimana bisa hah?", Irene mencak-mencak.

"Kau bisa Irene, Chanyeol sudah membuatkan Aku identitas baru, kau tinggal membantuku masuk Saja kesana"

"Sehun... Kau itu Alumni SOPA, bagaimana bisa Kau mendaftar lagi heum?"

"Aku akan menyamar menjadi Siswa laki-laki, dengan nama baru dan identitas baru juga"

"Astaga Sehun kepalaku pusing", Irene memijit pelan pelipisnya yang berdenyut-denyut.

"Kau pasti bisa membantuku".

.

.

.
.

.
OMONA

..

.

.

.

"Penjepit"

Chanyeol sedang melakukan operasi besar sekarang, ada seorang Suster yang menyerahkan apa yang diminta Chanyeol, Di depannya ada Dokter wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Do Kyungsoo, yang berperan Sebagai Assistant Chanyeol saat operasi.

.

.

"Syukurlah operasi Sukses ya ", Kyungsoo memberikan segelas kopi hangat pada Chanyeol, disambut baik oleh Chanyeol dengan senyuman Khasnya.

"Kau yang terbaik Kyungsoo, Kau sudah bekerja keras hari ini", Chanyeol menyeruput kopi hangatnya.

"Panggil Aku Dr. Do jika dirumah sakit Chanyeol", Kyungsoo memukul pelan bahu Chanyeol dan Chanyeol berpura-pura kesakitan, menimbulkan Tawa Kyungsoo dan pukulan yang makin membabi buta(?).

"Ehm!", Seseorang berdehem keras membuat candaan Kedua dokter itu berhenti dan melihat Seorang Dokter lain yang berjalan menghampiri mereka, Seorang Dokter berperawakan tinggi dengan rambut pirang , lebih cocok menjadi model sih dari pada Seorang Dokter, "Kalian nampak Asyik sekali ya?"

"Hanya melepas rindu saja , Sudah lama kami tak bercanda begini", Dokter yang dipanggil itu mengangguk saja mendengar penjelasan Kyungsoo.

"Ah.. ya , bisakah Kau ikut keruanganku? Ada suatu hal penting yang terlewat dalam penjelasanku Kemarin tentang Sanha", Chanyeol menahan nafas mendengarnya, hal penting yang terlewat itu... apakah sesuatu yang buruk?

.

.

.

.

OMONA

.

.

.

.
.

Chanyeol memijit pelipisnya, apa lagi ini? Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi dalam keluarganya? Apa karena Pernikahannya tak mendapat restu dari Sang Ibu sehingga keluarganya penuh dengan masalah? Apa benar kata Ibunya jika kelahiran Sanha hanya membuat dirinya Sial?

"Hahh~~", Chanyeol menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha melenyapkan pikiran buruknya tentang putra pertamanya itu.

Chanyeol meraih Handphonenya yang bergetar disaku celananya, ada sebuah pesan dari Istri tercintanya.

"Yeobo, Aku ada urusan sebentar dengan teman SMA ku, Kau ingat Irene kan? Aku ada janji dengannya, jika Kau ada waktu senggang kunjungi Sanha diruangannya ya? Jaga dia, Aku tak lama kok"

Chanyeol berjalan menuju ruangannya, mengganti baju Operasinya dengan kemeja resmi miliknya, Ia akan menjaga Sanha setelah ini.

.

.

.
.

Chanyeol menggenggam tangan kurus Sanha yang tak tersambung dengan Infus.

"Sanha mengalami luka yang lumayan Serius di dadanya, lebamnya sangat parah dan organ dalamnya ikut terluka"

"Setelah Aku periksa, paru-paru Sanha mengalami masalah dari awal, ini kelalaianku karena melewatkan ini tapi, kurasa Ukuran paru-paru Sanha tidak sama"

"Kau sendiri yang paling tau apa yang harus dilakukan pada Sanha kan?"

Mata Chanyeol tak pernah lepas dari Sanha, Chanyeol merasa sangat pusing memikirkan Sanha, kenapa Tuhan suka sekali menyiksa Putranya, jika benar ini karena Dosa yang Ia lakukan dengan Sehun dulu, Seharusnya Tuhan menghukumnya saja, jangan Putranya yang tak berdosa.

.

.

.
.

Sehun duduk didepan sebuah Cermin , dibelakangnya ada Irene yang membawa gunting dan sisir, bersiap memotong rambut Sehun, Sehun mengangguk, kode bahwa Irene harus segera memotong rambutnya menjadi super pendek.

"Kau sudah yakin dengan keputusanmu ini kan?", Sehun mengangguk mendengar pertanyaan Irene, Irene hanya menghela nafas dan memotong sedikit demi sedikit rambut kecoklatan milik Sehun.

Sehun tersenyum, Setelah ini Ia akan menjadi orang baru dan bersumpah akan melindungi putranya dari apapun yang membahayakan Putranya.

.

.

.
.. .

.

Tobe Continue...

Uhuhuhu, tahu kok ini lama . Gimana? Pendek? Jelek? Terburu-buru? Ehehe emang saya bikinnya buru-buru sih. Ingin cepet update kkkk

Mau kritik? Saran? Bash? Silahkan tulis di kolom review.