To:

Trisna iya, makasih. Ara uchiha Masak Naru mutusin orang yang dia suka sih? Wkwk. Yuichi oke ini udah lanjut. Akbar123 kenapa pada minta Gaara diputusin, sih?*pukpuk Gaara* Uzumaki Shizuka iya, semoga suka. Hikari iya, salam kenal ! ada juga yang sadar kalo Naru ga bisa nahan sisi yanderenya dia bakal jadi sangar, wkwk.fatayahn gak kok… Sasuke belum suka Naru jadi belum mau direbut Minyak tanah oke dilanjut. Kawaihana iya, ini dilanjut. Aristy bukan Kyuu yang ngerencanain, dia cuma diajak. Proposal hiks. Yang when the angel blablabla itu plotnya udah kesusun sampe tuntas loh! Tapi saya ga tau mau mulai dari mana ceritanya. Saya ngestuck di openingnya. Huhu, maaf ya. Haruna yuhi oke dilanjut. Nyanmaru desu iya, saya juga baru sadar setelah agak lama hiatus gaya cerita saya lama-lama berubah jadi sok asik gini gzzz. Sasuke hentai? Pft… liat di chap depan! Sasu bakal jadi the real of hentai wkswks. Alur ceritanya mellow, tapi cara nyampeinnya nggak. makasih udah kasih tau tentang SOPA. Hyull iya amin(dia baru selesai baca 1 buku udah menyimpang bikin fic lalala) unyu? Kelas 1 SMA itu tua tau. Emangnya kamu kelas berapa? Guest pastinya. Anita. Indah. 777 okee. Darkshadow mau ceritanya panjang atau pendek porsi alurnya emang segitu, maaf ya. Uzumaki Prince Dobe-Nii hehehe, kami baca cerita ini juga?!*tiba-tiba merasa malu karena chap depan ada adegan ambigu* Kyuu dan keluarga Naru tau, kok. Mifta. Cinya okee. Tsunayoshi yuzuru Neji ditipu. Naru pura-pura pingsan pas LTBB, terus ke UKS. Eh ternyata menyimpang ke kantin. Si Neji marah-marah, terus Naru bilang dia ke kantin karena lemes abis pingsan jadi butuh asupan dan blablabla,si ketua osis akhirnya malah balik marahin Neji.


Naruto © Masashi Kishimoto

Didn't Mean to Hurt You © Kuas tak bertinta

Warning : OOC(maybe), AU, Typo(s), FemNaru, etc.

Inspiration by "Hush Hush-Avril lavigne

.

.

.

Happy Reading

Sasuke melotot melihat buntalan kuning berbalut dress hitam di hadapannya, begitu pula Naru yang kini ternganga melihat penampakan manusia mesum yang amat dibencinya. Mereka berdua tidak menyangka akan saling bertemu lagi di malam yang seindah ini.

"K-kau!" Naru menatap tak percaya manusia-manusia yang kini tengah bersalaman bergilir dengan keluarganya. Jadi ini keluarga Itachi yang sebenarnya? Benar-benar sulit dipercaya… Naru sepertinya agak mengerti kenapa Sasuke rela menggantungkan harga dirinya demi taruhan sekarang. Hah… dia tidak menyangka bahwa hidup Sasuke semenyedihkan itu. Errr… sepertinya ada yang sedang salah pengertian di sini. Menyedihkan katanya?

Sasuke juga tidak kalah terkejutnya. Dia shock! Kenapa… kenapa dia harus menatap muka cewek garang ini lagi? Di malam yang indah ini rusak sudah nafsu makannya. Ah, dia mual membayangkan kembali kilas balik ciuman menjijikannya waktu itu. Well, Sasuke akui ciuman waktu itu tidak terlalu buruk, hanya saja yang membuatnya mual adalah rentetan panjang ocehan cempreng si kuning alay itu.

"J-jadi kau seorang butler pelayan keluarganya Itachi-nii, Teme? Wow… sulit dipercaya. Pantas saja kau menerima taruhan teman-temanmu itu!" Naru menatap takjub pemandangan langkah di depannya. Seorang Sasuke yang memakai tuxedo hitam. Sasuke mendelik. BUTLER katanya?! Hey! Apa kuning cebol ini tidak melihat betapa mahal baju yang dia pakai?

Dan dengan kecepatan kilat tawa Itachi meledak bersamaan dengan Kyuubi. Sial! Inilah yang Sasuke tidak suka. Kenapa sih manusia kuning ini selalu mempermalukannya dengan cara yang tidak halal?

"Orang kampungan sepertimu memang tidak bisa membedakan antara baju butler dengan tuxedo mahal, ya… aku kasihan padamu…" Sasuke menjawab sarkastik.

"Oh! jadi keluarga Itachi-nii sekaya itu, ya? Sampai seorang butler sepertimu bisa memakai baju semahal ini?" Naru berbicara semakin ngelantur. Tidak sadar akan gratak-gratakan yang tercipta di gigi Sasuke. Naru, sadar nak… kenapa kau memiliki otak yang selemot ini, sih?

Seulas senyum kecil tercipta di bibir Mikoto. Sedangkan Fugaku kini sibuk bercengkrama dengan Minato tanpa mempedulikan keabsurd-an yang terjadi. Kushina tadinya hendak menjitak kepala Naru karena dengan seenak jidatnya berkomentar aneh, tapi senyuman Mikoto membuat niatnya urung. Ah sepertinya ucapan anaknya yang barusan tidak berpengaruh buruk terhadap masa depan kerja sama keluarganya dan keluarga Mikoto.

"Siapa bilang aku butler, hah?!" Sasuke mulai mendelik kesal. Ahhhh! Kenapa sih bocah ini selalu memaksanya untuk marah-marah?

"Naru… sebenarnya dia adikku. Well, walaupun wajahnya seperti seorang babu, dan sebenarnya aku agak sedikit malu mengakuinya sebagai adik. Jadi…" Itachi menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum jahil ke arah Sasuke.

"Siapa yang kau bilang babu, keriput?"

Naru terdiam setelah menganalisis perkataan Itachi barusan, menatap horror seorang Uchiha Sasuke dan Uchiha Itachi bergantian. Lalu pandangannya beralih ke arah Kyuubi. Kyuubi yang ditatap hanya mengangkat bahunya seolah mengatakan 'kalau mereka saudara memang kenapa?'

"JADI MARGA ITACHI-NII UCHIHA?! " dan seketika Naru merasa pening sekarang.

.

"Jadi kau baru tahu kalau Itachi dan Sasuke bersaudara?" Gaara menatap Naru dengan sedikit tidak percaya. Bisa-bisanya seorang Uzumaki Naru tidak mengenal dua bersaudara yang popular di sekolah itu. Well, Sasuke yang terkenal dengan tindakan kriminalnya dan Itachi yang merupakan mantan ketua OSIS. Seharusnya kekontrasan itu cukup menyolok dan akan dengan mudah diketahui seluruh penjuru sekolah. Tapi… ah sudahlah, Naru terlalu kurang pergaulan rupanya.

"Iya, memangnya kenapa? Lagipula wajah Teme itu terlalu jelek seperti babu dan sangat berandal! Berbanding terbalik dengan Itachi-nii!"

Gaara tidak bisa menahan senyumannya. Pft… baru kali ini dia mendengar seorang gadis yang mengatai Sasuke separah itu. babu katanya… terlebih lagi orang itu pacarnya sendiri. Ah, dia amat sangat lega sekarang. walaupun ciuman pacarnya ini direbut dengan cara yang tak manusiawi, setidaknya hati Naru tetap miliknya.

Naru menopang dagunya. Mengingat kembali kejadian semalam sambil sedikit menghela napas.

"Kau mau aku teruskan tidak ceritanya?" Naru menatap Gaara dengan pandangan sedikit kesal. Ck, dari cara berbicara Gaara, Naru bisa mengerti bahwa Gaara sedang mengatainya secara tak langsung kalau dia adalah gadis yang kuper karena tidak pernah tahu siapa Uchiha Sasuke itu.

"Ya… baiklah."

.

"Mana kutahu kalau si Teme ini adik Itachi-nii! Aku kan baru 3 bulan bersekolah di sini! Lagipula, aku tidak tahu juga marga Itachi-nii itu Uchiha!" Naru menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi dengan tangan bersilangan di depan dada.

"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu! Marga Kyuubi itu Namikaze, dan kau… ah Uzumaki! Jelas aku tidak mengerti! Jangan-jangan kau yang babunya Kyuubi!" Sasuke yang menyadari kejanggalan itu lantas ikut meninggikan suaranya.

"Uzumaki marga Kaa-san ku! Memang kenapa kalau aku memakai marga Kaa-san ku dan Kyuu-nii memakai marga Tou-san?" Naru makin nyolot. Ah entahlah, Kushina sakit kepala sekarang. Kushina hanya bisa berharap kenyinyiran anaknya ini tidak menyinggung seluruh keluarga Uchiha. Well, kecuali Sasuke tentunya. Karena dialah objek yang dikatai.

"Kalau aku tahu begitu aku pasti tidak akan menyiummu tadi siang! Ah sial! Tidak kakak tidak adik sama garangnya ternyata!"

"Apa katamu?! Kau berani berkata seperti itu setelah mengambil ciumanku di tengah lapangan tadi?!" Naru tetap berkoar-koar membalas perkataan Sasuke. Tak sadar bahwa ucapannya amatlah ambigu. Kushina mangap. Mikoto memasang wajah terkejut, dan Itachi menganga. Mereka berdua ciuman?!

"Hah?! Jadi gosip sekolah tentang dua anak yang berciuman di lapangan tadi siang itu kalian?!" Kyuubi memasang wajah horror yang langkah miliknya. Tunggu… itu artinya kesucian bibir adiknya sudah melayang ke bibir Sasuke. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka sudah….

"Jadi kalian berdua sudah seintim itu?" Mikoto tersenyum-senyum tidak jelas. Oh, ayolah… kenapa Naru merasakan perasaan tidak enak sekarang?

Fugaku hanya menatap datar dan tak merespon antusias atas apa yang barusan dia dengar. Namun dalam hatinya dia sudah bersorak-sorak girang. Yah… sebenarnya dia agak sedikit malu memiliki anak lancang macam Sasuke, tapi sepertinya hubungan Sasuke dan Naru lebih dari sekedar kenalan. Mereka bahkan sudah berani berciuman.

"Otouto… sejak kapan kau melepas predikat jomblomu, hm?" Itachi menatap takjub Sasuke. akhirnya Kami-sama mendengar doa seorang kakak macam Itachi. Dia sedikit lega karena hipotesisnya yang mengira bahwa adiknya seorang gay tidak benar. Dan lagi pacar adiknya itu Naru, adik Kyuubi, teman sekaligus rivalnya sendiri. Bukan suatu hal yang buruk.

"Wah, kalau begitu kita berdua tidak usah repot-repot menjodohkan mereka lagi, Kushina! Mereka sudah satu langkah di depan rencana kita ternyata!" Mikoto cengar-cengir bangga. Hah… author tidak mengerti, Mikoto sadarlah, anakmu melakukan kemesuman di muka umum dan kau malah bangga?

Naru melotot bersamaan dengan Sasuke.

"Apa?! Aku tidak sudi menikah dengan rambut ayam ini!" Tuhan, di mana Naru bisa membeli obat sakit kepala sekarang?

.

"Jadi kau dijodohkan dengan Sasuke?!" Gaara menatap Naru horror. Bayang-bayang kehancuran masa depan cerita romansa antara mereka berdua mulai hinggap di otak Gaara. Kami-sama! Cobaan apa lagi ini? Setelah hanya diberi kesempatan berciuman satu kali… sekarang dia akan dipisahkan sejauh takdir berjalan dengan pacar tercintanya? Kenapa sih autor mengetik cerita sejahat ini? Oh ayolah, dia ingin hidup bahagia dan sejahtera bersama Naru, memiliki dua anak karena menurut keluarga berencana hal itu lebih baik, bukannya berpisah begini!

"Iya! Aku tidak tahu kalau Kaa-san dan Mikoto Baa-san senorak itu. Tunggu… kau cemburu?" Naru menyeringai menatap Gaara. Gaara sweatdrop akut. Kenapa pacarnya ini bisa nyengir-nyengir gaje sambil bercerita mengenai perjodohannya sih? Hubungan romansa mereka terancam woy!

"Tentu saja aku cemburu. Kau kan pacarku…."

"Hahaha…. Senangnya!" Naru mengelus dadanya lega. Tidak menyangka akan mendapat jawaban sejujur itu.

"Kau… senang dijodohkan olehnya?"

"Baka! bukan itu maksudku. Aku senang ternyata seorang Sabaku Gaara bisa cemburu. Hey, tapi kau tenang saja. Aku dan Teme itu menolaknya kok. Dan Kaa-san serta Mikoto Baa-san tidak memaksa kami untuk berpacaran. Lagipula mereka bukan orangtua yang kolot."

.

"Yah… mau bagaimana lagi, padahal kami kira kalian benar-benar saling jatuh cinta sehingga perjodohan adalah rencana yang bagus. Tapi kalau Naru tidak mau dengan Sasuke yah… bagaimana ya, Kushina?" Mikoto berusaha tabah menghadapi keegoisan anak dan calon menantunya. Ya Mikoto menganggap Naru calon walaupun sudah ditolak dengan beringas oleh Naru barusan. Hahaha, seolah saja Mikoto tabah, padahal dalam hatinya dia masih memiliki harapan akan kebersatuan Sasuke dan Naru.

"Terserah kalian sajalah… tapi Kaa-san dan Tou-san juga mau, kok punya menantu setampan dan sepintar Sasuke," Kushina ikut-ikut memanasi. Tentu saja membuat Fugaku, Mikoto dan Minato terpancing dan ikut-ikut tersenyum penuh harap.

"Ya… aku juga setuju! Walaupun adikmu itu kampret sekali sudah melakukan pelecehan seksual, tapi kalau mereka benar-benar jadian sih…" Kyuubi mengangkat bahu sambil tersenyum menyeringai. Membuat Naru dan Sasuke yang didesak-desak semakin risih.

"Pikirkan perasaanku juga, Kyuu-nii! Siapa sih yang mau berpacaran dengan ayam jelek macam dia?!"

"Hey, Naru! Benci bisa jadi cinta, lho!" siallll! Naru benar-benar mual sekarang. kenapa dia dihadapkan dengan skenario hidup yang menyebalkan ini sih?

"Sudah kubilang aku tidak mau dengannya!" Sasuke dan Naru berkoar-koar serempak. Membuat seluruh manusia yang duduk berhadapan itu terdiam. Dan saling menatap satu sama lain seolah memberi kode.

"Waw… bahkan mereka bisa sekompak itu dalam hal menolak…." Kyuubi tak puas dan tetap mengompori. Aaaaa! Tolonglah kehidupan Naru, Kami-sama!

.

"Ya, jadi begitulah… intinya aku tidak mungkin memutuskan hubungan kita, kan?" Naru meyakinkan Gaara sebelum kembali meminum milkshake-nya.

"Hm… lalu bagaimana dengan ciuman yang kita bahas di telepon waktu itu?"

Naru nyaris tersedak saat Gaara selesai mengatakan topik rancu itu. Aduh, kenapa saat mendengar kata ciuman dia kembali ingat tentang kejadian di lapangan itu, sih?! Untung saja Gaara tidak memarahinya setelah tahu kronologis yang sebenarnya.

"Kau mau kita melakukannya sekarang? ah! Tapi aku sudah punya rencana lain! Kita lakukan di photo box!"

Gaara mendelik. Photo box katanya?! Hell! Naru gila? Apa dia mau memotret semuanya? Bagaimana kalau pencetak foto di sana melihat gambar tidak senonoh itu? Mau diletakkan di mana wajah dan harga dirinya? Kenapa sih dia mempunyai pacar yang setidak tau malu ini? Ah sial, hilang sudah nafsu makannya sekarang.

"Naru… tolong jangan berpikiran aneh di saat-saat seperti ini…. Kau membuatku sakit kepala, tahu!"

"Hah? Memangnya kenapa?! Bukannya kau yang bilang kemarin akan melakukannya berkali-kali?" Naru tetap cuek sambil menyantap makanan yang dipesannya.

"Kau tidak malu jika pegawai photo box itu melihat kelakuan kita?"

"Jadi kau mau bagaimana? Melakukannya di hotel? Aaah! Kenapa sih cuma gara-gara ciuman kita harus serempong ini?!" Gaara benar benar membatin miris. Kenapa sih Naru tidak pernah malu dan seenak jidatnya saja jika berbicara?! Untung restauran tempat mereka berkencan ini sepi. Apa jadinya jika publik mendengar kata 'hotel' dan 'ciuman' tadi, hah? Aaaa! Gaara stress!

"Kenapa kau diam saja?! Kau tidak suka? Kau hanya mempermainkanku di telepon kemarin? Kau tidak ingin berci –" ocehan Naru terbungkam oleh bibir Gaara. Ah! Author sakit kepala mengetik scene ini. Sebenarnya yang tidak tahu malu siapa sekarang?

"Ck… kau berisik sekali. Dua kali, kan? dan tidak akan pernah di Photo Box." dan seketika wajah Naru memanas.

.

"Gahhhhh! Kenapa aku kalah lagi?!" itachi berteriak histeris menatap layar kaca televisinya. Menatap miris angka 5-1 yang tertera di layar. Kekalahan telak rupanya.

"Yayaya… sesuai perjanjian apabila aku menang, kita akan lanjut belajar, kan? kau tau Ujian Negara sudah dekat? Dan kita tidak boleh bermain-main! Aku benar-benar ingin ke Cambrigde itu, Itachi! Tidak sepertimu yang mempunyai masa depan suram!" Kyuubi meletakkan peralatan PS itachi dan melanjutkan membuka buku Fisikanya.

Itachi hanya merengut kesal. Bagaimana bisa dia kalah?! Ah! 5-1 yang menjijikan…. Dan lagi apa-apaan gaya Kyuubi itu, sih… sok keren dan sok pintar!

"Alah! Sok sok belajar dan mengejar Cambridge tau-tau kau malah masuk univ abal-abal nanti," Itachi ikut bergabung. Menepati janji bahwa akan belajar jika Kyuubi berhasil mengalahkannya.

"Aku punya plan, tidak sepertimu! Kau tidak lihat aku peringkat satu di Ujian Percobaan kemarin untuk mata pelajaran Matematika dan Fisika?" Kyuubi menyeringai bangga. Ah, Fisika dan Matematika memang indah baginya.

"Ya aku ingat, berapa nilai Kimia dan Bahasa Inggrismu!" Kyuubi langsung menekuk wajahnya. Sial, kenapa Itachi pintar sekali menghancurkan mood-nya? Mentang-mentang Kimia dan Bahasa Inggris peringkat satunya direbut oleh itachi semua.

"Hm, terserah padamu! Aku tidak tertarik dengan Kimia. Aku lebih suka masuk Teknik Fisika nantinya daripada harus berurusan dengan Kimia," Kyuubi tau, Kimia dan dirinya bukanlah partner kerja yang baik. Mereka adalah musuh yang ditakdirkan. Dan Kyuubi tidak ingin mendekati apa yang menjadi musuhnya.

"Pft… tenang saja, aku juga tidak berminat di bidang Fisika maupun Kimia. Aku akan bersekolah di sekolah bisnis nanti."

"…." Kyuubi tak melanjutkan pembicaraan. Mulai sibuk menghitung rupanya.

"Hey, Kyuu… kau ingat tentang perdebatan keluarga kita semalam? Tentang Naru dan Sasu?"

"Ya, aku ingat betapa tidak sopannya adikmu melecehkan adikku… lantas kenapa?"

"Kau tidak berniat menyatukan mereka? Bukannya menyenangkan? Kau tahu kan kita benar-benar dibuat sakit kepala oleh ujian sekolah? Apa kau tidak mau bersenang-senang?" Itachi… kenapa kau sama saja seperti Sai yang hobi bermain-main dengan cara yang illegal, nak? Dia adikmu, dan kau menjadikannya sebagai objek hiburan?

"Menyatukan mereka? Kau tidak tahu… Naru menolak perjodohan itu karena dia sudah berpacaran dengan orang lain."

Itachi terdiam. Ah, jadi Naru lebih laku dari pada dirinya, ya? Ah… kenapa sih dia harus menderita jomblo? Padahal Naru yang lebih muda darinya sudah memiliki pacar…. Sepertinya dia harus menyalahkan Fugaku dan Mikoto karena telah memberikan gen yang tidak berkualitas di dalam dirinya. Gen keriput yang entah didapatnya darimana ini memang benar-benar menjengkelkan.

"Errr… ya, kita coba saja! Baiklah, kita tidak usah mengomporinya supaya putus, tapi kita gunakan cara memancingnya agar hatinya tergerak mencintai adikku yang mesum itu. Lagipula keluarga kita sangat mendukungnya, kan?"

Kyuubi terdiam. Menjodohkan Naru, ya? Yah, sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk. Tapi sebagai seorang kakak, ia mengerti bagaimana perasaan Naru terhadap Gaara. Namun… ah, sudahlah.

"Baiklah, tapi aku tidak mau memaksanya."

Itachi tersenyum senang. Walaupun ia tak mendapat obat penawar kekeriputan, akhirnya dia mendapat penghibur rasa bosannya…

"Ini rencana kita selanjutnya, Kyuubi…"

TBC


A/N: Lalala! Saya ngetik cuy! Ternyata ada waktu! Wakswakswaks. Penasaran gak sih rencana Kyuu sama Ita? Terus terus… coba kalian liat next chapnya! Aduuuuh, plis itu ambigu banget ya?! Apa perlu saya naikin rate fic ini? Wahahaha *plak* ya silakan menebak-nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya. Plis jangan cap saya mesum! Kalian harus sadar saya ini tipe author yang seperti apa *smirk*

Awalnya saya mau fokus belajar, tapi setelah liat review yang banyak dan komentarnya macem-macem itu bikin saya gak tenang dan akhirnya ngetik deh. Saya sadar, semangat ngetik saya itu bergantung dari isi review ternyata hahahak #door.

Mind to review?

Kuas tak bertinta


Next chap:

"Ngh… Sasukeh… akuh…."

"N-Naruh… kenapa kau begitu… akh…."

"Ah, sepertinya kau tidak sejelek yang kubayangkan ya, Teme…"

'Jangan-jangan aku menyukai Dobe jelek ini?'