Bomb

Naruto disclaimer Masashi Kishimoto

Pair : Minakushi

A/N : aduh, kayaknya alurnya kecepetan ya? Aku susah buat yang pas waktunya.

enjoy!

.

.

.

"Mau kuberi tahu sesuatu?" kata Minato tiba-tiba.

"um, itu terserahmu, aku hanya menampung saja. Gini-gini aku pendengar yang baik loh!" ujar Kushina.

Minato mengatur napas. "Ini adalah rumahku..."

Kushina kaget. "Rumah...mu?"

Minato mengangguk. "Dan sesorang yang bernama Kushina..."

"Adalah adikku... dan kau membuatku teringat dengan adikku yang tewas 8 tahun yang lalu..." Minato menatap Kushina tajam.

.

.

.

"A-adik? Kushina?" Kushina tertegun.

Minato mengangguk, tatapannya mulai melembut. Lalu tertawa pelan. "Itu bukan salahmu memiliki nama Kushina. Mungkin ribuan orang memiliki nama Kushina. Tetapi Kushina-ku hanya ada satu. Kushina Namikaze..."

Kushina ikut tersenyum, "sepertinya adik kesayanganmu itu manis..."

"Sangat. Sangat manis..." Minato membuka jurnalnya dan membuka halaman terakhir dan menunjukkannya pada Kushina. Foto seorang gadis kecil berambut pirang panjang dan bermata biru dan memeluk anak lelaki yang juga terlihat masih muda. Kushina menebaknya itu foto Kushina Namikaze dan Minato.

Lalu Minato bergegas memasukkan jurnalnya. "Aku harus segera pulang. Sampai jumpa, Shina..."

"Oh, Minato... boleh minta alamat rumahmu? Mungkin sesekali aku bisa berkunjung..."

"Central Tokyo, Distrik Konoha, Jalan Konoha 4, apartemen Almond nomor 17..."

"Baiklah, terima kasih..."

-Central Konoha, Minato's Apartement-

"Kushina...Uzumaki..." Minato teringat saat bersama Kushina. Kenapa ia menjadi terbuka dengan gadis itu? Padahal selama ini Minato dianggap misterius oleh rekan kerjanya yang berada diregu lain. Entah mengapa Minato merasa...Hidup kembali.

Malam ini Minato mengecek jurnalnya lagi. Hari ini ia menemukan bom dirumah Kushina, dan entah besok ia akan menemukan apalagi.

"Namikaze yang tersisa hanya aku..." Minato menggumam, "dan aku harus menyelesaikan kasus keluargaku... tunggu sebentar lagi, ayah, ibu...Kushina..."

-Next Day-

Telepon di meja Minato berdering nyaring. Mau tak mau Minato membuka sebelah matanya yang masih terlihat mengantuk. Ini masih jam 4 pagi, siapa yang menelepon pagi buta seperti ini... masih jam empat!

"Halo...?" suara Minato lemas, ia mengucek sebelah matanya.

"Minato cepat bangun! Kode merah!" Terdengar suara Inoichi yang berteriak.

Mendengar kata 'kode merah' mata Minato terbangun sepenuhnya.

"Apa?! Dimana?" Minato segera menuju kamar mandi membasuh wajahnya.

"Di Istana Negara..."

"Baik, 5 menit lagi aku akan tiba disana..." Minato langsung menyambar ransel hitam dan jaketnya.

-Istana Negara-

Minato mengendarai motor sportnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, untungnya masih jam 4 pagi, jalanan masih sepi. Setelah sampai di Istana Negara, Minato memarkir motornya disebelah mobil patroli Fugaku.

"Yap, tepat empat menit..." Fugaku melihat jam tersenyum miring.

"Benda itu disana..." Inoichi yang berdiri disamping Minato meunjuk benda Hitam yang tertempel di salah satu pilar diteras Istana Negara.

"Kenapa benda itu bisa tertempel disana? Bukankah tempat ini sangat dijaga ketat?" Minato menggumam. Lalu ia berjalan santai menuju pilar itu sambil mengenakan sarung tangannya.

Minato meneliti bom itu, terlihat jelas sekali kalau itu bom, dengan beberapa TNT yang tertempel disana juga, pemicunya sebuah jam saku. Minato menghembuskan napasnya, dan mulai berkonsentrasi untuk menjinakkan bom itu.

"Dia... Dia penjinak? Dan dia tidak memakai pengaman?" Salah seorang staf yang bekerja di Istana Negara ternganga saat melihat Minato yang menjinakkan bom tanpa pengaman. "Dia memang suka menantang maut..." Fugaku menjawab.

Tangan Minato gemetaran, ia memang sudah menjinakkan bom itu satu menit yang lalu, tetapi saat ia meneliti bom itu, ia menemukan hal yang mengejutkan. Sebuah gambar kipas merah dengan gagang putih berada dibalik jam yang menjadi pengatur waktu.

Minato mendesis, "Uchiha..."

Pikiran Minato kalut, ia mengenal simbol itu, itu adalah simbol perusahaan yang menjadi 'musuh dalam selimut' perusahaan keluarganya dahulu. Minato kurang meminati masalah perusahaan dan lain sebagainya, tetapi setidaknya Minato mengetahui sedikit tentang perusahaan keluarganya.

Ada beberapa opsi yang Minato pikirkan. Satu, apakah Uchiha yang membuat jam itu, dan tak sengaja pelaku memakai jam itu. Kedua, apakah Uchiha memang menjadi dalang dibalik semua ini. Tetapi, simbol Uchiha dibalik jam itu terlalu mencolok. Minato bingung, sebenarnya siapa yang menjadi dalang dibalik semua kasus bom ini?

Hampir seminggu berturut-turut ada ancaman bom, media massa juga heboh dengan semua teror bom ini, Minato menjadi lebih dikenal, karena semua ancaman bom itu, ia yang menangani, tanpa pengaman pula, dan juga Minato adalah pemuda yang tampan. Jadi mungkin ia akan menjadi incaran wanita muda yang mulai melirik keberadaannya. Tetapi, Minato tak pernah mengambil pusing tentang hal itu, toh, Minato tidak peduli dengan wanita, ia nyaris tak pernah memikirkan tentang wanita, kecuali tentang Kushina Uzumaki yang baru beberapa hai ini ia kenal.

"Inoichi...!" Panggil Minato.

Inoichi menoleh dan dengan sigap menangkap bom yang dilempar Minato. "Kau menyimpan semua bom yang menjadi bukti kasus selama seminggu ini?" tanya Minato.

"Untuk pemicu dan barang lainnya masih disimpan, tetapi bahan peledaknya sudah dipisahkan..." jelas Inoichi.

"Baiklah, antar aku ke tempat itu..."

-Tempat penyimpanan barang bukti-

"Hah... tentu saja..." Minato menggumam. Ia menemukan di seluruh pengatur waktu di bom selalu ada lambang Uchiha didalamnya.

"Apa maksudmu?" Inoichi keheranan.

"Kau punya softcopy dari cctv tempat bom ini diletakkan?" Minato bertanya tetapi tetap memandangi bekas pemicu bom.

"Tentu, sebentar, akan kutunjukkan kepadamu..."

Inoichi menghidupkan PC nya yang terhubung dengan beberapa monitor. Minato mendekat.

"Ini untuk tiga kejadian. Tokyo Mall, rumah Hashirama Senju dan Istana Negara."

Minato mengamati ke tiga rekaman cctv itu, "Apa untuk pelaku sudah ditangkap?" Tanya Minato.

"Untuk Tokyo Mall, Deidara. Kau pasti mengenalnya bukan? Dan untuk rumah Hashirama, ah, ini susah untuk dilacak. Pelaku memakai baju serba hitam, ia juga memakai sarung tangan, tak ada sidik jari milik pelaku. Dan untuk Istana Negara. Yah kau tahu sendiri, kejadiannya baru beberapa jam lalu. Dan aku masih belum menerima perkembangannya..." terang Inoichi.

Minato terdiam. Apa ini berhubungan dengan teror keluarganya dahulu?

"Inoichi, aku minta kau merahasiakan hal ini..."

"Apa yang harus dirahasiakan?" seseorang menyahut dari arah pintu. Minato dan Inoichi menoleh hampir bersamaan.

"Fugaku! Jangan mengagetkanku!" Inoichi setengah berteriak.

Fugaku menghela napas dan menutup pintu. "Maafkan aku kalau mengagetkan kalian, kalian tiba-tiba menghilang dari TKP tadi..." jelas Fugaku.

"Haha, lagipula tugasku dan Minato sudah selesai bukan?" balas Inoichi.

"Hn. Jadi apa maksudmu tadi Minato?" Fugaku mengalihkan pembicaraan.

"Maksud?" Minato balik bertanya.

"Kau minta Inoichi merahasiakan sesuatu. Kau pikir bisa merahasiakan sesuatu dariku?" kata Fugaku.

Minato meringis. Fugaku memang sahabatnya sejak dahulu. Bahkan jauh sebelum malapetaka yang menewaskan seluruh keluarganya. Minato mengalah. Ia mengeluarkan harddisk dari ranselnya. Lalu menyerahkannya pada Inoichi.

Raut muka Inoichi sudah tertebak, ia keheranan. "Buka saja..." perintah Minato.

Inoichi menghubungkan harddisk itu dengan PC nya. Lalu membuka satu-satunya folder yang ada.

"Rekaman CCTV?" Fugaku menggumam. Minato sengaja hanya menyisakan rekaman pada tanggal 25 Januari. Rekaman yang lain sudah ia back-up di harddisk pribadinya.

Inoichi memutar rekaman itu. Dan kebetulan ia langsung memutar rekaman Cam-in-1.

"Minato... bukankah ini rumahmu?" Fugaku terkejut, ia masih mengingat rumah Minato dahulu, Fugaku sering berkunjung ke rumah Minato.

"Percepat sampai jam sembilan malam..." perintah Minato.

Inoichi mengangguk, ia mempercepat rekaman itu, mereka melihat seseorang pelayan berambut pirang panjang tengah sibuk menaruh barang hitam di sebuah laci, setelah melihat detail, Inoichi dan Fugaku menyadari sesuatu, pelayan itu menaruh bom.

Dan tepat setelah 30 menit, terjadi ledakan beruntun dari tempat barang hitam yang diletakkan pelayan itu, cctv bertahan selama 16 menit, setelah itu gambarnya blur dan langsung mati.

"Kapan kau menemukan ini, Minato?" tanya Fugaku.

"Beberapa hari yang lalu..."

Fugaku menarik kerah Minato kasar. "Kenapa kau tidak memberitahuku?! Aku ini sahabatmu dan aku mendapat tugas untuk menjagamu..."

"Aku tidak menyuruh ayahmu untuk menugaskanmu menjagaku. Lagipula Kau sudah memiliki Mikoto. Seharusnya ia yang sekarang harus kau jaga, bukan aku..." kata Minato.

"Lagipula, aku bisa bertahan sendiri..." lirih Minato.

Fugaku melepaskan genggamannya pada kerah Minato.

"Dan terima kasih sudah menjagaku dari delapan tahun lalu sampai detik ini..." tambah Minato.

"Sudahlah, kau sudah kuanggap sebagai keluargaku..." ungkap Fugaku.

"Jadi...ehem... apa maksud kalian, aku tidak mengerti..." Inoichi mulai bicara.

Minato menjelaskan kejadian pahit delapan tahun lalu, Fugaku juga menjelaskan beberapa bagian. Inoichi menganggukkan kepalanya.

"Dan ini berkas lain yang kutemukan dengan rekaman cctv itu..."

Minato menyerahkan berkas itu, segera Fugaku dan Inoichi memeriksanya.

"Uchiha...Madara?!" Inoichi kaget.

"Tak kusangka ia menjadi pelaku teror keluargamu, Minato." Fugaku memeriksa berkas lain.

"Kau juga Uchiha kan Fugaku, apa dia satu keluarga denganmu?" tanya Inoichi.

"Tentu, tapi Uchiha tidak hanya satu keluarga, ada Keluarga yang disebut inti juga ada Keluarga cabang. Bagai pohon, antara batang dan rantingnya..." jelas Fugaku.

Inoichi hanya menghela napas, ia menyadari memiliki keluarga yang sangat besar pasti menyusahkan. Inoichi kembali mengamati rekaman CCTV.

"Hei... bukankah ini... Deidara?" kata Inoichi.

Fugaku dan Minato mendekat, Minato menepuk jidatnya. "Kenapa aku tidak menyadarinya?"

"Dari wajahnya saja sudah kelihatan, tetapi wajahnya sedikit lebih muda..." kata Inoichi.

"Tentu saja, ini 8 tahun yang lalu..." sahut Minato.

"Jadi... apa yang akan kau lakukan Minato? Bukankah pelakunya sudah jelas?" tanya Fugaku.

"Pelaku memang jelas, tetapi motif kejahatannya? Aku tidak akan puas kalau mencabut rumput tidak sampai ke akarnya... aku akan menyelidiki tentang motifnya, pelaku sebenarnya, dan juga alasan pelaku membunuh keluargaku..." jelas Minato.

"Kau bilang pelaku sebenarnya? Apa maksudmu Minato?" tanya Inoichi.

"Bisa saja Deidara hanyalah pelaku bayaran, bisa saja ia hanya suruhan orang untuk melakukan hal ini..." jawab Minato.

Fugaku dan Inoichi hanya mengangguk.

"Kami akan membantu sebisa kami, Minato..."

-East Tokyo-

Lagi-lagi Minato mendengarkan lagu Mr. Gendai Speaker, Minato menggumam kecil. Ia menikmati semilir angin sore di lantai 2 bekas rumahnya. Ia sangat menikmati lagu dan semilir angin sore yang membelai lembut jambang pirang yang sudah hampir menyentuh pundaknya.

Krincing...

Minato menoleh, lagi-lagi kucing berbulu abu-abu menabraknya.

"Tune! ah... Minato!" wajah kesal Kushina menjadi berbinar saat ia melihat Minato.

Minato hanya bersikap biasa. "Tune berlari kesini lagi ya?" tanya Minato.

"Iya... Maaf kalau itu merepotkanmu..." kata Kushina.

"Ah, tentu saja tidak..." Minato mengelus punggung Tune.

Kushina duduk di depan Minato, walaupun lantai itu sangat kotor.

"Nanti celanamu kotor, pakai ini saja sebagai alas..." Minato menyodorkan sebuah koran yang sempat ia beli tadi.

"Nggak usah, udah terlanjur kotor kok. Kan nanti bisa dicuci..." kata Kushina enteng.

Baru kali ini Minato menemui seorang perempuan yang berani berkotor-kotor. Itu mengingatkannya pada Kushina-nya.

"Nii-chan! Lihat! Aku buat ini sendiri loh...!" Kushina Namikaze menyodorkan sebuah patung yang sedikit membentuk bunga yang terbuat dari tanah liat.

"Aduh Kushina... Bajumu kotor sekali..." Ibu Minato memegang tangan Kushina.

"Bagus kok Kushina, tetapi itu masih basah, harus kau jemur dahulu, bagaimana kalau kau mandi dulu dan Nii-chan yang menjemurnya?" tanya Minato dengan penuh senyuman.

Kushina dengan senang pun mengangguk.

"Lain kali jangan mengotori bajumu ya, Kushina?" ujar Ibu Minato.

"Hai Kaa-chan... tapi kalau untuk Nii-chan, Shina bermain kotor-kotoran nggak papa kan?"

Kushina Namikaze...aku merindukanmu, apa kau tau itu?

"Minato! Hoi... kau dengar tidak?" Kushina menggoyangkan tubuh Minato.

"Ah, apa kau bilang tadi?" kata Minato gelagapan.

"Padahal tadi aku tidak bilang apa-apa..." jawab Kushina.

"Kau melamun... apa yang kau pikirkan?" lanjut Kushina.

"Hanya merindukan seseorang..." jawab Minato sambil menutup wajahnya dengan jurnalnya. Kushina langsung mengerti maksud perkataan Minato.

"Kau terlihat lelah sekali... kenapa tidak pulang, dan makan lalu istirahat?" tanya Kushina.

"Aku tidak terlalu lelah... lagipula persediaan makananku habis, jadi aku harus belanja dulu..." jawab Minato tetap dengan jurnal yang menutupi wajahnya.

"Ayo aku antar belanja, lagipula aku kebetulan mau ke supermarket juga..." tawar Kushina.

Minato mengangkat jurnalnya dan melirik Kushina sebentar, lalu menutup wajahnya lagi. "Tidak usah, aku belanja sendiri saja..." tolak Minato.

Tiba-tiba jurnal Minato ditarik, Minato kaget. Mata Kushina melotot, dengan tatapan kau-harus-ikut-atau-kau-ku-bunuh.

Entah kenapa Minato mengalah, padahal selama ini saat ada perempuan yang mengajaknya ia selalu menolaknya dan langsung pergi. Mungkin karena saat ini mereka berada di tempat rahasia Minato, Minato tidak bisa kabur. "Haahh... baiklah..."

-06.30 p.m.-

Ting….Tong…

"Sudah siap, Minato?" kata Kushina langsung sesaat setelah Minato membuka pintunya.

"Ho, kau tepat waktu sekali…" kata Minato.

"Pastinya…" kata Kushina.

"Naik motorku nih?" Tanya Minato sambil mengunci pintu.

"Belanjaannya pasti banyak, pakai mobilku saja, aku kesini naik mobil kok…" jawab Kushina.

"Oh, baiklah…"

-Tokyo Mall-

Masih ada garis polisi… batin Minato, ia menatap tiang yang ada bomnya beberapa waktu lalu.

"Minato… ayo…" Kushina menarik lengan Minato.

Kushina mengambil satu troli yang paling besar.

"Kenapa hanya mengambil satu troli? Katanya kau juga berbelanja?" Tanya Minato.

"Jadi satu saja, biar nanti dirumah saja kita pisah…"

"Bayarnya tambah repot dong?"

"Pakai uangku dulu saja. Ternyata kau banyak bicara juga ya?" kata Kushina.

Minato langsung bungkam. Sedikit kesal dan sedikit malu.

Mereka berada di bagian mie instan. Langsung saja Minato mengambil 1 dus ramen instan. Kushina menganga. "Kau mebeli satu dus mie instan?" Kushina langsung mengembalikan dus itu.

"Hei… apa yang kau lakukan?" Minato protes.

"Mie memang mengandung karbohidrat. Tapi instan? Tidak." Tegas Kushina.

"Lalu aku harus beli apa?"

Kushina menunjuk bagian sayur dan berbagai makanan sehat.

"Tapi aku tidak bisa memasak Shina…" nada Minato seperti merajuk. Berharap Kushina memperbolehkannya membeli mie ramen instan.

"Nanti aku yang akan memasakkan untukmu…" jawaban Kushina malah membuat Minato kaget. Minato tidak menyangka dengan jawaban Kushina.

"Kenapa? Ada yang salah?" Kushina melirik Minato yang masih kaget.

"Yah, anggap saja sebagai ungkapan terima kasih…." Lanjut Kushina.

"Yosha… ikku yo…" Kushina menarik lengan Minato.

Kushina Namikaze…Kenapa aku merasa kau yang berada didepanku sekarang?

Minato menatap punggung Kushina dengan tatapan yang sedikit sendu.

-08.00 p.m.-

Minato dan Kushina menuju tempat parkir. Minato mendorong troli yang penuh dengan barang belanja yang sudah di bungkus plastik. Kushina membuka bagasi mobilnya, Minato membantu menaruh belanjaan di bagasi.

"Banyak sekali-ttebane…" Kushina sedikit kewalahan mengangkat barang.

Tanpa berbicara apapun, Minato langsung mengambil barang dari tangan Kushina. Kushina terdiam, lalu mengambil barang-barang yang kecil.

Tiba-tiba Minato terdiam, "Ada apa?" Kushina keheranan.

Minato memberi isyarat untuk diam. Tiba-tiba Minato menarik Kushina berlindung dibelakang mobil, Minato mendekap Kushina erat.

Duar!

Kushina refleks menutup telinganya, ledakan tak hanya ada satu kali, beberapa ledakan beruntun membuat Kushina ketakutan dan sedikit gemetar, Minato mempererat pelukannya.

Setelah ledakan ke 4, tak ada suara ledakan lagi, hanya terdengar kobaran api yang melahap 4 mobil yang meledak tadi, kaca-kaca mobil disekitarnya juga pecah.

Minato perlahan berdiri dan melihat keadaan disekitarnya. Bagaimana aku tidak bisa menyadarinya? Minato memiliki pendengaran yang tajam, ia hampir celaka kalau ia tidak mendengar suara digital jam yang cepat. Dan untungnya tidak ada korban jiwa kali ini. 4 mobil yang meledak itu, berjarak 5 mobil didepan mobil Kushina.

Langsung saja banyak orang yang berkerumun di sekeliling tempat parkir. Minato langsung menelpon Fugaku. "Konoha Mall, cepat…"

Kushina yang berdiri di sebelah Minato terlihat shock. Baru kali ini ia mendengar ledakan yang begitu keras dan dekat. Tanpa ia sadari, tangannya tengah menggenggam erat lengan Minato.

"Sudah, tidak apa-apa, cepat menjauh dari sini, aku akan memeriksa tempat ini…" Minato mendorong Kushina kea rah orang-orang yang berkerumun.

"Jangan ada yang mendekat. Dan security, tolong ambilkan alat pemadam…" Perintah Minato. Beberapa orang security dating dan memadamkan 4 mobil itu. Sementara Minato, ia memeriksa mobil-mobil yang berada disekitar 4 mobil yang meledak tadi, takutnya ada bom lain.

Minato memeriksa setiap mobil dengan teliti. Minato mengelap peluhnya. Fugaku lama sekali… batin Minato. Lalu ia kembali memeriksa mobil lain.

Lalu beberapa menit kemudian, suara sirine terdengar. Minato sedikit lega. Lalu saat hendak berbalik, Minato sekilas melihat isi mobil yang terparkir 2 mobil didepan mobil Kushina. Ia melihat 3 TNT dibawah setir mobil, dan jam digitalnya sudah mencapai 9 detik menuju nol.

"Semuanya menyingkir!" Teriak Minato, ia berlari dan memperingati security yang masih memadamkan api. "Cepat lari !" Minato menarik 2 security. Lalu ia juga memperingati 2 security lainnya. Para security itu berlari didepan Minato. Minato melihat jam tanganya. 4 detik lagi… Lalu tiba-tiba salah satu security tersandung dan jatuh. Tanpa pikir panjang Minato langsung melindungi orang itu.

Duar!

1 mobil meledak lagi. Orang-orang yang berkerumun berteriak histeris. Polisi yang baru datang pun terkejut.

Kepala Minato terluka, sebuah besi berbentuk batang sepanjang sekitar 30 cm menghantam kepala belakang Minato. Minato menahan sakit dikepalanya. Lalu dengan kesal ia membuang besi itu kearah mobil yang terbakar tadi. Lengannya juga lecet karena refleks melindungi security tadi.

Fugaku berlari ke arah Minato. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Fugaku. Minato menggeleng dan menunjukkan jempolnya. Lalu Fugaku membantu security itu berdiri.

Pemadam kebakaran langsung memadamkan mobil itu sekaligus dengan 4 mobil sebelumnya yang masih belum padam.

Fugaku menuntun security itu menuju ambulance, security itu juga mengalami lecet di lengan dan dahinya.

"Minato!" yang dipanggil menoleh dan hanya tersenyum kecil.

"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Kushina.

Minato menunjukkan lecet di lengannya. "Hanya luka kecil…"

Tiba-tiba Kushina memeluk Minato, "Aku takut, aku melihatmu tiba-tiba berlari, lalu merunduk melindungi security, kau dekat dengan mobil yang meledak terakhir tadi…" Tangan Kushina membelai rambut belakang Minato. Dan tangannya terasa hangat dan basah. Kushina melihat tangannya. Darah…

"Minato, kepalamu berdarah!" Kushina melihat kepala belakang Minato, Minato jatuh terduduk, ia terlihat lemas, dan berkeringat. "Medis! Minato terluka!" teriak Kushina.

Para medis langsung menangani Minato. Untung saja Minato tidak sampai pingsan karena kekurangan darah, bagian belakang Minato dicukur sedikit dan dijahit, ia mengalami luka robek dan harus dijahit, ia mendapat tiga jahitan di kepalanya.

Minato menolak untuk dibawa kerumah sakit. Ia merasa, mendapat pertolongan pertama sudah cukup. Minato langsung meminta Kushina mengantarnya pulang.

Selama diperjalanan, suasana sidikit tenang. Kushina membiarkan Minato yang sedikit terlihat mengantuk di bangku penumpang disebelahnya. Minato menatap sayu jalanan yang masih terlihat ramai.

"Kepalamu masih sakit?" Tanya Kushina sambil menyetir.

"Entahlah, aku tidak bisa merasakannya, efek obat penghilang sakit tadi masih ada…" jawab Minato.

"Kepalamu jadi botak belakang deh… hahaha…" Kushina tertawa.

Minato meringis, "Meski botak sedikit, aku masih keren kan?" kata Minato.

"Hahaha… dasar narsis…" jawab Kushina. Suasana perlahan mencair, Minto bercanda dengan Kushina, seolah ia lupa kalau tadi ia terluka.

Karena insiden ledakan dan juga kemacetan dijalan, Minato dan Kushina baru sampai di apartemen Minato jam 10.00 p.m.

Setelah barang belanjaan dibawa kekamar Minato. Kushina memilah-milah barang, sekaligus menatanya di kulkas Minato. Sementara Minato mengganti bajunya.

Kushina berencana pulang saat jam sudah menunjukkan jam 11.00 p.m "Minato, aku pulang dulu ya…" pamit Kushina.

"Tunggu…" Minato menarik tas Kushina. Ia terdiam, jujur saja, ia merasakan firasat tidak baik kalau Kushina pulang sendirian, dengan kondisi kepalanya yang masih sakit, tidak mungkin ia akan menyetir sepedanya saat setelah mengantar Kushina pulang. Minato bingung, kalau ia mengungkapkan kekhawatirannya, takut Kushina tidak percaya. Minato kalut dengan pikirannya.

"Minato, ada apa?" Tanya Kushina.

"anu… ini sudah malam, tidak baik wanita sendirian keluar malam…" jawab Minato.

"Lalu maumu apa? Aku menginap, begitu?" Tanya Kushina.

"A-aku tidak memaksamu untuk menginap, tapi aku hanya khawatir kalau kau pulang sendirian…" jelas Minato.

Kushina merasakan hal yang aneh, ia melihat kesungguhan dimata Minato. Kesungguhan kalau Minato benar-benar khawatir dengannya. "Memang tak apa kalau aku menginap?" Tanya Kushina.

"Tentu, itu lebih baik kalau kau pulang sendirian, rumahmu juga cukup jauh dari sini… aku akan tidur di ruang tamu, kau tidur dikamarku saja…" kata Minato.

"tidak. Kepalamu sakit, kau saja tidur dikamar, aku tidur di ruang tamu saja." Kata Kushina.

"Tidak Kushina, kau itu tamu, kau harus nyaman…"

"Masa bodoh dengan nyaman, asal bisa tidur, itu cukup. Aku bisa tidur dilantai kok…"

"Jangan ngawur Kushina. Lantai itu dingin nanti kau bisa sakit, lalu-"

"Sudah! Kalau begitu kita tidur dikamar saja!" teriak Kushina yag sudah kesal.

"Aku yakin kau orang baik, kau tidak akan berbuat hal buruk padaku kan?" lanjut Kushina.

"tentu saja!" balas Minato.

"Bagus, kalau begitu janji ya, kau tidak akan berbuat buruk padaku…"

"baiklah, aku berjanji…"

Setelah mendapat izin dari Sarutobi dan Mito, Kushina menginap di apartemen Minato, ia mengganti bajunya dengan kaos biru Minato, sedikit kebesaran memang, tapi aroma khas Minato membuatnya sedikit terlena. Eh? Ada apa denganku-ttebane? Ah, mungkin aku hanya mengaguminya saja… tapi, aku masih berdebar-debar… batin Kushina.

Saat dikamar Minato, Kushina cukup kagum, kamar yang jauh lebih rapi dari kamar laki-laki pada umumnya, karena ia teringat dengan kamar Uzumaki Taka –kakak lelakinya- yang berantakan. Kushina menaruh guling ditengah-tengah kasur. "Tidak boleh melewati garis ini, oke?" kata Kushina.

Minato yang sudah berbaring membelakanginya hanya mengankat jempol, lalu mematikan lampu disebelah kasurnya. Kushina menarik selimut, lalu mulai memejamkan matanya.

-05.00 a.m next day-

Kushina terbangun lebih dulu, ia kaget saat melihat dirinya –atau lebih tepat kakinya- sedang menempel dengan punggung Minato, itu artinya Kushina melewati garis yang ia buat sendiri. Kushina langsung bangun dan beranjak mencuci mukanya, lalu beranjak keluar dan membuat sarapan.

Satu jam kemudian, Minato terbangun, dan melangkah gontai ke kamar mandi dan mencuci mukanya, ia mencium bau harum dari dapur, ia teringat, Kushina menginap, mungkin sekarang Kushina sedang memasak.

Dan benar saja. Minato melihat Kushina sedang memotong bawang dan memasukkannya kedalam panci kecil, lalu memasukkan beberapa bumbu. Dan mencicipinya, terlihat Kushina menggumam, lalu memasukkan bumbu lagi.

"Ohayo, Kushina…" Minato berpura-pura bangun tidur, "Ohayo, Minato…" jawab Kushina.

"Kau belum mandi ya? Mandi dulu saja lalu sarapan, setelah itu aku akan membantumu membersihkan jahitanmu…" lanjut Kushina.

Minato menurut. Ia segera mandi. Kenapa ia merasa sudah berumah tangga? Bagaikan Kushina adalah istrinya. Ah, sungguh pemikiran yang aneh… batin Minato.

Mereka sarapan bersama, lalu Kushina membersihkan area sekitar jahitan Minato.

"Minato ! jangan banyak gerak dong!" omel Kushina.

"Kepalaku gatal tahu!"

"Huh…" Kushina mendengus. Lalu beberapa menit kemudian, ia meletakkan kain yang sudah kotor.

Kushina mengambil tas dan belanjaannya. Ia bersiap untuk pulang, tapi ia teringat dengan berkas yang ia lihat tadi pagi.

-Flashback-

Kushina terbagun, ia segera menyiapkan sarapan, saat ia membuka lemari atas, ia melihat berkas yang berserakan didekat lemari es. Kushina membacanya sekilas.

Namikaze grup. Kebakaran hebat dan juga teror bom. Semua Namikaze tewas.

Tangan Kushina gemetar, Minato memang sudah menceritakan kejadian keluarganya, tapi ia tak pernah menceritakan dengan detail. Minato menanggung beban dan kesedihan yang cukup dalam. Bukan cukup dalam, tapi sangat dalam. Kehilangan seluruh keluarga. Kushina tidak bisa membayangkan kalau ia berada di posisi Minato.

Karena takut dituduh lancang. Kushina segera mengambalikan berkas-berkas itu ketempat semula.

-end Flashback-

Kushina menggelengkan kepalanya. Ia harus pulang sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

"Perlu kuantar?" tawar Minato.

"Tidak usah… terima kasih sudah mengkhawatirkanku tadi malam…" kata Kushina.

Pipi Minato sedikit memerah.

"Yasudah, aku pulang dulu…"

"iya, hati-hati dijalan…"

Kushina menghilang dari balik pintu apartemen Minato.

Minato Namikaze… lelaki yang cukup misterius…

.

.

.

To Be Continue…

.

.

.

A/N :

Hallo Minna, maaf updatenya lama… jadi hope you enjoy ya…

Jangan lupa review ya…

~Hanami