NaruSasu

Sebelumnya terima kasih untuk yang sudah me-review..

Untuk beberapa kesalahan di chapter sebelumnya mohon maklumnya ya minna~

Buat megumichan, asli aku ngiranya Tobi itu ya Obito... hontou ni gomen...

Buat Narusasu-san, hehe... apa ya? Karena aku baru, mungkin bromance dulu kali ya... tapi lihat nanti deh...

Buat yang lain, diusahakan updatenya bisa cepet... doanya ya senpai~

Nah, sekarang... selamat menikmati ^^


Makhluk dalam air itu yang tadinya adalah seekor rubah, berubah menjadi manusia. Manusia dengan rambut pirang dan tiga garis halus di masing-masing pipinya. Melihat perubahan wujud ini merupakan pertama kalinya bagi Sasuke. Tentu ini membuatnya terkejut bukan main. Ia bahkan sempat berhenti berenang saking terkejutnya. Hampir saja mulutnya terbuka, tapi melihat manusia jadi-jadian itu bergerak abstrak kehilangan napas, ia segera sadar. Dengan cepat dia meraih tangan dengan kulit kecoklatan itu dan berenang secepat yang ia bisa menuju permukaan.

Setelah dengan susah payah ia menggotong lelaki yang besar tubuhnya menyamai kakaknya itu, ia berhasil menidurkannya di tepi sungai dekat sepatu dan tasnya. Ia menepuk-nepuk pipi pemuda itu. Beberapa kali tidak ada respon, ia mengernyitkan dahi. Tangannya yang basah mulai menepuk lebih keras pipi itu. Tidak tanggung-tanggung, ia menepuk sampai terdengar bunyi 'Plak' beberapa kali.

"Oi, kau pingsan apa mati?!" Dia mengguncang bahu tegap itu, sekuat tenaganya, bahkan sampai kepala pirang itu terlonjak ke depan dan ke belakang.

"Aduh, bagaimana ini? Ah! Pertolongan pertama! Etto.. napas buatan…"

Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda itu, secara perlahan namun pasti. Dia menjapit hidung dengan satu tangan dan tangan yang lain mencengkram halus pipi sewarna tan itu sehingga mulutnya terbuka. Dia menarik napas panjang, ditahan, menempelkan bibirnya ke bibir pemuda itu dengan sempuna. Lalu perlahan mulai menghembuskan napas dari mulutnya ke mulut yang kini menempel dengan mulutnya. Penuh konsentrasi.

"Tunggu Kau bocah sialan! Aku akan membalas perlakuanmu berkali-kali lipat lebih menyakitkan! OI! Kenapa kau menciumnya, bodoh?!"

"Aku tidak menciumnya, bodoh!" Karena terlalu terkejut dan tidak terima dituduh sembarangan, ia langsung melepaskan tautan bibirnya dan memarahi orang yang menuduhnya. Dan dia langsung kicep setelah tahu siapa yang menuduhnya dari tengah sungai.

"Kau berani memanggilku Bodoh, Bocah Sialan?!" Dahinya berkedut mendengar dia dikatai oleh seorang bocah ingusan ditambah suara tertawa yang tertahan di seberang sungai belakangnya.

"A-aku hanya memberinya napas buatan, bukan menciumnya." Suaranya mencicit karena takut.

Lalu ia mendengar suara dengusan dan suara air. Lelaki rambut merah itu kembali menyelam. Dan itu cukup membuat Sasuke menjadi panik. Dia semakin gencar mengguncang-guncang bahu lelaki pirang yang masih setia terbaring di tanah. Dia bahkan melakukannya tanpa melihat ke objek perlakuannya itu, karena matanya fokus ke sungai.

Sampai akhirnya dia mendapatkan ilham. Pengetahuan yang mengendap dalam otaknya tiba-tiba mengapung dan membuatnya mendapatkan ide untuk menyadarkan lelaki pirang ini. Dia akan melakukan CPR.

Kemudian, ia mulai meletakkan tangannya di dada bidang itu, menekannya sambil berpikir sudah cukup keras untuk CPR atau belum. Ia berhenti untuk mengecek napas korban –ah, maksudnya pemuda malang itu. Dia menggeram karena tidak mendapati respon apapun dari pemuda tan itu. Sekarang dia mulai khawatir. Bagaimana kalau pemuda itu mati? Apa dia akan dijadikan tersangka?

"Hei, ayo bangun! Kau mau ditangkap lagi oleh penjahat itu?!" katanya sambil memukul-mukul dada si piran sangking kesalnya.

Tapi,

"UHUKK!" Pemuda itu batuk keras dengan air yang keluar dari mulutnya. Dia bangkit untuk duduk.

"Aku jenius." Gumamnya melihat jinchuriki itu tersadar. Dia tak menyinggung fakta bahwa CPR-nya mungkin saja kurang keras menekan dada jinchuriki itu. -_- Terlalu cepat mengatakan dirimu jenius 'Suke.

"Ah, ayo! Kita harus cepat kabur dari sini, penjahat itu akan segera sampai di sini."

Pemuda itu tak bergeming, dia hanya memijat kepalanya yang terasa pening, dan telinganya juga berdengung. Telinganya banyak kemasukan air. Dia merasa ada yang menarik tangannya, ia melihat anak kecil yang membebaskannya dari kurungan tengah kesusahan menariknya yang bahkan tidak bergeser sesenti pun.

"Apa yang Kau lakukan?" Suara yang terdengar lemah itu menghentikan aksi sia-sia Sasuke.

"Kau ingin ditangkap lagi?! Kau tidak lihat, penjahatnya sudah dekat!?" Katanya berteriak sambil menunjuk ke arah sungai.

"Mereka ada di seberang, bodoh. Berhenti menarikku!"

"Dobe! Ada satu orang yang sedang berenang kemari. Cepatlah!"

Si pirang menuruti kemauan penyelamatnya, setelah melihat sesuatu –seseorang berenang mendekat. Sasuke melepaskan peganganya pada tangan kekar itu dan beralih mengambil tas serta sepatunya. Secepat mungkin ia mengikuti jejak pemuda yang ditolongnya, yang sialnya telah meninggalkannya.

"Oi! Jangan lari!"

Mendengar suara di belakangnya ia semakin panik. Dia bahkan tidak sempat memakai sepatunya, akibatnya dia lari dengan bertelanjang kaki. Dia bahkan harus berjingkrak-jingkrak sambil ber-Aw-aw karena menginjak rerumputan berduri atau kerikil tajam. Dia terus berlari masuk ke hutan.

"Aw aw, aduh. Aku harus kemana lagi? Dasar jinchuriki tidak tahu terima kasih. Seenaknya saja meninggalkanku yang sudah berbaik hati menyelamatkannya," katanya sambil celingak-celinguk mencari jalan untuk kabur.

"Dimana kau bocah sialan?!" Suara di belakangnya membuat Sasuke kelimpungan. Dia melangkahkan saja kakinya.

Namun, baru beberapa langkah seseorang menariknya ke semak-semak. Sasuke bertambah panik. Dia meronta. Tapi, setelah melihat siapa yang menahannya dan mendapat isyarat dari si penyekap untuk diam, dia pun lebih tenang.

Si pengejar melewati tempat perembunyian mereka tanpa menaruh curiga sedikit pun. Itu membuat si penyekap menarik tangannya dari mulut Sasuke. Yakin si pengejar tadi sudah jauh, Sasuke mulai angkat suara.

"Hey, Tuan Jinchuriki, Kau menyelamatkanku, eh?" katanyanya dengan sinis. Ia masih dongkol karena ditinggal tadi.

"Kau yakin bukan salah satu dari mereka?"

"Kau benar-benar dobe. Kalau aku salah satu dari mereka, tentu aku tidak akan membebaskanmu."

"Beraninya kau mengataiku, Teme."

"Kau juga mengataiku barusan."

Baik, sekarang situasi di antara mereka tidak bagus. Mereka saling melempar tatapan tajam hingga tercipta kilatan listrik imajiner. Kilatan listrik ini terus berlanjut sampai sang jinchuriki mengalah.

"Haaahh,, sudahlah, sebaiknya kau pulang saja. Anak kecil tidak seharusnya ada di sini. Kau tidak boleh memasuki kawasan hutan. Kau tidak lihat papan sebelum masuk kawasan hutan ini?"

"Tidak. Aku tiba di kawasan hutan sebelum mendapat cukup cahaya matahari."

"Memangnya jam berapa kau kesini?"

"Tengah malam aku dari rumah."

"Yang benar saja?! Lalu bagaimana dengan orang tuamu, bodoh?"

"Etto…" Sasuke hanya menggaruk kepalanya yang bahkan tidak ketombean.


"Benar-benar anak itu! Bagaimana dia bisa berbuat senekat itu?" Suara dari seberang telepon genggam di tangannya kini tampak sangat frustasi.

"Dia hanya meninggalkan sepucuk surat. Bagaimana ini Fugaku hu hu?" Air matanya bahkan sudah menderas sejak tadi.

"Tenanglah Mikoto. Aku sedang di kantor polisi sekarang. Biar sekalian aku melaporkan hilangnya Sasuke."

"Kau harus cepat menemukan mereka Fugaku, aku tidak mau tahu atau aku sendiri yang akan mencari mereka."

"Jangan sembrono Mikoto! Kau tetap di rumah. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu juga."

"Kalau begitu cepatlah!" Dan sambungan telepon terputus.


"Mungkin mereka sedikit panik," mereka sangat Sasuke.

"Mereka pasti mengkhawatirkanmu bodoh. Cepat pulang sana!"

"Aku tidak akan pulang tanpa kakakku."

"Kau ke sini mencari kakakmu?" Mendapati anak di depannya mengangguk, dia melanjutkan. "Lalu dimana dia sekarang?"

"Kalau aku tahu, aku sudah menghampirinya, Dobe!"

"Berhenti memanggilku Dobe, Teme! Aku punya nama tau."

"Lalu?"

"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto."

"Naruto? Hahaha… memangnya, tidak ada nama lain apa? Kenapa kau menggunakan nama makanan, Dobe?"

"Aku bilang berhenti memanggilku dobe!"

"Haha haaah~ baik-baik, kalau begitu kau juga harus memanggil namaku. Aku Uchiha Sasuke." Katanya sambil tersenyum manis, yang sialnya membuat Naruto doki-doki.

"Ne, Naruto… apa yang kau ketahui tentang para penjahat yang menculikmu itu," melihat wajah Sasuke yang berubah serius, Naruto ikut mengembalikan ekspresinya setelah beberapa saat nge-blank melihat senyum Sasuke.

"Ehem, aku tidak tahu banyak. Yang aku tahu, beberapa teman-temanku telah diculik oleh mereka sejak setahun terakhir. Kami jadi tidak memiliki keberanian untuk keluar dari wilayah suku kami."

"Wilayah suku?"

"Umm, kami merupakan suku penghuni hutan ini. Untungnya para penjahat itu belum menemukan inti wilayah kami."

"Naruto, kemungkinan kakakku diculik oleh mereka karena mengetahui adanya penculikan terhadap kaum kalian. Jadi, maukah Kau bekerja sama denganku untuk membebaskan kakakku dan teman-temanmu, Naruto?" Sasuke menunduk sambil melirik Naruto di depannya. Harap-harap cemas, takut Naruto menolak membantunya.

"Tentu. Aku juga ingin menyelamatkan teman-temanku."

Jawaban itu sudah cukup membuat Sasuke sumringah. Dia merasa mendapat kekuatan baru untuk menemukan dan membawa kembali kakaknya. Naruto yang kembali disuguhi pemandangan indah nan kawai kembali membeku dengan hati yang terguyur bunga beraroma hangat.

"Waaa!"

"Ada apa?"

"Ada kalajenking di bahumu."

Tepat di depan matanya teracung capit kalajengking yang siap mencapit hidungnya saat ia menoleh untuk melihat bahunya. Karena kaget dia pun menjerit dan segera menghempaskan kalajengking itu sekuat tenaga.

"Waa! Mati kau! Mati kau!" Katanya sambil semangat menginjak-injak kalajengking itu dengan kekuatan penuh.

Ggrrrr grr

"Oouh.. Gaara. Apa yang Kau lakukan di sini?" Katanya terkejut dengan kemunculan rubah besar di hadapannya.

Grrrr ggrr rrr

"Memang. Tapi aku diselamatkan Sasuke," kini wajahnya dihiasi senyuman lebar.

Grr ggrr ggrrrr GRR

"Tenanglah Gaara. Dia orang baik. Kau pasti akan menyukainya."

"Naruto, Kau jenius kah? Ajari aku!" Sasuke yang sedari tadi melihat interaksi Naruto dengan rakun yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan mulai nyeletuk. Naruto seakan melihat bintang di mata Sasuke.

"Ajari apa?"

"Bicara pada binatang. Kau bisa memahami apa yang dikatakan rakun besar ini. Aku juga ingin Narutooo…," tak sadarkah ia, kalau dia sekarang tengah merengek pada Naruto?

"Maksudmu Gaara? Dia juga seorang jinchuriki, Sasuke. Kenalkan, dia Gaara. Dan Gaara, ini Sasuke."

"Ha-halo Tuan Jinchuriki Gaara, aku Uchiha Sasuke. Mulai sekarang, mohon bantuannya!" Sasuke sedikit gugup karena terkagum dengan makhluk di depannya ini. Dia membungkuk hormat pada rakun besar hampir sebesar Naruto dalam wujud rubahnya.

Saat ia membungkuk, kalung dengan bandul kristal biru yang dipakainya itu keluar dari balik kaosnya. Hal ini tidak luput dari penglihatan Gaara. Mata rakunnya membelalak melihat kalung itu.

GGrrr grr

Sasuke berkedip beberapa kali. Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh rakun di depannya. Dia hendak menoleh kepada Naruto. Namun, sebelum menoleh bahunya sudah terlebih dulu diterjang oleh pemuda yang dimaksud.

Naruto memeriksa kalungnya. Naruto juga terkejut melihat kalung itu.

"Ada apa? Apa yang dikatakan Gaara-san, Naru?"

"Kau dapat dari mana kalung itu?" Itu bukan Naruto, melainkan Gaara. Dia telah berubah menjadi manusia. Pemuda yang sama rupawannya dengan Naruto. Dia berkulit putih, rambutnya merah maroon, dan bertato 'Ai' di dahi.

"Waahh! Kau juga bisa berubah, sugooii! Dan Kau sangat tampan," matanya melebar dan berkilat kagum. Membuat yang dipandangi –Gaara, jadi sedikit salah tingkah.

"Sasuke! Bagaimana kau bisa punya kalung ini?" Naruto memaksa Sasuke untuk menatap wajahnya. Dia benar-benar penasaran dengan kalung di leher Sasuke. Dan juga, dia tidak suka Sasuke memandangi Gaara dengan tatapan kagum seperti itu.

"Memang kenapa? Kau menginginkannya!?" Sasuke memandang Naruto dengan alis mengkerut dan tatapan was-was. Seolah berkata 'Ini kalungku Dobe. Jangan berani-berani'.

"Kau tenang saja. Aku sudah punya." Katanya sambil menunjukkan kalung miliknya.

"Bagaimana bisa? Aku mendapatkan ini dari kakekku."

"Kita bawa dia ke Kakek Kage."

"Kage?"

"Itu sebutan ketua suku kami."

"Oh."

Akhirnya mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang sebelumnya tertutupi oleh semak-semak. Beberapa kali mereka harus berhenti karena ada jebakan yang dibuat oleh kaum jinchuriki. Bebereapa jebakan itu untuk menghentikan penyusup yang tiba-tiba masuk.

Mereka juga harus turun lereng yang tidak terlalu curam. Naruto memberikan semacam daun pisang yang lebar kepada Sasuke dan mengambil satu lagi untuknya setelah menawari Gaara dan ia tidak mau.

"Ayo turun, Sasuke!"

Naruto menduduki daun lebar itu dan meluncur menuruni lereng itu. Melihatnya, Sasuke sedikit khawatir meskipun tak menolak untuk meluncur juga. Ia sedikit tertarik dengan cara Naruto menuruni lereng itu. Akhirnya, dia mengikuti cara Naruto menuruni lereng. Di beberapa meter awal, Sasuke berteriak takut-takut, tapi memasuki pertengahan lereng ia mulai berteriak keasyikan. Naruto yang melihat wajah bahagia Sasuke pun puas. Dia ikut tersnyum dari bawah lereng.

Namun, ketika hampir sampai di bawah, kecepatan seluncuran Sasuke tidak dapat direm. Akibatnya dia kembali lagi ke awal –berteriak takut.

"WAAA! Naruto, Naruto, NARUTO!"

Dan-

BRUK!

"Itte-" eh, tunggu. Itu suara Naruto.

"Wow! Itu tadi mengasyikan sekali, Naruto," dan ini Sasuke.

"Haha, benar. Bisakah Kau bangun dulu, Sasuke?" Dia –Naruto-harus cepat mengamankan sesuatu. Posisi Sasuke yang berada di atasnya sungguh tidak bagus.

"Oh, maaf," Sasuke bangkit dengan ringan hati. Tidak menyadari debaran jantung Naruto. Berada begitu dekat dengan bocah manis ini ternyata tidak baik untuk kesehatan jantung. Batin Naruto.

"Ah! Gaara-san," Sasuke menoleh ke atas lereng. Namun, tidak mendapati Gaara di sana. "Are? Di mana Gaara-san?"

"Aku di sini," tiba-tiba Gaara muncul di sampingnya.

"Eeeh? Ta-tapi aku tidak melihatmu turun, Gaara-san. Ah! Apa kaum jinchuriki bisa teleportasi?"

"Aku lewat tangga."

"Eh?" Gaara menggunakan jempolnya untuk menunjuk ke belakangnya. Sasuke melihat ada tangga yang dibuat dari potongan kayu yang disusun menuruni lereng. Lalu kenapa dia harus meluncur? Dia menoleh ke Naruto.

"Itu tidak asyik," katanya sambil mengangkat bahu dan tersenyum jenaka.

Sasuke terkekeh setuju dan Gaara mendengus.


Sasuke mengikuti Naruto dan Gaara berjalan memasuki kawasan hutan lebih dalam lagi. Dia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Meski ia tahu sudah jauh ia berjalan, tapi ia sama sekali tidak merasa lelah. Celotehan, guyonan, dan ejekan dua jinchuriki yang bersamanya telah membuatnya melupakan lelah yang dirasakannya.

Setelah melewati sungai kecil, ia bisa melihat adanya sebuah pemukiman yang terlihat sederhana. Rumah-rumah berdiri semacam pendopo dengan tiang-tiang kayu yang masih asli (tidak dipahat atau diukir), hanya dipotong bagian bawah dan atasnya. Atapnya dari anyaman daun –entah daun rotan atau kelapa- dan terjulur hingga beberapa meter melebihi batas tiang. Tidak ada dinding yang menutupinya. Hanya ada beberapa rumah dengan dinding dari batang kayu kecil yang disusun bertumpuk.

Beberapa anak-anak dari suku ini memandang penasaran, takjub, dan heran pada Sasuke seakan ia adalah barang langka. Begitu pun Sasuke, dia memandang takjub pada anak-anak itu karena mereka memiliki ekor dan telinga hewan di kepalanya. Sungguh imut.

"Jinchuriki kecil masih belum sempurna perubahannya. Jadi mereka masih memiliki telinga dan ekor hewan."

Sasuke hanya membulatkan mulutnya mendengar penjelasan itu.

Baru saja mereka memasuki kawasan pemukiman, beberapa tombak teracung tepat di depan wajah mereka. Sasuke yang mendapat acungan tepat di depan matanya, reflek mengangkat tangannya.


Di lain tempat, di pinggir hutan, sebuah truk berhenti di depan mobil sedan hitam. Seorang lelaki dengan rambut merah –ah, dia si pengejar- tampak keluar dari dalam truk besar itu. Dia menghampiri mobil sedan hitam itu dan mengatakan beberapa hal kepada penumpang di belakang dengan hormat disertai wajah yang menyiratkan penyesalan.

"Bodoh! Kalian harus mendapatkan kembali jinchuriki kitsune, atau kalian tidak akan merasakan matahari lagi!"

Lelaki dari balik kaca hitam itu tampak sangat murka. Si rambut merah pun hanya bisa menurut dan menunduk takut.

"Lakukan apapun termasuk menghabisi siapa pun yang menghalangi kalian! Apalagi hanya seekor lalat kecil."

TBC