Ahahaha~~ Saya kembali dengan chapter 3 yang lebih panjang~ yang tadinya 1000+ words, sekarang 2000+ words! Thanks for mah lopelope(?) reviewer yang udh nge repiu~
nyoo~ masa cuma 1 yang nge-review di chapter 1? Jahat ih *pouts*
Btw. Nih, udh keluar! Silakan di baca .w.~
Recap:
"Perkenalkan. Saya Ggio Vega. Yoroshiku."
Ggio?!
GgioSoi
Soifon's POV
I'm Sorry
Chapter 2: Reunion
Tidak. Ini tidak mungkin! Ggio... Ggio sudah tinggal di Amerika! Ini mimpi! Aku tidak percaya ini. Tidak. Tidak! Aku menutup mataku dengan rasa tidak percaya. 'Tidak mungkin... bukan?'
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku saat aku kembali!"
Mataku terbuka lagi saat ingat dengan perkataan Ggio itu. Ggio... Dia serius? Dia serius saat berkata itu? Dia serius. Argh! Pusing aku memikirkan ini. Mungkin saja... Ada orang lain yang bernama Ggio. Ya! Mungkin saja! Tetapi... Nama Vega itu... AARGH! Kepala ku ingin meledak memikirkan ini!
"Err... Soifon? Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Rukia dibelakangku.
"Ya. Aku tidak apa-apa." Jawabku singkat.
"Hontou ni?"
"Hontou."
"Baiklah..." Dan Rukia tidak bertanya apa-apa lagi. Tetapi sekarang, malah Hisagi yang menanyakanku pertanyaan yang tidak berguna bagiku.
"Soifon, kau kenal dia?" Tanya Hisagi.
Aku menggeleng kepalaku, berbohong. "Tidak." Entah kenapa, sakit rasanya berbohong kepadanya.
Aku melihat ke arah mata Ggio. Matanya yang berwarna emas itu... Tidak salah lagi. Itu Ggio! Perbedaannya hanya rambutnya yang lebih panjang.
Mata Ggio tiba-tiba melihat ke arahku. Tatapan mata kami bertemu. Aku langsung merona dan mengalihkan pandanganku ke arah jendela, berpura-pura tidak mengenalnya. Aku bahkan bisa mendengar Ggio tersenyum padaku. Ugh! Aku benci dirinya! Mengapa aku merona saat dia melihatku? Aku benci! Bukan suka dan pastinya bukan cinta.
"Silahkan duduk di tempat kosong dimana saja." Ujar Unohana-sensei.
Ggio melihat-lihat sekeliling kelas, mencari kursi yang akan di dudukinya. Aku baru menyadarinya. Bahwa kursi depanku kosong! Oh tidak. Semoga ia tidak menyadarinya. Semoga... Semoga...
Sret!
Terdengar suara tarikan kursi di depanku. Oh tidak. Aku melihat kedepan dengan tatapan terkejut. Ggio... Dia duduk di depanku! Ugh! Besok pastinya aku akan pindah tempat duduk.
"Yo! Hisashiburi!" Ujarnya semangat.
"Siapa kau?" Ujarku menatapnya dingin, membuat dia terkejut. Tetapi dia malah tersenyum sinis.
"Oh, aku? Aku Ggio Vega. Senang bertemu denganmu. Kamu? Oh! Aku tau dirimu! Kamu itu anak yang dulu suka ku-isengin dan ketua kelas di kelas 6 SD! Nona Soifon, sang preman pasar." Ujarnya secara sarkastik, membuatku kesal.
"Kau ini..."
"Dan yang dulu menyelamatkanku." Ujarnya pelan, tetapi masih bisa kudengar. Aku sedikit tersenyum mendengarnya. Dia ingat. Dia ingat saat aku menyelamatkannya.
"Kau ingat." Ujarku pelan.
"Tentu saja." Dia tersenyum.
"Hah. Tapi tetap saja aku tidak memaafkanmu atas perbuatanmu waktu itu. Kau kelewatan."
"Ah, ayolah. Maafkan aku!"
"No."
"Oh, pleaasseeeee?" Ujarnya dengan kata-kata inggrisnya.
"Enggak."
"Aww.. Okay, I will make you forgive me in 1 week. Gimana?" Kemampuan bahasa inggrisnya... Bertambah. Hanya membuatku kesal.
"Ha! Challenge-" Ucapanku terpotong oleh Unohana-sensei.
"Kuchiki-san, Vega-san, apa kalian sudah saling kenal? Bagaimana jika kalian berbicara di depan kelas saja?" Ujarnya sambil tersenyum tulus-tidak, itu tidak tulus. Itu menyeramkan! Ggio saja, yang baru saja duduk di bangku depanku ini, sudah ketakutan melihat senyumannya yang menyembunyikan niat aslinya-menghukum kami.
"M-Maafkan kami, Unohana-sensei." Ucapku, tidak menatap mata Sensei.
Unohana-sensei hanya mengangguk dan melanjutkan pelajarannya. Aku mendengarkannya dengan seksama, dan mencatat-catat bagian-bagian yang kuanggap penting. Yah, untuk ujian nanti. Siapa tahu berguna. Toh, kalau tidak berguna, bisa untuk Yachiru belajar nanti kalau sudah besar.
Beberapa saat kemudian, aku menemukan diriku menatap jendela di sebelahku. Melihat keadaan di luar sekolah. Indah. Aku masih ingat, sangat ingat, pada saat Ggio mendorongku ke semak belukar sehingga aku terluka dan berdarah. Kakak-kakaknya mendengarku memarahinya, dan pada saat aku berlari pulang, mereka-tidak, Ulquiorra-nii tidak memarahinya, tetapi memandangnya, hanya memandangnya. Omelan Grimmjow-nii terdengar sampai ujung kamarku, aku masih sangat ingat bagaimana ia mengomeli Ggio. Aku tertawa kecil, dan tidak lupa berharap Unohana-sensei atau siapapun tidak mendengarku. Dan mungkin aku sedang beruntung, sehingga Unohana-sensei tidak mendengarku. Yah, kecuali satu orang.
"Kenapa kau tertawa? Gila ya? Wah! Soifon sudah nggak waras lagi!" Bisiknya, membuatku sedikit marah.
"Diamlah." Ucapku dingin, sedingin yang kubisa.
"Ah, Soifon marah! Menyeramkan!"
"Diam!"
Aku melirik sedikit ke arah Unohana-sensei. Dia tidak menyadarinya. Aku menghela nafas, bertanda lega. Aku memegang kepala Ggio dan memutarnya ke arah papan tulis. "Perhatikan."
"Tapi itu membosankan!"
"Sudahlah, perhatikan."
"Hmm... Baiklah." Ujarnya ragu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya terdengar suara deringan bel yang kencang. Semua murid pun kegirangan mendengar bel yang menandakan waktu istirahat. Aku hanya tersenyum. Setelah memberi salam kepada Unohana-sensei, aku langsung mengambil bento-ku dari dalam tas. Sebelum aku beranjak pergi ke kantin bersama Rukia, Ggio duduk di atas mejaku.
"Apa maumu?" Tanyaku.
"Iseng." Jawabnya singkat. Aku memukul wajahku.
"Sekali lagi, apa maumu?" Tanyaku lagi.
"Apa mauku?" Tanyanya, mungkin kepada dirinya sendiri.
Aku mendesah. "Sudahlah, aku pergi." Tepat sebelum aku berdiri dari kursiku, dia... Memelukku.
"G-Ggio! Apa yang kau lakukan?!" Aku sudah bisa menebak, dia akan menjawabnya dengan santai, dan pastinya membuatku marah.
"Memelukmu. Memangnya apa lagi yang sedang kulakukan?" Ujarnya santai. Ah, sudah kuduga! Seharusnya aku tidak bertanya.
"Lepaskan!" Aku mendorong Ggio untuk melepaskan pelukannya yang menyebalkan itu.
"Oh, ayolah! Aku sudah tidak melihatmu selama 8 tahun!" Desahnya.
"Terserah kau saja! Pokoknya aku mem-" Lagi-lagi seseorang memotong ucapanku. "Soifon!" Aku menoleh ke pintu kelas, terlihatlah Rukia, Ichigo, dan Hisagi di sana, melihat ke arah ku.
"Ah, Rukia, Ichigo! Hisagi!" Aku melambaikan tanganku kepada mereka, dan Hisagi melambai balik.
"Cepat! Sebelum waktu istirahat selesai!" Ujar Rukia.
"Baik, baik!" Jawabku sebelum mengutarakan pandanganku ke Ggio. "Ikut atau tidak?"
"Hmmm... Ikut saja deh." Ucapnya.
Aku pun mengangguk dan berjalan ke arah Rukia, dengan Ggio dibelakangku. Aku pun berjalan di sebelah Rukia, sedangkan Ggio berjalan dengan Ichigo dan Hisagi dibelakangku dan Rukia.
"Hei, hei!"
Aku menoleh ke Rukia, "kenapa?"
"Ggio itu... Siapamu, sih? Kok kayaknya dekat banget denganmu?" Tanyanya dengan penuh penasaran.
Aku berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat. Ah, ya. "Singkatnya, dia teman lamaku dan dia pergi ke Amerika dan disinilah dia, kembali lagi." Jawabku, sedikit menoleh kebelakang, melihat Ichigo, Hisagi, dan Ggio mengobral tentang Apa-Yang-Maha-Kuasa-Tahu.
"Kenapa pergi ke Amerika?" Tanyanya.
"Pekerjaan ayahnya." Aku mendesah. "Padahal seingatku ayahnya itu seorang pemalas yang selalu tidur." Ujarku, teringat pada saat berkunjung ke rumah Ggio. Starrk-san hanya tidur didalam kolam air liurnya sendiri... Oke, itu berlebihan.
"Hei, heeeiii! Soifon! Lagi-lagi kamu mengejek ayahku! Iya 'kan?" Ujar Ggio tiba-tiba.
"Apa dah, nguping percakapan orang aja." Ujarku dan Rukia menjulurkan lidahnya.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di kantin. Rukia dan aku segera mencari tempat duduk biasa kami dan yang lain duduk. Suara Tatsuki pun terdengar. "Soifon! Rukia! Hisagi! Ichigoooo! Anak baru! Sini!" Sepertinya Ggio tidak suka dipanggil 'anak baru.' Bisa dilihat dari mukanya.
"Oh, itu dia." Ujarku, dan kami pun berjalan ke arah meja itu.
"Eeh... Aku tidak kenal siapa pun dari mereka... Kecuali Soifon, Shuuhei, Kurosaki, dan... Uhh..." Ucapan Ggio terhenti sambil menatap Rukia.
"Kuchiki." Ujar Ichigo.
"Ya, Kuchiki."
"Tenang saja, akan ku kenalkan." Aku tersenyum kepadanya. Tunggu, aku baru saja tersenyum?
Aku langsung duduk di tempat biasaku, dengan Rukia disebelahku. Ggio mengambil kursi lain dari meja yang kosong dan duduk di sisi sebelahku yang lain. Ichigo duduk di sebelah Rukia dan Hisagi duduk di sebelah Ggio.
Hening.
Ggio menyenggol pinggangku dengan sikunya, dan berkata-membisikkan, "Oi, kenalkan aku!"
"Oh, ya. Maaf."
"Soi-chan..." Mulai Mashiro.
"Ya?"
"Ini siapa?" Tanyanya, menunjuk ke arah Ggio, membuat Ggio merinding sedikit. Hei, aku bisa merasakannya dan tau karena Ggio memegang tanganku dengan keras sejak masuk kantin. Takut? Ya, mungkin dia takut.
"Oh, ya. Dia Ggio Vega. Anak baru di kelas ku." Ujarku, lalu menatap Ggio. "Woi, ngapain kek. Jangan diam aja."
"Oh... Oooh... Oh, namaku Ggio Vega. Dan juga teman kecil Soifon dan juga sahabat baiknya!" Ujarnya, membuat tanda peace di tangan kirinya sambil meringis.
"Yoroshiku, Vega-san!"
"Panggil aja Ggio!" Ujarnya, menggaruk kepala belakangnya.
"Oke Ggio. Ini Mashiro." Ujarku sambil menunjuk Mashiro. "Hati-hati, dia terlalu aktif, bisa membuatmu bosan akan dia dengan jangka waktu yang tidak lama."
"HEI!"
"Ini Shinji Hirako. Orang... Aneh, yang tadinya long-lost brother-nya Nnoitra." Ujarku, menunjuk ke arah Shinji. "Oh ya, dia Nnoitra Gilga. Kadang kupanggil Nnoitra Gila. Karena memang dia gila."
"HEI!" Teriak Shinji dan Nnoitra bersamaan, tetapi ku abaikan.
"Ini Lisa Yadomaru. Lisa, ya. Bukan Risa." Ujarku dan Ggio mengangguk. "Kalau ini... Nemu Kurotsuchi. Anak guru Sains di sini, Mayuri Kurotsuchi. Ini Riruka Dokugamine. Aku tidak terlalu kenal dengannya... Tapi yang kutahu, dia itu kasar."
"OI!"
"Ehm... Ini Yukio... Yukio Hans... Voral... Vokal... Vorarl... Errr... Yukio, nama panjangmu siapa?"
"Yukio Hans Vorarlberna. Ingat itu, ya!"
"You heard him." Ujarku ke Ggio, dia pun memasang muka bingung. Aku menghela nafas.
"Ini Uryuu Ishida, sang kutubuku. Ini Yasutora Sado, atau Chad. Ini Toshiro Hitsugaya, kapten tim sepak bola sekolah kita. Ini Rangiku Matsumoto, errr... Idola sekolah kita?"
"He- Oh, itu benar." Sela Rangiku sambil meringis.
"Terakhir, Kensei Muguruma. Tidak ada yang spesial."
"Hei!"
"Rasanya... Aku invisible, ya?" Ujar seseorang di sebelah Ichigo.
"G-GIN?! SEJAK KAPAN KAMU DISINI?!"
"Sejak pertama bel istirahat."
"HAH?!"
Dan seperti biasa pada akhirnya kami tertawa dan berbincang-bincang tentang apa yang muncul tiba-tiba di dalam otak. Yah, kecuali aku. Aku jarang tertawa. Karena? Aku juga tidak tau. Carilah jawabannya dengan otakmu sendiri. Tapi aku masih bisa tersenyum tentunya. Tunggu, aku berbicara dengan siapa?
Akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid memberi salam kepada Byakuya-sensei, guru jam terakhir. Aku pun membereskan semua bukuku, memasukkannya dalam tas dan menutup tasku. Oh, ya. Aku lupa. Ggio sekarang tinggal dimana ya?
"Ggio." Ucapku, memanggil Ggio yang juga sedang membereskan bukunya.
"Ya?" Jawabnya sambil memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas.
"Sekarang... Kamu tinggal dimana?" Tanyaku. Yah, mungkin saja rumahnya beda dari yang dulu.
"Rumah yang dulu." Betapa ironisnya hidup ini.
"Hah?"
"Rumah yang dulu itu. Yang disebelah kiri rumahmu!" Ujarnya.
"Iya, aku tau. Tapi, bukannya rumah itu dijual? Masa dibeli lagi?" Tanyaku.
"Siapa bilang dijual? 'Kan ayahku bilang ke Kisuke-jii biar jagain tuh rumah. Soalnya ayahku nggak mau kehilangan 'tempat tidur kesayangannya' itu." Jelasnya. "Dan juga tidak mau beli rumah baru lagi."
"Begitu ya..." Sebelum aku berkata apa-apa lagi, seseorang menepuk pundakku.
"Soifoooon!"
Aku menoleh kebelakang. "Oh, Hisagi. Kenapa?" Tanyaku.
"Ayo pulang! Film kesukaanku sudah mau mulai!" Ujar Hisagi sambil menunjuk jam dinding di kelas.
"Oh. Baiklah. Ggio, aku per-" Ucapanku terputus saat Ggio tiba-tiba memelukku-tidak, lebih tepatnya menyeret kepalaku ke dadanya.
"Dia pulang bersamaku." Ucapannya terdengar sangat serius.
Aku bisa melihat Hisagi melebarkan matanya, terkejut, lalu menajamkan tatapannya. Dia terlihat... Menyeramkan... Seperti harimau yang sedang kelaparan-Maksudku seperti harimau yang sedang marah.
"Hei. Dia itu sudah setiap hari berjalan pulang bersamaku." Ujar Hisagi.
"Hah? Memangnya kau siapanya?" Tanya Ggio, sedikit emosi.
"Aku?" Tanya Hisagi balik sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum seperti dia tidak mempunyai dosa. "Aku teman baik dan teman terpercaya Soifon." Ujarnya, lalu menghadapku. "Benar, 'kan?" Tanyanya, lebih tepatnya kepadaku.
Oh tidak. Aku harus menjawab apa? Kalau aku menjawab iya, pasti Ggio akan marah, dan tidak mau bicara denganku lagi. Bisa-bisa ia balik lagi ke Amerika. Kalau aku menjawab tidak, Hisagi juga akan marah, juga tidak akan berbicara kepadaku. Bisa-bisa Hisagi menyebarkan tentang ini, dan teman-teman akan menjauhiku. Aku... Harus menjawab apa? Oh, kami-sama. Tolong aku.
"Soifon." Suara Hisagi yang lembut namun dingin mengganggu pikiranku. Biasanya jika ada seseorang mengganggu pikiranku, orang itu pasti akan kuhajar. Tetapi tidak sekarang. Waktunya tidak tepat...
Baiklah. It's now or never.
"T-tentu saja Hisagi itu temanku." Ujarku. Ucapanku... Terdengar tidak yakin. Semoga Hisagi tidak menyadari itu.
"Lihat? Dia sendiri yang bilang." Ujar Hisagi, sekarang kepada Ggio.
"Tch... Tapi dia temanku sejak kecil!" Balas Ggio penuh emosi. Mukanya memerah.
"Tidak usah pakai 'sejak' juga. Lagi pula, kau meninggalkannya, bukan?" Tanya Hisagi.
Tunggu. Ini... Ini sering ada di shoujo manga! 'Jangan bertengkar karena aku!' Ya, biasanya di shoujo manga seperti itu. Aku... Harus berbuat sesuatu. Tapi apa?
"H-hentikan!" Aku pun bertindak, membuat mereka berdua berhenti. "Ayolah, lebih baik kita pulang bertiga! Sudah jam 2 nih! Hisagi! Film kesukaanmu telah usai! Sudahlah, ayo pulang!" Ujarku, menarik tangan mereka berdua dan menyeretnya ke luar kelas.
Alhasil, kita pulang berjalan bertiga. Sangat terasa udara panasnya. Tatapan mereka berdua membuat udara semakin panas. Aku mendesah. "Mengapa mereka harus bertingkah seperti anak kecil...?" Desahku.
"Aku bukan anak kecil!" Teriak mereka berdua. Aku seharusnya berpikir dua kali jika ingin mengatakan kata-kata itu.
"Dengar ya, Soifon itu hanya milikku dan milikku seorang. Jadi jangan berani mendekati dia." Ujar Ggio.
"Oh, maaf! Aku sudah mendekati Soifon sejak SMP! Dan dia juga terlihat nyaman di dekatku." Ucapan Hisagi membuat wajahku memanas.
"Hah? Masa iya? Jangan mimpi, ya. Soifon itu hanya nyaman di dekatku! Dia tidak akan pernah nyaman di dekat berandalan bertato seperti diri Anda!" Ujar Ggio, yang sedikit membuatku tertawa. Aku langsung menutupi tawaanku dengan batuk buatan.
Seharusnya aku tidak membuat batuk buatan itu.
"Soifon! Apa kamu tidak apa-apa?" Ujar Ggio.
"Soifon! Apa kamu sakit? Sini, kugendong sampai pulang!" Ujar Hisagi.
AARRGGHH! MEREKA MEMBUATKU MURKA!
"DIAM! Aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit. Dan aku tidak perlu digendong. Mengerti? Baik, permisi. Aku mau pulang." Dan aku langsung berlari meninggalkan mereka yang sedang berteriak memanggil namaku.
Sesampainya di rumah, seperti biasa, aku mengucapkan salam, "tadaima...!"
"Ara, okaeri!" Terdengar suara ibuku dari ruang tamu. Eh? Ruang tamu? Berarti ada tamu?
Aku menaruh tasku di kamar dan akhirnya berjalan ke arah ruang tamu karena penasaran. Aku bisa mendengar suara ayah dan ibu, bahkan Yachiru sedang berbincang dengan orang lain. Suara tamu-tamu itu terdengar familiar...
Mataku melebar saat melihat tamu yang ada di ruang tamu.
"Grimmjow-nii! Ulquiorra-nii!" Teriakku dengan penuh kesenangan. "Harribel-san!"
Aku melambaikan tanganku kepada Grimmjow-nii dan Ulquiorra-nii, lalu memberi hormat kepada Harribel-san. Yah, itu memang habitku dari kecil. Entah mengapa, jangan tanya aku. Aku pun tidak tau!
"Ooh! Soifon!" Ucap Grimmjow-nii, sambil memelukku seperti memeluk kucing.
"Oi, lepaskan!" Perintahku, dan ia langsung melepaskan pelukannya.
"Hisashiburi, Soifon." Ujar Ulquiorra-nii dingin seperti biasa.
"Ulquiorra-nii tidak berubah ya..." Ucapku dengan nada sedikit kecewa dan Ulquiorra-nii tidak menjawab. Mengapa? Ya, mungkin saja Ulquiorra-nii bertemu seseorang yang bisa mengubahnya. ...Ini seperti sebuah anime.
"Tunggu. Starrk-jii dimana?" Tanyaku kepada Harribel-san.
"Di sana." Jawabnya singkat sambil menunjuk ke arah sofa disebelahku.
Aku sweatdrop melihatnya. Lagi-lagi Starrk-jii tidur...
"Dia juga tidak berubah..." Ujarku. "Mirip ya, dengan Ulquiorra-nii." Dengan itu, aku di hadiahkan tatapan kematian dari Ulquiorra-nii. "Maaf..."
Lalu aku melihat Grimmjow-nii tersenyum aneh.
"Kenapa?" Tanyaku. Dia tidak menjawab, masih saja tersenyum aneh. Ayahku dan ibuku tersenyum aneh pula.
Tiba-tiba semua menjadi hitam kelam.
"Eh, siapa yang mematikan lampunya?" Tanyaku. Dan aku baru sadar, dua buah tangan yang menutupi kedua bola mataku.
"Coyote Ggio Vega. Lepaskan tanganmu." Ucapku dingin.
"Aku bukan Ggio."
Kucubit sekeras-kerasnya tangan itu, dan segera dilepaskannya tangan itu dari wajahku.
"Ggio baka! Baka baka baka bakaaa!" Kata-kata terakhir yang kuteriakkan ke Ggio sebelum masuk kamar, hanya mendapat tatapan dan tawaan dari yang lain, kecuali Starrk-jii yang sedang tidur, Ulquiorra-nii, dan Harribel-san.
Aku langsung membaringkan tubuhku di tempat tidurku. Ah, tidak ada tempat tidur lain senyaman ini dari pada tempat tidurku.
Aku mendesah saat mengingat kejadian antara Hisagi dan Ggio tadi.
Oh, Tuhan. Mengapa hidupku sangat berbeda?
Hikary Cresenti Ravenia: Hmmm... Tadinya pengen jadiin nih fanfic cuma GgioSoi doang, tapi, entah kenapa, pengen masukkin cowok lain, jadi kayak triangle lopeee gituh(?). Ceweknya sih banyak,seperti yang anda lihat di atas~ Makasih udh repiuuuu~~ *kasih cupcake buatan Hisagi*
Soifon OOC yah~? xD Kalo Ggio ama Hisagi OOC ga? owo kasih tau yaa~~ cantik deh(?). Yg repiu dapet wujud Ggio dalam seekor macan! RAAWWRRR! (?)
Hissss... kok repiu nya di chapter 1 cuma 1? Jahat ih =3= Yah, gapapa deh~ ntar juga banyak~ /authorkepedean /digebukinreaders
Oke~ See you guys in chapter 3~ (yg gatau mau kasih apa judulnya)
