Last Chapter
"Tidak perlu terburu-buru, Jung Soo-ssi. Sekarang ini, Wookie akan kuanggap sebagai tunangan dulu. Dan kuharap, anda setuju kalau mulai saat ini dia tinggal bersama denganku."
Perfect Life Ch 2
By : Ela-Kyuhyunnie
Pairing : YeWook, Slight KyuMin, HaeHyuk
*Ryeowook PoV*
'Tuhan, kalau ini semua hanya mimpi, buatlah semua kembali seperti semula saat aku membuka mata nanti' harapku saat memejamkan mata di tempat yang asing. Sangat asing, kalau perlu kutekankan sekali lagi. Jika kalian ingin tahu, aku sekarang berada di apartemen mewah milik namja yang beberapa waktu lalu kuketahui bernama Kim Yesung. Dan sekarang, tepat pukul sepuluh malam, dan aku terbaring di salah satu kamar yang berada di apartemen mewah miliknya. Yang bisa kulakukan sekarang ini hanyalah berharap dan memohon kepada Tuhan, agar semua ini hanyalah mimpi, dan esok paginya, aku akan kembali berada di atas tempat tidur lamaku yang ada di rumah Kyu dan Minnie-hyung.
Amin
"Wookie ah, kalau kita sudah besar nanti, kau harus jadi istriku. Jadi kau tak boleh mengganti namamu, karena Kim dari namamu, adalah tanda kalau kau adalah milikKu. Arra?"
"Um! Arrasseo, Jongwoon-ah!"
.
.
'Gyolguk non a-cha non a-cha, hage dwelgol...
kkok a-cha, imi tte neujo...
Jakkuman appa nan appa, wae moreuna...
O michyeo, na jichyeo, nae ge gatchyeo~~'
"Uumh..." gumamku pelan sambil kembali merapatkan selimut, saat ringtone lagu A-cha milik Super Junior berkumandang, membuyarkan segala mimpi yang menggelayut. Biasanya, saat alarmku berbunyi, aku akan dengan sigap bangun dan memulai rutinitas pagiku. Hanya saja, kali ini berbeda, mungkinkah karena mimpi semalam yang hanya datang sekilas? Mimpi mengenai janji yang terlupakan. Janji yang aku dan Jongwoon-ah buat sewaktu ku kecil dulu. Sebelum ia pindah rumah dan semua 'insiden' itu terjadi. Rasanya kangen sekali~
"Ah, ah, ah... ternyata my wifey wanna be seorang pemalas seperti ini ya."
Suara asing yang entah kenapa terasa sedikit familier itu membuat seluruh tubuhku mematung tegang. Seluruh kejadian kemarin secara kilat berkelebat dalam ingatanku. Dan dengan takut-takut, aku mulai menyibak selimutku dan mencoba melihat lebih jelas dari siapakah ucapan itu berasal.
'Ya Tuhan, jika engkau memang ada, buatlah ini semua hanya mimpi dan suara itu hanya khayalanku semata!'
Tapi seperti dugaanku, Tuhan itu memang tidak ada, dan namja yang berwujud Kim Yesung itulah yang membuktikan dugaanku. Naja itu berdiri dengan santainya, menatapku -yang mulai menegakkan badan- sambil menyandar tembok dengan gaya yang menurutku...sangat cool, dan sangat sesuai dengan wajahnya yang tampan itu.
'MWO? Cool dan tampan? Aiiish! Apa yang kau pikirkan Park Ryeowook! Dia hanya namja yang harusnya di rawat di Rumah Sakit Jiwa!'
"Hapus wajah melamun bodohmu itu dan cepatlah bersiap." Perintah namja itu yang membuatku seketika memasang raut wajah bingung bercampur kesal.
"Ya, Yesung-ssi! Apa yang kau maksud dengan wajah bodoh?" ketusku padanya. "Dan aku sudah punya rutinitas pagi sendiri. Jam segini ini waktuku untuk—"
"Bekerja mengantar surat kabar dan susu kan? Cepat bersiap dan kita ke tempat kerjamu itu. Dan jangan membantah." Sela namja itu yang membuatku sukses memasang wajah meongo bingung yang sangat tak pantas untuk wajah manisku ini.
Apa?
Apa katanya tadi? Kenapa dia bisa tahu?
Apa benar dugaaanku kalau Yesung ssi itu namja psikopat? Dan aku adalah sasaran namja psikopat itu? ANDWAEE! Aku tak mau~! Ummaaa, Minnie hyuuung, help meee T^T
"Hilangkan wajah bodohmu dan cepat bersiap. Kutunggu lima menit lagi." Tegas suara Yesung ssi yang diikuti dengan menghilangnya penampakannya dari kamarku.
Blue Sapphire
Rasanya aku masih tak percaya dengan semua hal yang terjadi di sekelilingku. Semuanya begitu mengejutkan dan begitu cepat terjadi. Dan semuanya karena ulah namja yang bernama Kim Yesung!
Bayangkan saja apa yang kalian rasakan jika kalian bertemu namja asing yang di pertemuan pertama kalian, dengan percaya dirinya namja itu mengklaim akan menjadikan kalian sebagai istrinya. Dan di pertemuan kedua, namja itu dengan gilanya hampir menabrakmu kalau saja kau tak dengan cepat menyetujui ajakannya -untuk mengantarkan dirimu- yang berakhir dengan dibawanya seluruh barang-barangmu -dari tempatmu selama ini tinggal- agar kau bisa tinggal bersama dengannya. Dan lebih gilanya lagi, itu semua terjadi dengan persetujuan dari semua orang yang telah kalian anggap keluarga!
Umma kalian dengan santainya mempercayakan kaalian pada namja tak dikenal hanya berbekal ucapan "Wookie chagi, kau dengar sendiri kalau umma sudah menjanjikanmu untuk jadi menantu dari keluarga Kim, penyokong dana utama di rumah kita ini. Dan umma sangat tahu kalau Yesung ssi pasti akan memperlakukanmu dengan baik." !
Dan tak hanya itu. Saat kalian berharap besar kalau sang hyung akan menghentikan dan melarang ulah gila namja yang akan membawamu pergi, sebesar itu pulalah rasa shock yang kalian dapat saat melihat betapa akrabnya namja itu berbincang dengan hyungmu. Rasa shock itu berganti menjadi perasaan sebal saat kau lihat namja teman sekelasmu, yang juga suami dari hyungmu, malah memberikan seringaian menyebalkan yang seolah menikmati seluruh ekspresi shock yang terpampang di wajahmu saat hyungmu malah menunjukkan kamarmu -dan membantu namja gila itu mengemasi seluruh barang-barang milikmu- sembari memberikan wejangan-wejangan agar kau bersikap baik pada Yesung ssi.
Oh, dan itu semua belum selesai. Karena ternyata masih ada beberapa hal gila yang menantimu keesokan harinya. Saat malam harinya kau berharap semua itu hanya mimpi, kau terhempas pada kenyataan yang selalu berkata lain- ketika kau dengar suara yang mengolokmu. Dilanjutkan dengan perginya kalian ke tempat kerja, dan dengan santainya namja-yang-bernama-Yesung-ssi itu mengatakan kalau kau berhenti bekerja terhitung mulai hari ini!
Jika kalian menjadi diriku dan mengalami ini semua, aku yakin kalian pasti sudah jadi gila karena perasaan shock yang datang bertubi-tubi. Dan tersangka utama yang membuatku merasa shock itu tengah berdiam di belakang kemudi dan sedang memarkirkan ferrari merah mewahnya di halaman Blue Sapphire yang tak terlalu luas ini.
"Sudah kubilang, hapus ekspresi bodoh dari wajahmu itu, dan ayo turun, atau kau kukunci di dalam mobil." Kalimat datar yang berisi hinaan, perintah dan ancaman yang keluar dalam satu helaan nafas itu membuatku tersadar, dan -dengan masih agak linglung- segera keluar dari mobilnya. Kalian merasa aneh kenapa aku begitu menuruti ancaman namja satu itu? Karena dari pengalaman kemarin, aku benar-benar tahu dan sadar, kalau setiap ancaman yang dikeluarkan Yesung-ssi bukanlah ancaman kosong.
"Kenapa kesini?" tanyaku sementara kami berjalan menuju pintu masuk Blue Sapphire.
"Ini rutinitas pagimu kan? Lagipula, aku tau kalau kau memasakkan sarapan untuk mereka. Jadi, aku mau juga sarapan disini." Jawabnya cuek sambil mulai memasuki Blue Sapphire.
Ada yang aneh.
Ya, ada keanehan besar.
Aneh sekali, karena saat aku akan membangunkan dongsangedeul-ku, Yesung-ssi bilang tak usah karena ia yang akan melakukannya, dan aku disuruhnya mengurus dapur. Dan saat aku sedang sibuk berkutat di dapur –karena harus memasakkan makanan untuk dongsaengdeul-ku yang jumlahnya tak sedikit—sekilas ku dengar gelak tawa dan seruan kaget namun bahagia dari tiap-tiap dongsaengdeul-ku. Ketika masakanku sudah hampir selesai semuanya dan aku mulai menata meja bersama dengan umma, pemandangan yang kulihat ssungguh membuatku tercengang. Bagaimana tidak, jika sekarang ini yang terpampang didepanku adalah Yesung-ssi bersama dengan dongsaengdeul-ku, dengan satu namdongsaengku yang menggelayut manja di punggung Yesung ssi, dan dua orang yeodongsaengku masing-masing mennggandeng satu tangan Yesung ssi.
Dan yang paling aneh dari semua itu adalah aku yang terpaku menatap ekspresi wajah Yesung ssi. Ekspresi datar, cool dan cueknya yang hanya pernah kulihat selama ini, tergantikan dengan ekspresi lembut bersamaan dengan senyum dan gelak tawa yang sesekali terdengar dari bibirnya. Dan aku sendiri tak mengerti mengapa jantungku malah memilih untuk berdetak lebih kencang. Membuatku tuli akan dunia sekitar.
"...ah! Wookie ah! Gwaenchana?"
"A-ah..! N-ne umma. Gwaenchana yo. W-wae?" panikku saat menyadari kalau umma memanggilku dan menatapku dengan pandangan yang... entahlah, aku sendiri tak mengerti apa maksud dari tatapan umma.
"Tak ada apa-apa. Hanya saja, jangan terlalu terpesona pada Yesung-ah sampai kau terpaku seperti ini dong." Goda umma padaku yang menghasilkan semburat merah di kedua pipiku. Malu sekali rasanya karena ketahuan terpergok saat sedang menatap Yesung-ssi. Apalagi oleh umma yang sekarang masih senyum-senyum geje.
"Ap-apa-apaan sih umma. Lagipula, siapa yang terpesona dengan namja gila itu!" tukasku pelan. Masih dengan semburat di pipiku, yang makin memerah saja saat aku melirik Yesung ssi sekilas, dan sialnya, Yesung-ssi juga tepat menatap ke arahku, dengan senyum yang masih belum lepas dari wajah tampannya. Cepat-cepat kualihkan muka dan menyibukkan diri menata meja makan panjang tempat makan seluruh penghuni Blue Sapphire, sambil terus merutuki diri yang sampai terpesona dan terpaku seperti orang bodoh tadi.
Bukan apa-apa. Yang tadi itu bukan apa-apa. Hanya perasaan kaget dan shock saja karena tumben-tumbennya namja cuek itu menampilkan ekspresi lembut seperti itu. Ya, pasti hanyaa karena itu. Bukan karena wajahnya terlihat makin tampa-aneh karena tersenyum lembut begitu! Ya. Pasti begitu!
Tapi, apa benar begitu?
Keanehan kedua –di waktu dan tempat yang sama—yang kurasakan adalah, kenapa rasanya dongsaengdeul-ku semua akrab dengan Yesung-ssi? Setahuku, dongsaengseul-ku bukan tipe yang mudah akrab dengan orang asing. Dan bukankah selama ini aku tak pernah melihat Yesung-ssi? Otomatis dongsaengseul-ku juga baru pertama kali ini melihat Yesung-ssi kan?
"Yesung-oppa, Yesung-oppa, bogoshippeo~ Kenapa Yesung-oppa jarang datang kesini?" ucap Yeodongsaengku yang bernama Luna, yang membuat kedua alisku sukses mengkerut bingung.
"Eh?"
"Benar kata Luna, hyung! Hyung jarang sekali datang kesini! Makanya kami semua kaget melihat hyung datang. Bersama Wookie hyung pula!" sambung namdongsaengku yang tadinya bergelayut d punggung Yesung-ssi.
"Jarang datang? Memangnya kalian semua kenal dengan Yesung-ssi?" tanyaku pelan pada diriku sendiri. Namun tak kusangka semuanya mendengar pertanyaanku karena Amber, yeodongsaengku yang sangat tomboi menjawab pertanyaanku.
"Tentu saja kami semua mengenal Yesung-oppa! Kan Oppa hampir tiap tahun kesini! Wookie-oppa bagaimana sih?"
"Eh? Benarkah?" tanyaku sambil menatap wajah dongsaengdeul-ku satu per satu. Dan semuanya mengangguk mantap. Apa-apaan ini? Jadi, semuanya mengenal yesung-ssi? Hanya aku yang tidak? Entah kenapa, aku cukup terganggu mengetahui kenyataan ini.
"Aah! Aku tahu! Wookie-oppa tidak kenal dengan Yesung-oppa kan karena memang Wokie-oppa tak pernah ketemu dengan Yesung-oppa. Yesung-oppa selalu kesini saat Wookie-oppa masih sekolah, dan langsung pulang sebelum Wookie-oppa kembali." Jawab Sunny yang masih bergelayut pada lengan kiri Yesung-ssi. Membuat kedua alisku makin mengkerut tak suka saat menatap pemandangan itu.
"Benarkah?" tanyaku sambil menatap pada Yesung-ssi yang malah asyik menyantap sarapan yang terhidang didepannya.
"Mungkin. Dan omong-omong, masakanmu enak sekali." Ucapnya sambil mulai menatapku dengan senyum yang belum hilang dari wajah tamp-biasanya. Bisa kurasakan rasa panas menjalari wajahku saat ia memuji masakanku. "Bisa kau buatkan aku bekal untuk nanti siang?" Dan entah kenapa, dengan mudahnya aku menganggukkan kepala, menyetujui permintaannya. Catat, permintaan, bukan perintah seperti biasanya.
Dan aku menyetujuinya tanpa syarat.
School
"Kim Ryeowook." Suara bass itu lagi terdengar ditelinganya. Ya, saat ini Yesung-ssi tengah berdiri di depan kelas dan tengah mengabsen siswa-siswa di kelas. Aku, dengan kesadaran penuh, mengabaikan panggilan Yesung-ssi yang jelas-jelas tengah di tujukan padaku. Sudah dua kali ia memanggilku dengan nama itu, dan sudah dua kali juga aku mengabaikan panggilannya. Dan suasana kelas menjadi hening mendengarkan perdebatan diam kami.
"Ku ulang sekali lagi. Kim Ryeowook." Panggilnya untuk yang ketiga kalinya. Dan reaksiku masih sama. Diam tak suara nefas tertahan dari teman-teman sekelasku. Aku masih tak sudi jika dipanggil dengan nama itu.
"Mianhae Kim sonsaengnim, tapi nama Ryeowook bukanlah Kim Ryeowook, tapi Park Ryeowook." Sela salah satu suara dari teman sekelasku yang sepertinya sudah jengah dengan atmosfir aneh di kelas.
"Begitukah? Jadi karena itu dia tak menjawab panggilanku. Kalau begitu, mulai sekarang kalian semua akan kuberitahu. Nama dari teman sekelas kalian, Ryeowook, sudah berubah, dari Park Ryeowook menjadi Kim Ryeowook. Arra?" jawaban Yesung-ssi langsung membuatku mengangkat kepala dan menatapnya tak percaya. Sedangkan teman-temanku kebingungan menatap kami berdua bergantian.
"Ke-kenapa bisa begitu Kim Sonsaengnim?" tanya teman sekelasku yang tadi.
"Tentu saja bisa. Karena Kim dari namanya diambil dari namaku. Dan di daftar absen pun, namanya sudah kurubah dari Park menjadi Kim. Sebarkan itu kepada seluruh teman kalian." Sahutnya cuek. Mengabaikan tatapan tak percaya dari seluruh siswa yang berada di kelasnya. Ya, seluruhnya, termasuk diriku, dan juga Hyukkie, yang notabene adalah adik sepupunya.
"Jadi, Kim Ryeowook?" Aku menatap bingung pada Hyukkie yang juga sedang menatapku dengan muka bingung yang sama.
"Apakah perlu kuumumkan di seluruh sekolah kalau sekarang namamu berubah jadi Kim Ryeowook, baru kau mau menjawab paggilanku?" ancamnya lagi. Aku tahu pasti kalau yang ini pun bukan sekedar ancaman kosong. Lihat saja betapa cueknya dia saat berucap di hadapan seluruh siswa kelas ini.
"N-ne. Hadir, sonsaengnim." Ucapku tak rela.
"Bagus." Ucapnya sambil mengangguk puas dan melanjutkan mengabsen siswa yang lain.
Dan bagus juga buatmu, Park Ryeowook. Saat jam istirahat nanti, pasti akan terhadi kehebohan besar. Termasuk para yeoja-yeoja yang notabene adalah para fujoshi! Mereka pasti akan menanya-nanyainya mengenai hubungannya dengan Yesung-ssi! Aaaargh! Sial sekali nasibku! Dan ini semua karena namja gila sialan yang bernama Kim Yesung!
"..wook! Kim Ryeowook!" panggilan tegas yang diselipi rasa sebal mengembalikanku ke alam nyata, dimana semua siswa dan juga Yesung ssi menatapku, membuatku kembali merasakan de javu.
"N-ne, sonsaengnim?" tanyaku agak takut saat melihat tatapan tajamnya ditujukan padaku.
"Kau berani melamun saat pelajaranku?"
Shit! Alamat buruk seperitnya!
"Mi-mianhae, sonsaengnim."
Sial! Kutukan apalagi yang kau berikan padaku Tuhan? Belum cukupkah ini semua?
"Maju ke depan dan nyanyikan lagu yang ada di buku lagu halaman 58." Perintahnya tegas.
Apa? Menyanyi dia bilang?
"Mi-mianhae sonsaengnim." Mampuslah kau Park Ryeowook! Sekarang kau telah membuat Kim Yesung mengangkat alis tak suka dan menatapmu malas. "Mianhae, tapi saya tidak bisa menyanyi. Suara saya tidak bagus." Lanjutku saat melihat tatapan Yesung-ssi yang seakan memintaku untuk melanjutkan ucapanku.
"Tidak bisa menyanyi karena suaramu tidak bagus? Alasan bodoh macam apa itu? Aku tak peduli, pokoknya cepat maju ke depan dan menyanyilah!" sahutnya tegas dan dengan nada yang seolah tak ingin lagi dibantah.
"Haaah~" helaku pasrah saat mulai berjalan kedepan kelas. Sepertinya memang nasibku sungguh jelek sekali. Setelah ini aku pasti akan menjadi bahan ejekan anak-anak sekelas! Kim Yesung sialan!
"Akan kuiringi dengan piano, dan kau masuklah kalau sudah saatnya." Ucapnya tegas.
"Ne, sonsaengnim." Jawabku malas.
Intro dari piano mulai terdengar.
"Uriga mannage~
doen narul chugboghanun ee bamun~" mulaiku dengan suara rendah dan sedikit ogah-ogahan.
"Tinggikan nadamu satu oktaf dan menyamyilah dengan serius!" Namja itu kembali memerintah, dan memulai lagi permainan pianonya yang tadi terhenti saat memarahiku.
Aku menarik nafas panjang dan bersiap-siap. Satu oktaf katanya? Bukankah dengan begitu suaraku makin terdengar jeleknya? Aigoooo, namja ini berniat mempermalukanku ternyata!
"Uriga mannage~
doen narul chugboghanun ee bamun~" aku kembali menyanyi dengan menaikkan sedikit nada awalku.
"Stop! Stop! Apa kau ini bodoh, Kim Ryeowook? Bukankah sudah kubilang, naikkan satu oktaf, bukan setengah oktaf!" Potongnya sambil menghentikan lagi permainan pianonya. "Ulangi lagi! Dan kali ini, seriuslah dengan menaikkan nada satu oktaf!"
Aku mengerutkan kening bingung. Bukankah adi itu sudah kunaikkan nadanya menjadi satu oktaf? Aku menatap Kyu meminta penjelasan, dan namja itu membenarkan ucapan Yesung-ssi.
Jadi, aku yang salah?
"Uriga mannage~"
"Stop!" potong Yesung ssi lagi, dan kali ini dia menatapku tajam. Membuatku cukup bergidik takut akan tatapannya. "Apa kau benar-benar bodoh sampai tak bisa membedakan setengah dan satu oktaf?"
"Kalau begitu, coba sonsaengnim contohkan kepadaku!" tantangku balik karena telingaku panas mendengar ucapannya yang seakan mengolokku. Ku akui aku memang bodoh, tapi tak perlu mengucapkannya sampai dua kali seperti itu kan? Di depan teman-teman sekelas pula!
"Dasar siswa menyusahkan! Ini aku contohkan! Awalnya kau menyanyi dengan suara rendah seperti ini." Yesung ssi mulai menirukanku saat awal-awal tadi. Harusnya kan kalau lagu ini dinyanyikan dengan nada rendah, hasilya kan buruk, tapi kenapa dengan suara sonsaengnim, lagunya tetap terdengar enak? Berbeda sekali~. Aku mengakuinya meskipun ia menyebalkan.
"Dan saat kuminta menaikkan satu oktaf, kau melakukannya seperti ini." Kembali Yesung ssi menirukan nada suaraku saat menaikkan nada setengah oktaf. Dan meskipun enggan mengakui, tapi memang suaranya bagus sekali.
"Seharusnya, kalau naik satu oktaf, awal nadanya jadi seperti ini." Nah, kali ini aku fokus mendengarkan suaranya saat menyanyikan lagu believe milik super junior. Ah, jadi begitu ya. Sepertinya memang aku yang salah. Karena dari yang di contohkan Yesung ssi, memang ada perbedaan yang cukup mencolok anatara menaikkan nada setengah oktaf dan menaikkan nada satu oktaf.
"Kau mengerti sekarang? Kalau mengerti, ayo ulang sekali lagi."
"Tapi sonsaengnim, kalau aku menyanyikan dengan nada setinggi itu, bukankah nanti akan terdengar makin jelek?" tolakku yang diiringi suara cekikikan beberapa yeoja di kelasku.
"Kim Ryeowook." Panggilnya dengan nada itu. Nada perintah yang seolah tak ingin di bantah. Sepertinya memang Yesung-ssi bernat memepermalukanku sepenuhnya! Sial!
"Ne, ne. Mulailah sonsaengnim." Sahutku cepat, karena menurutku, semakin ini semua cepat selesai, berarti semakin baik.
Aku menarik nafas panjang selama Yesung-ssi memainkan intro lagu ini. Benakku mengulang-ulang rekaman suara Yesung ssi yang sangat merdu dan indah itu.
"Uriga mannage~
doen narul chugboghanun ee bamun~" aku menoleh pada Yesung ssi yang hanya menganggukkan kepala dan menggerakkan bibir yang kubaca seperti 'lanjutkan'. Jadi, aku lanjutkan saja ke bait lagu yang berikutnya. "Hanulen dari pyo-igo byoldurun misojijyo~"
Aku berhenti menyanyi karena saat aku masih memandangi Yesung-ssi, bibirnya kembali bergerak, mengucapkan kata 'stop' dan memintaku untuk berhenti.
"Gudeui misoga jiwojiji anhgil baleyo~
Onjena haengbokhan nalduri gyesog doegil bilmyo~" Aku terkejut saat Yesung-ssi menyanyikan bait yang selanjutnya. Namun keterkejutanku terabaikan saat Yesung-ssi kembali memintaku melanjutkan bait lanjutannya.
Dan begitulah, aku dan Yesung-ssi bergantian menyayikan lagu itu, yang terdengar seperti duet yang saling bersahutan. Entah bagaimana, seulas senyum terukir di bibirku kala berduet dengan Yesung-ssi. Rasanya sungguh menyenangkan saat melihat raut wajah Yesung-ssi melembut saat ia memainkan piano dan menyanyi.
"Soroui hwawone midumul shimgo haengbogul piwo
Maume yolsho-eul noege jonhe jul tenikka~" Aku menutup lagu itu dengan berduet dengan Yesung-ssi sebagai penutup.
Dan saat kembali menghadap ke depan –karena sedari tadi aku menghadap ke Yesung-ssi yang memainkan piano- aku terdiam mendapati suasana kelas yang hening bagai di kuburan.
.
.
"Good job, Wookie." Ucap Kyu sambil mulai bertepuk tangan, yang kemudian diikuti oleh seluruh teman-temanku.
"Ne, aku baru tau kalau suaramu bisa sebagus itu Wookie." Sambung Hyukkie, yang juga ikut bertepuk tangan.
"Suaramu merdu sekali Ryeowook ah"
"Ya! Benar-benar bagus!"
Aku yang terheran mulai merasakan wajahku memerah saat pujian satu per satu mengalir dari bibir teman-teman sekelasku. Setelah mengucapkan ucapan terima kasih dengan pelan, aku cepat-cepat kembali ke mejaku dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
Dan wajahku semakin memerah padam saat kulirik Yesung ssi yang juga sedang tersenyum puas ke arahku.
Aigooo... ada apa denganmu Wookie-ya~~
-TBC-
a yem bek~~
mian nggak sekilat kemaren chingu, author agak sibuk hari-hari kemaren...
sibuk maen tapinya *plak!*
tapi kan yang penting udah di apdet! Iya kan chingu? Iya kan?
Dan kayak yang kemaren... ripiuw yaaaa~~
Balasan ripiuw
ELFishyShfly : Yeppa sosok sempurna? emang gitu kan chingu? *ketauan kalo clouds neeeh*ini udah apdet nih~
YellowPinkBlue : penasaran ama ibu Wookie? entar author kai tau kalo udah saatnya yaaa~
Dee cloudsomnia : iya dong~ Yeppa kan cuek dan aneh orangnya~ hihihihi, di chapter ini mulai keliatan sifat aslinya Yeppa deh..
wulan yeppo : salam kenal juga~ amiin, author juga berharap begitu~ ini udah apdet shingu~
aegyaYewook : belom nikah chingu, cuma tunangan dulu~ *blush* aih~ di poppo /
mako47117 : ibu wookie? ntar bakal keluar lagi koq dia.. gangguin lagi deh ceritanya~ uups!malah kasi bocoran nih...
Park Hee Jung : yeey~ bisa d ripiuw juga kan? senengnya author~ aduh, minta hepi ending ya? gimana ya enaknyaaaa... hmm... author pikir2 dulu ya~ hihihihi
Jenny Yesungiesconcubine : salam kenal juga~ yeey, ternyata yewook shippernya banyak! aduh, kalo pertanyaanmu ku jawab semua, jadi kurang seru dong nantinya~ satu aja ya.. iya, wookie ud nggak 'virgin' lagi tuh T^T tega bener yang bikin wookie jadi kayak gitu T^T *nggak ngaca*
JunJunMinnie : gomawoooo~~~ ini udah di lanjut, ripiuw lagi yaa~
Seo Shin Young : iya, Yeppa ud ngincernya sejak lama, makanya bisa bikin kejutan seheboh ini. ini udah apdet chingu~
GOMAWO~~~
