Disclaimer

Naruto © Kishimoto Masashi

My Doctor © Haruno Aoi

Warning

AU, OC, OOC, TYPO

- just for fun -

.

.

.

Saya ucapkan terima kasih kepada:

Miya Hime Chan, uchihyuu nagisa, Ekha, Sora Hinase, Hyugga Hime-chan, Hina bee lover, Keira Miyako, Sugar Princess71, Saqee-chan, Ichaa Hatake Youichi ga login, DN, Shaniechan, ei-chan lazy login, edogawafirli, soft purple, Gary Crystalla, Hikari No Aoi, Hime-chan luph SasuHina

Terima kasih banyak semuanya…

Langsung saja…

.

.

.

oOo… My Doctor …oOo…

.

.

.

"Sensei?" Hinata masih mendongak karena memandang wajah Sasuke, sosok yang telah ditabraknya.

Sasuke segera mengembalikan perhatiannya pada pintu apartemen yang hampir ditutupnya. Ia sedikit mendesah karena seorang anak berumur sekitar tiga tahunan keluar dari pintu.

"Daddy, aku mau ikut…" rengek batita berambut dan bermata hitam itu.

Hinata memandang Sasuke dan si batita secara bergantian. Mulutnya sedikit menganga karena tidak percaya bahwa guru privatnya yang masih berumur dua puluh empat tahun sudah memiliki seorang putra berumur sekitar tiga tahunan. Tapi apa benar itu anak Sasuke, pria yang mengaku benci kepada anak-anak?

"Kaoru di sini saja sama Niichan," balas Sasuke dingin.

"Niichan nggak mau main cama aku. Niichan cukanya main game. Aku main cama ciapa, dong?" Kaoru merengek dengan mata berkaca-kaca.

Hinata menahan napas sejenak ketika Sasuke tiba-tiba melihat ke arahnya. Ia hanya mengedip-ngedipkan matanya karena tak mengerti. Saat pandangannya teralih pada sosok berwajah imut nan polos yang berdiri di samping Sasuke, ia sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua pipi chubby itu.

"Mommy…"

Suara khas bayi itu menggetarkan hati Hinata. Ia kesulitan menelan ludahnya setelah melihat wajah memelas Kaoru. Beberapa detik kemudian, ia sedikit tersentak ketika melihat kepala berambut hitam menyembul dari balik pintu apartemen Sasuke.

"Apa Kaoru tadi bilang Mommy?" tanyanya sambil memandang Sasuke dengan mata berbinar.

Hinata mengira-ngira bahwa bocah yang kali ini dilihatnya berumur sekitar enam tahunan. Menurut Hinata, ia mirip sekali dengan Kaoru si batita. Ia belum bisa mengeluarkan suaranya, apalagi saat si bocah enam tahun memerhatikannya dengan pandangan tajam. Mendadak ia mengerutkan keningnya karena bocah yang semula memerhatikannya, kini memencet tombol-tombol ponsel hitam yang dipegangnya.

"Grandma, Daddy punya Mommy!" adunya setengah berteriak di depan ponsel yang digenggam dengan kedua tangan mungilnya.

"Sudah kubilang, hentikan memanggilku Daddy. Kaoru jadi menirumu, Hikaru," tutur Sasuke dengan nada malas sambil menjitak pelan puncak kepala si bocah enam tahun yang dipanggilnya Hikaru.

"Daddy jahat! Nanti aku aduin ke Papa!" rengek Hikaru sambil mengusap puncak kepalanya dengan sebelah tangannya.

Hinata menaikkan salah satu alisnya karena kebingungan. Mungkin sebaiknya ia tidak ikut campur dengan urusan keluarga guru privatnya. Masalahnya ia ingin lewat, tapi jalannya menuju pintu apartemen Neji terhalangi oleh tiga makhluk bergender laki-laki di depannya.

"Oi, bocah tengik! Anak-anakmu berisik sekali."

Wajah Hinata sumringah saat mendengar suara yang sangat dirindukannya.

"Kakak!" Hinata melambaikan tangannya pelan ke arah Neji yang menyembul dari balik pintu apartemennya.

"Kenapa kamu di sana?" Setelah membuka pintunya lebih lebar, Neji berjalan mendekati Hinata; bersiap mengeluarkan Hinata dari kepungan tiga makhluk laki-laki bermarga Uchiha.

Sasuke melihat ke arah Neji dengan tatapan malas. Saat Neji berjalan melewatinya, ia menendang tulang kering Neji hingga membuat pemiliknya memekik tertahan. Sasuke tidak peduli dengan Hinata yang sedikit memelototinya.

"Kau benar-benar kekanakan!" desis Neji sambil memegangi kaki kirinya.

Sasuke menyeringai puas melihat wajah kesakitan Neji. Ia memang tidak pernah akur dengan teman seangkatan sekaligus rivalnya itu.

Neji menarik Hinata setelah memberikan tatapan maut pada Sasuke. Baru dua langkah ia berjalan, Hinata membuatnya terhenti karena tidak lagi melangkahkan kaki.

"Mommy, aku lapal…"

Alis Neji tampak mengerut karena melihat Kaoru yang sedang merengek sambil menarik lengan Hinata yang satunya.

"Kasih makan anakmu, bocah tengik!"

Sasuke hanya mendengus kesal seraya membalas tatapan mematikan Neji.

Hinata tidak tega melepas genggaman tangan Kaoru, apalagi setelah melihat pandangan memelas milik Kaoru. Bibir tipis yang bergetar, pupil hitam yang berkilat, wajah imut nan tampan, pipi yang terlihat empuk; semuanya membuat Hinata ingin segera memeluk Kaoru.

"Kaoru mau ikut denganku?" Setengah tidak sadar, pertanyaan itu meluncur dari mulut Hinata.

"Mau!" seru Kaoru semangat sambil memeluk kaki Hinata.

Hinata sedikit terkejut dengan kelakuan Kaoru. Terlebih lagi saat Hikaru juga turut menggenggam tangannya. Sekarang, Hinata baru menyadari bahwa Hikaru tidak kalah imutnya dari Kaoru.

"Aku juga mau ikut Mommy. Aku nggak mau sama Daddy yang jahat," ujar Hikaru seraya menjulurkan lidah ke Sasuke.

Sasuke tidak kelihatan keberatan. Ia malah terlihat senang, bebas, dan seolah baru saja terlepas dari beban berat di pundaknya.

"Hei, hei, apa-apaan kalian?" protes Neji, yang tidak lagi berguna karena Hinata sudah menggandeng dua bocah laki-laki itu memasuki apartemennya. Ia mengalihkan pandangannya ke Sasuke yang sedang mengunci pintu apartemen. "Woi, bocah!" serunya pada Sasuke yang belum melepas seringai.

"Aku titip anak-anakku, kakak ipar," bisik Sasuke saat berjalan melewati Neji.

Neji merinding mendengarnya.

.

.

.

Setelah berjam-jam menemani Hikaru dan Kaoru bermain, Hinata membawa mereka ke apartemen Sasuke. Ia heran kepada Sasuke yang tidak sekali pun melihat keadaan dua bocah itu di apartemen Neji. Apa Sasuke tidak merasa khawatir seandainya Hinata tidak memberi mereka sarapan? Apa ia begitu yakin bahwa Hinata tidak akan menelantarkan mereka?

Hinata memencet bel apartemen Sasuke. Sebenarnya ia tidak rela melepas dua bocah yang masih menggenggam erat tangannya. Lagipula, ia merasa sangat senang bisa bertemu dan mengenal dua bocah imut itu. Sayang sekali Ibu sudah tidak bisa lagi memberikan adik-adik yang imut seperti mereka. Mungkin bukannya tidak bisa, tapi Ibu tidak mau.

Hinata tidak jadi mengeluarkan suaranya karena bukan Sasuke yang membukakan pintu apartemen. Dengan berat hati, ia menarik tangannya agar Hikaru dan Kaoru melepas genggamannya. Tapi yang didapatkannya malah pelukan erat di kedua kakinya. Hinata meneguk ludah karena mendapatkan tatapan sinis dari wanita berambut merah yang berdiri di ambang pintu apartemen Sasuke.

"Ah, Sensei." Hinata bertanya saat Sasuke berjalan menghampirinya, "Apa hari ini Sensei akan datang ke rumah untuk membimbing saya?"

"Kau kubimbing di sini setelah makan siang. Kebetulan Karin masak banyak," ujar Sasuke seraya melihat Karin sekilas. Ia mengabaikan Karin yang hampir mengeluarkan protes.

"Aku akan bilang ke Neji dan keluargamu di rumah," imbuhnya tanpa memberi Hinata kesempatan untuk membantah.

Hinata merasa tidak enak melihat Karin yang masuk ke dalam apartemen Sasuke sambil menggerutu. Setelah itu, ia hanya menggigit bibir bawahnya karena Sasuke masih memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan; dingin, tajam, namun tidak menakutkan.

"Mommy, aku ngantuk…"

Rengekan Kaoru membuat Hinata mengalihkan pandangannya dari Sasuke. Ia membelai Kaoru yang masih memeluk kakinya, sedangkan Hikaru sudah menempel pada Sasuke.

"Kaoru akan tidur setelah makan siang," Sasuke berkata seraya mempersilahkan Hinata memasuki apartemennya.

Hinata yang membawa Kaoru dalam gendongannya, mengikuti Sasuke dan Hikaru yang berjalan menuju dapur. Sesekali ia mendengar Kaoru menguap dan sedikit merengek. Mungkin dengan sedikit belaian di rambut, Kaoru sudah bisa terlelap dengan menjadikan pundak Hinata sebagai bantalnya.

.

.

.

Hinata duduk lesehan di depan meja sofa di ruang tengah apartemen Sasuke. Permadani tebal yang menjadi alas duduknya sangat hangat, membuat Hinata ingin menidurkan dirinya di sana. Untuk kesekian kalinya ia mencubit kecil kakinya, berharap agar rasa sakit bisa menghilangkan kantuknya. Sudah beberapa kali Hinata menguap dan meneteskan air mata karena sangking mengantuknya. Biasanya jam-jam setelah makan siang di hari libur, memang dimanfaatkan Hinata untuk tidur siang.

Sasuke yang memeriksa hasil pekerjaan Hinata, sesekali melihat Hinata yang terkadang hampir memejamkan mata sepenuhnya. Ia membetulkan letak kacamatanya sambil berdeham untuk menarik perhatian Hinata.

"Sensei, apa saya sudah boleh pulang?" Hinata bertanya sambil berusaha membuka kelopak matanya yang terasa lengket. Karena terlalu lama menunggu jawaban dari Sasuke, ia menopang kepalanya yang terasa berat pada lengan yang ditumpukannya ke meja.

"Setelah kuamati, kau paling lemah pada bab reproduksi. Sepertinya kau memang membutuhkan praktik," canda Sasuke tanpa menghilangkan ekspresi seriusnya.

"Mungkin," gumam Hinata tak sadar.

Sasuke tersenyum tipis layaknya mendapatkan hiburan menarik. Mungkin jika Karin melihat senyum itu, ia akan langsung pingsan di tempat. Jika Hinata melihatnya, sepertinya ia akan berpikir bahwa Sasuke tidak hanya memiliki ekspresi datar. Kalau dua bocah imut yang sedang tidur siang melihatnya, mungkin mereka akan menyimpulkan bahwa Sasuke bukan lagi seorang pria tanpa ekspresi yang benci anak-anak.

.

.

.

Hinata berjalan melewati koridor sekolahnya tanpa antusias. Ia berharap agar hari Senin tidak pernah ada. Sesekali ia menutup mulutnya yang menguap kecil. Ia kurang tidur karena guru privatnya yang baik hati mengantarkannya pulang ke rumah sebelum makan malam, padahal ia belum menyelesaikan pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan hari ini.

Sebenarnya Hinata juga salah karena tertidur di apartemen guru privatnya. Tapi kalau mengantuk memang sulit untuk ditahan, bukan? Harusnya guru privatnya bersedia membangunkannya. Mungkin kecurigaan Hinata memang benar; guru privatnya hanya ingin makan gaji buta.

Langkah Hinata terhenti ketika mendapatkan pelukan dari belakang. Untung saja koridor masih sepi karena ia berangkat lebih pagi. Ia mencoba berontak setelah mengetahui seseorang yang melingkarkan lengan di perutnya.

"Aku merindukanmu, Hime…" bisik pemuda yang sekarang tengah menyandarkan dagunya di pundak kiri Hinata.

.

.

.

oOo… Thank You …oOo…

.

.

.

R

E

V

I

E

W