Saint Seiya © Masami Kurumada

Puzzle Pieces in Culpability © Shimmer Caca

Kepingan-kepingan memory mulai tersusun acak di kepalanya, laksana teka-teki yang siap dipecahkan. Sementara lilin kehidupan hampir padam, waktunya semakin sedikit. / "Dengarlah dulu, aku belum selesai bicara." / "Selamat datang di keluarga."/ "Temukan Sekolah Demigods, kau hanya perlu mengikuti arah angin selatan."

Warnings : OOC, Typo(s), Marry sue OC. DLDR. Anti OC? Mending jangan baca deh.


Ketika duduk di anak tangga sambil berteduh, seorang perempuan membawakan handuk basah kepada Shizen.

Gadis itu tentu terkejut, awalnya. Ia sedang membayangi beberapa hari yang lalu ketika bertemu Hera dan itu sedikit menakutkan. Lucu juga mengetahui fakta bahwa Shizen justru mendecih dan menepis tangan perempuan tersebut karena berpikir bahwa dia Hera –jelmaan Hera lainnya. Tapi yang dilakukan perempuan itu justru tersenyum.

"Aku Electra," dia mengambil kembali handuk yang terlempar. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin membantumu."

Shizen yang berumur tiga belas tahun kala itu akhirnya menggapai uluran tangan Electra. Berharap bahwa Electra bukanlah Hera atau jelmaan dewi lainnya. Meski begitu, Electra benar-benar seperti dewi di matanya. Dia berkedip beberapa kali dan berdiri, entah apa yang terpikirkan Shizen hingga mengikutinya masuk ke dalam Kuil.

Ternyata di dalam lebih hangat. Tidak ada yang istimewa, benar-benar mirip seperti kebanyakan kuil lainnya. Namun udara musim gugur yang dibawa membuat Kuil ini terlihat lebih rindang jika dari dalam, menghantarkan rasa senyap yang menenagkan.

Electra menarik sehelai katun putih dan mencocokkannya pada Shizen. "Air hangat di kuil sangat nyaman jika kau ingin mencobanya?" dia menatap mata Shizen dan terhanyut ke dalamnya. Dengan penuh simpati ia mendorong lembut punggung Shizen dan menggantungkan handuk kering di pundak gadis cilik itu.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku menunggumu di taman belakang jika sudah selesai. Secangkir teh kedengaran bagus."

Baginya mungkin tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi tidak untuk Shizen. Setelah empat tahun hidup dalam bayang-bayang kebahagiaan semu, bertemu Ratu Olympia dan lagi-lagi merasa tertipu oleh takdir yang dipermainkan oleh para dewa. Apalagi yang lebih buruk untuk anak seumurannya? Baiklah, harus ada yang diketahui Shizen setidaknya, mungkin tentang umur yang lebih dari seratus tahun. Astaga, seberapa purba dirinya. Tapi lihat, dia bahkan benar-benar seperti anak 13 tahun pada umumnya.

Menjejaki diri di kolam air panas benar-benar membuat penat hilang.

Namun di sana ada seseorang yang menunggunya, jadi ia tidak bisa membuang waktu lima menit lagi untuk bersantai lebih.


Electra menyisir rambut panjangnya. Shizen tidak keberatan, bahkan ketika tangan perempuan itu mulai bermain-main dengan ikat rambut. Mereka berdua diam seolah menikmati sore itu –tapi hanya Electra saja. Sedangkan Shizen sama sekali tidak tenang meski ekspresinya menunjukan yang berlawanan. Sedikit demi sedikit memorinya mulai membentuk kembali, namun tidak urut, dan dia berusaha lebih keras untuk mengesampingkannya, ada hal lain yang perlu dikhawatirkan lebih. Seperti, bagaimana jika para specter mencarinya?

Sejauh dia pergi, belum ada tanda-tanda orang yang mencurigakan, meski sekali dua kali ada hal yang lebih aneh daripada orang-orang itu. Sewaktu-waktu dia melihat angin topan kecil berputar-putar di tengah kota, namun mereka gerombolan seperti anak-anak yang berlarian saling sikut untuk mencapai tempat penjual ice cream lebih dulu. Omong-omong, mereka itu ventus, roh angin.

"Apa yang kau pikirkan?"

Shizen tersentak dari lamunannya.

"Tidak ada."

Electra sudah duduk di samping, "Akhir-akhir ini banyak orang asing datang."

"Maksudmu aku aneh?" Shizen sadar penampilannya aneh, bahkan logatnya bukan seperti orang Jepang. Ini kuno dan dia merasa bukan ini zamannya.

"Bukan. Astaga, tentu saja bukan itu yang kumaksud," dia mendongak menatap langit, "kau tidak akan percaya mendengarnya."

Gadis itu tertawa dalam hati, berkata bahwa seharusnya Elcetra-lah yang tidak akan percaya tentang hidupnya. Tidak ada yang lebih aneh selain hidup di tubuh orang lain, diperebutkan dewa-dewi, atau … ah, mungkin memang lebih baik mengatakan 'diteror oleh dewa-dewi' karena 'diperebutkan' terdengar begitu manis hingga rasanya tidak mungkin untuk dikecap.

"Setiap hari orang asing datang kemari-"

"Lalu, mengapa kau bi–"

Dia tersenyum hangat sambil meletakkan telunjuknya di depan mulut Shizen. "Dengarlah dulu, aku belum selesai bicara."

Shizen terdiam jengkel, merutuk diam-diam dalam hati. Dia benci basa-basi, atau karena akhir-akhir ini suasana hatinya sangat tidak enak hingga basa-basi saat ini terdengar memuakkan. Membuang muka, lalu mengendus kecil, tidak mendengarkan cerita Electra sama sekali. Namun tiba-tiba saja perempuan itu mengelus kepalanya.

"Ayo tinggal denganku?"

Terlonjak dari dudukmu itu hal biasa, mendorong dan langsung membanting juga memelintir tangan lawan bicaramu itu baru luar biasa.

"Apa yang kau lakukan!?"

"Katakan saja siapa sebenarnya kau ini."

Mungkin dia terlihat seperti anak tiga belas tahun biasa dan kumal. Percayalah, Shizen jauh lebih tua dan berpengalaman dari perempuan ini.

"Ck, ck, ck, baru ditinggal sebentar kalian sudah berpesta tanpaku."

God. Satu lagi lelaki aneh muncul. Batinnya. Tapi Shizen sudah diajari oleh pengalaman untuk memasang wajah batu setakut apapun dia. Jika dilihat dengan saksama lelaki itu bersurai sama dengannya, dan jauh lebih gelap.

Electra mengerang pelan, lalu berubah menjadi dengusan geli dan tertawa. Dengan cepat ia memutar arah yang berlawan di tangan yang dipelintir Shizen, memasukkannya ke dalam celah sikut bocah itu dan membuat Shizen terhuyung ke depan.

"Aduh!" dia terjatuh dengan kepala yang menabrak lantai. Mengelus jidatnya pelan lalu melempar tatapan tajam pada Electra. "Siapa kalian?" andai suara bisa membunuh, Electra bersumpah dia sudah mati sejak 3 detik yang lalu.

"Kami?" pria itu tertawa berat. Langkah kakinya mendekati Shizen, dan benar saja dia sudah di belakang gadis itu, garis bawahi "sangat dekat" sampai-sampai Shizen yakin jarak mulut pria tersebut dengan telinganya hanya 2 cm. "Kami adalah kau," Shizen bergidik. Merasakan hembusan napas yang berada di tengkuk lehernya. "Selamat datang di keluarga."

Dia mundur ke arah diding dari kayu yang digantungi lukisan zaman dulu. Aneh rasanya, di teras belakang yang terbuka ini terdapat lukisan yang … terasa familiar di otak Shizen. Bola matanya mengamati bolak-balik anatara Electra dan pria itu. Wajah mereka jauh sangat beda –pria itu dan dirinya sangat oriental, namun Electra sedikit Asia dan Barat, mungkin faktor rambut pirangnya– entah apa, namun pasti, ada hal yang membuat mereka terlihat mirip … dan sama. Hanya saja, Shizen memilih diam.

Electra mengernyit menatapnya, "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud–"

"Tidak apa. Atau perlu kutambah dengan dimangsa Hydra."

Lagi-lagi, pria itu tertawa. "Astaga, lihat. Betapa mirip dia dengan kita. Sarkasmenya, kekurang-ajarannya, dan …"

"Jasper, diam."

Jadi, namanya Jasper. Batin Shizen.

"Bukan salah kami kalau nasibmu amat sial,"

"Iya. Nasibku amat sial, ditambah dengan bertemu kalian."

Electra menghembuskan napas berat dan bosan. Dia menyikut Jasper di sampingnya yang sedang menyeringai. "Begini. Kau tidak paham juga, Bocah, kami ini keluargamu. Nama kami sama dengan nama belakangmu. Tidak percaya? Silahkan cek arsipnya di ruanganku."

"Bocah?" Shizen tertawa geli. "Biar kujelaskan, Nona," Jasper tampak menikmati adegan di depannya. Tapi toh apa pedulinya Shizen. "Aku jauh lebih tua darimu. Dan kau dengan kurang ajarnya memanggilku bocah."

"Oh ya?" mereka membalas serempak. Jasper dan Electra itu, sepertinya dapat menjadi tim yang sangat kompak menyebalkannya. "Berapa umurmu? Empat ratus tahun? Lima ratus tahun? Seribu tahun?" Jasper melanjutkan.

"Aku… eh …"

"Itulah sebabnya kami di sini." Electra sudah kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu. Lembut dan hangat. Tapi tetap saja rasa kesal itu masih di sana.


Suara keras debuman lantai kayu membuat Shizen terbangung dari tidurnya. Dikibaskannya selimut ke samping dan turun perlahan dari tempat tidur. Yang terpikirkan hanya dua, pencuri atau Electra sedang kebelit.

Belum sempat ia membuka pintu, dan benar saja? Barusan dia memikirkan Electra, perempuan itu sudah berada di hadapannya; dengan rambut kusut, mata merah, dan napas yang terengah-engah. Untuk sesaat Shizen merasa yang di hadapannya bukan Electra, namun seperti melihat dirinya dua tahun lalu; kumal dan menjijikan.

"Shizen, kau harus—"

"Ada apa!?" Shizen menarik tangannya yang dicengkram kuat oleh Electra. Melihat pancaran matanya membuat Shizen mau tak mau takut juga. Tapi Electra tidak banyak bicara. Dia menarik Shizen kuat sambil berlari. Membawanya ke suatu tempat di balik lukisan, yaa, lukisan yang berjajar tiga di teras belakang. Jika kau cerdas, kau akan menemukan pintu di belakangnya.

Tapi selama ini, pintu itu terkunci.

Electra dengan tenaga yang tersisa mendorong kunci besar di balik pintu itu –terlihat berat, namun dia mengatasinya. Air mata tertahan di pelupuk mata.

Di dalam lembab, hanya satu lilin jauh yang menjadi pencahayaan. Shizen dapat melihat samar banyak lusikan perang, seolah sedang menceritakan sebuah kisah. Dindingnya yang sempit terbuat dari bata dan sekarang sudah berlumut. Ia tidak tahan untuk mendengus jijik, namun tak ditunjukkannya. Ada banyak sarang laba-laba. Sepertinya, ada jalan lain lagi di sini.

"Dengar, Shizen. Ini tidak seperti yang kita bayangkan." Dia terduduk frustasi di depan pintu. Shizen hanya mengikutinya dan mencoba mencerna semua ini. Electra merengkuh dan memeluknya seperti seorang kakak.

"Ada apa?" bahkan tanpa Shizen sadari, suaranya bergetar.

"Mereka … orang-orang itu," wajah Electra tenggelam dibalik rambut acak-acakkannya. "Mereka datang. Para specter."

Shizen menggigil. "Apa yang kau bicarakan?"

"Segelmu terlepas. Mantra pelindungnya tidak lagi berfungsi dan mereka mencium baumu sampai ke sini. Jasper di luar untuk menahannya. Ini hanya … tidak wajar." Dia menangis sejadinya, membuat Shizen tak bisa untuk menangis lagi –setidaknya belum dan tidak di sini.

"Aku berusaha membantu awalnya," Electra mengelus lengan bajunya dan barulah Shizen sadar bahwa sejak tadi bercak darah telah mengotori pakaiannya juga. "Tapi Jasper bilang dia bisa mengatasinya. Aku tidak bisa bayangkan kalau mereka menemukanmu dan—"

Suara langkah kaki banyak yang tergopoh di luar sana membuat mereka terlonjak dari duduknya. Electra melepas jubah di sudut pintu dan memakaikannya pada Shizen. Mereka sama-sama terdiam dan sesekali cegukan Electra terdengar. Lagi, dia menarik lengan Shizen dan membawanya jauh ke dalam lorong gelap di sana.

Samar-samar di ujung lorong, tericum bau pohon pinus dan rerumputan kering –khas hutan. Shizen merasa lega akhirnya, karena sejak tadi perutnya sudah sakit akibat berlarian. Dan lorong itu panjangnya bukan main, membuat dia berpikir lebih cocok disebut goa kecil daripada lorong. Namun sebelum mereka benar-benar sampai ke ujung, hanya sekitar lima meter dari sana, Electra berhenti.

"Aku bisa merasakannya. Ada banyak yang menunggumu di luar sana," suaranya bergetar, "Shizen … dua tahun sudah merubahmu –sambil mengusap rambut Shizen dengan lembut, tidak lupa senyum khas seorang ibu. Yang entah mengapa membuatnya rindu– kau bukan lagi gadis pemarah saat pertama kali. Kau terlalu tegar … dan kuat. Hanya saja kau tidak mengerti, belum."

Electra menariknya ke tepian. Bersembunyi dari sinar rembulan yang seolah berjalan melintasi ujung goa ini.

"Mengapa?" lama mulutnya terdiam kikuk.

"… Keturunan kita telah banyak membuat kesalahan. Kau dan Jasper –satu dari sekian kesalahan itu. Shizen, dengarkan aku, terkahir kalinya. Cari Sekolah Demigods dan—"

Mereka tau ada yang meledak di luar sana. Saat memgintip, Shizen merasa ngeri . Ujung goa sudah dijejali dengan tiga kepala Cerberus yang tampak sangat kelaparan. Liurnya menetes-netes seperti monster yang biasa dilihatnya di film. Dan sayangnya makhluk ini adalah monster sungguhan.

Electra tergagap, "Kau harus temukan Sekolah Demigods, kau hanya perlu mengikuti arah angin selatan dan di sana, cari tiga gadis sebayamu. Mereka akan membantu. Sekarang, aku akan mengalihkan benda menjijikan itu, sementara kau kabur." Electra sudah akan melangkah maju sebelum Shizen menahannya.

"Apa tidak ada pelukan atau semacamnya dulu?" pasti Electra menatapnya aneh; dengan air mata dan senyum miring karena berusaha tertawa. Tapi tidak perlu menunggu Electra menjawab, karena Shizen sudah lebih dulu memeluk perempuan itu, sangat erat.

"Aku akan sangat merindukanmu." Dengan bahu yang bergetar Shizen berucap, namun suaranya pelan dan tertelan angin.

"Hitungan ketiga, kita lari –satu

.

.

Dua

.

.

.

Tiga!"

Ketika sampai di luar, pemandangannya lebih mengerikan. Tiga ekor Cererberus yang kelaparan langsung menerjang mereka berdua. Shizen berlari ke kanan, sementara Electra sebaliknya.

Para specter berhamburan mengejar mereka.

"Kejar anak titan itu!"

Shizen melihat sayap besar di antara specter-specter tersebut. Sesaat dikiranya Minos, namun ternyata … Kagaho.

Salah satu specter berhasil menangkapnya. Dia berusaha meronta, namun semakin keras rontaannya, semakin sulit dia melarikan diri. Tiga, empat, lima. Shizen terus menghitung dalam hati, semakin banyak yang mengitarinya. Di sisi lain dari hutan ini, Electra sedang berjuang untuk dirinya, terluka, mungkin akan sekarat. Di tempat lainnya, Jasper, meski dia menyebalkan setengah mati, pria itu sudah berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Mengajarinya banyak hal. Dan sejauh ini yang membuat dirinya tidak tercium oleh specter bahkan dewa-dewi manapun. Lagi-lagi, sedang berjuang untuk dirinya juga.

Sepintas pertanyaan muncul.

Berapa lama lagi dia hidup untuk menyusahkan orang lain?

Di ujung matanya, setetes air mata jatuh. Lalu, semuanya menjadi lebih mudah untuk dilangkahi. Dia berbalik, membuka matanya yang sudah kabur oleh air mata.

Pertama yang Shizen lihat adalah kunag-kunang. Tidak, itu cahaya. Yaa, cahaya kecil bewarna kebiruan yang melayang-layang di sekitarnya. Mungkin ada ribuan. Sesaat dia takjub. Berdiri di tengah hutan gulita pada dini hari yang sejuk. Namun cahaya-cahaya ini membuatnya seolah dipeluk. Shizen berusaha menyentuhnya, namun dia tersetrum. Sensasi menggelitik dari perutnya naik ke hati dan menyebar hingga ke jari-jari.

Shizen pernah melakukan ini. Dulu sekali. Bersama adiknya, saat malam mencengkam dan mereka tampak bahagia. Dia ingat saat itu, mereka saling berjanji untuk melindungi satu sama lain, memeluk satu sama lain, dan menjaga. Rasa sesak kembali muncul, air matanya semakin deras. Dia mengulurkan tangannya kembali untuk menyentuh cahaya-cahaya listrik tersebut, namun kali ini dengan cosmo yang mengalir besar. Dia marah.

Marah karena semuanya terenggut begitu saja. Marah karena lagi-lagi keluarganya diambil. Marah karena para specter sialan ini mengacaukan semuanya. Dia marah karena para dewa memainkan takdirnya dengan begitu mudah. Yang paling besar, dia marah pada dirinya.

Aliran listrik mengalir keras dari cahaya-cahaya tersebut. Menyetrum apapun yang ada di depannya. Kuil yang dua tahun ini menjadi tempatnya tinggal kini terbakar, bersamaan dengan musuhnya yang satu per satu tumbang. Shizen mundur beberapa langkah dan terjatuh. Menatap tangannya yang berasap.

'Bukan salahmu, kok.'

Shizen menoleh ke samping. Mencari-cari suara yang barusan memenuhi kepalanya … atau memang suara tersebut tak berwujud?

'Ayo pergi sekarang. Aku akan selalu menjagamu, Kak. Kita sudah berjanji, bukan.'

Dadanya semakin sesak. Shiera … ya, dia yang sudah membantu Shizen tadi, membuatkan jutaan cahaya listrik untuk melindunginya, menjaganya, dan memeluknya. Dengan sisa-sisa air mata di pipi, Shizen mengangguk.

To Be Continoued

Duh, berapa lama saya tidak update? Btw, happy birthday Shizen, Atla, dan duo Gemini yang ulang tahunnya besok. Well, karena chap ini minim memunculkan tokoh di dalam anime, maka kubuatkan omake yang sungguh OOC :")


OMAKE

Minos berjalan lesu menuju Rhadamanthys dan Aiacos. Tampak gurat kelelahan di wajahnya, namun matanya menyiratkan kelegaan mendalam. Sejak tadi, dia tau di mana gadis itu dan kemana akan pergi. Minos hanya membiarkannya saja. Tidak tega. Bukan, tidak sanggup melihatnya terbelunggu di Underworld dan dijadikan kelinci percobaan. Bahkan tadi, ketika Shizen terperangkap di antara para bawahannya, ingin rasanya dia menyelamatkan gadisnya.

Tidak lagi.

Shizen bukan lagi gadisnya seperti 8 tahun yang lalu. Betapa, waktu sudah memisahkan mereka dan membuatkan jalan bersimpang. Dia tersenyum miris, namun lebih baik begini. Mereka hanya akan menyusahkan satu sama lain jika seperti itu terus.

"Mana dia?"

Suara Rhadamanthys terdengar dingin.

"Kabur."

Minos melihatnya menggertakkan gigi dan memandangnya rendah. Sama halnya dengan Rhadamanthys, Minos pun menggertakan giginya. Napasnya berat ketika dihembuskan. "Sudah kabur sangat jauh dan tidak terlacak lagi auranya." Dia memandang pria yang sudah babak belur dibuatnya.

Ketika akan berbicara, satu tonjokan melayang di perut Minos. Ia terbelalak, lalu melihat Aiacos sudah berdiri di depannya. "Tidak berguna."

Minos meringis pelan. "Maksudku, brengsek satu ini entah melakukan apa sehingga membuat gadis itu tidak terlacak lagi!" Minos menunjuk Jasper. Sementara yang ditunjuk mengeluarkan suara-suara erangan seperti sebuah protesan. Namun tidak dihiraukan.

"Percuma kita mengarahkan ratusan specter untuk mengepung tempat ini, dan hanya karena satu orang lemah dia berhasil kabur! Siapa pecundang sebenarnya?!"

Minos ingin marah, namun ditahannya karena satu: Dia ingin menyelamatkan Shizen.

"Aku tau ke mana dia akan pergi …" hanya ini yang terpikir di kepalanya. "Sanctuary."

Dan Minos berharap dia salah.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

RnR?

Pretty please? :3