Title: Bocah

(Tinkxx)

– Sunwoo x Chanhee/New –

Bocah –

"Sunwoo! Kan aku bilang jangan masuk ke kampus!" Pekik Chanhee bingung ketika Sunwoo dengan seenaknya memasukkan motornya melewati gerbang kampus. Tanpa sadar kepalanya dibiarkan menyandar pada punggung Sunwoo yang masih menyetir, menutupi wajahnya dengan hoodie Sunwoo yang kebesaran. Ia cuma tidak mau muncul skandal yang mengatakan dirinya diantar anak SMA dengan naik motor.

Sunwoo sendiri cuma diam dan fokus mengendarai motornya. Tidak peduli juga kalau Chanhee memarahinya nanti. Chanhee kalau marah itu lucu dan Sunwoo suka kalau melihat wajah manis Chanhee memerah menahan emosi. Makin cantik katanya.

Sesampainya di depan gedung fakultas, Sunwoo menghentikan motornya dan Chanhee langsung turun, meletakkan helm milik Sunwoo di bangku taman yang ada disana. Tanpa ucapan terima kasih pemuda itu meninggalkan Sunwoo yang masih memarkirkan motornya. Ketika sadar Chanhee sudah tidak ada dihadapannya, Sunwoo merengut kecewa. Padahal masih ada sesuatu yang mau ia katakan pada Chanhee.

Dengan lesu ia berjalan ke kantin kampus, membeli sesuatu untuk menemani waktunya menunggui sang pujaan hati.

Ya setidaknya Sunwoo sadar perasaannya pada Chanhee bukan sekadar main-main. Dan ia memang berniat untuk menunggu Chanhee sampai pemuda dengan suara lucu itu pulang, sekalipun pulangnya malam pun ia rela menunggu.

Alasannya? Tentu saja karena ia tidak mau kakak kesayangannya itu pulang dengan seseorang bernama Kevin atau siapapun itu.

Kata Haknyeon mereka dekat, maka dari itu mulai sekarang ia tidak boleh lengah untuk mengawasi Chanhee, termasuk tidak boleh telat untuk menjemputnya.


"Siapa anak tadi?" Kevin bertanya heran pada Chanhee yang sudah mendahuluinya. Tapi Chanhee tidak mau repot-repot menoleh untuk menjawab pertanyaan Kevin yang menurutnya sangat tidak penting.

Lagipula ia baru saja datang dan Kevin sudah mencercanya dengan berbagai pertanyaan tentang siapa yang mengantarnya, lalu apa hubungannya. Ya, itu kan bukan urusan Kevin tentang siapapun yang mengantarnya.

"Chanhee, aku tanya dia siapa," ulang Kevin lagi yang kali ini sudah ada di hadapan Chanhee. Rautnya berubah serius, tidak ada senyum lucu yang biasa muncul di wajahnya. "Aku cuma mau tahu,"

Chanhee menghela napas. Ia menyentuh lengan Kevin dan menepuknya pelan. "Aku tidak tahu kenapa kau sebegitu ingin tahunya," ucap Chanhee sembari menyentuh rambut Kevin yang berantakan. "Tapi, ya, dia cuma orang asing yang kebetulan mau mengantarku, Kev."

"Orang asing? Namanya? Kelihatannya dia masih SMA." Kevin mengerutkan alisnya heran. Kembali ia mengejar Chanhee yang lagi-lagi mendahuluinya. Ia mencoba merangkul pundak pemuda kecil itu, tapi langsung ditepis olehnya dan menatap sengit dirinya. Jari telunjuknya teracung di depan mata Kevin dengan bibirnya berkata 'don't touch me' tanpa suara.

"Kau berpacaran dengannya? Anak SMA?"

"Kalau tidak tahu diam saja, Kev! Aduh, ini masih pagi kenapa kau berisik sekali?!" Keluh Chanhee dengan tangan yang memukul Kevin berulang kali. Serius, saat ini ia terlalu sensitif kalau ditanyai tentang seorang Kim Sunwoo, yang berkulit tan, yang suka menempelkan wajah belernya di jendela dan suka seenaknya melemparinya permen. Ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemuda itu, kalaupun ada mereka cuma sebatas tetangga yang tidak akan pernah akur.

Kalau tidak akur kenapa ia mau saja diantar pulang kemarin malam? Kenapa dia diam saja ketika Sunwoo mengecup keningnya?

Chanhee menggelengkan kepalanya keras. Dengan langkah tergesa, ia meninggalkan Kevin yang masih berteriak memanggilnya. Membuat Kevin entah bagaimana merasa terkhianati. Jujur saja ia penasaran sekali dengan sosok berhoodie yang kelihatan belum mandi (bahkan cuci muka) yang dengan seenaknya mengantar Chanhee.

"Siapa, sih, bocah tadi?"


Sepanjang kelas pikirannya tidak fokus pada apa yang dikatakan dosen. Lagipula bagaimana ia bisa fokus kalau Sunwoo terus-terusan mengiriminya pesan, bayangkan saja tiap 10 menit pasti akan ada pesan dari Sunwoo, menanyakan hal-hal tidak penting dan tetap mengiriminya pesan sekalipun ia tidak membalas pesannya.

Kevin sendiri ikut merengut kesal karena melihat Chanhee yang tidak fokus pada dirinya ketika ditanya. Kevin tidak suka kalau diabaikan dan temannya ini dengan tega mengabaikannya hanya untuk melihat ponselnya berulang kali.

Tapi, karena ia pengertian ia diam saja, tidak mau mengganggu Chanhee yang kelihatannya sedang badmood.

"Apa, sih, yang kau lihat sampai serius seperti itu?" Tanya Kevin sembari menopangkan dagunya di atas punggung tangannya.

Chanhee menoleh, mendecih pelan sebelum membalas ucapan Kevin. "Orang iseng mengirimiku pesan sebanyak 12 kali dalam waktu 2 jam."

"Gila, Chan, kau benar-benar populer," desisnya pelan ketika sadar dosen mereka memperhatikan.

Chanhee semakin merengut. "Kau pikir aku tidak gila dikirimi pesan begini banyaknya? Lagipula, siapa yang populer, sih?!"

Chanhee hanya merendah tentu saja, seantero fakultas pun tahu jika ditanya tentang dirinya walaupun tidak secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Karena meskipun wajahnya manis dan nilainya yang selalu di atas, tapi Chanhee terkenal juga dengan sifat pemarahnya yang kadang menjengkelkan semua orang.

Tapi, ya, Chanhee tidak peduli selama ia masih bisa kuliah. Temannya hanya Kevin dan Changmin pun tidak masalah.

Ia menoleh bosan pada Kevin yang sibuk menulis sesuatu. Telunjukkan menusuk pipi gembil Kevin berulang kali. "Nanti pulang ayo makan," ajaknya setengah berbisik.

Kevin tertawa pelan, menganggukkan kepalanya begitu saja tanpa bertanya. Membiarkan Chanhee bernapas lega karena Kevin menerima ajakannya. "Mau makan apa, Kev? Aku, sih, mau ramen, tapi kupikir kau sudah bosan makan ramen terus."

Lagi-lagi Kevin tersenyum. "Apapun itu asal bersamamu aku bersedia, Chanhee."

Untung saja Kevin itu temannya. Untung saja ia sudah kenal Kevin luar dalam. Kalau tidak ia akan blushing parah hanya karena kalimat tadi.

Tepat setelah ucapan Kevin yang terakhir, dosen mereka menutup kelas untuk hari ini dan Chanhee langsung buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas.

"Langsung pulang mau makan atau kemana dulu?" Tanya Kevin sedikit berteriak ketika sadar kalau Chanhee sudah mendahuluinya. Yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya sekilas. Kemudian ia mengerutkan alisnya, menoleh pada Kevin ketika ingat sesuatu yang dikatakan pemuda itu padanya kemarin. Dagunya menunjuk seorang pria yang sedang berjalan ke arah mereka. "Walimu, kemarin kau bilang mau menanyakan sesuatu padanya?"

Kevin menepuk keningnya karena lupa pada niatannya untuk menanyakan sesuatu pada dosen walinya. Chanhee terkekeh, kemudian menepuk lengan Kevin pelan. "Aku tunggu di luar." Dan Kevin mengangguk sebagai balasannya, lalu pergi meninggalkan Chanhee yang melanjutkan jalannya.

Baru dua langkah jalan, ia sudah kembali mengerucutkan bibirnya. "Kenapa dia masih disini?" Chanhee mengerutkan keningnya kaget melihat Sunwoo di depan gedung fakultasnya-masih sama dengan penampilannya pagi tadi. Padahal tadi saja ia yakin kalau Sunwoo belum mandi sama sekali, bahkan ia ragu kalau bocah itu sudah mencuci wajahnya.

Ia menoleh sebentar untuk melihat Kevin yang masih mengobrol dengan dosennya. Dengan pelan ia berjalan menjauhi Kevin, kemudian ketika sudah dekat dengan Sunwoo, tangannya menarik hoodie pemuda itu dengan kasar. Untungnya Sunwoo tidak terjungkal atau berteriak histeris.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak pulang? Kau pasti belum mandi!" Chanhee mencercanya dengan wajah bersungut marah. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya, mencoba bersikap marah tapi malah terkesan lucu di mata Sunwoo.

Mata Sunwoo berbinar ketika tahu kalau Chanhee memperhatikan penampilannya. "Kakak kok tahu aku belum mandi? Perhatiin aku ya," ujarnya jenaka sembari menutupi mulutnya takjub.

Chanhee merengut kesal. "Aduh, pulang sana!" Teriaknya keras, tapi malah semakin membuat Sunwoo cengengesan di tempatnya. Ia mencoba mendekati Chanhee, tapi pemuda itu malah menjauhinya seakan-akan ia adalah wabah penyakit yang harus dijauhi.

"Jangan dekati ak–"

Belum selesai ia berkata, seseorang yang berlari menabrak tubuhnya sampai membuat dirinya oleng dan hampir terjatuh kalau saja Sunwoo tidak dengan sigap menangkap tubuh kecilnya.

Chanhee mematung merasakan kepalanya yang bersandar pada dada seorang bocah SMA, maksudnya kenapa dadanya bisa bidang sekali sedangkan dirinya yang lebih tua saja tidak bisa sebidang itu. Wajahnya memerah membayangkan seperti apa tubuh Sunwoo jika tidak berbalut hoodienya. Dan entahlah, kenapa ia merasa nyaman bersandar pada dada seseorang sekalipun posisinya sangat tidak mengenakkan?

Sunwoo tersenyum melihat Chanhee yang ceroboh. Perlahan ia mendekatkan kepalanya pada sisi wajah Chanhee. "Tadi marah-marah terus sekarang bersandar di dadaku? Kakak oke?" Bisik Sunwoo tepat di telinga Chanhee. Sedangkan Chanhee sendiri cuma terdiam dengan tangan mencengkeram erat lengan Sunwoo, apalagi ketika tangan pemuda itu dengan kurang ajarnya turun ke pinggangnya.

"Sun–"

"Aku tidak melakukan apapun, Kak." Sunwoo tertawa ketika mengatakannya. Ia menjauhkan tubuhnya dari kepala Chanhee dengan tangan yang beralih memegang lengan pemuda yang lebih tua darinya itu.

Dengan tidak sopannya ia menepuk puncak kepala Chanhee dengan pelan lalu mengelusnya lembut. Ia menggandeng tangan Chanhee yang masih diam mencerna segala sesuatu sentuhan yang diberikan Sunwoo padanya. "Ayo pulang."

Dan Chanhee hanya bisa menganggukkan kepalanya selagi membalas genggaman tangan Sunwoo.

Melupakan janjinya dengan Kevin untuk makan hari ini.

TBC

Iya tau ini saya anggurin lama sekali huahaha. Dan ngebosenin karena saya bingung mau gimana wkwk.

Love,

Tinkxx