Bad Luck
Author: Jokersii
Cast:
Kim Taehyung
Jung Hoseok
Min Yoongi
Park Jimin
Jeon Jungkook
Kim Namjoon
etc.
WARNING: BoyxBoy, absurd, typos.
NO PLAGIARISM! THE CHARACTERS ARE BELONG TO GOD AND THEIR AGENCY, I JUST WANT TO BORROW THEIR NAMES(?)
.
.
.
.
"Mungkin menjadi orang sial bisa membuatmu beruntung?" –Jung Hoseok
"Ya, jika aku tidak bertemu denganmu mungkin jawabannya tidak, hyung." –Kim Taehyung
.
.
.
.
.
.
.
Chapter III: I hate you.
Jimin melolot tak percaya kepada Taehyung yang duduk di hadapannya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, ia dan Taehyung pergi ke makan siang bersama di kedai tua dekat sekolah –Taehyung memohon-mohon kepadanya karena ingin bercerita suatu masalah, saat istirahat tadi. Awalnya Jimin malas makan siang di luar karena uang saku yang biasanya ia terima terpaksa dikurangi karena nilai ulangannya yang jelek. Namun penawaran Taehyung untuk membayar makan siang membuat Jimin berubah pikiran. Lagipula Taehyung juga jarang bersikap baik seperti ini –walaupun ada maunya, tapi Jimin dengan senang hati akan menemani sahabatnya itu.
"Heol. Apa maksudnya dengan menanyakan namamu?" Jimin hampir saja menumpahkan kuah jajangmyun dari mulutnya yang penuh. "Dan aku tidak percaya sunbae berandal itu menjadi penjaga kasir? Oh, hell. Kau hanya berhalusinasi, Tae-ya."
"Sialan kau, Jim. Mana sudi berhalusinasi tentang sunbae itu." Balas Taehyung yang berubah cemberut seketika.
"Tapi kalau iya, aku yakin kau dalam bahaya sekarang." Ucap Jimin, lalu menyumpit beberapa bawang bombay, memasukkan ke mulut, mengunyah cepat dan menelannya.
"Kumohon, jangan berkata seperti itu untuk menakutiku, Jim." Ancam Taehyung, sengit. "Atau kau kujadikan kambing hitam ketika sunbae itu memukuliku."
"Aku akan kabur." Jawab Jimin sesantai angin. "Semudah itu, kan?" Jimin menatap Taehyung jahil dan setengah meremehkan, membuat Taehyung semakin menekuk wajahnya.
"Terlalu tega, kau bukan sahabatku." Ucap Taehyung sarkastik. "Menjauhlah dariku, dan jangan harap aku akan membayar makan–"
"Iya, iya. Aku hanya bercanda oke?" sahut Jimin cepat dan panik.
Taehyung hanya menanggapinya dengan dengusan tak suka. Masa iya, sahabatnya sendiri seperti itu? Jimin memang menyebalkan, dan Taehyung hampir berpikir alasan ia masih bertahan bersama Jimin.
"Tae," panggil Jimin pelan.
Tidak ada jawaban dari Taehyung. Matilah Jimin, Taehyung marah sekarang.
"Tae-ya," ulang Jimin agak takut, namun lebih keras dari sebelumnya.
"Hm," gumam Taehyung asal, malas menanggapi Jimin.
"Tae, jebal. Aku memanggilmu," Jimin hampir frustasi, akan kehilangan uang untuk membayar makanan itu.
"Apa sih? Kau berisik, bantet." Balas Taehyung, melanjutkan makannya yang tertunda.
"Tenanglah, aku pasti akan membantumu jika sunbae berandal itu berani macam-macam denganmu, oke?" ucap Jimin seserius mungkin agar Taehyung percaya –dan, hei, jangan anggap Jimin bercanda. "Jadi sekarang kau akan tetap membayar ini semua kan?" lanjut Jimin, nyengir kuda sembari menunjukkan mangkuk jajangmyun nya yang hampir kosong.
Taehyung menghela napas setengah tak rela, namun ingin mengiyakan pertanyaan Jimin barusan. Bagaimana pun, sebodoh apa sahabatnya ini akan tetap membelanya jika sunbae berandal itu melakukan macam-macam pada Taehyung. "Hm," jawab Taehyung akhirnya mengiyakan, setelah berapa menit terdiam.
Wajah melas Jimin langsung berubah ceria. "Kau memang yang terbaik, Tae-ya!" ucap Jimin gembira, hampir memeluk Taehyung –yang sudah menjauh lebih dulu. "Aku berjanji." Jimin mengangkat jari kelingkingnya.
Taehyung melihat sekilas jari Jimin dan menyambutnya dengan kelingking kanannya sendiri, menautkan jari-jari mereka.
"Hoseok-ah," panggil namja berambut pirang pada Hoseok yang sibuk menatap langit cerah, setengah mengantuk. "Darimana kau tau anak itu adik kelas?" lanjut namja itu. "Melihatnya lewat saja aku tidak pernah."
"Entahlah," jawab Hoseok asal. "Kau saja yang tidak pernah peka sekitar, Namjoon." Ledek Hoseok sembari menutup mata dengan lengannya, mencoba untuk tidur.
Hoseok pada awalnya sama sekali tidak mengenali wajah adik kelas, kakak kelas manapun, bahkan teman selain geng nya pun, ia tidak bisa menghapal –dan tidak perduli tentunya. Namun entah sejak kapan, ia selalu memperhatikan seorang adik kelas berambut coklat tua yang memainkan biola di ruang musik. Suaranya begitu merdu dan ekspresi bocah itu yang, entahlah, membuat Hoseok selalu mencari keberadaannya setiap hari selasa –hari klub musik sedang berlatih. Terlalu sering melihat bocah itu memainkan biolanya, Hoseok menjadi terbiasa melakukannya. Setiap hari selasa, sepulang sekolah, Hoseok selalu menunggu di halaman belakang sekolah, dekat dengan jendela ruang musik –dimana bocah itu sering memainkan biolanya.
Hoseok memang terlalu beruntung. Malam itu, ia bertemu dengan bocah biola –yang sering ia perhatikan, sedang membeli mie instan di minimarket tempat ia berjaga menjadi kasir. Ketika Hoseok menanyakan nama dan kelas bocah biola itu, tatapan mata bocah itu begitu takut seakan Hoseok akan memakannya. Demi Tuhan, Hoseok ingin tertawa saat itu namun ia menahannya. Mungkin bermain sedikit dengan bocah itu akan membuatnya terhibur?
"Kau tidak seperti biasanya," balas Namjoon –namja rambut pirang, heran. "Biasanya kau sama sekali tidak perduli dengan orang lain, bahkan adik kelas," lanjut Namjoon, mencoba berpikir dengan sikap aneh Hoseok. "Apa kau tertarik dengan bocah biola itu, Hoseok-ah?" tanya Namjoon menyelidik.
Hoseok membuka matanya, lalu menatap Namjoon jengah. "Aku hanya senang mendengar permainan biolanya saja," ucap Hoseok –yang terdengar seperti mengelak setelah tertangkap basah. "Dan tentu saja ingin bermain dengannya, seperti biasa." Lanjutnya dengan seringai andalannya.
Namjoon menghela napasnya, menggeleng-gelengkan kepala. "Tetap berbeda, Jung Hoseok," jawab Namjoon. "Kau terlihat lebih meng–"
"Berisik, Kim Namjoon." Desis Hoseok, sebal.
"—hargainya daripada yang lain." Lanjut Namjoon, tak memperdulikan desisan Hoseok.
"Sudahlah, lebih baik kau ikut bermain dengan bocah itu." Tawar Hoseok, ingin mengganti topik mereka.
"Bermain apa maksudmu?" tanya Namjoon, menatap Hoseok jahil. "Bermain di ran–"
"Kim Namjoon, kau gil–"
"—jang? Kalau itu, kau saja dengan bocah itu. Aku sudah bersama Seokjin-hyung." Lanjut Namjoon dengan segala otak mesumnya, Hoseok hampir ingin membakar rambut pirang Namjoon.
Hoseok mendengus kesal, berdiri dan meninggalkan Namjoon sendirian di atap sekolah.
Jeon Jungkook.
Adik sepupu Min Yoongi. Ia pindah ke Seoul, dari Busan untuk melanjutkan sekolahnya. Jungkook tinggal di rumah kakak sepupunya. Rumah itu sepi, paman dan bibi nya selalu sibuk bekerja dan Yoongi-hyung tidak memiliki saudara. Jungkook pernah mendengar kalau keluarga Min sering berpindah rumah karena kepentingan pamannya, tapi sekarang keluarga Min sudah menetap.
Jungkook adalah anak yang pandai. Ia mendapat beasiswa di Seoul dari sekolah lamanya. Ia juga mengikuti kelas akselerasi satu tahun. Jungkook juga pandai bermain piano, mengikuti klub musik dan mengenal Kim Taehyung, anak kelas sepuluh lain namun jelas lebih tua darinya. Ia juga mengikuti klub basket bersama seorang kakak kelas bernama Jung Hoseok yang sangat liar, sayangnya tampan dan sangat mahir bermain basket.
Jungkook memiliki kehidupan baru disini, meninggalkan orang tuanya di Busan. Hidup mandiri bersama kakak sepupunya yang cuek namun diam-diam sangat perhatian. Jika Jungkook mempunyai masalah, ia selalu bercerita pada Yoongi dan kakak sepupunya akan menghiburnya. Yoongi-hyung juga sering membantunya mengerjakan tugas saat Jungkook kesulitan. Sepulang sekolah, ia selalu pulang dengan Yoongi-hyung –kalau Yoongi tidak ada kegiatan sampai sore. Tapi akhir-akhir ini, Yoongi-hyung nya sangat sibuk dengan kegiatan festival, selalu pulang larut, selalu mengerjakan tugas sampai pagi, selalu bangun dengan wajah mayat hidup –pucat. Mungkin banyak sekali tugas hyung nya itu.
Karena Yoongi-hyung nya sibuk dengan urusan festival sekolah, Taehyung sering mengajaknya untuk makan siang bersama. Taehyung juga mengenalkan Jungkook dengan teman sekelasnya, Park Jimin. Untuk pertama kalinya mereka bertemu, Jimin selalu menatap Jungkook dengan wajah yang tidak menyenangkan, entah apa masalahnya. Jungkook selalu enggan membalas tatapan Jimin yang seperti itu, merasa terintimidasi. Namun, seiring berjalannya waktu, tatapan Jimin berubah dan tidak lagi mengintimidasi seperti saat pertama kali mereka bertemu. Jauh lebih bersahabat, membuat Jungkook nyaman dengan segala sikap Jimin yang sangat baik terhadapnya.
Jungkook merasa ada yang aneh setiap kali bersama Jimin. Tanpa sadar pun, Jungkook selalu mencari keberadaan Jimin, sering memikirkan Jimin sebelum tidur. Ditambah lagi, ia sering pulang bersama Jimin.
Lalu perasaan nyaman itu muncul ketika Jimin berada bersamanya.
Yoongi mengusak rambutnya frustasi. Ia melihat sekelilingnya, ruangan kosong dengan kertas bertebaran sana-sini. Yoongi baru sadar kalau panitia lain sudah pulang –bahkan sekitar satu jam yang lalu. Memang sedaritadi Yoongi hanya fokus pada laptopnya saja, tidak memperhatikan sekitar. Yoongi melirik jam di dinding, sudah jam 7 malam. Yoongi merapikan mejanya, memasukkan laptop, lalu berjalan keluar ruangan, menguncinya.
Yoongi menyeret langkahnya menyusuri koridor gelap, kakinya terlalu lelah. Sepi, hanya terdengar langkah kakinya dan suara angin. Yoongi setengah mengantuk, berjalan keluar gerbang, menuju rumahnya.
Yoongi rindu. Biasanya saat seperti ini, Jimin akan menjemputnya di depan sekolah, menemaninya berjalan kaki sampai rumah, menceritakan hal-hal tak penting namun Yoongi akan tersenyum mendengarnya, menggenggam tangan Yoongi ketika ia kedinginan, tersenyum saat melihat Yoongi menguap karena terlalu lelah, selalu seperti itu. Tapi itu dulu, ketika rumah mereka masih bersebelahan, ketika orang tua Yoongi belum memutuskan untuk pindah rumah secara sepihak, ketika Yoongi masih berada sangat dekat dengan Jimin.
Yoongi hanya bisa menghela napas, sesak rasanya. Padahal hampir setiap hari ia melihat Jimin dari jauh, tapi sama sekali tidak bisa berbicara apapun dengannya. Belum lagi baru-baru ini, Yoongi melihat Jimin sering pergi berdua dengan Jungkook, adik sepupu kesayangannya. Jungkook juga sering bercerita kalau ia pulang bersama Jimin, hampir setiap hari karena Yoongi pulang malam mengurus festival sekolah. Posisi Yoongi sudah tergantikan sekarang? Tidak ada Yoongi yang pulang bersama Jimin, tidak ada lagi senyum hangat Jimin yang hanya ditujukan pada Yoongi. Yang ada sekarang adalah Jimin yang selalu bersama Jungkook, Jimin yang selalu Yoongi lihat tersenyum hangat pada Jungkook. Kepala Yoongi berat memikirkannya, tentu saja Yoongi tidak rela. Namun ia bisa apa?
Yoongi mempercepat langkahnya, sembari tersenyum miris. Ia menahan segalanya dalam hati dan menguburnya sedalam mungkin. Yoongi menoleh ke arah minimarket seberang jalan. Mungkin dengan semangkuk ramyun akan membuatnya sedikit tenang, lagipula ia belum makan apapun dari tadi siang. Yoongi mendorong pintu minimarket itu, menyelipkan badannya di celah pintu lalu masuk ke dalam. Ia berjalan mengambil satu cup ramyun instan dan sekotak jus apel dingin, lalu berjalan ke kasir. Yoongi segera menaruh belanjaannya, mengeluarkan dompet. Ia mengamati penjaga kasir yang sedang menghitung belanjaannya. Tidak asing, pikir Yoongi.
"Ini kembalian anda, dan ini barang belanjaannya. Terima kasih." Ucap namja penjaga kasir sembari memberikan uang kembalian dan barang belanjaan Yoongi.
Benar-benar tidak asing, pikir Yoongi lagi. "Baik, terima kasih." Yoongi mengambil barangnya dan mendudukkan diri di atas kursi dalam minimarket itu. Yoongi memasukkan sedotan pada jus apel dingin nya, meminumnya cepat. Jus apel adalah minuman kesukaan Yoongi, ia bahkan tidak bisa tidur kalau sehari saja tidak minum jus apel.
Pintu minimarket terbuka, Yoongi mengangkat wajahnya –yang awalnya sibuk mengamati ramyun menggoda nya, melihat Kim Taehyung –adik kelas yang sering ia marahi, berjalan cepat ke arah rak tisu lalu mengambil dua kotak.
"Kim Taehyung," panggil Yoongi ketika Taehyung lewat di depannya, sepertinya Taehyung sedang terburu-buru. Taehyung menoleh ke sumber suara dan melotot kaget melihat Yoongi sedang duduk manis sambil meminum jus apel kotak.
"Ah, Yoongi sunbae, sedang ap–"
"Sudah kubilang panggil hyung saja kalau tidak di sekolah." Potong Yoongi dengan tatapan memerintah seperti biasa kepada Taehyung.
"Iya-iya, Yoongi-hyung, aku lupa." Ucap Taehyung malas. "Hyung sedang apa? Tumben sekali makan di sini," tanya Taehyung, yang memang jarang melihat Yoongi mampir ke minimarket ini setelah pindah rumah.
"Kau tidak lihat aku sedang makan?" balas Yoongi, sengit. "Kau mau makan juga?" lanju Yoongi, menyodorkan cup ramyun nya pada Taehyung –yang entah sejak kapan sudah duduk di hadapannya.
"Tidak usah, hyung. Aku barusan makan tadi sebelum ke sini." Tolak Taehyung halus. "Ah, hyung, kurasa aku harus pergi dulu," ucap Taehyung dengan cepat, berdiri dari posisi semula lalu merapikan kursi yang dipakainya tadi. "Dah, Yoongi-hyung!" Taehyung menghilang dibalik pintu minimarket sebelum Yoongi sempat membalasnya. Yoongi kembali pada kegiatan makan nya yang sempat tertunda.
"Maaf, apa kau sunbae ku?" Yoongi menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Ia melihat namja penjaga kasir itu memanggilnya, benar-benar tidak asing.
"Aku?" tanya Yoongi sedikit bingung. "Aku merasa pernah melihatmu, entah dimana." Balas Yoongi santai.
"Ya, aku memang adik kelasmu," lanjut namja itu, mendekat ke arah Yoongi dan duduk di hadapan Yoongi, membuat Yoongi mengernyit bingung. "Namaku Jung Hoseok, salam kenal, sunbae." Hoseok memberikan tangan kanannya pada Yoongi.
"Kau tidak lihat aku sedang makan?" ucap Yoongi galak –menandakan ia tidak ingin diganggu.
Hoseok sedikit heran, betapa galaknya sunbae dihadapannya ini. "Ehm, kau Min Yoongi kan? Aku sering mendengar nama sunbae di sekolah," Hoseok mencoba memecah keheningan. "Guru-guru sering menyebutnya."
Tiba-tiba Yoongi tertawa. "Apa maksudnya?" tanya Yoongi sembari meminum jus apelnya. "Sebenarnya, aku juga sering mendengar namamu," Yoongi meminum habis jus apelnya. "Sama, dari para guru."
"Karena aku pembuat onar?" sambung Hoseok cepat.
"Mungkin iya, aku tak terlalu memperhatikannya." Balas Yoongi, meremas kotak jus apelnya, melemparnya ke tong sampah dekat pintu minimarket, lalu masuk dengan sempurna. Hoseok sedikit kaget karena tembakan Yoongi yang tepat itu, jarak tempat duduk Yoongi dan tempat sampah bisa sekitar enam meter, dan lemparan Yoongi tempat mengenai sasaran.
"Sunbae, apa kau sering bermain basket?" tanya Hoseok penasaran.
"Ya, sangat sering dulu. Bahkan aku ikut tim basket saat kelas satu." Jawab Yoongi.
Ah, pantas saja, batin Hoseok. "Kenapa tidak dilanjutkan saja?" tanya Hoseok lagi.
"Terlalu menguras waktuku. Aku tidak bisa mengurus adik sepupuku di rumah jika terlalu banyak kegiatan." Jawab Yoongi, lalu menguap. "Sudah ya, aku mau pulang. Kau kerja di sini?" Tanya Yoongi yang baru saja sadar adik kelasnya bekerja sambilan di minimarket ini.
"Kau lihat sendiri, sunbae." Hoseok ikut berdiri bersama Yoongi yang berjalan ke pintu minimarket. "Oh, apa sunbae kenal dekat dengan Kim Taehyung?" tanya Hoseok tiba-tiba.
Yoongi terlihat bingung sejenak. "Ya, mungkin lumayan dekat. Dia salah satu panitia festival sekolah bersamaku." Jawab Yoongi. "Sudah dulu, ya!" Yoongi berjalan keluar minimarket.
"Hati-hati di jalan, Yoongi-sunbae!" seru Hoseok dari depan pintu minimarket.
Raut wajah Hoseok berubah ketika Yoongi menjauh. "Jadi, bocah biola itu sering pulang malam karena festival?" gumam Hoseok dengan seringai liciknya. "Bersiaplah, Kim Taehyung."
Hari ini cuaca sangat tidak bersahabat, hujan lebat disertai angin dan petir. Taehyung yang awalnya ingin pulang terpaksa harus menunggu hujan reda, ia –sialnya, tidak membawa payung. Taehyung melirik jam yang melingkar di tangannya, setengah enam sore, terlalu larut sampai hujan reda. Tapi jika nekat menerobos hujan, ia pasti basah kuyub sampai apartemen.
Taehyung langsung merasa pening ketika angin keras menerpa kulitnya, dingin sekali. Jimin sudah pulang bersama Jungkook tadi siang, mana mungkin ia tega menyuruh Jimin menjemputnya di sekolah dalam keaadaan hujan badai seperti ini. Ia memutuskan untuk menunggu sambil mengamati titik hujan yang turun dengan giat.
Merasa ada bayangan yang berdiri di hadapannya, Taehyung mengangkat kepalanya untuk melihat orang itu. Oh, shit. Batin Taehyung. Ia cepat-cepat menundukkan kepalanya, melihat ujung sepatunya yang sedikit basah.
"Bukan kah kemarin kita bertemu, Kim Taehyung?"
Taehyung mendadak gugup mendengar suara namja di hadapannya ini, semakin menundukkan kepalanya dan tetap menahan suaranya untuk keluar.
"Kenapa diam saja, hm?" tanya namja –Jung Hoseok, dengan nada menunggu yang dibuat-buat. Kalau saja dia bukan kakak kelasnya, Taehyung sudah memukulnya sampai habis. Terlalu menyebalkan.
"Aku tidak ingat." Jawab Taehyung singkat, tanpa menoleh sedikitpun pada Hoseok.
"Mau kuingatkan?" Hoseok sudah mengepalkan tangannya, tidak sabar untuk memukul rahang adik kelasnya yang kurang ajar ini.
Taehyung sudah bisa merasakan Hoseok marah dari posisinya sekarang. Ia menegak ludahnya, lalu mengangkat kepalanya, menatap mata Hoseok yang menyalak dengan datar. "Bisakah sunbae tidak menggangguku?"
Darah Hoseok semakin mendidih, bocah ini benar-benar mencari masalah dengannya. Niat Hoseok yang awalnya hanya ingin menawarkan tumpangan, musnah seketika melihat sikap asli Taehyung yang begitu kurang ajar. "Baiklah, semoga hujan semakin deras." Ledek Hoseok –dengan penekanan pada kata deras, pada Taehyung. Taehyung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ingin membalas tapi tidak bisa.
Hoseok pergi dari tempatnya, masuk ke dalam mobil yang ia berhentikan di depan Taehyung menunggu tadi, menyalakan mobilnya. Ia sengaja menginjak kubangan air di dekat Taehyung agar bocah itu terkena cipratan air kotor dan –Bingo! Tepat mengenai wajah dan rambut Taehyung. Hoseok bisa mendengar Taehyung yang mengumpat, lalu ia tertawa puas sampai terdengar lampu belakang mobil kesayangannya pecah terkena lemparan batu.
Bocah biola sialan itu yang melemparnya. Sialan.
TBC
a/n: HUAHUAHAUHAU ini dia chapter 3 wkwk belom cukup panjang ya buat permintaan maaf chapter kemaren yang pendeknya setengah idup:' oke, di chapter ini VHope nya barusan mulai~ dan buat yang tanya Jimin seme ato uke, jawabannya boleh nanti diliat aja sendiri di chapter selanjutnya
oiya, maaf banget kalo apdetnya sungguh lama:' joker abis live in jadi baru sempet apdet sekarang. Dan satu lagi, rp twitter joker ganti unname yeaa jadi seungheecl. Charanya tetep sama kok ayok difollow, ayok kenalan ama joker sini sini
and, thankyou so much for review-nim dan buat siapapun yang udah follow, ngefav ato baca nih ff abal-abal gaje, terharu nih muahmuah /ciumin satu-satu/ .ga doain makin cepet apdetnya okai!
and last, review juseyooooooo~
10/3/2016
JokerSii.
