- chapter II -
.
.
Kim Namjoon merasa terkejut dengan akhir minggu pertama penelitiannya yang tiba-tiba dan singkat. Begitu ia kembali ke apartemen, ketenangan menguasai dirinya. Namjoon ke luar dari bilik kamar mandi dengan perasaan jauh lebih baik.
Sejenak, Namjoon tidak tahu harus melakukan apa. Perasaan itu tiba-tiba saja kembali mengalir. Ia marah, sangat marah pada Seokjin karena telah mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya secara gamlang. Tapi hal-hal yang diucapkan pemuda itu adalah kebenaran, Namjoon tidak pernah bereaksi serumit ini terhadap pemikirannya sendiri.
Mencoba mempertahankan ketenangan dirinya, Namjoon berpikir untuk makan di luar, mengingat seharian ini nafsu makannya menurun drastis. Ia bergegas berpakaian dan menyambar kunci mobil. Arloji di tangannya sudah menuding ke angka sembilan malam, tetapi Namjoon merasa ia belum lelah dan matanya masih mampu terjaga untuk berjam-jam ke depan.
Koridor apartemen bermandikan cahaya merah lembut yang berasal dari jendela bening yang memagar di sisi kanannya begitu Namjoon ke luar pintu. Ia berhenti melangkah ketika mendengar suara jeritan perempuan dari ujung lorong, histeris dan nyaring, memekakkan telinga. Kemudian Namjoon berlari.
Begitu sampai, Namjoon melihat beberapa orang sudah berkumpul. Seorang perempuan yang tadi berteriak menunjuk-nunjuk dasar anak tangga. Namjoon mendengarkan penjelasannya secara menyeluruh, tapi ia tidak bisa melihat kemungkinan ibu-ibu itu turun untuk menyelamatkan orang yang berdarah-darah.
"T-tolong! Ada seseorang di bawah tangga, dia berdarah-darah! Aku khawatir dia sudah jadi mayat!"
Tanpa berpikir, Namjoon mendatangi bawah tangga. Ia berusaha menggapai seorang pemuda yang terkapar dan tidak sadarkan diri. Begitu Namjoon berhasil membalik tubuh itu, hatinya mencelos.
Kim Seokjin? "Seokjin?! Seokjin! Apa yang terjadi!?"
Paras Seokjin pucat pasi dan hidungnya mengeluarkan banyak darah. Namjoon tidak bisa berpikir jernih dalam sekejap. Ia langsung menarik Seokjin ke punggungnya dan membawanya pergi. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Namjoon sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa takut yang besar dalam dadanya.
.
.
Mesin pendeteksi denyut jantung yang berdiri di sisi kanan Namjoon berbunyi monoton, menunjukkan stabilitas Seokjin yang masih terlelap. Tiga hari berlalu, tetapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda pemuda itu akan siuman.
Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Seokjin mengatakan kalau Seokjin hanya terlampau lelah dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk istirahat. Namjoon lega bukan main ketika hasil diagnosa pemuda itu jauh dari hal-hal yang membuatnya ketakutan.
Untuk waktu yang cukup lama, Namjoon mengamati lamat-lamat wajah Seokjin yang terlelap. Deru napas pemuda itu teratur dan wajahnya terlihat damai, kenyataan itu menghadirkan sebuah desiran aneh yang menyenangkan dalam hatinya. Namjoon mendekat dan duduk di samping Seokjin untuk menggenggam tangan pemuda itu.
Jemari Seokjin terasa begitu rapuh di tangannya. Seolah itu bisa saja remuk kalau Namjoon menekannya walau sedikit. "Kau berubah cukup banyak, Seokjin," kata Namjoon sepelan bisikan. Ia mengingat ucapannya di awal pertemuan mereka setelah sekian tahun berlalu. "Kau tumbuh menjadi lelaki dewasa dan pemuda cerdas yang bisa diandalkan. Tiba-tiba aku merasa tertinggal jauh darimu."
Namjoon terus meracau, hingga hampir tidak menyadari ada sebuah gerakan menyentuh lengannya. Namjoon menoleh, lalu wajahnya tersapu kelegaan dua kali lipat begitu mendapati kelopak mata Seokjin yang bergerak pelan-pelan mencari kesadaran. Sampai-sampai tanpa Namjoon bisa menolak, tubuhnya sudah lebih dulu menghambur dan menggapai wajah Seokjin.
"Bagaimana perasaanmu?" kata Namjoon lembut. Bisa ia rasakan pelan-pelan air mulai membayangi matanya. Dan Namjoon tidak bisa menolong dirinya sendiri dari rasa terkejut.
Seokjin membuka matanya perlahan-lahan, ketika tatapannya mulai utuh, ia menemukan Namjoon di sana. Tersenyum dengan cara yang tidak pernah ia lihat sebelum ini. Di tengah upayanya meraih kesadaran dan menahan nyeri, Seokjin berusaha mengelak kenyataan sehangat ini. Ia tidak ingin lagi semuanya sebatas angan-angan. Ia tidak ingin terus-menerus mengekang sakit itu dalam dadanya.
"Seokjin…, hei? Kau bisa mendengarku?" Tetapi kemudian pertahanannya runtuh, seluruh ingatan-ingatan itu mengalir deras dalam kepalanya.
Berapa lama ia memendamnya seorang diri? Butuh berapa lama lagi untuk Seokjin menyadari kalau usahanya melupakan laki-laki itu tidak pernah selesai? Bisakah ia berbagi kepada Namjoon dan tidak serakah?
"Na-namjoon-ah…"
"Aku di sini, Seokjin. Aku di sini."
Mata jelaga milik Namjoon menatapnya dengan begitu transparan menunjukkan kecemasan. Membuat Seokjin merasakan perasaan hangat yang besar berkubang dalam dirinya. Sudah lebih dari cukup ia membendung semua ini sendirian, melupakan yang seharusnya, dan berhenti mengingat Namjoon. Tetapi perasaan bukan sesuatu yang bisa dikendalikan dengan mudah. Seokjin tidak pernah tahu sejak kapan ini semua dimulai. Ketika ia sadar, semuanya sudah jauh terlambat. Ia menyayangi gurunya lebih dari yang bisa orang-orang bayangkan.
Seokjin mengangguk, tangannya yang gemetar berada dalam genggaman Namjoon. Menyadari itu, Seokjin menangis.
"Ssst, hei, hei, tidak apa-apa, oke? Semuanya baik-baik saja, kau aman bersamaku, Seokjin. Aku akan menjagamu."
Aman. Bersamaku. Seokjin tidak lagi berusaha menghindari semuanya. Sekalipun mungkin, hanya dirinya sendiri yang sejatuh ini, Seokjin berjanji untuk tidak menuntut siapa pun. Ia ingin berhenti bersikap egois. Maka ia membiarkan Namjoon meraupnya ke dalam pelukan.
"Terima kasih sudah baik-baik saja, Seokjin. Terima kasih banyak."
Seokjin bisa mendengar parau itu dalam nada suara Namjoon, yang malah mengantarkan perasaan damai ke dalam dirinya. Seokjin merasa utuh di sela-sela rasa sakit sekujur tubuhnya. Ia mengangguk sekali lagi, membenamkan kepalanya jauh lebih dalam ke dada Namjoon.
Sungguh, Seokjin tidak butuh apa-apa. Hanya ini, maka semuanya cukup.
.
.
Matahari pucat mengintip dari sela-sela jendela kediaman Namjoon sore itu. Ini adalah hari ke tujuh ia menahan Seokjin di apartemennya dengan alasan bahwa ia bertanggung jawab atas proses pemulihan pemuda itu.
Seokjin jelas tahu apa yang terjadi saat ini—di antara mereka. Ia bisa merasakan semua perasaan berdebar itu berdenyut di bawah permukaan kulitnya. Tetapi, apakah ada secuil saja kesempatan bagi Seokjin untuk mengetahui apa yang Namjoon rasakan terhadapnya? Apakah ada kemungkinan Namjoon sudah bisa melihatnya? Seokjin tergoda menanyakan pertanyaan itu, tetapi ia sendiri takut untuk mendengar jawabannya.
"Jadi…, sejak kapan aku tidak menyadari kalau apartemen kita hanya selisih tujuh lantai, Kim Namjoon-seonsaengnim?"
Namjoon tersenyum menyadari penekanan yang Seokjin berikan dalam kalimatnya. Ia menyingkirkan bantalan sofa yang tergeletak di antara dirinya dan Seokjin sebelum menjawab pendek, "Kau pikir aku tahu soal itu?"
"Seperti déjà vu saja," tambah Seokjin. "Dulu, jarak kediaman orangtuaku dengan kau juga beda tipis. Oh, apa ini yang mereka sebut jodoh?" Seokjin tertawa pelan, membuat Namjoon seakan baru saja mendengar renyah hujan yang menimpa jendela. Begitu merdu dan menghanyutkan. Untuk sesaat Namjoon tertegun.
"A-apa?" tanya Seokjin agak terganggu.
Namjoon menggeleng, masih dengan senyum yang sama. "Kenapa? Kau keberatan dengan fakta itu, bocah?"
Hening satu detik. Kemudian gerakan tangan Namjoon yang hendak menggusak ikal hitam Seokjin bertahan di udara. Seokjin menatapnya lurus-lurus, dan Namjoon merasakan perasaan bersalah menyelinap begitu saja ke dadanya. Seokjin menepis tangannya dan beringsut menjauh, mengambil jarak sejauh yang bisa diberikan sofa ruang tengah apartemen Namjoon.
Namjoon berdeham kecil. Ia kehilangan kata-katanya di ujung lidah. "Maaf, aku tidak bermaksud memanggilmu—"
"Bisa kau berhenti?" tanya Seokjin dengan kemarahan yang tiba-tiba menyelinap dalam suaranya. Ia harusnya sudah bisa menduga semua ini. Ia seharusnya tahu, jika mengubah cara pandang seseorang tidak semudah membalik lidah saat berbohong. Sekali lagi, ia tidak bisa memaksakan perasaan Namjoon.
Namjoon mengeryit tidak paham. "Maksudmu?"
"Berhenti menatapku seperti itu, Kim Namjoon," balas Seokjin parau. Bisa Namjoon duga jika ini akan menjadi panjang dan kebodohannya lah yang memulai. "Berhenti menatapku seolah aku anak kecil. Berhenti menatapku seolah aku masih muridmu. Dan berhenti menatapku seolah aku lah yang lebih membutuhkan di sini."
Namjoon melihat Seokjin mengambil napas dengan sulit. Pemuda itu menelan liur dengan serak. Mendapati itu, Namjoon merasakan sesuatu yang tajam dan kasar menggebuk dadanya.
"Aku tahu, selama ini hanya aku yang menyukaimu, itu jelas. Tapi, apa kau tidak bisa berusaha untuk bersikap seolah semuanya normal-normal saja? Jadi berhentilah peduli kalau kau sama sekali tidak berniat membalas perasaanku."
"Hei, Seok—"
"Berhentilah bersikap seolah kau berhak melakukan semua ini kepadaku. Aku tidak membutuhkannya jika itu hanya belas kasihan, Namjoon-ssi. Aku sama sekali tidak membutuhkannya. Lebih baik—"
"Aku yang membutuhkannya, Seokjin," Namjoon memenggal kalimat Seokjin. Ia mendekat dan cukup bersyukur saat pemuda itu tidak berusaha menolak. "Aku membutuhkan semuanya," tambahnya lagi. Namjoon meraih kepala Seokjin demi bisa menatap balik matanya. Bujarinya bergerak perlahan menghapus jejak bening yang mulai merembasi pipi Seokjin.
Namjoon tahu, cepat atau lambat, saat ini akan tiba. Maka ia telah mempersiapkan semuanya. Juga kenyataan-kenyataan yang terlambat ia sadari. Perasaan itu tumbuh diam-diam tanpa bisa ia cegah, menelusup ketika ia tidur, dan mencuri mimpi-mimpinya. Dan ketika Namjoon mengetahui, ia merasakan sesuatu yang besar dan berkarat seolah terlepas dari dadanya. Beban yang selama ini memberati kedua pundaknya seakan terangkat. Namjoon merasakan ringan dan kelegaan yang maha besar.
Namjoon menyayangi Seokjin. Tujuh tahun yang merentang di antara mereka, Namjoon ingin mengikisnya. Ia bersumpah untuk menjaga Seokjin agar kesempatan-kesempatan itu tidak terlepas lagi dari genggaman tangannya.
Namjoon menatap dalam-dalam iris madu Seokjin. "Aku membutuhkan semua ini untuk diriku sendiri. Aku butuh untuk mengetahui keadaanmu, aku butuh memastikan kau baik-baik saja. Butuh melihatmu dan memastikan jika tidak ada apa pun yang membuatmu terluka dan aku akan ketakutan setengah mati."
Ia meneguk liur dan mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kalau kau belum tahu, biar aku jelaskan. Dengar, Seokjin," Namjoon melarikan jemarinya untuk menyibak ikal yang menutupi jidat Seokjin, sebelum kemudian memberanikan diri mencuri kecupan di dahi pemuda itu. Ekspresi ternganga Seokjin adalah satu dari sekian hal yang membuatnya sulit untuk tidak tertawa, maka Namjoon melakukannya sekali lagi.
"Kalau kau berpikir rasa kasihan adalah sebuah hinaan, kau salah besar. Kasihan juga bagian dari perasaan menyayangi, dalam hal ini, aku yang melakukannya. Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri."
Namjoon tersenyum, cekung yang menghias di dua belah wajah laki-laki itu menerbitkan debar tidak karuan dalam dada Seokjin. "Aku mengasihimu agar aku tahu sejauh mana aku bisa melihatmu berdiri sendiri, tetapi kemudian aku tidak menyukai kenyataan kalau kau bahkan sangat mampu tanpa aku. Aku mengasihimu untuk menjagamu agar tidak pergi jauh meninggalkanku sendirian, kau sudah pasti akan kesal, aku tahu itu. Karena mungkin, aku akan melarangmu melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. Tapi dengan kau kesal padaku, kau akan terus menempatkan aku di pikiranmu. Semakin kau kesal, semakin kau tidak bisa menghilangkan aku dari kepalamu."
Gurat tercengang yang setia melekati wajah Seokjin semakin mengundang tawa Namjoon. Sialnya, setiap kali Namjoon tertawa lepas di depan matanya, maka Seokjin akan semakin jatuh tidak tertolong.
"Berhenti berpikir rumit dengan otak cantikmu itu, Seokjin. Kau barangkali hanya membutuhkanku, tetapi aku lebih membutuhkanmu, dari apa pun yang bisa kau bayangkan." pungkas Namjoon sejurus. Ia mendekatkan wajahnya dan menunggu, berharap Seokjin akan mendorongnya dan berteriak untuk hal yang saat ini melintas liar dalam benaknya. Namun hingga satu detik penuh tidak ada gerakan apa pun dari Seokjin, Namjoon berhenti berpikir.
Perlahan-lahan, Namjoon merapatkan wajahnya hingga jarak itu kian tergerus. Sebelum ia memberanikan diri mencuri bibir Seokjin dengan bibirnya. Maaf, karena aku terlambat menyadarinya, Seokjin. Namjoon mencuri bibir Seokjin secara terukur dan terus-menerus. Bibir Seokjin terasa amat manis di lidahnya, sesuatu yang lebih nyata dari apa yang selama ini ia bayangkan. Dan Namjoon tidak bisa berhenti.
Namjoon tidak bisa berusaha berhenti mencuri bibir pemuda itu, sampai waktu bergulir jauh, selama napasnya mampu mengombak, akan ia hapal mati semua rasa Seokjin.
Aku menyayangimu Kim Seokjin.
.
.
Jalanan sangat bising dan menjadi lebih padat begitu rumor kedekatan sang calon profesor dengan asisten dosen, menyebar ke seantero kampus. Seokjin membanting dirinya di sofa ruang tengah apartemen Namjoon begitu berhasil mengingat kombinasi password pintu. Bunyi gedubrak tubuhnya memancing tatapan Namjoon yang tekun di depan layar monitor.
"Seokjin, semuanya baik-baik saja?"
Namjoon tidak mendengar ketika pemuda itu masuk. Ia meninggalkan laptop di meja dan beranjak mendekat. Seokjin jatuh terkapar bagai bayi di atas sofa. Pemandangan itu mau tidak mau mengundang tawa Namjoon. "Ada apa? Tesismu ditolak lagi?"
"Lebih dari itu."
Namjoon mengangkat sebelah alis, lalu berbelok ke meja pantry untuk menuang air dingin ke gelas dan kembali kepada Seokjin. "Habiskan, kau benar-benar—hei, ada apa sih?" kata Namjoon gemas.
Seokjin menandaskan minumnya dalam satu tenggakan. Ia mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan dan menyerahkan lagi gelasnya kepada Namjoon. "Aku benci orang-orang itu," adu Seokjin. Namjoon mengeryitkan dahi belum mengerti. Seokjin terlihat akan melanjutkan, tapi sebelum itu, ia menyuruh Namjoon duduk di sampingnya dan meraih kaki Namjoon untuk ia jadikan alas kepala dan mulai merebah, meringkuk bagai janin di perut Namjoon. Seokjin sungguh membutuhkan ketenangan, tubuhnya terasa remuk seharian ini. Padahal satu bulan sudah sangat cukup waktu istirahat baginya pasca keluar dari rumah sakit.
Namjoon tertawa lagi melihat tingkah Seokjin. "Oke, oke. Sekarang ceritakan semuanya kepadaku," ia melarikan jemarinya untuk mengusap-usap punggung Seokjin. Sampai setengah detik tidak ada sahutan apa-apa dari Seokjin, Namjoon meraih wajah pemuda itu, membuatnya mendongak agar berada di satu garis pandang dengannya, sebelum Seokjin benar-benar jatuh tertidur tanpa menjelaskan apa-apa. "Kenapa, Seokjin? Ada apa?"
Seokjin nampak pucat dan Namjoon dibuat cemas karena itu. "Mereka mengatakan kita memiliki hubungan khusus," awal Seokjin. Namjoon mengangguk. "Mereka bilang harusnya pihak kampus mencabut beasiswaku karena aku ketahuan main gila dengan calon profesor yang harusnya menambah harum nama kampus, bukan malah melempar kotoran macam begini," Seokjin mengambil napas. Namjoon memberikan ujung kausnya untuk Seokjin gunakan menyusut hidungnya yang mulai tersumbat.
Namjoon mengangguk lagi.
"Dan kau tahu apa yang membuatku lebih membenci mereka?"
"Apa?" sahut Namjoon.
"Mereka mengataiku pelacur. Pe-la-cur, Namjoon. Mereka benar-benar sinting!"
Suara dengingan berbunyi nyaring di kepala Namjoon dan itu terasa menyakitkan. Sesuatu serupa kemarahan tiba-tiba saja terbit. Namjoon memegangi sisi kepala Seokjin, menatap mata madu itu lurus-lurus tanpa mengurangi kelembutan. "Bilang, siapa yang mengatakan itu padamu?"
Seokjin menggeleng. "Mereka semua. Mahasiswa-mahasiswa bodoh itu. Mereka tidak tahu apa yang sudah aku lakukan untuk kampus, tapi seenaknya saja mengataiku begitu. Memangnya kalau aku benar pelacur, masalah untuk mereka? Aku bahkan tidak melacurkan diriku ke sembarang orang."
"Apa?" tiba-tiba kemarahan dalam diri Namjoon mereda. Serasa ada yang salah di sini. Namjoon merasa perlu mengoreksi kata-kata Seokjin barusan. "Kau bilang apa?"
"Kubilang, aku bahkan tidak melacurkan diri ke sembarang orang, Namjoon. Kau tidak dengar?" air muka Seokjin berubah frustrasi, tetapi Namjoon merasa sebaliknya; ini adalah pembicaraan yang menyenangkan. Namjoon mengulum senyum diam-diam.
"Jadi, kalau itu bukan orang sembarangan, apa kau—ehem, apa kau akan melakukannya?" Namjoon merasa agak tercekat sendiri ketika mengatakan kalimat tersebut. Ia bisa melihat telinga Seokjin sekejap memerah, dan sepertinya telinganya sendiri pun demikian.
"Te-tentu saja tidak," sergah Seokjin terlalu cepat. "Aku tidak akan melakukannya dengan sembarang orang, hanya dengan yang aku sukai, tentu saja." Merasa ada yang janggal dengan jawabannya, Seokjin meralatnya buru-buru. "Ma-maksudku bukan begitu. Ku-kubilang aku hanya akan—"
Belum genap kalimatnya selesai, Namjoon menyelanya dengan tawa lepas yang menggema ke seluruh penjuru apartemen. Seokjin yang tidak terima, memukul-mukul Namjoon. "Kenapa tertawa, sih? Kan, tidak ada yang lucu!" tetapi Namjoon seolah tidak mendengar ucapan Seokjin. Tawa laki-laki itu bertahan sedikit lebih lama, dan semakin menggema nyaring. Seokjin dibuat kesal. "Berhenti tertawa, Namjoon! Atau aku akan—"
Kedua lengan Seokjin lebih dulu ditangkap sebelum sempat memukul Namjoon. Terlalu bersemangat hingga tidak Seokjin sadari jika mereka berada dalam posisi yang terlampau rapat untuk saling melukai. Seokjin mengerjap, sekali, dua kali. Berusaha menenangkan debar jantungnya yang menggila. Tetapi tatapan Namjoon tidak pernah gagal melemahkan tulang-tulangnya.
"Seokjin…," ujar Namjoon pelan.
Untuk satu kali ini, entah kenapa Seokjin merasa ada yang lain dari nada suara laki-laki itu. Suara Namjoon yang menggaung di telinganya terdengar jauh lebih serak dan dalam. Seokjin menelan ludah.
"Y-ya?" Seokjin bersumpah, jika esok hari ia masih bisa membuka mata, ia akan mengganjal pita suaranya agar tidak mandek di saat-saat genting seperti ini. "A-apa ada se-sesuatu di wajahku, Na-namjoon?"
Atmosfer yang mengalir di sekitar mereka terasa begitu magis. Seokjin bisa merasakan itu dari sentuhan Namjoon sebelum laki-laki itu mengambil napas dan menggenggam tangannya erat-erat. Seakan Seokjin akan jatuh berantakan kalau Namjoon mengendurkan pegangan. Tatapan Seokjin terkunci, dan ia tidak bisa menatap hal lain tanpa membuat jantungnya sendiri pecah-belah.
Apa sih, yang sebenarnya mau Namjoon katakan?
"Apa kau … apa kau," Namjoon tiba-tiba saja tergagap. Dan untuk pertama kalinya Seokjin mendapati Namjoon segugup ini. Jika tatapan bisa membekukan, Seokjin yakin ia sudah jadi batu kristal detik ini juga. Namun mendapati laki-laki itu sepanik ini, secuil kehangatan menelusup ke dadanya. Diam-diam Seokjin tersenyum. Sebab melihat Namjoon gugup adalah salah satu hal brilian yang akan ia simpan rapat-rapat dalam ingatan. "Apa kau bersedia melakukannya denganku?"
Kalimat itu terlontar dengan pelan dan lembut. Seolah-olah Namjoon baru saja meletakkan kapas di mulutnya sebelum berkata-kata. Seokjin merasakan seluruh napasnya tercuri dari dadanya. Kepalanya terasa melompong.
Seokjin menatap jauh ke dalam mata jelaga Namjoon, berusaha menemukan gurauan yang barangkali ada. Tetapi, hingga jantungnya seakan melorot ke lantai, Seokjin tidak menemukan apa pun selain kejujuran di sana.
Dengan sepenuh hati, Seokjin mengambil napas, kemudian mengangguk.
(tbc)
(Last, Happy Birthday, Kim Seokjin :* thank you for reminding us that 'we' are the one that should be loved by us first. thank you for delivering these "I'm the one I should love in this world" to us. I really love you—Rou)
