Haduh, sekali lagi maaf telat apdet T^T selanjutnya, kami usahakan 2 minggu setelat-telatnya, ini bener-bener... argh maaf TT_TT
Y-yaah, basa-basinya sudah dulu -ditimpuk- hope you enjoy this chapter and future chapters :D
Life Circlet
Disclaimer: ATLUS owns Persona 4
Chapter 2
Idol and Detective
Hari Sabtu, pukul 16.28, awan mendung menyiram kota Inaba dengan gerimis. Langit yang biasanya berlukis warna jingga, kali ini berwarna biru gelap, tertutup sebagian oleh awan jenuh.
Seorang gadis remaja berambut merah kecoklatan dikuncir dua dan mengenakan kacamata hitam sedang terbengong memperhatikan kaca jendela kereta yang basah oleh embun, sementara kereta api masih belum memperlambat lajunya. Gadis itu menghela napas dan mengalihkan pandangan pada layar ponsel di tangan kanannya. Ia terlambat.
Kapan gadis itu akan sampai ke tempat tujuannya?
Pukul 17.03, akhirnya, suara yang sangat ditunggu-tunggu sang gadis menggema juga hingga ke sudut kereta api, suara seorang pria yang disampaikan lewat speaker.
"Yasoinaba, Yasoinaba..."
Gadis itu menghela napas lega, kemudian segera berdiri dan mengulurkan tangan ke bagasi di atas tempat duduk, berniat mengambil koper miliknya. Gadis itu merasakan laju kereta yang semakin melambat, kemudian terhenti. Begitu pintu kereta terbuka, gadis itu segera melangkah turun dan memperhatikan sekelilingnya. Gerimis tak kunjung reda.
Tiba-tiba, sebuah senyum kelegaan tersungging manis di bibir sang gadis, ketika ia melihat seseorang bertubuh cukup kecil sedang berdiri menunggu dengan jas hujan membungkus kemejanya. Seseorang itu adalah sahabat baiknya sendiri. Gadis itu dapat mengenali rambut berwarna biru gelapnya yang dipotong pendek, juga sepasang bola mata biru keabuannya. Namun berbeda dari biasanya, ia tidak mengenakan topi birunya, melainkan menggenggam topi tersebut dan menekankannya ke dada dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam ujung koper.
"Nao-chan! Di sini, di sini!" sang gadis berkuncir mengangkat satu tangannya dan melambai-lambai, berhasil menarik perhatian orang tersebut. Gadis berkuncir itu berjalan menghampiri sahabatnya.
"Rise-chan, kau terlambat..." sahabatnya tersebut merespon singkat. Gadis berambut merah kecoklatan yang dipanggil Rise itu masih tersenyum kecil.
"Maaf, Nao-chan. Bukan kesalahanku, tetapi keretanya yang terlambat," jawabnya sambil tersenyum meminta maaf. "Maaf ya, padahal dua hari yang lalu, aku mengatakan akan menunggumu di stasiun, tapi justru terjadi sebaliknya."
"Ah... tidak masalah... dan... mengapa kau mengenakan kacamata hitam?" sahabat Rise itu bertanya agak bingung.
"Yah... untuk sedikit 'penyamaran'! Kau tahu? Menjadi seorang idola itu cukup sulit, setiap kali ada yang melihatmu, terutama seorang pria, kau tahu apa yang akan terjadi." Rise menjawab ceria.
"Rise-chan, jika ingin menyamar, setidaknya kau bisa mengubah gaya rambutmu yang cukup khas itu, atau—"
"Yah, yang penting, tidak ada yang menyadari keberadaanku, mungkin?" Rise berusaha optimis, yang kemudian dibalas dengan helaan napas singkat dari sahabatnya.
"Baiklah, kau membawa payung? Kita akan berangkat bersa—" suara sahabat Rise itu tiba-tiba terhenti sesaat, ketika sebuah limousine berwarna hitam berhenti di depan stasiun. Dari tempat duduk pengemudi dalam limousine tersebut, keluar seorang pria berambut pirang yang mengenakan jas hitam formal beserta kacamata hitam. Beberapa orang yang sedang berada di stasiun itu akhirnya mengalihkan perhatian mereka pada orang berjas hitam tersebut (mungkin keberadaan limousine hitam itu juga sudah cukup untuk menarik perhatian mereka).
Pria berambut pirang tersebut berjalan menghampiri Rise dan sahabatnya. Rise dapat melihat ekspresi wajah sahabatnya yang tampak terkejut, bahkan mematung. Sahabat Rise itu akhirnya angkat bicara.
"Y-Yakushiji-san! Aku tidak memintamu untuk menjemput kami di sini!" ekspresi sahabat Rise tersebut tidak menentu.
"A-ah, tapi, Naoto-sama, anda mengatakan bahwa anda akan sampai sekitar pukul 17.00. Lagipula, sudah tugas saya untuk menjemput anda, sekaligus menyambut kepulangan anda." Pria yang dipanggil Yakushiji itu tersenyum. Sahabat Rise, yang bernama Naoto tersebut mendesah perlahan. Namun Rise tidak bereaksi sama seperti Naoto.
"Ah! Yakushiji-san, lama tak jumpa! Kau nyaris tidak berubah sama sekali dari terakhir aku melihatmu!" Rise tertawa ceria seraya ia melepas kacamata hitam yang dikenakannya. Yakushiji tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau sedih ketika Rise mengatakan bahwa ia 'nyaris tidak berubah'.
"Suatu kehormatan untuk bertemu kembali dengan anda, Rise-san. Bagaimana kabar anda? Dan terima kasih telah menemani Naoto-sama selama ini. Saya melihat anda telah menjadi orang yang sukses dan juga telah menjadi sosok yang dikagumi banyak orang." Yakushiji tersenyum sopan.
"Aku baik-baik saja, dan lagi, kurasa aku juga tidak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa Nao-chan yang berada di sisiku! Ya, kan? Nao-chan?" Rise menggandeng tangan Naoto sementara senyumannya semakin melebar. Naoto hanya balas tersenyum kecil.
"Ahaha, baiklah. Silahkan ikuti saya," ujar Yakushiji, sementara ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah limousine, diikuti langkah kaki Rise dan Naoto. Yakushiji kemudian membuka pintu limousine hitam tersebut dan membiarkan Rise dan Naoto masuk. Kemudian, sang pria berkacamata hitam tersebut mengangkat kedua koper mereka ke bagasi mobil, kemudian masuk ke limousine tersebut dan duduk di kursi pengemudi.
"Akan saya antarkan ke Marukyu Tofu Shop, di sanalah tempat anda tinggal, kan, Rise-san?" Yakushiji mempertemukan bola matanya dengan iris kecoklatan Rise yang duduk di bangku penumpang lewat kaca spion. Rise membalas tawaran Yakushiji dengan anggukan dan senyuman manisnya. Limousine hitam itu pun melaju menjauhi stasiun Yasoinaba, sementara Naoto memperhatikan dunia luar lewat jendela limousine yang basah oleh embun.
Walaupun beberapa lama lagi Naoto segera kembali ke rumahnya, ia tetap tidak akan menemui sang kakek yang sangat ia hormati.
Dojima Residence, hari Minggu pagi pukul 09.22, Seta Souji yang sedang menonton televisi berdua dengan Nanako, merasakan getaran halus pada saku celananya. Ponselnya bergetar. Pemuda berambut abu-abu itu meraih ponselnya dan melihat nama Hanamura Yosuke terpampang pada layar ponsel.
"Seta Souji di sini," jawab Souji setelah menempelkan ponsel tersebut ke telinga kanannya.
"Hei, Souji! Kau memiliki waktu luang hari ini? Mau berjalan-jalan denganku?" suara Yosuke terdengar ceria di ujung ponsel. Seperti biasa, tidak butuh waktu lama bagi Yosuke untuk kembali ceria lagi, walaupun tiga hari lalu ia baru mengalami suatu peristiwa buruk.
"Oh, boleh saja. Di tempat biasa, kan? Baiklah, tunggu aku di sana." Souji tersenyum kecil. Setelah sambungan terputus, Souji merasakan tatapan Nanako yang memperhatikannya sedari tadi.
"Kau akan pergi hari ini?" Nanako bertanya perlahan, tanpa menunjukkan banyak ekspresi.
"Yah. Apa kau—"
"Onii-chan pergi saja, aku bisa menjaga rumah!" Nanako tampak sangat yakin. Souji tertawa pelan.
"Nanako, kau juga ingin ikut? Kami tidak keberatan, tentu saja." Souji menawarkan. Namun di luar dugaan Souji, Nanako yang biasanya melompat kegirangan saat diajak berjalan-jalan, menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada acara televisi yang ingin kutonton." Nanako tertawa ceria. Souji menatapnya lega. Setidaknya, Nanako merasa senang meskipun ditinggal sendirian di rumah.
Bagaimana dengan sang paman?
Dojima Ryotaro, paman Souji sekaligus ayah dari Dojima Nanako adalah seorang detektif. Ia sering pulang larut malam dan sudah berangkat kerja walaupun hari masih sangat pagi. Bahkan, terkadang Ryotaro tidak pulang ke rumah sama sekali karena urusan pekerjaan. Chisato, istri Dojima sekaligus ibu dari Nanako, telah tiada sejak Nanako masih sangat kecil. Souji masih dapat mengingat senyuman wanita itu... senyuman Chisato dan tatapan lembutnya
"Onii-chan..." suara Nanako menyadarkan Souji dari lamunannya. "Yosuke onii-san pasti telah menunggu. Onii-chan tidak bersiap-siap?"
"Nao-chan!" Rise membuka pintu kamar Naoto secara tiba-tiba, membuat gadis bertopi biru itu tersentak kaget. Naoto, yang sedang duduk di meja belajarnya untuk meneliti kasus-kasus yang pernah terjadi di kota kecil itu segera menolehkan kepala ke arah sumber suara.
"R-Rise-chan! Bagaimana kau bisa ada—setidaknya, ketuk pintu dulu!" Naoto mulai memprotes. Rise hanya membalas dengan tawanya yang biasa.
Rise memang sering datang bermain ke rumah Naoto tanpa memberitahu terlebih dahulu. Gadis itu hanya meminta Yakushiji, atau setiap pelayan yang menyambut kedatangan Rise di Shirogane Estate untuk tidak mengatakan apa-apa pada Naoto tentang kunjungannya.
"Ahaha, maaf ya. Aku hanya ingin mengejutkanmu sedikit. Hal itu sangat menyenangkan, kau tahu?" itulah jawaban Rise, tanpa sedikitpun merasa bersalah (meskipun gadis itu telah berkata 'maaf').
"Rise-chan, kau ini... nyaris tidak berubah sama sekali dari terakhir aku melihatmu," desah Naoto, mengulangi perkataan Rise pada Yakushiji kemarin. "...sebelum kita bertemu di stasiun kemarin, tentunya." Naoto menambahkan. Rise tampak cemberut sekarang.
Naoto memang dengan mudah dapat mengingat setiap detil perkataan yang diucapkan seseorang, biarpun kalimat tersebut telah berusia beberapa bulan. Terkadang Rise masih sering kagum dengan daya ingat sang gadis, kecerdasannya, juga kemampuannya dalam berbahasa inggris. Semuanya kelemahan Rise, sang idola tersebut mengakui dalam hati.
"Ya, baiklah, aku mengerti," jawab Rise pasrah. "Tapi, ini bukan tujuan utamaku kemari! Nao-chan, kemarin kita baru saja pulang ke Inaba ini, kan? Kau tahu hal pertama yang sebaiknya dilakukan sehari setelahnya? Berjalan-jalan! Ayo pergi bersama, Nao-chan!" Rise tampak ceria lagi.
"Aku tidak memiliki waktu untuk mengurusi—"
"Baiklah! Ayo kita berangkat!" Rise segera memotong perkataan Naoto dan menyeret sahabatnya tersebut keluar kamar, tanpa mempedulikan protes dari Naoto.
"Selamat bersenang-senang, Rise-san, Naoto-sama." Yakushiji tersenyum ketika mereka telah berada di luar Shirogane Estate, yang dibalas dengan lambaian tangan Rise, sementara satu tangan Rise masih menarik tangan Naoto dengan paksa.
Apakah ini hanya perasaan Naoto, ataukah Yakushiji seringkali lebih memihak Rise dibanding dirinya?
Okina City, pukul 12.36, Hanamura Yosuke dan Seta Souji sedang berjalan menuruni tangga dekat Okina Station. Yosuke adalah orang pertama yang membuka mulutnya ketika mereka berdua sampai di tempat tujuan.
"Baiklah, pertama-tama, kita ingin ke mana? Cinema? Restoran? Cafe? Shopping? Ada album terbaru yang ingin kubeli! Kau kenal artis itu? Kujikawa Rise? Ia baru saja meliris album terbarunya, dan harus kudapatkan, harus!" Yosuke berkata penuh semangat.
"Bagaimana dengan uangmu, Yosuke? Bukankah tiga hari lalu kau baru saja menghabiskan seluruh isi dompetmu?" Souji mencoba mengingat-ingat. Apa yang dipesan Chie tiga hari lalu memang cukup banyak... ah, bukan, terlalu banyak.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kawan! Aku masih memiliki tabungan kecil di rumah, walaupun dengan membeli album itu berarti aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk membeli sepeda motor," ujar Yosuke tanpa kehilangan senyumannya.
Perhatian Yosuke tiba-tiba teralih pada sebuah poster yang menempel dekat cinema. "Kau ingin menonton film? Aku tertarik dengan film itu." Yosuke mengangkat telunjuk dan mengarahkannya pada poster tersebut. Souji dapat melihat tulisan 'Trial of the Dragon 2' pada poster yang ditunjuk oleh Yosuke. Souji hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum kecil. Ternyata, Yosuke tertarik dengan film tersebut. Ia dan Yosuke segera berjalan ke arah cinema dan mengantri untuk membeli tiket. Sementara mereka mengantri, Souji mengangkat topik yang mereka bicarakan sebelumnya.
"Hmm... Kujikawa Rise, ya...? Kalau kuingat-ingat, kau selalu membeli album terbaru miliknya, apa kau salah satu fans berat? Apa 'Kujikawa Rise' yang kau katakan itu begitu terkenal?" Souji bertanya polos. Yosuke mendesah pelan.
"Seperti Seta Souji yang selalu kukenal sejak dulu, kau tidak memiliki pengetahuan cukup tentang artis, huh? Sementara otakmu menyimpan segudang informasi yang berhubungan dengan angka, fisika, biologi dan berbagai pengetahuan lain yang membosankan dan tidak penting itu, kau justru tidak mengetahui apa-apa tentang KUJIKAWA RISE, idola terkenal itu?" Yosuke menekankan nama sang idola.
"Tidak," jawab Souji singkat, sangat sesuai dengan dugaan Yosuke.
"H-Hatchi!"
Naoto menoleh ke arah sahabatnya, yang tiba-tiba bersin. Setahunya, Rise jarang terserang flu. Naoto menatapnya khawatir, "Rise-chan, kau tidak apa-apa? Kalau kau sakit, mungkin kita—"
"Aku baik-baik saja, mungkin saja ada yang membicarakanku? Inilah sulitnya menjadi idola." Rise tertawa ceria. Baiklah, sepertinya Naoto tidak dapat menghindari acara 'jalan-jalan' mereka dengan alasan apapun juga. Kedua gadis itu telah berdiri di Okina Station.
"Baiklah~ mari kita bersenang-senang! Nao-chan, temani aku belanja! Ada pakaian yang ingin kubeli, modelnya manis sekali!" Rise mulai menarik tangan Naoto yang telah memerah karena terus ditarik sejak mereka berada di Shirogane Estate.
Ya, Naoto hanya dapat berserah pada nasib.
Okina City, pukul 14.52, Yosuke dan Souji berjalan keluar cinema. Mereka telah selesai menonton 'Trial of the Dragon 2'. Yosuke masih tampak takjub.
"W-Whoa... tidak kusangka, film yang sangat digemari perempuan rakus kemarin itu memang benar-benar membuatku tercengang. Setiap gerakannya, harus kuakui, awesome!" Yosuke tampaknya sangat menyukai film tersebut. Souji mengangguk setuju.
"Ya, film kung-fu satu ini sepertinya digarap dengan sangat baik. Chie memiliki selera yang cukup tinggi, benar bukan?" Souji tersenyum kecil sambil memandang penuh arti pada sahabatnya. "Aku sedikit penasaran, mengapa kau tiba-tiba ingin menonton film ini? Apa ada maksud khusus, hm?"
"T-tentu saja tidak! Aku hanya penasaran seperti apa film yang sampai membuatku membayar lima porsi fillet mignon dan tiga gelas orange juice untuk Chie, itu saja!" Yosuke menjawab yakin.
"Ya... kau kira apa maksud pertanyaanku? Mencurigaimu telah jatuh cinta pada Chie?" Souji tertawa penuh canda.
"Maaf ya, aku. tidak. akan. jatuh cinta pada gadis penggila steak itu. Yukiko-san jauh lebih baik, jauh lebih baik." Yosuke menepis candaan Souji dengan tegas. Senyuman Souji semakin melebar.
"Kau tidak pernah tahu masa depan, Yosuke, percayalah. Mungkin saja pendapatmu tentang Chie akan berubah." Souji masih tertawa. Yosuke memandangnya tidak percaya. "Ah ya, kau haus, Yosuke? Kau mengatakan ingin membeli album terbaru Kujikawa Rise itu, kan? Kau pergi saja dulu, aku akan pergi membeli minuman."
Naoto telah merasa jenuh. Ya, sangat jenuh.
Sedari tadi Rise terus menarik gadis berambut biru itu dari butik ke butik, memaksanya mengenakan gaun, rok, hingga pakaian renang. Rise sempat berhasil memaksanya mengenakan rok pendek, tetapi sisanya tidak berhasil.
Saat ini, gadis itu tengah duduk menunggu Rise yang masih dengan semangat menilai-nilai hampir setiap lembar pakaian di butik tersebut. Naoto, yang kesabarannya mulai habis, akhirnya angkat bicara dan berhasil menarik perhatian Rise.
"Rise-chan, tidak apa kalau kutinggal sendiri? Aku ingin berjalan-jalan ke tempat lain, ehm... mungkin toko buku." Naoto menyampaikan keinginannya tersebut pada Rise. Gadis berkuncir dua itu akhirnya tersadar.
"A-Ah, maaf! Aku akan segera menyelesaikan urusanku." Rise tampak terburu-buru sekarang.
"Tidak apa-apa, Rise-chan. Kalau kau sudah selesai, tunggu saja di tempat duduk dekat stasiun, aku tidak akan lama." Naoto segera berdiri dari tempatnya duduk.
"Benarkah? Maaf, Nao-chan. Baiklah, hati-hati ya!" Rise tersenyum ceria, yang dibalas dengan senyuman tulus dari Naoto. Gadis dengan jaket biru itu segera berjalan keluar butik, bergegas ke toko buku.
Bagi Naoto, mungkin toko buku adalah satu-satunya tempat di Okina City dimana ia dapat merasakan kesenangan tersendiri.
Okina City, pukul 15.10, Yosuke berjalan keluar dari sebuah toko CD, dengan sekeping album terbaru yang sangat ia tunggu-tunggu. Senyum merekah di bibir pemuda ber-headphone jingga itu.
'Haah... akhirnya... akhirnya... aku berhasil mendapatkannya! Album terbaru Kujikawa Rise!' teriak Yosuke dalam hati. Yosuke kemudian membalikkan tubuhnya, yang kemudian ditabrak tanpa sengaja oleh seseorang yang sedang berjalan agak terburu-buru. Orang tersebut terjatuh, beserta kantung berbahan karton berisi pakaian yang dibawanya.
Yosuke tidak berkata apapun, ia tidak bisa berkata apapun, terlalu terkejut dengan sosok yang baru saja menabraknya. Tidak salah lagi, ia adalah artis yang sangat dikaguminya, Kujikawa Rise.
"K-Kau... Kujikawa Rise?" Yosuke bertanya setengah berbisik. Ia kemudian tersadar dan membantu gadis yang baru saja menabraknya itu berdiri, kemudian mengambil kantung yang dibawa sang gadis dan menyerahkan kantung tersebut padanya.
"Oh... um... bukan, kau salah orang." Gadis berambut merah kecoklatan tersebut berusaha mengelak. Ya, tentu saja ia adalah Kujikawa Rise. Namun Rise tidak ingin ada orang di Okina City ini yang mengenali sosoknya, kecuali Naoto, tentu saja.
"A-Aku tidak mungkin salah, aku yakin kau adalah Kujikawa Rise yang itu! H-HEBAT SEKALI! Hari ini hari keberuntunganku! R-Rise-san, aku fans beratmu! O-oh, aku mengerti kondisimu, tapi tolong tanda tangani album ini, tolong!" Yosuke tampak bersemangat, sementara Rise mendesah perlahan. Percuma saja, ia tahu pemuda di hadapannya telah mengenali sosok sang gadis.
"Terima kasih. Silahkan menikmati minuman anda." Seorang penjaga kasir membungkuk hormat pada Souji, yang dibalas dengan senyuman kecil pemuda berambut abu-abu itu, seraya sang pemuda menerima dua gelas plastik ice coffee yang baru saja dipesannya. Souji melangkahkan kakinya meninggalkan stand minuman tersebut. Mungkin Yosuke menunggunya di depan stasiun.
Saat Souji sedang berjalan membawa minuman tersebut, ia melihat seseorang yang mengenakan topi biru sedang berdiri di depan sebuah toko buku, sementara sepasang mata biru keabuan orang tersebut memperhatikan etalase toko dengan hampa. Orang tersebut mendesah pelan, kemudian membalikkan tubuh menghadap Souji dan mulai melangkah, namun kepalanya terus memperhatikan setiap etalase toko yang perlahan-lahan dilewatinya.
Entah kenapa, ada sesuatu yang membuat Souji terus memperhatikan orang tersebut. Ya, orang itu. Gadis berambut biru gelap, mengenakan jaket berwarna selaras, juga topi yang sangat familiar di mata Souji. Pemuda itu merasa bahwa ia sepertinya mengenal gadis itu, tetapi ia tidak tahu siapa gadis itu.
Sementara ia berpapasan dengan sang gadis, yang akhirnya berjalan melewati pemuda itu, Souji segera menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya tidak dapat melepaskan pandangan pada gadis tersebut, sementara kedua kakinya terus melangkah maju.
BRUG!
Souji tidak memperhatikan jalan di depan sementara kedua kaki tetap melangkah, dan alhasil ia menubruk seseorang bertubuh besar. Ice coffee yang dibawa sang pemuda tumpah dan mengenai pakaian putih orang tersebut, meninggalkan noda kecoklatan yang tampaknya akan sulit hilang. Seorang pria bergaya rambut punk dan mengenakan anting hidung, yang baru saja ditabrak Souji, segera menatap sang pemuda dengan tatapan membunuh.
"Maaf," kata Souji terburu-buru. Pria tersebut hanya menatapnya dengan marah.
"Hei! Kalau jalan hati-hati! Kau berani macam-macam denganku, ya, hah? Kau tahu siapa aku ini?" tanya si punk kasar sambil menggulung kedua lengan pakaiannya. Souji, yang mundur sedikit dari tempat berdirinya semula, sempat melihat tattoo stiker bergambar hati tertusuk sebuah panah dengan tulisan 'I Love Mom' di lengan kirinya.
"Tidak, tapi—"
"Kau berani menantangku ya? Baju ini mahal, kau tahu? Kau sanggup menggantinya? Harganya 1000 kali lebih mahal daripada nyawamu!" teriak sang pemuda bertattoo tersebut sambil menyambar kerah baju Souji. Orang-orang yang mendengar keributan tersebut mulai mengerumuni mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
"Saya tidak senga—"
"Cih, dasar anak ingusan! Rasakan ini!" pemuda beranting hidung itu langsung meninju Souji tepat di wajah, membuatnya terhuyung mundur dan akhirnya jatuh akibat kehilangan keseimbangan.
Naoto sedang memperhatikan etalase dari toko-toko yang dilewatinya. 'Tidak ada yang menarik,' pikir Naoto sambil mendesah pelan. Namun, ketika sampai di depan sebuah toko mainan, langkah sang gadis terhenti seketika ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, tersembunyi di antara tumpukan boneka berwarna-warni dan juga mainan lainnya.
Sebuah papan catur, lengkap dengan pion-pion yang tersusun rapi di atasnya, tergeletak di atas meja kecil di sudut etalase toko mainan tersebut.
Naoto merasa teringat akan sesuatu, kemudian bayang-bayang masa kecil pun terlintas di otaknya.
:-: :-:
"Ah! Aku menang! Akhirnya…" bocah lelaki yang duduk berhadapan dengan Naoto menyunggingkan senyum senang sekaligus bangga. Naoto menatapnya dengan kesal. Ia telah melakukan sebuah kecerobohan yang berakhir dengan skak mat dari bocah lelaki itu. Gadis cilik itu merasa kesal dengan dirinya sendiri. Setelah permainan catur yang melelahkan dan menguras otak itu berlangsung selama berjam-jam, akhirnya sang pemenang berdiri juga.
"Huwah, tak kusangka kau hebat juga," ujar anak lelaki itu sambil tersenyum, membuat Naoto tanpa sadar menyemburatkan rona merah di paras mungilnya.
"Erm… t-tidak…" Naoto merasa wajahnya mulai memanas. Ini pertama kalinya ia dipuji oleh orang lain, selain sang kakek dan Yakushiji. Gadis kecil itu menunduk, ia telah kalah… tapi…
"Kau lebih hebat, erm… aku ceroboh, dan itu menandakan kelemahanku. Dalam dunia pekerjaan, politik, kriminalitas, juga pekerjaan sebagai detektif, misalnya, kecerobohan tidak ditoleransi," lanjutnya.
"Hmm… benarkah? Bagiku, kau hebat! Lain kali kita main catur lagi, ya? Oh, atau mungkin kau siap untuk ronde kedua?" anak lelaki di hadapannya kembali duduk dan menatapnya dengan mata berbinar, membuat wajah sang gadis kecil itu semakin memerah.
"Bisa saja aku kalah di permainan kedua," bujuknya lagi. Naoto menatapnya (atau lebih tepatnya, menyelidiki).
Apakah bocah lelaki ini hanya berusaha menghibur, tetapi hati kecilnya mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan pria yang ditemui Naoto dalam hidupnya? Ataukah…
:-: :-:
'Siapakah bocah lelaki itu? Dan kapan kejadian itu berlangsung?' Naoto mencoba untuk mengingat-ingat kembali. Namun setelah beberapa menit berlalu, gadis tersebut tidak berhasil mengingat apapun mengenai kejadian itu. Ia pun memutuskan untuk menyerah.
'Ah… sepertinya kejadian tersebut sudah lama sekali… Sudahlah, tidak perlu kupikirkan lagi, tidak penting…' Naoto berjalan melewati toko mainan tersebut. Tidak lama kemudian, gadis itu mendengar bisikan orang-orang di belakangnya. Ia segera menoleh ke belakang dan melihat kerumunan orang yang saling berbisik-bisik satu sama lain di depan sebuah stand, tak jauh dari tempatnya berdiri. Naoto menghentikan seorang pemuda berkaus hitam yang berjalan melewatinya untuk menanyakan informasi tentang kerumunan tersebut.
"Maaf… mengapa orang-orang berkerumun di sana? Apakah telah terjadi sesuatu?" tanyanya kepada sang pemuda.
"Ada seorang pemuda menabrak pria tinggi besar bergaya punk dan menumpahkan minumannya di baju si punk, sehingga si punk marah lalu bertengkar," jelas si pemuda.
"Rupanya begitu… terima kasih atas informasinya." Gadis berambut biru gelap itu kemudian berlari ke arah kerumunan itu.
"Itulah akibatnya jika kau berani menantangku! Hah!" kata pria bertubuh tinggi besar itu kepada Souji.
"Saya sudah meminta maaf, lagipula saya tidak sengaja karena—" Souji berusaha menjelaskan, namun pria bergaya punk itu sudah mengangkatnya lagi melalui kerah kemejanya.
"Jadi kau masih berani, hah? Rasakan ini!" pemuda bertattoo itu kembali menghajar Souji di wajah, kali ini menimbulkan tetesan kecil darah di bagian bibir si pemuda berambut abu-abu itu. Si punk tampaknya masih kurang puas, ia pun mengambil ancang-ancang untuk meninju Souji lagi, kali ini di bagian perut. Namun…
"Hentikan!" sebuah suara berhasil menghentikan pria beranting hidung itu dari kegiatannya menghajar Souji. Pria bergaya punk tersebut menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata berasal dari seorang gadis pendek bertopi biru yang tengah berlari ke arah mereka.
"Wah wah… lihat siapa itu… seorang gadis datang untuk menyelamatkan nyawamu! Hahaha!" ejek pria berbadan besar tersebut. Souji mau tak mau menolehkan kepala untuk melihat sang gadis, yang seakan-akan tampak seperti sang dewi penyelamat yang datang untuk membebaskannya, berhubung ia sedang dalam keadaan terjepit sekarang.
'Itu… gadis yang tadi kulihat sedang memperhatikan etalase toko-toko!' batin Souji setengah tidak percaya.
"Tolong hentikan, sebelum ada orang lain yang terluka lagi," kata Naoto tegas, ia telah menghadap mereka berdua sekarang.
"Hahaha! Gadis mungil seperti kau berani mengancamku? Memangnya siapa kau, gadis kecil, hah?" pemuda yang pakaiannya ternoda kopi itu tertawa sambil mengejek Naoto.
"Shirogane Naoto, detektif… Lepaskan dia, atau—" Naoto mulai mengancam, namun perkataannya dipotong oleh tawa menggelegar dari pemuda bergaya punk tersebut.
"Shirogane Naoto? Dia 'kan… detektif muda terkenal itu! Yang berhasil memecahkan kasus-kasus sulit di kepolisian…" kerumunan di sekitar mereka kembali berbisik-bisik.
'Dia… detektif? Gadis bertubuh kecil dan pendek seperti itu adalah seorang detektif? Tidak mungkin…' pikir Souji.
"Detektif! Hahaha! Gadis kecil pendek seperti kau mana mungkin menjadi detektif!" tawa si pria beranting hidung itu lagi.
Naoto mengeluarkan revolver yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi dari dalam sakunya. "Lepaskan dia," kata Naoto sambil melepaskan pengaman revolver tersebut.
"Maaf saja, gadis kecil, ah, bukan… 'detektif'," ejek si pemuda bergaya punk, sengaja memberi penekanan pada kata 'detektif'. "Pistol mainan milikmu tidak akan menghentikanku menghajar pemuda ingusan satu ini… Daripada kau bermain-main dengan pistolmu, bagaimana kalau kita melupakan semuanya dan pergi jalan berdua, Manis?" godanya.
Naoto menarik pelatuk revolvernya, kemudian menembak tepat ke tanah di depan kaki pemuda bertattoo tersebut. Pria bergaya punk itu terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah, begitu juga dengan kerumunan orang-orang di sekitarnya.
"Kuulangi sekali lagi, lepaskan dia, atau salah satu dari peluru ini akan mendarat dan bersarang di tubuhmu," ancam Naoto.
"Cih…" Pria tersebut mulai tampak ragu hingga akhirnya ia melepaskan Souji dari cengkeramannya. Souji meluruskan kemejanya, kemudian mengelap butiran darah dari bibir menggunakan lengan kemeja.
"Sekarang, letakkan tangan di belakang kepala, lalu berlutut. Cepat!" Naoto menodongkan revolvernya ke arah pria punk tersebut sambil bicara. Pemuda itu menurut, kemudian ia pun diam di tempat tanpa berbicara sepatah kata pun. Tak lama kemudian, datanglah seorang petugas kepolisian lengkap dengan pistol dan borgol di tangannya. Petugas tersebut pun segera memborgol pemuda bertattoo itu, kemudian angkat bicara.
"Ah, rupanya kau sudah membereskannya terlebih dahulu, Shirogane. Terima kasih," ucap petugas kepolisian itu. Naoto hanya mengangguk. Petugas itu tersenyum kecil, kemudian menyeret pria bertubuh besar itu keluar. Naoto menghela napas pelan, kemudian berbalik ke arah Souji.
"Kau tidak apa-apa?" tanya gadis itu, iris mata biru keabuannya menjelajahi tubuh Souji, mencari-cari tanda adanya luka parah.
Namun sebelum Souji sempat mengeluarkan jawaban yang telah ia persiapkan di lidahnya, sebuah teriakan terdengar, membuat pemuda berambut abu-abu tersebut menelan kembali jawabannya dan menoleh.
"Nao-chaaan!" seorang gadis berambut merah kecoklatan yang dikuncir dua berlari ke arah mereka dan langsung memeluk sang detektif erat-erat, membuat gadis bertopi biru itu nyaris terjatuh ke belakang.
"Nao-chan, kau tidak apa-apa kan? Kau membuatku sangat khawatir, kau tahu itu?" omel Rise, yang sedari tadi perasaan dipenuhi kecemasan.
'Nao-chan…? Sepertinya… nama itu sangat familiar…' batin Souji dalam hati, berusaha mengingat-ingat.
"Maafkan aku, Rise-chan," jawab Naoto pelan. Rise tersenyum.
"Lain kali, jangan membuatku cemas seperti itu lagi, ya? Itu tadi cukup berbahaya, Nao-chan! Syukurlah kau tidak terluka atau semacamnya!" ceramah sang artis idola itu. Naoto mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Yo, Partner! Kau tidak apa-apa?" seorang pemuda ber-headphone jingga datang menghampiri Souji. Namun, pertanyaan sang pemuda tidak digubris oleh Souji, yang tampaknya sedang sibuk memperhatikan kedua gadis di hadapan mereka. Pemuda tersebut mencoba mengikuti arah pandangan sang partner, kemudian tersenyum jahil.
"Yah, dialah Kujikawa Rise, artis idola itu, yang sangat kukagumi… Manis sekali, bukan? Kau suka padanya?" ledek sang pemuda penggemar musik itu. Souji menggeleng.
"Bukan, Yosuke… Aku tidak sedang memperhatikan Rise, tapi gadis yang sedang dipeluknya," jawab Souji. Pandangan sang pemuda beriris mata abu-abu itu masih terarah kepada sang detektif muda.
Yosuke mengalihkan pandangannya kepada gadis bertopi biru tersebut. Kemudian, senyum jahil kembali menghiasi bibirnya.
"Ah… jadi, kau memperhatikan detektif itu… kau suka padanya, ya? Dia cukup manis dan cantik… seleramu bagus juga, Souji," kata Yosuke, cengiran jahil masih menghiasi sudut mulutnya.
Souji menghela napas pelan. "Bukan seperti itu, Yosuke… Aku merasa aku mengenal gadis itu," balas Souji tanpa mengalihkan tatapannya dari Naoto.
"Jadi, kau mengenalnya? Siapa dia? Bagaimana kalian bertemu?" Yosuke membombardir Souji dengan pertanyaan.
"Aku… tidak tahu… mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi… rasanya aku mengenal gadis itu…" balas Souji lagi, yang masih terus menatap Naoto sambil memutar otak, menggali ingatan-ingatan yang dimilikinya.
Dan kemudian, sebuah ingatan terkupas di antara lembaran-lembaran memori lain dalam otaknya, mengingatkan pemuda berambut abu-abu itu dengan masa lalu.
:-: :-:
"Jadi, kau dipanggil Nao-chan?" tanya seorang anak kecil beriris mata abu-abu itu kepada seorang bocah perempuan di hadapannya. Gadis cilik itu hanya menganggukkan kepalanya, sementara wajah sang gadis kecil mulai merona merah.
"Ah… bolehkah aku memanggilmu dengan 'Nao-chan' juga?" tanya bocah lelaki itu lagi dengan penuh harap. Lagi-lagi, anak perempuan itu mengangguk, sementara wajahnya sudah semerah kepiting rebus.
"Kalau begitu, perkenalkan, namaku… Seta Souji."
A/N: yah, seperti di atas, maaf lama diapdet. Selanjutnya kira-kira setiap satu minggu hingga 2 minggu sekali akan kami (usahakan) apdet.
Mungkin chapter ini masih saja banyak kekurangan? Ah ya, judul chapter 1 kami ubah agar seimbang dengan chapter lain ^^
Terima kasih banyak untuk: toganeshiro-chan, Kuroka, heylalaa, dan Shina Suzuki yang telah mereview chapter sebelumnya ^^ maaf kalo kami belum balas, akan kami bales secepatnya review-review kalian, terima kasih banyak! Kami terdorong untuk mengerjakan dengan bersemangat x)
Saran, komentar, kritik, pertanyaan dan lain sebagainya, akan sangat kami hargai! Bersediakah anda mereview?
Best Regards,
Snow Jou & DeathCode
