Title

Tied Ship

Author

Uhm―me?

Lenght

2400+

Rate

T

Cast

Lee Jihoon, Yoon Jeonghan, Lee Chan, Kwon Soonyoung, Choi Seungcheol, Hong Jisoo, minor Kim Mingyu

Pairing(s)

Kwon Soonyoung/Lee Jihoon, Choi Seungcheol/Yoon Jeonghan, minor [like, really really minor] Hong Jisoo/Lee Chan, slight Choi Seungcheol/Lee Jihoon, Hong Jisoo/Yoon Jeonghan

Genre

Angst, Hurt/Comfort, Romance, Humor, Drama

Warning(s)

This is YAOI!, typo anywhere, and Broken!JiCheol, broken!JiHan

Disclaimer

All Cast belong to himself. Beside the story line, i own nothing.

Kim Mingyu is mine!

Summary

Menjalani cinta segitiga tentu saja melelahkan. Tapi bagaimana dengan Jihoon? Dia adalah tied ship―yang berjuang mencari cara mengurai simpul yang dipasangnya sendiri dan lepas dari jerat cinta segilima yang memuakkan.

.

.

Chapter II

.

.

"Terimakasih."

Soonyoung tertawa.

Sudah satu jam sejak terakhir kali Jihoon mengalami mental breakdown dan meledak di dadanya. Kini pemuda mungil itu sepertinya sudah kembali pada dirinya yang lama. Galak dan sedikit―hanya sedikit menyebalkan.

Satu jam Soonyoung memeluk pemuda mungil itu.

Satu jam ia melarikan jemarinya mengusap puncak kepala Jihoon, mengelus punggung Jihoon lembut.

Satu jam ia membisikkan kata-kata yang menenangkan.

"Jangan tertawa. Kau pikir mudah menangis di depanmu?" Jihoon menggembungkan pipinya.

Perasaannya sedikit membaik setelah satu jam menumpahkan segalanya.

Satu jam menekan egonya dan menjadi buku yang mudah terbaca oleh Soonyoung.

Satu jam menekan harga dirinya dan meledak di depan orang yang ia anggap orang paling menyebalkan sedunia.

"Aku yakin tidak mudah," Soonyoung tertawa lagi, "Dan aku merasa terhormat karena bisa menyaksikannya, stroberi."

Jihoon menghela nafasnya. tiba-tiba dia merasa lelah sekali setelah menangis hebat tadi. "Jangan memulai, kepala nanas."

"Memulai apa?"

"Perkelahian."

Soonyoung kembali tertawa. "Kau ini kenapa sedikit-sedikit selalu mengira aku mengajak berkelahi?"

Jihoon memalingkan wajahnya. "Wajahmu yang membuatku berpikir seperti itu."

Soonyoung mengulum senyumnya. "Sudah merasa lebih baik?"

Jihoon mengangguk.

"Baguslah, stroberi, karena kurasa bahuku terasa kram menahanmu menangis, dan uh, lihat, ingusmu mengotori bajuku!"

Jihoon memukul lengannya keras-keras. "Kau tahu, kalau kau memang senang sekali kupukul, bilang saja, tidak usah meledek untuk memintanya!" katanya sebal.

Soonyoung tertawa. "Kalau kau yang memukul, aku rela kau pukul terus."

"Pakai sepatu?"

"Pukul itu memakai tangan, Jihoon."

"Aku ingin menenggelamkanmu ke dalam bak mandi."

"Jadi tinggi dulu."

"...kau benar-benar senang kupukul rupanya."

"Asal bukan memakai sepatu."

Jihoon tertawa dan Soonyoung tersenyum karenanya.

.

.

Jeonghan tidak tahu harus berkata apa.

Sesuai dugaannya, setelah mendengar nama Jihoon tersebut secara gamblang dari belah bibir Seungcheol, Jeonghan merasa dunianya berakhir sudah.

Orang yang satu tahun terakhir ini ditikungnya diam-diam, yang selalu ia doakan untuk segera putus hubungan dengan Seungcheol, yang selalu ia maki-maki dalam hati karena tidak juga melepaskan Seungcheol―adalah adiknya sendiri.

"Kenapa kau tidak bilang, Seungcheol?"

Seungcheol memalingkan wajah. "Aku tidak tahu dia dongsaeng yang sering kau sebut-sebut."

"Seungcheol, aku menyebut nama Jihoon ribuan kali di depanmu, Seungcheol."

Seungcheol menghela nafas. "Aku hanya berpikir itu Jihoon yang lain, Jeonghan. Di negara ini ada ribuan orang dengan nama yang sama."

Jeonghan mengusap wajahnya frustasi. "Ya Tuhan―ya Tuhan, aku menghancurkan adikku sendiri."

"Jeonghan―"

"Aku begitu jahat, ya Tuhan―"

"Jeonghan―"

"Seungcheol, kau tidak mengerti―"

"...apa?"

Jeonghan menjambak rambutnya sendiri kali ini. "Seungcheol, dia―dia begitu mencintaimu. Scoups―Scoups―astaga harusnya aku sadar saat dia menamai semua kontakmu dengan nama Scoups!"

"...scoups?"

Lalu Jeonghan mulai panik. "Seungcheol, kau tidak tahu betapa besarnya dia mencintaimu, Seungcheol."

Seungcheol menarik Jeonghan dan memeluk pemuda yang sedang panik itu erat-erat. "Bukankah kau juga mencintaiku sama besarnya?"

"Seungcheol! mengertilah―"

"Tidak. Kau yang harus mengerti, Jeonghan. Aku dan Jihoon sudah berakhir."

"Tapi―"

"Sudah berakhir."

"Seung―"

"Aku hanya mencintaimu."

"Seungcheol―"

Seungcheol melepaskan pelukannya dan menakup kedua pipi Jeonghan dan menatapnya dalam. "Jeonghan, mengertilah, aku hanya mencintaimu. Aku dan Jihoon sudah berakhir. Jangan merasa bersalah. Kau tidak bersalah."

Tidak Seungcheol, ini semua tidak benar.

"Aku yakin Jihoon akan mengerti."

Tidak Seungcheol, kau yang tidak mengerti.

Jeonghan memejamkan matanya dan membiarkan Seungcheol memeluknya.

Dia punya firasat buruk dengan semua ini.

Benar-benar firasat yang buruk.

.

.

Jihoon menunduk menatap buku-bukunya saat melewati koridor yang menuju kelas bahasa yang diambil Jeonghan. Ada kelas musik yang diambilnya sore ini dan untuk menuju ke sana, ia harus melewati koridor ini.

Selesai menangis tadi, ia kembali ke kampus, masih dengan mata memerah, dan Soonyoung memaksanya memakai obat tetes mata. Supaya terlihat lebih baik katanya. Lalu pemuda menyebalkan itu pergi menuju klubnya.

Rasa cemas menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Jihoon tidak siap dan dia merasa stress karenanya.

Setelah dipikir lagi, sepertinya sampai kapanpun Jihoon tidak akan pernah siap.

"Hyung? apa yang sedang kau lakukan?"

Jihoon terlonjak dan mendongak. Chan sedang menatapnya ingin tahu.

"Kenapa hyung terlihat seperti maling?"

Sebuah buku melayang mulus ke kepala bocah itu. Jihoon memandangnya galak. "Maling katamu?"

Chan merengut. Ia mengusap dahinya. "Hyung mengendap-ngendap begitu. Persis seperti maling."

Oh.

Jihoon menggigit bibir bawahnya. Masa iya ia akan memberitahu adik satu-satunya kalau dia sebenarnya sedang menghindari Jeonghan hyung?

"Ah, aku lupa mengumpulkan essay pada dosen Min,"

Chan mengerutkan keningnya. "Bukankah essay dosen Min sudah hyung kumpulkan minggu lalu?"

Sial.

Jihoon lupa dia satu rumah, satu lingkungan dengan adik kandung satu satunya.

"OH! Dosen Jang!"

Chan menyipitkan mata meneliti hyungnya. Jihoon mengkeret. Chan paling tahu kapan hyungnya berbohong, kapan hyungnya merasa takut, kapan hyungnya merasa marah, chan tahu segalanya. Wajar, mereka sudah hidup bersama sejak Chan baru saja bisa menghirup udara.

Chan menghela nafas. Dia tahu Jihoon berbohong, tapi dia tidak akan mendesaknya lebih jauh. Jadi ia memamerkan senyum polosnya dan membiarkannya berlalu begitu saja.

"Baiklah, aku ke club dulu hyung, ada yang harus ku kerjakan."

.

.

Jeonghan keluar dari kelasnya dan menghela nafas. Perkataan Seungcheol masih terngiang di kepalanya sejak tadi. Kedua matanya bahkan masih terasa sembab.

Ia menatap koridor depan kelasnya dan mengutuk diri saat mulutnya bertindak lebih cepat dari otaknya.

"Jihoon-ie?"

Pemuda mungil itu membatu lalu menoleh dan tersenyum canggung. "Ya hyung?"

Jeonghan menatapnya sedih. Satu hal yang ia sadari, Jihoon menangis. Kedua mata pemuda itu sedikit membengkak.

Sejujurnya, Jeonghan juga merasa ragu menyapa pemuda mungil itu. Kenapa mulutnya harus selalu bertindak spontan?

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Jihoon lebih memilih menatap lantai. "Um―aku ada kelas musik―"

Jeonghan mengangguk mengerti. "Di ujung koridor ini, 'kan?"

Jihoon mengangguk.

Lalu mereka berdua terjebak dalam suasana yang canggung dan Jeonghan tidak menyukainya.

"Jihoon―"

Jihoon mendongak dan menatap matanya kali ini. Jeonghan tidak tahu apa maknanya―dia tidak pernah bisa pandai membaca orang, jadi dia tidak tahu kilatan ekspresi apa yang ada di dalam mata adiknya.

"Seungcheol―"

Crap.

Jeonghan menutup mulutnya shock. Kenapa mulutnya tidak bisa diam?

Tapi sejujurnya jauh di dalam hatinya ia ingin Jihoon mengakuinya.

Jihoon melempar senyum kecil. "Ah, dia temanku sejak kecil, hyung."

Ada penekanan pada kata teman―atau itu hanya imajinasinya saja Jeonghan tidak tahu.

Tapi―Jihoon tidak mau Jeonghan tahu hubungannya dengan Seungcheol jadi Jeonghan tidak mendesaknya―meski ia sudah tahu karena Seungcheol memberitahunya tadi.

Jeonghan tersenyum canggung. "Ah, ya―"

"Hyung, aku duluan."

Dan Jeonghan hanya bisa mengangguk dan membiarkan punggung Jihoon menjauh.

.

.

Chan memasuki ruangan klub dengan alis mengerut. Jihoon hyungnya aneh dan rasanya ia ingin sekali tahu alasan apa yang membuat hyungnya bersikap seperti itu.

Chan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan menatap sosok di ujung ruangan.

"Hyung?"

Soonyoung―sedang mendengarkan musik dari ponsel di tangannya mendongak, "Ya, Chan-ie?"

Chan menggembungkan pipinya. "Tahu apa yang terjadi pada Jihoon-ie hyung?"

Soonyoung mengamati Chan sebentar dan menggeleng. "Tidak." katanya lugas. "Apa yang terjadi pada labu kesayanganku?"

Soonyoung memutuskan untuk berbohong.

Kalau Chan tidak tahu apa-apa, berarti Jihoon hanya bercerita padanya dan untuk sesaat, ia merasa begitu senang.

"Jihoon-ie hyung jadi aneh."

Soonyoung mengangkat satu alisnya. "Aneh?"

Chan mengangguk. "Dia jadi gugup. Mengendap-endap seperti maling."

"Maling?"

"Iya, aku bertemu dengannya tadi di koridor menuju kelas bahasa."

Soonyoung mengangguk paham.

Kelas yang diambil Jeonghan.

"Lalu?"

"Aku bertanya apa yang sedang ia kerjakan dan dia bilang mau mengumpulkan essay yang bahkan sudah dikumpulkannya sejak beberapa hari yang lalu!"

Soonyoung mengerutkan keningnya.

Jihoon-ie kacau.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya tapi aku bersumpah sikapnya sama sekali tidak biasa."

"Chan―"

Chan menoleh, "Ya hyung?"

Soonyoung tersenyum. "Bagaimana kalau kau memanggil Jun dan Minghao kemari supaya kegiatan klub ini bisa segera dimulai?"

Chan―lupa pada komplainnya beberapa saat yang lalu, mengangguk dan keluar dari ruang klub.

Soonyoung menghela nafas. Ia menatap atap ruangan dan bergumam, "Apa yang harus kulakukan untukmu, pumpkin?"

.

.

Jihoon memutuskan untuk tidak masuk kelas musiknya dan memilih kabur menuju atap―satu-satunya tempat dimana dia pikir bisa membuatnya sedikit lebih tenang.

Pertemuannya dengan Jeonghan membuatnya sedikit terguncang.

Dan Jihoon menjadi lebih terguncang lagi saat membuka pintu atap dan menemukan orang yang paling tidak ingin ditemuinya.

"Seungcheol?"

Pemuda di ujung atap itu menoleh dan melempar senyum kecil.

"Jihoon."

Tanpa sadar, Jihoon melangkah mendekat. Dan Seungcheol membiarkannya.

Jihoon menatap Seungcheol dan berpikir. "Bisa kita bicara?"

Seungcheol menatapnya lama. Lalu mengangguk setelah mengerutkan kening.

Jihoon beringsut mendekat dan memiringkan kepalanya. Ia menunjuk sisi sebelah Seungcheol, "Boleh aku duduk di sana?"

Seungcheol mengangguk. "Ya―tentu saja."

Jihoon mengangguk dan duduk. Lalu keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua. Jihoon menatap kepulan asap rokok yang keluar dari hidung Seungcheol dan gatal ingin bertanya, "Sekarang merokok?"

Seungcheol tersenyum kecil. Ia menghirup nafas dalam dan asap rokok yang barusan ia hembuskan―kembali lagi masuk ke dalam paru-parunya. "Ya―kalau sedang stress."

Useless, pikir Jihoon. Pembicaraan ini tidak ada gunanya. Jihoon menatap Seungcheol dari samping dan pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan tiba tiba muncul di pikirannya.

"Hei, Seungcheol?"

"Hm?"

Jihoon terlihat sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Lima tahun―lima tahun kita bersama―"

"Ya?"

"Pernahkah kau merasa mencintaiku? Sekali saja?"

Seungcheol menatap Jihoon dan menerawang bagaimana lima tahun mereka berjalan.

Mengingat bagaimana kedua manik mata Jihoon yang jernih dan bersinar terang saat berceloteh tentang hari-harinya selama jauh darinya.

Mengingat bagaimana rona wajahnya yang muncul saat Seungcheol mengelus pipinya.

Mengingat bagaimana teriakan marahnya di telepon saat Seungcheol lupa tanggal anniversary mereka―Seungcheol datang ke Busan membawa sebuket bunga tulip untuknya dua jam kemudian.

Mengingat bagaimana butiran airmata yang jatuh di pipi tembamnya saat pertama kali Seungcheol melukainya.

Dan mengingat bagaimana Seungcheol mencium kelopak matanya dengan bisikan maaf.

"Ya," Seungcheol menghela nafasnya. "Ya, Jihoon."

Dari sudut matanya, Seungcheol menangkap Jihoon tersenyum. Entah senyum lega. Entah senyum lembut biasa, Seungcheol tidak bisa menebaknya.

"Aku lega."

Oh. Jadi senyum lega.

"Apa yang kurang dariku, Seungcheol?"

Seungcheol menarik nafasnya lelah.

Sejujurnya dia juga tidak tahu apa yang kurang dari Jihoon untuknya.

Jihoon sempurna. Mungil. Manis. Penuh perhatian. Dan caranya mencintai seseorang selalu penuh dengan kepercayaan dan keyakinan.

Tapi tetap ada yang salah.

Jeonghan.

Jihoon bukan Jeonghan.

Dan Seungcheol tidak bisa mencintainya lebih dari bagaimana dia mencintai Jeonghan.

"Tidak ada."

Jihoon berdiri dan pada akhirnya Seungcheol menatapnya.

"Begitu."

Seungcheol menaikkan satu alisnya.

"Memang kalau bukan Jeonghan―aku tidak akan bisa, ya?"

Seungcheol tertawa kecil. "Jihoon―"

Jihoon ikut tertawa. "Aku lelah mencoba, Seungcheol, maka dari itu, aku menyerah."

Seungcheol berdiri dan mengibaskan debu yang menempel pada bagian belakang tubuhnya.

"Jihoon," panggilnya sebelum pemuda mungil itu melangkah. Yang dipanggil menoleh dengan satu alis terangkat.

"Aku mencintaimu―dulu."

Jihoon menaikkan sudut bibirnya sedikit.

"Aku tahu."

Untuk pertama kali dalam beberapa pertemuan terakhir mereka, Seungcheol tersenyum begitu lembut. "Maaf karena aku melepasmu dengan cara yang paling buruk, Jihoon. Tapi aku benar-benar mencintaimu dulu. Jangan sekalipun meragukan itu. Aku hanya mencintai Jeonghan lebih banyak dari yang seharusnya."

Sudut bibir Jihoon melengkung naik lagi.

Seungcheol menepuk kepala Jihoon lembut. "Kalau tidak ada Jeonghan di dunia ini, kau adalah pilihan pertama yang akan selalu aku pilih."

Kali ini Jihoon tertawa. "Aku memaafkanmu. Jadi, berhentilah melambungkan harapanku, Seungcheol."

Seungcheol kembali tersenyum. "Terimakasih, Jihoon."

"Hm."

Seungcheol mengulurkan tangan kanannya. "Teman?"

Jihoon menatap uluran tangan Seungcheol lama. Ia beralih menatap Seungcheol yang memandangnya lembut dan―

"Teman."

―menyambut uluran tangannya tanpa ragu.

.

.

Jeonghan merengut begitu Jihoon mengilang dari pandangannya. Seungcheol tidak ada di kelas tadi. Kemana pemuda itu?

Jeonghan berjalan cepat menyusuri koridor kampus. Berharap menemukan siluet dari pemuda itu dan ia bersumpah akan memukul kepalanya begitu ketemu.

"Mingyu!"

Hoobaenya itu menoleh dan melambai, "Ya, hyung?"

Jeonghan berhenti berlari. "Kau lihat Seungcheol-ie?"

Mingyu menggeleng. "Sekarang sih tidak, tapi tadi kurasa aku melihatnya menaiki tangga menuju atap."

Jeonghan melempar senyum kecil. "Oke, aku akan menyusulnya. Terimakasih, hoobae!"

Mingyu hanya tersenyum dan melambai.

Jeonghan membenahi letak tasnya dan mulai berjalan menuju atap. Untuk apa Seungcheol ke sana? Jeonghan menghela nafas saat ingat rokok yang menyembul dari kantung saku celana Seungcheol.

"Kalau dia merokok lagi aku bersumpah akan membunuhnya."

Jeonghan menaiki tangga menuju atap dengan susah payah dan membuka pintu yang menghalanginya masuk ke atap.

Jeonghan merengut saat melihat siluet Seungcheol di ujung atap. Sedang duduk menyandar dengan asap rokok mengepul di sekitarnya.

Jadi dia benar-benar merokok.

Jeonghan sudah akan menghampirinya dan memarahinya saat sadar―Seungcheol tidak sendiri. Ada seseorang di sana dan rasanya Jeonghan mengenalinya.

"Jihoon-ie?"

Jadi Jeonghan memutuskan menyembunyikan diri di balik pintu dan berdiri menatap interaksi dua orang paling penting dalam hidupnya dari kejauhan. Ia menghela nafas. Jihoon terlihat bahagia. Pemuda itu tersenyum. Meski Jeonghan tidak bisa menebak senyum itu tulus atau tidak dari tempatnya berdiri sekarang―mencoba menguping apa yang mereka berdua bicarakan.

"Jihoon,"

Jeonghan menahan nafasnya.

"Aku mencintaimu."

Jeonghan memejamkan matanya.

Begitu.

"...tapi aku benar-benar mencintaimu..."

Jeonghan mengusap wajahnya dan tertawa hampa.

Begitu.

Sudah cukup.

Jeonghan berlalu menuruni tangga.

.

.

Jeonghan tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang.

Begitu absurd.

Begitu campur aduk.

Ia berjalan tanpa menatap ke depan, menunduk dalam usahanya menyembunyikan wajah kacaunya dan airmata yang mengancam akan turun kapan saja.

Seharusnya dia tahu.

Seungcheol tidak akan semudah itu berpaling padanya. Dia dan Jihoon lima tahun menjalin hubungan dan―baru satu tahun dengannya.

Tentu Jihoon yang paling membekas di hati.

Jeonghan memukul kepalanya sendiri saat menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Dia seharusnya merasa lega, iya kan?

Rasa bersalahnya seharusnya berkurang karena mungkin setelah ini mereka berdua akan kembali dan ia tidak lagi perlu merasa sebagai hyung yang jahat karena pernah mendoakan Seungcheol dan Jihoon berpisah―di masa lalu. Masa ketika ia sama sekali tidak tahu orang yang berusaha ia pisahkan dari Seungcheol adalah adiknya sendiri.

Tapi kenapa hatinya sakit sekali?

Jeonghan termangu saat setetes air matanya berhasil turun di sudut matanya. Ia begitu tenggelam dalam euforia baru perasaannya. Sama sekali tidak ia sadar berjalan menuju seseorang di depan sana dan menabraknya.

"Hei,"

Jeonghan menabrak seorang pemuda―dari suara yang di dengarnya dan terjatuh sementara pemuda itu masih berdiri kokoh di depannya.

Jeonghan mengemasi barang bawaannya yang terjatuh―ponsel dan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia seceroboh ini?

"Maaf―maafkan aku."

Tidak ada respon.

Jeonghan mengusap airmatanya buru-buru. Ia mendongak dan menatap pemuda di depannya heran. Pemuda itu sedang tersenyum. Tersenyum lebar menatapnya.

"Siapa namamu?"

Jeonghan menaikkan satu alisnya. "Um―Jeonghan. Ada apa?"

Pemuda itu mengulurkan satu tangannya dan masih dengan senyuman menggoda, ia berkata tanpa beban, "Namaku Hong Jisoo, dan―hei, kurasa aku menyukaimu."

.

.

TBC

.

.

A.N:

Oke, maafkan saya /deep bow/ akhirnya saya bawa apdetan chapter dua /crai/ ini sebenernya cuma tinggal finishing doang dari kapan tau.

Ini sudah saya telantarkan berapa bulan coba. Maafkan saya T.T

Tapi ya itu, karena sibuk, suka stress ngetik yang lain, ini jadi terlupakan. Maafkan saya lagi T.T

Seperti janji saya, plotnya saya bikin slow. Pelan. Biar lebih terasa mhehehe.

Oke. Sebagai permintaan maaf saya bawain juga dua oneshoot dan beberapa drabble―well, drabble saya upload menyusul ya /laughs/

Terimakasih buat reader yang rajin ngingetin saya buat update dan saya janjiin buat update tapi baru bisa saya tepatin sekarang.

.

.

Lastly, Mind to review?