Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
Tokyo.
Satu setengah tahun yang lalu ...
Kagome beringsut di balik selimut, dengan kelopak mata yang masih terpejam, gadis itu tersenyum kala merasakan hangat tubuh di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kanan pria itu, dan tangan kanannya terentang untuk mendekap dada bidang sang kekasih. Pria itu pun memiringkan tubuh dan memeluknya.
"Aku mencintaimu," ucap Kagome dengan suara parau. Hiten membalasnya dengan sebuah ciuman di bibir sebelum terenggut alam mimpi. Sebuah senyum kembali terpahat di wajah gadis itu.
Melanjutkan tidur adalah rencananya, tapi itu tak dapat terwujud ketika ada bunyi ponsel yang terus menjerit meminta perhatian. Selama sejenak, matanya memindai kamar apartemennya yang berantakan. Lantas, wajah sang ibu terbayang. Andai saja masih tinggal bersama ibunya, tak diragukan lagi, wanita yang telah melahirkannya itu akan menasihatinya tentang manfaat dari menjaga kebersihan. Sebagai wanita yang bertanggung jawab, tentu saja ia amat peduli tentang kebersihan seperti yang telah ibunya ajarkan, hanya saja, menerapkan hal itu menjadi sulit bila sang kekasih memilih untuk bermalam di tempatnya.
Kagome menengadah, pelaku yang membuat bungkus makanan dan beberapa potong pakaian yang bertebaran di lantai masih tertidur pulas. Hiten, pria yang telah menjadi pacarnya selama lima bulan terakhir itu tak jua terjaga meski dering ponselnya tak henti meraung. Dengan berat hati ia melepaskan diri dari pelukan dan menarik selimut ke dada 'tuk menutupi tubuh polosnya sebelum meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang. Kelopak matanya yang berat segera terangkat ketika melihat nama dan foto yang terpampang di layar, seorang wanita. Tanpa prasangka, gadis yang memilih hukum sebagai program studinya itu menerima panggilan yang masuk.
"Halo?"
"Siapa ini?" Suara ketus di seberang sana terdengar.
Menekan kejengkelan, Kagome berkata, "Aku Kagome, dan kau?"
"Aku Meiko, tunangan Hiten."
"Tunangan?" Ulangnya. Secara otomatis, kepalanya berputar beberapa derajat untuk menatap pria yang masih tertidur pulas di sisinya.
Nada tajam mengisi kalimat sang penelpon, "Iya, tunangannya. Aku ingin berbicara padanya, sekarang juga!"
Karena heran dan tak percaya, Kagome memutus sambungan telepon begitu saja. Gadis yang baru saja menginjak kepala dua itu berpikir bahwa itu bisa saja olok-olok kejam teman Hiten, atau itu adalah ulah salah satu dari sekian banyak gadis yang menyukai pacarnya itu. Beberapa detik kemudian, nomor yang sama kembali melakukan panggilan, dengan cepat ia menolak panggilan itu. Pola seperti itu terus terulang dalam lima menit hingga pada akhirnya nomor itu berhenti melakukan panggilan.
Baru saja Kagome hendak bernapas lega, tiba-tiba sebuah pesan bergambar masuk di aplikasi messenger milik Hiten. Ia mendecak sebal sambil membuka foto yang dikirim itu tanpa semangat. Apa yang dilihatnya membuat matanya hendak keluar, jelas-jelas foto itu memperlihatkan Hiten yang didampingi oleh kedua orang tuanya sedang bertukar cincin dengan seorang wanita berambut pirang di sebuah pesta.
Foto hasil editan? Ia ragu.
Tipuan teman-teman Hiten lainnya? Itu sama sekali tidak masuk dalam penyangkalannya kali ini.
.
Sepuluh menit berikutnya ...
Hiten yang tak ditutupi sehelai benang pun di tubuhnya, berdiri di lorong apartemen Kagome. Dengan keras ia menggedor pintu, dan satu tangan yang lain menangkup kemaluannya. "KAGOME! Cepat buka pintunya!" Beberapa kepala yang penasaran muncul dari balik pintu-pintu yang ada di lorong itu, tapi tatapan tajam menusuk dari pria itu membuat mereka kembali masuk ke dalam kamar masing-masing.
Nada kasar tak berhasil, pria itu mencoba cara lain. "Kagome, Baby, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Ayolah ... "
Kagome yang mengenakan piyamanya membuka pintu, ia berdiri dengan kedua tangan yang saling-silang di atas dada. Setelah menata ekspresi dan emosi, ia bertanya dengan nada datar, "Tolong katakan apa yang kulakukan padamu tepatnya?"
Hiten memutar bola mata, "Kau mengusirku tiba-tiba, apa masalahmu sebenarnya, Baby?"
Dengan sengit gadis itu berkata lantang, "masalahku adalah dirimu!" Kagome menggelengkan kepalanya, "Kau ..., aku tidak tahu kalau kau sudah bertunangan, Brengsek!"
Hiten bertanya secara kasual, "Jadi itu masalahnya?"
"Jadi, itu, masalahnya?" gema Kagome pelan, wajahnya syok. "Semudah itu kau berkata, JADI ITU MASALAHNYA?!" Kini suaranya hampir terdengar histeris. "Oh, Kami, aku tak percaya ini." Kagome memejamkan mata kuat-kuat, dengan dua jari ia menekan pangkal hidungnya, berusaha menghilangkan pening, namun sia-sia.
"Kukira kau sudah mengetahuinya."
Intonasi santai pria itu sama sekali tak menolong apa yang dirasakan Kagome saat itu.
"Oke, aku minta maaf," ucap Hiten dengan nada membujuk yang tidak terdengar serius.
Permintaan maaf tanpa hati itu tak mengurangi beban yang membuat hati Kagome tenggelam dalam penyesalan.
"Are we good now?" Suara Hiten hampir terdengar polos.
'Semudah itu? Setelah semua ..., Apa arti ucapan cinta selama ini? Apa itu hanya kata tanpa makna? Atau sekedar omong kosong belaka?' Kedua tangan Kagome berpindah ke pinggang sebelum terkulai lemah di sisi tubuhnya. Gadis itu menghela napas berat, "aku merasa sangat bodoh karena pernah berpikir kau mencintaiku, Hiten."
"Oh, ayolah, kau tidak mungkin sepolos itu, Kagome. Apa yang telah terjadi antara kita ...," sepasang manik cokelat itu bergerak ke kanan atas, pria itu mencari-cari kata atau kebohongan yang tepat, tapi ia menyerah. Dengan sebuah gerakan bahu yang menunjukkan ketidakpastian dan sebuah senyum santai, ia bertutur layaknya bajingan sejati yang patut dihukum mati. "Itu hanya seks."
Ralat, bukan layaknya bajingan sejati, Hiten memang pria laknat teramat biadab yang memiliki tingkat kebrengsekkan di atas rata-rata.
"Apa yang kau sesali, tidak ada, ya kan?" Tanya pria itu lagi dengan ringan, seperti topik yang ia bicarakan adalah hal remeh-temeh.
Bila sebelumnya Kagome merasa bodoh sekarang ia merasa tolol. Bisa-bisanya ia termakan lidah manis pria yang menyatakan cinta demi mendapatkan kesenangan dengan tubuh wanita seperti Hiten!
"Lagipula, jangan bilang kau tidak menikmatinya," imbuh pria itu penuh percaya diri.
Kagome menutup pintu dengan cepat dan keras hingga benda-benda yang menempel di dinding sekitarnya ikut bergetar. Gedoran di sisi luar daun pintu semakin kuat, umpatan pria itu kian keras terdengar, dan lututnya bertambah goyah. Semakin lama ia berurusan dengan pria itu, semakin ia membenci diri sendiri. Tekad untuk menuntaskan masalah itu secara cepatlah yang memberi Kagome energi untuk kembali berdiri tegak.
Lekas-lekas ia mengumpulkan pakaian milik mantan pacar bedebahnya, lalu membuka pintu. "Ini!" Kagome melempar pakaian tepat ke wajah Hiten. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!" Lagi-lagi ia membanting pintu.
"Fine, Bitch!" Teriak Hiten dari luar.
Setelah tak ada lagi umpatan yang terdengar di lorong apartemennya, Kagome jatuh terduduk di lantai, ia mendekap kedua kakinya yang tertekuk dan menyandarkan keningnya di atas lutut sebelum membenamkan diri dalam tangis penyesalan.
~To be continued~
End notes: Terima kasih untuk semua yang udah read and review. Menjawab pertanyaan dari guest; Bukan, fic ini bkn gender bender. Di anime, Jakotsu memang memakai kimono wanita, tapi Jakotsu adalah pria.
