GabriMicha Runa & Katsunawa Yura-Tassya Presents

We Wanna to be Girl Who Could Loving Someone

Rated: K+ (maybe... Kadang author Runa suka buat jadi rated M /digeplak)

Genre: Humor and big Romance (keinginan bikin story Runa hurt/comfort /digeplak)

Character:
- Yura (OC) & Masamune (Tokoh SenBasa)
- Runa (OC) & Motonari (Tokoh SenBasa)

New Character (dari Author Katsunawa Yura-Tassya):
- Akari Toru (OC) (Cuman numpang lewat doang kok :v *dilempar ke jurang*)

Language: Indonesian (maybe (lagi), takutnya author Yura pakein bahasa Inggris di dialog Masamune dan author Runa pakein bahasa Inggris di dialog Runa /apa)

Warning: OOC, Alur kecepatan, Typo, GaJe, Bahasa yang ngaco, Modus Author (ha?), Kadang tulisan satu dan lain beda (soalnya dua author yang ngerjain disini), era tidak diketahui, dll.

Disclaimer: Sengoku BASARA game milik CAPCOM dan anime milik production I.G., gakuen milik Yuki Mitai. Kami pinjam mereka demi kepuasan author yang jomblo selama beberapa dekade /plakked!

Summary: Runa dan Yura (OC) ingin merasakan cinta dan pacaran dengan daimyo idola mereka, Motonari dan Masamune. Story about Wahana and Romance, little humor (maybe).


Scene IX - Kemunculan Yukimura!

Masamune terus menarik tangan Yura masuk ke dalam wahana bermain dan tidak menyadari bahwa wajah Yura sudah memerah karena mereka berdua ditatap oleh pengunjung wahana tersebut dengan tatapan iri. Alasannya cuman satu, yaitu mereka seperti pasangan kekasih yang sangat romantis dan akan bermain di dalam bianglala lalu saling berciuman dan mereka akan ber— cukup sampai disini khayalan Yura serta author bejat ini. Takut ratingnya bisa naik akibat khayalan ini.

'Wuaa, tangan Masamune-sama sungguh besar dan juga hangat. Tapi apa perkataan yang di katakan Masamune-sama tadi akan benar-benar terjadi?' batin Yura sambil mengingat kembali kata-kata yang di ucapkan Masamune kepadanya.

"Mungkin setelah ini, aku akan melamarmu, my lady~"

"Aku akan melamarmu, my lady~"

"Melamarmu."

Kata-kata tersebut terus berulang-ulang di kepala Yura sehingga dia tidak menyadari bahwa Masamune telah berhenti dan menatap Yura heran.

"Halo? Yura? My lady? Apa kau sadar?" tanya Masamune sambil melambaikan tangannya di depan wajah Yura yang membuatnya tersadar dari khayalan mengenai dia dan Masamune yang sudah mempunyai anak dan hidup bahagia selamanya. Khayalan tingkat tinggi rupanya *author dilempari kunai oleh Yura*

"Ah, iya. Maafkan aku karena melamun, Masamune-sama."

Yura segera menunduk minta maaf kepada Masamune. Karena tidak mendapatkan jawaban, Yura mengangkat kepalanya dan mendapati wajah Masamune tinggal beberapa inci sehingga Yura kembali blushing.

Saat wajah Masamune mulai mendekat ke wajah Yura, terdengar sebuah suara yang memanggil Masamune sehingga mengganggu momen uhukromantisuhuk mereka. Masamune menoleh ke kanan dan menemukan bahwa rivalnya —Sanada Yukimura— berada di sampingnya dengan pipi yang merona. 'Yuki-chan kawaii,' batin Yura menjerit melihat wajah lucu Yukimura saat kedua pipinya merona.

"Hey, Sanada. Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak liat aku sedang berduaan dengan my lady, you see?" tanya Masamune.

Yukimura pun menjawab dengan agak terbata-bata sambil menunjukkan sebuah wahana yang berbentuk seperti penggaris yang tinggi dengan sebuah palu di sampingnya. "A-Aku hanya ingin me-menantang Masamune-dono untuk menunjukkan siapa yang terkuat di permainan itu."

Masamune melihat wahana tersebut dan menyeringai senang. "Heh, okay. Aku terima tantanganmu! Ayo, kita lakukan!" seru Masamune sambil menggandeng tangan Yukimura dan berjalan ke arah wahana itu.

Yura yang melihat adegan itu, segara blushing berat. Author beri sebuah wasiat(?) kepada reader(s) sekalian bahwa Yura juga mengidap penyakit yang sama dengan Runa. Jika kalian tidak mengetahui penyakit apa itu, silahkan bertanya kepada rumput yang bergoyang(?). Ralat, maksudnya silahkan baca di chapter sebelumnya.

Tetapi Yura segera menyadari bahwa Masamune tidak menarik tangannya seperti sebelumnya dan membuat Yura merasa sakit hati melihat adegan di hadapannya. 'Apakah Masamune-sama sudah melupakanku?'


Scene X - Pergilah Cari Makanan untuk Kami, Yura

Seiring waktu, Masamune dan Yukimura terlihat keasyikan bermain satu wahana ke wahana lain sambil memberikan tantangan satu sama lain tanpa menyadari bahwa Yura masih disana, menatap mereka dengan senyum sedihnya.

Yura terus menatap mereka, menghiraukan perasaanya yang bercampur antara sedih, cemburu, iri, serta bahagia sehingga tidak menyadari sesosok bayangan menepuk pundak Yura yang rekfleks mengancungkan kunai dari dalam kimononya.

"Tenang, Yura. Ini aku, Katakura Kojuurou. Ada apa denganmu? Bukankah kau bersama Masamune-sama?" tanya Kojuurou saat menyadari bahwa tuan mudanya tidak bersama Yura.

Wajah Yura menunjukkan raut wajah sedih namun memaksa dirinya untuk tersenyum ke Kojuurou dan menjawab pertanyaan dengan nada yang sedikit bergetar. "Masamune-sama sedang bermain dengan Yuki-chan. Aku hanya tidak ingin mengganggu kesenangan mereka, jadi aku hanya menunggu mereka disini sampai mereka berdua selesai bermain."

"Tapi aku berharap kau dapat berduaan dengan Masamune-sama. Apa aku harus membawa Sanada Yukimura dari sana?" tanya Kojuurou sambil mnatap Masamune dengan Yukimura yang masih asyik bermain dengan senyuman di wajah mereka.

Yura hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menjawab, "Tidap perlu. Jika Masamune-sama lebih senang dengan Yuki-chan daripada aku, itu tidak apa-apa. Asalkan Masamune-sama senang dengannya."

Kojuurou menatap sedih Yura dan menepuk kepala Yura dengan lembut. "Kau kuat, Yura." Yura hanya menundukkan kepalanya, berpikir apakah pilihannya memang benar atau tidak.

Saat Yura sibuk dengan pikirannya yang kacau, membuatnya tidak menyadari bahwa Masamune dan Yukimura berada di depannya sambil berpegangan tangan yang kembali membuatnya merasa iri melihatnya setelah sadar dari pemikirannya yang sangat sulit Yura jelaskan dengan kata. "Yura! Apakah kau tidak ada kerjaan?" tanya Yukimura dengan nada polosnya.

"Iya. Ada apa?"

"Kalau begitu, pergilah ambil makan untuk kami. Kami sangat lapar tapi kami masih ingin bermain di wahana lain. Boleh?"

Saat Yura ingin menolak permintaan Yukimura, Masamune langsung menambahkan kata-kata yang membuat hati Yura merasa nyeri sekaligus hancur mendengarkan apa yang di katakan Masamune kepadanya.

"Ya, pergilah ambil makanan untuk kami, Yura. Jika kau merasa bosan menunggu kami bermain, kau boleh pergi menemui Tsuruhime atau Runa. Mungkin kami akan lama bermain karena banyak wahana bermain di sini. Jadi, ku pikir lebih baik aku menghabiskan waktuku bermain sekaligus bertarung dengan Sanada."

Kata-kata tersebut terus berulang di kepalanya. 'Masamune-sama…' Yura merasa 'kan bahwa air mulai menggenangi matanya. Setelah Yura mendengarkan kata-kata itu, dia langsung berlari menjauh dari mereka bertiga. Tidak memperdulikan Kojuurou yang berteriak memanggil namanya dan Masamune yang heran melihat perilaku Yura dan Yukimura yang tersenyum bahwa rencananya telah berhasil.

.

.

Yura terus berlari di antara kerumunan pengunjung dan kadang dia tidak sengaja menabrak pengunjung. Dia terus berlari, tidak menyadari bahwa ada sepasang mata menatap Yura dengan tatapan membunuh.

"Aku menemukanmu, Yu~ra~"


Scene XI - Akari Toru?!

"Hiks, kenapa dunia ini sungguh kejam? Setelah kematian seluruh keluargaku, sekarang aku harus menerima fakta bahwa Masamune-sama tidak menyadari perasaanku? Apakah selama ini Masamune-sama hanya mempermainkan perasaanku? Apakah pilihanku selama ini benar atau salah?! Hiks…." Tangis Yura pecah saat dia berhenti tidak jauh dari wahana bianglala. Yura melepaskan seluruh peralatan ninjanya dari dalam kimononya dan membuangnya ke semak-semak, tidak memperdulikan jika peralatan tersebut akan di ambil atau masuk ke dalam sebuah lubang.

Yura terus menangis dalam diam sambil memutar kembali peristiwa saat keluarganya terbunuh di depan matanya. Yura tentu saja mengetahui siapa pembunuhnya tetapi dia takut jika teman-temannya mengetahui masa lalunya kecuali Runa dan Kojuurou. Dia takut jika mereka akan menjauhinya karena dia adalah salah satu korban pembunuhan massal di klannya. Memorinya terus bermain di kepalanya. Memori saat dia masih memiliki keluarga, memori saat dia menemukan teman, dan memori saat dia pertama kali melihat orang yang di sukainya. Dia adalah One-Eyed Dragon, Date Masamune.

KRESEK KRESEK

Yura segera mengangkat kepalanya setelah mendengar suara tersebut, menghiraukan air matanya yang terus mengalir di pipinya dan bersiap menyiapkan peralatan bertarungnya hingga dia menyadari bahwa…

"ASTAGA GUE BEGO BANGET! KENAPA GUE HARUS MEMBUANG PERALATANKU DI SAAT YANG GENTING SEPERTI INI?!" —dia telah membuang semuanya ke arah semak-semak, tempat suara itu berasal. 'Tch. Mungkin sekarang ini, aku harus mengandalkan kemampuan bertarung dengan tangan kosongku sendiri tapi akan sulit saat aku mengenakan kimono. Sialan! Hari ini sungguh sial!' batin Yura menjerit sehingga sifat berandalnya keluar.

Ah, author lupa mengatakan satu hal penting di dalam diri Yura mengenai sifatnya. Biasanya sifat Yura berubah sesuai keadaan di sekitarnya, contohnya saat Yura merasa panik maka dia akan menunjukkan sifat berandalnya sedangkan saat Yura merasa malu atau ada maunya maka dia akan menunjukkan sifat seorang keluarga terhormat alias sopannya luar binasa seperti scene berduan Yura dengan Masamune sebelumnya. Mari kita lanjut ceritanya! Action!

Yura hanya terus mengumpat dalam hatinya betapa sialnya dia hari ini, setelah di kacangin dan di lukai hatinya oleh Masamune dan Yukimura, sekarang dia harus menghadapi musuh dengan tangan kosong di tambah dengan kimono yang akan mempersulit pertarungannya. Dia ingin merobek kimono yang di kenakannya untuk mempermudah pertarungannya namun dia mengingat jika kimono ini milik almarhum ibunya sehingga dia mengurungkan niatnya. Karena sibuk mengeluarkan beberapa kalimat mutiara dalam batinnya, Yura tidak menyadari bahwa sesosok bayangan berjalan mendekati Yura dengan seringai psikopat.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Yura-chan~ Apa kau merindukanku? Apa kau ingin bermain denganku? Atau… kau ingin membalaskan dendam terhadapku karena pembunuhan itu, Yura-chan~?" tanya bayangan yang sudah berada di hadapan Yura dengan nada yang menyebalkan (bagi Yura) sambil memainkan helaian rambut Yura.

Mendengar itu, Yura hanya menundukkan kepalanya karena dia sangat mengenal pemilik suara ini. Suara yang telah membuat seluruh keluarganya tewas dan suara yang telah membuatnya menderita. Yura membuka mulutnya dan menyebut nama bayangan di hadapannya. "Akari Toru. Apa yang kau lakukan di sini?! Apakah tidak cukup kau membuatku menderita?!"

"Hm? Kenapa kau terlihat tidak senang? Ah, apa karena aku di sini seperti katamu tadi…," Bayangan yang bernama Akari Toru tersebut menghentikan kata-katanya setelah melihat reaksi Yura, seolah-olah mengetahui lanjutan kata-katanya. Dia menyeringai dan berkata,"atau… kau sakit hati karena One-Eyed Dragon terlalu banyak bersenang-senang dengan rivalnya?"

Yura membulatkan kedua bola matanya setelah mendengar kata-kata barusan. Memang benar bahwa Yura tidak senang melihat Masamune sangat dekat dengan Yukimura daripada dia tetapi di satu sisi dia merasa bahwa dia mengejeknya. Yura mengeratkan kepalan tangannya, berusaha menahan dirinya untuk meninju orang di hadapannya.

"Apa kau sudah bosan hidup?" Akari Toru berjalan mengitari tubuh Yura dengan seringai yang masih lekat di wajahnya. Yura tidak dapat bergerak setelah mendengar kata-kata itu.

"Apa kau ingin bersama keluargamu? Terutama kembaranmu itu yang namanya siapa ya? Ah, Katsunawa Yuza, bukan?" Yura perlahan mulai menitikkan air matanya saat mengingat wajah bahagia keluarganya terutama adik sekaligus kembarannya yang sangat di sayanginya.

Yura jatuh terduduk ditanah dan membiarkan air matanya mengalir dari kedua mata birunya. Toru yang melihatnya membuat seringainya makin membesar dan mengambil sebilah kunai milik Yura yang di buang tadi lalu mengancungkan di leher Yura. Dia menggoreskan sedikit ke leher Yura, membuat setitik darah keluar dari luka goresan yang di buat Toru tadi jatuh ke kimono Yura. "Maka akan ku kabulkan permintaanmu yang tidak dapat kau katakan lewat mulutmu itu, Yura-chan~"

"YURA!"


Scene XII - Will You Marry Me, My Lady?

Saat Toru akan menusuk kunai tersebut ke leher Yura, dia segera mendengarkan sebuah suara yang membuatnya merasa risih dan segera pergi dari situ setelah membisikkan sesuatu ke telinga Yura. "Suatu saat, kita akan bertemu lagi dan aku tidak segan mengantarkanmu ke tempat keluargamu berada, Yura-chan~"

"YURA!" Masamune berlari menghampiri Yura yang sedang terduduk dan segera memeluknya erat seolah takut membuat Yura akan pergi darinya. Masamune terus memeluk Yura sampai dia menyadari bahwa Yura sama sekali tidak membalas ataupun menolak pelukan. Dia hanya menemukan Yura yang menangis dengan matanya yang kosong. "Yura? Are you alright?"

Yura yang baru saja menyadari keberadaan Masamune, hanya menganggukkan kepalanya yang membuat Masamune semakin khawatir. Masamune segera menghapus air mata yang masih saja mengalir dari pipi Yura dan mencium dahinya lalu kembali memeluknya dengan erat. Dan kali ini, Yura membalas pelukannya. "Masamune-sama, maafkan aku karena aku belum membawakan kalian makanan dan—"

"Shh, sekarang tenangkanlah dirimu. Soal makanan tidak perlu di khawatirkan, okay?"

"Maafkan aku, Masamune-sama…"

Suasana hening itu terus belanjut selamat 10 menit. Yura yang merasa sudah baikan mulai melepas pelukan Masamune. "Kenapa Masamune-sama berada disini? Bukankah Masamune-sama bermain dengan Yuki-chan?" tanya Yura dengan kepala yang menunduk.

Masamune pun hanya menghela nafas lalu mengacak-ngacak rambut Yura dan menjawab, "Karena aku mengkhawatirkanmu. Aku kaget melihatmu berlari dan menanyakan kepada Kojuurou alasan kamu berlari dari kami. Are you jealous?"

"Te-Tentu saja tidak kok! Hanya saja… jika itu membuat Masamune-sama bahagia, maka aku tidak berhak mengganggu kebahagianmu."

Mendengar jawaban itu, Masamune hanya tertawa dan kembali mencium pelan dahi Yura. "Yang membuatku bahagia itu hanya bersama dengamu, my lady." Pipi Yura segera memerah setelah mendengar kata tersebut dan kembali menundukkan kepalanya namun dagunya di tahan oleh Masamune. "Jangan berani mencoba menyembunyikan wajahmu dari One-Eyed Dragon ini, you see?" Masamune pun mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Yura dengan lembut dan segera melepaskannya, tidak membiarkan Yura untuk memikirkan apa yang sedang terjadi barusan. "Wajahmu sungguh imut ketika kau malu, my lady."

"Ma-Masamune-sama… yang tadi itu…"

"Tentu saja, aku menciummu. Because I love you, my lovely wife~" Dengan segera, Masamune mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin sapphire yang warnanya hampir sama dengan mata Yura dan menunjukkannya di hadapan Yura yang kembali berlinang air mata. "Will you marry me, my lady?"

Yura tidak menyangka bahwa yang di katakan Masamune sebelum masuk ke wahana bermain ini akan benar-benar terjadi. Yura segera memeluk Masamune dan berkata, "Aku bersedia!"

Masamune membalas pelukan Yura dan berputar-putar dengan Yura yang berada di pelukannya. Mereka terus melakukannya, tidak menyadari bahwa Yukimura dan Kojuurou menatap mereka sambil tersenyum senang.

"Sepertinya rencana Masamune-dono sudah berhasil, Katakura-dono?"

"Tentu saja. Sekarang One-Eyed Dragon telah memiliki seorang Lady Dragon untuk menemaninya sampai ajal menjemput. Dan kini giliranmu untuk menemukan seorang pendamping untukmu, Young Tiger Cub."

"Kupikir itu terlalu cepat untukku, hehehe," tawa Yukimura setelah mendengarkan perkataan Kojuurou dan kembali menatap kedua pasangan di hadapannya. "Aku, Sasuke, dan Oyakata-sama akan menantikan undangan pernikahan mereka berdua, Katakura-dono."

"Akan segera kubawakan untuk kalian."


A/N (Tassya): Huahhh, akhirnya giliran Masamune x Yura telah selesai di tanganku! *sujud syukur* Maafkan author yang satu ini karena tidak mengupdate fic ini selama 2 bulan lamanya akibat tugas yang menumpuk, ulangan yang terus muncul di mana-mana, serta keharusan author untuk ikut kerja kelompok yang kerjaannya itu mulu. Hah, nasib jadi kelas 9 *mojok*

Dan juga maafkan jika chapter kali ini sungguh nista + abal banget dengan endingnya yang... hah, susah di jelaskan dengan kata-kata. Ini di akibatkan oleh penyakit berbahaya tingkat 10 yang menyerang setiap author yaitu writer block! Bahkan untuk membuat alur chapter kali ini, author terus meminta ide dari teman-teman authornya yang lagi good mood, bad mood, dan yang susah move on *cipok teman-teman satu persatu* *di hajar massa*

Sekali lagi maafkan jika a/n kali ini hanya berisi curhatan author dan tolong turunkan piso itu, mak *menurunkan piso dari author sebelah*

Review?