Well, setelah kemarin mengupdate satu chap, ternyata itu membuat saya semangat untuk melanjutkan fic ini. Actually, biar enggak terlantar sih. Hehehe,
Yosh, saya cukup surprise ternyata masih ada temen-temen author yang bersedia menengok fic terlantar ini. Really, thanks a lot guys.
Dan, here we go to chapter 3.
DON'T LIKE DON'T READ!
BLEACH FANFICTION
Rated ; T
Ichigo Kurosaki-Rukia Kuchiki
Indonesian
Friendship, Romance
AU, AT, OOC, ABAL, GAJE, TYPOS
Disclaimer ; Until the end, BLEACH always Kubo Tite's *music background : until The End by a7f*
MY SCHOOL, MY DISASTER!
CHAPTER 3
"Kau bercanda, Rukia! TI—DAK!" teriak cowok orange yang tengah kesal itu.
"Kau bilang apa, Kurosaki-san? Aku memberimu tugas awal untuk mengenali sekitarmu. Apa kau tahu betapa susahnya menjadi 'guide' bagi segrombolan cowok baka macam kalian bertiga?" deathglare yang mulai familiar dari gadis cantik itu tidak lagi terlalu mengintimidasi Ichigo. Hanya saja, sedikit 'shiver' memang masih muncul di balik sumsum tulangnya. Tapi hanya sedikit kok, serius.
"Oh ya?" Ichigo menjawab sarakstis. Kau tahu lah, ia yang dulunya tak pernah mendapat tugas menjijikkan macam itu kini harus mulai terbisa dengan kekuasaan yang dimiliki oleh "your majesty" Nona Kuchiki-Baka-Rukia. Melihat cowok bandel di depannya yang malah melipat lengan diatas dada membuat temperatur otak Rukia naik beberapa derajat celcius.
"Sekali lagi kubilang, lakukan atau tidak ICHIGO KUROSAKIIII?"
Ichigo menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Siiigh, can you just shut up and let me know whats your point is? I didn't see the urgency to do your ask!"
"Aku adalah guide mu, aho. Kalau kau ada keluhan, sampaikan itu pada kepala sekolah. Jadi, cepat lakukan apa yang kusuruh!" oh, kau pikir Rukia akan takut dengan ancaman bernada rendah dari cowok tinggi itu?
"No. Aku tidak mau, lakukan saja sendiri!" lagi-lagi jawaban keras kepala yang terlontar dari Ichigo.
"Apa kau baru saja menyuruhku?" Rukia bertanya dengan nada tajam.
Dengan sedikit mengangkat bahu, Ichigo menjawab tenang.
"Menurutmu?"
Gigi Rukia bergemeretak melihat ulah salah satu dari 3 orang bodoh yang diserahkan padanya itu.
"Ichigo Kurosaki, detensi pertama akibat 1. Melanggar perintah dari Ketua Komite Ketertiban. 2. Melakukan hal tidak sopan dengan menyuruh Ketua—"
Perkataan gadis berambut hitam itu terputus, karena Ichigo sudah membelakanginya dan menyambar blazer yang tadi ia lemparkan ke sofa ruang yang menyimpan hawa setan itu. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Kebebasan.
"Wherddaya think youre going, jackass?" tanya Rukia kesal sambil menyambar kameja Ichigo dari belakang. Menyebabkan cowok itu berhenti mendadak.
"Pulang. Ada masalah?"
"Oh well, tentu saja. Silakan pulang setelah kau lakukan tugasmu, boy!"
Ichigo berbalik, meraih Rukia. Memegang erat bahu mungil gadis itu.
"Apakah kau berniat menyiksaku, Nona?" tanya Ichigo menggoda, ia menelengkan kepala mendekat. Tapi, satu hal yang tidak Ichigo ketahui,
"OWWW, shit! Apa-apan itu?" teriak remaja tanggung itu sambil mengusap dagunya. Karena, yeah, baru saja Nona Kuchiki Rukia melayangkan pukulan karate yang dulu ia pelajari pada dagu Ichigo.
"Asal kau tahu, Kurosaki-san! Aku punya kewenangan mutlak atas hidupmu di sekolah ini!"
Ancaman singkat Rukia yang ia lakukan sambil kembali ke tempat duduknya yang nyaman.
"Seriously Rukia, apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu? Lagipula, hidupku jauh lebih baik tanpa campur tanganmu!"
Rukia mengangkat mukanya, senyum setan nampak di bibirnya.
"Benarkah?" tanyanya sinis—lebih tepatnya meremehkan. Baru kali ini ia menemukan siswa yang over percaya diri dan meremehkan kuasanya.
"Kau tahu Ichigo kenapa Institute ini sering menerima siswa-siswa gagal macam dirimu? Itu karena kami punya sistem yang akan 'menjinakkan' kalian," kata Rukia. Ia tengah membuka segel air mineral dalam botol, menuang isinya dalam gelas dan meminumnya.
Ichigo menyandarkan tubuhnya pada pintu ruangan tersebut. Tertawa kecil.
"Lucu sekali...hanya saja ada yang kau lupakan your grace, kami bukan anak yang mudah dijinakkan oleh sistem mu itu, apapun namanya." Itu ucapan selamat tinggal? Atau ancaman balik dari Ichigo? Sebab setelah ia mengatakan itu, ia segera menghilang dari balik pintu.
Cowok itu menyusuri koridor institute yang sepi. Menyebalkan sekali berinteraksi dengan makhluk keturunan iblis macam cewek itu. Ia meraih handphonenya dari saku kameja. Benda kecil itu mengedip, menampakkan pesan masuk. Saat ia membukanya, ada nomor asing yang mengirimi ia pesan.
—Maaf jika lancang, Tuan kurosaki. Tapi, mari kita lihat siapa sebenarnya yang berkuasa disini—
Oh, jadi cewek kejam itu mengibarkan bendera perang ya? Ichigo menyeringi saat membacanya.
"Whatever..." gumamnya tidak peduli. Ia lupa, status Rukia di sekolah itu.
~*bleach*~
Grimmjow terlantang malas di sofa apartemen kecil yang disediakan orang tua mereka bertiga untuk tinggal sementara mereka "menuntut ilmu" di Las Noches Institute.
Ia membiarkan kakinya menggantung di ujung sofa. Semua badannya sakit akibat duel yang ia terima dengan paksa kemarin. Gara-gara cewek keturunan setan itu, semua jadi kacau. Apakah semacam ini sistem kedisiplinan yang diinginkan Mum-nya untuk membuat ia menderita?
Suara televisi yang tengah membicarakan tentang kasus pembunuhan yang terjadi pada seorang perdana menteri negara tetangga. Ia tidak sekolah. Kemarin, setelah hampir mati menerima serangan Tatsuki-bitch dan Kenpachi-monster, ia dikirim ke pusat kesehatan Institute. Mendapakan pelayanan singkat sebelum akhirnya dipapah teman saljunya untuk pulang. Dan sekarang? Dia terkapar di apartemen mereka bertiga, meratapi nasib.
"Kuchiki brengsek.." gumamnya dari tadi. Ia meraih teh kotak yang terbuka dari meja kaca elips yang ada didepannya. Menegak isinya dalam waktu singkat saat tiba-tiba pintu ruang tamu itu terbuka.
Ichigo melangkah masuk dengan muka kesal—err, bukankah wajahnya memang selalu nampak kesal seperti itu? Mengingat kerutan di dahinya yang permanen dan mata tajamnya.
"Kau gila ya?" tanya Grimmjow saat melirik jam yang terpapar di layar televisi. Ini baru jam makan siang, dan itu artinya, teman orangenya itu membolos.
"Karena gila lebih baik dari pada berhadapan dengan iblis Las Noches itu." Jawabnya sembari melepaskan blazer dan menghempaskan tubuhnya di sofa seberang meja dari Grimmjow.
"Gadis Kuchiki itu? Bagaimana kalau kita membunuhnya?" tanya Grimmjow. Umm, serius. Ia jadi bisa begitu mengerikan saat tahu harga dirinya terinjak-injak.
Ichigo menyambar soda kaleng yang terlantar di ujung meja, membuka tutupnya pelan dan menegak isinya. Tapi,
BRUUSSSSSHHHH... semua soda yang sudah masuk ke mulutnya itu tersemprot keluar. Tetes-tetes sisa minuman ringan itu membasahi kamejanya. Sofa tempat ia duduk juga menjadi korban, apalagi blazer sekolah barunya itu. Semua basah. Grimmjow nyengir melihat temannya itu,
"The Fu— soda apa-apaan ini Grimm?" teriak cowok orange itu sambil mengusap bibirnya dengan tissue. Grimmjow yang masih nyengir hanya mengusap matanya. Sudut-sudut mata birunya itu menampakkan air mata akibat usaha kerasnya menahan tawa.
"Dasar bayi, sampai kapan kau tidak bisa minum bir eh? Percuma tampang sangar mu itu.." kata Grimmjow mengejek.
"Shit, kau memang brengsek Grimm!" Gerutunya sambil bangkit menuju kamarnya. Oh yeah, Ichigo tidak pernah suka yang namanya bir. Sekalipun itu tanpa alkohol dan legal untuk usia macam mereka.
Grimmjow masih menahan tawa diantara sakit memar tubuhnya. Ia terbiasa meminum minuman ringan seperti itu, karena yeah, itu menyegarkan kau tahu? Selama Mum-nya tidak tahu, ia baik-baik saja bukan? Pikirnya usil.
Getaran ponsel yang ada di meja depannya membuat ia berjuang keras mengulurkan tangannya yang berperban. Geez, kenapa efek monster itu tak juga hilang? Menyakitkan sekali...
—Hunny, Mum datang malam ini, hanya ingin tahu bagaimana hari barumu disekolah baru. Luv You, sayang XO—
WHATTT?
Grimmjow terlempar dari sofa karena pesan singkat itu. Oh benar, Mum tersayang. Itu artinya, ia dalam kesulitan.
~*bleach*~
"No, Gin. Kau harus bisa membantu kami. Bukankah kau bilang, kau penyelamat kami?" Ratap Grimmjow putus asa sambil memegang erat lengannya yang penuh perban.
Gin, disisi lain tengah menggaruk kepala saljunya yang tidak gatal. Err, siapa yang tidak grogi kalau kau disuruh menghadapi Yang Terhormat Nona Kuchiki Rukia, untuk memintanya melakukan 'favor' untuk teman birunya itu? Menghadap Rukia tanpa memintanya melakukan sesuatu saja sudah membuat sum-sum tulangnya menyusut, apalagi sekarang?
"Ta-tapi Grimm, kau tahu ka—"
"Tidak tapi Gin, kau mau melihatku terbunuh ditangan Mum-ku sendiri?" Mata biru Grimmjow berkaca-kaca, err, bukan. Ia tengah menahan khawatir akibat berita kedatangan Mum-nya tersayang. Ohh, tentu kalian ingat dengan ancaman yang dulu disampaikan Retsu-san untuk puteranya itu bukan? Dan, Grimmjow bukan orang yang bisa melawan Mumnya, bahkan sampai mati sekalipun.
Ichigo menyaksikan drama romantis,eh bukan—mengharukan yang tersaji dalam kamar Grimmjow itu. Melihat teman birunya yang duduk putus asa dibibir ranjang dan Gin yang berdiri kaku di sebelahnya.
"Gin, kau penyelamatku..."
Bulu kuduk cowok remaja berambut salju dan senja itu berdiri tegak. Bagaimana tidak, bukankah Grimm yang merupakan teman mereka belum pernah merintih laiknya cewek? Dan sekarang? Orang itu seperti cewek tak berdaya yang baru saja diputuskan orang yang menjadi cahaya hidupnya. Hah. Kau tentu tahu, semerinding apa mereka mendengar suara Grimmjow.
"Ja-jadi Grimm, apa yang harus kulakukan?" Gin yang merinding mendengar suara Grimmjow barusan akhirnya menyerah. Lebih baik menghadapi Rukia dari pada melihat teman birunya berubah menjadi errr, a wimp?
"Ohhhhh... " binar-binar kebahagian bertabur di balik tubuh Grimmjow. Pelangi melengkung dibalik mata birunya, dan jangan lupakan sapuan angin laut yang menghembus dari wajahnya. Bukan, itu tadi hanya khayalan Ichigo yang tengah menatap teman birunya itu tanpa berkedip. Well, melihat kebahagian Grimmjow yang meluap-luap ia jadi membayangkan sesuatu yang mustahil.
"Bilang pada Nona sombong yang cantik itu untuk mengatakan pada Mum bahwa ia tak harus datang, karena tak ada sesuatu yang aneh terjadi disini."
Gin mengedipkan mata sesaat. Apakah ia tak salah dengar? Barusan Grimmjow baru saja menyebut Rukia, cantik? Iya kan?
Ichigo juga, ternganga. Rukia? Cantik? Dua kata itu tidak boleh diletakkan dalam satu kesatuan kan?
"Grimm, kau-kau..." Gin, yang memang sejak awal sudah menyadari betapa Rukia dan cantik adalah kata yang pas diucapkan jadi kaget sendiri.
"Syuuuhhh... cepatlah sebelum Mum berangkat dari Karakura!" Grimmjow mengibaskan kedua lengannya untuk mengusir sahabat saljunya itu. Kedua kakinya yang tergantung disisi ranjang bergerak-gerak seperti Conan yang tengah duduk dikereta dan membohongi Kogoro untuk mengajaknya pergi. Errr, begitulah.
Ichigo berjalan mundur dari ruangan itu. Melangkahkan kakinya setapak-demi setapak. Pergi sebelum, taman birunya itu menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang mengancam nyawanya.
Bagaimana jika Grimm tiba-tiba menyuruhnya untuk menemani Gin menghadapi keturunan iblis penghuni ruang kedisiplinan Las Noches itu? Atau, bagaimana jika Grimm menyuruhnya menemui Retsu-san dan berpura-pura menjadi tumbal demi keselamatan si biru laut? Atau, bagaimana jika Grimmjow memintanya menemani ti-tidur dikamar itu? NOO! Karena itulah, Ichigo bergegas melarikan diri dari ruangan mewah bercat biru laut yang menjadi kamar temannya.
Ia mendengar Gin yang juga berlari menuju pintu keluar. Mungkin ia berniat menjemput nona Kuchiki atau mungkin ia sudah punya rencana bagaimana menghadapi monser berwajah mengerikan itu? Hanya saja, Ichigo juga tidak berniat berada di dalam apartemen itu. Kalau-kalau, Retsu-san datang dan langsung melancarkan tatapan penuh urgensi kematiannya pada mereka semua.
Ia membuka pintu apartemen setelah meraih jaket cokelatnya, ketika tiba-tiba saja ditubruk-lebih tepatnya dipeluk dengan kecepatan shunpo—seperti yang sering dilakukan tokoh anime berambut orange yang mempunyai nama sama persis dengannya. Heran bukan?
"Upphh.." napas Ichigo sempat terhenti sesaat. Tidak begitu melihat siapa sosok yang tengah memeluknya itu kecuali rambut hitam keunguan dan pita mera—apa?
"Icchiiiiiiiiiiiiiii..." teriak sosok itu sambil melepaskan pelukan mautnya dari Ichigo. Meloncat-loncat kegirangan. Dengan mata hazel yang juga persis mata miliknya, berbinar-binar dan membulat senang. Bagaimana tidak senang saat kau menemukan sepupumu yang bisa kau jadikan ATM berjalan, yang menjadi nannymu saat kau ingin dimanja? Yang menjadi pesuruh saat kau malas mengerjakan semua tugas? Ohhh, ini surga.
Ichigo yang menyadari siapa gadis itu, membulatkan matanya.
"Se-Senna?" sapanya kaget. Arrggh, ia lupa. Sepupunya yang merepotkan itu juga sekolah di Las Noches. Itu artinya, sosok penyiksa akan bertambah.
"Kau harus mengunjungi Jii-san!" teriaknya sambil menarik Ichigo menuju lift. Sambil masih meloncat-loncat senang. Tidak peduli dengan Ichigo yang merintih kesal. Menemukan satu lagi keturunan iblis yang pasti akan memperburuk hari-harinya.
~*bleach*~
Gin berulang-ulang menarik napas panjang. Ia menatap kesepuluh jemarinya yang baru saja terkena serangan tremor mendadak. Ia tengah menyusuri trotoar yang mengarah ke sarang sang cenayang-bukan, ke rumah Kuchiki Rukia. Jangan tanya darimana ia mendapatkan alamat itu, tanyakan saja padanya apa ia sudah menyiapkan jimat yang mampu menangkal kekejaman deathglare nona muda itu.
Ia mengeluarkan peta kertas yang dibuatnya secara kasar yang menuntunnya menuju kediaman keluarga Kuchiki. Dan, ujung-ujung peta kertas itu basah oleh keringat dari tangannya. Bukan, bukan keringat karena kelelahan seperti yang kalian pikirkan. Tapi, itu keringat dingin yang sejak ia melangkah menuju arah rumah ini mulai mengalir deras. Kau tahu, ia ketakutan setengah mati.
Bukan takut Rukia akan membunuhnya, tapi takut jika gadis itu akan kembali menyiksanya untuk mencari file arsip seperti yang dialaminya 2 hari lalu. Kalau kau alergi dan jijik dengan debu, mencari file dari gudang yang tak pernah dijamah adalah mimpi buruk. Lagi pula, bukankah banyak pegawai kantor yang lebih tahu dibanding dirinya? Atau memang, nona mungil menggemaskan itu berniat menyiksanya? Cih, andai saja hidupnya masih di Karakura High seperti minggu lalu. Kejadian mengenaskan itu tentu tak akan dialaminya. Disana, dia bisa mendapatkan apapun yang di dinginkannya dengan mudah, termasuk cewek-cewek cantik yang senantiasa melemparkan diri padanya. Oh, ia tidak bodoh. Ia cowok remaja normal dengan hormon aktif, kau tahu? Dia mengaku bodoh sudah menawarkan diri ikut dengan kedua sahabat tololnya itu. Tapi, bukankah ia memang tidak pernah bisa hidup tanpa mereka berdua. Errr, ja-jangan salah paham. Itu hanya karena mereka akrab sejak bayi.
Gin lagi-lagi melirik jemarinya. Tremor yang dialaminya bukannya mereda, justru makin parah. Memalukan. Bisiknya dalam hati.
Entah itu kebetulan atau bencana, saat ia mendengar suara merdu laiknya nyanyian bidadari surga memanggil namanya. Melalui getar-getar udara, merambat hingga ke gendang telinganya yang kemudian di teruskan melalui koklea hingga ke saraf-saraf pendengaran mungilnya.
"Ichimaru-san?"
Gin menoleh. Manatap titisan dewi Aphrodite memanggilnya, berdiri anggun dengan baju terusan berwarna hitam kekanakan serta jaket ungu amethyst tergantung di lengannya. Oh, juga kalung panjang berliontin kelinci imut berwana putih yang bergerak-gerak kecil efek dari angin malam itu. Tatanan rambut yang sederhana, dengan sedikit poni yang tersapu angin malam, juga bibir pinkish nan ranum itu. Pipi putih yang chubby dan bersemburat merah akibat sorot sinar lampu menjelang malam. Imuuutnyaaaaa. Pikir Gin gemas.
"Ru-Kuchiki-san?" sapanya setelah mengalihkan pandangan. Menatap wajah mungil yang memancarkan cahaya itu.
"Mau kemana sore-sore begini? Ini sudah hampir malam lho Ichimaru-san"
TOENGG. Bukankah seharusnya ia yang bertanya demikian. Bukankah Rukia-lah yang merupakan gadis?
"Ehehe..i-ini, mau-errr, mau kerumah Kuchiki-san?" bodohh, rutuk Gin dalam hati.
Rukia membulatkan mata amethystnya sedikit.
"Kerumahku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Kawaaaaiiii. Lagi-lagi otak Gin berteriak histeris. Ada alasannya kenapa dulu ia dijuluki the sexist pig-fox.
"Benar, emmh.. jadi, ini karena Grimmjow, Kuchiki-san" jawab Gin mulai menenangkan diri. Heran, aura mengerikan yang dimiliki Rukia saat disekolah sepertinya tidak tersisa saat ia memakai baju kasual yang manis itu.
Rukia menelengkan kepalanya sedikit. Ia mengajak cowok salju itu duduk di bangku panjang yang ada di depan sebuah toko bunga.
"Ada masalah apa dengan Jeagerjacquez-san?" tanyanya sambil menatap Gin penasaran.
Ohh, lihat-lihat. Background Rukia adalah tatanan bunga lili putih yang sedang mekar. Ia seperti bidadari yang turun dari Soul Society. Look, how cute she is.
Gin mengerjapkan matanya.
"Err, Retsu-san akan datang. Ta-tapi, menurut Grimm sebaiknya tidak usah saja. Mengingat, ehh yeah well.. kondisinya."
"Jadi? Hubungannya dengan ku?" tanya Rukia lagi.
"Kuchiki-san, tolong katakan pada Retsu-san untuk membatalkan rencananya!" Gin berdiri didepan Rukia. Membungkukkan badannya.
Justru tawa yang di dengar Gin terlontar dari bibir pink sehat gadis cantik itu.
Gin mengangkat wajahnya heran. Menemukan Rukia tertawa terbahak-bahak. Sampai sudut matanya keluar air mata.
"Kuchiki-san?"
"Ahh, haha.. ya Tuhan. Grimmjow..." Suara Rukia disela-sela tawa tergelaknya.
"Ku-Kuchiki-san?" kini Gin lah yang khawatir dengan kondisi Ketua Komite Kedisiplinan itu.
"Tidak perlu, Ichimaru-san. Aku baru saja menemuinya barusan disekolah. Dan Jeagerjacquez-san segera kembali ke Karakura karena ada urusan mendadak. Si bodoh itu akan baik-baik saja!"
Apa?
~*bleach*~
To be Continued... ^^
Nee, Gomen minna. Hanya sesingkat itu yang bisa saya tulis minggu ini.
Arigato untuk kesediaannya menunggu. Dan, mind to review?
