Hallo Minna~. Ada yang lagi nunggu lanjutannya nggak? *nggakada* *pundung*

Okelah lanjut aja..

Declaimer : Masashi Kishimoto

Story : Another Version of Another Cinderella Story

Warnings : Typos, abal, OOC, etc/

Chapter 3 : At Itachi's house pt.1

#...#

Hari ini adalah hari perjodohan mereka. Ya, mereka. Sasuke dan Sakura. Padahal mereka masih kelas satu SMA, tapi sudah dijodohkan. Benar benar tak wajar. Mungkin wajar bila hal itu untuk tujuan bisnis. Yah~ hal semacam itu sudah tidak asing lagi di jaman sekarang ini.

Kami bertiga, aku, Sasuke, dan Sai telah menyelesaikan sekolah kami hari ini. Seperti biasa *Ann: padahal masih dua hari, sudah dianggap biasa oleh Ino**dijitak Ino*, kami pulang menaiki mobil. Dan kali ini, Sasuke yg mengemudi. Anehnya, jalur ini bukan jalur menuju rumah. Kemana lagi mereka akan membawaku hari ini? Dan lagi, bukannya Sasuke harus menemui kolega ayahnya?

"Sasuke! Jelaskan padaku! Kau tidak berniat kabur dari perjodohan itu kan?" tanyaku seraya mendekat ke kursi kemudi.

"Ck. Diam saja kau, Blondie!" jawabnya so typical of Sasuke. Menyebalkan.
Aku pun beralih pada Sai.

"Sai, kau tak keberatan menjelaskan padaku kan?"
Senyum terpatri di wajahku untuk Sai. Ya iyalah untuk Sai, lagian siapa juga yg mau melempar senyum pada pria stoic yg tengah mengemudi di depanku ini. Membuang buang waktu saja. Mending untuk Sai, walau tak ikhlas pun, ia tetap membalas senyumku.

"Kau benar, Ino. Sasuke tak mau dijodohkan,"

"Apa alasannya?" tanyaku mulai penasaran. Mencari pikiran Sasuke, seperti mencari harta karun. Sepertinya bakal menyenangkan.

"Entahlah, kau bisa tanyakan sendiri padanya,"
Oh tidak. Pencarian harta karunku menemui jalan buntu. Kalau seorang Sai tidak diberitahu alasannya oleh Sasuke, mana mungkin seorang Ino mendapat jawabannya? Mendokusei ne~.
Aku kembali mengalihkan atensi pada Sasuke. Tapi, apa salahnya dico-,

"Kau tidak akan mendapat jawabannya, Blondie," bah seorang pesulap, ia dapat membaca pikiranku. Benar benar menyebalkan.

Dengan perasaan kesal, aku menjatuhkan diri kembali ke kursi penumpang. Kalau dipikir pikir, aku memang tak punya hak untuk mencampuri urusan orang lain, tapi paling tidak..apa ya? Aku seakan berharap sesuatu bahwa Sasuke menolak perjodohan karena..karena..ak-

Aargh, apa sih yg kupikirkan? Tidak, tidak. Pasti ada yg salah padaku. Oiya, sepertinya aku lupa untuk periksa asmaku kemarin, yah~ yg pasti karena pergi ke taman bermain dgn mereka.

CIITT

Suara rem mobil menyadarkanku. Oh, ternyata kami telah sampai di suatu..bukit? Bukan, tapi hutan. APA? Hutan?

"Apa yg akan kita lakukan di hutan ini? Kenapa harus di hutan? Dan hutan milik siapa ini? Apa kita sudah punya izin masuk?" tanyaku setelah keluar dari mobil.

"Menurut Sasuke, hutan Nara adalah tempat aman untuk bersembunyi dari kejaran tangan kanan Tuan Fugaku," jawab Sai kemudian mengikuti langkah Sasuke menuju sebuah pohon besar. Sasuke benar benar ingin kabur dari perjodohan itu.

Aku pun mengikuti mereka.
Hutan Nara sangatlah luas. Pohonnya besar besar namun tak terlalu rapat. Rindang sekali, nyaman digunakan untuk tiduran.

Sasuke berhenti kemudian menidurkan diri di balik bayangan pohon besar itu. Diikuti oleh Sai yang mengambil tempat di samping kirinya.

Aku hanya berdiri mengamati ekspresi ngantuk mereka. Mata mereka sama sama terpejam. Membuatku iri saja. Aku juga ingin tidur.
Hanya saja, sesuatu terus memenuhi benakku. Aku tak dapat bersantai dengan mudahnya.
Bagaimana kalau tangan kanan Tuan Besar Fugaku menangkap kami? Tak tertangkap pun, sepulang kami dari sini pasti akan mendapat banyak teguran.
Aku hanya takut, kalau sampai kelakuan Sasuke ini melibatkanku, dan menyeret nama Nenek Chiyo, kami akan dipecat, dsb.

Di sisi lain, aku penasaran dan sedikit lega karena keputusan Sasuke yang membatalkan perjodohannya. Aku tak tau mengapa. Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Atau mungkin belum mengerti.

"Hey, Blondie! Kalau kau tak ikut tidur, pastikan kau membangunkan kami nanti sore. Jadilah anjing yang baik," oh, yang benar saja. Apa katanya? Anjing baik? Kau benar benar menyebalkan Sasuke.

Tapi, untuk saat ini, aku tak mau berdebat dengan pemuda satu ini. Aku pilih pilihan pertamanya saja. Kulangkahkan kakiku di samping kanannya. Mengambil posisi tidur menyamping menghadap Sasuke. Kenapa menghadap Sasuke? Aku hanya ingin memastikan dia dan Sai masih bersamaku ketika aku terbangun nanti. Wajar kan, kalau aku khawatir, aku takut kalau Sasuke mengerjaiku dengan meninggalkanku di sini, sama seperti ketika di rumah hantu waktu itu.

Tapi, hal itu terlalu kejam bila dilakukannya di saat saat seperti ini.
Kupejamkan mataku perlahan, mencoba untuk masuk ke dunia mimpi.

#...#

Aku merasakan sebuah tangan menyapu pipiku pelan, membuatku mengeliat pelan. Aku tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Yang kuingat aku, Sasuke dan Sai tertidur di hutan Nara. Aku mencoba meraih kesadaranku kembali. Seberkas cahaya masuk ke mataku secara tiba tiba. Kukedipkan mataku berulang ulang demi membiasakan diri dengan lingkungan di sekitarku. Aku mengambil posisi duduk.

Siluet yang pertama kutangkap adalah Sai, ia duduk tepat di depanku dan sesuai kebiasaannya, ia tersenyum.

"Sai?" gumamku.

"Sudah sore, ayo kita pulang," ajaknya padaku. Oh ya, aku teringat sesuatu.

"Sai? Kaukah yang membangunkanku tadi?" tanyaku begitu aku ingat sentuhan di pipi yang sempat mengusik tidur nyenyakku tadi.
Sai hanya tersenyum sambil berdiri, tangannya diulurkan padaku, memberi sedikit bantuan untukku berdiri.

"Menurutmu?" Sai justru tanya balik. Apa jangan jangan bukan Sai yang membangunkanku?
Aku hanya menggeleng isyarat jawabanku padanya.

"Sasuke langsung pergi begitu melihatmu terbangun," kata Sai tiba tiba. Sontak saja aku terkejut. Aku tak mengerti dengan kata katanya, tapi aku sedikit mendapat petunjuk. Sentuhan tangan tadi..benarkah itu sentuhan tangan asli? Atau hanya ilusi mimpiku? Dan jawaban Sai, seolah mengarah pada Sasuke yang menjadi tersangkanya, mungkinkah Sasuke..

"Ayo, cepat! Kita harus pulang," kata Sai yang menarikku menuju mobil. Kulihat Sasuke telah bersiap di kursi kemudi.

Ingin kubertanya pada Sai sekali lagi, tapi ia keburu masuk mobil. Aku pun urung melakukannya.

Memiliki benak semacam itu saja, sudah membuat jantungku berdetak tak karuan, wajahku pun menghangat, aku tak berani menanyakannya.

#...#

"Blondie! Cepat turun!"

Sasuke memberi isyarat padaku untuk mengikutinya keluar mobil. Kami belum sampai di rumah, masih di tengah perjalanan. Tapi kenapa harus berhenti?

Merasa harus mencari jawabannya, aku ikut turun. Sasuke menggandeng tanganku menjauh dari mobil. Sementara Sai, ia tidak ikut, ia menunggu kami di dalam mobil sesuai perintah Sasuke tentunya.

"Kita mau kemana?" tanyaku.
Ia tak menjawab dan terus menarikku ke sebuah counter penjualan hp.

"Pilih salah satu! Biar kubayar,"

Sasuke menyuruhku memilih hp. Dari kata katanya sepertinya aku akan mendapat ponsel gratis. Yay! Toh, aku juga belum punya benda elektronik itu sepanjang hidupku. Dengan begini, aku bisa menghubungi Nenek Chiyo kapan saja tanpa harus meminjam ponsel temanku.

Tapi, kenapa Sasuke hari ini begitu baik hati membelikanku benda penting seperti ini?

Daripada berpikiran buruk tentangnya terus, lebih baik mengikuti permintaannya. Toh, ini juga menguntungkanku.

Setelah kuamati, aku pilih ponsel berwarna ungu bermotif bunga bunga. Ponsel yang kupilih mirip dengan punya teman temanku, hanya warna yang membedakan. Ponsel itu bertipe buka tutup, cocok sekali untuk seorang gadis.

Sesuai janjinya, Sasuke membayar ponsel yang kupilih dan kami kembali ke mobil kami. Tak lupa Sasuke juga memasukkan card untuk ponselku. Dan setelah kuamati, telah terisi nomor kontak Sasuke, Sai, manshion Uchiha, dan beberapa nomor pelayan keluarga Uchiha. Untuk nomor teman temanku, aku bisa minta mereka besok.

#...#

Sesuai dugaanku, kami mendapat teguran bertubi tubi dari Tuan Besar Fugaku. Atau lebih tepatnya Sasuke yang mendapat teguran teguran itu. Sai dan aku hanya diberi sedikit peringatan.

Haah..syukurlah, masalah ini tak menjadi besar seperti dugaanku.

"Ingat Sasuke! Kalau kau masih seperti ini, aku tak segan segan mengambil alih hakmu atas Sai, ia bisa saja menjadi tangan kananku untuk terus mengawasimu," ancam Fugaku pada Sasuke.

Kulihat ekspresi kesal Sasuke. Aku mengerti perasaannya, kalau aku menjadi Sasuke, mungkin aku juga sama kesalnya.

"Cih!"

Dan haripun berlalu dalam diam antara sepasang ayah dan anak itu.

#...#

Dua tahun telah berlalu. Tinggal beberapa bulan lagi aku, Sasuke, Sai, dan teman temanku lainnya akan lulus. Tak disangka, waktu berjalan begitu cepat.

Perjodohan Sasuke tetap berlanjut. Entah perjodohan itu dapat disebut perjodohan atau tidak. Pasalnya, Sasuke selalu menghindar dengan berbagai alasan untuk membatalkan perjodohan itu. Hebat sekali, ia mampu bertahan hingga dua tahun ini.

Dan Tuan Fugaku sendiri, akhir akhir ini tidak terlalu menuntut.
Entah apa yang direncanakannya, memikirkannya membuatku merasa tak enak.

"Hari ini, kita akan mengunjungi Itachi," kata Sasuke yang tengah mengemudi. Kami memang dalam perjalanan pulang dan setelah mendengar kelahiran bayi pertama Itachi yang kini menginjak dua puluh tiga bulan, membuat kami sering mengunjungi mereka, atau lebih tepatnya mengunjungi putri pertama Itachi, Uchiha Rika.

Beberapa saat kemudian, kami telah berada di halaman depan kediaman Itachi.

Di depan sana telah terlihat Itachi yang menggendong Rika kecil. Melihat kedatangan kami, Rika kecil melambai lambaikan tangannya. Manisnya.
Kami turun dari mobil, dan mendekati mereka.

"Hai, Rika-chan! Kau merindukan Ino-nee tidak?" hiburku seraya mengambil Rika dari gendongan Itachi. Ia menurut sambil tertawa riang. Kurasa ia menyukaiku, dan aku juga menyukainya.

Kumainkan jari jariku di wajah kecil balita itu seraya memberi sedikit gurauan bayi. Dari tawanya, terlihat sekali ia sedang senang.

"Sejak kapan kau jadi kakaknya, Blondie! Asal kau tau, ia merindukan pamannya, bukan kau,"

Heh, ucapan ketus itu lagi. Siapa lagi kalau bukan dari Uchiha Sasuke.

Sasuke juga tak kalah memberi gurauan pada balita di gendonganku. Ia terlihat begitu senang, Sasuke juga sering tersenyum mendapati gurauannya ditanggapi Rika kecil. Menawan sekali.

Tanpa sadar, aku mengamatinya dalam diam, wajahku memanas menahan malu ketika menyadari apa yang barusan kulakukan.

"Bwondi,"
Rika kecil berucap, tak lupa tangannya bergerak gerak ingin meraih wajahku. Tunggu, apa katanya? Bwondi?

"Hahahaha," tawa Sasuke sontak saja membuatku mendelik kesal ke arahnya.

"Jangan memanggilku seperti itu! Lihat, kelakuan burukmu ditiru Rika, nih. Menyebalkan," rutukku pada Sasuke.
Alih alih mendapat bantuan, bahkan Sai dan Itachi pun ikut tertawa. Ck,

"Sudahlah, ayo masuk!" ajak Itachi.

Kami memasuki kediaman Itachi dengan Rika yang masih digendonganku.
Tangannya memainkan poni panjangku, sedikit sakit, tapi tak apalah, toh juga anak kecil.

Saat kusadari, kami telah sampai di ruang tamu. Di sana, duduk tepat di sofa ruang tamu, dua pemuda seusia Itachi dan seorang gadis remaja berambut pink..Sakura? Benarkah itu Sakura? Tapi, apa yang dilakukannya di sini? Bagaimana bisa?

"Maaf ya, Ino. Shizune sedang keluar, tolong buatkan kami semua minum," perintah Itachi.

Aku hanya menurut. Rika kuberikan pada Sasuke yang memang sejak tadi terus menggodanya. Tapi, mereka memang pasangan paman-keponakan yang serasi.

Aku berjalan menuju dapur. Yah, aku sudah terbiasa di rumah ini, jadi posisi dapur pun aku tak mungkin lupa.

"Boleh kubantu?" sebuah suara mengagetkanku dari belakang. Aku menoleh dan kulihat sosok yang menjadi tanya di benakku beberapa waktu lalu, muncul dengan sendirinya.

"Ah, ya. Ngomong ngomong, bagaimana kau bisa ada di sini, Sakura?" tanyaku setelah Sakura mengambil posisi di sampingku untuk membantuku meracik minuman.

Sakura tersenyum sebelum menjawab,
"Kau lihat pemuda berambut merah tadi, ia Sasori, kakakku,"
aku terdiam mendengar lanjutannya,

"Ayahku bilang, perjodohanku dengan Sasuke tidak berjalan lancar. Selama dua tahun ini, Sasuke tak pernah menghadiri pertemuan keluarga kami. Aku mulai berpikir, Sasuke tak menyukaiku," kata Sakura yang mulai memelan. Suaranya sedikit serak, tapi ia tak menangis. Ingin ku menghiburnya, tapi bagaimana?

"Ayahku memintaku melakukan pendekatan lain. Karena kebetulan kakak kami saling kenal, jadi aku ikut dengannya, mungkin saja aku bisa bertemu Sasuke di sini," Sakura kembali menampakkan senyumnya. Kelihatannya ia mulai bersemangat. Tapi, tidak untukku. Tiba tiba saja aku merasa was was.

Hatiku bergejolak tak menentu. Aku pun terdiam demi mengatur nafasku yang lagi lagi memburu setelah penuturan Sakura barusan.

"Ino? Kau kenapa? Ayo, kita bawa minuman ini untuk mereka," Sakura kembali menarik perhatianku yang hanya kutanggapi senyum kecut yang kupaksakan.

#...#

"Rika-chan, hari ini kau rewel sekali," gerutuku pada Rika yang saat ini berada di gendonganku. Kami bermain di salah satu kamar tamu di rumah ini.

Aku bawa Rika kemari karena khawatir ia akan berulah ketika Itachi harus melayani tamunya. Awalnya hanya kami berdua, tapi entah kenapa makhluk stoic yang tengah bersandar pada bingkai pintu justru mengikuti kami kemari, bukannya membantu kakaknya atau apalah, malah datang kemari. Dan justru Sai-lah yang setia mendampingi Itachi di ruang tamu. Aku heran, sebenarnya yang merasa sebagai adik Itachi itu siapa sih? Sasuke atau Sai?

"Dia bosan dengan permainanmu, Blondie!" ejeknya tiba tiba.

"Kalau begitu, tunjukkan padaku caranya, Tuan-sok-profesional," balasku dengan nada kesal. Dan sepertinya pemuda itu terpancing rayuanku, buktinya ia justru mendekat ke arah kami, hanya saja, sebuah seringaian belum juga lepas dari bibirnya. Membuatku merasa menjadi pihak yang akan kalah.

Kududukkan Rika di tengah tengah ranjang, memberikan akses bagi Sasuke untuk mengambil alih tugasku.

"Rika, temani pamanmu yang tampan ini tidur," ujarnya yang langsung menidurkan dirinya di ranjang. Seringaiannya berubah menjadi senyum. Tangannya menarik tubuh Rika kecil untuk tidur di sampingnya. Dan hal yang menyebalkannya adalah Rika menurut begitu saja ketika diperlakukan seperti itu oleh seorang Sasuke.

Haah.. Aku merasa kalah telak. Kududukkan diriku di pinggiran ranjang seraya mengamati wajah polos Sasuke dan tingkah Rika yang tak henti hentinya bergerak di pelukan Sasuke. Benar benar lucu dua orang ini.

Tanpa sadar, aku tersenyum sedari tadi.

"Ji-tan," yah, pengucapan seorang balita yang bahkan belum genap dua tahun itu menambah senyumku. Ia menarik narik poni panjang Sasuke dengan tangan mungilnya. Dan Sasuke sendiri, matanya sedikit tertutup, mungkin menahan perih dari tingkah laku Rika.

"Maaf, mengganggu," sesorang mengalihkan perhatian kami.

Sakura tengah berdiri di ambang pintu, melihat tepat kearah kami dengan tatapan..sendu.

"Boleh aku bicara dua mata saja denganmu, Sasuke?"

TBC

Thanks semua buat yang udah mau re-view. *bungkuk bungkuk*

Bagaiumana? Bagaimana? Bagaimana? Ada yg sudah tahu mau kemana cerita ini? Atau ada yg mau nambahin cerita ini mau dikemana-in?

Mind to R n R?