"Namamu Do Kyungsoo. Aku adalah Kim Jongin yang telah berani mengambilmu dari keluargamu, karna aku sangat mencintaimu."
"Namamu Kim Jongin. Aku adalah Do Kyungsoo yang telah kau ambil jiwaku bersamamu, tapi aku tetap mencintaimu."
SIDERS GO AWAY FROM MY OWN FICTION
DON'T COPAS
RnR Please!
.
.
.
.
.
Sorry for TYPO
and
Happy reading!
.
.
.
.
_9493 STORY_
.
.
.
Baby gie Present
.
.
SAVE ME, PLEASE
Menyusuri jalan sempit nan basah demi menemui seseorang yang sangat ditunggu kehadirannya, namun kehadirannya tak kunjung tiba hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk menemuinya sendiri.
Jantungnya berdegup lebih kencang dan pasokan oksigen Kyungsoo telah meningkat, keringat dingin turun membasahi pelipis dan telapak tangannya.
Seperti perasaannya ketika melihat daftar nama-nama yang masuk ke dalam universitas milik keluarganya itu.
Sungguh mendebarkan,
Kyungsoo membayangkan, mencoba menerka wajah dari sang ibu.
Pasti ibunya sangatlah cantik.
Percikan-percikan kebahagiaan tengah menyerang hati Kyungsoo, sampai-sampai ia hampir tergelincir pada jalan yang basah itu.
"Permisi, apakah ada orang disini?"
Mencoba mengetuk pintu dengan perlahan, yang didapat Kyungsoo hanyalah suara desisan jangkrik.
Sekali lagi. Ia mengetuk pintu kayu itu, ia sangat mengharapkan sebuah jawaban dari dalam rumah kecil itu.
Kyungsoo tidak ingin menyerah, ia lalu berjongkok di dekat pintu itu, berharap si pemilik rumah menyadari kedatangannya.
"Apa benar ini alamat yang diberikan oleh Sehun?"
Berbicara pada dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa alamat yang diberikan Sehun padanya tidak salah.
Ia pun mengambil handphone disakunya dan melihat kembali isi pesan Sehun yang berisi alamat rumah ibu kandungnya itu. Benar, alamat yang Sehun berikan tidak salah.
.
Dinginnya udara malam telah menyerang tubuh kecil Kyungsoo namun tak membuatnya bergeming dari tempat itu, ia masih belum menyerah, mungkin si pemilik rumah sedang pergi kerja dan baru akan pulang pada malam hari, begitulah asumsi Kyungsoo yang meyakinkan dirinya untuk tidak pulang sedari tadi.
Kyungsoo lapar, ia juga haus dan ia sudah lelah, tapi demi bertemu ibu kandungnya ia rela menahan semua itu.
Handphone pria itu berdering, namun Kyungsoo tak menyadarinya karna rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
Bibir Kyungsoo telah memucat.
Tidak. ia tidak akan mati disini, Kyungsoo pikir, belum saatnya dia mati sekarang. Ia terlalu percaya diri bahwa Tuhan tidak akan mengambilnya sekarang. Kyungsoo mencoba bertahan tapi apa daya rasa pusing yang kian menjadi membuat Kyungsoo limbung.
Hingga akhirnya tubuh mungil tersebut ambruk ke tanah sementara benda sarat fungsi miliknya itu terus saja berdering,
.
.
.
Sehunie calling
.
.
Pandangan mata milik Kyungsoo kian mengabur, Kyungsoo yakin setelah ini kegelapan akan menguasai semuanya. Namun perkiraan Kyungsoo salah, bukan kegelapan yang memenuhi pandangannya sebelum ia pingsan melainkan sebuah senyuman tipis yang bermakna dalam. Senyuman yang Kyungsoo kenal sebagai senyuman milik sosok misterius bernama Kai.
Tubuh kecil Kyungsoo tak sadarkan diri, sudah berapa kali Sehun memeriksa suhu tubuh pria yang lebih tua setahun darinya itu.
Sehun memandang Kyungsoo gusar.
"Sudah kubilang jangan pergi sendiri, tapi dasar kau keras kepala, kalau ajal menemuimu saat itu bagaimana?"
Tidak ada gunanya Sehun berbicara pada Kyungsoo dikala pria itu masih belum tersadar.
"Sebegitu pentingnya wanita itu dihidupmu? Aku tidak tahu jika kau mengetahui kebenarannya, apa kau akan menganggap ia masih menjadi hal terpentingmu."
Sehun menggepalkan tangannya di udara,
"Maafkan aku, hyung. Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lebih lama lagi, lebih baik kau menemukan wanita itu dengan sendirinya, atau tidak sama sekali, ya memang itu harapanku."
Sehun mengambil kain kompresan yang terletak di dahi Kyungsoo dan menggantinya dengan yang baru, setelah merapikan selimut Kyungsoo, pria itu mengambil kunci mobil yang terletak di nakas tak jauh dari tempat tidur Kyungsoo.
"Hyung, aku pulang, jaga dirimu baik-baik, aku sayang padamu hyung"
Sehun menutup pintu kamar Kyungsoo pelan.
Detik selanjutnya mata bulat milik seorang pria yang tengah berbaring itu terbuka perlahan,
Kyungsoo sadar.
Kyungsoo telah sadar dari awal, namun ia tidak ingin Sehun lebih mengkhawatirkannya saat ia bangun, jadilah ia hanya bisa memejamkan kedua matanya dan sebuah pertanyaanpun muncul, apakah ia mendengarkan ? Tentu saja. Walaupun tingkat kesadaran Kyungsoo belum pulih seratus persen akan tetapi dia masih bisa menangkap dengan jelas serentetan kalimat yang terlontar dari mulut Sehun. Perasaan kecewan tengah melingkupi seluruh ruang hatinya.
Kyungsoo kecewa pada Sehun.
"Mengapa kau harus menyembunyikan sesuatu dariku, Sehun?
.
.
BRUK
Suara jatuh dari sudut kamar Kyungsoo yang gelap cukup membuatnya menoleh,
"Robert kau terjatuh?"
Kyungsoo heran boneka kayu itu terjatuh ke lantai tiba-tiba.
Saat ia bangun dari tidurnya dan mengambil Robert yang terjatuh malang itu, Kyungsoo terpaku pada pemandangan sepasang kaki dihadapannya ini.
Kyungsoo pun berdiri dan bertemu tatapan dengan sosok misterius yang sedang tersenyum kearahnya.
"Kai."
Robert kembali terjatuh dari dekapan Kyungsoo karna pria mungil tersebut menjadi lemas seketika.
Kasihan boneka kayu malang itu.
"Kai."
Kyungsoo memanggil nama sosok misterius itu lagi.
"Kai. Boleh aku memelukmu?"
Sosok itu tidak memberikan respon yang cukup baik, namun bagi Kyungsoo senyuman dan sebuah anggukan itu adalah respon terbaik yang ia dapatkan daripada sebuah pukulan dan caci maki kedua saudaranya.
Kyungsoo mendekat, sosok misterius itu tidak bergerak sedikitpun dati tempatnya.
Tangan Kyungsoo terulur ringan menyentuh pinggang sosok misterius ini, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhmya.
Selanjutnya dekapan hangat yang sudah lama tak Kyungsoo rasakan, akhirnya ia dapatkan malam ini, berkat sosok misterius bernama Kai itu.
Waktu kembali terhenti.
Kyungsoo terkesiap, tangan sosok misterius itu melingkar pada pinggangnya.
"Terima kasih. Kai"
Kelopak mata Kyungsoo terbuka, pria itu terduduk di tepi kasurnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
Masih teringat bagaimana senyum itu mampu membuat Kyungsoo bahagia semalaman.
Ia masih ingat bagaimana tangan sosok misterius itu memeluk pinggangnya dan berbagi kehangatan dalam pelukan mereka.
Tapi ia tidak ingat bagaimana ia bisa tertidur dan terbangun di pagi hari, kemudian ia melihat tanggal di lockscreen handphonenya,
January 12th, 2012
Mengapa waktu berjalan begitu cepat?
Baru saja kemarin pagi ia berkunjung ke rumah ibu kandungny−menurut informasi yang Sehun berikan padanya− namun pada akhirnya ia jatuh pingsan, kemudian terbangun pada malam hari disebuah kamar, yang ternyata itu adalah kamarnya dan ia harus berpura-pura tidur karna Sehun terus saja berbicara hingga akhirnya Sehun pulang, kemudian Kyungsoo memutuskan untuk bangun dari tidurnya karna Robert yang terjatuh tetapi ketika hendak mengambil boneka kayu itu, ia dikagetkan oleh sosok misterius bernama Kai dan Kyungsoo memeluk sosok misterius itu...
blush
Oh pipi Kyungsoo merona jika mengingat kejadian itu, salahkan Kai yang muncul tiba-tiba disaat Kyungsoo membutuhkan seseorang.
Tunggu... sebelumnya Sehun telah lebih dulu mengunjungi Kyungsoo tapi kenapa harus Kai yang dipeluk oleh Kyungsoo, bisa saja Kyungsoo terbangun dari tidurnya dan memeluk Sehun saat itu, bahkan lebih masuk akal karna Kyungsoo kenal dekat dengan Sehun. Sedangkan Kai? Kyungsoo bahkan tidak tahu makhluk jenis apa Kai itu.
Atau sebenarnya maksud dari Kyungsoo adalah salahkan Kai yang muncul tiba-tiba disaat ia membutuhkan Kai.
Oh ini kedengarannya lebih menarik.
Kyungsoo membutuhkan Kai.
Apakah ia mulai menyukai sosok misterius yang selalu tersenyum padanya itu?
Masih terpaku di tempat tidurnya, Kyungsoo mencoba menjelaskan serangkaian kejadian yang sudah terjadi tiga hari ini didalam benaknya. apa yang sudah di lewatkannya?
Sebuah pertanyaan memenuhi pikirannya, mengapa disaat ia bertemu dengan Kai, waktu menjadi berhenti seketika-Kyungsoo yakin jam dindingnya tidak rusak- dan pada akhirnya ia akan terbangun di pagi hari. Selalu begitu.
Sepertinya Kyungsoo teringat sesuatu,
Ya
Dia mengingat sesuatu yang sangat penting,
Tugas literatur sastra yang ia janjikan pada dosen cerewet itu. Astaga...Kyungsoo harus cepat menyerahkan tugasnya sebelum mendapat kuliah tambahan dari dosen cerewet berbadan tambun itu.
Kyungsoo membutuhkan Kai saat ini, demi menghentikan waktu, oh tidak! sekarang pikiran Kyungsoo dipenuhi oleh sosok misterius bernama Kai. Kyungsoo harus bagaimana? Ia sepertinya mulai tergantung pada sosok misterius itu.
Sambil menyisir rambutnya yang mulai memanjang hingga hampir menutupi seluruh permukaan dahinya, mata bulat Kyungsoo terpaku pada kertas diatas meja belajarnya.
Ia teringat insiden itu, insiden dimana Sehun salah paham bahwa ia akan bunuh diri, dan kemudian sosok pria misterius bernama Kai tiba-tiba berada dikamarnya, waktu itu adalah pengenalan pertamanya dengan Kai.
Kyungsoo membuka lipatan kertas itu,
Pria bertongkat hitam. Hindari.
Jangan sampai dia menemukanmu.
Hindari dia.
Omong kosong sebuah ramalan hanya omong kosong.
"Orang sinting mana yang berani mengajakku bermain surat konyol ini?"
Kyungsoo berteriak frustasi. Kertas itu ia buang begitu saja di dalam tempat sampah yang ada dikamarnya. Ia tak mau ambil pusing soal surat konyol itu, pria logis seperti Kyungsoo tidak akan percaya pada hal yang berbau mistis dan tidak masuk akal.
Kyungsoo menuruni tangga secara terburu-buru, sampai ia tidak melihat ibunya beserta kedua saudaranya sedang berkumpul di ruang santai. Kyungsoo lebih mementingkan tugasnya daripada mereka, toh mereka tidak menganggap Kyungsoo bagian terpenting dihidup mereka.
.
.
.
"Dosen Kim...maaf aku terlambat."
Napas Kyungsoo tercekat, ia butuh oksigen yang banyak saat ini juga, siapapun tolong beri Kyungsoo sebuah tabung oksigen.
"Kau tahu bahwa aku paling tidak suka..."
"Aku tahu Dosen Kim, aku tahu, maaf membuatmu menunggu."
"Bagus kalau kau tahu, sekarang pikirkan nasib tugas akhir kuliahmu ini, skripsi...tentu kau sudah mempersiapkan judul bukan, tuan Do?
Kyungsoo merasa ingin mati saja.
Ia lupa.
Ia benar-benar lupa bahwa sebentar lagi dia akan menghabiskan masa-masa kuliahnya selama tiga tahun. Dan sekarang dosen berbadan tambun itu menanyakan tentang skripsinya. Jujur ia tidak tahu menahu tentang skripsi, belum lebih tepatnya ia belum memikirkan tentang skripsi itu.
Jawaban apa yang harus diberikan Kyungsoo pada dosen berbadan tambun ini?
Ayolah gunakan otak cerdasmu, Kyungsoo.
"Tema...aku belum yakin soal judul tapi aku memilik satu tema yang bisa aku bahas didalam tugas akhirku, Dosen Kim."
"Dari satu kata dapat menghidupkan satu nyawa tapi melalui sebuah senyuman dapat menghentikan waktu."
"Satu kata itu adalah Cinta"
"Dan sebuah filosofi tentang Senyuman"
"Well, Kyungsoo kau cukup cerdas. Aku yakin kau akan memberikan hasil yang terbaik dan bisa membuatku bangga sebagai dosenmu."
"Pujian yang bagus untuk pertama kalinya aku mendengarkan itu didalam hidupku, Dosen Kim. Terima kasih."
Dosen tambun itu mengerutkan dahinya, kebingungan akan kata-kata Kyungsoo yang baru saja di ucapkan. Sang dosen ingin bertanya lebih lanjut namun gesture yang ditujukan Kyungsoo pada dosennya itu seperti meminta waktu sebentar untuk mengecek handphonenya, dosen tambun itu mengijinkan.
"Halo, Ya, benar aku Do Kyungsoo. Ingin bertemu denganku?"
Ada jeda yang cukup panjang dari obrolan Kyungsoo dengan seseorang disebrang telepon. Dahi Kyungsoo berkerut, menandakan ia sedang berpikir keras.
"Ok baiklah, sampai bertemu satu jam lagi karna sekarang masih ada yang sedang ku urusi. Kirimkan saja alamatnya ya,"
1 message received
Unknown numberxxx:
Sotdae Saju Café, 2/F Hanyang Sangga, 660-8, Sinsa-dong, Gangnam-gu
"Dosen Kim, apa masih ada yang ingin kau bicarakan? Karna aku harus bertemu janji dengan seseorang."
"Ah tidak, tidak ada Kyungsoo, baiklah silahkan..jangan lupa kerjakan tugas akhirmu itu ya. Aku hanya mengingatkan."
"Siap, dosen Kim! Terima kasih atas perhatianmu padaku."
Kyungsoo menarik resleting tas ransel hitam miliknya dan segera bergegas keluar dari ruangan Dosen Kim tersebut, tetapi ucapan Dosen Kim menghentikan langkah kaki Kyungsoo.
"Selamat ulang tahun. Kyungsoo"
T B C
A/N: [/Call me; gie] Hello readers maafkan atas keterlambatan gie dalam mengupdate chapter ini yaaaa karna banyak banget yang harus di revisi ulang dan juga karna review readers yang jumlahnya tidak terlalu banyak (bingung banget viewnya nyampe tiga digit tapi yang review cuma dua digit-_-) bukan gie maniak/? review tapi gie bener-bener suka menghargai pendapat readers dan biasanya itu cukup membantu gie buat bikin cerita selanjutnya gimana biar readers bisa ngerti juga sama jalan cerita yang gie buat, sekaligus penyemangat gie buat nerusin ff juga. Tenang aja ff ini ga bakal putus tengah jalan kok :) Mungkin gie agak lama update minggu depan karna mengingat tes masuk universitas yang sebentar lagi bakalan diadakan (orang pada belajar gie malah update ff T_T) GIE MOHON DOANYA READERS BIAR GIE BISA LOLOS UJIAN MASUK BERSAMA DI UNIVERSITAS TUJUAN YAAA AMIN (wah maap capslock-")
Oh iya readers masih banyak yang bingung siapa dan apa/? Kai itu ya huehehe bakal dikasi tahu seiring berjalannya chapter ya, dan juga ada yang bilang Sehun tunangan sama Kyungsoo aja, doh=_=maap gie kurang rela kalo Kyungsoo tunangan sama Sehun, mending Sehun tunangan sama gie aja ya/plak/ gie cuma becandaaa lagian ini kan kaisoo story jadi Kyungsoo tetap bakalan sama Kai lah (yang kaisoo shipper boleh berjingkrak-ria hahaha)
Dan di chapter ini juga gie uda kasi tau kan apa isi kertas yang muncul di chapter dua. itu semacem peringatan dari someone yang dirahasiakan (tebak2an lagi hihi)
Sebenernya gie kurang pandai dalam menentukan genre, menurut readers ini mystery? tapi gie malah pake supernatural, soalnya Kai suka muncul tiba-tiba gitu kaya jurig *eh
Hehehe
See u next time readers
.
XOXO
