"Akhh" aku memegang kepalaku dengan tangan kepalaku. Aku memejamkan mata karena pening yang tiba tiba datang padaku. Aku tidak dapat mendengar apapun. Tak lama kemudian aku melihat diriku yang sedang melemparkan bola api ke Jongin. Membuat gelombang api kearah xiumin. Dan serangan bertubi tubi yang aku lemparkan untuk melawan perisai air milik suho. Sampai kemudian aku merasakan pusing yang tidak dapat ku tahan. Aku melihat beberapa orang yang mendekat kearahku dan kemudian aku hanya dapat melihat kegelapan.

The Protector of the World and the Broken Light

Romance , Adventure , Fantasy , Yaoi

Rated = M

Characters: EXO members OT12

Pairings: (Focused) Chanbaek

Sulay , Kaisoo , Hunhan , Chenmin , Taoris

Mature content for foul language , dark story , Mental disorder etc.

Summary

Chanyeol, bersekolah di SM High School. Menjadi salah satu member OSIS yg mereka namai EXO. Ia tidak menyangka akan menjadi salah satu dari 'mereka'.

Chapter 3-

3rd POV

Chanyeol terbangun disebuah ruangan yang asing baginya.

"Kau tidak apa-apa?"

Tanya sebuah suara yang berada jauh didepannya. Ia segera mendudukkan dirinya dan melihat sekelilingnya. Ia melihat Suho sedang berada di meja didepannya. Sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang sedang ia kerjakan. Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan berwarna orange kemerahan. Menandakan hari sudah sore.

Ketika Chanyeol ingin membuka mulutnya. Ia tiba tiba mengurungkan niatnya karena ia ingat dengan kejadian yang ia ingat barusan –lebih tepatnya tadi siang-.

"Kau sedang berada diruang Orientasi Siswa Chanyeol. Aku tidak bisa membawa mu ke UKS karena nanti dokter yang sedang menjaga disana akan panik melihat dirimu seperti tadi. Tapi untunglah Yixing sudah menyembuhkanmu dan-"

"apa… yang terjadi?" potong Chanyeol. Keingintahuannya dengan keanehan yang tadi siang terjadi membuat dirinya tidak peduli lagi dengan ucapan suho sekarang.

Ia kemudian melihat kearah tangannya yang sekarang dapat mengeluarkan dan menghilangkan api. Tidak seperti tadi siang namun cukup untuk membuatnya membeku sesaat

Suho melirik Chanyeol yang sedang mengeluarkan apinya –mengetesnya-. Menghentikan kegiatannya dan menghela nafas. Lalu ia meletakkan pulpen yang sedari tadi ia gunakan untuk mengerjakan serangkaian tumpukan kertas yang ada dimejanya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Chanyeol yang sekarang sedang melihatnya dengan pandangan tajam. Meminta penjelasan kepada orang yang ada didepannya.

"Chanyeol. Kau adalah seorang pelindung bumi." Chanyeol yang mendengar itu langsung menatap Suho tidak percaya. Memikirkan kalau orang yang ada di depannya terlalu minum banyak alkhohol atau sejenisnya. Namun, Suho telah mengantisipasinya.

"Aku tahu kau akan susah menerimanya. Tapi, dengarkan dulu penjelasanku barulah kau bertanya sepuasnya. Ok?" Suho kemudian duduk disamping Chanyeol yang masih memandangnya dengan pandangan yang skeptis.

"Kau, aku, dan anggota Orientasi Siswa lainnya… adalah pelindung bumi –jangan memotong perkataanku dulu Chanyeol-" cegahnya ketika ia melihat Chanyeol akan membuka mulutnya untuk membalas kata kata Suho yang –menurutnya- sedang mabuk. Chanyeol yang mendengar suho berbicara dengan tegas seperti itu langsung diam.

Ia bingung, ia tidak bisa menolak perkataan Suho yang seperti itu. Ia merasa seperti Suho memang adalah seseorang yang perkataannya harus didengarkan.

"kau juga bisa memanggil kelompok ini dengan nama EXO. Semua orang yang menjadi anggota EXO mempunyai kekuatannya masing-masing. Seperti dirimu yang dapat mengendalikan api. Dan aku yang dapat mengendalikan air. Dan juga anggota lainnya yang mempunyai kekuatannya masing-masing" Lanjutnya dengan hati hati. Mengantisipasi jika saja orang didepannya akan siap meledak kapan saja.

"kami mengetahui kalau kau adalah seorang pengendali api karena sebuah lambang yang ada di atas lengan kananmu ketika kau sedang bermain basket beberapa bulan yang lalu"

"tanda? Apa maksudmu? Aku tidak punya tan-" kalimat Chanyeol terputus saat dirinya menarik lengan baju seragamnya keatas dan melihat tanda aneh di atas lengan kanannya. Bentuknya seperti sebuah burung yang dikelilingi oleh api disekitarnya

"hanya yang telah membangkitkan kekuatannya yang bisa melihat tanda itu Chanyeol. walaupun kekuatanmu belum keluar, lambangmu akan tetap terlihat oleh anggota lainnya yang telah membangkitkan kekuatannya. Aku sendiri juga mempunyainya." Jelas suho sambil membuka kedua kancing baju teratasnya dan memperlihatkan tanda yang seperti air di dada kanannya.

"dan hanya kita ber12 yang dapat melihat lambang itu. Kau tenang saja" lanjutnya.

"diantara 12 pelindung bumi yang ada. Kekuatan Air, Angin, Bumi, dan Api adalah kekuatan yang paling kuat diantara kekuatan lainnya. Dan kekuatan itu mempunyai jiwa tersendiri didalamnya."

"setiap abadnya, 12 orang dari miliaran manusia di bumi ini dipilih untuk menjadi pelindung oleh bumi ini sendiri. Kita beruntung karena kita semua hampir berada dari negara yang sama."

"Tujuan kita dipilih sebagai pelindung bumi adalah untuk mencegah dan melawan kekuatan jahat yang datang ke bumi dan ingin menguasai seluruh dunia. Terutama inti bumi yang mempunyai kekuatan besar untuk memberikan kekuatan spesial terhadap manusia yang terpilih olehnya. Kami menyebutnya dengan The Dark Forces. Mereka tidak bisa menguasai bumi bila kita sudah bersama. Namun, mereka bisa datang kapan saja kepada kita untuk menghancurkan kita. Baik secara fisik, maupun mental."

"darimana kau bisa mengetahui ini semua?" Tanya Chanyeol.

"kekuatanku." Jawab suho sambil tersenyum sambil mengingat masa lalu. Chanyeol yang melihat Suho tersenyum hanya dapat mengangkat salah satu alisnya. Terheran heran dengan lelaki didepannya yang tiba tiba tersenyum sendiri.

"Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi kuharap kau dapat bergabung dengan kami secepatnya." Suho mengalihkan percakapannya sambil menyelesaikan cerita singkatnya. Mengantisipasi kalau Chanyeol akan meledak. Ekspresi Chanyeol saat ini sulit ditebak.

Keheningan terjadi selama beberapa saat. Membuat keduanya berada pada posisi yang tidak nyaman.

"aku…. Butuh waktu" hanya itulah kata kata yang keluar dari mulut Chanyeol. Suho tersenyum menanggapinya.

"aku paham. oh aku hampir saja lupa. Jangan marah dengan Kai yang sebelumnya melemparmu dengan tong sampah itu ya. Kami sengaja memancing kekuatanmu keluar"

"kenapa?"

"karena kekuatanmu terlambat keluar. Seharusnya ketika awal kau sudah memasuki umur 17 tahun kau sudah dapat mengeluarkan kekuatanmu itu. Kau juga bisa memancing kekuatan mu sendiri dengan merasakan keanehan yang terjadi di sekitarmu. Namun, mungkin karena kau selalu dijuluki Happy Virus dan tidak pernah marah membuat kekuatan itu tertahan. Sehingga emosimu menjadi tidak stabil karena tertekan dengan kekuatan api yang tidak kau ketahui. Kekuatan apimu itu berasal dari emosimu. Hanya dengan perasaan senang dan bahagia tidak dapat membuat kekuatan itu keluar."

"akan bahaya jika kami tidak memancing kekuatanmu keluar. Kau bisa saja mengeluarkan kekuatanmu di depan umum dan justru akan melukai orang orang di sekitarmu."

Chanyeol terdiam. Sedikit memahami kenapa akhir akhir ini ia selalu emosi dengan hal yang bisa dibilang sepele. Ia bingung. Ia merasa seperti mendengarkan dongeng atau mendengarkan cerita dari orang gila.

Tetapi ia juga merasa bahwa semua cerita ini logis.

Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya menuju pintu keluar ruangan. Tiba tiba ia berhenti ketika ia sudah setengah jalan, menoleh kearah suho yang masih diam ditempatnya.

"kau bilang tadi kalian uh… kita… ada 12 orang. Tetapi kalian hanya ada 9 orang bukan?"

"Anggota Orientasi Siswa memang ada 9 namun dua orang lainnya sudah mengetahui kekuatannya. Dan untuk saat ini mereka memang belum bergabung dengan keanggotaan Orientasi Siswa. Kuharap kau juga tidak marah dengan yang satu ini." Chanyeol hanya menyipitkan matanya. Sedikit tidak mengerti dengan perkataan Suho barusan.

"dan… untuk yang 1 orang lagi." Lanjutnya.

"dia masih belum ditemukan. Dan yang pasti.." Suho terdiam sesaat. Menatap mata Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan.

"…dia adalah pasanganmu Chanyeol" Chanyeol yang mendengar itu mengerutkan keningnya.

Pasangan? Apa maksudnya? Pikirnya.

"kita semua dibuat dengan berpasang pasangan. Dan karena kami semua sudah menemukan pasangan kami. Berarti satu orang lagi yang belum ditemukan akan menjadi pasanganmu. Atau kau juga bisa menyebutkannya sebagai jodohmu." Ucap Suho. Seakan dapat membaca isi pikiran Chanyeol sekarang.

Chanyeol membelalakkan matanya. Sudah cukup dengan cerita gila yang ia dengar dari Suho dan sekarang ia menambahkan cerita gila lagi.

"apa?! S-siapa?"

"kami tidak tahu." Suho menghela nafasnya.

.

.

.

"Namun, Yang jelas ia adalah…"

.

.

.

.

"Sang pengendali Cahaya"

.

.

.

.

"Dan Ia yang akan menjadi jodohmu"

.

.

.

.

.

.

"aku akan mati"

Seorang lelaki berkulit tan sedang berjalan mondar mandir di depan ruang orientasi siswa dengan raut wajah ketakutan.

"Kai. Bisakah kau diam?! Aku sudah pusing melihatmu mondar mandir tidak jelas disana." Ucap seorang pria dengan kesal. Pria berbadan tinggi dan juga tampan itu sedang berdiri memandang objek didepannya dengan pandangan kesal.

"astaga sehun. Kau tidak tau bagaimana rasanya berada diposisiku saat ini"

"Siapa suruh kau melemparkan tong sampah kearah Chanyeol-hyung yang sudah jelas jelas sedang emosi."

"aku tidak punya pilihan lain. Suho hyung sendiri yang menyuruhku untuk membuat dirinya emosi."

"ya. Tapi dia tidak menyuruhmu untuk menghancurkan atap sekolah. Astaga Jongin kau jelas jelas sedang berada di tempat umum dan hampir saja membuat menarik perhatian satu sekolah. Berterima kasihlah kepada Luhan hyung yang telah membuat ilusi dengan susah payah selama hampir 2 jam dan-"

"bisakah kalian berdua diam?! Aku lah yang akan segera mati ditangan Chanyeol." Potong seseorang yang sedang menempelkan telinganya ke pintu ruangan Orientasi Siswa. Mencoba mendengarkan suara suara didalam yang hampir tidak terdengar.

"kita Chen. Tidak hanya kau saja" ucap seseorang disebelah Chen. Mengikuti kegiatan yang sedang Chen lakukan saat ini

"sudah kukatakan padamu sejak awal jongdae-ya. Kita seharusnya mengikuti saran kris hyung waktu itu." Lanjutnya

"dan meninggalkan Chanyeol sendirian? Oh ayolah Tao. Ia akan merasa dikhianati. Lagipula kita dapat membantu memancing kekuatannya keluar."

"ya tapi tidak dengan kondisi yang rumit seperti ini. Ia akan lebih marah jika kita tidak memberitahunya kalau kita mempunyai 'hubungan spesial' dengan Anggota Orientasi Siswa sejak awal." Jelas Tao sambil mengangkat kedua tangannya membentuk tanda kutip ketika ia berucap 'hubungan Spesial'

"Chanyeol juga akan lebih tenang jika ia tahu kita berdua berteman dekat dengan mereka. Bukannya kita tutup tutupi seperti ini." Chen yang mendengarnya semakin gusar. Mengetahui apa yang sahabatnya katakan itu benar.

"Cih! Kau sendiri pun tahu kalau Luhan hyung tidak bisa bertahan lama menggunakan kekuatan ilusinya. Ia sampai mengeluarkan darah dari hidungnya dan pingsan karena kau." Lanjut Sehun tanpa mempedulikan Chen dan Tao yang sedang berdebat sambil mendengarkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

"hey! Chanyeol hyung lah yang membakar atap sekola-" protes Jongin tidak terima karena hanya ia yang disalahkan.

"dan kau yang memancingnya disa-"

"Cukup Sehun." Potong seseorang untuk yang kedua kalinya.

Tak jauh dari belakang sehun ada xiumin yang sedang memapah seseorang yang tadi memotong percakapan Sehun.

"Luhan hyung!" teriak Sehun lalu pergi kearah seseorang yang ia panggil Luhan. Ia langsung membantunya untuk memapah Luhan. Mengambil alih pekerjaan Xiumin.

Xiumin lalu berjalan kearah seseorang berbadan yang lebih tinggi darinya yang sejak awal sudah bersama mereka dan sedang menyenderkan pundaknya pada dinding di sebelahnya. Menonton kejadian didepannya yang menurutnya menarik. Kemudian Xiumin tanpa diduga langsung memukul kepalanya dengar keras. –setelah berjinjit dengat susah payah-.

"Ow! Hey!" teriaknya tidak terima.

"Kau Kris. Bukannya melerai mereka kau malah diam saja dan menonton" ucap Xiumin sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Raut tidak suka terlihat jelas ketika berhadapan dengan makhluk super tinggi yang ada didepannya.

"tsk. Kau tenang saja nanti mereka juga akan damai dengan sendirinya." Tukas Kris sambil menunjukkan dagunya kearah Sehun, Luhan dan Kai.

"Hyung! Kau belum sembuh! Kenapa kau kesini?" Ucap Sehun khawatir. Luhan yang ditanya seperti itu tersenyum. Lebih tepatnya malu. Ia berharap kedua pipinya tidak berubah menjadi warna merah.

"aku tidak apa-apa. Sekarang minta maaflah pada Kai." Ucap Luhan tegas.

"Apa?! Tidak mau! Kalau bukan karena dia hyung tid-"

"Sehun. Kita sudah membicarakan ini. Jika Chanyeol mengeluarkan kekuatannya di tempat umum. Aku harus membuat ilusi supaya orang lain tidak curiga."

"ta-"

"Sehun." Sehun menghela nafasnya. Luhan sangat tahu sifat Sehun yang sedikit overprotektif terhadapnya. Namun terkadang Sehun dapat menjadi orang yang menjengkelkan jika itu menyangkut masalah Luhan.

"baiklah.. Kai. Aku… minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu" Ucap Sehun. Dia hanya akan berbicara seperti itu jika Luhan lah yang meminta.

"seharusnya akulah yang meminta maaf. Khususnya denganmu Luhan hyung. Maaf merepotkanmu." Kai juga sebenarnya mempunyai rasa bersalah pada Luhan karena sampai membuat tenaganya terkuras habis. Bahkan Luhan saja sekarang sedikit susah berjalan sehingga harus dipapah seperti itu.

"itu sudah menjadi tugasku" ucap Luhan sambil tersenyum.

"Kubilang juga apa." Ucap kris kepada Xiumin. Xiumin yang mendengar itu hanya memutar kedua bola matanya. Tidak mengerti akan sikap Wakil Ketua nya yang kadang terlihat tidak peduli.

"Aw! Oww! Astaga Yixing Hyung! Sakit! Aw!" Teriak Kai tiba tiba karena sesorang sekarang sedang menarik telinganya kuat kuat.

"halo Jongin. Apakah tadi kau sedang bersenang senang dengan Chanyeol sehingga kau membumi hanguskan bunga bungaku?!" ucap Yixing sambil tersenyum. Namun cubitan di telinga kai semakin kuat

"Ow! Hyung! Bukan aku yang membakar- ADUH HYUNG JANGAN AW!" teriakan Kai semakin kencang karena ia merasakan kupingnya seperti mau diputus oleh Yixing.

"ya memang benar bukan kau yang membakarnya. Tapi jika kau tidak berdiri di dekat bunga bungaku. Mereka akan selamat. Bukankah sudah kukatakan padamu sejak awal bahwa siapapun itu orangnya DILARANG mendekati bunga-bunga yang sudah kutumbuhkan dengan susah payah."

"ADUH HYUNG! Kalian bantu aku tolong!" teriak kai pada yang lainnya. Namun mereka semua berpura pura tidak mendengarkan.

Lebih baik aku tidak mendengarmu dari pada berurusan dengan yixing yang sedang dirasuki setan. Pikir mereka semua. Bahkan Kris mengucapkan 'semoga beruntung' tanpa suara pada Kai. Membuat Kai melototkan matanya tidak percaya pada kelakuan Wakil Ketua nya itu.

"dari semua tempat yang ada di muka bumi ini kau memilih atap sekolah?! Kau sudah tidak sayang nyawamu itu hah?!"

"Ahk! H-h-hyung… aku-"

"Yixing hyung. Lepaskan Jongin."ucap seseorang yang sedang berjalan mengarah mereka. Yixing menghela nafasnya lalu melepaskan tangannya yang sedang mencubit telinga Kai. Kai yang sudah hafal dengan suara yang menurutnya indah itu langsung berjalan menghampirinya. Melupakan rasa sakit yang baru saja ia rasakan di kupingnya.

"Kyungie~ Kau pasti tidak tega meliha-"

BUGH

"Ahk.. Ah.. K-Kyungs-oo Hyung.." cicit Jongin. Ia langsung jatuh tersungkur dan merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya karena tadi orang yang ia panggil Kyungsoo memukul perutnya dengan tiba tiba.

Sebenarnya pukulan yang dilayangkan oleh Kyungsoo itu pelan. Namun ia menggunakan sedikit kekuatannya pada pukulannya membuat Jongin merasakan sakit seperti dipukul dengan batang pohon besar yang sangat tebal.

"untukmu. Karena kejadian tadi pagi. Dan jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu" ucapnya. Masih sebal dengan lelaki tan yang ada dihadapannya.

"a-a-apa?" Tanya jongin masih dalam posisi yang sama. Ia memutar otaknya apa yang ia lakukan tadi pagi.

" ohh… kau lupa? 'terima kasih cantik'. Cih! Dasar Playboy kelas kakap." Jongin ingat. Ia mengambil makanan dari seorang wanita tadi pagi dan sedikit menggodanya.

"ah.. jadi Kyungie cemburu….. aku senang" balas Jongin. Ia sudah bisa mengendalikan dirinya dari pukulan Kyungsoo.

"jika kau sekali lagi berucap seperti itu. Maka tangan ini tidak segan segan untuk memotong benda kebanggaanmu" ucap Kyungsoo sadis. Membuat Jongin menjadi pucat seketika.

Xiumin yang sudah bosan dengan drama yang ada didepannya memilih untuk mengikuti kegiatan Chen dan Tao. Ia kemudia menempelkan telingannya disamping Chen.

"menurutmu apa yang mereka bicarakan?" Tanya Xiumin pada Chen.

"entahlah hyung. Suara mereka sangat kecil." Jawab Chen. Matanya menatap langsung kearah mata Xiumin. Membuat Xiumin sedikit tersipu.

Mereka terdiam beberapa saat. Jantung Xiumin sudah memompa dengan sangat keras. Ia berharap suara detak jantungnya tidak terdengar oleh Chen.

"Hyung"

"y-y-ya?" Xiumin sangat gugup. Oh ayolah siapa yang tidak gugup jika dipandangi seperti itu oleh Chen.

"aku mendengar suara seperti detak jantung."

Matilah aku Chen mendengarnya. Xiumin merasa seperti ingin menggali kuburannya sendiri.

"tapi hyung. Kenapa suaranya makin membesar ya? Dan suaranya sekarang berubah seperti suara langkah kaki?"

DUAK

Belum sempat Xiumin mencerna semua perkataan lelaki yang sedang menatapnya dengan dalam. Xiumin, Chen, dan Tao tiba tiba terdorong oleh pintu yang dibuka dari dalam.

Tao hampir saja terjatuh. namun ia langsung segera ditarik oleh Kris yang ada didekatnya. Membuat Tao tidak jadi berguling dari tempat ia menguping.

Xiumin pun dengan sigap langsung menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak jatuh berguling. Hanya membuat dirinya menabrak dinding dibelakangnya dengan tubuh depannya.

Hanya Chen yang sampai berguling di lantai karena pintu yang tiba tiba terbuka itu. Ia jatuh dengan kepala yang menabrak dinding dibelakangnya.

"aish! SIA-pa…" Chen langsung Speechless melihat orang didepannya ketika ia ingin memarahinya.

Tidak hanya chen namun semua orang yang ada di depan kelas itu kaget dan langsung menghentikan aktifitas yang sedang mereka lakukan. Tanpa sadar menahan nafas mereka ketika melihat Chanyeol berada di depan mereka.

Bahkan Chanyeol pun juga kaget melihat mereka. Lebih tepatnya orang yang tepat berada didepannya.

"J-Jongdae?"

"ehehehehe.. h-ha-halo Chany-yeol" Sial. Chen ingin sekali ingin bertukar kekuatannya dengan Kai dan memakainya untuk pergi sejauh mungkin dari sini.

Chanyeol menoleh kearah mereka semua dan melihat ada Tao yang sekarang berada di samping kris. Bola mata hitam Tao ia arahkan ke arah lain kecuali ke arah Chanyeol yang sedang melihatnya.

Anggota Orientasi Siswa memang ada 9 namun dua orang lainnya sudah mengetahui kekuatannya. Dan untuk saat ini mereka memang belum bergabung dengan keanggotaan Orientasi Siswa. Kuharap kau juga tidak marah dengan yang satu ini.

Chanyeol teringat dengan ucapan Suho tadi. Ia langsung menatap tajam kepada Chen dan Tao. lalu kemudian ia pergi dari awal dari tempat ia berdiri. Menghilang dari koridor sekolah dengan cepat.

Semua orang yang ada disana menghembuskan nafas lega. Kecuali tao yang menundukkan kepalanya menyesal dan Chen yang sudah mengatakan sumpah serapah kepada dirinya sendiri. Memikirkan nasib nyawanya di tangan Chanyeol.

"jadi.. apa Chanyeol sekarang sudah bergabung?" Tanya kris ketika ia melihat Suho berjalan keluar dari ruangan itu.

"belum. Berikan ia waktu. Oke?"

.

.

.

.

.

.

9 hari telah berlalu setelah kejadian yang tidak disangka sangka oleh Chanyeol.

Selama 7 hari ia tidak masuk sekolah.

Selama 9 hari pula Chanyeol mengelilingi kota seoul tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Ia terkadang berjalan sendiri ke arah taman. Mendudukkan dirinya pada bangku taman yang telah disediakan. Menatap kearah bunga bunga dengan pandangan yang kosong.

Terkadang ia juga menemukan dirinya berada di pantai. Menyusuri pasir pasir putih yang terasa halus dikakinya ataupun memandang ombak pantai yang terlihat tenang.

Ia berpikir ia sedang mencari ketenangan dirinya sejak kejadian seminggu yang lalu.

Namun hatinya berkata lain.

Ia merasa ia dapat menemukan sesuatu.

Sesuatu yang ia tidak ketahui pasti apa yang ia cari.

Sekarang ia sedang menjajakkan kakinya di pusat perbelanjaan Myeondong. Tempat dimana semua perbelanjaan menjual barang dagangannya disini. Dan diramaikan oleh para pembeli yang ingin membeli barang disini. Baik oleh penduduk lokal maupun turis yang sedang mencari souvenir untuk keluarga dan kerabatnya.

Langit sekarang berwarna abu abu. menandakan sebentar lagi akan hujan namun itu tidak menjadi sesuatu yang dipikirkan oleh pengunjung yang berada disana.

Seperti biasa pula. Tempat ini selalu ramai didatangi oleh pengunjung. Chanyeol sekarang sedang menyusuri pusat perbelanjaan itu dan melihat sekelilingnya yang kebanyakan dari mereka melakukan transaksi jual beli.

Tempat perbelanjaan ini memang sedikit luas. Butuh waktu sekitar 15 untuk mengelilingi setengah dari tempat pusat perbelanjaan ini. Rasa lelah mulai menghampiri Chanyeol. Ia merasa bodoh karena datang ketempat ini. Ia merasakan kalau ia akan dapat menemukan sesuatu yang ia cari. Tetapi, Ia berfikir mungkin sekarang saatnya untuk pulang. Ia sudah lama tidak masuk sekolah. Mungkin ia harus segera beristirahat mengingat saat ini waktu sudah memasuki pukul 18.00.

Namun ketika ia berbalik arah menuju tempat awal ia datang. Ia tidak sengaja menabrak seseorang di belakangnya. Orang yang Chanyeol tabrak pun tanpa sengaja menjatuhkan barang bawaannya.

"oh! M-m-maafkan-n aku t-tuan" ucap seorang lelaki yang Chanyeol tabrak dengan terbata bata dan dengan segera ia langsung mengambil barang bawaannya yang terjatuh. Chanyeol tidak dapat melihat kearah wajah lelaki mungil yang baru saja ia tabrak karena wajahnya yang tertutupi masker dan kacamata.

Chanyeol berniat untuk menolongnya namun ia terpaku karena ia melihat sesuatu yang berada di atas tangan kanan lelaki itu.

Lambang dengan bentuk yang seperti matahari dan bintang.

.

.

.

Flashback

.

.

.

"Kau tidak berfikir kalau aku tidak akan mempercayai semua omonganmu bukan? Sudah cukup. Ia tidak mau mendengar lagi cerita dari orang yang berada didepannya. Sudah cukup ia merasa aneh karena kekuatan api yang baru saja ia ketahui. Jodoh? Apa orang yang ada didepannya ini Tuhan?

"aku sudah menduganya Chanyeol. Pengguna api, pengguna petir, dan pengguna es memang susah diajak berbicara ketika mereka mengetahui kekuatan yang ada di dalam dirinya, yah walaupun tidak sesusah pengendali api. Tapi setidaknya kau mempercayai sebagian dari ceritaku yang kau anggap gila itu." Jelas Suho.

"bisakah kita tunda dulu? Demi tuhan! Aku sudah hampir gila dengan api yang dapat keluar dari tubuhku dan-"

"sayangnya tidak bisa. Aku tahu kau tidak ingin mendengar ini namun kau juga harus tau bahwa pengguna cahaya yang belum ditemukan akan menjadi pasanganmu."

"aku mengatakan ini sekarang karena kekuatanmu telah bangkit. Kekuatan yang ada pada dirimu sangat besar sehingga kau bisa merasakan pasanganmu itu."

"kau memiliki potensi untuk menemukan pengendali cahaya. Aku dan yang lainnya sudah mencari sang pengendali cahaya bertahun tahun namun hasilnya nihil. Ia tidak berada di Korea Selatan saat ini. Dan ia bisa saja berada dinegara lain."

"jadi kau ingin mengirimku ke sebuah negara yang tidak aku ketahui hanya untuk mencari sang pengendali cahaya ini?" Tanya Chanyeol.

"tidak. Tapi kuharap kau tahu dimana ia berada. Waktu kita tidak banyak Chanyeol. Jika kita tidak dapat menemukan pengendali cahaya secepatnya. ia akan menjadi bahan incaran kekuatan jahat supaya kita tidak dapat bersatu"

"apakah itu mungkin?"

"ya. Jika kekuatannya belum bangkit. Mereka tidak bisa menyerang kita namun mereka bisa saja menyerangnya karena ia sendiri. Dan mungkin saja ia tidak tahu bahwa bukan hanya dirinya yang mempunyai kekuatan super."

"pengendali cahaya mempunyai lambang yang mirip dengan bentuk matahari dan bintang. Namun lambang itu dapat berada dimana saja di tubuhnya. Lebih mudah jika kau dapat melihat kearah matanya. Karena hanya dirimu yang dapat merasakan-." Jelas suho cepat ketika ia melihat Chanyeol segera menuju kearah pintu keluar ruangan Orientasi Siswa. Tidak mendengar kata kata selanjutnya yang keluar dari mulut Suho.

.

.

.

Flashback end.

.

.

.

Belum sempat Chanyeol mencerna semua perkataan Suho seminggu yang lalu. Tiba tiba saja lelaki itu langsung pergi dari hadapan Chanyeol. Membuat Chanyeol menyadarkan diri dari pikirannya.

Dirinya langsung mengejar lelaki itu. Namun karena padatnya pengunjung dan tubuh lelaki itu yang mungil membuatnya dengan cepat menghilang dari pandangan Chanyeol. Chanyeol mengitari tempat ia terakhir ia melihat lelaki itu namun hasilnya nihil.

.

.

Lelaki mungil itu sudah menghilang dari hadapannya.

.

.

Sial. Ia harus bertemu dengan Suho sesegera mungkin.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya Chanyeol akhirnya masuk ke sekolahnya setelah ia bolos selama 1 minggu. Ia segera berlari kearah ruang Orientasi siswa untuk bertemu suho. Namun ketika ia sedang berbelok di tangga ia menabrak seseorang sehingga kertas kertas yang lelaki itu pegang langsung jatuh berserakan.

"ma-maafkan a-aku" ucap lelaki itu sambil membereskan kertas kertas yang berserakan. Chanyeol merasa bersalah karena menabraknya. Seharusnya ia lebih berhati hati dengan sekitarnya. Dengan segera ia langsung membantu lelaki didepannya. Mengambil kertas kertas yang berserakan.

"akulah yang seharusnya meminta maaf-" ucapan Chanyeol terputus ketika ia melihat lambang yang berada di atas tangan kanannya.

Sang pengendali cahaya! Pikirnya

Tanpa sengaja. Kedua manik mereka berdua bertemu. Dan Chanyeol bersumpah baru kali ini ia merasakan sesuatu yang membuat dirinya seperti ia tidak pernah berpijak di tanah.

Kedua manik hitam itu menatapnya dengan pandangan yang kaget sekaligus tertegun melihat orang didepannya. Wajahnya sedikit tertutupi oleh kacamata dan poninya yang panjang. Hampir menutupi kedua mata yang menurut Chanyeol sangat indah.

Warna rambut hitamnya sedikit membiaskan Cahaya matahari yang menyelinap masuk dari jendela membuatnya terlihat seperti malaikat yang sedang turun kebumi.

Warna kulitnya yang pucat dan pipinya yang tirus tidak membuat kecantikan yang ada dalam diri lelaki itu hilang. Sesaat Chanyeol berfikir apakah lelaki cantik didepannya ini belum sarapan.

Chanyeol kemudian membuyarkan pikirannya ketika lelaki yang dihadapannya berdiri dan langsung pergi meninggalkan Chanyeol yang masih membeku disana.

Yang tidak diketahui oleh Chanyeol adalah lelaki itu sebenarnya juga merasakan apa yang Chanyeol rasakan.

Namun sayangnya ia tidak tahu rasa asing apa yang ia rasakan di hatinya.

.

.

.

.

.

.

"Suho. Tidakkah kau merasa kalau Chanyeol sudah pergi terlalu lama?"

Suho yang mendengar pertanyaan ini pun langsung menghentikan pekerjaannya menandatangani kertas kertas yang ada di depannya.

"Kau benar Yixing. Sudah 1 minggu ia tidak masuk sekolah. Kita harus segera mencarinya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Yixing yang sedang duduk disampingnya segera berdiri dan bersiap siap.

"kalau begitu biar aku yan-"

BRAK

"Hyung!"

"C-Chanyeol?!"

Chanyeol yang membanting pintu ruang Orientasi Siswa langsung segera berlari kehadapan Suho yang kaget dengan kedatangan Chanyeol secara tiba – tiba.

"Ada apa? Kenapa kau sangat buru buru sekali?" Tanya Yixing.

"Pengendali Cahaya. Dia berada disini! Murid sekolah ini!"

"Apa?!" mereka berdua menatap tidak percaya kepada Chanyeol. Suho telah mendata setiap penduduk di Korea selatan secara mendetail dan hanya pengendali Cahaya saja yang tidak masuk ke radarnya.

"tapi hyung. Aku baru saja melihat wajahnya disini. Apakah mungkin ia murid baru?"

Murid baru. Pikir Suho. Itu bisa saja terjadi tapi…

"jika memang ada murid baru disini aku pasti telah mengetahuinya sejak beberapa hari yang lalu Chanyeol. Aku tidak mendapatkan data apapun tentang murid baru dari kepala sekola-"

"Suho Hyung" potong Kyungsoo ketika ia masuk kedalam ruangan yang saat ini diisi oleh mereka bertiga.

"Kau dipanggil oleh kepala sekolah. Aku tidak tahu ada apa tapi katanya ini mendadak –eh Chanyeol?!" Kyungsoo yang sedang menjelaskan perihal dirinya datang ke ruangan itu kaget melihat Chanyeol berada di hadapannya. Membesarkan matanya yang sejak awal sudah besar.

"Hai" ucap Chanyeol santai sambil mengangkat tangannya. Membuat kedua bola mata Kyungsoo semakin membesar.

Yixing yang melihat reaksi Chanyeol sekarang menghembuskan nafas lega. Suho benar. Dengan memberikan Chanyeol waktu Chanyeol pasti akan menerima semua cerita Suho waktu itu.

Namun Suho masih berfikir dengan ucapan Chanyeol tadi.

Jika memang benar dia murid baru…

"baiklah kyung aku akan kesana sekarang" ucap Suho. Ia segera berdiri dari sana dan berjalan menuju ruang kepala sekolah.

Sepanjang perjalanannya menuju ruang kepala sekolah. Dirinya disapa hangat oleh murid lainnya –yang kebanyakan adalah wanita- Suho pun membalas sapaan mereka dengan senyuman. Membuat wanita yang dibalas sapaannya langsung meleleh dengan sapaan suho.

Namun ketika ia sampai di depan ruang kepala sekolah, senyuman yang sejak awal terukir di wajahnya segera menghilang.

Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Tanpa membuang waktu lagi. Suho segera mengetuk pintu ruang Kepala Sekolah. Setelah ada balasan ia segera membuka pintu ruangan itu.

Disana ia melihat Kepala sekolah yang sedang duduk dan seseorang lelaki yang sekarang sedang berada dihadapannya.

"ah Junmyeon. Maafkan aku karena mengganggumu. Namun ini mendadak."ucap sang kepala sekolah.

"itu tidak apa apa pak" ucap Suho setelah ia membungkukkan badannya ke kepala sekolah.

"baiklah. Saat ini kita kedatangan murid baru. Kuharap kau untuk sementara dapat meluangkan waktumu untuk membantu dia beradaptasi dengan lingkungan disini. Karena ia murid pindahan dari luar negeri. Ia orang Korea namun ia telah hidup di negeri lain cukup lama. Kuharap kau dapat membimbingnya."

Suho melirik ke lelaki yang ada disebelahnya.

"tentu saja pak. Saya akan berusaha semampu saya."

"baiklah. Kupercayakan semua ditanganmu oke? Sekarang pergilah."

Mereka berdua membungkukkan badan mereka lalu dengan segera pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.

"anyeong. Namaku Junmyeon. Kau bisa memanggilku Suho" ucap suho sambil membungkukkan badan. Melirik lambang yang berada di atas tangan lelaki itu.

Chanyeol benar. Tapi…

Suho merasakan hal yang ganjil dengan lelaki di depannya. Ia tidak dapat menunjuk dengan pasti apa yang ia rasakan.

"A-anye-yeong. Namaku B-Baekhyun." Ucap lelaki didepannya. Ucapan gagapnya dan matanya yang selalu menunduk kebawah membuat prasangka buruk yang datang dalam pikirannya semakin banyak.

Namun.

.

.

Dari semua prasangka buruk yang Suho dapatkan dari hatinya.

.

.

.

Ia berharap 1 perasaan yang tidak mungkin dimiliki oleh pengendali cahaya di depannya.

.

.

.

.

.

Kegelapan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yay! Akhirnya update wkwkwkwk.

.

Kemarin yang nanyain mana Baekhyunnya tenang aja udah keluar kok dia XD.

.

Jangan lupa Reviewnya ya bagi yang berkenan. Saya tidak memaksa anda mereview namun kritik dan saran anda akan membantu saya untuk melanjutkan cerita ini.