"Aku tak bisa behenti memikirkanmu.."

"Kenapa?"

"Entahlah. Aku sendiri juga tak tahu."

Pikiranku sungguh tidak tenang. Aku tidak bisa berhenti berpikir tentang Tetsuya dan Sayaka. Sayaka bukanlah seseorang yang cengeng, jadi kenapa ia menangis? Aku sungguh penasaran dengan hal itu, tapi saat ini, Tetsuya lebih penting. Sayaka tampak kecewa saat kukatakan bahwa aku harus pulang. Tapi, aku perlu memikirkan hal ini. Sejak mendengar bahwa Momoi menyukai Tetsuya, aku merasa sangat tidak tenang. Tiba-tiba datang sebuah dorongan bagiku untuk mengetahui segala sesuatu tentang Tetsuya. Aku bisa saja menyuruh seorang anak buahku untuk menyelidiki Tetsuya. Tapi tidak, aku ingin agar Tetsuya sendiri yang menceritakannya padaku.

Tapi, bagaimana caranya agar Tetsuya mau menceritakannya kepadaku? Ia pasti membenciku sejak hari itu. Hari ketika aku mengatakan hal yang amat menyakitkan itu. Tidak, tidak, tidak. Tetsuya bukan orang seperti itu. Ia pasti akan memaafkanku. Tapi, aku tetap harus meminta maaf padanya. Doushio?, batinku gelisah. Tidak biasanya aku gelisah dan tidak tenang seperti ini. Biasanya, aku selalu tenang dan bertindak dengan benar. Tampaknya ada yang aneh dengan diriku.

Kurasa sebaiknya aku menyegarkan pikiranku dulu, pikirku sambil bangkit dari posisiku yang sedang berbaring di atas tempat tidurku. Dengan cepat, kuambil jaketku dan berjalan meninggalkan rumah. Kurasa berjalan-jalan malam akan menyegarkan pikiranku.

.

.

Are? Dimana ini?, pikirku bingung. Tadinya aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar rumahku. Tapi, saat kusadari, aku sudah berada di sebuah perumahan yang tidak kukenal. Meskipun otakku tidak tahu harus kemana, tapi tampaknya kakiku tahu persis kemana harus menuju, karena tak lama aku sudah berhenti di depan sebuah rumah belantai dua yang tampak nyaman. Sinar lampu memancar keluar dari jendela - jendelanya. Kulihat, ada sebuah bayangan di jendela di lantai bawah. Tampaknya bayangan itu menyadari kehadiranku dan langsung bergerak menuju pintu rumah.

"Akashi-kun?" tanya sang pemilik bayangan begitu ia membuka pintu depan rumahnya. "Apa yang kaulakukan di depan rumahku malam-malam seperti ini?" tanyanya lagi.

"Tetsuya.." bisikku pelan. Tunggu, ini rumah Tetsuya? Kenapa aku ke sini?

"Lupakan." katanya dengan tenang seakan-akan sudah tebiasa dengan tingkah lakuku yang tidak bisa ditebak. Saat itu, barulah kusadari bahwa aku sangat merindukannya. Suaranya, keberadaannya, senyumannya, dan semua tentang dirinya. "Masuklah. Di luar sangat dingin." kata Tetsuya sambil membukakan pintu bagiku. Lagi-lagi, kakiku bergeak dengan sendirinya mengikuti Tetsuya masuk ke dalam rumah. Rumahnya hanyalah sebuah rumah yang sederhana. Namun mempunyai suasana kekeluargaan yang amat terasa.

"Akashi-kun, apa kau juga ingin ikut makan malam? Kebetulan aku baru saja akan makan malam ketika kau datang." katanya lagi ketika kami sudah berada di dapur rumahnya yang hangat.

"Tetsuya, kau.. tidak membenciku?" tanyaku bingung. Perasaanku menjadi bercampur aduk. Antara heran, berharap, lega, dan sedih.

"Untuk apa aku harus membencimu?" Tetsuya balik bertanya dengan wajahnya yang polos dan tanpa ekspresi.

"Kupikir kau akan membenciku setelah apa yang telah kukatakan padamu." desahku merasa amat lega. Tetsuya tidak membenciku!

"Akashi-kun, aku tidak akan pernah membencimu. Aku tidak akan bisa bahkan meskipun aku menginginkannya." jawab Tetsuya sambil menundukkan wajahnya. Kenapa Tetsuya harus berwajah seperti itu? Aku tak dapat menahannya lagi. Kuulurkan tanganku dan dengan cepat kutarik ia ke dalam pelukanku. "Aka.. shi-kun?" tanya Tetsuya yang tampak terkejut dengan tindakanku ini.

"Tetsuya.. Gomen.. Maaf aku telah menyakitimu." seruku sambil mempererat pelukanku padanya. Aku tidak ingin melepaskannya lagi. "Gomene, Tetsuya, aku sama sekali tidak memiliki kenangan tentang waktu yang telah kita habiskan bersama. Aku merasa frustasi karena tidak bisa mengingatnya. Karena itu aku melampiaskannya padamu. Gomene.." kataku tanpa sedikitpun melonggarkan pelukanku. Bahu kiriku tempat kepala Tetsuya berada terasa basah. Tetsuya.. menangis? Kumohon, jangan menangis.. Aku tak tahan melihat wajah sedihmu itu..

"Daijoubu desuyone, Akashi-kun." jawab Tetsuya sambil melepaskan diri dai pelukanku. "Apabila kau tidak memiliki kenangan tentang waktu yang kita habiskan bersama, maka kita hanya perlu membuat kenangan baru." lanjutnya sambil memandangku dengan matanya yang masih mengalirkan air mata ke pipinya.

"Tetsuya.." panggilku terkejut. Aku sama sekali tidak menyangka Tetsuya akan berkata seperti itu. Perlahan-lahan sebuah senyum muncul di bibirku. Aku sudah menyadarinya sekarang. Tetsuya tak akan meninggalkanku meskipun aku telah sangat menyakitinya. Seperti dikendalikan, kudekatkan wajahku ke arahnya.

Aku bisa merasakan air mata Tetsuya juga ikut mengaliri pipiku sementara bibir kami menyatu..

.

.

"Akashi-kun, ohayou." kudengar sebuah suara memanggilku. Perlahan-lahan, kubuka mataku. Kulihat Tetsuya tersenyum di hadapanku. Segera, sebuah senyum terbersit di bibirku sama seperti setiap kali aku melihat senyum Tetsuya.

"Ohayou, Tetsuya." balasku sambil menariknya ke dalam pelukanku. Kami berdua tidak bergerak selama beberapa saat, menikmati kebersamaan yang beberapa hari lalu terasa sangat tidak mungkin.

"Akashi-kun, kita harus bersiap-siap sekarang kalau tidak mau terlambat ke sekolah." kudengar Tetsuya berkata dari dalam pelukanku. Aku tahu ia benar, tapi rasanya sangat berat untuk melepaskan pelukanku itu. Akhinya, dengan berat hati, kulepaskan pelukanku padanya.

"Kurasa kau benar, Tetsuya." jawabku sambil bangkit dari posisi tidurku tadi. Tiba-tiba kudengar suara hp dari atas meja kecil di sebelah tempat tidur. "Tetsuya, apa itu hp-mu?" tanyaku sambil menunjuk hp yang terletak di atas meja itu.

"Ah, ya. Itu hp-ku." jawab Tetsuya sambil mengambil hp itu. Ia mengamati layar hp itu selama beberapa saat seakan-akan menimbang-nimbang apa sebaiknya ia mengangkat telepon itu atau tidak.

"Tetsuya, siapa itu?" tanyaku bingung melihat tingkah laku Tetsuya. Kulihat Tetsuya sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Rasa cemburu mulai merambatiku. Refleks, kuraih hp itu dari tangannya. Tanpa basa-basi, segera kuangkat telepon itu tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.

"Akash-" kata-kata Tetsuya terpotong.

"Moshimoshi?" tanyaku dengan malas-malasan. Tampaknya si penelepon terkejut karena aku yang mengangkat teleponnya karena ia terdiam selama beberapa saat. "Moshimoshi?" tanyaku lagi bersiap untuk menutup telepon apabila si penelepon tidak juga menjawab.

"Akashi?!" tanya si penelepon dengan nada terkejut. Apa ini? Perempuan? Tunggu dulu.. Rasanya aku mengenali suara ini.

"Momoi?" tanyaku agak ragu. Tampaknya si penelpon itu memang Momoi. Ia terdiam lagi. "Ada perlu apa kau dengan Tetsuya?" tanyaku lagi sambil melirik Tetsuya yang sedari tadi hanya menatapku dengan diam.

"Ah, tidak. Lagipula kenapa kau yang mengangkat telepon Tetsu-kun? Bukannya kalian sudah putus?" tanya Momoi berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Yah, seperti yang kaulihat, di antara aku dan Tetsuya hanya terjadi sedikit kesalahpahaman dan sekarang kami sudah berbaik kembali. Kalau kau tidak punya keperluan, aku akan menutup teleponnya. Jaa, nee." jawabku ketus. Aku merasa tidak senang saat mengetahui bahwa Momoilah sang penelepon. Mungkin karena Momoi menyukai Tetsuya.

"Aka-" kata-kata Momoi terpotong karena aku sudah menutup teleponnya dan mengembalikan hp itu pada Tetsuya.

"Akashi-kun." panggil Tetsuya singkat.

"Nani, Tetsuya? Bukankah kita akan terlambat kalau tidak bersiap-siap sekarang?" senyumku sambil menatap matanya seakan-akan tidak terjadi apa-apa barusan. Tetsuya tampaknya tercengang dengan reaksiku. Ia terdiam selama beberapa saat.

"Kurasa kau benar. Ayo, kita bersiap-siap." jawab Tetsuya akhirnya sambil membalas senyumku.

.

.

Yosh, minna-san, gomen lama update T^T

Saa, Sayaka itu cuma OC buatan author-san aja kok :3

Etto.. mohon reviewnya, minna-san^^