VIDEO TAPE
By : Han Kang Woo Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, EXO Member, etc
Main Cast : KaiSoo
Genre : Romance, Friendship
Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M plus, NC
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Kyungsoo tiba dirumahnya dengan perasaan gundah gulana. Moment teman baru sekelasnya, Jongin bersama seorang yeoja cantik terus mengganggu pikirannya. Padahal dia dan Jongin tidak mempunyai hubungan khusus apa apa.
"Aku pulang." kata Kyungsoo, masuk kedalam rumahnya.
"Kakakmu Yoona mana?" tanya ibu Kyungsoo, yang sementara mengganti tanaman hias di ruang tamu, dia bertanya karena melihat anaknya cuma sendirian.
"Yoona noona masih ada jam kuliah omma. Jadi aku pulang sendiri menggunakan bus." jawab Kyungsoo, pelan. Kakak perempuannya itu memang diberikan kepercayaan untuk membawa mobil, dan dia sering menumpang karena arah kampus kakaknya dan sekolahnya sama.
"Kau harus menelfon kakakmu itu, tanyakan di mana dia." kata ayah Kyungsoo, yang ternyata duduk di sofa ruang tamu, sambil membaca koran. Suaranya bergema dan bergaung.
"Sayang, Yoona sudah besar, sudah kuliah. Dia tentunya bisa jaga diri." kata ibu Kyungsoo, lembut khas seorang ibu.
Ayah Kyungsoo menghentikan aktifitas membacanya, dia menurunkan koran dan melipatnya.
"Walau sudah dewasa, tapi Yoona itu perempuan. Aku tidak ingin anak perempuanku itu terjerumus dalam hal hal yang tidak diinginkan. Pergaulan bebas di Korea ini sudah sangat mengkhawatirkan." tukas ayah Kyungsoo, dengan nada sedikit meninggi.
"Ya, aku paham sayang. Tapi aku percaya dengan Yoona, dia tidak akan terjerumus."
"Kau terlalu memanjakan anak."
"Bukan memanjakan, tapi kita sebagai orangtua juga harus mengerti. Yoona itu kuliah, tugasnya banyak. Terlambat pulang merupakan hal yang wajar."
"Terserah kaulah." ayah Kyungsoo beranjak dari sofa, meletakkan koran diatas meja dengan kasar, kemudian berlalu. Cari angin diluar. Kebetulan hari ini dia tidak masuk kantor.
Ibu Kyungsoo mendesah, menggeleng pelan.
"Appamu selalu begitu, terlalu khawatir dengan dua anaknya. Maka dari itu kau tidak boleh mengecewakan appamu sayang." nyonya rumah itu berkata kepada Kyungsoo, anak laki laki satu satunya.
"I.. Iya omma." gumam Kyungsoo, pelan.
"Telefon kakakmu nanti, tanyakan dimana dia."
"Baik omma."
"Cepat makan dan istirahat."
"Iya omma."
Kyungsoo berjalan pelan, ada sedikit rasa bersalah kepada kedua orangtuanya. Rasa bersalah itu disebabkan tidak lain dan tidak bukan adalah video seksnya.
Dia merasa gagal menjadi anak yang baik. Seandainya saja dia yeoja, bisa dipastikan bahwa masa depannya sudah hancur. Seks malam itu menghancurkan semuanya.
'Ya tuhan...'
Kyungsoo langsung naik kelantai dua, kamarnya. Membuang tas keatas ranjang sembarangan, kemudian merebahkan diri dengan posisi menelungkup. Dia mendesah halus.
Selain percakapan antara ayah dan ibunya yang mengganggunya, kejadian di sekolah tadi juga mengusiknya.
"Ada apa denganku, kenapa bayangan wajah namja hitam itu tidak mau hilang." gumam Kyungsoo, galau. Yang dimaksudkannya tentu saja Jongin.
Kyungsoo menatap tasnya, lalu beranjak duduk dengan gerakan lambat. Dia membuka zipper tasnya dan mengeluarkan kamera video dari sana.
"Aku harus memindahkan file video ini ke ponselku." Kyungsoo menggumam. Hal itu dilakukannya karena biasanya kamera videonya sering di pinjam oleh kakaknya, juga keluarga yang lain. Bisa gawat jika video seks itu tertonton.
Kyungsoo bekerja cepat, menyalin video itu masuk kedalam ponsel layar sentuhnya. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, file itu sudah tersalin. File mentahnya langsung dihapus di memory kameranya. Aman.
"Kau aman Kyungsoo." kata Kyungsoo lagi, pada dirinya.
Namja berbibir bentuk hati itu, memutar video seksnya yang ada diponsel, walau awalnya ragu dan masih malu sendiri.
Play.
Kyungsoo menonton kegiatan seksnya yang tidak pernah direncanakan terjadi. Wajahnya merah, menyaksikan sendiri bagaimana dirinya menjerit dan mengerang. Dengan hole yang dihujam tanpa ampun menggunakan penis jumbo.
Namja itu ingin mematikan video itu, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dalam video itu, pada bagian pinggang sebelah kiri si namja yang memperkosanya ada sebuah tato. Dia tidak bisa memperjelas itu tato apa. Seperti sebuah huruf yang terangkai, bukan gambar.
"Dia punya tato."
Cuma satu tato, dibagian tubuh yang lain tidak ada, hanya dipinggang sebelah kiri saja.
Kyungsoo nampak berpikir keras,
Apa dia harus menelanjangi si Jongin itu untuk melihat tato itu? Atau melakukan seks sekali lagi untuk membandingkan rasa kejantanan versi di hotel dan kejantanan Jongin?
Jawabannya tentu saja tidak, tidak mungkin.
Kyungsoo mematikan video itu, sekaligus menonaktifkan ponselnya sendiri. Dia berusaha melupakan semuanya, dan tidak ingin larut dalam perasaan yang sulit dijelaskan. Tiba tiba...
"Kyungsoo sayang, ada tamu. Dia mencarimu." panggil ibu Kyungsoo dibawah sana.
"Siapa omma?"
"Teman sekolahmu."
Kyungsoo tertegun sejenak, apa itu Baekhyun? Tapi biasanya kalau Baekhyun yang datang, langsung naik dan nyelonong saja, ibunya tidak perlu memberitahu. Karena Baekhyun sudah dikenal dengan baik.
Kyungsoo beranjak enggan, namja itu membuka pintu dan turun ke lantai bawah.
Deg.
Matanya yang sudah bulat semakin membulat, bukan Baekhyun yang datang, tapi Jongin.
"Hai." gumam Jongin, tersenyum pada Kyungsoo.
"Kyungsoo, ajak temanmu ke atas. Omma masih ada urusan. Omma akan membawakan..."
"Tidak usah buat minuman omma..." potong Kyungsoo, cepat.
"Kenapa?" ibu Kyungsoo tidak mengerti.
"Ak.. Aku yang akan membuatnya sendiri."
"Baiklah kalau begitu."
Ibu Kyungsoo tersenyum kepada Jongin, kemudian berlalu, masuk ke ruang dalam. Jongin balas tersenyum, disertai bungkukan singkat, sangat sopan.
Sekarang, hanya tinggal Kyungsoo dan Jongin berdua.
Hening.
"Ah, maaf kalau aku mengganggu. Aku datang untuk menyalin catatan sekolah." kata Jongin, menuturkan tujuannya datang kerumah Kyungsoo secara mendadak.
"Kenapa harus sama aku? Banyak teman yang lain yang bisa kau pinjam catatannya." timpal Kyungsoo, berusaha sebiasa dan sesantai mungkin, walau dalam hatinya, dia merasakan getaran yang sulit dijelaskan.
"Maaf, tapi tulisanmu bagus. Dan juga kau teman sebangkuku." jelas Jongin, tersenyum tidak enak.
Kyungsoo menghela nafas tidak kentara, namja itu tidak mengucapkan apa apa lagi, namun memberikan kode pada Jongin untuk naik bersamanya, kedalam kamar.
o
o
o
o
Kyungsoo dan Jongin masuk kedalam kamar milik Kyungsoo. Dua namja berbeda warna kulit itu belum mengucapkan kalimat apapun, yang membuat suasana menjadi sunyi dan sepi.
Kyungsoo sedikit menjauhkan diri dari Jongin, dia tidak ingin suara detak jantungnya terdengar oleh namja tampan itu.
"Duduk." kata Kyungsoo, mempersilahkan Jongin duduk di kursi meja belajarnya.
"Terima kasih." Jongin duduk, senyuman diwajahnya belum pudar.
Kyungsoo duduk ditepi ranjangnya,
"Kau ingin mencatat materi pelajaran apa?" tanya Kyungsoo, berusaha tetap tenang dan biasa.
"Semuanya kalau bisa." jawab Jongin, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kyungsoo beranjak dan mengambil semua buku catatan pelajarannya, dan meletakkannya diatas meja, depan Jongin.
"Kau bisa mencatatnya dirumahmu, tapi besok kau harus me..."
"Kalau bisa aku ingin mencatatnya disini." potong Jongin, cepat. Tersenyum.
"Di..disini?"
"Ya disini. Bolehkan?"
Kyungsoo diam dan berpikir keras, Jongin ingin mencatat semua materi pelajaran dirumahnya.
"Tapi..."
"Aku tidak akan mengganggu, aku akan mencatat semuanya dalam diam. Kau bisa melakukan apa yang kau ingin lakukan, anggap saja aku tidak ada disini." Jongin berkata lagi, ekspresinya memohon.
Kyungsoo menghela nafas pelan,
"Baiklah, kau bisa mencatatnya disini." akhirnya Kyungsoo setuju.
"Terima kasih." Jongin sumringah, sangat senang.
Tanpa buang waktu, Jongin memulai aktifitas mencatatnya. Tulisan tangan milik Kyungsoo memang bagus dan rapi, jadi dia tidak perlu bertanya, semua terbaca dengan jelas. Jongin bekerja dalam diam.
Hening.
Kyungsoo masih ditempatnya, namja kecil itu sesekali melirik kearah Jongin yang sedang menulis. Lagi lagi dia harus mengakui bahwa sosok dan penampakan Jongin sangatlah tampan, sosok namja idaman yang bisa membuat yeoja manapun bertekuk lutut.
Kyungsoo tidak tahu apakah dia marah atau tidak dengan peristiwa malam itu, dia mencoba melupakannya, tapi moment malam itu tidak mudah untuk dilupakan, terlebih setelah ada rekaman video yang merekam semuanya. Dan rekaman itu belum dihapusnya.
Galau dan galau.
Kyungsoo meraih ponselnya yang off, terbersit pikiran untuk menunjukkan video seks yang kini ada diponselnya itu pada Jongin.
'Tapi, bagaimana kalau dia menyangkal video itu...' batin Kyungsoo, masih ragu. Dia berpikir dalam diam. Sementara itu Jongin masih sibuk dengan kegiatan mencatatnya.
Kyungsoo menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan, lalu menatap serius kearah Jongin.
"Hm... Aku ingin menanyakan sesuatu." kata Kyungsoo tiba tiba, memutuskan akan mengulik terlebih dahulu.
"Tanya apa? Katakan saja." timpal Jongin, menghentikan sejenak kegiatannya, dan memberikan senyuman khasnya pada Kyungsoo.
Kyungsoo bergetar lagi, senyuman dari namja itu membuatnya seperti 'blank', tapi dia berusaha tetap fokus dan melanjutkan pertanyaannya.
"Hhmm, apa kau pernah minum?" tanya Kyungsoo.
"Minum?"
"Minum minuman beralkohol."
"Ya, sesekali. Itupun kalau ada ada acara tertentu, atau teman yang memaksa." jawab Jongin, jujur.
Kyungsoo mencerna jawaban Jongin itu, jawaban itu masih belum jelas.
"Apa kau pernah berlibur ke pulau Jeju?" Kyungsoo mengganti pertanyaan.
"Ya, tentu saja. Pulau itu sangat indah."
"Kapan kau pergi?"
"Dua hari yang lalu kalau tidak salah."
Kyungsoo menahan nafasnya, tepat. Tepat sekali. Dua hari yang lalu juga dirinya di pulau itu.
"Apa kau menyewa sebuah hotel?"
"Ya, tentu saja. Sangat sulit jika tidak menyewa hotel disana."
Tepat lagi, semuanya sama.
"Apa kau pernah bertemu denganku sebelumnya?" Kyungsoo terus mengajukan pertanyaan.
"Tentu saja, kau sangat lucu... Kita bertemu di sekolah." Jongin menjawab dengan sedikit tertawa pelan.
"Mak.. Maksudku sebelum di sekolah?"
Jongin mengernyitkan dahinya, mencoba menebak kemana arah pertanyaan dan pembicaraan Kyungsoo.
"Tentu saja tidak. Kita baru bertemu pertama kalinya di sekolah." jawab Jongin, setelah berpikir.
"Apa kau yakin?" Kyungsoo tidak sabar.
"Yakin. Sangat yakin."
Kyungsoo frustrasi dengan jawaban Jongin. Pengakuan terakhir Jongin itu meruntuhkan jawaban jawaban awal namja itu. Jongin sama sekali tidak mengenalnya sebelum menjadi teman sekolah.
Kyungsoo sebenarnya sangat berharap Jongin lah yang malam itu menjamah alias memperkosanya.
Apa? What?
Kyungsoo harus jujur pada hatinya bahwa dia suka dengan sikap baik, sopan dan lembut Jongin. Dan tidak suka dengan sikap kasar, liar dan preman namja yang malam itu memperkosanya. Dia berharap sikap asli Jongin adalah yang sekarang.
"Tapi... Co.. Coba kau ingat ingat lagi, apa kau sama sekali tidak mengenaliku?" Kyungsoo masih berusaha mendapatkan jawaban pasti.
"Maksudmu, apa kita pernah berteman dan bertemu sebelumnya? Begitu?" Jongin malah bertanya.
"Bukan, maksudku... Eh, ahh... Lupakanlah. Aku sepertinya salah." Kyungsoo mengacak rambutnya kasar, tambah pusing. Namja berdiri dan melangkah ke pintu.
"Tapi, kau belum menjelaskan ada apa. Siapa tahu saja..."
"Sudahlah... Aku salah." Kyungsoo memotong kalimat Jongin.
Jongin memandang Kyungsoo dengan wajah heran dan ingin tahu, namja berkulit seksi itu tidak melanjutkan kegiatan mencatatnya. Dia berdiri dan mendekati Kyungsoo.
"Maaf, tunggu... Tapi aku masih penasaran. Apa ini ada hubungannya dengan sikapmu padaku di sekolah? Kau selalu menjauhiku, Tidak ingin memandangku, ketus padaku. Tolong jelaskan." kata Jongin, mempersempit jarak dengan Kyungsoo.
Kyungsoo bergetar lagi, posisi Jongin sangat dekat dengannya. Lebih lebih dengan keingintahuan Jongin yang mendadak, dia menyesal bertanya kepada namja itu.
"Eh, ini... Aku.."
"Tolong jelaskan, kau sepertinya menyembunyikan sesuatu dan itu ada hubungannya denganku. Aku ingin semuanya menjadi terang sekarang. Tolong bicaralah..." pinta Jongin, semakin dekat dengan Kyungsoo. Posisi wajah mereka hanya beberapa inci saja.
Kyungsoo menundukkan wajahnya, kedua tangannya bergetar. Jantungnya berdetak cepat lagi, rasa itu kembali muncul.
"Katakan saja, tolonglah. Aku ingin tahu." paksa Jongin, nadanya tetap halus, namun ada sedikit penekanan.
Hening sejenak.
"Apa benar kau ingin tahu..." mendadak Kyungsoo berseru, dia mendongak dan memberanikan dirinya menatap mata milik Jongin.
"Ya, aku ingin tahu."
"Kalau begitu, buka bajumu dan telanjang di depanku." seru Kyungsoo, tidak main main.
"Apa? Buka baju? Telanjang?"
"Lakukan sekarang."
Kyungsoo tanpa aba aba langsung mendorong Jongin dengan keras, dia mengerahkan semua tenaganya, hingga membuat Jongin terjengkak dan jatuh tepat diatas ranjang.
"Buka bajumu..."
"Baiklah, aku akan membukanya." Jongin menyanggupi, tanpa bertanya lagi. Dia akan melakukan apa saja asalkan Kyungsoo mau jujur dengan semuanya.
Jongin membuka baju kemejanya, membukanya dengan gerakan pelan, namun sangat seksi dimata Kyungsoo.
Glek, Kyungsoo menelan ludahnya. Berharap bisa melihat Jongin telanjang dada dan memastikan tato kecil dibagian pinggang namja itu. Tato yang dilihatnya di video seksnya.
Kemeja Jongin sudah lepas, tapi tubuh atasnya belum telanjang, karena masih ada baju kaosnya yang belum dilepas. Namja itu memang menggunakan dua lapis baju.
"Tu.. Tunggu dulu." kata Kyungsoo tiba tiba, dia berjalan dan menghentikan Jongin.
"Kenapa?"
"Eh, itu.. Anu..." Kyungsoo tergagap, terlintas niat untuk tidak melanjutkan semuanya.
"Aku tetap akan membukanya, jika hal itu bisa membuatmu menjelaskan semuanya..." ujar Jongin, lalu lekas melepas kaosnya, dengan cepat.
Dan kini, Jongin sudah telanjang dada didepan Kyungsoo, diatas ranjang.
Kyungsoo menoleh kesamping, secara spontan. Malu dengan dirinya sendiri. Tubuh bagian atas Jongin yang telanjang itu sekaligus membuatnya sulit bernafas.
"Sekarang apa?" tanya Jongin,
Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Jongin, namja itu masih membuang muka kesamping, dia seperti patung sekarang. Suhu tubuhnya mendadak meninggi.
"Hei, kau tidak apa apa?" Jongin duduk diatas kasur dan meraih tangan Kyungsoo.
Kyungsoo masih belum memberikan jawab apa apa, dia membiarkan Jongin memegang tangannya. Pikirannya mendadak kosong dan sulit fokus.
'Ya tuhan'
"Sebenarnya kau kenapa? Aku masih tidak mengerti." Jongin menggumam dan memegang pipi Kyungsoo, refleks.
Kyungsoo yang pipinya dipegang, perlahan memejamkan matanya, dia seperti ingin pingsan sekarang. Sekali lagi Jongin menyentuhnya, dia dipastikan akan terkulai dan pingsan ditempat.
"Kyungsoo, jawab aku... Kau membuatku takut." ulang Jongin,
"Ak... Aku.. Aku..." gagap Kyungsoo, kehilangan suaranya. Dia membuka matanya dan mengarahkannya ke bagian pinggang Jongin.
Namun...
Tiba tiba, pintu menjeblak terbuka. Sosok cantik kakak Kyungsoo muncul dibalik pintu, Yoona.
"Soo ya, aku ingin... Ohh, apa yang..." Yoona tidak melanjutkan kalimatnya, matanya menatap dengan tatapan kaget, terutama dengan posisi Kyungsoo yang intim dengan seorang namja yang telanjang dada.
Terlintas pikiran negatif dan tidak tidak dibenak Yoona terhadap adiknya itu.
"Kalian tidak seharusnya berpacaran di kamar."
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Chapter 3 update. Respon dan komentarnya sangat membantu dan membuat ff ini lanjut lagi. Maaf, mungkin sulit update setiap hari, karena kesibukan juga. Jadi aku kemungkinan update dua hari sekali, itupun disesuaikan, hehehee...
Terima kasih atas Reviewnya dichap lalu, aku terharu lho... Aku takut jika pembaca bosan dengan tema seperti ini, hehehee. Mudah mudahan pertanyaannya terjawab dichap ini, jika belum terjawab, aku yakin akan terjawab di chap depan. Chanbaek juga akan sedikit 'nyempil'.
Review lagi ya, supaya bisa fast update lagi.
Salam
Han Kang Woo
