"Pipiku sakit~~"

Ten tergelak kecil mendengar Haechan yang merajuk, diusapnya pipi tembam yang berwarna merah kebiruan itu dengan lembut. "Maafkan Ibu ya, Haechanie~" ucap Ten. Pria itu benar-benar menyesal karena sudah menampar sang anak.

"Tidak mau… Salah siapa main tampar begitu saja" balas Haechan. Anak itu menjauhkan diri dari Ten dan memilih menyandarkan kepala di jendela bus –menatap jalanan yang ramai karena jam sekolah telah selesai.

"Kepala Ibu juga sakit lho kena lemparan sepatumu"

Haechan yang tadinya ingin merajuk, otomatis menoleh. Cengiran lebar terukir di wajah manisnya. "He…He.. Maaf ya Bu, salah siapa dipanggil tidak menoleh. Aku jadi kesal" kata anak itu. Ia menggeser duduknya kembali mendekati Ten, dengan polos menduselkan kepalanya di bahu sang Ibu. Persis seperti kucing.

"Jadi….?" Ten bertanya, sedikit mengulur waktu untuk melihat reaksi dari bocah nakalnya "Mulai dari nol, nih?"

Tawa lebar dari Haechan menjawab pertanyaan Ten. Pria itu ikut tertawa sembari mengecupi pipi anaknya. Mengabaikan orang-orang di dalam bis yang menatap mereka karena terganggu.

Ten tidak peduli, karena baginya, tawa Haechan adalah poros hidupnya.

.

.

PAST PRESENT FUTURE

.

.

Jaemin menekan tombol back di ponsel pintarnya, keluar dari menu kakaotalk setelah mengirim sebuah pesan untuk sahabatnya –Haechan. Ia tertawa sendiri, membayangkan bagaimana reaksi Haechan saat menerima pesan darinya, anak itu pasti kesal karena dikatai gembrot. Well, Jaemin tebak, si semok itu pasti akan minta diet setelah ini.

Jaemin membuka galeri ponsel, seketika senyum manisnya merekah. Ratusan foto yang baru saja ia pindahkan dari memory card kamera milik appanya tersusun rapi, kebanyakan adalah potret dirinya dan sang eomma. Ia menggeser layar ponselnya ke kanan, mengamati satu persatu foto yang membuatnya tak berhenti tersenyum.

Ia baru saja pulang dari liburan dadakan. Lebih tepatnya, ia sendiri tidak menyangka kalau kedua orangtuanya akan mengajaknya berlibur ke Jeju saat ia masih harus sekolah. Belum lagi jadwal kerja orangtuanya yang sangat padat.

Berkumpul dalam satu waktu di rumah saja adalah sebuah hal yang langka bagi keluarganya, apalagi liburan seperti ini. Jaemin tidak keberatan membolos selama tiga hari, ia malah ingin liburan dadakan ini diperpanjang. Karena sungguh, ia memang benar-benar merindukan quality time dengan orangtuanya.

CEKLEK

"Sudah bangun, sayang?"

Suara Doyoung –eommanya terdengar lembut. Jaemin tersenyum lalu menganggukkan kepala. Ia bangun dari posisi tidurnya lalu memeluk perut Doyoung.

"Aku capek tidur terus, eomma" gumam Jaemin. Ia lalu melepaskan Doyoung dan menepuk sisi kosong tempat tidurnya, meminta kedua orangtuanya untuk duduk.

"Appa dan eomma tidak bekerja?" tanya Jaemin. Ia sedikit bingung mendapati keduanya masih di rumah. Jaemin pikir, mereka akan kembali ke rumah sakit untuk bekerja.

"Wae? Kau tidak suka kami ada dirumah?" Pertanyaan menggoda dari appanya membuat Jaemin mengerucutkan bibir. Kata siapa ia tidak suka, ia malah bahagia sekali. Jarang-jarang orangtuanya cuti dalam waktu yang lama, kalau Jaemin boleh meminta, ia ingin salah satunya berhenti menjadi dokter saja.

Taeil yang melihat wajah kesal sang anak tertawa pelan. Ia mengusak rambut Jaemin yang sedikit berantakan "Jaeminie~" panggil pria itu. "Ada yang eomma dan appa ingin bicarakan denganmu"

Jaemin menegakkan duduknya, ia mengamati raut Doyoung dan Taeil yang kentara sekali sedang menahan sesuatu. Ia jadi ikut gelisah, pikiran-pikiran yang selama ini ia pendam kembali bermunnculan. Seketika tubuhnya gemetar, takut kalau hal itu akan benar terjadi.

"Sayang…." Doyoung meraih atensi anak laki-lakinya, ia menggenggam telapak tangan Jaemin yang sedikit dingin. "Mungkin hal ini akan membuatmu marah pada appa dan eomma. T –tapi…."

Kalimat Doyoung terhenti, sebuah air mata mengalir menuruni pipi, susah payah ia melanjutkan kalimat yang sangat berat keluar dari mulutnya.

"T –tapi ingatlah, bahwa appa dan eomma selalu menyangimu." Doyoung berhenti, ia ingin mengatakan kalimat lainnya namun tak sanggup. Ia menoleh pada Taeil, meminta bantuan laki-laki itu.

"Jaeminie, anak kesayangan appa….." Taeil berucap sambil mengusap pipi Jaemin lembut. Ada kesedihan yang terpancar di manik hitam yang selalu meneduhkan itu. Jaemin meneguk ludahnya kasar, matanya berembun, nafasnya tersendat-sendat karena isakan itu ingin melesak begitu saja.

"Appa dan Eomma akan bercerai."

Remuk.

Hati Jaemin seperti diremukkan secara paksa.

Buliran bening itu mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ketakutan yang selama ini ia pendam terjadi. Liburan ini hanyalah kamuflase kebahagiaan sebelum semuanya direnggut secara paksa detik ini juga.

"Sayang…. Maafkan eomma…."

Doyoung yang tidak tahan melihat Jaemin menangis segera menarik putranya untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia kecup berkali-kali puncak kepala Jaemin penuh sayang. Doyoung sendiri sudah terisak, ia tahu, hari ini ia sudah menorehkan luka yang begitu besar. Ia dan Taeil mungkin tidak akan termaafkan.

Taeil yang melihat dua orang yang harusnya ia lindungi itu menangis memilih menundukkan kepala. Hatinya sangat sakit namun tidak tahu harus melakukan apa. Perceraian bukanlah hal yang ia inginkan. Pada saat ia bersumpah di hadapan Tuhan ketika menikahi Doyoung, ia berjanji bahwa hanya maut yang akan memisahkan mereka. Namun ia melanggar sumpah yang ia buat sendiri.

"K –kenapa?" bisik Jaemin lirih. Namun ia cepat menggeleng, mengganti pertanyaannya "A –apa… hiks… tidak bisa dirundingkan terlebih dahulu?" Suaranya menghilang berganti dengan isakan lirih yang terdengar pilu.

Jaemin memang sudah menduga ada yang tidak benar dengan kedua orangtuanya. Keduanya memang tidak pernah bertengkar secara frontal, berteriak satu sama lain atau membanting barang-barang seperti di dalam drama kebanyakan. Namun Jaemin bisa melihat bahwa cinta di hati mereka telah berkurang.

Taeil memang masih mencium Doyoung di hadapan Jaemin, jika ada waktu mereka akan sarapan bersama, sekilas tidak ada yang aneh karena orangtuanya berakting dengan sangat baik. Namun Jaemin tahu semua itu hanyalah kepura-puraan, orangtuanya hanya tidak ingin membuat Jaemin tertekan karena masalah mereka.

"Appa dan eomma sudah bermeditasi, tapi sampai saat ini kami berdua tidak juga menemukan jalan yang sama" jawab Taeil

Jaemin menjauhkan diri dari Doyoung maupun Taeil, ia sesenggukan namun sebuah senyum ia paksakan terukir dari bibirnya.

"A –apa kalian.. hiks.. benar-benar akan berpisah?"

Pertanyaan retoris yang tidak satupun ingin menjawab. Baik Doyoung maupun Taeil hanya diam.

"Apa kalian menemukan seseorang yang baru diluar sana?" dugaan Jaemin membuahkan gelengan dari Doyoung maupun Taeil.

"Tidak ada orang ketiga dalam hubungan kami, sayang." Jawab Taeil. "Hanya saja, appa dan eomma tidak lagi menemukan kecocokan. Kami selalu berselisih namun tidak menunjukkannya di hadapanmu. Kalau diteruskan, hal itu hanya akan membuat kita bertiga terluka"

"Tapi aku tidak ingin kalian bercerai…. Hiks….." Jaemin menyengguk "Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa appa dan eomma…"

"Jaemin –ah…." Panggil Doyoung. Ia mengusap sisa air matanya. Bagaimanapun juga, kesedihan ini harus segera diakhiri, ia tidak akan membiarkan anaknya terluka lebih banyak dan lebih dalam lagi.

"Kau sudah dewasa... Mungkin hal ini menyakitimu… Tapi percayalah bahwa jalan ini adalah yang terbaik untuk kita semua." Doyoung memberikan pengertian. "Berpisah bukan berarti kau akan kehilangan salah satu dari kami." Sebuah usapan lembut Doyoung berikan di pipi Jaemin yang basah oleh air mata.

"Eommamu tetaplah Kim Doyoung, dan appamu adalah Moon Taeil. Kau tetaplah anak kesayangan kami."

Airmata terus mengalir, Jaemin mengigit bibir, hatinya terasa sakit luar biasa. Bahkan Doyoung sudah tidak lagi menggunakan marga Moon. Jaemin ingin membantah, tapi itu hanya akan membuat kedua orangtuanya bersedih. Anak mana yang ingin orangtuanya bercerai, tidak ada satupun yang ingin.

Orangtuanya juga bukanlah orangtua yang egois. Mereka tidak begitu saja bercerai tanpa sepengetahuannya. Doyoung dan Taeil membicarakan hal ini bersamanya, memberikan pengertian padanya walaupun sampai saat ini hatinya masih tidak ingin mengerti.

"T –tapi keluargaku tidak akan utuh lagi…. Hiks… Aku tidak akan bisa melihat eomma dan appa sesukaku" Jaemin menundukkan kepala, menghindari dua fokus laki-laki dewasa yang sedari tadi mengarah padanya. "Kalau kalian mempunyai keluarga lagi, kalian akan melupakanku, kan?"

Doyoung menangis, ia menggelengkan kepala berkali-kali. "Tidak… Tidak ada yang melupakanmu Jaemin –ah…." Ia memeluk Jaemin yang sesenggukan "Kau akan selalu menjadi anak eomma. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam hati eomma"

"Aku selalu rindu appa dan eomma…" lirih Jaemin "Saat kalian sibuk bekerja aku selalu merindukan kalian. Bahkan dalam tidur aku selalu memimpikan kalian berdua. Kalau aku ingin marah karena kalian jarang punya waktu untukku, aku selalu mengatakan dalam hati bahwa apa yang kalian lakukan adalah untuk kebaikanku suatu saat nanti."

Jaemin kembali menangis, tapi ia melanjutkan semua perasaan yang dipendamnya selama ini. "Aku bersyukur sekali saat kalian mengajakku liburan. Aku memang sangat menantikan saat-saat seperti kemarin….. Hiks….. Rasanya seperti tidak nyata. Saat kalian bilang ingin bercerai pun rasanya juga tidak nyata." Ia mengusap airmatanya, tersenyum manis walau airmatanya kembali mengalir "Tapi ini semua adalah kenyataan. Dan aku harus menerimanya, bukan?"

Jaemin bisa apa. Orang dewasa punya pemikiran sendiri yang lebih kompleks. Apa yang Jaemin anggap baik belum tentu baik juga untuk kedua orangtuanya. Ia ingin meraung, mengubah keputusan appa dan eommanya, namun apa yang harus ia lakukan. Daripada harus melihat Doyoung dan Taeil menderita meneruskan rumah tangga mereka, lebih baik ia yang mengalah.

"Aku sangat takut sekali sekarang…." Lirihnya. "Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa lagi."

Doyoung menarik Jaemin untuk memandangnya. "Kau punya eomma." Tunjuk Doyoung pada dirinya sendiri "Kau punya appa" kali ini laki-laki itu mengarahkan tangannya pada Taeil.

"Kau selalu punya kami, sayang."

Jaemin menggengam telapak tangan Doyoung dengan sebelah tangannya, satu tangannya ia gunakan untuk menyeka air mata yang mengalir di wajah sang Ibu. Bagaimanapun ia membenci keputusan kedua orangtuanya, ia tetap menyayangi mereka sepenuh hati.

"Eomma…. Appa…." Ucap Jaemin. "Maafkan aku karena selama enam belas tahun ini sudah merepotkan kalian…. Hiks…. Hari ini aku ingin berterimakasih kepada kalian karena telah merawatku, menyayangiku, dan memberikanku cinta yang tidak ada habisnya."

"Mungkin setelah ini kita tidak bisa berkumpul seperti ini lagi, jadi aku ingin bilang kalau aku sangat menyayangi eomma dan appa"

Baik Taeil dan Doyoung tidak bisa menahan isakan mereka. Keduanya memeluk Jaemin. Mereka baru sadar, putra satu-satunya yang selalu mereka anggap bayi telah berubah menjadi sosok yang dewasa.

Jaemin tersenyum dalam tangisnya, mungkin keluarganya tidak akan lagi utuh. Tapi mereka adalah sumber kebahagiaan untuknya.

Malam itu ketika Taeil membawa koper dan kardus-kardus berisi barang-barang lainnya, Jaemin dan Doyoung mengantar kepergiannya di halaman rumah.

"Appa pergi dulu Jaeminie~" pamit Taeil. "Tidak usah menunggu appa. Appa akan pulang telat" tambahnya.

Bohong.

Appanya berbohong kan. Jaemin tahu itu.

Satu kecupan di kening yang Taeil berikan untuk Doyoung dan dirinya membuat Jaemin sadar. Bahwa appanya akan pergi dan tidak kembali.

"Appa….." panggil Jaemin berulang kali, berharap laki-laki itu akan menoleh sedetik saja.

"Hati-hati appa…..."

Tangisan Jaemin tidak bisa berhenti saat mobil yang membawa sang ayah melaju meninggalkan rumah.

.

.

PAST PRESENT FUTURE

.

.

Suara mesin jantung terdengar menggema di dalam ruangan serba putih yang tampak hening. Seorang pria duduk diatas kursi yang berada di samping tempat tidur.

"Sayang…. Bangunlah…."

Yuta terbiasa seperti ini. Berbicara seorang diri dengan sosok yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Dikecupnya punggung tangan pasangan hidupnya itu penuh kelembutan.

"Kau tahu?" katanya "Jeno hari ini meninju teman sekelasnya. Dan aku harus meninggalkan kantor karena guru konselingnya menelponku" Yuta terkekeh setelahnya.

"Dia marah padaku…. Katanya aku selingkuh dengan teman sekantorku…." Ucap Yuta "Padahal itu Ten –sahabatmu. Kau ingat Ten kan? Laki-laki cebol yang punya dua anak itu lho. Dulu dia dan keluarganya sering bermain bersama kita, hanya saja kita putus komunikasi karena suaminya mengajaknya pindah. Tahu-tahu, kemarin dia menjadi asisten baruku"

Tidak ada jawaban. Yuta menghela nafas, sudah dua jam ia berbicara sendiri. Ia rindu sekali dengan senyum istrinya. Rasanya ingin menangis melihat orang yang ia cintai terbaring begitu lemah. Belum lagi melihat alat-alat yang menempel di tubuh yang semakin hari semakin kurus itu.

"Winwinie….." panggil Yuta.

Dua tahun lalu ia masih bisa mendengar suara riang pujaan hatinya itu. Sebelum sebuah kecelakaan hebat membuat winwin terbaring koma dan tidak pernah membuka matanya lagi.

"Bangunlah,…. Kumohon….." lirih Yuta. "Jeno membutuhkanmu. Dua tahun yang lalu ia mengikuti upacara penerimaan murid baru tanpamu. Apa kau juga tidak akan melihatnya saat lulus nanti?"

Air mata Yuta mengalir perlahan. Ia cepat menghapusnya, ia tidak ingin terlihat lemah. Winwin pasti mendengarnya, ia yakin itu.

"Aku membutuhkanmu…."

Sekuat apapun ia mencoba untuk tidak menangis, ia tetap kalah. Kerinduan Yuta telah sampai pada batasnya.

"Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku sendirian… Kau bilang kita akan merawat Jeno bersama-sama. Tapi kenapa kau bohong?"

"Aku tidak bisa memasak dengan baik, aku masih sering salah memadukan warna dasi dengan kemejaku, aku bahkan tidak bisa mencukur daguku dengan benar" Yuta mengadu, terisak pada sosok yang tak bergerak sedikitpun. "Lihatlah….. Daguku terluka… Biasanya kau akan menciumnya untuk meredakan sakitnya.."

"Mana ciumanku? Kenapa kau tidak pernah melakukannya lagi?..."

Tidak hanya Jeno yang terluka, namun laki-laki dewasa ini juga terluka. Melihat orang yang kau cintai terbaring di antara hidup dan mati, siapa yang tidak merana.

"Yuta –ssi ? "

Yuta tersentak kecil saat suara seseorang memanggil namanya. Ia segera menghapus airmatanya dan membungkuk pada dokter jaga yang menangani winwin.

"Maaf dokter, saya tidak mendengar anda masuk kesini."

Dokter bernama Yunho itu tersenyum maklum. Ia melangkah mendekati Yuta. "Ada yang ingin saya bicarakan mengenai kondisi istri anda. Lebih baik Yuta ssi ikut ke ruangan saya." Ucapnya.

Yuta mengangguk lalu keduanya berjalan berdampingan menuju ruang dokter Yunho yang selama satu tahun ini menangani Winwin, setelah dokter sebelumnya berpindah ke divisi lain.

"Saya mungkin sudah pernah mengatakan ini Yuta ssi" mulai Yunho menjelaskan. "Kondisi istri anda tidak menunjukkan perkembangan apapun. Bahkan setelah menggunakan obat baru tetap tidak ada reaksi apapun."

Keringat dingin mengalir di pelipis Yuta. Laki-laki itu tahu kemana arah pembicaraan ini.

"Kami dan tim telah berusaha keras untuk melakukan perawatan terhadap Tuan Winwin, namun segala usaha pasti ada batasnya. Jika anda berkenan untuk meringankan segala kesakitan yang istri anda rasakan–

Relakan dia, Yuta ssi"

.

.

"Ibu…."

Haechan mengetuk pintu kamar Taeyong. Ia terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi. Biasanya ia akan minta ditemani tidur Ten supaya bisa kembali terlelap.

Tidak kunjung dibukakan pintu, Haechan membuka pintu coklat didepannya. Kosong. Tidak ada ibunya di dalam kamar itu. Haechan mengernyitkan kening, ia lalu keluar dari kamar tidur Ten dan mencari laki-laki itu di tempat lain.

Sayup-sayup Haechan mendengar isakan lirih dari ruangan yang selalu ia dan Ten gunakan untuk berdoa. Dengan pelan, Haechan menggerakkan kakinya untuk mendekat.

"Tuhan…." Ten memejamkan matanya. Aliran airmata mengalir deras di pipi putih itu. "Hari ini aku menampar anakku. Dia bilang pipinya sakit, tapi hatinya pasti lebih sakit, bukan?"

Haechan membekap mulutnya untuk mencegah isakan yang keluar. Ia terduduk lemas di lantai menatap punggung kecil Ten yang terguncang pelan. Ia yakin ibunya pasti menangis.

"Orang bilang aku jalang, aku tidak apa-apa sungguh, tapi anakku pasti akan terluka jika mendengarnya."

"Aku bukanlah Ibu yang sempurna, aku bahkan tidak bisa mempertahankan sosok Ayah yang selalu ia tanyakan. Jangan biarkan siapapun menyakitinya, biar aku saja Tuhan yang tersakiti, jangan anakku"

Ibu…. Ibu…. Ibu….

Haechan meraung di dalam hati. Ia panggil nama ibunya berulang kali. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ten selalu berdoa dan menangis diam-diam di setiap malam.

"Ibuku sempurna…."

Sebuah pelukan dari belakang membuat Ten mematung.

"Tidak apa-apa aku tidak punya ayah…. Hiks…"

"Asalkan ada Ibu aku akan selalu baik-baik saja…."

Isakan itu membuat Ten berbalik. Dadanya seketika sesak melihat Haechan yang berurai air mata.

"Semua Ibu di dunia ini pastilah orang yang hebat. Tapi Ibuku adalah yang terhebat"

Ten mengusap pipi Haechan penuh sayang, dihapusnya air mata yang mengalir. "Walaupun Ibu jarang punya waktu untukmu?" tanyanya.

Haechan mengangguk.

"Walaupun Ibu sering marah padamu?"

Haechan kembali mengangguk.

"Wal–"

"Walaupun Ibu mengomeliku, memarahiku, memukulku…. Walaupun Ibu tidak selalu ada untukku, sering lupa hari pentingku, dan selalu membuatku kesepian–

Ibu tetaplah yang terbaik"

Ten tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Ia bukanlah Ibu yang gagal, seorang single parent sepertinya juga bisa membesarkan putranya seorang diri. Lihatlah, Haechan tidak pernah membuatnya berhenti bersyukur bahwa ia dikarunia anak yang sangat menyayanginya.

.

.

PAST PRESENT FUTURE

.

.

"GENDUTTTT~~~~"

Teriakan beberapa oktaf itu membuat seseorang yang sedang berjalan menuju loker sekolah tersentak kaget. Seseorang itu –Haechan sampai memegang dada, tanpa berbalik pun ia tahu siapa pemilik suara sialan yang memanggilnya gendut itu.

"Berhenti memanggilku gendut boncel!" kesal Haechan. Bibirnya mengerucut lucu, lengannya merentang untuk memeluk Jaemin.

"Maaf…. Kau pasti sangat merindukanku ya?" tanya Jaemin. Sengaja hari ini ia tidak memberitahu sahabatnya itu kalau ia akan datang ke sekolah.

"Bolos saja terus sana, tidak usah bertemu denganku selamanya sekalian" ucap Haechan ketus. Ia kesal saja karena Jaemin tidak memberitahu kemana ia pergi. Haechan bahkan berkali-kali datang ke rumah Jaemin namun harus puas pulang dengan tangan kosong karena rumah anak itu sepi sekali.

Jaemin tertawa, ia meminta maaf berulang kali. "Maaf deh, aku bawa oleh-oleh lho dari Jeju. Kalau kau masih marah, aku kasih saja untuk orang lain."

Mendengar kata oleh-oleh, manik Haechan berbinar ceria. Ia langsung melupakan kekesalannya. "Mana? Mana?" tanyanya antusias.

Jaemin tergelak lagi, namun tawa itu segera terhenti saat melihat lebam di pipi Haechan. "Kau kenapa? Kenapa sampai lebam begini?" tanyanya.

"Aish! Ini gara-gara Jeno sialan itu. Dia meninjuku kemarin." Balas Haechan.

Jaemin menutup mulutnya tak percaya. "Kau berkelahi dengan Jeno?"

Haechan mengangguk. Ia malas sekali sebenarnya membahas kejadian kemarin. Ia menarik lengan Jaemin untuk segera masuk ke kelas.

"Eh? Kau habis menangis?" tanya Haechan. Ia mengamati mata bengkak Jaemin yang sangat kentara kalau anak itu habis menangis.

"Aish! Nanti saja kuceritakan. Masuk kelas duluan sana, aku ingin ke toilet dulu"

Tanpa mendengar jawaban dari Haechan, Jaemin segera berlari menjauh. Langkah kakinya besar-besar, ia takut bayangan seseorang yang tertangkap oleh indra penglihatnya menghilang.

"JENO!" seru Jaemin.

Jeno yang merasa dipanggil menoleh. Seketika matanya melebar.

"Kau habis meninju Haechan ya?"

Jaemin terang-terangan bertanya, bermaksud menyudutkan anak itu. Ia tidak takut sama sekali dengan tatapan elang milik Jeno yang seakan menelanjanginya.

"Kalau iya kenapa?"

Jaemin menggertakkan gigi mendengar jawaban dari Jeno. Ia kesal sekaligus marah pada laki-laki bermata sipit itu.

"Kenapa kau meninjunya?" teriak Jaemin tidak terima. Beruntung lorong ini sepi, tidak ada satupun yang melintas. Jadi mereka tidak perlu khawatir ada yang melihat.

GREP

Bukan jawaban yang ia terima, tapi sebuah pelukan hangat dari laki-laki itu. Jaemin mematung.

"Jangan bertengkar sekarang"

Lirih. Suara Jeno di telinga Jaemin begitu pelan hingga menyerupai bisikan.

"Aku merindukanmu"

Tubuh kaku Jaemin perlahan melemas. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jeno.

"Aku juga merindukanmu."

.

.

.

TBC

.

.


Waktu nulis part Jaemin aku berkaca-kaca.

Aku pikir lebih baik dibuat seperti itu.

Sakitnya langsung hari itu juga, tapi jauh lebih baik daripada lihat orangtua berantem mulu.

Orangtua yang berantem itu egois, seperti lupa kalau bisa bikin anak mereka trauma

.

.

.

Gak ada orangtua yang ssempurna. Hidup itu sawang sinawang.

Siapa lagi yang akan bilang orangtuamu itu sempurna kalau bukan kamu yang anaknya?

.

.

.

Jangan lupa review

terima kasih yang sudah review, fav atau follow

Aku selalu sayang sama keluarga FFN :*