Kembali Padamu

Oleh : Honsuka Sara

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dia meninggalkanku sendirian dalam kondisi seperti ini, Profesor!" teriak Conan di ruang tamu rumah Profesor Agasa. "Bagaimana bisa dia meninggalkanku sendirian sementara dia seenaknya kembali ke tubuh Shiho Miyano dan melupakan segalanya?!"

Profesor tua itu menghela napas panjang. Kepalanya yang botak terasa pusing menghadapi laki-laki muda di depannya ini. Bertahun-tahun tinggal dengan Ai, pria tua itu tahu benar Ai Haibara bukanlah gadis yang tidak bertanggung jawab semacam ini. Selalu ada alasan dibalik setiap tindakannya, walaupun untuk saat ini ia tidak mengerti situasi yang sedang terjadi. "Ai-kun bukanlah orang yang seperti itu, Conan. Kau tidak bisa terus-menerus menyalahkannya seperti ini."

Tidak bisa menyalahkannya? Lalu siapa lagi yang bisa Conan salahkan?

Sudah hampir dua mingu sejak gadis itu terbangun di rumah sakit dan beberapa hari sejak akhirnya ia diizinkan pulang ke rumah. Selama itu, yang Conan lakukan terus-menerus adalah memeriksa laboratorium ruang bawah tanah dan menerka-nerka apa password dari komputer yang ada di sana, tapi hasilnya nihil. Tidak ada sebutir pil pun yang bisa ia temukan di sana, yang berarti Ai hanya membuat satu penawar permanen. Dan, ya, kemungkinan besar itu adalah penawar permanen jika dilihat dari tubuh Shiho Miyano yang masih ada di dalam kamar ruang bawah tanah sekarang. Dan apa pun password yang digunakan Ai tidak bisa dikuak Conan sepintar apa pun dia, seperti yang memang ia harapkan dari Ai Haibaranya. Ai Haibaralah yang selalu bisa membaca pikiran Conan dan hal itu tidak berlaku sebaliknya.

Memikirkan hal itu terus-menerus selama dua minggu membuat Conan frustrasi berat. Benar kata Profesor Agasa, Ai Haibara yang dikenalnya bukanlah orang yang bisa berbuat begini. Dia selalu mengusahakan yang terbaik bagi Conan. Tidak ada setitik pun rasa egois di dalam dirinya jika berhubungan dengan Conan. Itulah Ai Haibara yang selama ini dikenalnya.

Itulah Ai Haibaranya.

Tapi gadis yang dia lihat itu bukanlah Ai Haibaranya. Sejak dia terbangun, Conan tidak pernah bisa menganggap orang itu sebagai Ainya. Karena itulah, sejak dia bangun dan dikonfirmasi dokter menderita amnesia, Conan tidak bisa memaksa dirinya untuk bertemu pandang dengannya lagi. Conan tidak sanggup. Baginya, tubuh Shiho Miyano dan ingatan yang kosong itu bukanlah Ainya. Dia ingin Ainya kembali, dan dia jadi membenci Shiho Miyano karena itu.

Baginya kini, Shiho Miyano adalah seorang yang egois dan tak berhati, jelmaan Sherry sang ilmuan besar organisasi hitam, yang dengan teganya meninggalkan Conan seorang diri di dalam tubuh kecilnya sementara dia dengan tenangnya kembali ke tubuh dewasanya lalu melupakan segalanya. Ya, Shiho Miyano tak lebih dari seorang gadis egois yang sudah melenyapkan Ai Haibara dari sisinya. Dan dia amat membenci Shiho Miyano karenanya. Juga merindukan Ai Haibara setengah mati.

"Lalu siapa lagi yang bisa aku salahkan, Profesor?" seru Conan geram. "Kau lihat sendiri tidak ada lagi penawar lain selain yang dikonsumsinya!"

"Shinichi Kudo..." Profesor Agasa menggeram rendah sambil menyebut nama asli Conan, mengingatkan Conan akan siapa dia sebenarnya. Conan sudah keterlaluan pada Ai dan ia tidak bisa membiarkannya.

"Aku berani bertaruh dia sudah lama mengembangkan penawar permanen itu tanpa sepengetahuan kita berdua, lalu berencana kabur setelah dia kembali jadi Shiho Miyano. Sialnya, niat jahat itu mendapat karma dan dia malah melukai kepalanya sendiri. Huh, dasar gadis menyedihkan."

Profesor Agasa sudah akan membalas ucapan Conan lagi saat tiba-tiba terdengar suara kokangan pistol dari arah pintu depan. Hal selanjutnya yang diketahui Conan saat ia menengok ke arah itu adalah rasa sakit dan panas dari sesuatu yang menggores pelipis kanannya, lalu memecahkan cermin yang digantung di dinding. Seketika ia tahu, sesuatu itu adalah peluru.

"Berani berkata begitu tentang Sherry lagi, pelurunya akan kugeser ke tengah kepalamu." Suara rendah dan dingin itu, tak lain tak bukan, berasal dari Shuichi Akai yang tampak seperti dewa kematian dengan Tokarev di tangannya.

Conan dan Profesor Agasa terdiam, masih kaget dengan tindakan Shuichi Akai. Sementara itu, Shuichi malah melenggang masuk ke dalam rumah lebih jauh. Tepatnya, menuju kamar di mana Sherry berada.

~HS~

Shuichi Akai berhenti melangkah tepat di depan pintu kamar Shiho. Pikirannya kembali melayang saat profesor bodoh pemilik rumah ini meneleponnya tadi pagi dan memberitahukannya kabar mengenai Shiho. Kaget dan marah, pria berumur tiga puluh lima tahun itu segera memutuskan sambungan telepon, menghubungi bosnya James untuk meminta cuti, dan membeli tiket pesawat langsung ke Jepang untuk penerbangan satu jam kemudian.

Dia merasa sangat bodoh sudah mempercayai laki-laki idiot itu untuk menjaga Sherry, sementara Akemi menitipkan Sherry pada dirinya. Huh, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin itulah karmanya karena sudah menjadi terlalu hitam untuk pihak putih. Kehilangan Akemi selamanya dan gagal melaksanakan janjinya pada satu-satunya wanita yang pernah ia cintai.

Saat Shuichi sampai di depan pintu kamar Sherry, ia berhenti sejenak. Sherry tidak akan mengingatnya, lalu apa yang harus dikatakannya pada gadis itu?

Jujur saja, ia amat rindu pada Sherry setelah tidak bertemu selama sekitar lima tahun. Tapi saat terakhir Shuichi meninggalkannya di Jepang, Sherry tampak sangat bahagia akan hubungan lovey dovey yang dijalaninya dengan bocah detektif itu. Dan Shuichi pikir, mungkin inilah saatnya ia membiarkan Sherry memilih jalannya sendiri dan menikmati hidup, jauh dari bayang-bayangnya yang pasti membawa kembali kenangan menyakitkan tentang Akemi.

Shuichi hanya ingin Sherry bahagia. Shuichi hanya ingin membahagiakan adik Akemi. Itulah alasan satu-satunya mengapa ia menahan diri untuk tidak berkunjung ke Jepang.

Akhirnya, setelah beberapa detik memantapkan diri, Shuichi memantapkan hatinya untuk membuka pintu kamar Sherry.

Hal pertama yang menyambutnya adalah pemandangan Sherry yang sedang duduk bersender di kepala tempat tidur dengan sebuah novel klasik di pangkuannya. Tatapannya tampak bingung saat mendapati orang asing memasuki kamarnya, teritorinya. Tapi Shuichi tidak ambil pusing. Ia membuka pintu itu dengan santai, lalu berdiri sambil bersender pada daun pintu, tak lupa menyelipkan pistolnya ke dalam tas kecil yang sejak tadi diselempangnya.

"Maaf, apakah anda mencari saya?"

Shuichi sudah tahu Sherry tidak akan mengingatnya, tapi mendengar kata-kata itu langsung dari mulut perempuan berambut pirang itu menggores hatinya makin dalam. Wajah itu, tubuh itu, adalah Sherry yang dikenalnya, walaupun yang sekarang ia lihat adalah versi beberapa tahun lebih tua daripada Sherry yang ada di ingatannya.

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa dia tidak mengenalmu. Dia tetap Sherry. Tidak ada yang berubah. Begitulah batin Shuichi sebelum ia menanggapi gadis cantik di depannya itu.

"Lama tak bertemu, Sherry," salam Shuichi sedatar mungkin. Setidaknya, suaranya tidak terdengar pecah atau marah saat akhirnya ia mampu mengatakan hal itu.

Ekspresi Sherry di benak Shuichi saat itu hanya mengandung dua kata : Tidak cocok. Sherry yang dikenalnya tidak akan menanggapi pernyataan barusan dengan kerutan dahi dan bibir yang menekuk, persis seperti apa yang ada di hadapannya.

Tapi dia tetap Sherry, kan?

Setelah beberapa lama, akhirnya Sherry menjawab, "Maaf, tapi kupikir anda salah orang. Saya memang baru kehilangan ingatan saya, tapi menurut Agasa-san, nama saya adalah Shiho Miyano."

Tidak ada kata-kata sarkas atau hinaan di sana. Tidak ada tanda-tanda ia akan melontarkan ejekan atau humor gelap seperti yang selalu mereka lakukan tiap bertemu. Dan tidak ada senym sinis atau glare penuh aura hitam sedikit pun darinya. Sebagai gantinya, kalimat itu begitu sopan dan lemah lembut, bibirnya tersenyum tipis dan auranya bersinar secerah matahari senja.

Memang berbeda. Orang yang kini berada di hadapannya mungkin bukan Sherry yang Shuichi kenal, namun dia rasa, dia bisa menerima Sherry yang seperti ini.

Tenru saja Shuichi bisa. Tidak buruk juga mengenal sisi manis Sherry yang tidak pernah dilihatnya. Sebelumnya, ia bahkan tidak tahu kalau Sherry punya sisi manis seperti ini. Walaupun begitu, ia memang selalu tahu bahwa Sherry adalah gadis paling tidak bisa ditebak sedunia.

"Bagiku, kau itu Sherry," tanggap Shuichi datar. "Dan sekarang aku memang satu-satunya orang yang masih memanggilmu begitu."

Shuichi menatap Sherry dalam. Gadis itu kini berdiri dengan sopan di hadapannya, lalu ia menarik kursi di hadapan meja ke dekat Shuichi. "Sebaiknya anda duduk dulu. Maafkan saya yang kurang sopan tidak menawarkan duduk sedari tadi."

Sherry tersenyum amat manis dan sopan kepadanya. Tanpa sadar, ujung-ujunh bibir Shuichi terangkat dan membentuk senyuman kecil yang entah sejak kapan terakhir dilakukannya. Perlahan, dia duduk di kursi yang dibawa Sherry tadi sementara gadis itu duduk di pinggiran tempat tidur menghadap Shuichi.

"Ah, jadi... Kalau anda tidak keberatan menjawab, apa saya boleh bertanya siapa anda?" tanya Sherry pada Shuichi. Di akhir kalimatnya tersisip tawa kecil yang menandakan kegugupan gadis ini, mengingatkan Shuichi terus-menerus bahwa Sherry ini sudah bukan Sherry yang dulu lagi.

Bukan yang dulu, memang, tapi tidak berarti dia tidak semenarik Sherry yang dulu.

"Kau satu-satunya orang tersisa yang masih memanggilku Rye." Shuichi menatap mata itu lagi, dan menemukan setitik rasa familiar di sana. Mata itu, walau kini menatapnya dengan cara yang berbeda, masih mata yang sama yang dikenalnya selama bertahun-tahun.

"Oh ya? Apakah kita semacam keluarga atau..."

"Aku mantan kekasih kakakmu," potong Shuichi. "Dan kakakmu sudah meninggal."

Dia ingin bagian penjelasan ini cepat berakhir. Sherry, baik yang dulu maupun sekarang, sama-sama menampakkan ekspresi itu ketika ia membahas Akemi. Ekspresi datar dengan bibir yang menipis serta mata yang menatap kosong, setitik kebencian pada takdir tersirat di dalamnya. Dan Shuichi amat benci melihatnya.

"Ah… Jadi begitu," tanggap Sherry kini sambil menunduk. "Jadi itu sebabnya aku selalu sendirian di sini. Selain Agasa-san yang merawatku, aku memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi ya? Apa orang tuaku juga sudah meninggal?"

Di kalimat terakhir, Shuichi menyadari suara Sherry sudah mulai pecah menahan tangis. Dan akhirnya dia menyadari sesuatu yang amat penting. Detektif bodoh itu benar-benar sudah meninggalkan Sherry.

"Sherry, apa kau mau ikut denganku saja?" tanya Shuichi akhirnya.

Sherry pun mendongak, membaca mata Shuichi, dan akhirnya mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tadi walaupun tanpa pernyataan verbal. Ada secercah harapan di sana, ada sedikit kepercayaan yang terasa familiar di memori Shuichi. Dia terus berpikir sampai akhirnya dia tahu bahwa Sherry yang lama masih ada jauh di dalam sana. Sherry yang dikenalnya belum benar-benar hilang.

Mungkin dengan begini, ia bisa memperbaiki janjinya pada Akemi dan memberikan kehidupan yang bahagia untuk Sherry.

"Apa aku bisa percaya padamu?"

Kalimat-kalimat formal dan senyum sopan itu hilang, digantikan mimik keras yang terasa familiar di mata Shuichi. Dia akan menemukan Sherry lagi. Apabila akhirnya tiba saat Sherry kembali, dia berjanji sudah akan menepati janjinya pada Akemi.

"Selalu."

~HS~

"Aku akan membawa Sherry ke London," ucap Shuichi sambil berjalan santai menuju ruang tamu tempat Conan dan Profesor Agasa saling melotot dalam perang dingin.

"Hah, bawa saja gadis egois…"

Kali ini, perkataan Conan disela oleh suara kokangan pistol Shuichi. "Aku tidak tanya pendapatmu." Matanya menusuk tajam ke arah bocah berusia tiga belas tahun itu. "Dan aku tidak main-main dengan perkataanku."

"Aku izinkan. Jaga dia dengan baik," kata Profesor Agasa pelan. Dia berjalan kea rah Shuichi, menepuk bahunya singkat, lalu menghilang ke arah kamarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Balasan review^^

Olga : ada dongg. Rencananya, Sara bakalan jadiin fic ini lumayan panjang, mungkin lebih dari 10 chap deh. Makasih udah baca dan review. Apa ini udah cukup cepat? Hehe

AN : halo semuaa^^ ini dia chapter duaa. Sebelumnya Sara minta maaf karena dua minggu lagi Sara bakal dihujani badai uts, Sara mesti belajar banyak. Belum lagi jurusan Sara memang terkenal banyak tugas T.T jadii, mohon maaf kalau update selanjutnya lama yaa. Kalau ada waktu kosong Sara janji sempetin nulis deh. Akhir kata, makasih banyak sudah membaca dan review! Love u guys!