DIBAWAH UMUR ATAU YANG GAK MINAT BACA (aHUS! HUS! -Sambil melempar batu) NETE AJA SAMA NENEK DIKAMAR! JANGAN NONGKRONG DISINI!
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Hari diawali dengan pagi yang indah, langit cerah terbentang dengan kumpulan awan cerah menghiasi atap dunia. Matahari perlahan naik kesinggasananya, dan Angin sepoi-sepoi berhembus menyebabkan pepohonan menari dan bergoyang mengikuti irama kesejukan.
Disebuah bangunan mewah 3 lantai di Tanigakure, perlahan namun pasti beberapa pasangan berbondong-bondong keluar dari bangunan sambil bergandengan tangan dan sesekali melakukan pembicaraan yang membuat pasangan wanitanya cekikikan.
Bangunan mulai ditinggalkan penghuninya, masih menyisakan beberapa kamar yang belum terbuka menandakan masih ada penghuni didalamnya.
Disalah-satu kamar tempat Naruto dan Juri bermalam.
Tidur Juri terganggu oleh cahaya matahari yang menyelinap masuk merpa wajahnya. Merasa tidak nyaman membuat Juri membuka kedua matanya dan langsung beranjak bangun.
"Aaaaaaaaah~"
Juri seketika mendesah, tubuhnya berhenti bergerak ketika merasakan sebuah sengatan asing yang menyenangkan tepat dipangkal pahanya.
"N- N- Naruto-kun?" Melihat sesuatu dibawahnya membuat Juri hampir berteriak kaget. Dia memperhatikan kembali dengan seksama, saat ini dia tengah terduduk tepat diatas tubuh Naruto, tepat di atas bagian pinggulnya.
'A- Apa? Jadi itu bukan mimpi?' Pikiran Juri mengkonfirmasi kembali kejadian indah semalam yang lalu, dia melakukan kencan dengan Naruto, mengikuti pasangan lain ke Makino-in dan,,,
"Selamat pagi, Jur- owwwww!"
"Kyaaaaaaaaaaaah~"
Tubuh Juri tersentak dan langsung terjerembab kedepan dengan kedua tangannya langsung memukul keras dada bidang Naruto. Kedua mata hijau lumutnya membelakak saat merasakan sesuatu yang menabrak kedalaman rahimnya.
'Ini,, ini,, ini,," Pikiran Juri seolah konslet, mendesah kembali ketika poros panjang yang dia asumsikan sebagai Pena pasangannya ini (Tak sengaja) menggosok-gosok dinding Vagunya. ',,Apakah uh~ aku tertidur dengan 'itu' masih didalamku?'
Disisi lain, Naruto yang sudah bangun terlebih dulu sedikit terhibur melihat Juri yang baru terbangun dengan wajah penyangkalan terlukis diwajahnya. Memutuskan ingin menggodanya, Naruto langsung mendorong Pena yang masih didalam Vagu Juri langsung menabrak pintu rahimnya.
"Selamat pagi, Jur- owwwww!"
Dia terkejut dengan tubuh Juri yang tersentak jatuh kedepan, kedua tangannya itu memukul keras dadanya dan membeku sejenak sebelum tubuh yang mungil itu bergetar hebat.
"Naruto-kun hu,, hu,, hu,,"
Mendengar suara feminim yang tersedu itu membuat Naruto diserang rasa panik, dia merasa sangat menyesal karena bermain mengejutkannya seperti itu.
"Kau menangis? Apa masih sakit? Apa aku terlalu kasar? Apa ak-"
"Tidak." Juri menggelengkan kepalanya. "Aku hanya,, uh~ sedikit terkejut karena 'itu' Naruto-kun,," Juri berhenti, terlalu malu untuk memberitahu Naruto.
"Ya, sangat menakjubkan,," Kata Naruto tersenyum. ",,Rasanya aku ingin mengulangi kegiatan kita yang semalam." Sambungnya seraya kedua tangannya turun menangkap pipi pantat Juri dan menggoyangnya untuk menambahkan intensitas gerakan Penanya yang tenggelam jauh didalam Vagu Juri.
"Umuuuuu,,," Mata Juri berkaca-kaca, terus merengek seraya mencoba memutar-mutar pantat telanjangnya diatas pinggul Naruto. ",,,A- aku juga mencintai ini ~aaaaahhhh!"
Naruto membalik tubuh sehingga Juri sekarang terlentang dibawahnya. Kedua pahanya menekuk dan disambut kedua kaki Juri yang memeluk pinggang Naruto untuk membuatnya semakin masuk menempel dengan pangkal pahanya.
"Naruto-kun,,"
"Vagumu basah, panas dan semakin menyempit disekitar Penaku Juri-chan!"
"Jangan,, uuuh~ mengatakan hal-hal memalukan seprti- aaaaaaaah~!"
Naruto tidak menunggunya menyelesaikan ucapannya, dia terlebih dahulu menarik 4 inci Penanya keluar dan langsung membantingnya kembali membentur rahim Juri.
Juri terengah, tubuhnya tersentak gemetar dengan kedua tangannya langsung memeluk leher Naruto erat.
Naruto menikmati respon kejujuran itu. Dia tahu Juri masih dalam tahap pemula, mengingat kembali malam sebelumnya dia baru saja merampas kesuciannya, kegiatan bercinta seperti ini masih menjadi hal asing untuknya.
"Ah~ ah~ ah~"
Naruto semakin bergairah, cita rasa desahan terus mengalun dari mulut wanitanya menjadi nyanyian surgawi untuk dirinya sendiri.
"Nah~ Naruto-kun,, akuh,, itu,,"
Menyadari wanitanya sudah perlahan sampai dipuncak, Naruto semakin cepat melakukan kegiatan In-Outnya. Namun hanya berselang lama, dalam waktu seketika dan tiba-tiba Naruto langsung menghentikan gerakannya dan menarik keluar Penanya dari Vagu berlendir Juri.
"Naruto-kun!" Wanitanya merengek geram karena pelepasan yang sudah ada didepan matanya langsung berhenti.
Naruto terkekeh atas hiburan itu. "Tidak akan menarik jika aku membiarkanmu Orgasme begitu saja!" Seringaiannya tumbuh, Naruto berguling kesamping dan terduduk menyenderkan punggungnya dikepala ranjang.
"Nah, sekrang aku telah berhasil menanamkan Afrodishiak terbaik yang aku miliki, untuk itu,,," Kata Naruto menyeringai. Menurut pengalamannya, wanita yang kebelet Orgasme akan lebih berani untuk melanggar batas ketidak nyamanannya. ",,,Aku ingin kau memberiku Orgasme dengan teknik Fellatio yang masih amatirmu itu! Jika kau berhasil, aku akan memberimu Orgasme sebanyak yang kau inginkan!" Tantangan telah diberikan. 'Setelah ini, apakah dia masih akan berpikir bahwa Fellatio adalah kegiatan yang menjijikan?' Batinnya memberikan tatapan dan senyum merendahkan untuk Juri.
-Kegiatan seksual bukan sarana untuk memuaskan pasanganmu, namun kegiatan seksual adalah sarana untuk saling memuaskan satu sama lain- Itulah apa yang tertanam dalam pikiran Naruto. -Jika salah-satu pasangan merasa kurang puas, maka dia berhak untuk mendorong pasangannya agar bisa memuaskannya- Pemikiran egois memang, tapi harus bagaimana lagi?
Juri gemetar ditempatnya, kedua matanya yang membiaskan sinar kehawatiran menatap bergantian antara Naruto dan Pena tegak diantara selangkangannya yang terbuka. Seolah dihipnoti oleh kedua mata biru yang berkata seolah merendahkannya, Juri mulai perlahan merayap maju. Menyelinap diantara kedua kaki berotot yang terbuka lebar itu, dan setelah nyaman dengan posisinya Juri langsung menggerakan kedua tangannya mencengkram lembut Pena keras Naruto, menggerakannya naik turun hanya untuk seketika tersentak ketika Naruto berseru keras sedikit memakinya.
"Sialan! Aku menginginkanmu melakukan Fellatio!"
Kedua mata Juri mulai tergenang, dia sekilas menggelengkan kepalanya sebelum menurunkan kepalanya berhadapan langsung dengan Penanya. Mengeluarkan lidahnya, Juri sedikit menjilat lubang Uretra dipuncak Penanya.
"Jika kau merasa tidak nyaman, kau tinggal membayangkan Penaku sebagai eskrim atau apapun yang kau sukai!" Naruto berkata sambil mengelus sayang puncak kepala Juri.
Juri menutup kedua matanya sebelum membukanya kembali hanya untuk menemukan sebuah eskrim vanila kesukaannya. Kedua tangannya mencengkram batang Pena Naruto, dan lidahnya seketika mulai bergerak menjilat seakan tengah menikmati (Eskrim vanila) kepala Pena Naruto.
"Ya,," Naruto sedikit mengerang. Kedua matanya memandang perhatian pemandangan indah didepannya. ",,Itu akan sangat nikmat jika kau memasukannya kedalam mulutmu!"
Juri terhipnotis oleh monolog Naruto, mulutnya mulai terbuka dan melahap Pena keras dihadapannya.
"Uuuuuuuuuh~" Naruto melenguh menikmati lubang hangat mulut mungilnya. "Singkirkan gigimu! Tentunya kau tidak ingin menghancurkan apa yang kau suka kan?" Juri menyembunyikan giginya, dia berusaha semampunya agar giginya itu tidak melukai Pena Naruto. "Bagus sayang, kau adalah wanita yang luarbiasa!" Puji Naruto yang membuat erangan senang tak sengaja keluar dari mulut Juri. "Selanjutnya aku ingin kau menggerakan kepalamu naik turun, usahakan kau menggerakan lidahmu untuk bergoyang disekitar Penaku!"
Juri melakukan apa yang Naruto katakan. Kepalanya mulai naik turun, lidahnya melilit-lilit batang Pena Naruto untuk menjilatinya semakin basah.
"Lebih cepat!"
Juri bergerak semakin cepat.
"Lebih cepat lagi!"
Juri menaikan ritme naik-turunnya, mengabaikan Air liur yang keluar dari sela-sela kedua mulutnya.
CTIK!
Naruto menjentikan jarinya, menyadari usahanya sudah berhasil Naruto langsung menonaktifkan Genjutsu D-Rank yang dia pasang untuk menjerat Juri.
Ini adalah Genjutsu skala kecil yang digunakan untuk menjerat para sipil yang sangat awam dalam penggunaan chakra. Teknik ini disebut 'Sex perbudakan' yang senseinya telah ajarkan padanya, dan menurut yang senseinya katakan bahwa teknik-teknik Sex yang dia dapatkan ini berasal dari desa Yugakure yang terkenal dengan pemandian Air panasnya.
Juri mulai melambat, kedua matanya menatap ngeri sebuah Pena yang dari dekat terlihat sangat-sangatlah besar. Dia ingin berhenti, namun dia terlanjur bergairah dan sangat menikmati sesi ini sehingga dia tanpa sadar mengerang dan melanjutkan kembali kegiatannya memberi Fellatio untuk Naruto.
Naruto mendongkak menatap langit-langit, mulutnya terus mengerang, melenguh ataupun mendesah menikmati pelayanan yang wanitanya berikan untuk Penanya. Dia harus mengakui, meskipun dia amatir, Juri bisa dikatakan baik untuk melakukan Fellatio ini.
Juri sedikit melirik untuk melihat Naruto, mendengar beberapa suara kenikmatan itu membuat harga dirinya melambung tinggi. Pikirannya terus menjeritkan perkataan aku berhasil membuatnya kenikmatan. Didorong oleh sugesti dan gairahnya yang menggebu-gebu, Juri semakin cepat menggerakan kepalanya naik-turun diatas Pena Naruto.
"Juri,, Mulutmu,, ooooohhh~" Naruto mulai merasakan lututnya gemetar. Dia menunduk melihat Juri yang terlihat semangat melahap Penanya. ",,Ya~ Ya~" Kedua tangan Naruto menangkap kepala Juri, dia membantunya bergerak semakin cepat dan sesekali menekannya sehingga kepala Penanya tenggelam kedalam tenggorokannya membuat Juris sedikit tersedak.
"Aku akan meledak,," Juri mulai merasa kuawalahan, dia berusaha melepaskan diri namun tak bisa karena kedua tangan Naruto mencengkramnya dengan erat. Bergerak semakin cepat, dan seketika menekan kepala Juri membuat bibir Juri menempel didasar Penanya. ",,CUMMM! CUUUMMMIIINNGG! Aaaaaaaaaaaaaaaaaah~!" Naruto Orgasme ditenggorokan Juri, memaksa menelannya dan melepaskan kepalanya sehingga Juri langsung menarik kepalanya hanya untuk terbatuk-batuk dengan sperma yang tidak sempat dia telan berceceran didagunya.
Melihat Juri yang menghawatirkan, Naruto lekas beringsut mendekatinya, memeluknya dan mengatakan kata-kata memuja untuk membuat sarana memanipulasi kebahagiaannya.
"Maaf, aku terlalu egois!" Katanya mengelus rambutnya. "Aku berencana menetap, untuk itu setidaknya aku ingin membuatmu terbiasa dengan semua ini!"
Juri menenggelamkan kepalanya didada telanjang Naruto, dia mengangguk sambil menahan suara tersedunya agar Naruto tidak mengetahui bahwa dia tengah menangis.
"Hey, jangan menangis! Maafkan aku!" Naruto mengangkat dagu Juri, menghapus Airmatanya dan memberikan tatapan penyesalan yang dia punya.
Juri berusaha menampilkan senyuman terbaiknya yang dibalas langsung oleh Naruto.
"Tadi sangat menakjubkan, dan aku harus membalas budi kepadamu!" Naruto menidurkan Juri, setelah itu dia pindah dan membuka kedua paha Juri untuk memberikannya ruang untuk menatap Vagunya.
"Naruto-kun,,," Juri malu-malu menatap Naruto. Dia hendak menutup kakinya namun Naruto tak membiarkan itu terjadi.
"Kau cantik!" Naruto mengelus paha bagian dalam Juri sebelum dia naik dan berhenti tepat diatas Vagunya. "Ingat, aku ingin membalas budi!" Telunjuknya mengusap mengusap bibir bawahnya sebelum menyelinap masuk membbuat Juri tersentak membuat pantatnya sedikit bergerak.
"Aaaaaaaaaa,,," Naruto hanya tersenyum, setelah itu dia menunduk dan langsung melahap puting merah-mudanya.
Juri hanya mampu menahan nafasnya sebelum dia terengah-engah merasakan dua sensasi nikmat yang dia rasakan dari Vagu dan payudaranya.
Jarinya bergerak semakin cepat, begitu juga mulut basahnya yang semakin menemukan kreasi seni dalam menyapu dan menyedot puting susunya. Tubuh yang baru kehilangan keperawanannya masih sangat sensitif, dia merasakan pikirannya mulai sekarat dan tak mampu berpikir jernih tersesat dalam surga ektasi yang diberikan oleh prianya ini.
"Naruto-kun,,," Juri meratapi kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat wajahnya, dia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang sedang melahap tubuhnya.
Tangan Naruto beralih kegundukan kacang klitorisnya, menjepit menggunakan jempol dan telunjuknya membuat Juri tersentak melengkungkan punggungnya. Menikmati responnya, Naruto menggigit bagian atas payudaranya untuk memberikan hickey yang menandakan bahwa Juri adalah wanitanya.
"Nyaaaaaaaaaaaaaaaaaaah~!" Juri melengking ketika Naruto menggerakan tangan satunya yang nganggur untuk memberikan tiga serangan dalam satu waktu. Mulutnya memanjakan payudaranya, tangan kanan memanjakan Vagunya dan tangan kirinya bertugas memberikan stimulasi untuk kesenangan klitorisnya.
"Naruto-kun! Naruto-kun! Aaaaaahhhh~~~ Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bis -Kyaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhnnnn~" Jari-jarinya yang keluar masuk didalam Vagunya semakin cepat, begitupula dengan klitorisnya yang diserang kesenangan membuat Juri seketika terduduk melengkungkan tubuhnya kearah Naruto. Kedua tangannya mencengkram erat leher Naruto, membawa kepalanya semakin tenggelam menekan payudara yang tengah dilahap oleh mulutnya.
Tangan kanannya telah disembur oleh cairan cinta Juri, menandakan Juri telah sampai diatas puncaknya. Namun meskipun begitu, Naruto tetap melakukan pekerjaannya sampai Juri kembali Orgasme (2x) sontak melepaskan kedua tangannya dan membuat tubuhnya terjerembab kembali menghantam ranjang.
Naruto melepaskan pekerjaannya, dia beringsut menyelinap masuk diantara kedua kaki Juri dan langsung membuka pahanya lebar-lebar. Penanya yang keras mengeluarkan banyak precum itu langsung dia banting kedalam Vagu Juri.
"Ah~"
Respon singkat Juri. Kedua matanya blank seolah dia sedang kehilangan kesadarannya karena kesenangan bertubi-tubi yang dia terima sebelumnya.
Naruto terlalu bergairah untuk memperhatikan itu, dia langsung menyerang dengan memompa pinggulnya naik turun seolah dia sedang memperkosa wanita yang tenggelam kedalam keputusasaannya.
Tiga menit tanpa respon, Juri kembali mendapatkan kesadarannya dan langsung mengerang dan mendesah gila-gilaan karena kenikmatan yang mendera seluruh tubuhnya. Mulutnya mengap-mengap, lidahnya terjulur dengan Air liur terus mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Ahegao!
"Ya, Juri-chan. Jangan ragu mengatakan apa yang kau rasakan saat ini!" Naruto terkekeh melihat tampang Ahegao Juri, menurutnya sangat menarik menonton seorang wanita yang kacau dengan Penanya itu.
"Terus! Bercinta denganku sepuasnya, Naruto-kun! Lebih keras! Lebih dalam!" Juri berteriak disela tubuhnya yang terhentak-hentak, menggoyangkan pinggulnya menerima kenikmatan itu.
Naruto menyeringai dan langsung membenamkan Penanya lebih dalam ke kedalaman Vagu Juri. Penanya yang masih tersisa 2 inci itu dia paksa masuk, menekan pintu rahimnya untuk menyelinap masuk kedalamnya.
"Agggggggggggggggggggggggggg~"
"Uuuuuuuuuuuuhhhhh~"
Tubuh Juri semakin bergetar, dia merasakan sesuatu memasuki kedalaman rahimnya. Melirik kearah Naruto, dia menemukan seingaian menyeramkan menghias wajah tampannya.
"11 inci?" Naruto terkekeh. "Vagumu melahap keseluruhan Penaku, dan akhirnya aku bisa bercinta sepuas hatiku! Hahahaha~" Naruto tertawa seperti psycopath, dia bergerak kembali menginvasi Vagu+rahim Juri.
"Ah~ uh~ aggg~ uh~ ah~"
Naruto bergerak semakin brutal, dia melupakan Juri yang hanya sebagai sipil biasa. Terlalu lama tidak menghabiskan malam dengan seorang wanita membuatnya saat ini tidak memperhatikan kontrol berciintanya, gairahnya terlalu menggebu seakan tengah meledak menghancurkan batasan toleransinya.
Juri hanya mampu terbaring tak berdaya, isak tangis mengiringi sentakan-sentakan yang membuat pikirannya blank seakan melupakan arti kenikmatan dari sensasi percintaan ini. Hanya berselang beberapa menit saja, Juri kembali kehilangan kesadarannya karena tubuhnya tak sanggup bersaing menerimanya lagi.
Naruto yang berkonsentrasi mendapatkan kenikmatannya sendiri tentu saja tidak mengetahui itu. Dia terus melakukan pekerjaan egoisnya sampai dia mencapai puncaknya membanjiri langsung rahim Juri.
"Sangat menakjubkan, terimakasih jur-" Naruto berhenti, dia melihat Juri yang terbaring tanpa respon yang berarti. Kedua matanya tertutup dengan jejak airmata membekas di kedua pipinya. "JURI?!" Naruto panik, dia melepaskan kungkungan tubuhnya untuk beringsut maju memeriksa Juri.
Naruto menghembuskan nafas lega ketika dia masih merasakan tanda kehidupan Juri.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sialan!" Naruto merutuki kebodohannya. Dia menatap Juri sambil menggigit bibirnya sampai berdarah, dia sangat hawatir dengan keadaan wanitanya ini.
Kenangan dua tahun lalu kembali melintas dikepalanya. Ketika itu, senseinya memberikan satu PSK untuk melepas keperawanannya (Hadiah ulangtahun ke 15). Namun dinyana, pengalaman pertama membuatnya kehilangan kendali dan berhasil membunuh PSK itu dengan gairahnya yang menggebu-gebu.
Dia syok, begitu juga senseinya. Bagaikan orang yang tak betanggung jawab, dia dan senseinya menguburkan jenazah itu diam-diam dan memberikan uang konpensasi yang sangat besar untuk keluarga PSK yang ditinggalkan. Memberi memo tanpa nama yang berisi pengakuan bahwa dia telah membunuh PSK itu dengan gairahnya, mencantumkan tempat jenazah PSK itu dikuburkan dan pada hari itu juga mereka berdua langsung pergi meninggalkan desa untuk menghindari penelusuran.
Kejadian yang sama kembali terulang, dan Naruto akhirnya hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.
Line Break-o
Setelah merawat dan mengantar pulang wanitanya kerumah, Naruto memutuskan untuk pulang kerumah Neneknya.
Melewati ruang tamu, dia langsung menaiki tangga untuk kekamarnya.
Kimiko berkerut bingung, dia melihat Naruto yang berjalan lesu melewatinya.
"Tidak biasanya dia seperti itu!?" Biasanya Naruto akan selalu menyapanya, namun melihatnya yang seperti ini membuat Kimiko sedikit hawatir dibuatnya.
Memutuskan untuk bertanya, Kimiko beranjak bangun dan pergi kekamar Naruto.
"Naruto-kun? Bolehkah aku masuk?" Tidak menanggapi jawaban membuat Kimiko berinisiatip membuka pintu. Tampilan yang dia temui pertama kali adalah Naruto yang sedang terduduk diatas kasur menyembunyikan wajanya diantara kedua lututnya yang ditekuk.
Kimiko semakin hawatir, dia berjalan semakin masuk dan duduk disamping Naruto yang sama sekali belum merespon keberadaannya.
"Hey, ada apa?" Kimiko bertanya lembut, dia membawa wajah Naruto untuk memaksa kedua mata biru itu menatapnya.
Kedua mata Naruto bergetar, kemudian Naruto langsung memeluk erat tubuh Neneknya mencari ketenangan.
"A- aku hampir membunuhnya! Aku bodoh! Monster terkutuk!"
"A- apa?"
TO BE CONTINUED
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Hubungan Naruto-Juri tidak akan berlanjut. Chapter ini hanya aku siapkan untuk memperkenalkan sisi gelap Naruto yang tersembunyi. Dari kecil dia selalu disiksa oleh hampir seluruh penduduk desa, sangat masuk akal jika Naruto akhirnya memiliki sisi PSYCO atau SADIS yang tersembunyi. Dasar pribadinya yang baik hati, sisi sadisnya itu hanya akan muncul ketika dia tersulut gairah (Naruto menyalurkannya untuk seks). Untuk alasan itu juga Naruto tidak akan sembarangan memilih wanita, Naruto membutuhkan pasangan yang memiliki sisi MASOKIS.
Jika kalian punya rekomendasi karakter perempuan di series NARUTO yang cocok dengannya, aku sangat membutuhkannya!
Aku sudah punya satu: Hana Inuzuka, instingnya sebagai seorang ANJING, untuk itu dia membutuhkan SUPER ALPHA seperti Naruto.
Juri bukan bagian dari proyek cerita ini? Tentu saja! Naruto kan elite UCHIHA, warga sipil biasa tidak pantas bersanding dengannya! Hohohohoho ,,, Tapi untuk kalian yang penasaran dengan visual Juri, tengok visualnya Seraphim dari series Kore wa Zombie desuka (?)
Terimakasih atas rev, fav dan follnya!
Dadah dichapter depan!
