Disclaimer, cerita berikut tidak berkaitan dengan novel, manga, maupun anime. Saya juga tidak memiliki sword art online dan Tate no yuusha secara resmi.
Naofumi POV
"Kemana kita akan pergi?" Pikir ku. "Kita sampai" Kata pria tsb. yang berhenti di depan sebuah tenda. "Tempat apa ini?" Kataku bertanya. "Sudah masuk saja" Balas pria berkacamata. "Kau... " "Yup, aku adalah pedagang budak" Katanya dengan santai menjelaskan. "Aku tidak butuh" Kataku yang sudah tahu alasan sebenarnya dia mengajakku kemari. "Ayolah lihat-lihat sebentar" Katanya memohon.
"Huh... Baiklah" Kataku pasrah. "Kalau yang ini?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah kurungan yang berisi gadis kecil berambut coklat dengan telinga di atasnya (?).
"Oh... Itu namanya demi-human biasa digunakan untuk mengangkut barang" Katanya menjelaskan. "Lalu yang ini?" Tanyaku sambil menunjuk kearah kandang yang lebih besar. "Itu adalah monster reptil komodo. Apakah kau tertarik?" Katanya menawarkanku.
"Hm... Level 40? Apakah itu tidak terlalu tinggi jika dibandingkan denganku?" Pikir ku. "Baiklah, aku beli yang ini" Kataku sambil menunjuk ke kurungan yang sebelumnya. "Baiklah harganya hanya 10 koin perak" Katanya sambil menyodorkan tanganya. "Baiklah, ini" Kataku memberi uang nya. "Baiklah kalau begitu sini, ikut aku" Katanya sambil melambai-lambaikan tangannya isyarat untuk mengikutinya.
"Kenapa?" Tanyaku kebingungan. "Aku akan memberinya segel budak tentu saja, apa lagi menurutmu?" Katanya menjelaskan. "Siapa namamu?" Aku bertanya pada gadis demi-human tsb. "Aku Raphtalia" Katanya memberi tahu namanya.
"Jadi berapa untuk segelnya?" Tanyaku setelah dia menyelesaikan segelnya. "Tidak perlu kurasa untuk sekarang" Katanya menolak bayaran ku. "Baiklah" Kataku sambil meninggalkan tempat tsb.
"Aku pesan makanan anak-anak satu" Kataku kepada pelayan. "Tuan tidak makan?" Kata gadis tsb. "Tidak, aku sudah makan" Kataku. "Nah, makanlah" Kataku lagi setelah pesanannya tiba.
"Bagaimana? Enak?" Tanyaku sambil melihatnya makan dengan lahap. "Mhm... Enak sekali. Terimakasih tuan" Katanya berterimakasih. "Tuan? Apa aku tidak salah dengar?" Tiba-tiba Kirito muncul dari belakangku.
"Wah, Naofumi dimana kau menemukannya? Dan ternyata kau ini pedophil ya, Naofumi" Katanya meledek ku. "Tentu saja tidak, kau ini aneh-aneh saja" Jawabku.
Keesokan harinya kami berkeliling mencari bahan-bahan, entah itu untuk memperkuat perisai ku, untuk dijual, atau untuk yang lainnya. "Baiklah kita beristirahat disini saja" Kataku. "Ah... Leganya... " Kata Kirito sambil tiduran memandangi langit. "Kau itu.. Yasudahlah"
"Uhuk uhuk" Terdengar suara seperti seseorang yang sedang batuk. Yang ternyata itu adalah Raphtalia. "Kau tidak apa-apa?" Tanyaku khawatir. "Akan aku ambilkan bahan-bahan untuk obatnya" Kata Kirito selagi dia bangun dari tiduran santainya. "Baiklah, tapi cepat ya" Kataku panik. "Iya iya" Jawabnya sambil berlari. "Bertahanlah" Kataku pada Raphtalia
"Ini bahan-bahan nya" Kata Kirito sambil memberi sebuah kantung padaku. "Oke baiklah" Kataku mengambil kantung tsb. Akupun mulai meracik sebuah obat penyembuh. "Ini minumlah" Kataku sambil memberi obat pada Raphtalia. "Terimakasih tuan-tuan, telah membantuku" Katanya berterimakasih pada kami.
"Hari ini mari kita berburu di gua itu" Kata Kirito bersemangat. "Bagaimana Raphtalia? Kamu ikut?" Kataku bertanya pada Raphtalia. "Aku akan ikut kemanapun kalian pergi" Katanya dengan menunjukkan hati yang tegar. "Baiklah, ayo" Kata Kirito yang sedari tadi masih bersemangat.
"Haaaa... " Teriak Kirito sambil menerjang monster tsb. "Bagaimana Raphtalia? Mau ku ajari sword skill?" Kata Kirito menawarkan. "Kalau itu artinya aku bisa lebih kuat, aku mau" Kata Raphtalia dengan mata yang penuh harapan. "Baiklah kalau begitu. Mari, kita mulai" Kata Kirito hendak memulai pelajarannya.
"Tapi sebaiknya kalian latihan di luar goa saja, agar tidak mengundang monster" Kataku menjelaskan. "Lagipula kita juga sudah tidak ada urusan lagi di goa ini" Kataku menyambung kalimat sebelumnya. "Baiklah kalau begitu" Jawab Kirito.
Kirito POV
Kami pun keluar dari goa tsb. dikarenakan pencarian kami sudah selesai di goa tadi. Setelahnya aku dan Raphtalia langsung memulai latihan sword skill.
"Baiklah mari kita mulai dengan sword skill sederhana yaitu horizontal" Kataku. "Oke" Katanya bersemangat. "Pertama-tama kita mulai dari kuda-kuda nya, nah lalu fokuskan seluruhnya pada target, lalu biarkan mana mu mengalir ke bilah pedang mu" Kataku menjelaskan. "Baiklah, seperti ini?" Katanya sambil memasang kuda-kuda nya.
"Yup, seperti itu" Kataku yang lalu melebarkan mataku melihat aura sword skill horizontal yang begitu dahsyatnya. "Hiaaaah..." Teriaknya sambil melangkah maju. "Eh?" Kataku dan Naofumi serempak. "Meleset?! Padahal aku sudah merasakan aura yang dahsyat" Pikir ku.
"Hm... Itu... Eh?!" Kataku kaget. "Ada apa Kirito?" Naofumi bertanya sambil menghampiri ku. "Ano.. Eto... Batunya tergores sedikit. Padahal sebelumnya sudah ku cek batu ini masih utuh tanpa ada bekas tebasan sama sekali" Kataku menjelaskan.
"Eh, iya juga yah. Wah, hebat kamu Raphtalia" Kata Naofumi sambil mengelus kepala Raphtalia. "Baiklah kita lanjutkan latihannya" Kataku sambil mengambil [Aneald Blade].
Setelah mengajari Raphtalia beberapa sword skill kami menuju sebuah goa. "Mari kita kesana" Kataku sambil mengarah menuju goa tsb. "Wah, luas juga ya, goa nya" Kata Raphtalia kagum. "Hiaa... " Teriakku menebas monster kelelawar. "Bagaimana? Cukup menarik kan?" Kataku pada Raphtalia. "Roar... " Suara tsb. datang dari arah belakan kami. Monster mirip anjing berkepala dua menerjang ke arah kami. Dengan cepat nya aku berlari sambil mem-parry monster tsb.
"Switch" Kataku sambil bergerak ke belakang. "Ini giliranmu Raphta-" Sebelum Naofumi menyelesaikan kalimatnya ia terkejut karena ekspresi Raphtalia yang sangat ketakutan. "Naofumi, aku akan mengurus monster ini, kau urus Raphtalia dulu" Kataku menyiapkan sword skill. "Tapi-" Sebelum melanjutkan, kata-kata nya terpotong. "Tidak usah memikirkan ku yang terpenting adalah kalian. Kalau keadaan semakin memburuk, pergi saja tinggalkan aku" Kataku sambil menerjang balik monster kepala dua tadi.
"HAAAA... " Teriakku menerjang monster itu lagi. Namun, selalu saja serangan ku digagalkan. "Raphtalia, dengarkan aku. Kalau kau tidak segera membantu Kirito bisa mati" Kata Naofumi berusaha untuk membuat Raphtalia bertarung kembali.
Namun,Raphtalia masih dalam kondisi ketakutan. "Raphtalia, lawan lah monster itu. Ini perintah!" Kata Naofumi membuat segel budak pada Raphtalia bereaksi mengeluarkan listrik berwarna ungu. "Hiya... " Teriak Raphtalia kesakitan. "Baiklah Raphtalia, kalau kau tidak bisa bertarung maka, pergilah. Selamatkan dirimu" Kata Naofumi sambil berdiri.
"Argh... " Kataku kesakitan. "Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati dimakan, dicabik-cabik monster?" Pikir ku yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
Trang... Suara itu datang dari arah depan ku. Aku membuka mataku dan melebarkan nya karena kaget. Serangan dari monster tsb. tidak mengenai ku namun mengenai perisai Naofumi.
"Bodoh. Apa yang kau pikirkan?! Pergilah bersama Raphtalia!" Kataku pada Naofumi. "Kalau kau mati, dimana aku harus menaruh wajah ku sebagai seorang pahlawan perisai dan sahabat mu? Akulah yang harus menjadi perisai kalian" Katanya sambil menyeringai.
"Baiklah, kita lawan bersama-sama" Kataku bangun dari posisi duduk tak berdaya. "Kalau kita mati, kita akan melakukannya bersama. Karena kita sahabat" Kata kami serempak. Melihat kami Raphtalia membuka matanya lebar. Kini {twin headed} menerjang kami dengan kedua kepalanya. Kepala kirinya ke arah Naofumi dan katanya ke arah ku.
Trang... Sekali lagi bunyi tsb. terdengar dan kali ini keras sekali. "Mari kita Switch" Suara tersebut terdengar dari belakang kami. "Baiklah, Switch" Kata kami mementalkan kepala {twin headed}. "Hia... " Teriak Raphtalia dengan pedangnya yang bersinar kuning. "Slant" Teriaknya sambil menegaskan pedangnya pada {twin headed}. "Sepertinya dia sudah ma-" Aku berkata yang lalu terserang kembali oleh {twin headed}. "Dia masih bergerak" Kata Naofumi terkejut.
"Hiya... " Teriak seorang wanita bertudung merah menerjang {twin headed} dengan "sword skill(?)" Pikir ku terkejut. "Sekarang, Switch" Kata wanita bertudung tadi. Tiba-tiba seorang wanita lagi menerjang dengan tombak yang akhirnya membunuh {twin headed}.
"Sepertinya kalian sama seperti kami" Kata wanita bertudung. "Siapa kalian?" Tanyaku terheran. "Namaku Sachi, dan ini Asuna" Kata wanita Lance memperkenalkan diri mereka. "Namaku Naofumi, ini Kirito dan Raphtalia" Kataku Naofumi memperkenalkan diri kami.
"Begitu yah" Kata Asuna setelah mendengarkan penjelasan kami. "Jadi, hanya kau yang merupakan player SAO, kukira kalian semua. Habisnya, kalian semua mengetahui sistem Switch lalu Raphtalia juga menggunakan sword skill" Kata Sachi menjelaskan kekeliruannya.
"Untuk sementara waktu, bagaimana kalau kalian bergabung dengan party kami" Ajak ku pada mereka. "Baiklah kurasa itu boleh juga" Kata Asuna.
"Ngomong-ngomong. Raphtalia, maukah kau memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu berhenti seperti tadi?" Kataku menanyakan kejadian sebelumnya.
"Ano... Eto... Monster itu mengingatkanku dengan orang tuaku yang meninggal karena The Wave yang sebelumnya" Kata Raphtalia menjelaskan. "Jadi, dia trauma? Benar juga dia masih terlalu muda untuk bisa dengan mudah menerima kepergian orang tuanya" Pikirku mendengar penjelasan Raphtalia.
