—RE=SET—
After realizing that after all, I'm just a mediocrity. I cry
Dua: Abnormality (Ketidakwajaran)
Kantor Polisi Sumigakure, Sumigakure
Empat hari kemudian
Dua sosok, satu berambut hitam yang lain berambut pirang, berjajar di undakan rendah di depan gedung berbaliho "Keamanan adalah tanggung jawab warga kota, kami menjadi fasilitatornya." Sosok berambut pirang berkaus oranye adalah yang pertama memulai percakapan.
"Sasuke…,"
"Hn?"
"Kau bilang punya rencana tapi kok perasaanku nggak enak ya…."
Sasuke menatap Naruto sekilas sebelum menanggapi dengan nada dingin, "Tenang aja, kalau aku jadi komando-nya pasti bakalan beres."
"… bukan masalah berhasil apa nggak, tapi soal rencana itu…," Naruto berjalan mengikuti Sasuke yang telah melangkah menuju pintu kayu ganda dengan tak-acuh, "… rencanamu selalu nekat. Kebanyakan aku yang jadi korban, tahu!"
"Maaf ya, Dik… tahanan yang namanya Sai masuk dalam pengawasan orang intelijen jadi belum boleh dijenguk,"
Sasuke, menyandarkan sikunya pada meja informasi, berkata mendesak,
"Begini ya, pak polisi… kami siswa miskin yang hidup tergantung uang setoran yayasan. Dan yang tahu nomor kode kombinasi terakhir rekening kami ini ya cuma si brengsek itu!"
Naruto menambahkan, "Salahmu sendiri sih Sasuke! Pake acara kode rekening dibagi tiga segala!"
"Terus kenapa? Berkat itu kita bisa jadi hemat, tahu! Coba nggak dibagi tiga; duit kita habis buat jajan ramen ya nggak?"
"Iyaa, siihhh~ tapi repotnya harus bertiga kalau mau ngambil uang. Dan rencanamu itu banyak celahnya! Contohnya sekarang, nih!"
Naruto hampir yakin Sasuke mengedip padanya.
"Cerewet, bukan salahku si Sai kesangkut perkara Narkoba."
"Argh! Kapan bisa ketemu Sai? Cuma mau tanya kode kok nggak boleh."
"Naruto, tahu nggak?" Sasuke memasang tampang khawatir, "…uang terakhir kita sudah habis buat bayar bis tadi."
"Lho? Bukannya—Eh, gitu ya… tuh, pak polisi! bisa-enggaknya kita ikut ujian tengah semester cuma tergantung sama Saaaiii~!"
Polisi di balik meja informasi itu ragu sejenak, kemudian meraih pesawat telepon di dekat lengannya, memencet beberapa tombol kemudian mulai bicara, "… di sini bagian pendaftaran, apa inspektur Nara ada?"
Naruto mengacungkan jempolnya secara sembunyi-sembunyi pada Sasuke, yang membalas dengan dengusan.
"… Inspektur Nara?"
Sasuke-lah yang pertama menyadari ada kejanggalan yang terjadi di sekitar mereka.
"Seperti telah Anda perkirakan; akan ada yang bersikeras untuk menemui tahanan bernama Sai…,"
Detik berikutnya giliran Naruto sadar bahwa mereka dikepung tiga polisi berseragam.
"… di sini ada dua pemuda yang mengkonfirmasi hal itu. Ya, ya… kami akan segera membawa mereka ke ruang interogasi, Inspektur," polisi itu meletakkan gagang telepon dan melempar senyum menyebalkan pada Sasuke dan Naruto yang berdiri terpaku.
Sementara dari sudut mulutnya, Naruto bergumam, "…'beres', heh, Sasuke?"
Rumah Sakit Sumigakure, distrik Nami, Sumigakure
Empat hari yang lalu
Tou-chan hanyalah satu dari sekian banyak siswa sekolah atas yang bermasalah dengan orangtua teman perempuan. Tapi dari beragam masalah itu, mungkin dia termasuk dalam kategori 'sangat berbahaya'. Sayang sekali dia belum memiliki pengalaman lebih lanjut mengenai seluk-beluk orangtua dan anak gadis mereka.
"Tadi Kaubilang namamu Jinpei?" laki-laki jangkung dengan rambut pirang mulai memutih, berdiri menghadapi Tou-chan yang tingginya hanya mencapai pundak laki-laki tersebut.
"I-iya… Jinpei Toujiro."
"Nama aneh."
Tou-chan hanya tersenyum, tidak baik memprovokasi seorang ayah yang sedang terprovokasi karena anak gadisnya dalam keadaan koma.
"Bagaimana kondisi Ino—ehm, Hondou, sekarang… Hondou-san?"
Hooligan urakan-pun pasti akan merasa terancam saat melihat tatapan kepala keluarga Hondou ini, namun Tou-chan bertahan.
"Mau apa kesini? Walau aku berterima kasih Kau sudah membawa Ino ke rumah sakit dan mengabariku, tapi tanggungjawabmu cukup sampai di sini. Tolong pulang saja—"
"Hondou-san, pemuda ini sudah berlaku baik sekali lho…,"
Hondou Matsuba mengalihkan pandangan dari Tou-chan (yang sangat lega) pada wanita cantik berambut ikal dan membawa seikat Chamomile oranye, dan tengah menegurnya itu. Teguran tersebut hanya dibalas dengan helaan tak sabar,
"Ino butuh istirahat,"
"…dan Jinpei-kun ini juga tidak menganggu Ino-chan 'kan? Dia cuma ingin tahu keadaannya."
Matsuba hanya menggeleng dan berkata, "Terserah padamu, Tsubaki," kemudian melangkah pergi. Wanita bernama Tsubaki ini melempar senyum pada Tou-chan dan memberi instruksi agar mengikutinya,
"Sampai sekarang belum ada tanda-tanda Ino akan bangun, Jinpei-kun. Tapi kupikir semua akan baik-baik saja, Ino itu gadis kuat…."
Satu lantai di atas mereka
"… dari uji allergen dan trombosit, semua tampak normal,"
Seorang pria berjubah putih dengan pelat nama 'Terui. I' di saku kirinya membetulkan letak kacamatanya sebelum menatap lurus-lurus pada sepasang mata hijau milik gadis berambut hitam.
"… bentuk tulang dan organ dalammu juga baik-baik saja. Jadi kusimpulkan Haruno-san ini sehat…,"
"Pasti ada kekeliruan!" gadis itu berteriak memrotes, "… Saya yakin ada apa-apa dengan tubuh ini!"
Dokter Terui menarik nafas, agak terpana dengan reaksi gadis tersebut,
"Haruno-san… baru kali ini ada pasien yang tidak senang mengetahui dirinya baik-baik saja."
"Saya datang kemari maksudnya bersama-sama Sensei Saya; Kawamoto-sensei… tapi karena Saya sudah tidak bisa menunggu, jadi mungkin beliau—," kalimat Sakura terpotong oleh tangan sang dokter yang terangkat dengan tiba-tiba.
"Oh, Kawamoto? Jadi kasus-nya Kawamoto lagi? Yah, kalau untuk itu, Haruno-san seharusnya berpikir dulu sebelum bertindak."
"Apa maksud—," lagi-lagi perkataan Sakura terpotong.
"Aku belum memeriksa itu, tentu saja. Yah, hormon kadang-kadang bisa membuat bingung. Tunggu sebentar," dokter Terui membuka lacinya dan mengulurkan bungkusan biru seukuran stik es-krim pada Sakura, yang menerimanya dengan pandangan bertanya, "… toilet ada di sebelah sana, kalau warnanya berubah merah berarti—,"
"Saya bukan mau periksa kehamilan!" jeritan frustasi Sakura bahkan terdengar hingga dua koridor di luar, "… lebih baik Saya menunggu hingga Kawamoto-sensei sampai!"
Dokter Terui menegakkan posisi duduknya,
"Kalau masalahnya ada padamu mengapa tidak jelaskan saja sekarang daripada menunggu Kawamoto?"
"Saya pernah mencoba menjelaskan pada seseorang," Sakura mengangkat bahu, "… dan orang itu adalah Kawamoto-sensei. Jadi sekarang biarlah Kawamoto-sensei juga membantu Saya untuk menjelaskannya pada Anda."
"Kenapa harus begitu?"
"Baru kemarin dulu Saya tahu kalau menjelaskan hal ini sendirian, sangat melelahkan."
Kamar rawat Hondou Ino
"Dia benar-benar seperti tidur ya…," Tsubaki berkata sambil menata Chamomile oranye yang dia bawa pada vas porselen putih di atas meja dekat pembaringan, "Dan mereka bilang dia kena semacam penyakit otak-apa itu kemarin… aku lupa." Setelah selesai dengan Chamomile-nya, Tsubaki mengedip pada Tou-chan.
"Dekati saja, mumpung Hondou-san tidak disini."
Tou-chan mengangguk dan menyentuh tangan Ino yang tergeletak bebas di samping badannya.
"Jadi dokter bilang Ino sakit?"
"Aneh, yaa… dia selalu tampak sehat."
Pintu kamar terbuka sedikit dengan bunyi derit, selama sepersekian detik Tou-chan mengira ayah Ino mengintip mereka tapi ternyata tak ada apa-apa.
"Lho… tadi belum ditutup? Perasaan sudah!" Tsubaki hendak melangkah ke pintu ketika dilihatnya sepasang mata kuning di dalam bola kelabu berlari menyeberang ruangan, melompati kaki Tou-chan, naik ke atas ranjang, naik ke dada Ino, lalu teriakan histeris mulai terdengar.
"Darimana kucing itu masuk!"
Teriakan Tsubaki mencuri perhatian suster yang baru saja memeriksa pasien di kamar sebelah, situasi kamar menjadi sedikit kacau saat Tou-chan berusaha menangkap si kucing yang sekarang membenamkan cakarnya di baju pasien Ino.
"Kucing sial! Lepas!"
"Astaga, jauhkan kucing itu dari Ino!"
"Tolong jangan membuat kegaduhan di koridor!"
"TIDAK LIHAT ada kucing yang mencoba mencakar pasien kalian?"
Setelah beberapa momen teriakan dan teguran, kucing itu berhasil diamankan setengah menit kemudian dengan memakan korban pergelangan tangan seorang suster dan vas di atas meja.
Mereka yang berkumpul di depan kamar rawat langsung bergerak untuk membenahi keributan yang terjadi; Tsubaki membantu suster bertampang gugup membersihkan pecahan vas, Matsuba mengawasi seorang suster berdebat dengan suster lain mengenai pengontrolan binatang liar, dan akhirnya hanya Tou-chan-lah yang menyaksikan Ino bangun dari ranjang seolah tak terjadi hal gawat selain bangun tidur di siang hari.
"INO!"
"Tuhan, Ino…."
"Hondou-san!"
"… Ino…."
Ino agak terlonjak dari tempatnya terduduk, namun segera menguasai diri dan menggaruk belakang kepalanya dengan grogi sambil menyapa semuanya,
"Oh, hai… selamat—siang?"
Tou-chan mendadak mengenali kucing kelabu tadi.
"Papa… aku baik-baik saja kok. Kita pulang sekarang saja yah?"
"Tunggu sebentar Ino. Biar dokter yang memutuskan. Bagaimana, Dok?"
Pria berjubah putih, berkacamata, dengan pelat nama 'Terui. I', menggelengkan kepala dengan senyum yang dipaksakan.
"Saya benar-benar tidak mengerti… Putri Anda ini sangat sehat, Hondou-san. Bahkan dari kondisi syaraf juga tak ada tanda-tanda pernah koma selama empat hari," dokter Terui menyeka keningnya yang tidak berkeringat, "… luar biasa membingungkan—tentu saja Anda boleh pulang, tapi untuk beberapa hari ini rawat jalan dulu ya."
Ino mengangguk, menyeringai puas pada ayahnya, kemudian menghambur keluar ruang periksa untuk mengangkat jempolnya pada Tou-chan.
"Rasanya lama banget nggak lihat Tou-chan! Sehat?"
"Harusnya aku yang tanya begitu," Tou-chan menghela nafas sebelum melanjutkan, "… syukurlah… eh, kenapa Ino?"
"Sori, Tou-chan."
"Eh?"
"Kukira efeknya cuma sementara seperti sebelum ini… tapi ternyata rumit juga kembali ke tubuh asal. Ah~~ segarnyaaa…," Ino merentangkan tangannya lebar-lebar di depan Tou-chan yang sekarang bertampang horor, "… tapi aku sudah membuat khawatir banyak orang. Bodohnyaaa~,"
"Ino…."
"Hm?"
"Jadi yang Ino ceritakan dulu itu—,"
"Menurut Tou-chan?"
"… roh Ino…."
"Iya. Aku sudah lama tahu kalau roh-ku nggak normal."
"Kucing itu?"
"Parah ya, selama empat hari ini kerjaanku cuma cari makanan sisa di kantin sekitar sini. Mengawasi Papa dan Tsubaki-san di toko…. Erm, Tou-chan?"
"… tunggu sebentar! yang seperti itu…."
"Mau bukti lagi?"
"NGGAK USAH!"
Seorang suster melongokkan kepalanya dari ruang periksa terdekat, tampak jengkel dan lelah.
"Tolong jangan membuat gaduh di koridor!"
-ii-
A/N: Saya buat kesalahan fatal di sini… soal marga Ino! yap! dia bukan 'Yamanaka' untuk saat ini (kedip).
