Sasori POV
Beginilah kalau terlibat dalam sebuah organisasi. Setiap weekend di habiskan bersama mereka. Tidak apa-apa sih. Toh aku juga tidak punya acara khusus pada saat weekend. Cuma, terkadang aku ingin sekali tidur di rumah seharian penuh untuk menghilangkan segala beban yang kurasakan selama ini.
Sore nanti Akatsuki akan langsung ke Suna. Agar besok pagi sudah sampai dan bisa berburu seharian di hari sabtu. Lalu di hari minggu barulah kita melakukan kegiatan masing-masing.
Biasanya, aku dan Dei membuat karya seni masing-masing setelah kami selesai menangkap target kami. Ok, hanya Dei yang membuat karya seni. Karena karya seniku tak pernah jadi dan selalu gagal.
Menyebalkan sekali setiap melihat Dei membuat patung tanah liatnya dengan sempurna. Bukannya aku iri padanya. Hanya saja aku merasa... Ya. Baiklah. Aku memang iri padanya. Tapi aku berusaha tak memperlihatkan rasa iriku itu.
Aku sudah mempersiapkan segalanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami sepakat untuk berkumpul di rumah Pein pukul 5 sore. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk ke rumah Pein.
Aku keluar kamarku dengan membawa ransel yang cukup besar hingga aku kesulitan membawanya.
"Hunting lagi?" tanya adikku yang sedang menonton sinetron kesukaannya yang berjudul 'Ganteng-Ganteng Melambai' di ruang santai dengan pemeran utama dua aktor papan atas bernama Kafan Jurik'yo dan Kerikil Harum.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
"Hn" aku hanya bergumam ala Sasuke saat itu Entah kenapa aku malas sekali untuk mengucapkan apapun.
Kulirik ibuku, ia terlihat membawa dua kotak bento ukuran besar yang dibungkus oleh sapu tangan berwarna merah sambil berjalan menuju ke arahku. Kemudian, ia memberikan dua kotak bento itu padaku. "Untukmu dan Dei. Kalian butuh makanan tambahan supaya tidak sakit." Ucap ibuku dengan lembut. Lalu aku pun mengangguk dan meraih bento darinya.
Ibuku selalu membawakan dua bento. Satu untukku dan yang satu lagi untik Dei. Sama seperti ibunya Dei yang selalu memberikanku bento juga. Kami berdua memang sangat akrab sedari kami kecil dulu. Bisa dibilang, kami berdua adalah soulmate yang tak akan pernah terpisahkan.
Walaupun aku membenci bakat luar biasa yang Dei miliki, tapi entah kenapa, aku merasa sangat menyayanginya dan tak ingin berpisah darinya. Bukannya aku tidak normal karena menyayangi seorang pria ya. Dengarkan baik-baik. CATAT kalau aku 100% pria normal yang menyukai wanita. Dan aku suka Konan. Deidara itu sudah kuanggap sebagai saudara kandungku. Seperti Sakura adikku, aku sangat menyayanginya.
"Aku pergi dulu ya Kaa-san, Sakura-chan.."
"Hati hati Saso-ku." kata ibuku Sambil melambaikan tangannya.
"Hai.." aku tersenyum kepada ibuku.
"Yooooo Nii-chan,,, jangan lupa oleh-oleh yaaaa…." Seru adikku satu-satunya yang manjanya minta ampun itu. Entah kenapa aku sedang malas bicara padanya. Aku hanya mengangguk kecil membalas permintaannya.
Kemudian aku pun meninggalkan rumah setelah berpamitan dengan ibu dan adikku itu. Jika kalian bingung di mana ayahku, akan kujawab bahwa ayahku sedang bekerja dan ia selalu bekerja meski di akhir pekan. Ayahku itu memang pekerja keras.
lupakan soal ayahku dan kita beralih ke permasalahanku lagi. Sebelum pergi ke tempat Pein tentu saja aku lebih dulu ke rumah Dei lalu kami berdua pergi bersama-sama menuju ke rumah Pein yang letaknya tidak terlalu jauh dari perumahan kami. Rumahku dan Dei pun tidak jauh. Hanya berbeda gang saja.
Oleh sebab itu kami selalu bersama-sama kemana pun. Maklum lah, kami berdua ini kan pemuda yang masih sendiri. Ya walaupun Dei sedang PDKT dengan teman adiknya yang berasal dari keluarga Hyuga itu. Hum,, Dei memang beruntung karena sepertinya si gadis keluarga Hyuga yang sangat cantik bak seorang puteri raja itu juga menyukainya.
Aku selalu saja kalah dari Dei. Bahkan dalam hal percintaan pun aku kalah. Lihat saja, aku hanya bisa mengagumi Konan dan meyukainya diam-diam karena sampai kapanpun aku tak akan bisa meraih cintaku itu. Tentu saja, Konan kan punya Pein.
.
.
Sasori, Akatsuki, Rate T, Drama, Friendship
.
.
Akhirnya alu dan Dei sampai juga di rumah Pein.
Ternyata, kami berdua lah yang datang paling terakhir diantara anggota-anggota lainnya. Tentu saja, beberapa anggota ada yang marah terhadap kami berdua. Bukan beberapa deh, hanya satu. Dan tentu saja dia adalah…
"Hey! Pasangan gay sia*an,,, apa yang kalian lakukan sih hingga kalian datang telat begini?! Apa kalian berdua bercinta dengan menjijikan dulu hah?!" bentak Hidan dengan wajah menyebalkannya yang selalu membuatku ingin menghajarnya.
"Sekarang kan baru jam 16.55 un. Apanya yang telat? Kami bahkan datang sebelum waktunya un!" tampaknya Dei kesal sekali kepada si Hidan itu. Yaaa wajar saja, kata-kata Hidan keterlaluan. Aku juga kesal sih. Tapi aku memang sedang tidak mood.
"Nani? Hoy,, fu***ng uke, kau berani membentakku hah?!" Hidan dan Dei kini telah berhadapan dengan wajah marah mereka masing-masing. Mereka pun saling mendeathglare satu sama lain.
"Cih! Kau pikir aku akan takut padamu hah? Baji**an sia*an un!"
Kurasa situasi ini sudah benar-benar gawat karena Dei sudah mulai mengeluarkan kata-kata kotor juga. Dei hanya bicara kotor jika emosinya sudah benar-benar melebihi batas kesabarannya yang memang hanya sedikit itu. Karena Dei memang tipikal orang yang mudah 'meledak' seperti prinsip seni bodonya itu.
Semua anggota memandang mereka dengan wajah ngeri. Bahkan Tobi si bawel pun terdiam. Mereka paham, sebaiknya tidak usah ikut campur jika tidak mau terluka.
"Ok semuanya karena semuanya sudah berkumpul, ayo lekas kita masukan semua perlengkapan kita ke dalam bus…" teriak Pein sambil bertepuk tangan. Aku yakin itu usaha Pein untuk melerai dua orang bodoh yang mudah 'meledak' itu.
"Ayo Dei, kita masukan barang-barang kita…" aku mencoba menarik Dei agar ia menjauh dari Hidan. Tapi, walaupun mereka sudah kujauhkan, mereka tetap saja saling mendeathglare.
"Cih, aku benar-benar benci jika dia bilang kalau aku ini uke un!" gerutu Dei padaku.
.
.
WARNING : AU, OOC, TYPO, GAJE,
MEMBOSANKAN
.
.
Ya,, Dei memang sudah agak tersiksa dengan wajah cantiknya yang membuat dia selalu dikira perempuan oleh orang banyak. Tak jarang juga ada pria yang jelas-jelas menyatakan cinta padanya. Aku sebagai sahabat hanya bisa bilang 'Sabar Dei,, abaikan saja mereka.' Hanya itu.
Tapi kali ini aku diam saja. Karena Dei benar-benar sedang marah sepertinya. Kata-kata 'Sabar' dariku tak akan berpengaruh apapun dan bahkan mungkin akan membuatnya semakin kesal.
Akhirnya, barang-barang kami pun sudah kami masukkan ke dalam mini bus. Namun, kami berkumpul dulu sebelum berangkat.
"Yosh! Minna-san, teman-temanku anggota Akatsuki yang terhormat dan kucintai,, mari kita tangkap hewan buruan kita kali ini dengan penuh semangat sampai kita berhasil!" seru Pein dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"YEEEAAAAAAAHHHHHHH!" seru semua anggota Akatsuki minus Pein dan aku.
"Sasori-kun, kau terlihat lesu sekali. Ada apa?" tanya Kisame padaku yang sedari tadi terlihat kurang bersemangat. Akibatnya semua mata jadi tertuju padaku.
"Eh? tidak. Aku hanya sedang memikirkan ujian sejarah minggu depan. Aku pasti tidak lulus lagi dan menghabiskan liburan musim panas di kelas sejarah." aku menunduk. Aku sangat tidak suka pelajaran sejarah. Itu sangat membosankan bagiku.
Hampir setiap liburan musim panas, setengahnya aku habiskan di sekolah seorang diri untuk mengulang pelajaran sejarah yang dibimbing oleh Kurenai sensei. Guru sejarah cantik namun cerewet dan galak.
Walaupun anggota Akatsuki suka menemaniku secara bergantian, namun tetap saja aku jengkel. Aku pun jadi tak bisa ikut hunting bersama Akatsuki saat liburan musim panas.
"Ujian kali ini kan materi bab 4 tentang Akatsuki. Kau pasti bisa Sasori." ucap Pein sambil menepuk pundakku. Aku hanya mengatupkan bibirku. "Setidaknya kau bisa menyebutkan nama 10 anggota Akatsuki dengan tepat. Hehe." Lanjut Pein.
Ya, ujian kali ini adalah tentang Akatsuki. Organisasi jahat legendaris, yang memiliki 10 anggota bernama sama dengan kami, dan yang membuat Pein mencetuskan ide gila untuk membentuk organisasi ini di masa sekarang.
Yang kuingat dari materi yang Kurenai sensei ajarkan tempo hari di kelas itu hanya ada satu. Sasori atau Akasuna no Sasori, salah satu anggota Akatsuki yang bernama sama denganku adalah seorang puppet master berdarah dingin yang membuat semua korbannya menjadi boneka koleksinya.
Yang aku kagumi darinya adalah dia sangat pandai membuat boneka kayu bahkan dapat membuat tubuh manusia menjadi boneka kayu meskipun agak kejam dan menjijikan. Selain itu, dirinya pun telah ia ubah menjadi boneka kayu guna hidup abadi selamanya.
Namun yang masih jadi misteri adalah, kenapa si puppet master itu bisa dikalahkan oleh seorang bocah kunoichi dan nenek kandungnya sendiri. Padahal ia adalah ninja hebat yang tak pernah kalah sekalipun dalam pertempuran. Sangat mustahil jika dia dikalahkan oleh dua wanita itu. Aku benar-benar tidak percaya. Namun, yang tertulis di buku pelajaran sejarahku memang sangat persis dengan penjelasan Kurenai sensei saat itu.
Aku selalu menghayal mungkinkah aku reinkarnasi darinya? Hey.. Dia dan aku sama-sama suka boneka kayu. Prinsip seni kami pun sama. Tapi itu khayalan bodoh. Sasori yang itu jelas-jelas The Puppet Master. Sedangkan aku? The Looser Puppet Master.
.
.
The Puppet Master
By : Chan-ame
.
.
"Tenang Danna un, aku akan membantumu mengingat sejarah si Deidara itu un. Aku hafal semua tentangnya diluar kepala un." ucap Deidara dengan semangat menggebu-gebu. Aku hanya bisa tersenyum simpul untuk membalas kata-kata sahabatku itu.
End Sasori POV
Akatsuki akhirnya berangkat pada pukul 17.30. Mereka menaiki mini bus sewaan plus supir langganan Akatsuki yang bernama Hatake Kakashi. Dia cukup keren untuk ukuran supir bus. Namun siapa peduli. Semua anggotanya kan laki-laki. Kecuali Konan. Tapi, Konan terlihat tidak begitu tertarik pada supir bus itu. Sepertinya, hanya Pein saja yang keren di matanya (hoeek).
Mari kita lihat satu persatu aktivitas dari pasangan Akatsuki yang duduk bersama.
Pertama, ayo kita lihat pasangan ibu dan anak (?) Zetsu-Tobi.
"Ayayayayeee... Jalan-jalan.. Jalan-jalan.." kata Tobi si anak bawang sambil mengeluarkan kepalanya keluar jendela.
"Tobi, jangan keluar-keluar kepalanya, nanti tersangkut." Zetsu menarik-narik pundak Tobi dengan panik.
"Gak mau! Tobi mau begini aja Zetsu-senpai! Ademmm tau!" rengek Tobi manja.
"Gak boleh! Lagipula bus ini kan ber-AC. Ayo masuk ya nak. Nanti kuberi lollypop deh." tawar Zetsu dengan tampang seles panci (?).
"Beneran?"
"Iya. Ini." Zetsu menggoyang-goyangkan lollypop orange di depan Tobi. Zetsu memang selalu siap sedia lollypop untuk menangani hal-hal seperti sekarang ini.
Dengan semangat, Tobi langsung menangkapnya dan melahapnya "Arigatou Senpai….." Tobi meluk-meluk Zetsu sampai Zetsu kehabisan napas.
"LEPASIN TOBI!"
"GAK MAU!"
Ya,, keadaan itu terus berlanjut beberapa saat.
Yosh, kita tinggalkan Zetsu-Tobi. Sekarang mari kita lihat pasangan paling kotor (?) di Akatsuki. Si mulut kotor dan si kikir berhati kotor Hidan dan Kakuzu.
"Semalam Arsenal menang melawan AC MILAN. Itu artinya, kau kalah taruhan dan harus membayar 50 ribu padaku.." ucap Kakuzu seraya menyeringai jahat dengan mata hijaunya yang berkilat-kilat. Tangannya menengadah ke arah Hidan yang duduk di sampingnya.
"Fuc*! Sh*t! As****e! Dasar sia**n, baj****n, breng***, piip..piip..piip..%& ?!$#$&^&%^ #$!$%^%$*%#!^ $%#$ # &)(*%^&**, Teng..teng..teng.. Guk..guk..ngoik..ngoik..moooo..mbee..wek..wek..meow..cit..cit.." semua kata kotor penuh sensor keluar dari mulut Hidan ketika Hidan menyerahkan selembar uang 50 ribuan kepada Kakuzu.
"Wihiii..." seru Kakuzu kegirangan sambil melambai-lambaikan uang dari Hidan itu.
Hidan masih saja berdecak kesal. Ia kelihatannya tidak terima dengan kekalahannya sendiri.
"Kau pasti curang kikir bang***!" umpat Hidan pada Kakuzu.
"Kau saja yang tidak beruntung. Salahkan dewa Jashin bodohmu itu!" balas Kakuzu dengan santainya.
"WHAT THE F**K! BILANG APA KAU BARUSAN?!" Hidan langsung mengepalkan tangannya sambil menarik kerah baju Kakuzu.
"Apa? DE-WA JA-SHIN BO-DOH!" Kakuzu malah menggoda Hidan dengan santainya.
"D**N ! Fuc***g Kakuzu! Kubunuh kau!" Hidan benar-benar geram.
Kemudian,,, terjadilah pergulatan bodoh diantara mereka berdua.
Ok, kita tinggalkan duo terkotor itu. Selanjutnya, kita beralih pada pasangan paling adem ayem dan penuh sopan santun di Akatsuki. Kisame dan Itachi.
"Itachi-san, kau mau?" Kisame menyodorkan bento berisi sushi pada Itachi.
"Hn. Arigatou Kisame-san." Itachi disuapin sushi sama Kisame. "Kisame-san, kau mau?" Itachi menawarkan kue dangonya pada Kisame.
"Tentu saja. Arigatou Itachi-san." Kisame disuapin dango sama Itachi. "Itachi-san, kau mau?" Kisame menawarkan cemilan rumput lautnya.
"Hn. Arigatou Kisame-san." Itachi disuapin lagi sama Kisame. "Kisame-san, kau mau?" Itachi menawarkan minuman sodanya.
"Tentu saja. Arigatou Itachi-san." Kisame meminum minuman soda milik Itachi.
Begitu seterusnya sampai makanan dan minuman mereka berdua habis.
Kita beralih pada pasangan Romeo and Juliet paling romantis di Akatsuki yang selalu membuat kepala Sasori meledak-ledak seperti kembang api buatan Deidara. Pein dan Konan.
"Batu..gunting..kertas..!" seru Pein dan Konan bersamaan. Lalu mereka beradu suit jepang.
"Astaga aku kalah!" kata Konan dengan sangat kecewa.
"Yaiy! Aku menang! Mana pipimu?" Pein menyeringai lebar.
Dengan pasrah Konan menyodorkan pipinya lalu Pein mengecupnya.
Cup 3
"Ayo lagi!" seru Konan semangat dan tak mau kalah.
"Batu..gunting..kertas!"
Konan memilih kertas dan Pein memilih batu.
"Yeaaah! Aku yang menang…" Konan bersorak kegirangan.
Pein yang kali ini kecewa. Ia menyodorkan pipinya dengan pasrah tanpa dipinta oleh Konan lagi. Lalu Konan pun langsung mengecupnya dengan mesra.
Cup 3
Begitulah seterusnya. Mereka bermain suit jepang dengan peraturan yang kalah harus rela dicium pipinya oleh yang menang.
Terakhir, mari kita liat duo terunyu di Akatsuki. Pasangan pria imut betampang baby face dan pria cantik yang jauh lebih cantik dari wanita asli. Sasori dan Deidara.
"Cih! Permainan macam apa itu?" gumam Sasori yang cemburu karena permainan Pein dan Konan.
"Hahahaha... Danna un mau main kaya gitu denganku un?" Deidara mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Plak!
Pipi Deidara sukses ditampar oleh Sasori. "Memangnya aku cowok apaan!" ucap Sasori dengan kesalnya.
Deidara mengelus pipinya yang bertapak tangan merah itu. "Kan aku bercanda Danna un! Aku juga tidak sudi melakukan permainan itu denganmu tau un!" Deidara yang kesal membalas tamparan Sasori.
Plak!
Sasori jadi kesal karena pipi chubby nan ngegemesinnya ditampar Deidara.
PLETAK! "Dasar seniman ledakan bodoh!" umpat Sasori sambil menjitak kepala Deidara.
PLETAK! "Kau, seniman boneka gagal! Seperti prinsip seni bodohmu un!" Deidara balas menjitak kepala Sasori.
GYUUTT! "Aaddddaaaww.." Deidara kesakitan karena pipinya dicubit Sasori.
"SENI ITU ABADI! Dan itu bukan prinsip bodoh!" Sasori tetap mencubit pipi Deidara.
GYUTT! Deidara mencubit pipi Sasori juga "Aaddduh! Sakit!" gumam Sasori.
"SENI ITU LEDAKAN! Camkan itu Danna un!" Deidara dengan kesal merentangkan pipi bulat Sasori.
Sasori melepas cubitannya lalu menjambak rambut Deidara. "TIDAK! SENI ITU ABADI DASAR PIRANG CEREWET BERWAJAH PEREMPUAN!" teriak Sasori.
Deidara pun ikut menjambak rambut Sasori. "TIDAK! SENI ITU LEDAKAN DASAR LILIPUT BANTET BERWAJAH BAYI UN!" teriak Deidara.
Lalu terjadilah adegan jambak, tampar, cubit, colok mata, kelitik, jewer, jitak, dan tonjok antara Sasori dan Deidara dengan gaya ABG perempuan yang sedang berkelahi ditambah dengan teriakan-teriakan cempreng dari mereka berdua.
"KYAAAAAAAA ~"
"KYAAAAAAAA UN ~"
Sang supir jadi sweatdrop melihat tingkah laku kesepuluh anak yang sedang ia bawa di dalam mini busnya. Padahal ia sudah sering mengantarkan mereka.
'Anak anak yang aneh.' benak Kakashi si supir bus.
.
.
Chapter 3 : Berburu
.
.
Setelah menempuh 6 jam perjalanan, akhirnya Akatsuki tiba juga di hutan di pelosok desa Suna pada pukul 23.30 malam.
Sesampainya di sana, mereka sibuk mendirikan tenda. Kakashi si supir bus lebih memilih tidur di mini busnya.
Setelah tenda siap, Kisame yang hobby masak, menyiapkan makan malam. Zetsu dan Kakuzu menyalakan api unggun. Pein dan Itachi terlihat sedang memperbincangkan sesuatu dengan wajah serius entah apa yang mereka bicarakan, mungkin mereka sedang menyusun strategi perburuan untuk besok (Ame : halaaah,, paling-paling ngomongin bo**p / ItaPein : *PLETAK* Sssssttttt! / Ame : Itai.. *nangis Bombay*). Hidan bermain gitar sambil bersenandung ria dengan Tobi dan Deidara (tumben akur?).
Di saat mereka semua sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, terlihat Sasori sedang duduk dipinggir sungai yang masih satu lokasi dengan tempat berdirinya tenda sambil menatap bintang-bintang di angkasa yang kelam itu.
Tiba-tiba, di saat Sasori sedang melambungkan pikirannya jauh di angan-angannya, sebuah tangan halus nan lembut menepuk pundak Sasori. Sasori yang sedikit terkejut langsung menoleh ke belakangnya dan mendapati Konan yang tengah tersenyum manis kepadanya. Sasori pun langsung buru-buru memalingkan wajahnya dari Konan sebelum gejala-gejala anehnya ketika ia berpandangan dengan Konan itu kambuh lagi.
"Kau tidak ikut bergabung Sasori?" Konan langsung duduk di samping Sasori.
"Ah.. Tidak.. Aku sedang ingin menatap bintang.." jawab Sasori tanpa menatap wajah Konan. Ia tetap menatap ke langit malam yang penuh bintang itu.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Konan menatap wajah Sasori. Sasori tetap berusaha tak memandang wajahnya.
"Banyak sekali." ucap Sasori.
Konan semakin mendekatkan wajahnya kepada Sasori. "Oh ya? Apa saja?" tanya Konan yang penasaran.
Sasori sedikit gugup ketika pundaknya dan pundak Konan saling bersentuhan. "Hmm... A..ano,, aku hanya memikirkan tentang seniku yang selalu gagal, tentang ujian sejarah satu minggu lagi, dan yang terpenting adalah tentang..." Sasori tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak mungkin ia berkata bahwa perasaan cintanya pada Konanlah yang benar-benar mengganggu pikirannya dibandingkan dengan permasalahan lain yang ia miliki.
"Tentang apa?" tanya Konan yang makin penasaran.
"Ah, lupakan. Hehehe…" Sasori berdiri dari tempat ia duduk. "Aku mau ke Dei dulu ya. Sepertinya asyik bernyanyi di depan api unggun.." Sasori tersenyum tipis pada Konan lalu ia pun langsung berlari kecil ke arah Deidara, Tobi, dan Hidan yang sedang bernyanyi.
Konan yang masih diam di tempat, menatap Sasori yang kini sudah berada diantara Deidara, Tobi, dan Hidan yang tengah bernyanyi sambil tertawa riang bersama-sama. Konan terlihat sedih sambil terus memandangi Sasori dengan raut wajah khawatir.
Sasori menatap Konan yang masih berdiri di tepi sungai. Sasori menatap Konan dengan wajah sedih juga. Namun tak lama ia tersenyum palsu lagi dan melanjutkan nyanyiannya dengan teman-temannya itu.
.
.
TENG TENG TENG TENG!
"BANGUN... BANGUN...!" teriak Pein dengan menggunakan pengeras suara sambil membunyikan lonceng mini yang entah ia dapat dari mana ke arah empat tenda yang masih tertutup itu.
Tenda 1 berisi Hidan, Kakuzu, dan Zetsu, tenda 2 berisi Kisame, Itachi, dan tadinya Pein tidur di tenda 2 juga semalam, tenda 3 berisi Sasori, Deidara, dan Tobi, terakhir tenda 4 yang berisi Konan seorang diri. Maklumlah, cewek kan gak boleh tidur satu tenda sama cowok-cowok.
Dengan wajah kucel and the kumel, semua anggota Akatsuki yang masih berada di dalam tenda perlahan merangkak keluar tenda dengan malasnya.
"Masih ngantuk un." Deidara mengucek matanya lalu bersandar di bahu kiri Sasori.
"Tobi juga belum puas tidurnya ketua. Hoaaaaeehmm…" Tobi menguap lalu besandar juga di bahu kanan Sasori.
Sasori yang jengkel karena kedua makhluk mengganggu itu bersandar di kedua bahunya langsung sengaja berdiri sehingga kepala Deidara dan kepala Tobi berbenturan dengan keras.
"ADDDUUUUUHHHH!" gumam Deidara dan Tobi sambil memegangi kepala mereka yang sakit karena saling berbenturan satu sama lain.
Sasori malah melenggang pergi ke tepi sungai sambil menguap dengan cueknya tanpa perasaan bersalah sedikitpun. "Aku mau cuci muka dulu." ucapnya.
"Sasori no Danna!" teriak Deidara yang geram dengan cemprengnya. Sementara Tobi sedang terisak-isak sambil tetap mengelus-elus kepalanya yang sakit. Sasori tidak peduli sama sekali, menoleh saja tidak.
"Hoy ketua breng***, ini masih gelap tau!" omel Hidan.
"Benar ketua, sekarang kan baru jam 4.30.." ucap Zetsu sambil berbaring di paha Hidan.
"Hoy.. Waktu adalah uang. Benar kan ketua?" ucap Kakuzu yang berjalan ke arah Sasori untuk cuci muka juga.
"Kakuzu benar. Kita gunakan waktu 90 menit untuk sarapan dan menyiapkan diri. Pukul 06.00 tepat, kita harus bergerak. Kisame, cepat buatkan sarapan!" perintah Pein.
"Hufh.. Iya..iya.." sahut Kisame malas-malasan.
"Konan sayang dan Dei bantu Kisame menyiapkan sarapan ya." perintah Pein lagi. Konan langsung mengangguk.
"Haaah? Kenapa harus aku ketua un?!" bentak Deidara yang tidak mau memasak.
"Karena kau mirip ibu rumah tangga." jawab Pein innocent. Deidara jawdrops lalu ia dengan terpaksa menurut ketika Konan menarik tangannya.
"Sasori, Hidan, Tobi, bereskan tenda dan perlengkapan lainnya lalu masukkan ke mini bus. Itachi, Zetsu, dan Kakuzu, ambil dan siapkan perlengkapan berburu kita yang ada di dalam mini bus." Pein menunjuk-nunjuk ke arah anggotanya sambil memerintah seenak jidatnya. Tapi bodohnya mereka, tanpa perlawanan yang berarti mereka semua menuruti perintah Pein.
"Lalu ketua melakukan apa?" tanya Tobi polos.
"Aku..aku..aku.." Pein mencari-cari alasan yang masuk akal. "Ah! Aku mau menyiapkan strategi baru!" jawab Pein sok serius dengan bohongnya.
"Bilang aja mau mandi, luluran, scrubbing, sama maskeran." tebak Sasori asal namun tepat sasaran. (Ame :Sejak kapan Pein melakukan rutinitas Deidara? / Dei : Enak aja un! Gue gak pernah begitu un! KATSU! / BLEDAAAARRRRR….. / Ame : *gosong dengan imutnya*)
Pein cuma cengar-cengir gaje kepada Sasori dan yang lainnya lalu kabur secepat Minato Namikaze.
Skip time ke pukul 06.00.
Semua anggota sudah sarapan dan mandi serta telah siap dengan pakaian hunting khas mereka ditambah dengan perlengkapan lainnya.
Pakaian hunting mereka terinspirasi dari pakaian asli Akatsuki di sejarah. Jubah hitam dengan corak awan berwarna merah. Namun hanya motifnya saja yang diambil. Karena akan sulit berburu memakai jubah panjang.
Mereka mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam corak awan merah dan celana pendek berwarna ungu beserta sepatu putih dan topi bundar berwarna cokelat
Khusus Konan, kaosnya tanpa lengan dan celananya 25 cm diatas lutut. Biar lebih manis kata Konan. Pein selaku pacar, nurut aja apa kata yayangnya.
Tak lupa mereka membawa perlengkapan masing-masing. Hidan membawa sabit bermata tiga entah beli dimana, Kakuzu membawa segulung tali yang panjangnya bermeter-meter, Kisame membawa pedang besar yang sekali lagi Ame gak tau dapetnya dari mana, Itachi membawa shuriken dan kacamata merahnya (?), Zetsu membawa pacul dan banyak sekali rumput (emang mau bertani), Tobi membawa berbungkus-bungkus lollypop (?), Deidara membawa banyak petasan, Sasori membawa kayu panjang beserta jarum bius yang sangat banyak, Pein membawa senapan keren (nah ini baru bener pemburu), Konan membawa jaring yang lebaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar banget.
Kemudian mereka berpencar sesuai partner mereka masing-masing. Hidan-Kakuzu, Kisame-Itachi, Pein-Konan, Tobi-Zetsu, Deidara-Sasori.
.
.
Hidan-Kakuzu.
"Fuc***g as****e! Demi dewa Jashin! Sudah 3 jam kita berkeliling tapi kita tak menemukan apapun!" gerutu Hidan yang kini terduduk di tengah hutan.
"Sabarlah Hidan, memang sulit menangkap hewan langka. Seperti baru pertama kali saja.." tanggap Kakuzu santai.
"Haaaaaaahhh sh*t aku lelah!" Hidan tetap menggerutu tanpa mempedulikan ucapan Kakuzu.
"Hidan, lihat itu!" kata Kakuzu tiba-tiba sambil menunjuk ke suatu tempat.
Hidan bangkit dan menghampiri Kakuzu. "Apa? Ada apa sia*an?" Hidan bersiap dengan senjatanya. Ia melihat apa yang Kakuzu tunjuk dan ia pun menemukan apa yang Kakuzu lihat. Tentu saja, mereka menemukan hewan dengan cirri-ciri yang mirip dengan hewan buruan mereka.
"Wow, demi dewa Jashin. Ini hari keberuntungan kita karena bisa mendahului mereka menangkap fuc***g animal ini!" Seru Hidan penuh semangat.
"Diam dan tenanglah Hidan. Kau jangan lengah dulu. Aku akan menangkap ekornya dengan taliku. Setelah itu, kau lumpuhkan kakinya dengan sabitmu." tutur Kakuzu yang memberikan arahan pada Hidan.
"Wakatta! cepat lakukan kikir breng***!" perintah Hidan.
Kakuzu melemparkan talinya dan mengikat ekor hewan aneh itu. Hewan itu meronta hebat. Kakuzu dan Hidan berusaha menarik hewan itu agar mendekat.
"GROOOOOAAARRRR… GROOOARRR…."
"Mousukoshi…. Hidannnnnn….." seru Kakuzu dengan tampang bersusah payah karena hewan itu memang sangat besar.
"Urusai sia*an!" jawab Hidan yang juga bersusah payah menarik hewan besar yang meronta-ronta itu.
Setelah hewan itu dekat, Kakuzu menyuruh Hidan untuk melumpuhkan hewan itu "SEKARANG HIDAN!"
Hidan dengan sigap mengayunkan sabitnya ke kaki hewan itu guna melukai kakinya agar tidak dapat melawan lagi. Namun, karena gerakan mendadak dari hewan tersebut, sabit Hidan malah menebas tali yang mengikat si hewan dan membuat hewan itu berhasil lolos.
Kakuzu jawdropp melihat kelakuan Hidan yang sangat bodoh itu. Sedangkan Hidan, sudah terlihat pucat dengan keringat dingin yang mengalir deras dari seluruh tubuhnya.
"HIDAAAAAAANNNNN BODOOOOOOOOOOOH!" teriak Kakuzu yang geram. "KAU BERMULUT BESAR TAPI OTAKMU SANGAT KECIL!" omel Kakuzu yang sudah habis kesabarannya menghadapi Hidan.
Hidan yang merasa bersalah (tumben) pun cuma bisa berjongkok, nangis dikit, dan menunduk sambil mengorek-ngorek tanah dibawahnya.
.
.
Kisame-Itachi.
"Itachi-san apa kau lelah?" tanya Kisame pada Itachi yang terus memperhatikan sekitarnya dengan kacamata merahnya yang seperti di film matrix.
"Hn. Tapi kita tak boleh keduluan yang lain Kisame-san.." ucap Itachi yang tetap sigap. "Kisame-san! Aku menemukannya!" seru Itachi sambil menunjuk hewan aneh yang tengah mondar-mandir dibalik pohon.
Kisame langsung memasang tampang ngeri "Di..dia be..besar sekali seperti beruang ya Itachi-san. Apa dia pemakan daging?" Kisame terlihat sangat takut.
"Entahlah Kisame-san. Yang terpenting sekarang kita harus lumpuhkan dia. Aku akan mengunci gerakannya dengan shurikenku dan kau lumpuhkan dia dengan pedangmu!" perintah Itachi.
"Hai Itachi-san!" jawab Kisame tegas.
Itachi melemparkan shurikennya di sekitar hewan itu seperti pagar. Si hewan tersentak kaget dan mengeluarkan auman buasnya.
"GROOOOOAAAAARRRR….." Itachi dan Kisame jadi bergetar ketakutan mendengarkan auman buasnya.
"MAJU KISAME-SAN!" perintah Itachi yang masih sedikit bergetar.
"Ba..ba..ik!" Kisame yang ketakutan tetap maju dan mencoba mengayunkan pedangnya ke arah kaki hewan itu. Namun, hewan itu menggila dan menerjang Kisame.
"WAAAAAAAAAAA!" teriak Kisame. Itachi dengan sigap melempari tubuh hewan itu dengan shuriken. Sebenarnya, ia tak boleh melukai anggota tubuh buruannya kecuali kaki. Namun ia terpaksa daripada partnernya dimangsa.
Hewan itu malah berbalik menuju ke arah Itachi. Itachi memejamkan matanya dengan pasrah namun ternyata hewan itu hanya menubruknya saja hingga Itachi tersungkur. Setelah itu ia melarikan diri.
Itachi tergeletak di tanah.
"Daijoubu Itachi-san?" tanya Kisame yang juga terbaring dengan beberapa luka di tubuh dan wajahnya.
"Kau sendiri?" Itachi tak kalah parahnya. Ia merasakan tulang rusuk dan tulang pinggangnya patah namun sepertinya Itachi hanya lebay saja karena sebenarnya ia hanya keseleo sedikit dan luka fisiknya pun hanya sedikit.
"Seperti yang kau lihat. Sebaiknya kita serahkan hewan itu pada mereka saja." Kisame berjalan tertatih ke arah Itachi lalu membopongnya ke bawah pohon rindang.
"Hn."
.
.
Zetsu-Tobi.
"Senpai,, Senpai sedang apa sih?" tanya Tobi sambil asyik ngemut lollypop dan duduk di atas sebatang kayu.
Terlihat Zetsu sedang menggali lubang yang dalam dan cukup besar. Kemudian setelah jadi, ia menutupi lubang itu dengan rumput-rumput yang sangat banyak. Ia membuat jebakan rupanya. Lalu Zetsu berjalan ke arah Tobi dan merebut paksa lollypop yang Tobi bawa.
"Apa yang senpai lakukan?" Tobi nangis-nangis saat semua lollypopnya berhasil direbut Zetsu.
"Untuk kujadikan umpan." jawab Zetsu santai sambil menancapkan satu persatu lollypop itu di atas rumput jebakan. Tobi menangis meraung-raung.
"Diamlah! Nanti kubelikan lagi setelah kita berhasil menangkap hewan itu dan mendapatkan 50% bonus komisi kita. Ok! Sekarang kita sembunyi!" Zetsu menarik paksa tangan Tobi dan mereka berdua pun mengintip dari balik semak.
1 jam kemudian.
"Senpai! Lihat, lihat, lihat, apa itu hewannya?" Tobi menunjuk-nunjuk hewan yang mendekati jebakan Zetsu.
Zetsu melihat gambar target di tangannya lalu menoleh ke hewan itu dan ternyata sama. "Tidak salah lagi Tobi. Ssttt... Jangan berisik, sebentar lagi ia terjebak. Hihihi…"
Memang benar, hewan itu jatuh ke lubang dalam yang Zetsu buat.
"HORAAAAYYY!" seru Tobi dan Zetsu dengan riangnya. Lalu mereka berlari keluar sambil menari-nari kegirangan dan mendekati lubang itu lalu melongok ke dalamnya.
"Hewan yang lucu.." gumam Zetsu sambil tersenyum jahat.
"Ta..tapi giginya tajam senpai." Tobi sembunyi di balik tubuh Zetsu.
"GROAAAAARRRR!" Hewan itu mengaum sangat keras. Kemudian melompat keatas lubang dan berdiri tepat di hadapan Tobi dan Zetsu. Padahal lubang itu sangat dalam. Tapi hewan itu berhasil naik.
Tobi dan Zetsu terdiam sambil gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Bahkan Tobi ngompol di celana.
"GROAAAAAAARRR!" Hewan itu mengaum keras tepat di hadapan wajah mereka berdua yang membuat mereka berdua pingsan seketika.
.
.
Pein-Konan.
Terlihat Pein tengah memetik setangkai bunga dan memasangkannya di telinga Konan. "Kirei.." ucap Pein dengan wajah gombalnya. Konan jadi tersipu malu.
"Ah, Pein.. Kau bisa saja.." Konan memukul kecil bahu Pein.
Pein mendekatkan wajahnya ke arah Konan. Lalu mereka pun semakin dekat..dekat.. dan sangaaaaaaaat dekat. Kini wajah mereka berdua sudah merah padam dan mata mereka pun sudah terpejam. Jarak di antara mereka hanya tinggal benerapa cm saja. Namun tiba-tiba...
"GROAAAAAAAR!"
Suara auman hewan aneh itu membuat dahi Pein dan Konan jadi berbenturan karena kaget.
"Aduuhhh…." gumam mereka berdua sambil mengelus kepala masing-masing.
"Kyaaa! Pein! Itu dia! Itu dia...!" Konan menunjuk-nunjuk heboh ke hewan sebesar beruang yang ada di hadapan mereka.
Pein langsung menyiapkan senapan dan berusaha menembak kaki hewan itu.
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
Namun hewan itu dengan lincahnya menghindari peluru Pein hingga Pein kehabisan peluru dan hewan itu tidak terluka sedikitpun.
CTEK..CTEK..
"Apa yang kau lakukan Pein? Cepat isi pelurunya!" perintah Konan.
"A...aku tak punya isi pelurunya.. Hehehehe…" Pein nyengir gaje.
"APAAAAAA?! Bagaimana bisa kau membawa senapan tanpa isi peluru?!" Konan langsung membentak-bentak Pein dengan judesnya. Entah kemana perginya Konan yang anggun nan lembut itu.
"Habisnya kan biasanya sekali tembak saja langsung kena sayangg…." Pein menunduk frustasi.
"Lalu bagaimana kita menangkap itu?" Konan pun menunjuk hewan aneh yang kelihatan marah itu dengan wajah yang sangat frustasi. "KAU MENCOBA MEMBUNUHKU YAAAAAA?" bentak Konan lagi.
"Gomenasai sayaaaaang…. Aku akan berpikir.. Hmmm... Aha! Kita langsung jaring saja dengan jaringmu sayang!" kata Pein dengan wajah bodohnya.
Konan yang masih kesal pun langsung mengeluarkan jaring lebarnya dan mereka berdua pun melempar jaring itu hingga menutupi tubuh hewan itu.
"Berhasil!" seru Pein dan Konan sambil saling berpelukan riang.
Namun..
"GROAAAAAR!" Hewan itu memutuskan jaring jaringnya dengan mudah.
"KYAAAAAAAAAAAAA!" teriak Pein dan Konan ketika hewan itu melompat kabur melewati kepala mereka.
.
.
Sasori-Deidara.
Pasangan sahabat ini terlihat paling tidak antusias dibandingkan pasangan-pasangan Akatsuki lainnya dalam berburu. Deidara dan Sasori malah menari-nari sambil bernyanyi duet di sepanjang perjalanan mereka.
"Jret..jret..jret..jret!jret! Jret..jret..jret..jret!jret! Jret..jret..jret..jret!jret!Jret..jret..jret..jret!jret!" gumam Deidara yang mencoba meniru musik lagu diam diam sukanya Cherrybelle.
Saso : Kau, adalah incaran hatiku~
Dei : Ku, slalu memperhatikanmu~
Saso : Tak henti menjadi teman berbagi~
Dei : Semoga kau rasa apa yang ku rasaaaa~
Saso : Di balik senyumku, ada cinta untukmu..
Dei : Di balik matamu, ada hati menunggu..
SasoDei : Saso, diam diam suka Konaaan...
Dei : Dia coba mendekat. Dia coba mendekaaa~ti si Konan.
SasoDei : Saso diam diam suka Konaaan...
Saso : Semua kan indah, seandainya aku bisa. Memiliki Konan...
Dei : Jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..Jret..
Saso : Hey!
Dei : Jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..Jret..
Saso : Hey!
Dei : Jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..jret..Jret..
Saso : Hey!
"Hufh,, udahan ah Danna.. Suaraku sudah abis un! Uhuk..uhuk.. Udah 20 lagu kita nyanyiin un." Deidara ngos-ngosan karena kebanyakan nyanyi.
"Ah! Baru 20 lagu aja udah ngeluh! Gimana mau jadi penyanyi Dei?" Sasori menepuk-nepuk pundak Deidara.
"Memangnya siapa yang mau jadi penyanyi un? Aku kan mau jadi seniman un." Kata deidara yang jengkel pada Sasori.
"Penyanyi kan juga seniman Dei…" Sasori menghentikan langkahnya, menguap dan berbaring di rerumputan.
Deidara ikut berhenti dan duduk disebelah Sasori yang tengah berbaring. "Seniku bukan untuk menyakiti tenggorokanku un! Tapi seniku adalah..." Deidara membakar beberapa petasan dan melemparnya ke depan.
BLAMMM!
"LEDAKAN UN!" ucap Deidara dengan wajah berseri-seri. Ia terlihat sangat puas dengan ledakan barusan. Sasori hanya menatapnya dengan wajah malas.
Tiba-tiba terdengar suara auman hewan buas dan tak lama setelah itu si hewan langsung menunjukkan dirinya. Hewan itu berbentuk rakun raksasa yang mirip dengan target mereka. Sepertinya hewan itu terkena ledakan petasan Deidara.
"WAAAAAAA D...D..D..DANAAA... Itu kan target kita un!" Deidara sontak ketakutan karena hewan itu mengamuk dan menghampiri mereka berdua.
"Y..y..ya K..kau benar Dei!" jawab Sasori dengan gugupnya karena takut. Kemudian Sasori terdiam dan memandangi hewan itu. "Sugoi,, dia benar-benar besar sekali!" Sasori terkagum kagum.
"Bukan saatnya untuk kagum Danna no baka! Cepat keluarkan jarum biusmu un!" perintah Deidara.
"Eh..oh..i..iya tunggu…" Sasori yang panik langsung mengacak-acak tas bawaannya hingga semua barang-barang dari dalam tasnya itu berserakan di rumput. Ada boneka Barbie, topi beruang, foto Konan, pedang-pedangan plastik, celana dalam bermotif Teddy Bear, dan mobil-mobilan (?).
Deidara sempat sweatdropp melihat isi tas Dannanya yang 'wow' banget itu. Sasori sadar kalau Deidara memperhatikannya dengan tatapan aneh. Kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan menatap Deidara dengan tampang datar.
"Apa?" tanya Sasori sok cool.
"GROAAAAAAAR!" Hewan itu semakin mendekat dan siap menerkam. Sasori dan Deidara yang sedang bertatapan pun kembali tersadar.
"HEYYYY! CEPAT DANNA UN!" teriak Deidara panik.
"I..iya! Iya!" Sasori yang tadi sempat berhenti, kini melanjutkan pencariannya karena ia masih belum menemukan jarum biusnya. Namun hewan itu sudah berada tepat di hadapan mereka dan bersiap mencakar Deidara dan Sasori dengan kuku-kuku tajamnya.
"KYAAAAAAAAAAAAAA…." Deidara dan Sasori berteriak secempreng-cemprengnya. Lalu disaat yang tepat, Sasori menemukan jarum biusnya dan menancapkannya pada hewan itu.
Jleb..
Sasori dan Deidara memasang wajah takut antara hidup dan mati.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
BRUGH! Hewan itu ambruk karena pengaruh obat biusnya.
"Fiuuuhhhh….." Sasori dan Deidara bernapas lega. Tubuh mereka lemas dan mereka pun langsung menjatuhkan diri di atas rumput.
Kemudian, mereka pun bertatapan lalu tersenyum lebar dan saling menggenggam tangan mereka satu sama lain. "KITA BERHASIL (UN)!" seru Sasori dan Deidara secara bersamaan.
"Kita akan menjadi bintangnya kali ini un." kata Deidara dengan semangat.
"Benar! Dan komisi kita akan lebih banyak 50% dari komisi yang lainnya.." kata Sasori yang meniru gaya bicara Kakuzu si matre kikir.
"HORAAAAAAAAAAY…." seru mereka sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
.
.
.
.
.
To be Continued ^^
.
.
.
.
.
Special thanks for : Shadow, Apostrophee, Mudiantoro, AN Narra, Green Mkys, Haruko Akemi, Guest..
Arigatou buat reviewnya, Ame jadi tambah semangat! ^^
Gimana cara sasori jadi puppet master? jawabannya ada di chapter selanjutnya.. Jadi tetep tunggu chapter ke-empat yaaa
Sasori bisa pakai benang cakra atau enggak? Humm Ame juga masih memikirkan hal itu. Liat nanti aja deh.. hehehe
Banyakin Saso Dei? Banyak kok SasoDeinya... tapi friendship yaaa... ahahahahahaha
.
.
.
.
.
Chapter Selanjutnya….
"Begitulah cara dua orang pria gentle seperti kami melumpuhkan hewan buas ini (un).."
.
"Cih! Paling-paling mereka hanya membual" ucap Zetsu dengan sebal.
.
"Jangan deket-deket Danna ya un! Deket-deket aku aja un" Deidara noel-noel dagu Konan sampai Konan blushing.
DUAKK|PLETAK! Deidara di tonjok Pein dan di jitak Sasori.
.
"Nanti malam kau bilang ada festival kan sayang ?"
.
"Bebeknya berenang... Cipak cipuk cipak cipuk.. Loh? Ada puteri duyung. Sedang apa kau?" Tobi yang membawa mainan bebek karet ke pemandian, tengah memainkan bebek karetnya layaknya bocah lima tahun.
"Aku lagi nyari pangeran Errick. Kau lihat gak bebek?" eh, ternyata ada bocah lain yang bawa-bawa boneka Ariel the mermaid ke pemandian. Siapa lagi kalau bukan Sasori.
.
"DEI-CHAN MANIS, APA PUNGGUNGMU MAU KUGOSOK?"
"DASAR COWOK-COWOK GAK NORMAL UN!"
.
"ITADAKIMASU
Semuanya makan dengan lahap disertai tawa ria dan canda mereka. Di sudut ruangan, pelayan wanita berambut hitam tengah berdiri dan menunggu ada yang membutuhkan bantuannya. Deidara melirik ke arah pelayan itu dan menatapnya seolah berkata "Apa sudah kau kerjakan?"
Pelayan itu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Deidara tersenyum senang karenanya.
.
"Wahh kau cantik sekali Konan-hime." puji Hidan yang untuk pertama kalinya berkata tanpa menggunakan kata 'sisipan'nya tersebut.
.
"Kau temani aku ya Sasori?" pinta Konan dengan wajah memohon.
Sasori melotot. Ia tak percaya mendengarnya. Deidara menyenggol lengan Sasori yang masih mematung dengan wajah blushing yang bodoh. "Cepat katakan ya, sebelum aku menggantikanmu un." goda Deidara pada Sasori.
.
Tanpa sadar Sasori mendekatkan wajahnya ke wajah Konan. Konan tak sadar akan hal itu hingga ia merasakan hembusan nafas seseorang menerpa kulit wajahnya. Ketika Konan menengok, bibirnya langsung bertemu dengan bibir pemilik hembusan nafas itu, Sasori.
.
Sasori membuka pintu kayu bergaya kuno tersebut. Ternyata tidak dikunci. Sasori melangkah masuk dan melihat apa yang ada dibalik pintu. "Tempat apa ini?" Sasori bergumam sambil melihat-lihat sekelilingnya yang gelap dengan bantuan cahaya ponsel tersebut.
"WOOOWWWW…" Sasori melebarkan matanya. Ia melihat puluhan boneka kayu seukuran manusia tergantung dan berjajar rapi di tembok.
.
"Mustahil! Kenapa boneka kayu ini, berbentuk seperti diriku?!" Sasori meraih boneka itu dan menyentuh wajahnya. "Matanya, rambutnya, bahkan wajahnya memang serupa denganku!"
.
"Seandainya aku bisa bertemu denganmu,, aku pasti akan memintamu untuk mengajariku membuat boneka." kata Sasori dengan mata berbinar. Tanpa ia ketahui, diluar sana ada sebuah bintang jatuh yang melintas.
.
.
.
.
.
Review kalian penyemangat Ame ^^
