Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Shonen ai
Pairing : SasuxNaru
\(=^o^=)/dozo…
"Na.. Naruto?!!" Sasuke pun begitu kaget melihat Naruto yang berada di depannya.
"Hai, Sasuke teme." Sapa Naruto. "Susah sekali aku mencari alamat apartemenmu ini, lho. Sampai-sampai aku harus tersesat dua kali." Timpalnya.
"Ke.. kenapa kau kesini? Bukannya kamu seharusnya dirawat di rumah sakit?"
"Apaan sih?! Kok kamu malah berkata seperti itu? Akukan ke sini untukmu. Aku juga sudah merasa baikkan kok. Lagipula dokter sudah memperbolehkanku keluar dari rumah sakit. Seharian ini temani aku bermain, ya?" ajak Naruto.
"Ta.. tapi.. Kaukan seharusnya di rawat di rumah sakit. Pokoknya kau harus kembali ke rumah sakit! Aku akan mengantarmu.." seru Sasuke agar Naruto mau kembali ke rumah sakit.
"Apaan sih? Kan bosan juga kalau terus-terusan berada di rumah sakit. Aku tidak mau kembali kesana!" tolak Naruto. "Dokter saja sudah memberiku ijin kok, untuk keluar dari rumah sakit. Nih, buktinya kalau aku boleh keluar dari rumah sakit." Timpal Naruto sambil memperlihatkan selembar surat ijin kepada Sasuke.
"Ta.. tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian Sasuke teme! Dokter hanya mengijinkanku keluar satu hari saja, jadi temani aku satu hari ini. Ya?" kata Naruto.
Akhirnya Sasuke pun menemani Naruto walau dirinya begitu khawatir dengan kondisi Naruto yang masih lemah itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke tidak tahu harus membawa Naruto pergi kemana.
"Emm, aku ingin jalan-jalan ke taman bermain."
Akhirnya Sasuke pun setuju untuk membawa Naruto pergi ke taman bermain. Dikeluarkan mobil sport hitamnya dan membawa Naruto ka taman bermain kesukaannya.
Walau taman bermain adalah tempat yang tergolong cukup ramai, dan seperti biasanya Sasuke mengharuskan dirinya memakai topi dan kacamata hitamnya untuk menutupi identitasnya. Karena cukup ramai, Sasuke pun menggandeng tangan Naruto. Semua orangpun memperhatikan mereka berdua, saat Sasuke menggandeng tangan Naruto bagaikan sepasang kekasih. Tapi Sasuke tidak peduli apa tanggapan dari orang lain tentang mereka, karena saat ini yang terpenting adalah kebersamaannya dengan Naruto.
Merekapun bersenang-senang, bagi Naruto ini seperti sebuah kencan. Berkencan dengan orang yang dia cintai. Banyak hal yang mereka lakukan, seperti halnya sepasang kekasih. Seperti makan es krim berdua, bermain tembak kaleng yang berhadiah sebuah boneka Teddy bear untuk Naruto. Naik Jets coaster hingga membuat Sasuke mual, karena Naruto mengajaknya naik sampai lima kali. Lalu masuk kedalam rumah hantu, alhasil mereka berdua ketakutan dibuatnya. Dan menolong anak kecil yang sedang mencari Ibunya yang terpisah. Dan tanpa disadari ada salah satu fansnya yang mengenalinya dan mengharuskan mereka berdua berlari-lari dan bersembunyi, lalu memakai topeng untuk menghindari fans-fans maniak Sasuke. Hal itu memang menyenangkan bagi Naruto maupun Sasuke tersendiri. Dan juga masih banyak lagi yang mereka lakukan.
Lalu merekapun sepakat membeli sepasang cincin saat mereka melihat penjual aneka accesoriss. Cincin itu diberi sebuah ukiran di dalamnya. Cincin Sasuke diberi ukiran nama Dobe dan juga sebaliknya, cincin Naruto diukir dengan nama Teme. Panggilan sayang bagi mereka. Banyak hal yang mereka lakukan. Sasuke harap ini semua bisa membuat Naruto bahagia.
Waktu demi waktupun mereka lalui bersama, tanpa mereka sadari hingga haripun menjelang malam. Untuk saatnya mereka pulang dan Naruto kembali ke rumah sakit. Tapi Naruto bersikeras tak ingin kembali ke rumah sakit dan masih lebih lama lagi ingin bersama Sasuke.
Akhirnya merekapun mampir ke sebuah acara Bunkasai yang diadakan di sebuah pinggiran kota. Kembali mereka membuat kenangan-kenangan indah di sana. Malampun semakin larut. Karena Naruto masih ingin bersama Sasuke dan tidak mau kembali ke rumah sakit, akhirnya Sasuke membawa Naruto ke tempat yang lebih sepi. Taman lapangan dekat dengan acara bunkasai itu diadakan. Agar Naruto bisa sedikit beristirahat. Dan juga menunggu kembang api penutupan acara bukasai itu.
"Dobe sebaiknya kau istirahat sebentar." Kata Sasuke menyuruh Naruto untuk beristirahat.
"E-em.." gumam Naruto mengiyakan suruhan Sasuke agar dia tidak terlalu khawatir padanya. "Ah, aku ingin mendengarkan kau bernyanyi Sasuke." kata Naruto sambil mengayunkan ayunan yang sudah ia duduki di taman itu. "Setidaknya untuk yang terakhir kali."
"Apa yang kau katakan Dobe? Aku yakin kau akan sembuh. Aku tak mau kau berkata seperti itu lagi. Aku janji, kalau kau sudah sembuh total aku akan mengajakmu ke sana lagi." Janji Sasuke pada Naruto.
"Haha.. Tentu saja aku akan sembuh. Dasar Sasuke teme, kau terlalu mencemaskanku. Akukan kuat. Janji, ya kalau aku sudah sembuh kau akan membawaku ke sana?" kata Naruto beranjak dari ayunannya dan menyodorkan jari kelingkingnya agar dikaitkan ke jari kelingking Sasuke. Berjanji akan pergi ke taman bermain lagi bersama. "Aku mencintai Ibu dan semua orang yang mencintaiku juga, termasuk kau Sasuke teme. Tuhan pasti mengabulkan permohonanku."
Sasuke menatap Naruto dengan kepedihan yang begitu mendalam. Pasti jiwa Naruto begitu rapuh sehingga dia harus berpura-pura kuat dan tegar. Secepatnya Sasuke memeluk dengan erat tubuh rapuh itu, berharap tak akan pernah menghilang lagi dari hadapannya.
"Tuhan pasti mendengarkan permohonanmu dobe.." ucap Sasuke disela pelukannya yang erat.
"Ne, teme.. Aku akan terus hidupkan?" Sasuke begitu kaget saat Naruto bertanya hal itu. "Apa aku masih punya kesempatan untuk hidup? Aku belum ingin mati! Aku masih ingin terus hidup. Aku ingin hidup. Ingin hidup.. Tapi, tapi, kenapa penyakit ini harus memilihku? Kenapa tidak orang lain saja! Aku masih ingin hidup! Terus hidup! Ingin terus hidup..!! hiik..hiik.." Naruto menangis sejadinya dipelukan Sasuke. Sasuke pun begitu tergoncang hatinya, perih menyayat batinnya mendengar perkataan Naruto.
"Tentu saja dobe.." Sasuke begitu kesal pada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk Naruto. Hingga dia harus membenci Tuhan, 'Kami-sama, kenapa Kau berikan semua itu pada Naruto? Kenapa tidak aku saja yang kau beri penyakit seperti itu?!! Bisakah aku menggantikannya?' batin Sasuke. Di samping itu, Sasuke terus memeluk erat Naruto, berharap dia merasa nyaman dan hangat dipelukkannya.
Setelah itu, akhirnya Naruto sedikit lebih tenang. Dia duduk di samping Sasuke, menyandarkan kepalanya di pundak Sasuke sambil menutup mata. Sasuke pun melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Naruto, serta memeluk tubuh kecil Naruto dari belakang sambil menyanyikan sebuah lagu untuk Naruto.
When I look up at the sky
The stars, see, are sparkling
Each giving off its own light
Like the people on this planet
Yeah, so I, too
Want to shine particularly bright
I close my eyes and make a vow in my heart
And entrust my dreams to that shooting star
I'm in my usual park
I can see the night scenery
On the slide
That's been my special seat for years
Whenever I'm worried about something, I come here
Just like then, I'm on my way to my dreams…
Lyric by Home Made Kazoku (Nagereboshi translation)
"Uhuk-uhuk.." suara batuk Naruto.
"Kau batuk dobe, kita kembali saja ke mobil."
"Tidak usah. Aku masih ingin di sini." Ucap Naruto.
Beberapa menit kemudian Sasuke sudah tak mendengar suara Naruto.
"Dobe.. Hei, dobe. Kau tidur? Dobe?" panggil Sasuke dengan cemas.
"Iya, aku dengar. Aku cuma sedikit mengantuk.. uhuk-uhuk.."
"Kita kembali saja ke rumah sakit."
"Aku bilang tidak usah. Lagipula aku ingin melihat kembang api saat penutupan acara bunkasai itu."
"Tapi.."
"Biarkan aku tidur sebentar. Kalau sudah dinyalakan, bangunkan aku ya."
Naruto pun tertidur dalam pelukkan Sasuke. Sepuluh menit kemudian, kembang apipun dinyalakan. Kembang api menghiasi langit pada malam hari, bagaikan hujan bintang yang mengindahkan dunia.
Sasuke mencoba membangunkan Naruto, tapi Naruto tidak kunjung membuka matanya. Hanya suara batuknya yang keluar dari mulut Naruto.
"Naruto.. Naruto! Kembang apinya sudah dimulai. Katanya kau ingin melihatnya.. Ne, Naruto.. bangunlah!" Panggil Sasuke seraya menepuk kecil pipi Naruto. Dirasakannya tubuh Naruto yang panas, kemudian dengan segera Sasuke membopong Naruto ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Uhuk-uhuk.." hanya suara batuk Naruto yang menghiasi kekhawatiran Sasuke. Sasuke menancap gas, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap dia cepat sampai di rumah sakit..
Batuk Naruto semakin parah, dan Naruto menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Berharap batuknya akan segera berhenti, agar Sasuke tidak mencemaskannya. Namun terlihat disela-sela jarinya merembes darah segar yang keluar dari mulut Naruto. Darah itu keluar cukup banyak saat Naruto batuk. Sasuke yang melihatnyapun begitu takut dengan keadaan Naruto yang semakin parah. Dia takut terjadi apa-apa pada Naruto.
"Dobe.. Bertahanlah. Kumohon…"
"Uhuuk..uhuukk…"
Sesampainya di rumah sakit, dokter pun segera memeriksa keadaan Naruto. Tiga puluh menit kemudian Kushina, Ibu Naruto datang ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari rumah sakit. Mereka begitu ketakutan, keringat dingin membasahi tubuh Sasuke dan Kushina. Namun takdir berkata lain. Dokter keluar dengan gontai dan memberi kabar duka pada Kushina dan Sasuke. Naruto begitu bahagia, hingga sampai detik terakhirnyapun dia menutup mata untuk selama-lamanya. Sasuke menangis sejadi-jadinya malam itu. Melampiaskan kekesalannya malam itu.
Kenapa dia tidak menolak saja ajakan pergi dari Naruto..
Kenapa tidak membawa Naruto kembali ke rumah sakit saja tadi..
Sasuke mengutuk dirinya yang sudah membuat Naruto meninggal.. Dia menyalahkan dirinya sendiri, membuat dirinya menjadi penyebab utama Naruto meninggal..
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Sasuke tak mengikuti upacara pemakaman Naruto. Dia begitu takut saat tubuh dingin Naruto dimasukkan ke dalam peti mati dan dimasukkan ke dalam tanah dan ditutupnya.
Sudah beberapa bulan juga Sasuke mulai pasif dalam pekerjaannya. Kerjaannya hanya mabuk-mabukkan saja, menyalahkan diri sendiri atas kematian Naruto.
***
To be Continued…
Huhu.. sedih juga liat Naruto meninggal..
Hiik..Hiik..
Tunggu Chapter selanjutnya ya..
Chapter terakhir, nieh…
