Uh, Ice seharusnya ngepost chapter ini dua minggu lalu... tapi entah kenapa Ice gabisa log in -_-
Perlu berbagai perjuangan asdfghjkl
Yasudahlah. Yang penting readers sekalian sudah bisa baca chapter 3 ini. Maaf kalau agak ngawur, Ice agak bingung pas nulis endingnya 'u'v
Kisah tua yang diturunkan oleh leluhur klan vampir, dari generasi ke generasi, dari ibu yang penuh kasih kepada anak vampirnya yang mengantuk di dalam peti kecil menceritakan, bahwa setiap ribuan tahun sekali akan lahir seorang dari mereka yang berbeda. Seorang dari makhluk malam, yang ditakdirkan untuk ditolak dan dikucilkan.
Seorang yang jalan hidupnya telah ditulis, diukir dalam batu takdir yang dingin, untuk menyendiri tanpa cinta dan kasih.
"-ia akan memiliki kemampuan untuk menjelajah bumi dikala mentari," cerita sang bunda, membelai rambut anaknya yang mulai mengantuk, bulan tenggelam tuk berganti fajar.
"Tertulislah di perkamen tua leluhur, matahari tidak akan menghanguskan tubuhnya, hanya meraup sebagian kekuatan hidupnya,"
"Kenapa kau mengejarku ke sini? Kenapa kau tahu aku berada disini?", isak tertahan dan dahaga membara di balik tenggorokan, ia berusaha menjauhkan mata emas berlinang air mata dari leher manusia di hadapannya. Taringnya berdenyut, ingin menancapkan diri ke daging leher, menembus pembuluh darah yang rapuh, merobeknya dan membiarkan darah nikmat pelepas bara siksa mengalir masuk-
Gelengan kuat, cengkraman pada kepala yang sakit menyiksa. "T- tidak. Pergi." Air mata kembali menetes.
"Gempa, dengarkan aku-," Satu langkah maju, mendekati.
"Ia bisa bertahan tanpa meminum darah setiap malam, ia bisa bertahan dari kutukan bawang putih. Ia berbeda," lanjut sang ibu, menutup tirai gelap dan tebal di jendela, tidak ingin mengambil resiko cahaya mentari menyusup walau mereka tidur dalam peti.
"Kenapa? Kenapa kalian tidak meninggalkanku sendiri? Aku ingin sendiri, aku selalu sendiri. Aku... tidak terbiasa dengan ini,-"
"Karena ia berbeda, ia tidak diterima oleh kaumnya. Vampir yang terlalu manusia, manusia yang terlalu vampir. Ia ditolak dan dikucilkan, dibenci dan dibuang. Terjebak diantara, bukan manusia, bukan vampir. Ia bahkan bukan setengah vampir. Dipilih oleh bintang, takdirnya telah diukir di langit malam dan dasar samudera, mustahil diterima di sisi manapun."
"Hisap darahku."
Si anak vampir menggumam, agak dibuyarkan tidur. "Mmmh, pasti rasanya sangat kesepian,"
Tuan pendeta, aku selalu sendirian.
"Kau gila. Kalian semuanya gila. Kenapa aku harus menenggak darahmu? Sudah aku katakan, tidak, terlalu berbahaya." Tapi manik emas sekali lagi berbohong. Mereka berkata 'jangan pergi'. 'Selamatkan aku dari penderitaan ini, kumohon,'.
Aku berterima kasih atas kebaikanmu, tapi kalian, terutama dirimu, harus pergi. Demi kebaikan kalian sendiri, untuk jauh dari monster sepertiku. Biarlah aku menderita untuk seribu tahun lagi lamanya, asal kalian tidak terlibat dalam hidupku yang berantakan ini. Asal kalian bisa hidup damai, aku akan sanggup menghapus memori tentang seorang Gempa, vampir aneh yang meminta kematian.
Betapa pun aku tahu, bersama dengan terhapusnya memori kebersamaan kita yang singkat itu, bagian dari diriku pun akan ikut hancur, hilang.
Tersiksa untuk sekian kalinya.
Tapi aku tidak apa-apa.
Ini demi kalian.
Aku tidak boleh egois... walau aku tidak bisa mengingat, kapan terakhir kali aku menginginkan sesuatu apapun untuk diriku sendiri. Kapan aku boleh menyimpan sesuatu tanpa dihukum atau disakiti.
Hey, jawablah, apa aku boleh menyimpan perasaan ini?
Tapi tentu saja, aku tidak bisa mengucapkannya.
"Pergi," kupaksakan diriku untuk berkata, suara terpecah karena tangis.
Mencium kening buah hatinya, ibu vampir menjawab, "Tentu saja rasanya kesepian, sayang. Tapi, sebagai gantinya, ia memiliki kemampuan untuk 'hidup bahagia selamanya'."
Walau mendapati anaknya telah terlelap, ibu vampir tetap melanjutkan. "Dalam dongeng, hanya ciuman cinta sejati yang akan mematahkan kutukan. Begitu juga dengan vampir yang telah ditakdirkan, nama cinta sejatinya telah terukir di bintang yang sama. Dengan seteguk darah, mereka akan dibekukan waktu, berubah menjadi patung batu indah, janji kebersamaan dikunci dengan sebuah ciuman terakhir."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Presented to you,
By IceFlowerGirl
.
.
.
Living Nightmare
.
.
.
Disclaimer: Boboiboy milik Animonsta
.
.
.
Warning(s): FangGem, slight HaliTau? I dunno. Possibly OOC, typo, yaoi. Vampire!AU, etc etc. You have been warned. DLDR.
.
.
.
.
.
.
.
.
3
.
.
.
.
.
Time set 20XX
"Kau tidak membunuh mereka, Gempa. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, tidak ada siapapun yang bisa disalahkan hanya karena ia berbeda dari yang lain."
Kata-kata asing, keluar dari mulutnya, dengan suara serupa dengan miliknya. Tapi kapan, kenapa, dan kepada siapa ia mengucapkannya? Tubuh ini tidak bisa ia kendalikan, seolah ia hanyalah penonton opera yang disajikan pemandangan dari tubuh aktor itu sendiri. Bergerak, berbicara. Tidak memiliki kendali atas aksinya sendiri. Hanya menonton dan merasa bingung, apa yang sedang terjadi?
Mata emas berkilat, menahan haus membakar dan taring yang berdenyut makin kuat agar tidak segera menancapkan diri ke leher dimana darah mengalir dengan brutal bagai hewan kelaparan. Tidak, ia tidak akan menyerahkan diri pada hasrat serendah itu.
"Kau yakin...?"
"Aku tidak mengejarmu sampai ke hutan belakang gereja ini untuk ragu-ragu, kau tahu?" Lagipula siapa yang akan menyangka, si vampir akan kembali ke tempat dimana ia membuat tempat pembaringannya? Berdiri diam, menatap getir ke dalam gelap lubang yang ia buat sendiri. Seolah berharap tubuhnya sudah tergeletak kaku di dalam sana, perlahan hancur menjadi abu...
"... baiklah," tangan pucat meraih sisi wajah sang pemuda, menariknya mendekat...
.
.
.
.
.
Suara burung berkicau membuyarkan pandangan. Perlahan wajah pucat nan rupawan itu menghilang, ditelan gelap. Cahaya mentari pagi menginvasi ruangan. Langit-langit kamar menyambut pandangan kala otak yang masih terselubung tidur memproses skenario aneh bagai mimpi barusan-
Mimpi? Ya, mimpi. Tapi rasanya terlalu nyata untuk jadi ilusi tidur semata.
"Mata emas itu lagi," gumam Fang, meraih kacamatanya di rak samping tempat tidur. Belakangan remaja beranjak dewasa yang baru duduk di bangku kuliah itu mendapat mimpi yang sama berulang-ulang dalam tidurnya. Hal yang paling mengganggu adalah, betapa 'mimpi' itu terasa nyata. Sentuhan, suara... bahkan hembus angin dingin di hutan malam.
Misalnya minggu lalu, dimana mimpi itu berlanjut lebih jauh dibandingkan yang hari ini.
Saat tangan dingin itu menyentuh tengkuk Fang untuk menariknya mendekat, tangan lain menyusup ke kantung pakaiannya dan menarik keluar sebuah botol kecil. Lagi, tanpa dikehendaki Fang, suaranya -atau suara dirinya dalam mimpi- berkata, "Kalau kau pikir aku masih menyimpan air suci, kau salah besar. Itu hanya air biasa."
Mata emas bak kucing menajam, "... apa?"
"Aku menuang isi botol itu ke bunga liar yang dulu kau rawat tiap hari. Kau tahu, semak itu layu dan mati gara-gara kau menghilang, jadi kuberikan saja ke tumbuhan itu agar mereka bisa segar kembali," manik gelap tidak memutus kontak mata, seolah menantang sesuatu respon dari si vampir.
Sekelebat emosi bergumul di balik matanya, tidak terbaca dan gelap.
Tangan pucat yang memegang botol kecil mengerat, nyaris meretakkan wadah kaca hitam yang berukir salib dan awan-awan surgawi. "Kau... melanggar perjanjian kita," ucapnya, terdengar pasrah, terkhianati. Darah vampir memintanya untuk 'diam, jangan bicara lagi, mangsa ada di hadapanmu, hisap hisap hisap,' tapi Gempa tidak sanggup untuk mengikutinya. Ia butuh penjelasan. Ia ingin tahu, kenapa-
-Kenapa mereka tidak membiarkannya mati? Karena kasihan? Atau mereka berpikiran bahwa ia tidak berhak mengakhiri hidupnya? Karena ia memang harus menderita? Benarkah begitu?
Teringatlah Gempa akan kejadian beratus tahun lalu. Yang membuatnya semakin membenci dirinya sendiri, karena ia tak berdaya dan tak bisa membantu.
Manusia dahulu yang membakar sesamanya, kawanan vampirnya, mereka semua.
Sama saja.
Penuh dengki.
Darah vampir yang gelap, sisi dirinya yang murni terbuat dari kegelapan, lebih pekat dari malam, merasuki pikirannya.
Darah. Haus. Sakit, rasanya sakit.
Jangan tertipu. Bunuh sebelum dibunuh. Makan sebelum dimakan.
Yang lemah akan kalah oleh yang kuat..
Inilah hukum alam.
Menyaksikan dari sepasang mata milik 'tubuh mimpinya', Fang tidak mengerti kenapa makhluk serupa manusia di hadapan dirinya terlihat sangat marah dan tersakiti. Perjanjian apa memangnya yang telah mereka buat? Ia tidak terlalu mengerti.
Menghela napas, berusaha menghiraukan sakit dalam manik topaz, suaranya melanjutkan, "Jangan mulai, kau juga menghilang sebelum genap sebulan."
Pada titik ini, sang vampir sudah ditelan separuh insting vampirnya. Yang ia ketahui adalah, mangsa. Di hadapannya. Minum, minum, bunuh. Tapi sisi manusianya berontak. Jangan. Jangan dia. Jangan manusia, jangan darah, jangan bunuh.
Jangan sampai ada korban lagi.
Aku butuh jawaban, teriak batinnya.
Sebelum pemuda vampir sanggup mengeluarkan kata-kata dari tenggorokan membakar, Fang menyela, "Itu karena kau haus. Ya, ya, aku mengerti," ia memutar bola matanya, "Kau takut membunuh manusia lain? Kalau begitu hisap saja darahku."
Hah?
Si vampir menggeleng kuat, Fang entah sejak kapan memegang tangannya. Pegangannya tidak kuat, tidak memaksa. Tapi Gempa tidak ingin melepaskan diri. Sudah lama ia membutuhkan ini, kasih dan perhatian yang tulus, dan terlebih lagi, Fang memiliki sesuatu yang ia tidak punya.
Separuh jiwa, tertulis di bintang dan dipecah takdir menjadi dua bagian. Benarkah legenda itu nyata? Soulmate?
"Gempa. Kumohon."
Membuang segala ragunya, sang vampir melingkarkan lengan pada pundak Fang-
...
Dan selalu, selalu, disanalah mimpinya terputus. Tidak pernah sekalipun ia melihat kelanjutan darinya.
Fang menggerutu, bersiap-siap ke kampus dengan gusar. Apa sih maksud mimpi aneh itu? Ia benar-benar ingin tahu.
Living Nightmare
Desember, 19XX
Fang masih belum kembali juga dari mengejar Gempa kemarin malam.
Aku menulis surat ini karena aku bisa merasakan perubahan dalam hidup kami yang awalnya biasa-biasa saja. Halilintar juga mengatakan bahwa Fang kemungkinan tidak akan kembali lagi. Entah bagaimana aku juga setuju.
Aneh, bukan? Serasa ada suara kecil yang berbisik di telingaku, mengatakan bahwa kalian sudah berhasil menemukan sesuatu yang hilang. Yaaah, apapun itu, kuharap kalian bahagia.
Kami juga akan meninggalkan tempat ini dan memulai sesuatu yang baru di tempat lain. Di tengah masyarakat, mungkin. Kami yang dulu pernah ditolak orang lain sebelum memutuskan tinggal di tempat terpencil ini, ingin berbaur kembali.
Gereja akan kami serahkan kepada orang pedesaan. Kami tidak akan tinggal disana lagi, tapi tetap akan berkunjung dari waktu ke waktu. Aku merasa bahwa hidup diantara sepi itu... em, terlalu kesepian. Aku ingin mulai lagi untuk bersosialisasi.
Mencoba lagi, untuk diterima, seperti Gempa.
Hehe, lucu bagaimana seorang vampir bisa mengubah kami yang 'idiot dan keras kepala' ini.
Yah, aku berharap kau bahagia, Gempa. Walau ia tidak mengatakannya, Halilintar juga berharap begitu.
Dimanapun kau berada, kami akan selalu mengingatmu.
Living Nightmare
Melingkarkan lengan di leher pemuda yang lebih tinggi itu, Gempa menutup mata dan membiarkan dirinya untuk rileks. Tenang. Tidak ada yang akan menghancurkan hidupmu lagi.
Gempa percaya. Memang benar. Ia akhirnya diizinkan untuk bahagia.
Membenamkan wajahnya di pundak Fang, ia menghirup nafas dalam. Bahunya yang tegang meleleh dan dadanya serasa hangat. Inikah bahagia? Kalau benar, maka Gempa tidak akan keberatan untuk tenggelam didalamnya.
Membuka mulutnya, sang vampir perlahan menurunkan taringnya ke dalam leher... pasangan hidupnya.
Benar-benar klisè, sekarang Gempa merasa seperti karakter utama sebuah dongeng.
Rasa cairan hangat yang menyelamatkannya dari panas membara benar-benar... tak bisa diwujudkan dalam kata-kata.
Satu menit? Satu jam? Atau beberapa detik? Mereka tersesat dalam waktu, suara bisikan dibalik pikiran meminta mereka untuk menyegel takdir.
Bibir bertemu bibir, pasangan yang diselimuti cinta itu perlahan berubah wujud. Mulai dari kaki mereka yang membeku perlahan.
"Hei Gempa,"
"Ya?"
Sebuah kecupan sayang mendarat di hidung pemilik manik emas, "Love you,"
Sebuah senyuman, "Me too,"
Pagi tiba dan menghangatkan hutan dengan cahaya surya, burung berkicau dan hinggap disekitar sebuah patung. Dinaungi pepohonan nan asri, sepasang kekasih abadi berpelukan dengan manik beku yang memandang ke dalam satu sama lain, memancarkan cinta yang telah lama hilang dan dicari.
Living Nightmare
"Murid baru?"
Apa kau percaya pada takdir?
"Iya, cowok. Kudengar wajahnya manis, hehe."
Iya? Aku juga percaya.
"Heh, masa sih, Gopal?"
"Iya dong, ngapain juga aku bohong."
Takdir itu lucu, ya?
"Oi, Gop, duduk! Dosen Papa udah masuk!"
"Ups!"
Setelah beratus tahun,-
"Murid-murid kebenaraaan! Hari ini penghuni kelas keadilan akan bertambah satu oraaang! Siapkan jiwa muda kalian, wahai kebenaran. Ohya, silahkan memperkenalkan diri, murid kebenaran."
Senyum kikuk, terlihat tidak terbiasa dengan dosen nyentrik satu ini. Pemuda itu berdehem, akhirnya membuka suara.
"Perkenalkan, namaku Boboiboy. Boboiboy Gempa."
-kita bertemu lagi.
.
.
.
End.
.
.
.
A/N:
Happy 15th birthday to me! XD #2 October
Maaf lama update, school life has been super busy! Ice kebanjiran PR, tugas, trus beberapa kerja kelompok buat makalah plus presentasinya '-'; apalagi ujian bakal segera menyerbu sekitar tanggal 12 Oktober -,- Anyway maaf sekali lagi kalo jelek ;-; Ice tau kalo feelnya nggak begitu kena #mojok
Thanks for all of your support, readers! I won't be able to go this far without you!
Mind to RnR?
#Btw episode 19 is out in YouTube xD lol its so coollll~!
P.S: maybe I'd make an epilogue if I got time lol
