Chapter 2: The First Day

Tuan Cullen – atau Edward – seperti yang dia sarankan padaku untuk memanggilnya, memberiku laptop baru, Blackberry, and instruksi untuk beberapa jam kedepan.

Aku jelas telah mendapatkan pekerjaan yang cocok untukku.

Si brunette berjalan kearahku sesaat setelah aku selesai mengatur mejaku.

"Hai"

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya, dengan senyum palsu di wajahku. "Halo."

"Aku Bella Swan," katanya. "dan kamu sebaiknya menjauh dari Edward."

Aku hanya menatapnya, terkejut sejenak "Maaf, apa?"

"Kau dengar aku," desisnya, dan mengingatkanku pada ular yang pernah aku lihat di India. "menjauh darinya, blonde kecil. Dia milikku, dan hanya milikku."

Aku menaikkan alisnya. "Aku pikir dia lajang." Sebenarnya, aku tahu setidaknya bahwa Tuan Cullen belum ada yang punya. Alec sudah memberitahuku semua hal yang perlu kuketahui di sini.

"Iya benar, tapi dia akan menjadi milikku segera. Dan aku tidak ingin seorang asisten pribadi baru yang sombong menghalangiku."

Aku hanya menyengir padanya, dan membuat catatan mental untuk memberitahu ayahku agar memecat Bella Swan ini. "Senang berkenalan denganmu, Bella. Aku yakin kita akan menjadi teman yang baik."

Ia melototiku – aku sungguh tidak peduli – dan berjalan kembali ke mejanya di sisi sebelah ruangan. Aku menoleh ke pintu ruangan Edward, dan terkejut, ketika menangkap sekilas rambut pirang lewat kaca buram. Aku yakin kalau dia mendengarkan sudah seluruh percakapan.

~xoxo~

Pelajaran bisnis dan keuangan di Harvard yang kupelajari benar-benar diterapkan di sini. Terima kasih pada profesorku yang lumayan eksentrik, aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa meminta bantuan dari Bella. Aku sama sekali tidak terlalu ingin berbicara dengannya, sejak kasus 'Edward adalah milikku'. Aku hanya menyimpulkan bahwa dia sedikit gila.

Bicara tentang dia, Bella memasuki ruangan, kembali dari makan siangnya, cemberut dan berguman pada diri sendiri. Aku tersenyum memikirkan sesuatu pasti telah membuatnya jengkel.

Telepon di mejaku berbunyi, dan aku menyadari keberadaan alat itu untuk pertama kalinya. Aku mengenali nomor ruangan itu – Tuan Cullen yang sedang menelponku.

"Halo?" tidak memerlukan formalitas dengan bos, benarkan?

"Jane, bisakah kamu ke ruanganku sebentar."

"Tentu, aku akan segera ke sana."

"Baiklah."

Aku menutup telponnya, tidak tahu apa aku harus mengucapka 'bye' atau tidak. Peraturan kantor yang bodoh. Dan mengapa dia tidak bisa berjalan saja keluar 12feet ke mejaku. Dasar orang-orang kaya.

Aku mengetuk pintunya dan membukanya, melangkah ke dalam. "Kau memanggilku."

"Ah, ya, Jane. Aku ingin kamu melakukan sesuatu."

Aku menahan diri untuk tidak menaikan alisku karena ketidakjelasannya. "Keperluan" bisa berarti banyak hal… termasuk tindakan terlarang yang pastinya akan memicu murka Bella Swan. Aku tidak bisa menahan senyum jahat yang muncul di wajahku ketika memikirkan kemarahannya.

"… kertas-kertas fotocopi yang aku butuhkan, kamu bisa menemukan ruang fotocopi dengan mudah, itu ada di ujung koridor." Aku hanya menangkap bagian terakhir dari kalimat Edward, tapi itu sudah cukup untuk mengetahui apa yang harus kulakukan.

"Apakah kertas-kertas itu sudah siap disana?" aku bertanya, takut kalau mungkin saja, aku melewatkan sesuatu.

"Ya, tolong segera bawa kertas-kertas itu ke sini." Dengan sebuah senyum darinya, aku diijinkan untuk meninggalkan ruangan Sang Tuan Cullen. Aku tahu apa yang Alec maksudkan ketika dia mengatakan aku tidak akan bisa bertahan sehari saja bekerja sebagai orang biasa. Aku tidak bisa berurusan dengan orang-orang yang tidak memberikanku waktu luang sehari, tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku ragu apakah akan ada sehari saja dalam hidupku di mana aku akan bekerja bahkan untuk sesuatu yang kuinginkan.

Ruang fotocopi tidak sulit untuk ditemukan; ruangan itu berada di ujung koridor eksekutif. Semua ruangan bos-bos yang lain berada di sini – CFO, CIO, dan sebagainya. Semuanya, kecuali ayahku – dia memiliki satu lantai untuk ruangannya sendiri.

Seperti yang Edward katakan, kertas-kertas itu sudah siap di atas mesin fotocopi hanya menungguku saja. Kertas-kertas itu tidak terlihat begitu penting, hanya memo-memo rapat dan sebagainya. Ruangan ini juga tampaknya berfungsi sebagai ruang supply, jadi aku mengambil waktu sejenak untuk mengamati ruangan ini, siapa tahu Edward menginginkanku untuk mengambil sesuatu.

Aku bergidik. Mengambil sesuatu. Aku terdengar sangat rendah…dan tidak seperti diriku. Aku mendesah, bertanya-tanya untuk jutaan kali hari ini mengapa aku menerima taruhan bodoh ini. Tentu saja, aku punya keahlian dalam bisnis yang kupelajari di Harvard, tapi hanya sebagai back up dalam kasus Fashion Design bangkrut.

Aku baru saja selesai mengamati sekitar ketika aku mendengar siulan rendah dari belakangku. Aku tersenyum, berpikir Alec pasti mampir untuk melihatku dan menggangguku, tapi pria yang berdiri di pintu masuk bukanlah Alec.

Pria tinggi, rambut pirang gelap yang diikat ekor kuda, dan mata biru pucat. Tentu saja bukan Alec. Entah mengapa, wajahnya mengingatkanku pada bentuk wajah Edward. Aku menyingkirkan pikiran itu.

Aku cemberut. "Ada yang bisa kubantu?" seperti…menyingkirkan matamu dari dadaku, brengsek, batinku.

Si pirang menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya menikmati pemandangan."

Aku mengangkat alisku. Tidak ada yang pernah begitu berani menghampiriku seperti ini – selalu berhati-hati dengan langkah mereka di sekitar Putri Volturi.

"Kalau begitu, jangan biarkan aku menghalangi pandanganmu. Selamat menikmati pemandangan mesim fotocopi," ejekku.

Si pirang itu hanya tertawa, tawa yang terdengar lebih jahat dari ayahku. Dan percayalah, itu sangat jauh berbeda. "Oh, tidak, manis. Maksudku memandangi tubuhmu yang indah." Dia mulai berjalan menghampiriku, memojokkanku dalam ruangan kecil ini.

Dan itu sudah melewati batas. "Maaf, brengsek. Kamu tampaknya sudah salah mengenaliku sebagai perempuan-perempuan jalang. Maukah kamu membiarkan aku menendang bokongmu?"

Dia tertawa lagi, menguntitku seperti binatang buas yang ingin menangkap mangsanya. Aku merasakan otot-ototku menegang, mengantisipasi reaksi untuk melawan – atau – menghindar. "Ooo, feisty. Aku suka."

Aku beringsut berjalan melewatinya, tapi malah dihentikan oleh tubuhnya yang semakin mendekat.

"Jangan begitu, manis," rayunya, memojokkanku pada mesin fotocopi.

Aku menggertakkan gigiku, penuh dengan kemarahan. Aku mengayunkan lututku tinggi, menuju pada tempat yang paling sakit yang bisa membuat pria terkuat mana pun di dunia ini jatuh tersungkur. Aku mendengar pukulan keras, dan dua detik sebelum dia menangis kesakitan.

Si pirang terdengar seperti binatang yang hampir mati. Aku menutup telingaku, dari tangisan dan kertakannya. Tidak lama kemudian, Edward meluncur masuk lewat pintu. Melihat si pirang di lantai, membuatnya langsung berhenti di ambang pintu.

"Jane?" katanya.

"Ya, itu namaku," kataku datar. "Ini kertas-kertasmu." Aku menyerahkan kertas-kertas itu, masih panas dari mesin fotocopi dan tubuhku yang membara.

"Umm, apakah dia…"

"Memojokkanku? Berlaku tidak pantas? Menakutiku? Cek, cek, dan triple cek."

Edward meringis "Maaf tentang itu. Aku tahu sesuatu pasti terjadi ketika kamu sudah pergi lebih dari 2 menit."

Aku hanya menatapnya, dengan diam menantangnya untuk bertanya lebih jauh lagi. Bagaimanapun, mulut Edward mulai terbuka dan menutup seperti seekor ikan, sama sekali tidak ada suara yang keluar. Aku menyikut kaki si pirang menjauh dariku dengan santai dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Aku duduk di meja kerjaku dan memulai pekerjaanku lagi ketika Edward muncul lewat pintu. Aku berpura-pura tidak melihatnya berdiri di depan meja kerjaku sampai dia berdeham.

Aku menatapnya, sebuah senyum kecil menutupi sengiranku yang ingin muncul. "Ada yang bisa kubantu, Edward?"

"Apakah kamu baik-baik saja Jane? Maaf aku tidak bisa sampai disana tepat waktu."

Aku memutar mataku. "Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu. Tidak bermaksud menyinggung, tapi aku bisa mengatasinya dengan baik. Aku bukan seorang gadis malang yang kesulitan.

Alisnya berkerut beberapa saat sebelum meluruskannya kembali. Aku bisa merasakan jantungku bergemuruh lagi – sesuatu dimana saat dia menatapku seperti itu membuatku merasakan hal-hal seperti ini.

"Baiklah kalau begitu. Jika James mengganggumu lagi, beritahu aku saja."

James. Namanya James. "Apa nama belakangnya?" tanyaku, sebuah ide muncul di kepalaku. Sebuah ide jahat. Benar-benar mirip diriku…bentuk wajah si pirang mirip dengan Edward.

Edward tersentak dan senyumku melebar. "Apa itu masalah, Jane?"

Aku mengangguk pelan. Tanpa suara menantangnya untuk menghindari pertanyaanku.

"Cullen," dia menjawab dengan terpaksa. "Dia sepupuku." Ekspresi jijik mengikuti kata-katanya, seperti dia baru saja mencicipi sesuatu yang pahit.

Bagaimanapun, senyum penuh kemenangan mulai muncul diwajahku, tapi dengan cepat menghapusnya. "Terima kasih, Edward. Aku pasti akan memberitahumu jika dia menggangguku lagi."

Edward kembali ke ruangannya, jelas sekali terganggu dengan pertanyaanku. Kali ini, aku tidak bisa menahan senyum jahat untuk muncul kembali lagi ke wajahku.

"Apa-apaan itu?"

Aku tersentak dari lamunanku mendengar suara Bella – aku hampir lupa kalau dia berada di ruangan ini.

"Huh?"

"Kutanya, apa-apaan itu semua?" dia terlihat jengkel karena harus mengulang pertanyaanya. Bagus.

"Oh, bukan apa-apa," aku berkata riang, tahu kalau kebohongan akan membuatnya marah.

Dia melototiku, itu terlihat seperti keahliannya. "Ingat, brengsek. Dia miliku."

Aku hanya tersenyum santai padanya.