Title: SECRET

Chapter : Chapter 3

Thanks buat komen2 yang udah masuk di Chapter2 sebelumnya atau ke inbox saya, komen kalian menguatkan saya ? :D dalam mengetik dan mencari ide lagi. Oke lanjut. .!

Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v

Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D

SECRET

Genre : Romance,Action

Boys x Boys

Cast : Infinite

R&R

Happy reading,readers ^_^

xXx

.

.

Sunggyu berkali kali berdecak kagum melihat ruangan besar yang menjadi kamar pribadi Sungyeol. kamar dengan perabot serba lux serta desaign modern Eropa itu tertata dengan rapi dan memanjakan mata. Ia tak pernah mengira sedikitpun bahwa Sungyeol hidup dan tinggal dirumah yang layak disebut istana itu.

"jjajang. .minuman tiba. . "

Seruan riang dari Sungyeol membuyarkan rasa kagum Sunggyu. Ia melihat Sungyeol sudah berdiri disana sambil membawa sebuah nampan dengan minuman ringan serta beberapa kue kering.

"mian. Hanya ada ini. .ibuku sedang pergi belanja, jadi aku tak bisa menyajikan yang lebih baik. "

Sunggyu mengangguk kecil.

"kau tak pernah mengatakan kau memiliki rumah sebesar ini. "

Sungyeol tertawa kecil. Ia menuangkan minuman ke gelas dan mengangsurkan nya pada Sunggyu. Sunggyu menerima nya sambil mengucapkan terimakasih.

"aku tak melihat kegunaan dari informasi itu. . " jelas Sungyeol.

"hanya saja, mereka tak akan membully mu jika tau kau ternyata sekaya ini. "

Kalimat Sunggyu lagi2 membuat Sungyeol tersenyum kecil.

"aku bukan type orang seperti itu Gyu. .saat aku ingin berteman, aku akan berteman dengan siapapun, bukan karena kualitas, atau taraf hidup yang aku miliki. . "

"kau terlalu baik. . " ucap Sunggyu sembari mengangguk2 mengerti.

"masalah uang itu. . "

Sungyeol menoleh pada Sunggyu yang sedang menatap nya sekarang.

"wae? " tanya nya. Sunggyu bergerak mendekat.

"aku akan mencicil nya, aku bekerja paruh waktu. .memang akan lama, tapi aku janji akan berusaha melunasi nya. " ucap Sunggyu penuh rasa yakin. Ia memang bukan type orang yang bisa menerima bantuan orang lain dengan Cuma2. Seperti kata ibu nya, tak ada yang geratis didunia ini, maka balas lah sesuatu yang orang lain lakukan untuk mu.

"sudah berkali kali kukatakan, aku membantu mu dengan tulus, jadi jangan memikirkan cara mengembalikan nya padaku. "

Lain Sunggyu lain pula Sungyeol. jika ia sudah memberikan sesuatu sesuai keinginan nya, maka ia akan memberikan nya dengan tulus tanpa memiliki keinginan untuk menerima balasan.

"kalau begitu aku menganggap kau mengasihaniku. . " ucap Sunggyu perlahan. Kalimat itu sukses membuat Sungyeol sadar bahwa ia harus mengalah pada pria sipit itu.

"arasseo. .kau boleh mencicilnya, tapi jangan terlalu memaksakan dirimu. .oke? "

Sunggyu tersenyum puas. Ia menjatuhkan badan nya diatas ranjang mengikuti gerakan Sungyeol yang mendahuluinya.

"Gyu. . " panggil Sungyeol perlahan. Sunggyu beralih pada nya.

"wae? " tanyanya. Sungyeol memiringkan tubuhnya hingga mereka akhirnya berhadapan satu sama lain. ia bisa melihat wajah manis Sunggyu serta mata sipitnya yang menurut Sungyeol cukup tampan untuk kalangan pria. Hanya saja. .

"apa yang membuat mu begitu menyukai pria seperti Woo Hyun. .? " Sunggyu yang sama sekali tak menduga kalimat itu yang akan keluar dari mulut Sungyeol serta merta berubah menjadi sendu.

"ahhh. .mian mian. Pertanyaan ku terlalu bodoh. Tolong lupakan. " seru Sungyeol segera meralat kalimat nya. entah dari mana kalimat itu muncul dikepalanya dan ia dengan mudahnya melontarkan hal itu pada Sunggyu. Ia melihat sunggyu hanya menghela nafas nya dengan berat.

"sebenar nya. . "

Tok Tok Tok !

Ketukan pintu yang terdengar cukup keras itu menghentikan kalimat Sunggyu. Kedua pria itu sontak melihat kearah pintu secara bersamaan.

"siapa? " tanya Sungyeol.

"ini aku. . " suara bernada dingin itu terdengar tak asing sama sekali. Hanya saja Sungyeol dan Sunggyu mengerutkan kening nya karena mereka heran bagaimana dan untuk apa orang itu berada disana. Sungyeol melirik jam dinding nya, disana sudah menunjukkan pukul 22.00. jam yang tak layak untuk bertamu dan juga biasanya ibu asuh nya lah yang memanggilnya jika ada teman atau orang yang mencarinya.

"Myung Soo? " tanya Sungyeol tak percaya.

"hmh. . " orang dibalik pintu hanya bergumam menjawab pertanyaan Sungyeol. Sungyeol bergerak menuruni ranjang nya. ia memutuskan untuk mengintip dari lubang kunci dan melihat Myung Soo yang benar2 sedang berdiri disana. Sungyeol memutar handle pintu dan membuka nya dengan cepat. Disana ia menemukan Myung Soo sedang berdiri dengan pakaian serba hitam dan memakai sarung tangan.

"apa yang kau lakukan? Dan mengapa kau memakai sarung tangan seperti itu? kau seperti pembunuh saja, " ucap Sungyeol dengan nada bergurau sementara Myung Soo hanya menanggapinya dengan tersenyum datar.

"pintu mu tidak terkunci, dan aku tak menemukan siapapun dilantai dasar, jadi aku memutuskan untuk naik kesini. "

Sungyeol mengangguk2 paham. Sepertinya ibu asuh nya belum pulang dari kegiatan nya, meskipun agak mengherankan karena ini sudah sangat larut. Namun sungyeol tak mengacuhkan hal itu dan mengajak Myung Soo untuk masuk kedalam kamarnya. Myung Soo agak terkejut ketika melihat Sunggyu duduk diatas ranjang.

"ah, Myung Soo. .annyeong. " sapa Sunggyu yang dibalas dengan anggukan kecil Myung Soo.

"ada apa kau kemari? " tanya Sungyeol langsung.

"aku ingin mengajak mu bermain, tapi sepertinya kau sedang sibuk. . "

"bermain? Bermain apa? " tanya Sungyeol. jantung nya berdetak lebih keras ketika ia melihat rona wajah Myung Soo yang terlihat lebih merona malam ini, berbeda dengan Sunggyu yang merasa bahwa Myung Soo terlihat lebih menyeramkan dengan kostum hitam2nya.

"apa kalian mau tau? " tanya Myung Soo lagi. Seperti terhipnotis Sungyeol dan Sunggyu mengangguk bersamaan. Myung Soo menyeringai dingin.

"nama permainan ini adalah, lekaslah tidur. "

Kedua pria dihadapan nya mengerutkan kening mereka.

"lekaslah tidur. .ugh. . "

Sungyeol dan Sunggyu langsung terbaring tak sadarkan diri ketika dengan cepat Myung Soo menyemprotkan sesuatu wajah Sungyeol dan menembakkan peluru bius kepada Sunggyu.

"ya. Lekaslah tidur. Permainan yang mudah bukan? " desis Myung Soo.

Pria dengan mata tajam itu kemudian melangkah keluar dengan hati2 ketika telinga nya mendengar suara kecil dari lantai dasar. Tangan nya dengan cepat menarik pistol otomatis yang ia sembunyikan dibalik pinggang nya.

Klik.

Sedetik kemudian listrik padam dengan tiba2. Myung Soo bergerak menuju keluar sambil mengunci pintu terlebih dahulu. Kunci itu ia peroleh dari meja Sungyeol barusan.

Telinga nya yang tajam mendengar bisikan2 dari bawah. Myung Soo dapat mengira bahwa disana ada sekitar 3 orang yang sedang bergerak menuju posisinya.

"habisi dengan segera. . " bisikan itu semakin jelas.

"apa yang kalian lakukan disini? "

Ketiga pria asing itu kontan terkejut ketika melihat Myung Soo menuruni tangga dengan santai dari lantai dua.

"siapa kau? " tanya pria berbaju hitam dengan topeng baron yang menutupi wajah nya.

"apa kalian perlu tau? " tanya Myung Soo.

"kurang ajar, bunuh dia. " seru pria dibagian belakang.

Myung Soo yang mengerti isyarat itu dengan sigap melemparkan sesuatu ketengah ruangan.

"menghindar! Ia melempar granat! " teriak pria pertama. Ketiga pria itu kontan bergerak serabutan menjauhi benda yang berbentuk granat itu.

"itu bukan granat. .melainkan bom cahaya sekal kecil. "

Setelah berkata demikian seberkas cahaya terpancar dari benda kecil itu. cahayanya yang menyilaukan itu membuat ketiga pria asing dengan refleks menutup matanya.

Phsiuu!

"ughh! Ahhkk! "

Sedetik kemudian ketiga pria itu ambruk dengan kepala masing2 berlubang. Myung Soo menarik turun kacamata yang ia gunakan entah sejak kapan.

"game over. . " desis nya. dengan santai ia menarik ponsel dari sakunya.

"kirim orang untuk menyingkirkan bangkai2 ini. . " desis nya pada orang diseberang sana.

Setelah berkata demikian Myung Soo melangkahkan kakinya kembali keatas. Ia memasuki ruangan Sungyeol dan dengan tenang ia mengangkat Sungyeol dan membaringkan nya disebelah Sunggyu. Ia sendiri kemudian merebahkan dirinya disebelah pria tinggi itu. ia mengusap wajah Sungyeol dengan pistol ditangan nya.

"permainan sudah selesai. .lain kali, kita akan melakukan game yang lebih menarik. .jadi persiapkan diri mu. " ucapnya perlahan.

"kau akan menyukai nya. .Lee Sungyeol. . "

.

.

xXx

.

.

Kata orang. .saat cinta sudah merasuki mu,

Tembok setebal apapun yang ada didalam hati mu tak akan bisa menghalangi nya. .

Sungyeol membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Myung Soo yang begitu dekat dengan nya. Sungyeol bahkan bisa merasakan deru tipis dari nafas Myung Soo di hidungnya. wajah dingin itu terlihat lembut dan memikat, menyingkirkan semua aura gelap yang biasa pria itu tampakkan. Sungyeol mengelumit kecil. Ia mengakui Myung Soo sangat tampan jika sedang tertidur seperti sekarang. Bahkan wajah itu membuatnya enggan untuk berpaling.

Perlahan tanpa sadar Sungyeol memajukan wajah nya dengan hati2. Sedetik kemudian hidung nya sudah menempel lekat pada hidung Myung Soo. Belum cukup sampai disana, Sungyeol menggerakkan bibirnya menjangkau bibir tipis Myung Soo.

Hangat.

Rasanya seperti kau mengulum sebuah cherri yang berwarna merah.

Begitu manis dan memabukkan.

"ah. Hyaaa! Apa yang sedang kulakukan!? " teriak Sungyeol frustasi ketika ia kembali kealam sadar nya. didepannya Myung Soo membuka matanya dengan garang karena merasa terganggu.

"Hya! Apa kau gila? " tanya Myung Soo.

Sungyeol membekap mulutnya. Dibelakang nya Sunggyu juga sudah terbangun dari tidur nya.

"apa yang terjadi? " tanya nya. Sungyeol berlari dengat gesit menuruni ranjang nya. tanpa sepatah kata pun ia berlari masuk kedalam kamar mandi nya meninggalkan Myung Soo dan Sunggyu yang masih berpandangan tak mengerti.

"err. .mungkin dia sakit perut. " ucap Sunggyu perlahan. Myung Soo mengangguk. Ia kemudian menarik selimut dan mencoba kembali kealam mimpinya.

.

.

"aku mencium nya? mengapa aku mencium nya? apa aku sudah gila? Wae wae wae? arghhh!kenapa dengan mu Lee Sungyeol!? "

Sungyeol mengusak2 rambutnya frustasi. Ia berkali kali membasuh bibirnya sendiri namun sensasi itu tak kunjung bisa memudar dari hayalan nya. bibir lembut itu. .

"sangat menggoda. . "

"apa yang sangat menggoda? "

Deg.

Sungyeol membeku melihat Myung soo tiba2 sudah berada dibelakang nya dan dengan santai melepas baju nya.

Hyaaa! Kim Myung Soo! Mengapa kau masuk seenak nya! oh! Dasar pria mesum tak tau diri! Hyaaa! " teriak Sungyeol sebelum berlari keluar sementara Myung Soo hanya menggaruk2 kepalanya yg tak gatal dan membasuh wajah nya.

.

.

xXx

.

.

"anyyeong. . " sapa Woo Hyun pada Sungyeol seperti biasa dengan wajah menggoda nya.

Sungyeol hanya menggumam. Ia masih memikirkan peristiwa tadi pagi. Ia bahkan masih bisa mengingat setiap inchi bagian bibir Myung Soo.

"aish. Pabbo pabbo! " ujar Sungyeol sambil menepuk2 kepala nya.

"nugu? Siapa yang bodoh? " tanya Woo Hyun.

"ah. Ani. Jangan dipermasalah kan. " jawab Sungyeol cepat.

"wahhh. .kau nampak semakin tampan jika tak memakai kacamata Yeollie. .mengapa kau tak begini sejak dulu. " puji Woo Hyun ketika menyadari Sungyeol tak memakai kacamata nya hari ini. Sungyeol memang memutuskan untuk memakai softlense karena intensitas kacamata nya rusak sangat tinggi sejak ia berurusan dengan Kang San dan Woo Hyun. Sungyeol sempat melirik pada Sunggyu diseberang nya. pria itu mengangguk tanda ia mengerti. Sejak kejadian kemarin Sunggyu sudah bertekad untuk mengerti kondisi Sungyeol yang juga tertekan akibat perbuatan Woo Hyun pada nya dan tak menyalahkan pria tinggi itu. namun tetap saja, rasa cemburu masih terasa dalam hatinya, dan sepertinya Sungyeol menyadari hal itu.

"Myung Soo. . " seru Sungyeol. Myung Soo yang sedang memandang keluar jendela berbalik pada Sungyeol dengan malas.

"aku ingin sebangku dengan mu. Pindahlah kemari. " ucap Sungyeol tanpa memperdulikan Woo Hyun yang spontan membeliak marah. Myung Soo hanya mendesah pelan. Ia kemudian melanjutkan aktivitas nya seolah tak mendengar kalimat Sungyeol.

"arasseo! Sunggyu. Bertukar kursi lah dengan ku. Palli. " seru Sungyeol dengan sedikit kode yang ia berikan pada Sunggyu. Sunggyu hanya memandang dengan sikap bodoh dan mengangguk kan kepala nya.

"Tunggu! Kau tidak bisa berlaku sesuka mu! " seru Woo Hyun. Amarah nya meluap dengan cepat. Ia menarik tangan Sungyeol yang hendak beranjak dari kursinya. Sungyeol menghentakkan tangan nya berusaha lepas dari genggaman Woo Hyun namun naas ia sama sekali buka tandingan pria itu. tenaga Woo Hyun 3 x lipat lebih kuat dibanding dirinya.

"lepaskan aku Woo. . "

"siapa kau yang memerintah ku? " tanya Woo Hyun sengit. Genggaman nya semakin kuat hingga menimbulkan bekas merah pada pergelangan tangan Sungyeol.

"apa kau tuli? "

Saat genting itu Myung Soo sudah berdiri disamping Sungyeol dan menatap Woo Hyun dengan tajam.

"ia meminta mu untuk melepas tangan nya. apa kau tuli? " tanya Myung Soo datar.

Semua siswa melihat kejadian itu dengan tegang. Tak terkecuali Kang San yang hanya diam di kursi nya sambil memperhatikan adegan itu dengan intens.

Woo Hyun mendengus kesal.

"urusi saja urusan mu. Jangan mengganggu. Lagipula kau bukan siapa2. " ucap Woo Hyun yang disambut dengan seringai dingin dari Myung Soo.

"aku beri kau waktu 3 hitungan. " ucap Myung Soo.

"Myung Soo. .kau sebaik nya mundur, dan kau Woo. aku berhak dimanapun aku ingin duduk. Lagipula Gyu tidak menolak sama sekali. "

"jangan berisik. .aku lebih ber hak atas dirimu dibanding siapapun. . " balas Woo Hyun sengit membuat Sungyeol kehabisan kata2nya.

"dan kau. . " lanjut Woo Hyun pada Myung Soo. "berhentilah bersikap seolah kau pahlawan. "

"kau hanya pria menyedihkan yang membutuhkan kasih sayang. " ejek Myung Soo membangkitkan amarah Woo Hyun.

"apa yang kau tau tentangku! Kau sama sekali tak tau! Kau hanya orang luar! "

"ya, aku hanya orang luar. Sampaikan salam ku pada Hae San dan wanita yang ia bawa tadi malam. "

Kalimat itu sulit untuk dicerna siapapun yang mendengarnya. Namun berbeda dengan Woo Hyun, ia sangat mengerti apa maksud ucapan myung Soo barusan pada nya. ia melepaskan tangan Sungyeol dan mencengkram kerah Myung Soo.

"kau. Siapa kau sebenarnya? " tanya nya. Myung Soo hanya tersenyum kecil. Ia menepis tangan Woo Hyun dengan santai.

"berhentilah berbicara, atau aku akan mengatakan semua yang aku tau. Tuan muda Cha Hyun. " bisik Myung Soo ditelinga Woo Hyun membuat pria itu tersentak mundur. Nama itu bukan hal yang asing baginya. Nama itu adalah panggilan kesayangan ibunya padanya waktu ia kecil.

"menjauhlah. .selagi kau bisa. " bisik Myung Soo lagi. Woo Hyun melotot garang. Ia mendorong tubuh Myung Soo dan berlari dengan cepat kearah luar.

.

.

Woo Hyun menatap cermin toilet yang samar2 memperlihatkan wajah nya, matanya memerah, air matanya tanpa ia sadari mengalir secara perlahan. Seorang Nam Woo Hyun menangis!

"eomma. . " desisnya pelan. Air matanya kembali mengalir. Sebuah luka lama yang ia usahakan untuk tertutup sempurna kini harus terbuka dari seseorang yang bahkan ia tak kenali.

"Woo. . "

Woo Hyun mengusap air matanya dengan cepat. Ia melihat Sunggyu berdiri dibelakang nya.

"Woo. .kau baik2 saja? " tanya Sunggyu dengan nada gemetar. Sejak dulu ia tak pernah melihat Woo Hyun se depresi ini hingga merelakan air matanya terjatuh. Sejauh yang Sunggyu tau, Woo Hyun adalah pria yang sangat keras dan pantang mengeluarkan air matanya.

"pergi. .jangan mengasihani ku. "

Sunggyu menelan liurnya berat. bukan nya menjauh ia malah semakin mendekat pada Woo Hyun.

"kau bisa mengatakan nya pada ku Woo. .kau tak harus menyimpan nya sendiri. .mungkin itu bisa membuat mu sedikit lega. . "

Prangg!

Baru usai kalimat Sunggyu, Woo Hyun dengan beringas meninju Cermin hingga retak.

"kau terluka! " seru Sunggyu khawatir. Ia bergerak memegang tangan Woo Hyun tanpa tau resiko akan perbuatan nya.

"menjauh dari ku! " teriak Woo Hyun sambil mengibaskan tangan nya. kibasan yang sangat kuat itu menghantam wajah Sunggyu tanpa sengaja.

"Ugh! " sunggyu terjajar sambil memegangi wajah nya yang memar. Woo Hyun yang melihat itu seolah menyadari kesalahan nya. ia melihat Sunggyu yang memegangi bibirnya dengan ekspresi kesakitan.

"sudah kukatakan kau harus pergi!aku bisa melakukan lebih dari itu pada mu. Sebaiknya kau pergi sekarang. " sentak Woo Hyun sambil membelakangi Sunggyu. Ia yakin kali ini Sunggyu akan benar2 pergi, namun ternyata ia salah. Ia merasakan rangkulan lembut dari belakang nya. Sunggyu memeluk dirinya dengan erat. Ia bahkan bisa merasakan butiran2 hangat dari mata Sunggyu yang jatuh dibahunya.

"kalau begitu. .pukul aku lagi sepuas mu. " ucap Sunggyu tanpa takut.

"apa kau gila? " tanya Woo Hyun.

"ya. Aku gila melihat mu terluka seperti ini. . "

"Pabbo. . " desis Woo Hyun.

"ya. .aku memang bodoh. .aku bodoh karena sangat menyukai pria seperti mu. . "

.

.

xXx

.

.

"sssttttt. .Myung Soo. . " bisik Sungyeol pada Myung Soo yang duduk disebelahnya. Pria itu masih memandang keluar dengan intensif tanpa sedikitpun perduli pada ocehan ocehan guru didepan yang menjelaskan dengan berapi api.

"hmhm. . " gumam Myung Soo.

"apa menurut mu mereka akan baik2 saja? " tanya Sungyeol sambil melihat kepada Sunggyu yang sedang menulis setiap kalimat penting yang ia dengar sementara Woo Hyun sedang tertidur disebelah nya. sesekali Sunggyu menarik buku Woo Hyun dan menuliskan kalimat yang ia rangkum barusan. Sungyeol menggigit bibir nya, ia sama sekali tak mengerti mengapa Sunggyu sedemikian menyukai pria berprilaku buruk seperti Woo Hyun.

"mungkin. . " jawab Myung Soo malas. Ia masih menatap pepohonan yang tumbuh berbaris di sebelah lapangan yang bersebrangan dengan kelas nya.

Sungyeol berdecak kesal. Ia akhirnya memutuskan untuk fokus pada penjelasan2 guru didepannya.

"menarik. . " lirih Myung Soo.

"mwo? " tanya Sungyeol. Myung Soo menggeleng tipis.

"aku hanya melihat Kang San sedang tertidur dengan liur mengalir diwajah nya. "

"mwo? Mana mana? " tanya Sungyeol penasaran. Ia melihat kearah kursi Kang san. Saat itu dengan cepat tanpa disadari siapapun Myung Soo membuka jendela dan melemparkan buku dimejanya dengan cepat.

Buku itu melayang dengan cepat keluar dan terhenti ditengah udara seolah ada benda yang menghantam nya. sedetik kemudian buku itu hancur menjadi kertas berserakan diudara.

Myung Soo tersenyum tipis, ia membuat gerakan jari jempol terbalik. Bibirnya berbisik tanpa suara.

"you lose. . "

Dikejauhan sana, dengan jarak 200 meter seorang pria dengan jubah hitam berteriak geram akibat kegagalan nya. ia memukul2kan senapan laras panjang dengan jangkauan jarak 300 meter itu kebawah.

"keparat kau L! Suatu saat aku akan mengalahkan mu! "

Permainan yang sebenarnya, Sudah dimulai sekarang. .

.

.

"aku ingin memberikan mu tugas tambahan. .berdasarkan informasi yang diperoleh, beberapa orang sedang mengincar nyawa putra ku. .aku mau, kau melindunginya. "

"baik tuan. . "

"aku mengandalkan mu Myung Soo. .kau yang terbaik. . "

Myung Soo menyeringai kecil. Ia berbalik pada Sungyeol,

"aku akan melindungi putramu hingga aku membunuh nya dengan tangan ku sendiri. . "

.

.

xXx

Sungyeol bergerak tak nyaman di tempat tidur nya, sejak Myung Soo hadir disekolah nya ia tak lagi menerima bully an dari teman2 nya. seolah guardian yang diutus Tuhan untuk nya Myung Soo selalu melindungi nya dari setiap kejahatan atau bullian teman2 nya. namun terkadang ia merasa Myung Soo menjadi orang lain dan hal itu sangat mengerikan. Pria tampan itu seolah memiliki kepribadian yang lain dalam diri nya. seperti minggu lalu, Sungyeol bahkan harus menahan Myung Soo mati2an saat ia menghajar Kang San hingga pria itu babak belur karena ia menganiaya Sungyeol. Kang San dan 5 orang teman nya bahkan harus dirawat dirumah sakit selama 2 hari untuk mengeringkan luka2 mereka. Untung pihak Kang San tak sedikitpun membuka mulut akan kejadian itu dan membuat Myung Soo terbebas dari ancaman dikeluarkan. Padahal jika mau, Kang San bisa saja membuat Myung Soo keluar dari sekolah dengan segera, namun nampak nya kekuasaan yang ia punya tak berkutik sedikit pun pada Myung Soo. Pria itu seolah memiliki kekuatan besar dibelakang nya yang tak ia ketahui. Seperti informasi berbahaya tentang Woo Hyun yang ia bisikkan dulu, hal itu masih merupakan misteri darimana ia mengetahui hal2 spesifik yang dapat membungkan Woo Hyun itu tanpa sedikitpun ada perlawanan. Dan juga,

"apa maksud kalimat yang ia ucapkan waktu itu. . "

Sungyeol masih mengingat dengan jelas kalimat yang Myung Soo teriakkan berkali kali pada Kang San dan teman2nya yang nyaris pingsan waktu itu dengan beringas.

"dia milikku! dia milikku! Kau tak berhak mennyentuhnya sedikitpun! "

Namun setiap Sungyeol hendak menanyakan hal itu Myung Soo selalu berhasil menghindar.

"apakah. .dia menyukai ku? "

Tanya Sungyeol pada dirinya sendiri. Sesaat kemudian ia menepuk2 dahinya.

"arghhh! Sungyeol bodoh! Mana mungkin dia menyukai pria culun dan bodoh seperti mu! Ahh. Molla! " teriaknya frustasi sambil mencoba untuk tidur.

Kriettt!

Sesaat lagi Sungyeol akan memasuki alam mimpinya, saat itu pula tiba2 pintu kamarnya terbuka dengan cepat. Masih dengan ekspresi terkejut Sungyeol melihat myung Soo tiba2 masuk dan bergerak cepat menuju ranjang nya.

"Myung Soo. .apa yang. . "

Kalimat Sungyeol tak bisa ia teruskan. Saat itu dengan cepat Myung Soo sudah menempelkan bibirnya pada bibir Sungyeol. mengulumnya dengan cepat dan agresif. Sungyeol terbuai dalam lingkaran kenikmatan hingga alam bawah sadar nya membangunkan nya bahwa ini adalah hal nyata dan bukan nya mimpi.

"apa yang kau lakukan!? " sentak nya sambil mendorong tubuh Myung Soo menjauh. Dengan tergesa gesa Sungyeol berusaha untuk menuruni ranjang nya. Myung Soo hanya menggeram, ia menarik tubuh Sungyeol dengan paksa dan kembali memberangus bibir pria tinggi itu tanpa ampun. ia menindih tubuh sungyeol dengan ketat hingga pria itu sama sekali tak bisa berkutik.

"kumohon. .diamlah. . " ucap Myung Soo perlahan ketika merasakan perlawanan Sungyeol semakin kuat.

"Myung Soo. . " lirih Sungyeol saat kembali menerima kuluman Myung Soo pada bibir merah muda nya. tepat saat itu sebuah bayangan hitam dengan perlahan membuka jendela kamar Sungyeol. dengan kondisi kamar yang temaram tampaknya ia tak melihat kejadian itu, begitu pula hal nya dengan Sungyeol yang tak melihat sosok itu karena terhalang oleh tubuh Myung Soo. Berbeda dengan Myung Soo yang memiliki insting dan perkiraan yang sangat akurat dan sepertinya sudah memperkirakan hal itu. Masih dengan menindih Sungyeol, tangan Myung Soo menarik pisau yang ia selipkan pada pinggang nya. dengan cepat tangan kanan nya melemparkan pisau itu pada sasaran yang ia target kan.

"Ugh. . " pria misterius di jendela terkejut ketika merasakan sebuah benda tajam menancap dengan tepat dikening nya. tubuhnya limbung dan ambruk meluncur kebawah.

Myung Soo melepaskan bibirnya dengan hati2 ketika menyadari bahwa ia berhasil menjatuhkan sosok misterius tadi. Ia melepaskan jepitan nya pada Sungyeol dan menuruni ranjang.

"maaf sudah mengganggu. . " ujar Myung Soo. Ia kemudian melangkah dengan tenang menuju keluar. Meninggalkan Sungyeol yang masih terjebak dalam dimensi khayal nya.

"apa. .apa yang barusan ia lakukan pada ku? " desis Sungyeol tak percaya.

.

.

Myung Soo mendekati sosok misterius yang sudah menjadi mayat itu. ia membalikkan tubuhnya dan membuka topeng hitam layaknya zoro yang pria itu gunakan. Ia mendengus. Dengan cepat Myung Soo menarik ponselnya. Sebuah suara berat terdnegar diseberang sana. Seolah menanti berita dari Myung Soo sejak tadi.

"semua didalam kendali tuan. .hanya tinggal menyingkirkan mayat nya saja. "

Pria diseberang sana tertawa senang.

"kau memang yang terbaik L. . "

Myung Soo menyeringai kecil.

"anda bisa mengandalkan saya tuan Lee. .baik. saya mengerti. " ujar Myung Soo sambil menutup pembicaraan nya. ia melihat kearah kamar Sungyeol sekali lagi. Entah apa yang ada dalam pikiran nya, tanpa sadar Myung Soo meraba bibir tipis nya. sebuah senyuman muncul disana.

"menarik. . " desis nya sebelum kemudian melangkah pergi.

.

.

xXx

.

.

Sunggyu membuka pintu rumah nya ketika mendengar ketukan keras dari arah luar. Matanya yang sipit membesar ketika melihat Woo Hyun berdiri disana dengan rambut nya yang acak2an serta penampilannya yang berantakan.

"Woo Hyun-ah. .apa yang terjadi pada mu? " tanya Sunggyu. Ia menopang Woo Hyun yang tiba2 limbung dan nyaris jatuh kedepan.

"kau mabuk? " tanya Sunggyu lagi ketika mencium aroma minuman keras dari pria yang sedikit lebih pendek dari dirinya itu.

"kau siapa? " tanya Woo Hyun. Sunggyu semakin pasti bahwa pria itu dalam kondisi mabuk parah.

"ini aku. Sunggyu. . " jawab Sunggyu. Woo Hyun tiba2 mendorong tubuh Sunggyu. Ia berdiri dengan limbung sambil menunjuk2 kearah Sunggyu.

"aeee. .Sunggyu? Sunggyu si bodoh itu? ehe. Hiks. "

"ne. Aku memang Sunggyu si bodoh. Ayo, sebaiknya kau masuk. "

"enghh! Menjauh dariku! Kau sama saja. .kau sama saja seperti yang lain. . "

Sunggyu menggaruk kepala nya tak mengerti. Meskipun begitu ia tak terlalu memperdulikan ucapan ngawur dari Woo Hyun dan menariknya ke dalam. Woo Hyun berontak dengan keras hingga mereka terjatuh kelantai dan naas nya Woo Hyun menindih Sunggyu. Sunggyu meringis menahan berat badan Woo Hyun yang ternyata cukup berat untuk ukuran pria kurus sepertinya.

"Woo. .bangun. kau sangat berat. " erang Sunggyu. Dengan susah payah Sunggyu berusaha mengangkat Woo Hyun namun sia2.

"mengapa kau menjauhi ku Gyu. .? " bisik Woo Hyun pelan. Sunggyu sama sekali tak memperkirakan pertanyaan itu keluar dari Woo Hyun padanya. Ya, sejak seminggu lalu, ia berusaha untuk menjauhi Woo Hyun. sejak berteman dengan Sungyeol ia semakin mengerti bahwa ia harus mengejar impian2 nya dan bukan hanya sekedar melihat Woo Hyun didepan nya. ia harus mulai memikirkan apa dan bagaimana masa depan nya nanti. Ia juga belajar dari Sungyeol bahwa setiap manusia memiliki harga diri, dan perbuatan Woo Hyun padanya hanyalah untuk merendahkan nya. pada akhirnya Sunggyu mengerti bahwa, ia harus mulai berhenti menjadi tissue bagi Woo Hyun. ia berhenti menjadi barang pengganti untuk benda yang pria itu tak bisa dapatkan. Sejak saat itulah. .

"aku ingin berhenti Woo. .aku lelah menjadi tissue bagi mu. " desis Sunggyu perlahan. Woo Hyun yang setengah sadar tiba2 beranjak bangkit. Sunggyu mengikutinya.

"mian. . " ucapnya. Dengan limbung Woo Hyun bergerak mendekati pintu keluar. Namun sesaat kemudian pria itu kehilangan kesadaran nya dan pingsan. Sunggyu dengan sigap menahan jatuh pria itu. dengan susah payah Sunggyu membawa nya ke dalam kamar nya. disana ia membaringkan Woo Hyun.

"Gyu. . "

Woo Hyun tiba2 membuka matanya, dengan gerakan tak terduga pria itu menarik Sunggyu jatuh kedalam pelukan nya. Sunggyu mencoba berontak namun pelukan Woo Hyun semakin kuat. Tenaga Sunggyu melemah ketika ia melihat percikan kecil dari mata Woo Hyun yang jatuh diwajah nya. pria itu menangis tanpa ia sadari.

"Woo. . "

"jebal. .sebentar saja. . " lirih pria tampan itu. Sunggyu akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala nya. ia membiarkan Woo Hyun membenam kan wajahnya dalam pelukan pria itu. tak bisa Sunggyu pungkiri, ia merasakan kehangatan disana. Jantungnya berdegup lagi. Berdegup seperti saat ia bertemu Woo Hyun untuk pertama kalinya dulu. pada akhirnya Sunggyu hanya bisa membisu, air matanya yang berbicara, betapa ia telah kalah dari usahanya sendiri. Ia harus mengakui. Ia tak bisa lepas dari pria itu. ia mencintainya, begitu mencintainya.

.

.

xXx

.

.

Sunggyu melangkah dengan cepat membuka pintunya. Ia melihat Sungyeol disana, kalau biasanya pria itu sendiri datang berkunjung, kali ini ia bersama dengan Myung Soo. Meskipun yah, pria itu seperti patung mati yang sama sekali tak berminat untuk ikut kesana. Bahkan Sungyeol harus memaksanya hingga berkali kali hingga ahirnya pria dingin itu setuju untuk ikut dengan nya.

"wae. . " desis Sunggyu ketika melihat Myung Soo. Sungyeol seolah mengerti dan mengajak Sunggyu kedalam.

"ahh. Aku membawanya hanya untuk berjaga2 kalau org2 itu kembali. "

"ah. . " Sunggyu mengangguk2 mengerti. Sejak kejadian beberapa hari lalu, para penagih hutang itu sama sekali tak kembali lagi, Sunggyu heran namun sekaligus senang. Mungkin pada akhirnya kelompok itu memutuskan untuk berhenti menagih padanya.

"apa kau sudah siap? Bukankah hari ini kita akan menjemput bibi dari rumah sakit? "

"ya. Tunggu sebentar aku akan bersiap siap. " Sunggyu bergegas menuju kamarnya, namun belum lagi ia membuka pintunya, pintu itu lebih dulu terbuka. Woo Hyun.

"aghh! Mengapa berisik sekali!? Aish! " teriaknya frutasi. Namun sedetik kemudian ia membeliak kaget ketika melihat 3 orang didepannya. Tak jauh berbeda dengan nya Sungyeol juga terkejut hingga nyaris berteriak melihat kemunculan Woo Hyun.

"Hyaa! " teriak mereka bersamaan. Sementara Myung Soo hanya mendengus kecil.

"apa yang kalian lakukan disini? " teriak Woo Hyun berang.

"Hya! Seharusnya kami yang bertanya, mengapa kau ada disini? Gyu? " tanya Sungyeol sambil berbalik pada Sunggyu yang sontak menepuk2 dahinya.

"aku dimana? " tanya Woo Hyun ketika pada akhirnya menyadari keberadaan nya ditempat yang sangat asing baginya itu.

"kau dirumah ku. Kemarin malam kau mabuk dan entah bagaimana caranya kau sampai kemari. Sekarang karena kau sudah sadar kau boleh pergi. " jelas Sunggyu cepat. Mata Woo Hyun melotot garang.

"Hya! Kau mengusirku? Aku juga tak ingin ada disini! Aku akan pergi. " serunya sambil beranjak pergi. Sunggyu dan Sungyeol berdecak kesal melihatnya. Pria itu menghilang dari pandangan namun sedetik kemudian tiba2 ia kembali.

"ano. .aku kehilangan dompet ku. .pinjami aku uang. " ucapnya masih dengan gayanya yang angkuh. Sunggyu dan Sungyeol nyaris tertawa melihat nya.

"ikutlah dengan kami. .kami ingin menjemput ibu Sunggyu ke RS, setelah itu kami akan mengantar mu pulang. " ucap Sungyeol akhirnya.

"Rumah Sakit? Apa ibu mu sakit? " tanya Woo Hyun pada Sunggyu. Pria itu menyambutnya dengan anggukan nya.

"sekarang sudah membaik, dan kami akan menjemputnya pulang. Kau ingin ikut? "

"baiklah. .lagipula aku tak punya pilihan. " balas Woo Hyun seenak nya. Sunggyu hanya menggelengkan kepalanya dan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian nya.

.

.

xXx

.

.

"aku tak tau kau menyukai anak kecil. . " ujar Sungyeol ketika melihat Myung Soo mengajak seorang anak kecil bersenda gurau dengan nya. Myung Soo mengangkat kepalanya, ia membisik kan sesuatu pada anak itu. anak itu melompat kegirangan dan berlalu menjauhi mereka.

"wae? apa yang kau katakan padanya hingga dia sesenang itu? " tanya Sungyeol.

"mana Sunggyu? " tanya myung Soo mengalihkan pembicaraan mereka.

"dia sedang menemani ibunya menemui dokter untuk memastikan ia bisa pulang hari ini, dan Woo Hyun, aku rasa dia tertidur di ruang tunggu. "

Myung Soo mengangguk paham. Sesaat kemudian ia merasakan ponsel nya bergetar. Ia mengambilnya dan sedikit terkejut melihat nama yang terlihat didisplay nya. ia mengangkat ponselnya sambil bergerak sedikit menjauh dari Sungyeol.

"baik, aku akan kesana. " ucapnya.

"kau akan pergi? " tanya Sungyeol. Myung Soo mengangguk. Ia memberikan kunci mobil pada Sungyeol.

"sampaikan salam ku pada mereka. " ucapnya sambil berlalu. Sungyeol hanya terus mengikuti gerakan pria tampan itu hingga menjauh. Entah kenapa didalam dadanya terdapat sedikit rasa cemas ketika melihat pria itu pergi.

"mengapa kau mencium ku kemarin malam? "

Myung Soo hanya membisu. Tubuhnya bergerak tak nyaman ketika melihat Sungyeol yang tiba2 hadir didepan rumahnya pagi ini.

"baiklah. .karena kau sudah mencium ku tanpa izin dan tak memberitahuku alasan nya, kau harus membayarnya. . "

"membayar nya? "

"ya. .jadilah kekasih ku. Kim Myung Soo. . "

Sungyeol memukul2 kepalanya sendiri. Entah mengapa ia bisa mengatakan hal itu tadi pagi. Entah keberanian dari mana yang ia dapat hingga mengucapkan hal itu pada pria dingin seperti Myung Soo. Apalagi pria itu hanya membisu, entah karena syok atau apa hanya saja Myung Soo hanya diam hingga akhirnya Sungyeol mengalihkan nya dengan mengajak Myung Soo menjemput ibu Sunggyu dirumah sakit.

"kau bodoh Sungyeol kau bodoh. . " ucap Sungyeol pada dirinya sendiri. Sementara dikejauhan sana Myung Soo tiba2 menghentikan langkah nya. tangan nya mengetik sesuatu dan sedetik kemudian ponsel Sungyeol bergetar. Pria tinggi itu segera mengambilnya dan melihat sebuah pesan masuk disana. Dengan malas Sungyeol menekan tombol open di hape nya.

"baiklah. Ayo kita pacaran. Lee Sungyeol. "

Sungyeol terbeliak tak percaya melihat isi pesan itu. dikejauhan sana ia masih bisa melihat Myung Soo yang kembali berjalan menjauh.

"Hyaaaaaa! Aku diterimaa! " teriak Sungyeol kemudian tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan kesal.

.

.

xXx

.

.

"Tae Hee, kau dari mana saja? " tanya seorang wanita berusia sekitar 32 tahun pada anak kecil berusia 5 tahun itu.

"aku bermain bu. .aku juga bertemu dengan kaka tampan yang ramah. . " jawab nya polos.

" oiya? Lalu kemana ia? "

"ia pergi bu. .katanya ia harus membunuh kekasihnya. .ia mengatakan dengan demikian mereka bisa hidup bahagia. . "

Penjelasan polos anak kecil itu sontak membuat ibunya terkejut dan takut.

"Tae Hee. .katakan pada ibu. .siapa orang itu? "

"ia mengatakan nama nya L. "

"dan. .dan siapa yang akan ia bunuh ha? Katakan pada ibu!? Apakah ia ingin membunuh mu? " cecar ibunya semakin ketakutan.

"bukan bu, tapi Lee Sungyeol. .nama nya Lee Sungyeol. . "

.

.

TBC-

Maaf kalau jelek dan update lama. Author lagi meriang2 gimana gtu, jadi males ngetik dan males mikir -_-

Selanjutnya saya usahakan lebih baik dari ini, akhir kata sampai jumpa di Chapter depan ^_^