Previous Chap :

"BRENGSEK KAU, BOCAH!" Teriakan dari bawah yang menyela kalimatnya semakin membuat bulu kuduk Naruto merinding.

"A-Aduhh!"

"KAU HARUS MEMBAYAR INI SEMUA!"

Menyadari dirinya sedang di posisi terjepit, Naruto menjambak rambutnya sendiri. Ia memang sudah sering mendapat ancaman, tawuran atau apapun yang lebih menantang ardenalin. Tapi baru kali ini dia dipermalukan di depan umum sampai segininya.

Sekarang ia ingin lari, namun apa daya kalau semua orang di dalam mall—dimulai dari lantai satu dan dua ini sedang melihat ke arahnya. Ya, dan jumlahnya tidak sedikit. Dan ini semua gara-gara...

"DASAR CEWEK SIALAN! LIHAT AJA NANTI KALAU KETEMU!"

.

.

Usai memarkirkan motornya di parkiran yang tersedia di sekolah, dengan aura suram Naruto menuju pintu masuk. Dapat dilihat dari caranya menyeret kaki untuk berjalan, di pagi ini Naruto benar-benar lemas, lesu, dan tak ada semangat hidup—sangat berbeda dari kemarin-kemarin.

Berhubung Sakura juga baru keluar dari mobil yang mengantarnya, cepat-cepat ia berlari dan menghampiri si pirang. Merasa ada orang di belakangnya, Naruto membalikkan badan, tapi sebelum ia mengeluarkan sepatah kata, kedua tangan nan putih itu langsung menyambar kerah seragam bagian depannya.

Dia Sakura Haruno, dan dia sedang emosi.

"NARUTO! Aku pengen cerita banyak tentang si kembar! Terutama yang cowok itu!"

"..."

"Kamu juga sih, dasar nyebelin! Apa-apaan tuh pake acara boongin aku segala! Katamu Sasuke ganteng! Pas kuliat, kebalik banget sama omonganmu!"

"..."

"Dan coba aja kamu tau sifatnya! Belagunya selangit! Argh, emosi!"

"..."

"Terus ya, dilihat dari mana pun sifat adiknya lebih mendingan ke mana-mana! Kalau begini terus sih kayaknya kamu deh yang bakalan menang, Naruto!"

Setelah Sakura mengeluarkan setengah uneg-unegnya, gadis itu menghela nafas panjang dan melipat tangannya di dada. Dia lirik wajah Naruto, si pendengar yang dari semenit lalu terus ia teriaki. Dan yang membuatnya mengernyit, Naruto tidak terlihat menanggapinya—hell, bahkan mendengarnya saja sepertinya tidak.

Iyalah, Naruto lagi dalam 'Patrick Star mode'—bengong dengan muka bodoh.

Setelah Sakura melayangkan tamparan pelan ke pipinya, Naruto mengerjap.

"Eh, apa? Coba diulang..."

"Kenapa lesu sih!? Aku ini lagi cerita, Naruto no baka!"

Naruto mendesah dan mengeluarkan tampang memelas.

Karena sedikit mengerti keadaan buruk sahabatnya, Sakura berdecak dan mulai menarik Naruto agar mereka berjalan menuju gedung sekolah—nanti kulitnya bisa hitam kalau kelamaan ngobrol di tempat panas yang terbuka seperti parkiran ini.

"Oke, ada apa? Lagi ada masalah, ya?"

"Ngga. Cuman kemarin aku sempet ketiban sial..." Tangan tan-nya mulai menyisir poni jabriknya ke belakang, lalu dia memejamkan mata sekalian berdesis—jelas sekali kalau pria itu sedang depresi.

Apa? Seorang Naruto Uzumaki depresi?

Tentu saja! Menjatuhkan minuman dari lantai dua ke dasar tuh tidak elit! Apalagi jatuhnya tepat ke kepala orang, dan hal itu disaksikan oleh ratusan pasang mata!

Namun, Naruto mengurungkan dirinya untuk bercerita.

Sakura menaikkan kedua alisnya. "Hah? Kamu kan emang sial setiap hari..."

Naruto langsung cemberut dan ngeyel layaknya anak kecil. "Ahh, ini serius tauuu! Dasar Sakura-chan ngga perhatian! Hatinya item kayak setan!"

BLETAK!

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Light Humor

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

THIRD. Awal Hubungan

.

.

Berhubung Naruto beda kelas dengannya dan lagi serba tidak mood, akhirnya Sakura memilih Ino sebagai sasaran curhat. Kini, mereka berdua sedang berada di depan loker. Ino tengah mengambil buku pelajaran, sedangkan Sakura sibuk bercerita.

"Kamu pasti ngga ngeliat tampangnya pas kemaren! Sebelum Sasuke pulang, dia tuh sempet me-nye-ri-nga-i! Kayaknya dia seneng Lee dihukum dan dia dilolosin begitu aja!"

"Ngesok banget, kan? Mending deh kalau ganteng!"

"Dan sekarang aku jadi males deketin dia! Tau sifatnya, aku udah keburu ngga kepengen!"

Sambil mengunci lokernya, Ino tertawa. "Padahal dari penampilannya dia keliatan gampang dideketin loh..."

"Ukh, ngga peduli!"

Sesudah siap dengan buku masing-masing, mereka berdua berbalik menuju kelas pelajaran pertama, tidak lupa dengan omelan Sakura yang terus berlanjut. Namun saat di perjalanan, tidak sengaja mata aquamarine Ino menemukan Sasuke yang sedang berjalan dan akan melewati mereka.

Ditariknya kain seragam Sakura, lalu Ino pun mulai berbisik. "Tuh dia orangnya, coba sapa deh."

Sakura cuma mengernyit. "Ngga, ah... ngapain?"

"Ayolaah~! Kalau mau dia jadi lunak sama kamu, ya tinggal dibaikin aja!"

Mendengar sorak semangat dari sahabatnya, Sakura memutar bola mata. "Iya, iyaa..."

Sebelum ia melakukan perbuatan nista ini—yaitu menyapa Sasuke—Sakura mengambil nafas, lalu setelah pria itu melewatinya, sontak ia mengeluarkan sebuah sapaan ceria.

"SASUKE-KUUUUN~!"

Mendadak gerak Sasuke terhenti. Dengan malas ia menoleh ke arah kanan. Di sana sudah ada Sakura yang tersenyum manis sambil melambaikan tangan kepadanya.

"…"

Hening sebentar.

Setelah itu, barulah ia mengembalikan pandangannya ke depan, dan berjalan lagi meninggalkan Sakura dan Ino.

Sakura kesal dan Ino cuma bisa sweatdrop di tempat.

"TUH, KAN!? DIA CUEKIN AKU!"

"Siapa suruh kamu sapa pake suara aneh kayak tadi? Kamu malah mirip Naruto..."

"ARGH! Pokoknya aku benci sama dia! Gimana nih!? Bisa-bisa aku udah keburu gugur sebelum perang—tentang dulu-duluan pacarin si anak baru!"

"Yaudah. Kenapa kamu ngga coba langsung nembak Sasuke? Gampang, kan?"

Kedua mata Sakura membulat. "Hah? Nembak?"

"Iya, mungkin hubungan kalian diawal agak-agak berantakan. Tapi kalau kamu nembak dia, bisa aja kan dia mikir dan nerima?"

Sakura menjentikkan jarinya.

"AH! Bener juga! Abis pacaran, tinggal pamerin ke Naruto. Aku menang tantangan, dan aku bisa mutusin dia dehh!"

Ino mengangguk pelan. "Emang agak jahat sih, tapi daripada kamu cerewet terus sama tantangan buatanmu sendiri."

Sakura tertawa senang, namun beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah. "Eh, tapi itu artinya aku yang nembak dong? Harga diriku sebagai cewek mau dikemanain!?"

"Hhh, kayak masih jaman aja nungguin cowok yang nembak!"

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Dengan langkah gontai Naruto menelusuri jalan menuju kelasnya yang berada di lantai tiga. Seragamnya lebih acak-acakan dari kemarin, dan juga rambut tidak disisir mau pun diberikan gel. Bahkan tas yang berada di punggungnya kosong tak berisi selain botol minum, dompet dan PSP. Benar-benar seperti pelajar pengangguran.

Kini, ia sedang menaiki tangga. Walau ia tidak memikul beban apa-apa selain tubuhnya, entah kenapa untuk hari ini naik tangga saja terasa begitu berat. Karena malas, Naruto menghentikan laju kakinya dan mendudukan diri di salah satu anak tangga.

Ia lepaskan tasnya dan akan mengambil minuman. Namun, bayangan tentang scene kemarin kembali terulang di benaknya, membuat ia melempar kasar botol minum itu ke lantai.

Lagi-lagi Naruto menghela nafas berat.

'KEMARIN ITU MEMALUKAN—SANGAT AMAT MEMALUKAN! ARGH!'

"Oi, Naruto."

Suara yang terdengar dari belakang itu membuatnya mendongak ke atas. Ia pandangi si pemilik rambut coklat berantakan yang sedang terheran-heran menatapnya.

Itu Kiba!

Cepat-cepat Naruto berdiri, dan membentangkan tangannya lebar-lebar. Lalu, ia menaiki anak tangga dengan berlari—seolah-olah hendak memeluknya.

"Kiba sayaang~! Aku mau ceritaaaaa!"

Pemilik marga Inuzuka itu mendengus, tapi akhirnya perlahan-lahan pun ia tersenyum.

Naruto terharu, dan semakin semangat untuk memeluk sahabatnya.

Sepertinya ini akan menjadi adegan shonen-ai KibaNaru.

Lalu saat pelukan akan saling bersambut, semuanya terpaksa gagal karena ada sebuah pukulan dari kepalan tangan Kiba yang menghantam ubun-ubun Naruto. Telak.

BUAGH!

"BODOOOOOHHH!"

"AAAWW! SAKIT, WOI!"

Kiba sama sekali tidak mempan dengan puppy eyes yang sedang dipacarkan oleh Naruto, malahan ia semakin mengumpat. "KENAPA KEMAREN NGGA DATENG KE LIGA FUTSAL ANGKATAN, HAH?" Bentaknya tanpa jeda. "KUPIKIR KAU TUH CUMA BOLOS SEKOLAH, TAPI KENAPA KAU JUGA BOLOS PERLOMBAAN?"

"EEEHH! Aku bisa ngejelasin!" Bibir Naruto langsung mengerucut. "Aku tuh kemarin ditilang..."

"TILANG APAAN? JANGAN ALESAN!"

Oke, Kiba sudah benar-benar marah.

Sontak Naruto mengubah wajahnya menjadi lebih serius. "IYA, AKU DITILANG! Jadi aku tuh ngga sengaja jatuhin soda dari lantai dua, dan kena kepala orang di lantai satu! Masalah sepele itu sampe ke polisi tau...!"

"Ohh..." Kiba mengangguk sebentar, lalu kemudian ia berpikir. "Eh, apa? Jatuhin soda ke lantai satu terus—UFAHHAHAHAHA!"

Naruto sweatdrop melihat reaksi Kiba yang heboh.

"Cih, udah ketebak banget kalau kau bakalan ketawa!"

Sebisa mungkin Kiba menahan rasa geli yang terus mengelitik perutnya. "Terus apa? Kau jadi pusat perhatian, eh?"

"Iyalah!" Jawabnya sambil menghela nafas pasrah.

Tuh, kan? Kalau dia cerita tentang hal tersebut pasti hanya tawa mengejek yang dia dapatkan.

Dan ketika Naruto—yang lagi mendumel karena Kiba—mengalihkan perhatiannya ke arah lain, terlihatlah seorang siswi berambut indigo yang baru saja keluar dari ruangan guru. Gadis itu menenteng sebuah buku tipis, dan kini ia sedang menaiki tangga untuk ke lantai empat.

Naruto menganga.

Ia bukan sedang mengalami cinta pada pandangan pertama, atau pun ingin memiliki novel yang dipegang oleh orang tadi.

Tapi... ITU GADIS YANG MENINGGALKANNYA SENDIRIAN DI TENGAH MASALAH SODA SIALAN KEMARIN!

"Tunggu... aku ada urusan penting." Naruto langsung meninggalkan Kiba dan berlari mengikutinya dari belakang.

Kali ini ia tidak akan membiarkannya kabur lagi!

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Dengan susah payah Hinata menggeser pintu perpustakaan yang berada di lantai empat. Tempatnya memang lumayan pojok, sepi, dan terkesan angker. Tapi ia tetap suka. Coba saja wali kelasnya memberitahu tempat ini sejak awal, pasti sudah dari dulu dia akan menghabiskan waktu istirahatnya di sini.

Dan saat ia memasuki area tersebut, dengan senyuman lebar ia amati semua penataan lemari buku yang rapih dan cantik. Tapi sayangnya ruangan ini tidak dihuni, dan juga terlalu dingin akibat AC yang terus dinyalakan.

Berhubung perpustakaan ini tidak ada yang menjaga, Hinata meletakkan buku titipan Kurenai-sensei di meja, dan barulah ia mengitari ruangan tersebut. Sambil menelusuri beberapa tulisan genre buku yang tercantum di tiap rak, ia akhirnya menemukan genre yang dia cari di deretan lemari paling belakang ruangan ini.

"Hoi."

Suara barusan membuatnya tersentak.

Hinata menoleh, lalu ia terkesiap ketika menemukan pria jabrik itu sudah berdiri tepat tiga meter di depannya.

"Eh?"

Dari rambutnya yang mencolok, Hinata mencoba berpikir keras. Rasanya ia lumayan familiar dengan tampang rupawan tersebut.

Dan saat memorinya tentang kejadian kemarin kembali berputar, mata Hinata membulat. Ia menelan ludah dan juga menunduk dalam-dalam. "K-Kamu..."

"Ohh..." Sambil berjalan mendekat, ia menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Masih ingat aku? Sejak kau meninggalkanku, kupikir kau udah lupa."

Naruto menyeringai.

Baiklah, kalau ada salah satu temannya yang melihat wajah Naruto, mungkin mereka akan bergidik ngeri—karena jarang sekali Naruto memajang ekspresi ini. Sekarang, bagaimana dengan Hinata yang sudah dari sananya seorang penakut?

Hinata cuma bisa mengambil langkah mundur, tapi ia malah semakin tegang ketika dia mendapati dirinya terpojok di ruangan tak berpenghuni ini.

Setelah seluruh bagian belakang Hinata terdempet di dinding, Naruto meletakkan tangan kanannya ke sisi kepala gadis tersebut. Lalu saat kepala Naruto mendekat, mata Hinata yang berada di balik kacamata tebalnya terpejam erat.

Detak jantungnya bergemuruh kencang.

"Kau pikir aku ngga dendam gara-gara kejadian kemaren?" Hembusan nafas Naruto terasa sampai di telinganya. "Memang aku yang beli soda itu, tapi kamu yang ngedorong sampai sodanya terlepas!" Tuntutnya sampai tak tanggung-tanggung memukulkan kepalan tangannya yang lain ke tembok.

Suasana perpustakaan saat itu hening. Mungkin kalau didengar dengan seksama, hanya ada suara nafas Naruto yang memburu serta detak jantung Hinata yang menggila.

"A-Aku..."

"Apa? Kau masih mau ngehindar lagi dari masalah ini, hah!?"

"M-Maaf, aku benar-benar me-menyesal..." Di balik tundukan kepala, si pirang dapat melihat jelas tubuh mungil di depannya bergetar ketakutan, dan tak tanggung-tanggung meneteskan air mata yang terjatuh tepat di sepatunya.

Naruto terdiam.

"Hiks..."

Gawat, ini sudah batas kekejaman Naruto. Kini ia merasa bersalah.

"Kok nangis sih! Terima kesalahan dong!" Yang barusan itu adalah bentakan, namun kali ini Naruto mengubah nadanya menjadi merajuk.

"Ng..."

Naruto meringis, lalu melepaskan kekangan yang dari tadi memenjara Hinata. "Ahh... terserahlah. Maafin aku..." Gumamnya. "Jangan nangis..."

Sambil mengangguk pelan dan menghapus air mata menggunakan salah satu tangannya, Hinata sedikit mengangkat wajah. Pertama, dilihatnya seragam berantakan yang dikenakan Naruto, lalu bergerak ke kerah baju, leher, bibir, hidung dan terakhir di matanya.

"M-Maaf, aku—" Kalimatnya terhenti pas di saat mata lavender Hinata menemukan sesuatu yang membuatnya berjengit.

Menggunakan benang yang diproduksi dari liurnya, sebuah serangga yang mengerikan akan menjatuhi kepala Naruto.

Hitam.

Besar.

Dan berkaki delapan.

LABA-LABA.

"KYAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Duh!"

Hinata berteriak kencang—ralat, sangat amat kencang. Dan tak lupa dengan air mata yang keluar deras, sontak ia memeluk Naruto dan menarik pria itu sampai punggung Hinata sendiri menabrak dinding.

Naruto yang tidak tau apa-apa hanya bingung... dan shock. Apalagi saat ia merasakan ada lekuk wajah dan tubuh bagian depan Hinata yang menempel erat di dekapannya.

Lagian siapa tidak kaget kalau ada gadis pemalu yang mendadak berteriak histeris serta memelukmu seperti ini?

"KYAAAA! Jauhkan! Jauhkan dariku!"

"WOI! GIMANA CARANYA AKU MENJAUH KALAU KAU MEMELUKKU SEPERTI INI!" Pipi bergaris tiga itu memerah sewaktu ia merasakan kedua tangan kecil yang melingkari pinggangnya semakin kencang.

Dalam hati Naruto merutuki tubuh bagian bawahnya yang entah mengapa mengeras.

Oh, ya ampun. Walau pun Hinata tidak menyentuh kulitnya secara langsung—karena terhalang seragam sekolah—entah kenapa rasanya lembut sekali...

Coba saja dia dipeluk seperti ini sesudah melepas kemejanya—uhuk.

Hey, dia pria normal! Wajar dong kalau dia bisa berfantasi?

Kembali lagi ke masalah utama. Ketika Naruto sedang susah payah mencegah dirinya agar tidak berpikir yang aneh-aneh, Hinata terlanjur lupa keadaan. Kesadarannya akan posisi ini seakan menghilang begitu saja semenjak ia melihat you-know-what.

Dan saat ia sedikit mengadah untuk mengintip, ternyata laba-laba itu kini berada di pundak naruto.

PUNDAK.

Dan itu sangat dekat dengan wajahnya.

"AAAAAAAAAH!"

"WOOOI!"

BRUKH!

Ia dorong kencang-kencang pria yang sempat dipeluknya itu sampai jungkir balik ke belakang. Dan tanpa memberikan sebuah kalimat maaf, si gadis berkacamata langsung berlari dan meninggalkannya sendirian di perpustakaan.

Saat punggungnya agak baikan, Naruto mencoba bangkit sambil sesekali berdesis kesakitan. Di posisi duduknya, ia sedikit menegakan badan, kemudian ia putar badannya ke kanan dan ke kiri untuk menghilangkan rasa pegal yang membebaninya.

"Ah, sial... dia itu kenapa sih?" Decaknya. Tapi sesaat Naruto berdiri, ia merasakan ada sesuatu yang agak mencolok di lantai tempat dia terjatuh.

Sebuah laba-laba yang setengah badannya penyek, sehingga terlihatlah cairan menjijikan yang keluar dari tubuh serangga gemuk tersebut.

Kedua alis Naruto terangkat, buru-buru ia menyapukan telapak tangannya ke pundak dan punggung.

Dan seperti dugaannya, jarinya mendapatkan sesuatu yang tidak jauh berbeda dari apa yang dia lihat barusan di lantai.

"NAJIS!"

. . .

Sedangkan di tempat lain, terdapatlah beberapa orang yang sedang mengawasi monitor seluruh ruangan di lingkungan sekolah. Pada saat ini hampir semuanya tengah mengunyah makan siang mereka masing-masing, tapi tentu saja tetap ada mata yang menjaga.

Dan sewaktu ia melihat sesuatu yang mencurigakan di daerah perpustakaan, si petugas membenarkan posisi duduk dan menekan tombol di remote untuk memperbesar gambar. Kemudian, diputarnya secara backward kejadian lima menit yang lalu di dalam perpustakaan.

Selesai tayangan ulang, matanya membulat.

"Astaga! Simpan rekaman ini dan laporkan ke Tsunade-sama! Ada kasus pelecehan!"

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Tepat lima menit setelah bel istirahat berdering, kedua gadis yang masing-masing memiliki marga Haruno dan Yamanaka itu memasuki kelas Sasuke. Tentu saja ruangan itu sedikit sepi karena tiga perempat penghuninya sudah pergi begitu saja ke kantin. Tapi hal itu tidak masalah asal sasaran utama mereka tetap berada di bangkunya.

Dilihatnya Sasuke yang bertopang dagu sedang membaca buku pelajaran berhalaman tebal.

Dan oleh karena itu, sudah saatnya rencana mereka dimulai.

Ya, Sakura akan menembak Sasuke Uchiha!

Ino segera menepuk bahu Sakura dan mengerling sebelum ia menyempilkan diri di antara kerumunan siswi XI-B yang lagi ngobrol di barisan depan—agar nantinya ia juga bisa mengamati gerak-gerik Sasuke dan Sakura.

Sakura menghela nafas.

Duh, kenapa dia jadi merasa sangat gugup sih?

Tapi ia tetap menyakinkan dirinya sendiri.

Kedua tangannya terkepal erat.

Dia harus berusaha!

Ia samperi Sasuke yang sedang duduk di bangku terbelakang. Sesampainya di tujuan, Sakura menarik bangku kosong dan menempatkan diri di hadapan Sasuke yang lagi sibuk sendiri.

Saat pemilik wajah berkacamata besar itu sedikit mengadah untuk mengetahui siapa yang duduk di dekatnya, dia lihat Sakura yang sedang mencoba tersenyum tulus.

"Hai..."

Tak ada jawaban. Malahan Sasuke mengembalikan pandangannya ke buku pelajaran.

Sakura berdehem sebentar lalu berusaha agar senyuman indahnya tidak berubah. "Ini udah hari keberapa sih sejak kamu masuk?"

"Dua."

Sakura mengangguk pelan. Setidaknya dia sudah direspon.

"Teruus? Apa kamu senang di sini?"

"Hn."

"Teman-temannya asik, ngga?"

"Hn."

Sudut siku-siku mulai muncul di kening seorang Sakura Haruno.

'Aduuh, sebegitu mindernya untuk berbicara denganku—atau DIA YANG MEMANG TERLALU SOMBONG SAMPAI CUMA NGEJAWAB SESINGKAT ITU SIH?' Di balik senyum cantiknya, Sakura merutuk dalam hati.

"Oh... begitu, ya? Dan apa kabar adikmu?"

"Baik."

"Lalu—"

"Pergi." Ketika Sasuke mengatakan kata barusan, ia menutup buku dan membalas tatapan Sakura. "Kau berisik."

Kalau saja scene ini ada di komik, pasti inner Sakura sudah dilatari oleh background gelap dan sound efect petir yang menyambar.

Tidak ada lagi yang mau berbicara. Hanya muka Sakura yang kian lama makin menghitam, menghitam, dan menghitam. Lalu ia berdesis mengerikan. "Oke, aku masih bisa nahan kekesalanku ini, Tuan Sasuke."

"Aku ngga peduli."

BRAKH!

Gebrakan di meja paling belakang membuat seluruh warga kelas yang menjadi saksi—terutama Ino—langsung menengok ke arah mereka.

"ARGH! KAMU INI APA-APAAN?"

"Sakura... sabar duluu!" Dari kejauhan terdengar suara khawatir dari sahabatnya. Dan setelah Sakura membalas tatapan Ino yang memaksanya untuk menenangkan diri sejenak, ia menghela nafas lalu berdecak.

"Baiklah, aku ke sini cuma mau nanya satu hal. Kita to the point aja, setelah itu fix aku akan pergi." Ujarnya sambil menggunakan nada yang tidak mengenakan. "Pilih satu dengan tepat dan cepat..."

"Hn. Apa?"

"Kamu suka aku atau ngga?"

"Ngga."

Tepat sedetik sesudah kalimat itu terucap, Ino menggeplak wajahnya sendiri.

'Itu mah bukan nembak, Sakuraaaaa!' Ino meringis.

Tapi kembali dulu ke kata terakhir yang dikatakan oleh Sasuke. Kalau tidak salah, ia mengatakan... 'ngga'?

Hah? Apa dia tidak salah dengar?

Jadi... Sakura ditolak?

Di ujung sana Sakura menggeram emosi. Tampaknya dia tidak puas dengan jawaban pria tersebut.

"Sekarang pilih satu, mau jadi pacarku atau jadi pemban—?"

"Pembantu."

Fine, kantong kemarahan Sakura sepertinya akan meledak as soon as possible.

Bagaimana tidak? Jelas-jelas ia belum menyelesaikan kalimatnya, dan Sasuke sudah menjawab dengan cepat tanpa berpikir dua kali!

"AAAAAAH! KENAPA KAMU NYEBELIN BANGET! UDAH BAGUS AKU MENGAJAKMU BICARA!?"

Sasuke berdecak. "Kau hanya menyuruhku untuk menjawabnya."

"Uhk, tapikan... tapi..." Matanya mengarah ke atas, ia kehabisan kata-kata. "Tapi—AH!" Ia pun memberi jeda dan kembali menggebrak meja, tak lupa sebuah jari telunjuk yang teracung tepat di depan batang hidung milik si Uchiha.

"POKOKNYA MULAI BESOK KAMU HARUS JADI PEMBANTUKU, SASUKE UCHIHA! NGERTI!?"

Sebelum Ino dapat menutup mulutnya yang menganga lebar, Sakura kembali meneruskan.

"WAJIIIIBBBB!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Huplaa! Chap 3 update. Gimana? SasuSaku dan NaruHina-nya udah kubanyakin loh! \:D/ *bangga* Yah, mungkin emang nilai romance-nya belom kerasa sama sekali, tapi alurnya pelan-pelan aja ya? Soalnya kalo dicepetin nanti takutnya terlalu rush :9

Btw, ini note terakhirku yang berhubungan dengan pair, ya? Sasuke & Hinata tuh kembar yang kujadiin tokoh utama (makanya kutaro di archive SasuHina). Terus, untuk end pair: Sasuke bakalan sama Sakura. Dan Hinata bakalan sama Naruto :))

Ohya, akhir-akhir ini FFn suka error nih. Tapi moga aja sekarang udah ngga gitu terus! Selagi masih bisa, tolong ngereview ya? Aku akan sangat menyayangi kaliann ^^

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Hiru'Na' Fourthok'og, Kin Hikaru, Dee, suka snsd, raya diu, Mine, KarinHyuuga, Ice cream blueberry, Tantand, fuyu-yuki-shiro, SuHi-18 males login XD, UQ, elmoelmo, Blue Darkflash'sky, nattually, Yamanaka Emo, n, Ichi Chibby-Chibby, sasa, RK-Hime, Sky White, Crimson Fruit, Fuyu no MiyuHana -HIATUS, ribka 'ribby-chan, kazuki's girl, Ayuzawa Shia, Regina amethys, NaraUchiha'malfoy, sunny.

.

.

Pojok Bales Review :

Kukira sifat Sasuke juga berubah. Kalo sifat Sasuke jadi ngesok tertindas malah jadi aku yang ilfil. Ngakak di chap 2 bagian LeeSasu. Terima kasihh. Untung kamu orangnya slow aja sama flame. Sebenernya sih kesel, tapi untuk marah-marah kayaknya percuma juga. Reviewer tanpa akun. Sebenernya gpp kalo ngga punya akun terus ngereview (ngasih kritik, saran, dll) ke fict ini, justru aku malah seneng banget! Cuman kalo mau flame ya—kalo berani—sebaiknya login :) Kalo summary ditulis pair SasuHina, lebih baik genre-nya diubah ke Family - Friendship. Kan aku di sini bukan ngeceritain tentang kekeluargaan mereka. Di fict ini aku tuh buat kisah cintanya Sasuke bersama Sakura dan Hinata bersama Naruto. Masa ngga boleh untuk aku taro ke genre romance? :( Aku ngelewatin scene yang ada Sakura-nya loh. Oh, itu sih terserah readers aja :D Untuk NaruHina, yang suka duluan tuh Hinata atau Naruto? Silahkan tebak sendiri :D zo tuh penulis favoritku. Kamu bohong #terharu. Banyakin NaruHina-nya. Okeh. Aku seneng loh Sasuke jahat sama Sakura. Sejak kapan aku buat Sasuke jadi baik? xD Scene SasuHina-nya banyakin. Hm, doain aja. Tapi kayaknya lebih banyak slight NaruSaku dibanding SasuHina-nya -_- Ini fict SasuSaku yang pertamakali mau kubaca. Hehe. Apa zo juga suka SasuSaku? Ini lagi belajar untuk suka, jadi mohon doanya ya! :D zo orang netral ya? Iya hehee. IBWFY & Nerds kapan update? Aduh, iya lagi diusahain :D Pairing fanfict ini apaan sih? Untuk romance + end pair tuh SASUSAKU dan NARUHINA :)) Author ngga tau diri, baru diminatin dikit udah besar kepala. Terserah apa katamu deh, lagian aku juga ngga ngerasa diminatin banyak orang. Tapi komen ini cukup jleb juga.

.

.

Next Chap :

"Eh? Masa ngga tau? Sebenernya ini masih rahasia, tapi ngga apa deh. Hinata terlibat masalah video mesum."

"Hinata, bisa kau jelaskan kenapa si bodoh ini mengatakan 'salah paham'? Karena saksi mata dan korbannya adalah dirimu sendiri, tolong ceritakan kronologinya."

"Temani aku belanja. Ingat, bukan kencan."

"Ngga, cuma penasaran aja kayak gimana muka sombongmu di balik kacamata jelek itu."

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU