Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing : Sakura x Sasuke

Rated : T

Genre : Romance, little fantasy (?)

Warning : OOC, absurd, typo, Italic for flashback

Don't like don't read but I hope you like it ^^

Happy reading ~

.

.

.

.

Pagi ini Sasori mengajakku berkeliling kota, entah mengapa aku sangat antusias walaupun itu hanyalah berkeliling kota di sebuah pulau kecil. "Kau yakin tidak aku temani, Sakura?" Sasori mendongakkan kepalanya dari jendela mobil melihatku.

"Yakin, aku juga ingin berkeliling kota sendirian. Kau pergi kerja saja." Sasori mengangguk mengerti dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya saat mobil yang dikendarainya mulai berjalan menjauh.

Aku berjalan dengan penuh semangat hingga aku tak sadar bahwa lampu rambu-rambu lintas masih berwarna hijau. Tak heran bahwa banyak pengendara mobil menekan klason mereka keras-keras, memarahiku, dan mencaciku dengan kata-kata mereka. Aku hanya bisa tersenyum kikuk dan membungkukan badan berulang-ulang sambil tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf hingga aku berhasil menyebrang jalan dan memasuki sebuah taman kota.

Taman kota yang sangat asri, ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga-bunga yang sangat cantik. Banyak juga masyarakat kota yang beraktifitas di taman seperti pagi ini. Aku duduk di sebuah bangku taman dan memandangi sekelompok anak kecil yang sedang bermain. Ada yang bermain ayunan dan ada pula yang bermain kejar-kejaran. Sangat miris rasanya ketika aku teringat kembali masa kecilku yang tak seberuntung mereka yang bisa bermain dan tertawa lepas bersama teman-temannya.

"Sangat jelek ketika kau bersedih seperti itu." aku terkejut bukan main ketika ada seorang pria asing yang belum kukenal tiba-tiba duduk di sampingku.

"Maksudmu?" aku agak tersinggung ketika dia mengataiku jelek.

"Ya. Menurutku kau terlihat jelek saat bersedih." pria itu tersenyum manis menatapku. Aku mengerutkan dahi dan meliriknya sinis. Siapa pria asing gila ini, datang-datang sudah mengataiku pula, "Kau Haruno Sakura, kan?"

Aku sedikit tercengat ketika dia tahu siapa aku. Padahal pagi ini aku memakai kacamata hitam dan memakai topi untuk menutupi identitasku, "Jelas aku tahu siapa kau nona," kata pria asing itu seolah-olah tahu apa yang sedang kupikirkan. "Kau adalah putri dari bangsawan klan Haruno kan? Yang tinggal di sebuah kastil berhantu itu?"

Aku menaikkan alis, "Maaf? Berhantu?" aku mendecih.

"Aku Saisuke. Senang bisa bertemu denganmu." dia tersenyum lebar. Bola matanya yang berwarna hitam, sehitam langit malam itu menatapku hangat. Rambutnya juga hitam dan agak berantakan. Hidungnya mancung, rahangya tegas, dan dia bisa dikategorikan sebagai pria tampan.

"Lalu apa yang kau lakukan di sini tuan Saisuke? Kau ingin menganggu waktu santaiku?" ucapku sinis.

"Tentu saja tidak, aku tidak menganggumu. Setiap pagi aku kemari sejak aku keluar dari pekerjaanku, dan tak diduga aku bertemu wanita yang sangat disegani di pulau ini," aku mendecih. "Kau tahu Sakura? Aku sangat mencintaimu." lanjutnya.

Mataku terbelalak. Pria ini benar-benar gila. Belum 5 menit kami mengobrol lama dia sudah menyatakan cinta kepadaku dengan begitu mudahnya, "Kau sudah gila ya?"

"Tidak. Aku masih waras," dia masih tersenyum lebar dan ini yang semakin membuatku bergidik ngeri. Tanpa pikir panjang aku berdiri dan meninggalkan pria asing gila ini sebelum gilanya malah menular kepadaku. "Kuharap besok kita bertemu lagi." dia berteriak kepadaku. Aku mendecih, siapa pula yang mau bertemu dengan pria gila sepertinya.

.

.

.

Setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di kastil ini ternyata membuatku rindu untuk menjelajahinya. Sewaktu kecil aku sangat senang berkeliling kebun dan halaman di belakang kastil. Tak jarang pula aku senang ketika melakukan petualangan kecil di hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kastil.

"Jangan keluar terlalu jauh dari kastil apalagi waktu matahari sudah terbenam." kata Karin dengan kesinisannya yang biasa membuatku lagi-lagi menelan bulat-bulat keinginanku untuk merasakan petualagan yang biasa kulakukan semasa kecil.

Tapi Ibu mengizinkanku untuk berkeliling di sekitar halaman dan kebun kastil saja untuk sore ini. Jika ingin menjelajahi hutan bisa kulakukan besok siang karena kata Ibu maupun Sasori kini di sekitar hutan itu sudah diduduki oleh para bandit yang merupakan pemberontak klan bangsawan Haruno yang mungkin saja membahayakan nyawaku juga.

.

.

Aku menikmati nikmatnya angin sore yang sudah lama tidak kurasakan. Ternyata berkeliling halaman kastil di sore tak buruk juga, membuatku moodku sedikit membaik. Tiba-tiba ketenanganku terusik ketika aku mendengar suara gemerisik semak-semak yang ada di belakangku. Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku ketika melihat dua orang bandit dengan tampilannya yang sangar tersenyum jahat kepadaku.

"Hai nona Haruno, sepertinya sedang sendirian ya?" ucap bandit dengan kepala botak yang membawa sebuah belati dan menjilatnya.

Aku bergedik ngeri melihat mereka. Berani-beraninya para bandit ini memasukki wilayah kastil. Sepertinya pengawas keamanan kastil ini sedang tidak beres. Ketika kepalaku muncul pertanyaan-pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi, tiga orang bandit dengan tampilan tak kalah sangar dengan yang sebelumnya juga menghampiriku dari kanan. Kepala bagian belakangku tiba-tiba terasa sakit sekali, entah benda apa yang telah dipukulkan oleh bandit sialan itu ke kepalaku sehingga penglihatanku menjadi tak jelas saking sakitnya. Dan akhirnya membuatku terjatuh sebelum aku bisa membalas bandit itu.

Yang bisa kulihat sekilas adalah salah seorang dari bandit itu akan menusukkan pisaunya ke arahku tetapi gerakan bandit itu terhenti karena ada seseorang yang melindungiku. Pria asing itu menghalau bandit yang mendekatiku, dengan kecepatan bermain pedangnya pria asing itu berhasil membuat kelima bandit itu mengibarkan bendera putih dan memilih kabur sebelum leher mereka ditebas pedang. Aku hanya bisa melihat punggung tegap pria asing itu yang tidak begitu jelas di mataku.

"Kau tidak apa-apa?"

Dengan rasa sakit yang begitu luar biasanya yang menimpa kepalaku, aku tak begitu jelas walau hanya melihat wajah pria asing yang menolongku itu. Aku hanya bisa merintih kesakitan sambil memegangi kepala bagian belakang. Pria asing itu membantuku berdiri dan memegangi tanganku. Tangannya besar dan hangat. Sekali lagi aku berusaha untuk melihat wajahnya tapi keinginanku telah pupus sebelum aku melihat ke arahnya dia sudah pergi meninggalkanku, dan yang kulihat kini adalah Karin berlari ke arahku dan berteriak kepadaku, "Apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya berjalan-jalan dan tiba-tiba sekelompok bandit menyerangku." jawabku lirih yang masih menahan sakit di kepala.

"Sudah kubilang jangan keluar kastil saat matahari sudah terbenam!" Karin lagi-lagi mengomentariku dengan nada tinggi. Karin menuntunku masuk ke kastil. Di dalam kastil pun Ibu sudah menghampiriku dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Kau tidak apa-apa, Sakura?" Ibu memelukku, "Lebih baik kau istirahat saja sekarang."

.

.

Aku terbaring di atas ranjang, rasa pusing akibat pukulan keras dari bandit sialan itu tak kunjung hilang. Istirahatku terganggu saat aku mendengar suara dentuman seperti benda yang dilempar ke dinding diiringi dengan suara rintihan kesakitan dari seseorang yang sangat kukenal, Sasori. Aku langsung bangkit dan keluar dari kamar, dugaanku tepat aku melihat Sasori yang sudah jatuh tersungkur.

"Sasori!" aku menghampirinya dan membantunya berdiri. "Kau kenapa? Kau baik-baik saja?"

"Oh-oh, jadi ini calon tunanganku."

Deg. Suara bariton ini. Jangan bilang yang melakukan ini terhadap Sasori adalah si-pangeran-iblis-dari-keluarga-yakuza-itu. Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang pria jakung dengan tudung berwarna hitam yang menutupi sempurna tubuh dan wajahnya. Uchiha Sasuke.

Darahku mendidih melihat tindakannya yang kasar kepada Sasori. Sasuke mendekatiku tetapi Karin sudah terlebih dahulu menghalangi jalannya, "Sudah kami bilang, Sakura butuh istirahat." kata Karin dingin. Sasuke tak mempedulikannya, melewati Karin dan berjalan lurus mendekatiku.

Jantungku berdegup kencang ketika Sasuke sudah berdiri di depanku hanya selisih beberapa senti dari posisiku berdiri sekarang, "Apa yang kau lakukan pada Sasori?" tanyaku dingin.

Sasuke tersenyum kecut, "Dia yang menghalangiku untuk menemuimu."

"Bukannya jadwal pertemuan kita masih seminggu lagi?"

Sasuke mendecih, "Kudengar kau diserang oleh para bandit, aku mengkhawatirkanmu makanya aku datang kemari. Sa-ku-ra."

Aku mengigit bibir menahan emosi, kalau tidak aku sudah menghajarnya sekarang, "Kenapa? Sepertinya kau tidak suka bertemu denganku, Sakura-chan?" Sasuke tersenyum mengejek kepadaku.

"Ya kau benar, aku tak suka melihatmu tuan Uchiha." ucapku sarkatis.

Sebelum Sasuke membalasku, suara deheman Ayah menginterupsi kegiatan kami. Ayah bersama seorang pria paruh baya yang tidak kukenal, "Kita pulang sekarang, Sasuke." kata pria paruh baya itu.

Sasuke menghela napas dan kembali menatapku lekat-lekat. Aku membalas tatapannya dengan tatapan menantang bukti kalau aku sama sekali tidak takut dengannya, "Kita akan bertemu lagi Sa-ku-ra." ucap Sasuke sambil memengang daguku yang tentu saja dengan cepat aku menepisnya. Setelah itu Sasuke berjalan menjauh dengan ketawanya yang menyebalkan.

"Mengenai bandit itu akan yang akan segera menyelesaikannya kau tak perlu khawatir Kizashi," pria paruh baya yang sepertinya ayah Sasuke menepuk pundak Ayah sekilas, "Dan sepertinya putraku menyukai putrimu." lanjutnya. APA? Apa-apaan ini?

.

.

"Apa pagi ini kau ingin pergi ke taman kota lagi, Sakura?" tanya Sasori seusai acara sarapan pagi. Karin hanya melirikku.

"Emm, sepertinya iya. Aku ingin pergi ke tempat yang membuat pikiranku segar." aku tersenyum simpul

"Baiklah nanti aku saja yang mengantarmu dan menjemputmu setelah kau sudah puas berjalan-jalan keliling kota." keramahan dan kebaikan Sasori benar-benar membuatku merasa nyaman.

Seperti kemarin, keadaan taman kota tak banyak berubah. Masih saja dikunjungi oleh banyak orang meskipun hari masih pagi di mana pagi hari biasanya digunakan untuk bekerja bukan untuk bersantai-santai seperti di taman. Tanpa sadar aku mencari-cari sesuatu yang hilang, tetapi aku tidak tahu apa sesuatu itu.

"Hai!" sapa seorang pria bernama Saisuke yang kemarin baru kukenal, menepuk pundakku dari belakang, "Mencariku, eh?"

Aku mendecih, "Jangan GR. Siapa pula yang mencarimu."

Saisuke malah tertawa, "Mau es krim?"

Aku menaikkan alis. Tanpa disuruh Saisuke berlari menuju ke tempat orang yang berjualan es krim yang tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Setelah itu Saisuke kembali dengan membawa 2 buah es krim rasa coklat di kedua tangannya. Dari mana dia tahu aku menyukai coklat?

"Semua perempuan menyukai coklat."katanya tiba-tiba seolah-olah dia tahu apa yang sedang kupikirkan sambil memberikan salah satu es krim kepadaku, aku menerimanya dengan agak ragu-ragu. Pria ini benar-benar tidak waras.

Saisuke adalah pria yang ceria dan cerewet. Dia selalu bercerita banyak hal yang menurutku itu aneh. Dia memiliki selera humor yang cukup tetapi menurutku itu tidaklah lucu. Dia juga sangat keras kepala, walaupun aku sudah berkali-kali menghujaninya dengan kata-kata kasar ala milikku dia tetap saja tak menjauhiku ataupun membalasku. Dia selalu mengatakan, "Aku mencintaimu, Sakura."

"Apa kau gila? Kita belum lama saling mengenal dan dengan begitu mudahnya kau mengatakan cinta kepadaku?"

"Aku tidak tahu, Sakura. Apa cinta butuh alasan? Mungkin Tuhan sudah menakdirkanku untuk mencintaimu bahkan sejak sebelum aku dilahirkan."

Aku menghela napas berat. Pria ini sungguh gombal. Gila dan aneh. Itulah yang dapat kusimpulkan dari seorang Saisuke.

.

.

-TO BE COUNTINUED-

CATATAN AUTHOR :

Bagaimana cerita dalam chapter ini? Aneh? Nggantung? Gak jelas? PASTI IYA T_T

Mohon komentar, masukan, dan sarannya yaaaa~

maaf jika masih banyak kata-kata yang aneh atau typo, soalnya ini nggak aku koreksi lagi gara-gara mata sudah sangat mengantuk #kebiasaan #plak!

terima kasih yang sudah mau ngereview, ngefollow, dan ngefavorit xD