Chapter 3: Bagian dua

.

.

.

-0-

Hati lainnya yang retak; mengumpulkan kepingan dan berpaling.

Mengapa kau menjauh?

-0-

.

.

.

Bersamaan dengan terik matahari, menggerutu betapa panasnya musim ini, dan sebotol isotonic setengan buku; menemani si gadis yang terduduk manis diatas kursi taman permanen, tempat dimana mereka biasa bertemu. Kekasihnya itu lama sekali. Sudah duapuluh menit ia menunggu. Dan sudah dua botol minuman isotonic beku pula yang ia tandaskan. Lihat saja nanti, bagaimana kejamnya gadis jika sudah kesal.

"AAAAKH! ONII-CHAN BAKKAAA!"

"Yo."

"KYAAAAAAA!"

Dibelakangnya, dibalik pohon Sakura yang semu tanpa warna, lima menit lamanya, sang kekasih berdiri dan tersenyum aneh yang, menurut orang lain, timpang. Satu sisinya naik dan sisi lainnya akan dibiarkan datar dalam gelombang senang. Tipe-tipe senyum pelit yang menawan. Tubuhnya bersandar malas dan tangannya terlipat didada. Menyaksikan gerak-gerik si manisnya yang abnormal; Marah. Tertawa. Menggerutu. Tertawa. Menggerutu. Dan semua yang dapat menggelitik perutnya.

"Sejak kapan Nii-chan disitu?!"

"Hn. Ayo kencan."

Kala itu, dari sudut kenangan manisnya yang membisu pilu dalam bias redup senja, adalah bagaimana lengannya yang kuat, akan diapit manja oleh pipi tembam si manisnya. Kemudian mereka berjalan beriringan. Berbagi gula-gula kapas dan berciuman tanpa berani mengusik sang nafsu binatang.

Kata andai saja, masih akan terus menggantung di jiwanya…

-0-

.

.

.

-0-

Nafasku telah diujung saat Itachi masih kekeuh untuk terus menyakiti bibir dan hatiku; yang terus bertanya-tanya mengapa dan bagaimana. Rasa menyesakkan yang menguasai diriku, akankah itu bersebab dari kebutuhan pasokan udara yang semakin menipis?

Dan kenapa aku bohong?

Itachi yang membuat sudut mataku basah. Menangis bodoh karena perasaan bodoh yang dilakukan dengan bodoh. Dasar bodoh. Ya, itu aku. Karena aku tidak memukul leher tegas itu sesaat setelah si empunya menubruk tubuhku. Dan aku juga tidak menampar pipi halusnya yang selalu hangat; itu semua karena aku membalasnya, memeluknya, dan menangis.

Tapi tidak sampai bayangan buram mengenai seorang guru kimia yang mesum muncul dan aku menampar kuat pipi Itachi. Ia terdorong kebelakang dan memegang pipinya yang memerah, sedang aku jatuh terduduk dan tak tahu harus apa; dilantai dingin milik Sasuke. Sasuke. Tak kuasa melihat kekecewaannya, aku menutup wajahku dan menyembunyikannya di balik apitan tangan yang rengang. Aku benci 3. Aku benci saat harus berhenti di lantai nomor tiga. Aku juga benci harus belajar di kelas lantai 3. Aku benci!. Seperti bagaimana kata tiga itu muncul dan merusak semuanya; kebahagiaan, hubungan kasih, dan hidupku.

KumohonJangan menangis, Itachi..

"Hiks.. Baka! Onii-chan ga BAKAA!"

Saat Itachi beringsut jatuh untuk menyamakan posisinya denganku, ia tampak jauh lebih frustasi dibandingkan siapapun. Pipinya memerah. Aku berbisik dengan lirih, mengintip matanya dibalik poni-ku.

"… Apa.. sebenarnya..? Kau… datang dan –"

"Gomen, Sakura.."

-0-

Aku menekuk kedua kakiku dan meletakkannya diatas sofa; memeluk keduanya. Mencoba untuk meresapi kembali bagaimana acara komedi di televise ini berlangsung. Karena pikiranku sedang bercabang; antara bagaimana Sasuke akan pulang karena hujan diluar sangat lebat, dan… apakah Itachi kehujanan..?

Jika Sasuke membawa mobil, bukan tidak mungkin jika Itachi tidak membawa apapun. Melihat bagaimana santainya pakaian ia tadi. Yah.. kemeja hitam yang lembut. Celana Jeans dongker ketat, sandal jepit khas para pria, dan berantakan. Juga, bagaimana ia–

"Ugh!"

Kenapa aku harus memikirkannya?! Ini harusnya mengenai Sasuke yang belum pulang meskipun sore sudah mengucapkan "Bye" sejak 4 jam yang lalu. Dasar pengingkar janji! Tidak tahukah dia, bagaimana takutnya aku dan sia-sianya telur gulung hasil dari kelas memasakku.

"Bodoh! Bukannya dia tidak akan pulang sekarang?!"

"Rencananya. Oh, sudah masak– oyy?!"

"GYAAAAA! HENTAAAAAIIIIIIII!"

.

.

"Tolong jelaskan dengan alasan yang logis, Haruno–kun."

Itu kesalahannya karena datang dengan tiba–tiba! Lagi pula, suruh siapa juga tiba–tiba langsung meremas asset seorang wanita yang sedang lengah? Seharusnya aku meneriaki si Uchiha itu dengan kata setan yang tebal.

"Aku berteriak karena kau mengejutkanku."

"Hn." Dia sok acuh.

"Aku bilang kau hentai karena kau mesum."

"Hn? Dan gigitannya?" itu memalukan. Kuharap tangannya tidak berlubang.

"Aku menggigitmu karena kau mesum?"

"Apa itu? Aku mastermu." Serius.

"Oke. Ganti. Karena aku merindukanmu?"

"Lucu sekali." Sasuke mlompati kepala sofa untuk duduk di sisiku. Dia melanggar etikanya sebagai seorang guru untuk bisa duduk bersamaku, dengan wajah kelelahannya. Adam tampan ini juga membawa sebuah kotak yang langsung disodorkan kearahku. Sayangnya, atau, naasnya, dia mengoperkan benda persegi itu diatas pahaku, dengan sensasi geli yang membuat tanganku gatal.

"Akh!" Sasuke mengaduh dengan wajah malasnya. Maksudku, jelas dia sedang tak ingin mengeluarkan reaksi apapun. Atau, mungkin kelelahan telah memakannya.

"Geli! Ah, apa cubitanku sakit?"

"Sedikit."

"Hooh. Apa ini?"

"Berhenti bertanya."

"Heeh? Sedang manja?"

"Minta maaflah."

"Akumintamaaf."

"Yang serius."

"Aku minta maaf?"

"Kenapa malah seperti bertanya?"

"Kenapa?"

Dia sedang dalam mode pandanya. Lucu. Tidur melingkar dan menjadikan pahaku sebagai bantalan. Dia mengigau malas, tapi aku tahu ia belum benar–benar terlelap. Racauan seperti baru saja bergumul dengan alcohol, tapi aku tahu dia tidak akan. Karena disini tidak tercium sama sekali bau menyengat itu. Dan yang tercium hanyalah aroma segar Sasuke. Keringatnya yang terasa lembut di hidung, bercampur dengan parfum buah–ku.

"Sakura."

"Ya?"

"Ayo berciuman."

"E–eh…?"

Ada nada hilang yang diucapkannya. Ada nada menghilang yang digetarkannya. Ada nada kehilangan yang diperdengarkannya. Dengan begini, apakah aku harus tuli dan buta? Sementara dia sudah benar–benar kehilangan sesuatu. Apakah itu? Hal yang kuketahui? Atau yang mustahil diketahui? Apakah Sasuke bergurau?

Sementara tangannya yang usai lalu menyembunyikan sang wajah telah merosot. Menjadikan sorot kosong dan kuatnya sebagai sasaran pandangku.

Aku pasti sudah terlihat bodoh.

Cepat cepat kulanjutkan, sebelum Sasuke salah paham. Meskipun sesungguhnya aku yang benar–benar tak paham. "A–ayo. Kenapa harus bilang? Biasanya kau juga–"

"Cium aku, Sakura."

Satu tangannya sudah singgap di tengkukku, menarik wajahku untuk turun mendekat pada wajahnya. Sasuke tidak seperti biasanya. Dia hendak mencium tapi tak punya raut mesum sama sekali. kurasa dia benar–benar mabuk.

"Sasuke–!"

Jika dia bukan Sasuke, maka aku takkan menciumnya. Jika dia bukan Sasuke, sudah pasti aku akan mendorong dadanya. Dengan interval seujung kuku, napasnya yang mengeringkan bibirku, dan tatapan kecewanya, semua tertahan disitu. Aku ingin bergerak, tapi jiwa sadis Sasuke melarang tegas hal itu.

"Sasuke..?!"

"Bagaimana rasanya dicium Itachi, Sakura? Sampai kau tak ingin kucium… "

Tuhan..

Dia tahu?

0–

.

.

.

0–

Si hawa masuk tanpa sungkan kearea teritori asing itu. Dia menjinjing satu buah tas tangan berat tanpa keraguan. Si hawa tersenyum pilu dengan biner redupnya. Menyaksikan seonggok tubuh lesu yang terbaring menyedihkan diatas sofa duduk. Dia Hyuuga Hinata, datang keapartemen sang guru terkiller untuk menemani seseorang.

"Sakura."

Hawa lainnya tersentak. Tapi tidak bangkit dari kondisi tak sedap dipandangnya. Terkulai layak tanpa nyawa, dan wajah penuh sisa tangis. Hinata mendekat, menarik Sakura untuk bangun dan bersandar pada tubuhnya. Dia tersenyum.

"H–Hinata..?!"

"Menangis saja. Dua orang bodoh itu memang selalu menyusahkan."

"Eh? Tapi… kenapa kau bisa ada disini?"

"Sasuke menyuruhku. Dia bilang dia sudah melakukan kesalahan. Dan kau adalah temanku. Itu saja, kok."

"E–Eh? T–tapi Kenapa?! Aku selalu jahat padamu, kan?!"

Sakura nyaris menangis lagi, membasahi bahu kecil itu. Dia hendak memberontak, tapi takut dosanya pada Hinata semakin bertambah pula.

Dilematis mendatangkan lethologika.

"Kenapa? Aku tahu kondisimu. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama denganmu, jika dihadapkan dengan kondisi seperti ini."

Tapi menurut Sakura, dia tetap salah. Bukan Hinata, tapi dirinya. Bukan menjawab, Sakura memilih bungkam.

"kalau kau berpikir aku telah merebut Itachi, kau benar. Kalau kau berpikir jika ini semua rencanaku, kau benar lagi. Tapi, jika kau berpikir aku mencintai Itachi seperti cintamu padanya, kau salah besar. Kalau kau berpikir aku mau melakukan ini tidak demi Naruto, kau salah lagi."

Dia berbicara tentang sesuatu yang Sakura coba untuk tidak mengerti. Dia berbicara tentang sesuatu yang Sakura coba untuk abaikan. Dia berbicara tentang sesuatu yang Sakura coba cari, secara gerilya.

"A–aku–"

"–Dengarkan saja. Supaya kau tidak salah, dan supaya aku juga tidak terlihat salah."

"… Itachi itu teman masa kecil kami. Dia hanya tinggal dengan ibunya,bercerita memiliki seorang adik lelaki yang ikut ayahnya dengan bangga. Yang kami tahu, dia sangat kesepian. Aku adalah adiknya, mulai saat itu. Ayahku punya banyak uang dan saham dimana–mana, termasuk di perusahaan ibunya. Aku anak tunggal. Aku menyelamatkannya, Sakura. Jika dia menikahiku, jelas perusahaan ayahku juga akan menjadi miliknya kan? Dengan itu, ibunya pasti akan sukses. Dan ia takkan dibuang begitu saja, kan?"

Dia berbicara tentang sesuatu yang tidak Sakura mengerti. Dia bertanya, mengeratkan rengkuhannya dan membuat Sakura menangis. Membuat Sakura kehilangan kata–katanya.

"Kau.. tahu lebih banyak."

Dekapan Hinata menguat. Sakura bisa merasakan dada sekal gadis itu, tapi dia benar–benar manusia waras.

"Itu karena aku adiknya.." jeda sejenak, suara getir itu melanjutkan. " Itu karena aku adiknya. Dia meninggalkanmu karena takut ibunya akan menyentuhmu. Tapi, jika dengan Sasuke, mungkin kau akan jauh lebih aman. Karena.. Itachi sangat menyayangimu…"

Hinata. Jika kau jujur, bolehkah aku memintamu untuk memaafkanku? Kenapa rasanya begitu menyedihkan, sampai ingin menangis dengan keras? Kenapa kau juga menangis, Hinata? Apakah sakit? Kau mencintai Naruto? Dan masih mencintainya?

Aku boleh membalas pelukanmu, kan? Meskipun biasanya aku jahat sekali padamu…

Karena… "Aku juga mencintainya, Hinata."

"Aku tahu. Tapi, boleh aku minta satu hal? "

"Y–Ya. Jika kau… memaafkanku."

Dia tertawa. "tentu." Katanya. Lalu melanjutkan. "Sebelumnya, setelah ini, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku… entahlah."

"Kuharap itu bukan meninggalkan Sasuke."

"?!"

"Karin. Dulu kekasih Itachi, sebelum bersamamu. Yang tak kami ketahui, adalah dia telah lebih dulu berpacaran dengan Sasuke. Gadis itu hanya menjadikan Sasuke sebagai teman ranjangnya. Sementara dia benar–benar mencurahkan cintanya untuk Itachi. Kau tahu betapa kunonya pandangan Itachi terhadap seks, kan?"

"Mereka?! Bagai–"

"–sst. Dengarkan saja. Saat tahu diduakan, Sasuke benar–benar marah. Hal itu juga menjadi alasan lain mengapa dia membenci Itachi. Dan yang tak terduga, entah hal ini akan membuatmu yakin untuk meninggalkan Sasuke atau malah semakin sayang padanya, tapi dia telah membuat Karin kehilangan nyawanya, setelah wanita itu memberikan kelainan sadismasochisme padanya. Dan, Sakura, Sasuke itu adik kandung Itachi."

"B–Bohong!"

0–

.

.

Chiruiku unmei ni aragatte

Sou azayaka ni sakihokore

Always…

Melawan takdir yang diberikan

Ya, mekar berseri, dengan kemuliaan

Selalu…

[STEREO DIVE FOUNDATION; DAISY]–

.

.

0–

Sasuke bernapas keras, kesal menunggu lama. Sudah terhitung 6 menit waktu dia menunggu diatap sekolah, barulah Sakura muncul dengan tampang watadosnya. Tapi, semua hal menjengkelkan itu surut mereda kala maniknya menangkap oleh–oleh yang malam lalu diberikannya, kini tengah dipakai gadis itu. Gantungan kunci berbentuk hati berwarna pekat kilat. Menggantung di ponsel si gadis. Berada di genggaman tangan kecilnya.

"Sensei."

"Hn?"

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"…Apa?"

Gadis itu tersenyum. Mengambil tangannya. Kemudian menggenggam dengan lembut. Layaknya sang senyum.

"Aku..

–Tidak akan menjadi Slave mu lagi."

0–

.

.

.

TBC

.

.

.

0–

Berikutnya: Aku mencintaimu!

"Kau ingin kuliah dimana, Sakura?"

"Tokyo. Dokter."

"… Sasuke.. pergi?"

"Dia hanya panik. Dia berkali–kali dikecewakan. Kurasa suatu relasi takkan pernah bisa dijalaninya. Kau mengerti kan, Sakura?"

"… Untuk sekarang, tidak."

0–

.

.

.

Thank You For reading. It's may be 5 or 6 shoot fic with epilogue.

Saya putuskan untuk merubah gaya penulisannya :'D

Dan, Terimakasih banyak untuk kamu!

Juga beberapa orang yang saya isengi dengan pribadi :P karena merasa kurang pantas untuk menulis nama mereka disini, dan… gitu deh.

#Maafkarenanggakbisabalasreviewkaliansatu–satuya!sayangerjaininipasnggaksengajakebangunditengahmalam,danmencurisedikithotspotseseorang#Nyaw

Ps:Hayooo! Siapa yang sempet ngira kalau saya bakal ngebully hinata–san habis–habisan? Btw, doi bukan salah satu actor antagonis, lho #telat

Jaa

–Reese19–