Spring
KnB © Tadatoshi Fujimaki.
Warning: Possibly out-of-character, typos, fem!Furi, etcetera.
Why so serious?
.
.
.
Seijuurou jatuh cinta di musim semi, bersamaan dengan mekarnya kelopak sakura. Seijuurou kehilangan cintanya di musim dingin, mengalir pergi seperti salju yang mencair.
.
.
.
Tak selamanya cinta habis dimakan waktu. Justru ada yang tumbuh semakin besar seperti pohon yang semakin menjulang, semakin gagah, semakin perkasa, semakin berkuasa, semakin menyilaukan, semakin menyejukkan dengan dedaunannya yang rindang. Bersama tahun yang melangkah maju, cinta itu semakin tebal pula warnanya, semakin merah dan jelas.
Seperti cinta milik Seijuurou pada Kouki.
Ia mencintai wanita itu tanpa pamrih, tanpa ingin dikasihani, mencintainya dengan hati—sampai-sampai, cintanya sudah habis meski dibawa lari, tak dipulangkan kembali.
Seijuurou sudah mengatakannya; tak apa. Asal untuk Kouki, ia sanggup.
Bahkan, jika keriput di wajahnya semakin terlihat, jika merah rambutnya dimakan putih, jika matanya tak lagi jelas menangkap tulisan, jika suaranya seakan hilang tak berbekas, Seijuurou masih mengaguminya. Sosok wanita yang difoto di bawah guyuran sakura, mengenakan kimono merah, dan membawa wagasa senada di tangannya.
Wanita yang membuatnya jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi. Begitu berulang kali seperti jarum jam di dinding yang terus berputar.
Tubuhnya ringkih, tak sanggup berdiri tegak, ditopang kasur rumah sakit berbalut kain putih. Mengangkat tangan saja rasanya sulit. Anak adik sepupunya yang paling muda dengan setia menemani, menjadi asisten yang cakap membantu apa saja. Seijuurou sangat berterima kasih.
Kalau saja pemuda yang sudah berusia di akhir dua puluhan ini tidak datang secara tiba-tiba, perusahaan keluarga pasti akan terbengkalai. Ia sudah memutuskan untuk mewariskan seluruh kekayaan Akashi padanya, orang yang kini menjadi kepercayaannya, satu-satunya tonggak hidupnya.
Seijuurou tak punya anak yang mau mengurusnya, tak pula istri yang menemani. Hidupnya hingga kini ia sudah berusia tujuh puluh tahun, tempat di sisinya masih kosong belum dihuni. Tepatnya, belum ada yang mampu mengganti sosok Kouki di hati.
Ah, wanita itu memang tak terganti. Seijuurou hanya menginginkan Kouki, bukan yang lain.
"Tetsuya," suaranya serak dan lirih, susah keluar, tapi Seijuurou memaksakan.
Pemuda bersurai biru langit mengalihkan matanya dari jendela yang menghadap pada pohon sakura di luar, mendekati Seijuurou, "Iya, ada apa, Seijuurou-jisan?"
Seijuurou terlihat menerawang ke atas langit-langit kamar, matanya yang lelah mengerjap beberapa kali. Satu helai kelopak sakura menerobos masuk melewati jendela yang dibiarkan terbuka. "Apa Kouki ... belum ke sini juga?"
"... belum, jisan."
"Begitu?"
Tetsuya menghela napas panjang, menarik kursi agar ia bisa duduk menghadap pamannya, "Jisan sudah bertanya empat kali dalam kurun waktu satu jam ini," meski nadanya datar, ada perasaan getir yang tak ditampakkan. Hanya saja, Seijuurou terlalu lelah untuk menyadari.
"Benarkah?" tanyanya, memilih untuk menatap manik biru laut yang membuat hatinya sedikit tenang. "Padahal, ini hari pernikahanku—pernikahanku dengannya."
Tiga puluh tahun lalu, tepat di hari di mana Kouki pergi meninggalkannya lagi, Seijuurou mendapat kabar bahwa wanita itu sudah melayang ke negara lain bersama suami dan anaknya—tuntutan pekerjaan sebagai seorang fotografer kondang dan prominen membuat Ryuuhei tanpa pikir panjang menerima tawaran untuk melanglang buana di dunia yang lebih luas, menggali bakatnya lebih dalam, mencari lebih banyak pengalaman.
Di telepon, Kouki terdengar bahagia, senang karena bisnis butiknya memiliki kesempatan gemilang di luar sana—apalagi karena ada bantuan dari model kenalannya di negara adidaya itu. Seijuurou, tak mampu mengatakan apa-apa. Ingin, ingin sekali rasanya berteriak dan mengancam Kouki untuk tak pernah melangkah terlalu jauh darinya—sayang, hatinya terlampau hangus terbakar, habis, hingga Seijuurou tak mampu memberikan respon lain selain ucapan selamat dan hati-hati di jalan.
"Kupikir ... Kouki—dia, hatiku ... akan dikembalikan pulang."
Sekali, nekat terlintas di benaknya, mengabaikan dokumen-dokumen yang menumpuk, ceramahan asisten dan sekretaris yang sama sekali tak digubris, tatapan-tatapan skeptis dari kepala eksekutif lain, dan pergi memesan satu tiket pesawat yang akan menerbangkannya ke Amerika.
Tapi, jika ia sudah ada di sana, apa yang akan dilakukannya? Menarik Kouki? Memaksanya pulang kembali ke Jepang? Membuatnya menangis karena dipisahkan secara kejam dari suaminya—dari anaknya, Ryou? Dari cintanya?
Tidak, tidak—Seijuurou bisa berbuat jahat, memang. Namun, membayangkan Kouki yang kembali menjadi Kouki yang dulu ketika bersamanya, Seijuurou tak mau.
Seijuurou ingin Kouki mencintainya, bukan karena keharusan, tapi kemauan. Bukan karena paksaan, tapi perasaan. Bukan karena Seijuurou, tapi karena ... Kouki sendiri lah.
Meski sampai sekarang keinginan itu masih terkubur dalam, bintang permohonan Seijuurou tetap berpendar terang.
Walaupun setitik, bagai sebutir pasir di pantai yang luas, setidaknya, masih ada kesempatan, bukan?
Dan, rencananya untuk kabur ke Amerika, sampai sekarang hanyalah imaji belaka dalam otaknya, guyonan yang sama sekali tak lucu didengar.
Tetsuya tak menatap Seijuurou. Ia tak mau melihat keajaiban meredup di depan matanya sendiri. Jari jemarinya saling mengait di atas pangkuan—jauh dari pandangan mata heterokromatik milik pamannya, bergerak tak nyaman, gelisah. Ada perasaan tak enak yang menjalari tengkuknya. Rasanya seperti bulu kuduknya di sana meremang, sesekali dingin menggigilkan, sesekali panas membakar. Tetsuya tak suka perasaan itu. Jantungnya tercekat, membuatnya merintih menahan sakit di balik napas yang diinhalasi.
"Aku ... ingin bertemu Kouki." Seijuurou beralih kembali menatap langit-langit ruangan, seakan hanya itulah obyek yang pantas kedua iris berbeda warna itu perhatikan.
"Iya, jisan, nanti bertemu." Tetsuya sendiri tak tahu kapan.
"Matanya ... indah—kau tahu?"
Mengangguk pelan sebagai jawaban, Tetsuya membalas, "Aku pernah lihat fotonya."
Seijuurou menyunggingkan senyuman tipis, hanya tarikan kecil di kedua ujung bibir, membuat kerutan di sana semakin terlihat jelas, "Spring?"
"Iya."
Selain suara dentingan mesin yang menyala konstan, atau tetesan air yang bergilir berjatuhan dari botol infusan, mengalir melalui selang-selang yang tertancap di pergelangan tangan kanan, kekehan halus terdengar menyapu sunyi di ruangan.
Tetsuya sama sekali tak berbohong. Dibekali rasa penasaran mengapa pamannya ini setia melajang, tak mengacuhi perintah tetua keluarganya untuk membuat penerus Akashi kelak, Tetsuya mengunjungi galeri foto milik Kasuga Ryuuhei.
Di sana, ia melihatnya, terpampang bangga dengan pigura terindah, nyalang berdiri di tengah ruangan, foto seorang perempuan dengan balutan kimono dan memegang wagasa merah, menatap ke atas—di mana sepucuk sakura sedang berjuang merekah, lengkungan serupa sabit malam mengiasai parasnya. Bukan latar belakang pohon kebanggaan Jepang lah yang menarik perhatian Tetsuya, atau bagaimana motif indah mengukir di atas kain kimono yang dikenakan, melainkan sorot mata itu—memancarkan kebahagiaan yang membuncah.
Bahkan, melalui potret klise saja, Tetsuya mampu merasakan realisasinya.
Kouki, wanita yang menyukai kesederhanaan. Sesimpel itulah, maka afeksi yang ia tampakkan tulus berdasar dari dalam hati.
Pantas saja, Seijuurou sampai cinta mati.
Kalau Tetsuya lahir lebih awal dan diberi kesempatan bertemu dengan obyek musim semi ini, sudah pasti hatinya ikut dibawa lari.
Seijuurou tiba-tiba terbatuk hebat, membuat Tetsuya melonjak dengan irama napas penuh kecemasan. Ditepuknya punggung pria tua itu hati-hati sebelum kembali dibaringkan di atas kasur.
Tetsuya langsung beranjak ingin menutup jendela yang terbuka, mengibarkan tirai merah bata. Namun, Seijuurou mencegahnya lebih awal, katanya, "Jangan. Aku menunggu musim semiku, biarkan terbuka." Tetsuya kembali duduk.
Selalu ada saat di mana Tetsuya ingin membawa Kouki ke ruangan ini, mengabulkan mimpi pamannya yang sampai sekarang belum terwujud. Melihatnya bahagia, melihat matanya memancarkan cinta. Karena, ia mengerti, setelah mendengar cerita dari ayahnya—cerita yang sudah lama sekali, sayangnya ia tak diberi tahu. Yang jelas, Seijuurou yang terbaring ini bukanlah seorang Seijuurou.
"Tetsuya?"
Mendongak, pemuda berkulit pucat dan rambut pendek lazuardi itu mendekati wajahnya, berusaha menangkap suara lirih yang parau itu dengan jelas. "Iya, jisan?"
"Apa Kouki ... belum ke sini juga?"
Bolehkah, bolehkah Seijuurou masih berharap? Setidaknya, sebelum ia lenyap, biarkan mata ini melihat Kouki untuk yang terakhir kali. Karena ia merasakan dirinya melemah. Rasanya seperti terambang di atas lautan. Perlahan, semakin ke bawah, semakin berat, semakin tak bisa bergerak. Semakin memudar, semakin menghilang, semakin jauh dari permukaan.
"... belum, jisan."
Seijuurou nyaris tenggelam.
.
.
.
"Kaasan yakin tak mau diantar olehku?" Pemuda bersurai imitasi coklat tanah menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, memperhatikan wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi depan jendela besar yang menghadap ke pekarangan rumah.
Wanita itu menoleh ke belakang, syal merah mata semakin dikeratkan pada tubuhnya yang semakin kecil dan lemah. "Bukannya kau dipanggil sekolah Satsuki-chan lagi, Ryou?" Senyuman geli melengkung, bersamaan dengan guratan tipis di wajah yang mengerut.
Ryou mendengus lemah, rambutnya diacak-acak agak kasar, "Pasti ulah anak Aomine itu, selalu menarik Satsuki ke dalam masalah. Ini sudah yang ketiga kalinya, padahal Satsuki baru pindah satu bulan. Kenapa jadi aku yang harus minta maaf? Mereka kan sudah besar."
Tawa lemah mengalun, Ryou merona malu.
"Benar kaasan tak mau diantar?" tanyanya sekali lagi, kini berjongkok di depan ibunya sambil mengadahkan kepala.
Tangan mungil mengelus lembut surai senada, merapihkan cuatan yang tadi diciptakan tanpa sengaja. "Ayahmu mau menemani. Aku lebih suka naik kendaraan umum."
"Ya sudah kalau begitu. Aku berangkat dulu, kaasan," Ryou berdiri dan mengecup pipi wanita itu, sebelum menghilang di balik pintu, dan menjauh bersamaan dengan suara mesin mobil yang semakin mengecil.
Kouki tak lagi seperti dulu. Cuaca yang tak terlalu dingin saja mampu membuat badannya mati rasa. Ryuuhei tak pernah lupa mengingatkan untuk selalu memakai jaket—bahkan jika saat itu sedang musim panas. Ia tak lagi sanggup bergerak banyak, atau menghabiskan waktu di luar rumah.
Dua bulan yang lalu, ketika akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali ke Jepang, Kouki sakit selama beberapa hari karena terlalu lelah. Untungnya di Jepang tak sedingin Amerika.
Berbicara tentang Amerika, butiknya di sana sukses seperti apa yang ia impikan. Banyak yang mulai merekognisi dirinya sebagai perancang busana dengan ciri khas tersendiri. Labelnya adalah Crimson Blossom, terkenal dengan warna merah yang mendominasi tiap karyanya dan juga bunga mekar sebagai coraknya. Rahasianya seorang saja mengapa Kouki begitu terpesona dan sangat mengagumi warna yang dimaksud.
Ryuuhei juga, sudah puas mendapat banyak penghargaan. Ryou, melanjutkan jejak sang ayah sebagai fotografer. Bedanya, ia masih belum seberani sosok Ryuuhei dalam menumpahkan kegemarannya dalam memotret.
Dikaruniai seorang cucu yang sangat jelita—Kouki begitu senang mendengar Satsuki ingin menjadi perancang busana sepertinya. Julukan yang pernah disandangnya dulu—Crimson Blossom—memang pantas diberikan pada gadis serupa permen karet yang selalu ceria itu.
Mereka, hidup bahagia. Anak yang sukses, menantu yang mau bekerja sama, cucu yang sangat disayang. Kouki sangat senang karena dirinya dilimpah ruah oleh cinta yang tak terbatas.
Hanya saja, ada satu yang kurang.
Satu hal itu selalu mengganjal hatinya. Perasaan aneh yang ia sendiri awalnya tak tahu apa—namun akhirnya, Kouki sudah menemukan jawabannya.
Kini, Kouki tengah bersiap menghadapi kejanggalan itu. Ingin agar hatinya tenang kembali.
Ya, ini pilihan yang tepat. Karena Kouki merasa jantungnya berpacu kencang, darahnya berdesir tak terkendali. Perasaan yang sama seperti dulu. Seperti saat ia pertama kali bertemu dengan—
Akashi Seijuurou.
"Kouki, kau siap?"
Berdiri, Kouki menerima uluran tangan suaminya yang ingin membantunya berjalan. Ia melayangkan senyuman terimakasih yang dibalas kecupan di puncak kepala. "Anata, aku akan menemuinya—tak apa-apa?"
Ryuuhei tertawa kecil, membiarkan Kouki mengalungkan tangannya di lengan kanannya, "Kau selalu ingin melihatnya. Kenapa aku melarang?"
Oh, betapa Kouki merasa beruntung mendapati Ryuuhei di sisinya selama ini. Pria itu selalu mengerti, selalu memahami dirinya. Itulah kenapa Kouki mencintainya.
.
.
.
Seijuurou menutup kedua kelopak matanya. Wangi bunga sakura membuatnya tenang dan ingin beristirahat sejenak, menikmati sunyi di dalam ruangan yang selalu menemaninya. Tetsuya sedang tidak ada. Pemuda itu bilang ada keperluan mendadak di perusahaan. Seijuurou memaklumi saja. Ia pernah merasakannya dulu.
Tiga jam sudah terlewat semenjak suara Tetsuya tak mengajaknya berbincang. Ia dapat merasakan semilir angin semakin mendingin, menandakan sore sudah menjelang. Kalau malam tiba, dan berganti menjadi hari yang baru, Seijuurou sudah mantap dengan kata-katanya.
Ia akan menyerah dengan semua permintaannya. Melupakan dan merelakan Kouki. Selesai. Dan pada akhirnya, ia akan tertidur nyenyak.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka mengetuk pendengaran Seijuurou. Ia tak membuka matanya, karena tahu kalau hanya satu orang kecuali beberapa perawat saja yang masuk ke dalam. Tanpa ragu, Seijuurou membuka mulutnya, berkata, "Tetsuya, sudah selesai?"
Alih-alih mendapat jawaban, yang terdengar hanyalah langkah kaki ringan yang mendekat. Lalu, suara kursi ditarik.
Tak ada yang aneh selain aroma sakura yang selalu menghiasi ruangan ini sejak pagi. Tetsuya juga bukanlah seorang yang suka memakai wewangian dengan bau mencolok. Jadi, Seijuurou tak curiga. Terkadang, pekerjaan kantoran seperti itu memang membuat capek.
"Akashi-san."
Kecuali, kalau yang duduk di sampingnya bukanlah Tetsuya. Entah ironis atau kebanggaan tersendiri, bagaimana mungkin Seijuurou lupa suara itu. Suara yang selalu menghantui pikirannya. Suara yang selalu ia bayangkan jika sedang menatap ponselnya, membuat skenario dalam imajinasi tentang percakapan yang tak pernah ada.
"Kouki?" Kedua matanya terbuka. Seijuurou memalingkan kepalanya ke samping dan melihat Kouki tersenyum ke arahnya.
Ah, senyum yang sama. Seperti dulu. Bukan senyuman hambar yang selalu Kouki tunjukkan selama tiga tahun pernikahan mereka. Itu adalah senyuman yang menyimpan banyak kenangan di dalam benak Seijuurou. Senyum yang ... ingin sekali ia lihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Yang ingin dilihat oleh Seijuurou sendiri.
Senyuman yang membuat Seijuurou jatuh cinta.
Beginikah rasanya jika karma sudah berakhir? Hukuman bagi Seijuurou ternyata berbuah manis. Meski hanya sekedar saling menatap bola mata masing-masing, bagi Seijuurou itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, bintang permohonannya tak lenyap sia-sia. Setidaknya, Seijuurou mampu bertemu lagi dengan Kouki.
Bahkan sampai dihadiahi senyuman itu? Seijuurou sangat, sangat berterimakasih.
"Bagaimana kabarmu?"
"Jauh lebih baik. Kau sendiri, Kouki?"
"Um, sama."
Walau selang-selang ditancapkan dengan jarum, mesin-mesin mengkhianati kata-katanya, Seijuurou tak bohong saat dia bilang setelah Kouki datang, ia merasa seperti dulu lagi.
Mereka bercengkrama bagai kawan lama. Tak ada kecanggunan. Semua mengalir lancar. Kouki menceritakan cucunya yang sudah masuk sekolah menengah atas, kalau sudah besar nanti akan melanjutkan bisnis butiknya. Bagaimana Ryuuhei dianugerahi banyak penghargaan dan Ryou sedang dalam proses mengasah bakat fotografinya—sesekali masih bermain basket dengan teman-temannya.
Seijuurou hanya diam mendengarkan. Ia sudah cukup puas mengetahui kalau selama tiga puluh tahun tak berada di sisi wanita itu, Kouki ternyata bahagia.
Akhirnya, Seijuurou tersenyum dari hatinya.
Tiba-tiba, Kouki mencengkram tangannya kuat. Matanya berbinar, air mata sudah menggenangi pelupuk. Seijuurou ingin bertanya kenapa, memeluknya, menenangkannya, tapi Kouki sudah lebih dulu mengatakan alasannya. Kalimat yang membuat napas Seijuurou tercekat.
"Kau kembali, Sei."
Sei. Sei. Sei. Bukan lagi panggilan formal seperti Akashi-san atau Seijuurou-san.
"Kau ... Sei—"
Dan, Seijuurou juga melihatnya. Jelas terefleksi di binar mata Kouki yang basah. Kedua matanya ... adalah sepasang rubi yang indah.
"Sei, kau kembali—kau sudah pulang. Syukurlah ... syukurlah," kata terakhir Kouki ucapkan bagai mantra sambil terus mengusap ibu jarinya di atas punggung tangan Seijuurou, pipinya basah, air mengalir sampai ke dagu, jatuh, merembas masuk ke dalam kasur yang berada di bawah.
Pulang? Kembali? Selama ini, memang Seijuurou berada di mana?
"Aku senang, Sei, sangat ... sangat bersyukur."
Sudah lama? Ya, Seijuurou baru ingat—bodohnya ia.
Selama ini, dia ada di mana? Kenapa baru kembali?
"Syukurlah ..."
Lamat-lamat, Seijuurou menggerakkan tangannya, berusaha meraih wajah Kouki, menghapis bulir-bulir air mata yang tersisa. Pelan, sangat pelan. Berhati-hati, seakan-akan yang disentuhnya adalah boneka porselin yang sangat rapuh.
Kulitnya halus, seperti dulu,
Terasa sangat kontras dengan jari-jemari Seijuurou yang kasar—
—seperti dulu.
Kouki bangkit dan menunduk di atas Seijuurou, mengecup keningnya lama dan dalam, mengalirkan perasaan rindu yang akhirnya dilepas. Seijuurou merasakannya, sampai-sampai hatinya menghangat. Kepalanya terasa ringan.
Seperti ada sesuatu yang sudah terangkat dari pundaknya.
Nyaris membuatnya melayang.
"Aku ... pulang, Kouki."
Kecupan itu turun ke atas hidung, tulang pipi, dan akhirnya Kouki berhenti sejenak sebelum mendaratkan bibirnya di atas kelopak Seijuurou yang menutup. Keduanya.
Keinginan terakhir Seijuurou adalah melihat Kouki. Sekarang, ia sudah bertemu dengannya. Bolehkah Seijuurou kembali? Semua harapannya terkabulkan. Cukup. Ia sudah merasa puas.
Setidaknya, sampai detik hidupnya yang terakhir, Kouki ada di sampingnya. Menemaninya.
Bersamanya.
Ah, ya—Seijuurou jadi ingat. Alasan kenapa ia mau menikahi Kouki.
Karena, karena Seijuurou ... mencintai wanita itu.
"Tidurlah yang nyenyak, Sei."
Seijuurou tertidur lelap dengan Kouki masih menggenggamnya.
Selesai sudah.
Ia bahagia, karena musim semi datang berkunjung.
Musim seminya.
Koukinya.
.
.
.
おわり
(A/N: Shitshitshit. Ini failed banget. Karena saya freak dan saya nangis sendiri pas bikin chapter ini, jadi gagal begini :''''I huhuhhuhu...
-nju)
