.

Lemonade

.

Hari pertama bagi Sehun dengan status berbeda.

Entahlah, rasanya seolah tak terjadi apapun kemarin. Liquid hitam pekat dalam mug menebar aroma harum khas yang menjadi favoritnya beberapa tahun belakangan.

Hm…

Ia menyesap perlahan liquid hitam tersebut, mencecap pahitnya lamat-lamat kemudian menelannya dalam tegukan lambat. Rasa pahit itu tertinggal di lidah. Sepahit ingatan semalam yang menamparnya begitu keras sampai-sampai membuat mata mengabur.

Memilih adalah sesuatu yang sulit.

Seringkali menemukan dilemma terkadang membuatnya ingin kembali ke masa lalu. Merubah keputusan yang sudah ia ketahui kemana akan bermuara. Lalu menata kembali jalan hidup sesuai keinginannya Tapi… itu hanya sejenak mengingat ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menyesali apapun pilihannya.

Luhan

Katakanlah ia pemuda terbodoh di dunia karena berlaku kejam pada orang-orang yang menyayanginya. Andai perkataan tidak perlu kontrol, dia akan memuntahkan keinginan satu-satunya pada dunia. Dia ingin menggenggam mawar berduri tanpa perlu terluka sedikitpun.

Apa itu bisa?

Mawarnya tak berduri. Tapi takdir Tuhan menumbuhkan duri di mawarnya.

.

.

.

Soo An tidak canggung menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Sejujurnya sarapan itu dibuat berdua dengan istri Luhan. Empat piring nasi goreng Beijing buatan Chao dibantu Soo An tersaji apik juga menggugah selera. Terlihat dari bagaimana Soo An seperti tak sabar untuk segera melahapnya. Kkkk…

"Aku akan memanggil Sehun. Anak itu lama sekali."

Bola mata Chao membesar. Kilat, ia memegang pergelangan tangan Soo An erat. Jantungnya berdegup saat melakukan itu, telapaknya mendingin. Ada sebuah kecemasan tergambar tapi musnah seketika begitu menemukan Soo An menatapnya tak mengerti.

Oh, dia gugup sekarang.

"Biar aku saja membangunkan mereka berdua."

Chao Xing terlalu fokus dengan kegelisahannya tanpa memperhatikan wanita lain yang termangu karena perkataannya barusan.

"Berdua?"

.

.

Sehun menggelung diri dalam selimut, memeluk Luhan yang tidur memunggunginya. Pemuda baya dalam pelukannya begitu lelap. Wajah imutnya berkilat diterpa bias matahari yang menerobos lewat jendela. Hahh… saat-saat yang dirindukan dan jarang sekali terjadi. Tahun-tahun mereka lewati oleh jarak. Dan Sehun selalu terkesan dengan segala kejutan yang kerap Luhan beri padanya.

Kenapa Luhan begitu menggemaskan?

Kenapa Luhan begitu indah?

Dan kenapa Luhan menerima dirinya yang bodoh ini?

Erangan halus menyadarkannya dari lamunan. Bulu mata lentik nan lucu itu membuat Sehun semakin gemas. Pemuda ini lebih dewasa empat tahun darinya. Tapi kenapa justru dirinya terlihat seperti seorang kakak untuk Luhan?

"Aaa kiyo~"

Sehun mengecup berulang-ulang pipi Luhan yang agak berisi. Pemuda itu mengerang tak suka sambil menjauhkan Sehun dari wajahnya.

"Hentikan."

Luhan menahan wajah Sehun dengan kedua tangannya yang terlihat begitu mungil. Ia mengerjap-ngerjap untuk membiasakan cahaya yang berlomba menusuk mata. Tapi terhalang oleh Sehun yang masih tersenyum-senyum gemas dengan kedua tangannya diwajah pemuda itu.

Dasar merepotkan.

"Kau sudah bangun?" pasrah, Luhan membiarkan Sehun menggesek wajahnya ke pipinya. Seperti anak kucing dan itu membuatnya agak risih. "ya! Jangan menempeli begitu."

Tawanya pecah melihat Luhan marah dengan ekspresi yang sangat lucu. Sehun menarik Luhan tanpa perduli pemuda itu meronta karena hei! Kesadarannya masih seperempat dan Sehun berhasil mengganggu acara bangun paginya yang manja -,-) abaikan yang terakhir.

"Oh bagus sekali. Terus saja menggelayutiku seperti anak kucing. Dasar maniak," umpatnya sembari menoyor-noyor dahi Sehun tak sopan,"kemana ibumu heh, kucing nakal?"

"Kau ibuku."

Luhan tak segan menarik kedua telinga Sehun, garang. Oh ia benci sekali dengan sebutan itu. Bukan soal dirinya yang manly atau apalah. Sederhananya, ia laki-laki dan sebutan 'ibu' hanya untuk perempuan yang memiliki rahim, bisa mengandung juga melahirkan seorang anak. Bukan lelaki sepertinya -_-

Sehun masih meronta. Tanpa Luhan sadari posisi dirinya sekarang, yang menduduki perut Sehun.

"…"

Ini buruk. Dengan hanya mengenakan celana dalam ketat apalagi bertelanjang dada tepat didepan Sehun sama saja membangunkan nafsu pemuda itu. Dan oh sial! Ereksi langganannya dipagi hari ternyata belum hilang. Luhan meneguk saliva kasar ketika merasakan telapak besar Sehun memegang pahanya sambil memandang dirinya intens.

"Sehu- kya!"

Bytheway, agak sedikit kotor.

Bukan berarti pasrah, tapi sulit untuk menolak. Sehun yang terangsang adalah Sehunnya yang paling seksi diantara mode Sehun lainnya. Kecupan-kecupan terasa panas. Sapuan lidah menggelitik. Remasan menggairahkan. Dan gesekan manja dibawah sana melemahkan untuknya. Terasa tidak adil ketika dirinya yang juga lelaki justru menyerah cepat sembari mengangkangkan kaki, menerima kesejatian Sehun mengisi dibagian tengahnya.

Seharusnya Luhan ingat dimana mereka berada sekarang. Kh… ini menjadi terasa tidak masuk akal.

Satu jam dipagihari untuk kegiatan morning sex. Luhan kesal harus kembali terbaring didada bidang telanjang Sehun dalam keadaan polos. Juga bokongnya yang sakit.

"Kita keluar sekarang? Ist―mmh," ucapannya terhenti oleh kecupan Sehun. Ah tidak… Sehun tidak hanya berhenti dengan kecupan, tapi juga lumatan-lumatan sepihak dimana Luhan kewalahan untuk membalas. Nafasnya terengah-engah.

"Mandilah."

Sehun beranjak dari tempat tidur kemudian memakai pakaiannya dengan cepat. Meninggalkan Luhan yang sempat termangu sebentar sambil memegangi bibirnya yang basah. Entahlah, Luhan seperti tidak menemukan kehangatan yang seperti biasanya. Apa Sehun tak menyukai perkataannya barusan?

Sudahlah. Semua sudah terjadi. Luhan sedang menyibak selimut sebelum pergerakannya terhenti saat mendengar Sehun berbicara dengan seseorang begitu membuka pintu kamar.

"Chao Xing? Apa yang kau lakukan disini?"

.

.

Fin.