"I was as pure as a river,

But now I think im possessed

You put a fever inside me"

Halsey – Haunting

.

.

.

Author POV

Donghae tidak mengenakan seragam hijau—seingatnya Donghae berganti pakaian kehitam-hitaman menjadi merah pucat dan mempersilahkannya duduk—dan kehadirannya membuat sekujur tubuh Hyuk Jae merinding keenakan. Seperti halnya pesona dasar pria berkepala tiga yang kental dengan nuansa kepriaannya, serta aksen yang mengada-ada seksinya, berambut tebal, bermata kelabu yang sebenarnya cokelat, dan suka memerintah itu. Oh ayolah, dia senang diperintah oleh Donghae, diberikan aba-aba dan didisiplinkan, dan pria semacam Donghae membuatnya berkunang-kunang, beginilah pria yang diidam-idamkan oleh Hyuk Jae. Kalaupun dulunya Hyuk Jae pernah berkencan dan tidur bareng dengan pria berkepala empat dan jutawaan lainnya, tidak ada yang semenggairahkan Donghae. Dan bila itu diterjemahkan ke dalam suku kata yang lemah gemulai tanpa mengundang provokasi, Donghae adalah biduan yang sosoknya dieluk-elukan olehnya. Kulitnya yang tembaga dan berkilau.

Hyuk Jae memijat lengan Donghae, memeluknya dan bergelayutan, tetapi Donghae seperti mati rasa, sehingga Hyuk Jae mendesah dan mengulang aksi nakalnya, akhirnya yang kedua kali Donghae luluh kepada godaan Hyuk Jae. Hyuk Jae memijat dada Donghae dan duduk di pangkuannya, berputar-putar searah jarum jam seperti gangsing. Donghae dibuat pusing tujuh keliling karenanya. Donghae membalas ciumannya, namun sedetik Hyuk Jae akan menanggalkan pakaiannya, Donghae menangkap lengan Hyuk Jae yang separuh miliknya, menciumnya, tetapi tidak membiarkannya bergerak. Donghae memiliki kontrol penuh atas gerakannya yang sensual, jadi Hyuk Jae berhenti sebab Donghae tampak tidak terhibur.

"Aku tidak tahu apa salahku sekarang," kata Hyuk Jae. Agaknya tersinggung. Bulu matanya yang obsidian dan mengkilat berkijap-kijap, membuka lagi, dan menutupnya. Merasa seutuhnya diacuhkan.

Donghae tersenyum, Hyuk Jae menyadari senyumannya tanpa harus melihatnya. "Aku ingin kita punya waktu yang berkualitas, bukan untuk bercinta, tetapi membahas kelanjutan hubungan ini."

Donghae kedengaran normal sebagaimana maksudnya, tetapi Hyuk Jae merasa Donghae memiiki niat licik yang terselubung, seperti serigala berbulu domba yang bermain kata-kata dan menyudutkan, yang memiliki semacam motif kejahatan. "Donghae, aku tidak mau putus denganmu." Ungkapan hati Hyuk Jae menuai kekehan, tetapi tawa Donghae tidak bisa mengubah suasana hatinya yang muram. "Aku serius."

"Aku tidak bilang begitu," lanjut Donghae, sebelum akhirnya mencium bibir Hyuk Jae yang cemberut. "Aku tahu ini separuh kejam untukmu," Donghae berkata lagi. Kemudian menciumnya untuk kesekian kalinya, dan Hyuk Jae tahu ini berkaitan dengan Henry, Donghae, serta Hyuk Jae. Segenap ketakutan dan pedihnya hati membuatnya gelisah. "Aku tidak mau kau berpikir macam-macam."

Sekadar bernapas sulit buatnya sebab Donghae terlanjur mengatakannya. Persisnya Hyuk Jae termakan oleh perkiraan-perkiraan dan praduganya. Hyuk Jae menyahuti Donghae menggunakan kekasaran di ujung kalimatnya, tetapi masihlah enak didengar. "Katakan."

"Tidak." Donghae sejatinya tahu Hyuk Jae akan diserang kemurkaan.

Hyuk Jae mengelus wajah Donghae, berputar-putar di pipinya, Donghae seperti kijang pemalu yang ditangkap oleh lampu sorot, tetapi sebenarnya cerdik dan tengah memikirkan serangan balasan dari pusat tanduknya yang tajam dan siap menggores luka di permukaan kulit Hyuk Jae yang putih mulus. "Donghae—katakan padaku, kalau sebenarnya kau tidak sedang memikirkan apa yang kupikirkan."

Bagus, Donghae seperti pria yang kelihatan taringnya, yang tidak disenangi oleh Hyuk Jae namun Hyuk Jae sudah jatuh hati padanya, sampai tidak ada yang bisa diperbuatnya. "Mungkin aku Hyuk Jae, well, ya, kau tahu." Donghae pura-pura merenung lagi, dan wajah minim dosanya ingin sekali dipukuli Hyuk Jae. "Aku sendiri tidak percaya kalau aku bisa memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinannya."

Istilah-istilah selanjutnya kedengaran asing sekali—Donghae bilang aku berulang kali, tidak pernah, oke, semacam itu, well, bahkan, memang, apakah benar—dan Hyuk Jae merasa di ujung dunia. Sambil bernapas dengan bijak tanpa beralih posisinya yang miring ke wajah Donghae, Hyuk Jae mententramkan kegundahannya dengan menatap kejujuran yang ada di diri Donghae, tetapi kebohongannya menjadi dalih atas keyakinan hati Hyuk Jae. Bahwa Donghae memanglah tidak ada bedanya dengan jalang-jalang yang pernah ditidurinya, yang laki-laki maupun perempuan, munafik dan penuh dengki, yang tidak bisa menerima sumber penghidupannya, bahwasanya mereka hanya menginginkan tubuhnya semata. Dan bila Hyuk Jae kedengaran seperti sampah masyarakat yang tengah beromong kosong dan suka memulai masalah, Hyuk Jae berani jamin bila pria ini penuh dengan kemaksiatan. Bangsat, katanya di dalam hati, memaksakan dirinya untuk tersenyum dan membelai Donghae dengan tulus.

"Jangan katakan," akunya.

"Tidak," sanggah Donghae yang sukar dipercaya Hyuk Jae. Donghae tidak hanya tengah memikirkannya saja, tetapi dia memang ingin mengaplikasikan kebusukannya itu. "Dengarkan dan tenanglah," bisik Donghae, memegangi Hyuk Jae yang bergetar kesetanan, nyaris pingsan, tetapi dia memang sungguhan ingin pingsan. "Hyuk Jae, diam! Ya ampun!"

Hyuk Jae bangun dari pangkuan Donghae, namun Donghae menjatuhkannya lagi, dan Hyuk Jae tidak berdaya. "Hentikan."

Donghae meminta kesempatan supaya diberikan haknya untuk bicara, tetapi Hyuk Jae duluan histeris, sampai Donghae harus berteriak untuk menghentikan kegilaannya. "Sayang!"

Hyuk Jae meninju Donghae. "Jangan katakan!" teriaknya, sepenuhnya berada dalam pengaruh halusinasi akut yang berbahaya, tetapi karena Donghae sudah tersinggung, dia melangkah mendekati Hyuk Jae, menahan sakit yang berdenyut karena pukulannya yang lumayan keras, untungnya Donghae tidak suka mendendam, jadi dia hanya memberikan perlawanan dengan mendesak dan menakut-nakuti Hyuk Jae, sama sekali menghindari pembalasan berupa luka fisik.

"Hyuk Jae, kau sialan, dengarkan aku!" Donghae menekan saraf Hyuk Jae dan pria itu otomatis lumpuh. Namun kesakitannya tidak bisa dibandingkan dengan sakit yang diterima Donghae. "Sekali lagi kau pukul aku maka habislah kau!" tiada bohong akan ancaman Donghae. Hyuk Jae meringkuk di atas lantai, berlutut, memeluk kakinya, bergaya menyerah dan putus asa. Dan Donghae tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Donghae berjongkok, membuka tangannya, memusatkan seluruh indranya kepada Hyuk Jae. "Aku sudah memberikan apapun kepadamu jadi mari balas air susu dengan air susu!" Hyuk Jae menghadapinya sekuat tenaga, walau tangisannya berlinang, amarahnya meluap-luap sehingga dia balas makin menggertak.

"Aku tidak akan mengorbankan apapun untuk bersamamu." Hyuk Jae kehilangan kontrol emosinya, jadi dia nyaris melukai Donghae untuk yang kedua kalinya, hebatnya Donghae sigap menghindar. "Ujung rambutnya sekalipun."

Ganti Donghae yang berapi-api, Donghae menekan pipi Hyuk Jae. Rahangnya menyatu dalam genggaman Donghae yang kian menyempit tiap detiknya, hingga Hyuk Jae dibuat hampir kehilangan seluruh napasnya, dan Donghae sama sekali tidak mau kalah. Lehernya nyaris patah!

"Aku tumpahkan darahku untukmu, maka sekarang adalah giliranmu!" Sewaktu Donghae melepaskannya, Hyuk Jae mengambil napas sebanyak-banyak, sebanyak kerongkongannya membesar dan Hyuk Jae terbatuk-batuk, tetapi dia bisa apa membalas perlakuan Donghae yang tidak manusiawi.

"Aku mencintaimu tetapi Henry adalah segala-galanya untukku!" Donghae akan menendangnya untungnya Donghae menyadari tangisan Hyuk Jae yang pedih dan tidak dibuat-buat. "Aku tidak bisa melepas Henry untukmu, begitupun sebaliknya! Tahukah kau sebetapa berartinya dia dalam hidupku? Tahukah kau betapa kejamnya dunia terhadapku tetapi Henry adalah luasnya dirgantara yang membawa banyak harapan? Yang tidak mungkin kutinggalkan cuma karena aku jatuh cinta! Hanya karena kekasihku merasa bahwa buah hatiku adalah ancaman untuknya!"

"Aku tidak sekalipun membencinya!"

"Kau membencinya Donghae!"

Donghae menghusap-husap wajahnya yang penuh keringat, marah, lelehan airmata, dan perasaan hampa. Mereka terhempas menjadi satu dan Donghae dikuasai murkanya. "Aku tidak pernah bilang bahwa kau harus meninggalkannya. Aku hanya ingin kau dimiliki olehku sepenuhnya, begitulah kita seharusnya."

"Kau sudah menjerumuskanku dan bermain kotor!" Kemudian Hyuk Jae menekan hatinya yang berdenyut. "Donghae kau seharusnya tahu seberapa bodohnya kau sekarang!"

Donghae menekan bibir Hyuk Jae, ingin membuat komentar kejahatan Hyuk Jae akan dirinya sirna selama-lamanya, tetapi Donghae tidak ingin kekasihnya ini mati, sehingga dia melepaskannya semenit Hyuk Jae menggigit telapak tangannya hingga berdarah. Dan Donghae setitikpun tidak merasa nyeri oleh perih yang ditinggalkannya. "Kau boleh menjenguknya seminggu sekali," katanya bernegosiasi.

Hyuk Jae terperangah, sepenuhnya keberatan dan merasa ditekan oleh penyakit kejiwaan serius. Dimana kemarahan dan airmata beradu, dan Hyuk Jae merasa telah dikhianati oleh seluruh dunia sebab sudah percaya bahwa Donghae adalah pria satu-satunya yang mampu membuatnya berbunga-bunga. Tatapan penuh kebencian Donghae kepadanya adalah tanda dari takdir buruk yang sebenarnya. "Donghae kenapa kau lakukan ini padaku?"

Donghae memalingkan wajahnya, merasa diintimidasi oleh kesakitan Hyuk Jae yang menginfeksi, dan dia meniru wajah yang pedih dengan baik, karena lihatlah betapa terlukanya Donghae sekarang, padahal satu-satunya pendosa yang telah menyesatkan Hyuk Jae adalah Donghae sendiri. "Aku ingin menikah denganmu, aku ingin hidup denganmu seorang."

"Kau pikir aku adalah gundik hina yang rela disembunyikan riwayat hidupnya sepanjang napasku, sayang?" Hyuk Jae mengamuk dan berwajah kelam. "Kalau kita menikah lalu apa? Apa yang membuatmu sampai memupuk dengki padanya? Apa yang membuatmu percaya kalau kita akan menikah?" tantangnya. Hyuk Jae terus memutar-memutari Donghae agar bisa melepaskan dirinya dari senyum jahat Donghae. "Apa yang membuatmu percaya kepada omong kosong busuk kalau aku akan meninggalkan Henry demi lansia bobrok sepertimu?"

Tendangannya yang menyakitkan tepat mengenai wajah Hyuk Jae. Tubuhnyanya tersungkur dalam posisi telungkup seperti mayat, dan perihnya berdenyut-denyut sampai kepala, namun Hyuk Jae urung berhenti. "Donghae aku tidak akan menikah denganmu!" Donghae memukulnya sekali lagi, kali ini Hyuk Jae hanya terhuyung-huyung, tidak sampai jatuh ke tanah. "Sayang, kau termakan iming-iming, kau itu busuk sekali!" Hyuk Jae mengatakannya di sela tawanya dan tangisannya. Hyuk Jae menghentakkan tangannya yang seperti patah tulang itu, mengayun-ayun dan lepek, dan Hyuk Jae histeris karena rasa sakitnya. "Kenapa kau naif sekali?"

"Hyuk Jae aku tidak sedang menyuruhmu untuk meninggalkannya." Donghae akhirnya menggunakan usaha alternatif supaya tidak ada yang terluka lagi. "Henry akan diasuh oleh salah seorang kenalanku yang bersahaja. Dia punya semua yang Henry inginkan, punya semua yang tidak bisa kau berikan kepadanya," yakin Donghae dan menggerus surai rambut Hyuk Jae. Di akar rambutnya terdapat setitik darah karena Donghae menghantam kepalanya secepat kilat, sehingga kecepatan itu menciptakan benturan dan luka lebam.

"Bangunkan aku kalau aku sedang bermimpi," Hyuk Jae diam-diam berusaha untuk menemukan titik lemah Donghae agar dapat mengubah pikirannya yang sesat, dan mereka tidak perlu putus, Hyuk Jae pula tidak harus kehilangan Henry, tetapi dia harus menjadi lebih dari emosional.
"Aku tidak mau ditinggalkan olehmu maupun oleh Henry." Hyuk Jae bahkan bersujud di kaki Donghae yang habis menendangnya. Dia sudah kehilangan akalnya!

"Oh sayang kemarilah," kata Donghae merasa bersalah, mencium luka gores di garis bibirnya yang berwarna murah muda pucat. "Jangan menangis," tenangnya. Hyuk Jae memeluk Donghae dan mengencangkan rangkulannya. Merasa di atas angin, bukan karena dia telah memenangkan pertengkaran, melainkan karena dia tidak harus melepas siapapun itu.

"Jangan pergi."

Donghae mengehela napasnya, ikut-ikutan merasa putus asa. Donghae tidak memiliki alternatif bijak lainnya selain mencari Ayah dan Ibu pengganti yang berderma dan murah hati untuk Henry. Asal kalian tahu kalau Donghae memiliki tenggang rasa penuh terhadap kelayakan hidup Henry semasa mendatang. Dan Donghae sudah menjadi pasangan hidup yang pengertian, buat Henry maupun Hyuk Jae, begitu pula dengan dirinya sendiri. Cakar-cakaran Hyuk Jae yang kebingungan seperti empunya tertanam di kulit Donghae. Donghae merasa lebih dari mati mendapati Hyuk Jae nyaris kehilangan kesadaran dirinya.

"Hyuk Jae sayang aku tidak akan memisahkan kalian berdua."

"Oh Donghae jangan mulai lagi!" ancamnya, mencoba untuk kabur dari pelukan Donghae, dan merasa takut.

"Dengar baik-baik aku tidak bohong," bisiknya selagi mengelus-elus kepala serta pundak Hyuk Jae bergantian, menenangkan ketegangannya. "Kau tidak akan dirugikan. Henry tidak akan dirugikan. Dia akan bersekolah di sekolah elit, bertemu denganmu setiap akhir pekan, menginap di sini, mencintaimu seperti dulu. Dan kau," Donghae menunjuk-nunjuk dada Hyuk Jae dengan jarinya selagi berpusat untuk mendapatkan hati Hyuk Jae, "Kau akan menikah denganku, diam-diam. Kita akan berjalan-jalan ke seluruh dunia, kau juga akan mencintaiku sepanjang hari, begitupula Henry," sambung Donghae meski sepenuhnya tidak yakin Hyuk Jae akan menaruh kepercayaanya kepada Donghae.

"Bagaimana aku bisa yakin kalau aku tidak sedang bermain-main dengan masa depan Henry?"

Donghae melangkah keluar dari kepanikannya dengan bahagia. Hyuk Jae sudah terpancing. "Aku dapat menjanjikan nyawaku kepadamu." Donghae mengatakannya bersama senyum yang seperti tadi, yang tidak dapat dipercaya, sekali lagi, picik.

"Dan bila kau mengikarinya?"

"Habisi aku."

.

.

.

Bagaimana akhirnya Buddha menghadapi kesakitan umatNya, seperti halnya Hyuk Jae berdoa untukmu? Tidakkah beginilah seharusnya Hyuk Jae memandang keberadaanNya, empat jam perjalanan dengan ilmu telepati, dan Hyuk Jae masihlah berada di bawah alam sadarnya, tetapi sesungguhnya ia belumlah mendapat ilham dariNya, yang dipuja-puja Hyuk Jae, tetapi masihlah pamrih untuk menampakkan diriNya yang ranum tetapi non-sensual itu. Peran seperti apakah ia bila dibutuhkan oleh penganutnya yang membutuhkannya?

Kumohon, Hyuk Jae berdoa lagi, lebih khusyuk dari sebelumnya sambil matanya yang merah menyala terpejam dan terbuka karena panik. Dan memulai topik yang lebih orisinil yakni apabila dia bukan untukku maka jauhkan ia dariku, tetapi apabila dia adalah pujaan hatiku yang satu-satunya, maka bangunkan aku dari mimpi buruk. Hyuk Jae sampai nyaris pingsan karena terlalu banyak berdoa. Hyuk Jae tidak menyadari dirinya bilamana dia sudah menangis semenjak dia menghidupkan dupa. Dan dupanya sudah habis sepanjang dia berharap kedatangan Buddha entah di mimpinya maupun didatangi secara langsung olehNya. Oh, dia sesungguhnya tidak peduli, Hyuk Jae hanya ingin diberikan petunjuk. Rangsangan untuk kembali merasa hidup sebab dia sekarang amatlah mati.

Hyuk Jae membuka pintu kamar Henry dan membiarkan asap dupanya masuk pula, asap itu berputar-putar dan berpola, sewaktu hendak disentuhnya, mereka hampa seperti halnya Henry yang berada diluar jangkuannya. Henry terbenam dalam tidurnya, wajahnya separuh mengingatkannya dengan mantan istrinya yang samar-samar dilupakannya. Pipi yang merona dan mata yang bulat, tetapi rambut dan kakinya persis dengan Hyuk Jae. Hyuk Jae menciuminya, Henry dikenangnya sebagai mimpi buruk yang tiada tara sakitnya, tetapi Henry bukanlah selaput kebohongan yang bisa disembunyi-sembunyikan eksistensinya. Dia bukanlah Ayah yang kejam, dia adalah Ayah sedarah yang bermartabat dan budiman. Sebetapa kerasnya pun dia hendak mengutarakan keganjilan ini, Hyuk Jae malah termakan iming-iming Donghae.

Hyuk Jae akan mati tanpanya, tetapi Henry bakal sepenuhnya bahagia, dengan atau tanpa keberadaannya. Hyuk Jae tidak akan mengubah apapun, kehilangan Hyuk Jae juga tidak berefek apa-apa. Oke, mungkin anak ini akan dendaman, tetapi Ayah dan Ibu angkat barunya yang bersetifikat resmi itu punya segudang mimpi untuk Henry. Henry akan disekolahkan di sekolah elit, Henry akan menjadi Henry yang mandiri, dan Hyuk Jae tidak boleh merasa iri hati atas keberhasilan orangtua didiknya yang baru, karena pada dasarnya Hyuk Jae bukan Ayah yang bertanggung jawab.

Benarkan, dia sudah mengatakannya, dan dengan mengatakannya saja Hyuk Jae merasa gila, oleh karena itu dia menangis lagi.

Hyuk Jae membenamkan wajahnya di leher Henry, terbenam lebih dalam, sehingga dia tidak menyadari kalau Hyuk Jae sudah tenggelam ke dalam nikmatnya keduniawian itu sendiri. Dengan demikian Hyuk Jae mengingat kilasan balik yang getir itu, apa yang Buddha sudah katakan padamu? Jikalau dunia ini kejam, dunia ini adalah akhirat yang tak akan mati, Neraka yang abadi, tempat orang-orang seperti dirimu yang sudah hilang akalnya yang dibutakan oleh berbagai jenis cumbuan seorang lelaki kesepian semacam Donghae.

Jadi kenapa kau mengeluh? Buat apa menyalahkan bintang-gemitang yang sedari awal memberikan peringatannya, tentang bahaya cinta itu sendiri. Dan cinta malah bermakna lebih banyak dari kesenangan gadis remaja.

Hyuk Jae memukuli kepalanya yang berdenyut, menciumi Henry. Baguslah dia tidak bangun karena cumbuan seorang ayah yang telah menganak tirikan buah hatinya dan perasaan sedih itu cuma sekedar perasaan tidak ingin kehilangan semata. Begini, bila dia berikan kesempatan untuk melalaikan Henry tanpa meninggalkannya dan tanpa putus dengan Donghae, maka dia akan melakukannya. Keji sekali kan?

Pada dasarnya manusia itu memanglah berhati busuk.

Hyuk Jae mematikan ponselnya yang bergetar, sedari tadi dihubungi Donghae yang sudah tidak dilihatnya sepekan penuh. Dia ingin lenyap selama-lamanya dari Donghae, tetapi hatinya tidak bisa melakukannya. Hati manusia yang rakus dan dendaman, tetapi suka mengasihi satu sama lainnya. Soal mengasihi, dia pernah diajarkan untuk selalu mengasihi sesama umat manusia, tetapi Hyuk Jae terlampau mengasihi Donghae, sehingga kasih itu berbuah mala petaka. Dia tidak lagi mencintai Henry sepenuh hatinya. Sejauh itu, dia sudah gagal menjadi Ayah yang bermartabat dan gagah. Dia bukan Hyuk Jae, mungkin dia Hyuk Jae, tetapi dia adalah pecundang, Lee Hyuk Jae Si pecundang.

Hyuk Jae beralih dari leher ke kakinya yang putih, mengecup telapak kakinya, menghentikan airmatanya yang basah itu. Dia salah besar, untuk menjadi bahagia, dia harus memilih salah satunya. Henry atau Donghae. Dengan demikian dia merasa tidak ingin bahagia. Dia ingin sengsara dan nelangsa, jadi dia bisa menyimpan keduanya di dalam hatinya. Tidak ada di antara mereka yang akan dijadikan anak bawang.

Bagaimana dia harus mengatakan itu—di dalam doanya yang tidak sepenuhnya benar—kalau dia tidak ingin bahagia, tetapi dia harus memiliki Henry, pula Donghae. Kenapa Tuhan, sekonyong-konyongnya besarnya kuasa engkau—tidak bisa bermurah hati padanya. Tuhan sepatutnya mesin harta yang memuntahkan karunia, bukan yang suka membuat pengikutnya menderita.

Hyuk Jae kau kebanyakan menyalahkan Tuhan. Dan sudah ngelantur.

Hyuk Jae menendang ponselnya sebab Donghae bandel, dia memarahi pria itu di dalam kepalanya, kalau dia tidaklah ingin bertemu dengannya lagi. Dia jadi kesetanan, sampai-sampai teriakannya yang menembus mimpi Henry membangunkan bocah itu. Henry jadi dibuat kaget.

"Ya ampun kupikir aku habis dikunjungi oleh hantu!" katanya, selagi menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, berada disituasi yang tidak diketahuinya. Hyuk Jae mencoba buat tertawa disela ringisannya yang menjadi-jadi.

"Kemari, masuk ke pelukan Ayah." Henry menyahut dan memeluknya, tengannya yang separuh melingkar di pinggang Hyuk Jae tetapi tidak sampai menutupi perutnya. "Bilang seberapa kau sayang Ayah."

Henry mencium pipi Hyuk Jae, yang dinikmati Hyuk Jae lebih dari waktu ciuman itu berakhir, karena Henry membawanya menuju indahnya kasmaran, dan sensasi itu murni adalah sayang bocah piatu lelaki yang menggantungkan hidupnya kepada Hyuk Jae. "Tidak terkira!"

Persetan, sifat cinta itu lemah adanya. Dia sudah berjanji kepada mendiang istrinya untuk tidak menangis, pokoknya jadilah kuat demi Henry, berikan apapun yang diinginkannya. Tetapi di sinilah Hyuk Jae, menangis sejadi-jadinya. Henry sampai hampir ikut menangis juga sebab dia berpikir kalau Hyuk Jae sedang dilanda nasib buruk. "Ayah, jangan menangis," katanya yang berlaku seperti magis. Hyuk Jae mendadak kehabisan airmata namun sakit hatinya masihlah mutlak.

"Henry berjanjilah padaku bila suatu saat nanti aku—maksudku keterpurukan itu mendatangimu—berjanjilah padaku untuk menjadi Henry yang bahagia, selama-lamanya." Henry memejamkan matanya, Hyuk Jae mengusap-usap pipinya yang bulat dan Henry kegelian.

"Tentu saja." Selagi menyunggingkan senyuman nakal khas bocah orok seumurannya. Tetapi virtualisasi konyol itu diterjemahkan berbeda oleh Hyuk Jae. Hatinya tersayat menjadi beberapa bagian yang terpotong-potong.

"Ingatlah bahwa kau akan menjadi Henry yang makmur. Tanpa atau dengan kebahagiaanku."

Henry tidak menjawab, sepenuhnya merasa ganjil, namun dia urung bertanya. "Siap, kapten!"

Hyuk Jae memalingkan wajahnya, menekan bibirnya, dia nyaris tergelak oleh airmatanya. Oh betapa kejamnya Buddha kepadanya, yang sudah menempatkan umatnya kepada peliknya hidup ini yang tidak ada matinya. Hyuk Jae bergetar, dia menggenggam punggung Henry, sebelum menggigit bibirnya dan menahan luapan emosi yang seperti ilusi banjir bandang. Pegangannya yang erat membuat Henry mendecih sebab rasa sakitnya, barulah Hyuk Jae mengendurkan pegangannya sewaktu Hyuk Jae sudah membuat Henry menyadari kalau Hyuk Jae yang sekarang dilihatnya bukanlah Hyuk Jae yang dulu. Jemari Hyuk Jae lepas dari pundaknya, dan mendarat di wajahnya, terpogoh-pogoh untuk tidak menangis.

"Bila kau mengikarinya Henry—" Hyuk Jae menangis. Henry kepanikan. "Kau adalah bocah yang durhaka, sumpahi aku bila perlu, kalau kau tidak akan pernah menangis dan merasa sakit hati." Hyuk Jae memukul-mukuli dadanya yang berdenyut. "Apabila kau tidak melakukannya, datang padaku dan bunuh aku, sayang."

Henry kehilangan suaranya. Layaknya dia habis disambar petir dan hilang kesadarannya. Namun Hyuk Jae duluan membawa anak ini kembali ke kontak kenyataan, menggoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. "Kau berjanji padaku!" teriak Hyuk Jae.

"Aku bersumpah!"

Hyuk Jae jatuh ke dalam pelukannya.

.

.

.

Sabtu pagi Hyuk Jae membopong Henry dengan khidmat ke kamar mandi, dan rambutnya yang keriting dikeramasi Hyuk Jae. Henry bergembira dalam lautan busa dan teriknya surya mengenai punggungnya yang berkilau. Sehabis itu Hyuk Jae mengeringkannya di bawah sinar matahari melalui jendela kamar yang terbuka selebar mungkin, kemudian Hyuk Jae membuka seluruh tirai, mengganti selimutnya, memasak untuknya. Hyuk Jae tidak terburu-buru mematikan kompor (bahkan sempat menciumi Henry dua kali dan melemparinya ke udara seperti yang dilakukan Ayahnya kepadanya, dan membahas bagaimana indahnya hari ini yang dibalas tawa Henry) padahal Hyuk Jae tengah menanak nasi dari panci yang berdesis. Untungnya Henry tidak rewel, sehabis makan Hyuk Jae membiarkannya bermain ke rumah tetangga. Dan Hyuk Jae kembali lagi ke kosongannya.

Ngomong-omong tentang Donghae, bagaimana kabarnya? Kabar Hyuk Jae relatif baik, relatif buruk. Bagaimana denganmu, sayang?

Hyuk Jae ingin membangun hipnotis buat dirinya sebagai aksi untuk 'membela' dan 'melindungi', sehingga dia bakal terhindar dari serangan cinta Donghae dan melupakannya melalui amnesia yang temporer ini. Atau dia harus diam-diam melupakan Donghae-nya sayang, karena Donghae bisa membaca pikiran, Donghae sebagaimana magis itu. Jadi Hyuk Jae harus lebih bersenjata karena imajinasi mengenai Donghae sulit dipecahkan, apalagi dengan tangan kosong, dan itu tidak dipikirkan olehnya. Donghae itu mimpi yang nyata, dan sesat, dan Hyuk Jae jauh dari kelegaan sebab dia merindukan pria itu. Merindukannya sampai rasanya ingin mati.

Keesokan harinya Hyuk Jae tidak berangkat kerja. Main kucing-kucingan dan bersarang di suatu tempat misterius yang tidak berpenghuni. Supaya Donghae kehilangan jejaknya, dan Tiffany keheranan oleh sikapnya yang kekanak-kanakan. Tahu apa Tiffany mengenai kehidupannya selain menjadi penasihat dari sebuah hubungan yang retak, dan Tiffany adalah sumber dari masalah. Karena Tiffany sudah mengenalkannya kepada Donghae. Tiada hal lain lagi.

Hyuk Jae menggeledahi kamar, memotong kotak-kotak foto Henry, ditempelkannya ke dalam album dalam bentuk mozaik, diciuminya. Kemudian Henry datang bersama teman-temannya sambil membawa hasil tangkapan sehabis berkelakar sepanjang hari di lapangan sepak bola yang banyak kecebongnya. Henry tergelak karena Hyuk Jae lupa mencukur kumisnya sewaktu dia mencium Henry. Dengan demikian, kalian sudah tahu seberapa menderitanya ia kan?

Tetapi Donghae orang yang cerdik, yang 100% tahu cara berpikir pria sejenis Hyuk Jae. Donghae sudah tahu siasat seperti apa yang bakal digunakan Hyuk Jae. Dan Hyuk Jae adalah buronannya yang terpogoh-pogoh mencari celah untuk kabur, sayangnya, yang harus ditakutkan oleh Hyuk Jae bukanlah Donghae. Melainkan dirinya sendiri. Kondisi emosionalnya rapuh, gampang dikelabui, oleh karena itu juga Hyuk Jae akan tersiksa karenanya. Karena menginginkan Donghae juga. Jadi sewaktu Donghae parkir di depan rumahnya, yang sudah di duganya semenjak Hyuk Jae memikirkan Donghae sedari tadi, dan Hyuk Jae sempoyongan untuk segera mengunci pintu. Menutup jendela yang dibukanya karena terik matahari. Dan Hyuk Jae tidak bisa lagi menghadapinya karena dia tidak punya sisa hati untuk menderita.

Donghae menyadari kesunyinnya yang ganjil dan mengetuk pintu, dan menggedor lebih keras sepanjang menit tak disahuti. Hyuk Jae mengecangkan pegangannya pada knop pintu yang diputari Donghae brutal. Dan bersikeras bahwa ada tanda-tanda kehidupan di rumahnya, bahwa rumah Hyuk Jae tidak sepenuhnya hening. Donghae mendengar suara napasnya, dan tangisannya, Hyuk Jae tidak bisa berbohong kepadanya. Hyuk Jae tidak bisa menipu hatinya sendiri.

"Buka pintunya," ucapnya, memaksa. Donghae tambah mengamuk, Hyuk Jae pikir pintu rumahnya akan roboh. "Hyuk Jae jangan lakukan ini," ucapnya lagi, meminta kasihan Hyuk Jae.

Hyuk Jae rubuh dari tubuhnya, akhirnya menangis untuk yang kesekian kalinya, tetapi dia berusaha agar tidak bersuara. Hyuk Jae dilanda kepanikan emosional yang lumayan parah, itu semua berakar sebab Donghae adalah penyakit kejiwaan yang membawa kesengsaraan, petaka dan kesenangan, Donghae adalah indahnya hidup ini yang mesti dijauhinya. Dan dengan meninggalkan hatinya yang dingin, Hyuk Jae tidak akan jatuh cinta, dengan tidak jatuh cinta maka Henry akan bersamanya sepanjang hidupnya. Betapa bodohnya dia telah percaya akan secuil kenaifan itu.

Namun semuanya benar, Hyuk Jae tidak bisa membohongi perasaannya. Jadi dia bangun dari kerubuhannya, membuka pintu, yang mana akhirnya Donghae dapat masuk dari selipan pintu yang kecil, yang setipis helaian kertas, namun cukup untuknya melihat nelangsanya Hyuk Jae. Donghae membawa Hyuk Jae ke dalam dekapannya yang hangat, yang mendamba layaknya surgawi. Anehnya, Hyuk Jae adalah orang-orang yang memuja surga tetapi tidak akan mau untuk datang ke surga yang sesungguhnya. Dalih itu digunakannya untuk menjauhi kekasih hatinya, padahal Donghae adalah anugerah dari Dia. Siapa sebenarnya hadiah dari Tuhan. Henry ataukah dirimu?

Donghae menyuruhnya buat tenang, sementara Hyuk Jae mencoba pulih dari kemelut hatinya yang seperti luka borok. Semakin diobati semakin membesar. Semakin dia menjaga jarak dari Donghae, sepanjang hari pula dia memikirkannya. Ternyata ini mustahil dilakukan. Hyuk Jae baru saja terkena efek kronis dari jatuh cinta. Cinta yang seperti apa? Yang berbunga-bunga atau cinta mati?

Jatuh cinta dan mencintai itu adalah suatu perbedaan yang seperti mitos. Jadi apakah Hyuk Jae memilih untuk jatuh cinta, atau dia sebenarnya mencintai Donghae? Atau karena Donghae pula dia jadi takut untuk mencintai kembali?

Hyuk Jae tertidur di dalam pelukannya yang panas, yang menandakan gelora tiada pernah padam. Sama halnya dengan perasaannya, dan Donghae mengejawantahkannya dengan sempurna sebab Hyuk Jae sudah luluh, mabuk kepayang, dan menggila. Hyuk Jae mencium pipinya, memuja-muja Donghae. Hyuk Jae mengisi hatinya yang kosong dengan kerinduan dan sentuhan-sentuhannya yang lembut. Sehingga Hyuk Jae menyelinap ke dalam lengan Donghae yang terbuka, ke ujung hidungnya, ke dalam sukmanya, oh indahnya bercinta bersamanya.

Tetapi bukankah bersama buah hatimu, menimangnya dalam bujuk rayu kebapakan, serta merawatnya dalam duka dan cita, dan tumbuh tua bersamanya adalah yang paling penting?

Untuk banyak orang, ya. Tetapi bukan untuknya. Hyuk Jae rindu dimanjakan oleh pujaan hatinya. Dia ingin bahagia, bersama pacarnya yang baru. Tanpa pihak ketiga berusia belia, yang seperti peri iri hati yang mencemburui pasangan pengganti Ibunya yang wafat. Henry dikategorikan Hyuk Jae sebagai pihak ketiga, bukan lagi sumber penghidupannya, bukan lagi dunianya, melainkan pihak ketiga. Dan dia cukup sadar saat dia memikirkannya, bahkan dia tidak merasa bersalah sama sekali.

Coba pikirkan, seorang pria yang duda, dengan gajih bulanan seadanya, serta seorang anak berusia aktif yang rewel, dimana dia setiap hari berusaha lepas dari kesenjangan itu, yang tengah pontang-panting membayar tunggakan rumah, listrik, air, dan pajak mobil yang terbengkalai, bagaimana mungkin dia tidak merasa buruk? Dengan semua keganjilan yang mengutuknya, bahwa sayangnya kepada Henry tidak eksis. Tetapi itu bukan penjelasan yang cukup. Dia hanya ingin menghindarkan dirinya dari masalah, dan ingin bahagia.

Tidak ada yang salah dengan manusia yang ingin bahagia, berusaha bahagia, di dunia yang maha keji ini.

Hyuk Jae melepaskan dirinya dari ciuman, bernegosiasi dengan akal pikirnya, yang dihasut-hasut oleh keintiman bersama Donghae, juga gombalannya. Tentu saja, Donghae akan membelikannya rumah yang setinggi gedung pencakar langit. Tetapi bagaimana dengan Henry? Dia akan sebatang kara. Anak yatim piatu. Yatim karena Ayahnya seorang pria penghisap kejantanan sesepuh paruh baya, yang tega menelantarkannya, dan piatu karena Ibunya meninggal sehabis melahirkan. Bagian mana yang kedengaran seperti kebahagiaan buatnya?

Hyuk Jae menahan airmata yang membuat pandangannya buram. Dia sudah lelah menyalahkan Donghae, ini semua tidaklah sepenuhnya salah Donghae. Jadi Hyuk Jae kembali mendekat, sampai Donghae tidak bisa menyembunyikan harunya karena selangkah lagi Hyuk Jae akan menjadi miliknya, seutuhnya. Hyuk Jae menggigit leher Donghae yang tangan-tangannya terbuka, sekeras mungkin, jadi Donghae mengerang, bukan karena dia merasa keenakan, melainkan karena Hyuk Jae membuatnya terluka. Dan luka bekas gigitan membuat Hyuk Jae kegirangan.

"Sayang," tangannya semakin erat memeluk Donghae. Sekalipun Donghae dapat berkata-kata, dan berhak untuk merasa aneh, Donghae memaklumi kondisi emosional Hyuk Jae yang separuh berantakan ini. Lanjut Hyuk Jae sambil menelan ludah yang sebesar biji ek, "katakan, yakinkan aku mengapa aku harus memilihmu, dan bukan Henry." Lengan Donghae basah kuyup dibanjiri isak tangis Hyuk Jae.

"Aku punya seribu alasan. Alasan mana yang paling ingin kau dengar?" Suara Donghae yang lembut menggerakkan sanubarinya, menggetarkan alam semesta.

"Yang paling meyakinkan," sahutnya, suaranya sepelan bisikan setan.

"Kau akan bahagia bersamaku."

Ya Tuhan, yang dapat mengambil alih kekuatan matahari dan seluruh pengatahuan umat manusia, mengapa Hyuk Jae percaya kepada Donghae? Percaya kepada bualannya itu? Tentang kebahagiaan Hyuk Jae bila bersamanya? Bisakah kasihnya kepada Henry dipecahkan dengan sekeping uang receh?

"Bahagia seperti apa?" Hyuk Jae mendesak, karena Donghae belum menghilangkan dahaganya terhadap kebahagiaan itu sendiri.

Donghae rasa-rasanya akan menangis. Donghae berharap suatu hari kelak dia tidak sedang membawa kesengsaraan kepada Hyuk Jae sebab dia merasa tidak manusiawi. Memisahkan darah daging sayangnya. "Bahagia denganku dan bahagia tanpa Henry."

Hyuk Jae mundur secubit lebih jauh dari Donghae, sehingga wajah yang marun dan kelabu dan ke abu-abuan, yang kusam, dibanjiri gelak yang mengada-ada, menakutinya sekali, tetapi Hyuk Jae memang harus tertawa. Karena dengan menangis dia tidak bisa memecahkan masalah. Menghacurkan ego prianya. Tawanya yang tidak mau berhenti hampir membuat Hyuk Jae muntah dan pingsan. "Donghae kau benar. Aku bahagia denganmu," percayakah kalian? Hyuk Jae sampai kehilangan setitik airmatanya yang melesat jatuh saking konyolnya Donghae sekarang. "Tetapi karena aku bahagia denganmu, aku tidak bahagia dengan Henry!" teriaknya, memecah kesunyian.

"Hyuk Jae ya ampun! Kubilang kau bisa melihatnya setiap akhir pekan! Kalau perlu seminggu tiga kali! Aku hanya mencarikannya orangtua asuh sewaktu kau bersamaku, ketika dia sedang tidak bersamamu!"

Hyuk Jae akan memukulnya. Namun dengan memukul Donghae tidak akan menyelesaikan masalah. Dia akan membuat semuanya semakin sulit dipecahkan. "Itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan!"

Donghae tercengang, seakan-akan dia jauh lebih waras dari ketersiksaan batin Hyuk Jae yang bohong adanya, yang disepelekannya karena Donghae tidak pernah punya anak, anak seperti Henry. "Ya Hyuk Jae, kalau kau mau bekerja sama!"

Hyuk Jae hampir melukai dirinya dengan menghantamkan wajahnya ke tembok, untungnya Donghae ada bersamanya, yang setengah waras, atau setengah lebih gila darinya, jadi Donghae menahan bahu lelakinya yang kesetanan itu, untuk tidak membahayakan dirinya dan menambah beban-beban lainnya. Hyuk Jae memukul-mukuli Donghae, tetapi lebih bisa Donghae terima ketimbang pria itu menyakiti dirinya sendiri. Katanya sambil memejamkan matanya, berteriak-teriak yang mana suaranya bergetar, dan hampir habis. "Donghae bunuh saja aku!" lagi, "tanpa Henry aku bukanlah Hyuk Jae yang dulu," dan lagi, "teganya dirimu!"

Donghae menghempaskan tubuh Hyuk Jae ke tembok dan menghalau serangan berikutnya namun berusaha untuk tidak menyakiti Hyuk Jae yang hampir tidak sadarkan diri. Donghae memeluknya. Menyadarkan Hyuk Jae kalau dunia bersamanya adalah dunia yang lebih baik.

"Baiklah sayang, aku tidak akan memaksamu," bisik Donghae menyerah. Walau dia juga akan menangis bila dihadapkan patah hati yang lainnya. "Biarkan hatimu memilih," kata Donghae, yang menakuti Hyuk Jae.

"Tetapi aku tidak ingin dijauhkan darimu!"

"Sialan Hyuk Jae! Kau membuatku berada dalam situasi yang tak kalah buruk! Bila Henry adalah pilihanmu, maka aku akan pergi. Tetapi bila aku adalah tempatmu berlandas, tinggalah bersamaku!"

Tidak ada.

"Tidak ada nilainya jika aku tidak memilikimu dalam hidupku."

Donghae berbaring seperti kehilangan tenaganya, dan bisu, bingung, bercampur aduk, tetapi juga senang. "Aku mencintaimu," bisik Donghae.

Hyuk Jae merangkak menuju tempat Donghae berbaring, dia merasa seperti mayat yang diperas jiwanya. "Aku memilihmu, jadi aku hanya akan memilihmu."

Donghae mendadak bangun, bagaikan dia baru saja disadarkan oleh serangan petir yang dahsyat. "Hyuk Jae kau tidak sedang mengada-ada kan—"

"Dan tidak ada artinya aku tanpa Henry," lanjutnya, lelah menangis, terlelap dalam pelukan Donghae. "Jauhkan dia dariku, untuk selama-lamanya. Bila aku melihatnya, seujung rambutnya saja, aku lebih baik mati. Donghae, bunuh sajalah aku!"

Donghae menggoyang-goyangkan tubuh Hyuk Jae, menagih konfirmasi. "Hyuk Jae kau sudah gila!"

Hyuk Jae menatap Donghae dengan bejad. "Sayang, kau pikir aku tidak gila dengan bahagia bersamamu? Kalau Henry hidup tanpaku aku pula tidak boleh merasa indahnya hidup," Hyuk Jae melihat ke sekelilingnya, mencoba untuk menemukan keberadaan Buddha, tetapi puing-puing kehancuran yang muncul, bukan Tuhannya. Yang selalu mengajarkan apa itu artinya mengasihi sesama. "Aku ingin sengsara tanpanya, tetapi dia haruslah bahagia tanpa Ayahnya ini." Hyuk Jae memejamkan matanya, menahan pedihnya bayangan itu. Bangun tanpa Henry di sisinya.

"Hyuk Jae pikirkan lagi," mohon Donghae.

Hyuk Jae terlanjur memantapkan hatinya. "Tidak atau selama-lamanya," Hyuk Jae melakukan yang terbaik dengan gaya menirunya. "Buat aku menderita seumur hidupku, menyesali keputusanku yang sekarang, dan bersumpahlah kalau Henry akan berbahagia sepanjang masanya," kata Hyuk Jae, yang persisnya mengancam Donghae. Donghae melihat kepiluannya sebagai seorang Ayah yang dipaksa untuk menelantarkan anaknya.

"Aku yakin aku akan membuatmu sejahtera."

Hyuk Jae menampar Donghae, Donghae mendadak merasa bangun dari mimpinya. "Bukan! Buat aku menjadi manusia paling hina seumur hidupku, siksa aku sampai ke tulang sum-sum!" Hyuk Jae terjatuh ke pangkuan Donghae, bibirnya megap-megap. "Kumohon sayang."

Donghae kehilangan suaranya, tetapi Hyuk Jae menawan matanya, dan Donghae tahu itu semua tidaklah benar. "Aku berjanji untuk membuatmu terlunta-lunta." Donghae merinding, yakin bila dia akan berbuat sebaliknya.

Hyuk Jae memeluknya, menciumnya. "Benar, begitu."

Mari pikirkan kebaikan yang dilakukan oleh pria ini, Donghae tengah beramal untuk pengemis jalan yang sudah tidak merasakan kasih dari karunia Tuhan. Dan karena kedatangan Donghae Hyuk Jae merasa lebih dekat lagi kepada Tuhan. Otomatis dengan menelantarkan Henry, begitulah caranya mengabdi kepada Buddha-nya, cinta di dalam hatinya sudah tidak aman, tetapi Hyuk Jae masih memiliki kasih Donghae. Siapa yang tahu dunia akan menjadi lebih baik sebab Donghae membawa kebahagian di hidupnya? Yang lebih membuatnya berhasrat untuk hidup. Cinta yang universal itu. Tidak ada lagi airmata, tidak akan lagi dia merasakan khawatirnya. Hyuk Jae mengikuti pria yang dia anggap cinta sejatinya, dan akhirnya teror dan kehancuran muncul.

.

.

.

Hyuk Jae yang mulanya tegar merasa bersalah oleh dirinya, kepada Tuhan, dan telah menyalahi kodratnya. Nah mengenai itu, kodratnya yang bagaimana? Sebagai pengikutNya, atau sebagai Ayah Henry?

Hyuk Jae tidak pulang kemarin, bermalam seharian bersama Donghae, memantapkan hatinya, bahwa dia ingin membuktikan bila dia bisa melakukannya. Melakukan kejahatan itu, kepadamu. Dengan begitu bakal ada kontak terbuka yang sah dilakukan oleh orangtua pengganti Henry. Larut malam mereka mengabari bahwa Henry jatuh pingsan karena lelah menangis. Dan Hyuk Jae tidak bisa melakukan apa-apa. Negosiasinya bersifat kekal. Untungnya bukan Hyuk Jae yang harus menjelaskan bagaimana perjanjian itu tercipta, dan apa yang harus dilakukannya, pula Henry.

Oh Tuhan, hentikanlah. Bisiknya.

Dengan pengawasan ketat oleh Donghae, tentunya, Hyuk Jae secara formal menjemput Henry dari kegiatan sosial Taman Kanak-kanak dan pesta dansa teman-temannya. Tanpa memberikan ijin untuk Henry merasa lebih baik. Donghae kemarin membuat daftar mengenai hal-hal yang benar-benar dilarang, yang boleh dilakukan, dan boleh dibincangkan. Pertama; jangan berikan harapan apapun padanya, jangan biarkan dia berpikir kalau kau akan kembali, jangan sewenang-sewenang dan jangan melibatkanku. Kalau dia melanggar peraturan maka Hyuk Jae akan dibuat bahagia sampai tidak ada badai isak tangis.

Hyuk Jae menggendong Henry, menjauhkannya dari kerumunan, mendekatkannya kepada hati yang telah berkeping-keping dan senyum Henry membawa sukma yang kelabu yang diterbangkan oleh embun berbayang, karena anehnya, bagaimana mungkin cinta sedarah diputus oleh kasih pada pandangan pertama? Pandangan yang mendekatkannya pada pria berpakaian formal, dan bagi Henry pria itu memiliki sentuhan seperti raksasa tua yang bertaring. Bagaimana Hyuk Jae harus tidak menangis, bila langit yang larut sekali kehilangan bintang-gemintang yang berkerlap-kerlip, cahaya yang mati yang membuatnya merasa sedingin es dan takut untuk menyentuh Henry. Tidakkah ini gila? Beri tahu bagaimana caranya bersenang-senang tanpanya, ya Tuhan. Rasanya pengalaman bangun di jam sembilan pagi tanpanya di dunia ini. Tanpa Henry. Eksistensi peri kasihnya.

Hyuk Jae menekan kepalanya, nyaris kehilangan kendali, sampai-sampai Donghae keluar dari mobilnya dan bersiaga. Orang tua asuh Henry menunggu di kejauhan, mereka mengirimkan sinyal bahwa giliran Hyuk Jae sekarang sudah tiba. Hyuk Jae menekan bibirnya, Henry menatapnya dengan duka karena tahu keajaiban akan tiba, bahwasanya sifat cinta Ayahnya kepadanya itu lemah sekali.

Henry menekan kaki Hyuk Jae, memegangi celananya, menahan siksaan batin yang sifatnya manusiawi dan menurun, oleh karena itu pula Hyuk Jae menangis bersamanya. "Ayah," kata Henry, saking takutnya membuka mata, dia memanfaatkan lengan Hyuk Jae untuk bersembunyi dan sesekali Donghae yang berkuasa itu memarahinya, jadi dia segera melepaskan jari-jarinya yang lunglai dan Hyuk Jae jatuh dalam jebakan. Barulah Donghae merasa menang oleh lawannya, yakni bocah tengik yang bangkit dari kakinya dan memasang muka tegang.

"Henry, terkadang hidup sulit dihadapi—" Hyuk Jae bersitegang dengan batinnya, dia silih berganti menatap Henry serta Donghae yang melotot kepadanya. Tetapi pada akhirnya dia juga harus melakukannya. "Henry berdirilah," desak Hyuk Jae. Henry bergelayutan di kaki Hyuk Jae, sama-sama nyaris pingsannya dengan Hyuk Jae. "Henry!"

Henry berkaca-kaca, wajahnya tidak bercahaya. "Aku tidak ingin tahu," selagi memaksakan kehendaknya, dan berusaha untuk tidak rubuh. Seperti halnya Hyuk Jae pula. "Ayah jangan tinggalkan aku."

Hyuk Jae terkesima oleh amukan Donghae sebab Hyuk Jae sekarang sudah melanggar peraturan dan memberikan kontak fisik kepada Henry, tetapi pada akhirnya Hyuk Jae dapat menenangkan Donghae lewat sinyal marahnya, bahwa dia tidak akan berubah pikiran, tetapi sebelum itu, Hyuk Jae harus meyakinkan hatinya terlebih dahulu, dan Donghae menyalak akibatnya, tetapi Hyuk Jae tidak peduli. Sedikit pun tidak. Hyuk Jae menambah pelukannya, merasa cinta yang absolut itu, sebelum sisi gelap di hatinya menghancurkannya. "Kau adalah satu-satunya di hidupku, tidak ada yang lainnya lagi," demikian kata Hyuk Jae, melimpahkan airmata ke bahu Henry, dan Henry merasa jengah. "Aku ingin bahagia, sayang. Katakan padaku bagaimana cara buat bahagia seutuhnya?"

Persetan, Henry tidak tahu. Karena Henry sendiri tidak pernah bahagia. "Aku tidak mau dipisahkan darimu!" Henry menyerangnya, berapi-api. Hyuk Jae menciumi kepalanya dan menenangkannya. "Ayah," karena Henry memiliki kosakata terbatas, Henry merasa telah dikhianati Tuhan. Bagaimana caranya untuk melakukan perlawanan? Bagaimana caranya buat meyakinkan Hyuk Jae kalau bersama Donghae tidak akan membuatnya bahagia, tetapi dia akan melakukannya? Bagaimana bisa dia melakukannya, kalau Ayahnya yang tampan dan bersahaja ini memilih cintanya dan bukan darah dagingnya?

Tidak bisa. Dia tidak bisa mengalahkan kekuatan cinta. Tetapi cinta bisa mematahkan hatinya. Keji!

"Henry, berhentilah menangis kumohon!" teriak Hyuk Jae. Sayangnya tidak bisa menghentikan histeria Henry sama sekali. "Aku rela mati untukmu, dan kuyakini Donghae juga buatku!"

"Kau penjahat! Aku benci sekali padamu, Henry benci padamu, menghilang saja!"

Hyuk Jae sudah berlatih. Tetapi dia menyerah. "Maka diri itu jangan pernah lupakan aku! Sumpahi aku seumur hidupmu! Benci aku, dan bunuh aku bila ternyata aku hanya semata-mata egois dan melalaikanmu! Tunjukkan sakit hatimu padaku!"

Henry gemulai dan pada akhirnya terbatuk-batuk, merasa seutuhnya kehilangan dunianya. "Bagaimana bisa?"

Hyuk Jae tersenyum ke arahnya, mendekat, tetapi itu menakuti Henry. Dan Henry mundur sejauh-jauhnya dari Hyuk Jae. "Mari pikirkan sayang, bahagialah untukku. Dan aku akan tersiksa untukmu. Ingatlah aku, sekeping gundik yang rela membagi-bagikan kasihnya! Aku sudah berubah banyak."

Donghae mempraktikan pengendalian dirinya dan diam saja meski sindiran itu dikhususkan untuknya. Donghae berputar-putar, tidak sabaran. Menghindari kontak mata Henry yang mendelik, putus asa, marah, dan menghinanya. Tetapi Donghae tahu jauh di lubuk hatinya Henry mendengki kepada Hyuk Jae, dan bukan Donghae.

Henry melihat ke sekelilingnya, dan melintasi puing-puing sanubarinya yang lumpuh, selagi meniti bagaimana bahagia yang sebenarnya. Pria paruh baya mencerminkan kepatuhan dan singgasana, tetapi rupanya mirip seekor babi yang kelaparan, dan wanita yang seumur jagung, elok dan bulu mata bersahaja, tersenyum kepadanya, ingin dipanggil Ibu oleh Henry. Sehingga Henry hampir memuntahi kakinya. "Aku tidak mau," sambil mendesak Hyuk Jae untuk kembali kepadanya. Dan nyeri yang disisakan oleh Henry berdenyut menuju saraf motorik Hyuk Jae.

"Sayang, aku minta maaf." Hyuk Jae mendapat Henry ke dalam pelukannya lagi, walau dia berontak, dan tenaga Henry hilang sepersekian detik seperti gelembung yang pecah, tangisannya lenyap. Sebab Hyuk Jae tidak pantas ditangisi.

"Aku harus bagaimana supaya kau tidak meninggalkanku?" Henry menciumi pipi Hyuk Jae, bibirnya yang merah muda bersarang dipermukaannya, merangsang kesadaran itu balik lagi, tetapi sewaktu Donghae yang murka kembali menyerangnya, Hyuk Jae terjebak ke dalam hipnotis. Hyuk Jae telah seutuhnya gila!

"Tidak ada yang bisa kau lakukan, lelaki hebat," Hyuk Jae menggoda dengan centil. Dan dia akan menangis. Henry menguatkan pegangannya, tidak ingin jauh-jauh dari Hyuk Jae. "Lihatlah, kebahagiaan itu akan datang. Buddha telah menjawab semua doaku, yang mayoritasnya adalah tentang dirimu, sayang."

Henry menggeleng-geleng, sama sekali tidak ingin dikelabui. Dia telah kehilangan kontak oleh kenyataan, kenyataannya menjadi remah-remah dusta sepasang kekasih, si Lee pecundang. "Jangan tinggalkanku," Henry meminta welas kasihnya. Oh, sayang, percuma.

"Aku tidak meninggalkanmu, tetapi aku mati untukmu."

"Bagaimana mungkin ini terjadi padaku?" Tangisan Henry meraung. Sekelebat perasaan bersalah menyerang Donghae. Begitu pula Hyuk Jae. Tetapi waktu terlanjur tidak bisa dihentikan. Hyuk Jae terlanjur mencintai Donghae. Terlanjur. Sayang, kau tidak berarti apa-apa.

"Kata siapa? Kau akan bahagia! Percayalah!"

Henry menjambak rambut Hyuk Jae, namun reaksinya adalah orgasme yang tiada tara nikmatnya, Hyuk Jae mendamba luka fisik dari Henry. Hyuk Jae ingin dipukuli, ditendang, ditelanjangi oleh dendam. Dan Hyuk Jae terus tertawa sambil menangis, serta Henry menangis bersamanya. "Kau benar, bunuh aku!" Hyuk Jae terbatuk, Donghae nyaris melerai, untungnya, Henry menyingkir dari gendongannya dan jatuh ke tanah. Rasa sakit itu membuatnya kebal sekali!

"Aku mohon padamu, jangan tinggalkan aku! Ayah, apapun bakal kulakukan!" Hyuk Jae menggigit tangannya, bersiap untuk pingsan, mereka berdua jatuh ke tanah kemudian diam. Henry terbaring gemulai dan Hyuk Jae kehilangan napasnya, napasnya putus-putus, hampir mati oleh syok.

"Dengar nak," Hyuk Ja menciumi kepala Henry, membawa buah hatinya ke pangkuannya. Memangkunya dan mencintainya. "Bunuh aku dalam ingatanmu," bisiknya, "yakinkan dirimu bahwa segalanya kulakukan bukan demi dirimu, tetapi hanya karena aku ingin menikahi pasangan sesama jenisku belaka!" kata Hyuk Jae, menunjuk-nunjuk Donghae berang, dan menjulukinya jalang. Donghae sayangnya tidak ingin membalas. Donghae tidak sedang terprovokasi. Hyuk Jae telah menghabiskan waktu lebih dari sejam untuk berpisah dari Henry, dan Donghae menjadi tidak sabaran. "Sayang, waktunya kita kembali." Hyuk Jae menarik napas panjang, peringatan pertama.

Henry melotot, terbatuk, dia demam. "Bawa aku kemana pun perginya kalian!" Henry mengharap kasihan Donghae. Donghae berpaling dari tempatnya, ikut-ikutan kehilangan kewarasannya.

"Tidak bisa."

Tidak mungkin bisa. Jawab Hyuk Jae. Diluar prediksi hatinya. Diluar prediksi semua orang. Dan Donghae bahagia setengah mati.

"Henry, bersumpahlah, dengan begini kau akan tahu sebetapa pahitnya hidup ini! Lee Hyuk Jae bukan Ayahmu lagi, tetapi bangsat yang melacuri pria brengsek. Dan satu-satunya cara untuk membuatku menderita adalah dengan bahagia," Hyuk Jae memegangi lutut Henry yang bergetar. "Kau harus bahagia untukku—" jeda Hyuk Jae merasa janggal. "Tidak, bahagialah demi dirimu. Suka cita itu akan membangkitkan kepedihanku, maka dari itu bunuh aku dengan kebahagiaanmu!"

"Kau tidak bisa dipercaya!"

"Tidak ada yang bisa dipercaya!" Hyuk Jae balas membentak. "Setitik pun aku tidak pernah menginginkan eksistensimu! Sepanjang jarum jam aku meminta pengharapan kepadaNya untuk membawamu kembali bersama wanita jalang itu! Kenapa aku harus dibebankan bocah semacam dirimu?! Mengapa Tuhan kejam sekali kepada umatnya, yang hanya menginginkan keutuhan hidup bersama kekasihnya seorang!"

Hyuk Jae akhirnya mengatakannya. Sehingga Henry merasa berada di ujung dunia yang berbeda.

"Ayah, kau tidak sedang serius!"

Hyuk Jae bangkit dari keterpurukannya namun Henry menahan kakinya terlebih dahulu. Hyuk Jae hampir rubuh kembali. "Aku selalu merasa dicurangi," kali ini Hyuk Jae yang melihat ke sekeliling. Reaksi bangga Donghae hampir membuatnya membunuh Donghae. "semenjak kau lahir, aku adalah pria yang paling sial di muka bumi ini!"

"Ayah! Kau bohong!"

"Henry, bintang kecilku, tidakkah kau sadar bahwa ini hanyalah siasat? Supaya aku terhindar dari masalah, supaya duda beranak satu yang buah hatinya rewel sekali mendapat tempat yang sama dimasyarakat! Aku hanya ingin merasa bahagia, tetapi kau menghalagi jalanku! Kau menjauhkanku dari kesempurnaan itu!"

Henry lunglai, histeris, tetapi tidak bisa menghentikannya. "Aku berhak untuk bahagia," lanjutnya. Henry membenarkan setiap perkataannya, dan seujung luka yang muncul akibatnya. "Lepaskan aku!" Hyuk Jae menendang Henry, orangtua asuh Henry terkesiap, heran akan kontak fisik yang kronis itu, tetapi Donghae duluan melerai kebaikan hati mereka. Bahwa inilah yang harus dilakukan Hyuk Jae.

Henry tidak berkutik dan menguatkan pegangannya. Sehingga Hyuk Jae merasa lebih baik mati daripada melukainya lagi. Hyuk Jae ingin menghentikan tragedi ini.

"Aku tidak mau dipisahkan olehmu!"

Hyuk Jae mengayunkan kakinya sehingga Henry terpental ke tanah, dan terhuyung-huyung. Donghae segera membuka pintu mobil sewaktu Hyuk Jae berlari ke arahnya. Dengan segenap tangisan Hyuk Jae mengemudikan mobil, melajukan mobil sejauh-jauhnya dari Henry yang meraung dan memanggil namanya, berusaha untuk tegar, untuk menggapai Ayahnya yang telah tiada. Skenarionya berhasil. Donghae berhasil melakukannya.

"Donghae kau telah berjanji untuk memberikan segala-galanya kepadanya," Hyuk Jae menghapus airmatanya. Mereka hampir menabrak pohon, tetapi kegilaan ini membuat Donghae berada dalam klimaksnya.

"Apapun untukmu, sayang, Apapun itu."

.

.

.

END

.

.

.

Author note:

Entah ini menggantung, atau happy ending buat Donghae-Hyuk Jae atau sebaliknya buat Henry. Thanks for reading and commenting!