Hohohoho….. Update lagi masbro n mbasis :DD. Untuk ucapan terima kasihnya, langung saja saya ucapkan kepada Fergie Shappirerald11 , Wi3nter , penggemar gratisan , dan holmes950 . (^_^)b

.

Juga untuk segenap reviewer chapter I, Silent reader yang telah menunggu, yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca, meng-alert, bahkan hanya sekedar melihat apa jurulnya (^_^)v...ARIGATOU!


WARNING :Fantasy, romance, adventure, politic, and many other :DD. Rating bisa BERUBAH sewaktu-waktu.

Terinspirasi dari DEVIL MAY CRY 4, Game XBOX tahun 2009 yang saya tamatkan DENGAN WAKTU 22 JAM (^-^), diaduk dengan ide gila, disangrai di atas wajan imajinasi di pojokan apartemen lusuh. (^/^)

V

V

V

Happy reading!

DISCLAIMER:

Masashi Kishimoto-1999

AUTHOR:

Alp Arslan no Namikaze-2012


SUMMARY:

Namikaze Naruto, pangeran yang terdampar karena insiden keji yang menghancurkan negaranya. Bersama dua jenderal dan adik perempuannya, Naruto harus bertempur guna merebut kembali kerajaannya,tahta mahkotanya, juga hati gadis impiannya.

.

III

"Why The Hell There Are DEMONS Here?"

.

.

.

Sesekon kemudian, sebuah jeritan lain menyusul. Tak kalah nyaring dari teriakan Ino.

Tidak, bahkan lebih...

Karena teriakan ini dihiasi dengan muncratnya darah seorang lelaki tua. Naruto terdiam membisu, kaku. Shikamaru dan Sasuke tak kalah goncangnya. Ino usai menjerit, langsung melepaskan genggaman tangan Naruto, membiarkan tangan sewarna tan itu terkulai.

Naruto berpaling kembali pada Ino, kerutan di dahinya cukup menjelaskan betapa ia ingin merepresentasi fakta yang tersimpan di raut pucat adiknya lebih jauh.

Naruto menegakkan kakinya, menarik kedua tangan yang baru saja terkulai ke kedua sisi tubuhhnya. Naruto membalikkan badan.

Bercak merah tergambar jelas di retinanya.

Orang tua itu, yang baru saja dilihatnya berjalan mesra dengan si nenek, ambruk.

Kakek tua itu roboh.

Naruto semakin hebat bulatan matanya. Dia berpaling lagi ke Ino, lalu berbelok lagi. Oh, Tuhan. Kejadian berikutnya benar-benar tereka sebagai gerak lambat.

Nenek tua itu menjerit, melihat sang kakek yang tengah melayang di udara. Dada orang tua itu tertusuk semacam kain hitam yang menjulur ke atas.

Dari bawah.

Jeritan itu tak berhenti. Dari bawah muncul sesosok makhluk hitam dengan kepala seperti ikan, namun badannya hitam, tersusun seperti kain hitam pekat yang membalut. Makhluk itu keluar perlahan-lahan dari tanah, menampilkan tubuh sempurnanya tatkala melayang, lalu membanting tubuh pak tua tanpa ampun. Meretakkan tulang-tulang rentanya.

Kakek itu tewas.

Naruto merangkai neuronnya lagi, "D-"

Belasan jeritan lain menyusul. Di setiap sudut, teriak, tangis, darah.

ARGHH!

AKH!

GRAAH!

Naruto menetapkan spekulasinya sebagai teori mutlak,

"DE-"

Darah terciprat, jeritan lagi. Beruntun, nyaring.

"DEM-"

Maki, derap langkah lari, hawa kematian,

"-MON..."

Naruto memutus kalimatnya dengan sebuah nafas pendek, menarik langsung adiknya dari despresi yang menekan diikuti tatapan mengerikan dari Sasuke dan Shikamaru.

"DEMON ! LARI!"

Derap langkah di belakang sepatunya mengindikasikan 3 pasang langkah yang turut mengikuti, Naruto merasa tak perlu lagi untuk menoleh.

Ok, Jujur, demi Tuhan. Dia tidak ketakutan, namun-

"Naruto! Mereka di depan!"

Teriakan Sasuke membuyarkan potong-potongan memori yang bermain di kepala Naruto. Demon-demon itu memblokir jalan masuk.

"Oh, Sialan!" Naruto memaki, larinya melambat.

Mata sewarna langit itu berputar, terbanting ke kiri, lalu kembali ke kanan. Mencari-cari hingga pupilnya menangkap besi pembatas trotoar yang terbuat dari besi. Pangkal barang sebentuk silinder itu berkarat, keropos.

Dan pembatas trotoar itu menjadi objek final adegan visualnya, itu dia!

"Ikuti aku, Sasuke!"

Naruto mendongkrak kecepatan larinya, mengambil arah ke kanan. Dia melompat ke dinding, menekan kaki kirinya untuk memberikan dorongan kedua bagi kaki kanan. Naruto bersalto sekali.

"HEAH!"

BRAAK!

Alas sepatu karetnya mencabut segera besi pembatas dari 4 baut yang sekedar menjaganya terpasang. Besi silinder itu berputar di udara, Sasuke mendongak. Naruto tak menginstruksikan lagi, dahi Sasuke sempat sedetik berkerut, namun tatkala besi itu melintang di garis horison, insting jendralnya bermain.

Dan seiring dengan permainan logika mereka berdua, Shikamaru turut memahami. Tangannya menarik lengan mungil sang putri.

"Berhenti, Ino-Sama!"

"Kyaa!"

Sasuke menghentakkan kakinya mengejar besi pembatas . Tinggi lompatannya baru mencapai satu setengah kali tubuhnya tatkala Naruto tiba, menerjang dari atas dengan kedua kaki tegak lurus.

Dan besi itu terpental sudah dengan sepasang energi tendangan. Bergetar seperti kipas sebelum menghantam barisan depan demon dengan posisi horisontal.

4 demon di tengah ambruk, Naruto menoleh sekali. Memberikan isyarat langsung dengan tatapan tajam pada Shikamaru dan Ino yang tadi berhenti.

Mereka hanya rubuh, Naruto! TIDAK MATI!

Dan mereka berempat berlari lagi, yang terlintas di benak mereka hanya segera naik mobil, dan melarikan diri dari tempat itu.

Sialan, Tuhan malah memutar fenomena dunia menyakitkan yang pastinya malah membuat kaki-kaki mereka lemas.

"O-oh...Ini tidak nyata..." Sasuke bergumam tak jelas.

Demon-demon itu berkumpul di pojok-pojok area parkir, membanting mobil-mobil dan kendaraan sebelum melompat-melompat, menghabisi nyawa manusia. Ketegangan memuncak dengan keringat sebutir jagung yang membasahi dahi pemuda pirang.

"Tsk!"

Dan kepalanya menari, ke kanan dan kekiri.

Dimana bisa sembunyi?

Dimana?

"Naruto! Ada lorong di sana!"

Naruto menangkap arah telunjuk Shikamaru, ada pintu gudang di samping gedung. Tak terlalu besar, namun yang pastinya bersembunyi di dalamnya cukup untuk menyembunyikan hawa kehadiran. Sasuke dan Ino turut mengangguk setuju.

Naruto yang masuk paling belakang menutup rapat pintu seng. Tangannya menjelajah sisi kiri pintu, mengharap ada sesuatu yang paling tidak bisa mengunci mereka dari demon-demon sialan itu. Tak ketemu. Naruto berjongkok, meraba-raba lantai ubin yang terkotori debu.

Dan mereka sungguh beruntung, kulit Naruto menangkap sesuatu berukir dari logam. Naruto mengangkatnya, mengunci langsung engsel pintu dengan tegang .

Bunyi ceklek spontan diikuti dengan desahan lega sebelum Naruto membanting dirinya bersandar ke pintu, lalu meluruh turun. Hatinya belum sepenuhnya tenang, dia berdiri lantas mengintip lewat jendela pintu sejajar dengan kepalanya.

Dan sebelum lima detik berlalu, Naruto memalingkan kembali pandangannya. Dia tersengal-sengal.

Dari nafasnya yang semakin memburu dan matanya yang baru saja tertutup, ketiga rekannya memastikan di balik jendela yang mengintip itu, Naruto baru saja menyaksikan puluhan pembantaian yang keji.

4 manusia itu bergejolak sudah darahnya, Sasuke menemukan tong bekas minyak berwarna merah yang terlentang, dia duduk lalu menelan ludah.

"Oh, brengsek." Dia mulai berbicara. "Aku tahu kalau kalian benci dengan apa yang akan ingin kuucapkan ini." Nafasnya terengah-engah.

"Tapi Demi Tuhan, aku tak percaya kalau itu demon. Jikalaupun itu demon, aku masih berpikir dua kali untuk memastikan alasan kenapa mereka di sini!"

"Aku juga." Timpal Shikamaru, nafasnya tersengal sembari memperlihatkan kegiatan tangannya yang berusaha menghapus peluh dari dahinya. "Kejadian ini sulit untuk bisa dijelaskan."

Naruto berpindah sudut bola matanya. Dari Sasuke ke Shikamaru, lalu akhirnya turun ke adiknya. Oh, Kami. Dia nyaris melupakan Ino. Adik perempuan yang hanya selisih dua tahun darinya itu berjongkok sambil menggigil, kelopaknya sudah basah di pinggir. Naruto mendekap langsung adik semata wayangnya, membenamkan kepala gadis berambut pirang itu ke dadanya.

Dan sesuai dugaan pangeran pirang, tuan putri itu lantas menangis terisak-isak namun lirih. Pemuda safir menaln ludahnya sendiri.

Demi Tuhan, dia pun merasa galau dan tegang bukan main. Shikamaru yang baru mengeluarkan zippo menghapus keringatnya yang sebiji jagung menggaris dari rambut hitamnya.

" Damn it!" Sasuke mengumpat . "Kalian lihat itu? HA? mereka itu DEMON! Yang Mulia Pangeran, Demi Tuhan! Itu DEMON! Dengar? Ini BUMI! Ini TOKYO dan di Tokyo tidak ada yang namanya Demon!" Mata hitamnya seakan terbakar.

"Berhentilah menggerutu, Sasuke." Shikamaru menyela, dimasukkannya zippo ke saku kemeja."Mengumpat tidak akan menyelesaikan masalah."

"Ho? The Fuck?" Sasuke mengibaskan tangannya, lalu berdiri seraya menuding. "Kau mestinya pakai IQ 300 mu itu untuk lebih jauh menganalilsa apa yang terjadi di sini, Tukang Hitung."

Shikamaru mengepalkan tangannya,"Jaga kata-katamu, Jadah! Kau harus tahu bagaimana-"

"Diam dan tenang, Uchiha, Nara."

Naruto berdehem, lantas diam. Kedua pemuda berambut hitam yang nyaris baku hantam di depannya ini lantas berhenti . Shikamaru jamin tak bakal merasa puas dengan kalimatnya yang terpotong di tengah, namun nyatanya, Naruto menyadari sepasang mata di depannya ini jelas mengharap jawaban. Meskipun sudah setahun ini mereka tinggal bersama dan sufiks penghormatan seakan lenyap di antara mereka, Naruto tetaplah Naruto.

Dia tetaplah ksatria NERV, dia tetaplah keturunan Namikaze, Yang Mulia Pangeran yang ditunggu menjadi calon Baginda Raja selanjutnya. Shikamaru dan Sasuke tahu itu, tak ada keraguan sama sekali.

Kata-kata Naruto adalah perintah, dan kalimatnya merupakan titah.

" Terkadang kenyataan yang berlangsung di depan mata kita terlalu pahit hingga kita menyangkal sempurna realita itu ." Naruto mengatur benar kalimatnya agar tetap lugas dan mudah dipahami. "Jikalau pernyataan itu membutuhkan komentar, hanya itu yang bisa kukatakan pada kalian, Jendral Uchiha, Nara Shikamaru."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Naruto?" Sasuke mengejar, "Mereka itu benar-benar demon dan-"

"kalau iya lantas kenapa?"

Sasuke bungkam.

"...Ya...Aku..."

Safir itu menembus aura angkuh obsidian, mata Sasuke berputar, mencari jawaban yang seakan hilang dari kepalanya,

"... bahkan sudah melupakan cara untuk menggunakan feuzar."

Naruto menggelengkan kepalanya,"Feuzar bukan segalanya, Teme. Kau jangan berpura-pura bodoh, kau pasti paham akan apa yang kumaksud."

Naruto menghela nafas, dari balik pintu dia bisa mendengar samar-samar teriakan-teriakan kematian lagi. Oh, sekali lagi Demi Tuhan. Kalutnya memang berlipat-lipat saat ini, namun membayangkan pembunuhan brutal yang tengah terjadi sudah lebih membuat hatinya pedih bukan main.

"Intinya entah apapun yang sedang terjadi sekarang ini, dari mana demon-demon itu datang, siapapun yang bekerja di balik semua fenomena ini adalah problematika nomor kesekian, hipotesa yang aku dapat adalah kita bisa menggunakan mereka untuk kembali ke NERV. Mereka pasti datang ke sini menggunakan portal dan kita harus mencari tahu di mana portal itu untuk dapat kita gunakan." Naruto mengatur nafasnya yang terengah, "dan setelah itu baru kita bisa memikirkan awal mula yang aku katakan tadi."

"Jangan bilang kalau kita akan melawan mereka yang seperti Orochimaru lagi."

"Kita tak ada pilihan, Shikamaru. Apapun resikonya harus kita tempuh. " Naruto menegaskan kata-katanya, "Harus."

Sasuke dan Shikamaru terdiam, merenungkan titah Sang Pangeran Pirang. Naruto berpaling dari kedua wajah itu tatkala merasakan adanya gerakan di dadanya, Ino mengangkat kepalanya.

"Daijoka, Ino?"

Ino sesenggukan, menahan sakit di tenggorokan sebelum mengangguk. Senyum Naruto terangkat, dihapusnya sisa air mata yang sempat mengering di belah pipi adiknya yang seputih salju. Naruto melepas rangkulan adiknya.

Dan tepat saat itu sebuah suara jeritan menyentak indera pendengarannya. Naruto berdiri, mengintip dari balik jendela pintu.

Seorang anak kecil tengah menangis di pintu gang, di dalam pelukan seseorang ibu yang memakai tudung, mereka terduduk pasrah. Jelas, lelah dan takut memakan habis stamina dua manusia itu. Naruto menahan nafas saat seekor demon mendekat, mengangkat tangan kanannya yang berbentuk golok pada mereka.

Dan tiba di saat genting itu, seekor anjing berbulu putih menyerang. Melompat ke arah kepala si demon hingga berjalan mundur. Naruto memperhatikan jelas adegan itu dengan darah mendidih. Anjing kecil itu menggigigiti kepala si demon, darah hitam mengucur, terbang menjadi gas.

Dan sebelah tangan demon itu meraih tubuh anjing kecil itu, melemparkannya tanpa ampun ke dinding. Salakan menyusul setelah benturan keras terdengar, namun kian melemah.

Dan dua detik berikutnya, gonggongan kecil itu benar-benar lenyap dari indera pendengarannya.

Lenyap.

Naruto menutup jendela pintu, dia menunduk penuh rasa penyesalan. Dibelokkannya arah pandangnya ke kanan, dan gerakan kepalanya berhenti.

Sebuah tongkat baseball yang berdiri di dinding gudang membuatnya menyeringai.

"Sasuke,"

Nada serius itu menampar sang mantan jenderal, "i-iya?"

"Aku titip adikku, jaga dia."

Naruto mengambil tongkat baseball itu, lantas meraih kunci yang masih menggantung di gembok dan memutarnya hingga terbuka. Shikamaru mengerutkan keningnya.

"Y-Yang Mulia, anda mau keman-? "

"-Aku hanya ingin mencoba menjadi anjing. "

Mata hazel itu memancarkan tanda tanya. Naruto berpaling seraya tertawa garing, "Kau juga, awasi dari sini sampai aku perintahkan sesuatu, Shikamaru."

Anggukan Shikamaru menandai pintu gudang yang terbuka, memancing belokan kepala demon barusan. Naruto sadar kalau seringainya semakin lebar.

Dan dalam hitungan detik, Ino melihat kakaknya sudah berlari. Melompati kedua manusia itu masih merunduk pasrah, lalu menghantam dengan keras bagian atas si demon.

Sepasang teriakan membulatkan mata biru langit Ino, yang pertama meledak dari bibir sang kakak. Yang kedua, muncul dari demon. Naruto mengibaskan tongkat pemukul baseball itu, mencipratkan darah hitam yang turut berubah menjadi gas.

Dan memorinya berputar. Dia terkekeh tipis, saat menyetarakan jarak antar dirinya dan kedua manusia yang tak bersalah itu.

"Anda berdua tidak apa-apa?"

Naruto menunduk, memegang pelan bahu sang Ibu yang nyaris melonjak kaget sebelum mengangkat kepalanya.

"A-ah... S-Saya ma..sih...H-Hidup?"

Kalimat itu jelas terbata-bata, Naruto memaksakan senyum terlembutnya. Dia mengangguk,

"Setelah ini larilah sebisa mungkin, ya Bu?"

"Eh, b-Baik. Tapi anda sendiri bagaiman-"

"-Aku tidak akan bertindak gila, masih ada beberapa temanku di sini dan harus kujemput."

Ibu itu mengikuti arah mata Naruto, dan tatkala melihat gudang di akhir gang Ibu itu sontak mengangguk mengerti.

"O-Okaa-San?"

Bocah kecil itu merengek, suaranya bergetar hebat. Naruto menahan pedih yang semakin menyayat dengan senyuman manis, menenenangkan hati anak ibu itu sebelum berlalu dari hadapannya.

Naruto berdiri tegap, memastikan dua sosok yang mulai menghilang dari pandangan.

Dan tak sampai dua hitungan, genggaman tangan Naruto mendahsyat. Diangkatnya badan tongkat baseball itu, menepuk-nepukkannya ke telapak kiri. Kh, Seringai pangeran itu semakin lebar.

Darah kehitaman terpercik di telapak tangan yang lebar itu, Naruto membungkukkan badannya. Lalu berlari.

"Let's rock!"

Naruto tak menyia-nyiakan stamina yang sudah digunakannya untuk menggenggam, Naruto berlari di antara kerumunan demon, menyelip di antaranya sebelum mengayunkannya ke sebuah bagian kepala.

"SATU!"

Naruto menggeser langkah, lalu menghantamkan tongkat baseball itu ke sepasang demon yang lengah.

"TIGA!"

Beruntun empat,

"TUJUH!

Satu patah di tengkorak, satu putus bagian tangan, dua rubuh dengan kepala lepas.

"SEBELAS!"

Naruto sibuk menghitung, kepala ke 15 berguling dan lenyap menjadi debu tatkala dia melambaikan tangan kirinya dengan tegang. Shikamaru melihatnya,

"LARI!"

Ketiga rekannya berlari secepat kijang, keluar dari gudang. Sasuke berhenti sedetik guna meraih pipa paralon selingkar ibu jarinya yang tergeletak sembarangan dekat tong sampah, lalu kembali berlari.

Naruto merogoh kunci, melemparkannya pada Shikamaru"Kalian masuk mobil, akan kutahan mereka sebisaku!"

Shikamaru menangkapnya, "W-Wakkata!"

Naruto memalingkan wajahnya, bersiap untuk menghantam tengkorak makhluk-makhluk aneh itu lagi,

Namun Sasuke yang –entah sejak kapan- tengah berpesta dengan paralon bekas membuatnya mengangkat alis.

"Ck! Sasuke BODOH! Masuk ke dalam mobil!"

"I know that exactly, Your Hollines." Sasuke menjawab. Bahasa inggrisnya tak kacau meski tangannya sibuk menggempur seekor demon yang tengah menunduk hingga paralonnya terpantul. "But i guess you will pass some trouble without me!"

"Tsk! Kau Breng-!"

SREETT!

Naruto baru akan mengumpat lagi saat sebuah desingan tajam melintas di bahunya. Sebuah pisau besar nyaris menggores kulitnya dan otomatis, kelengahan dirinya itu membuat giginya bergemeletuk.

Dan amarahnya dilanjutkan dengan ayunan luar biasa cepat ke samping, meretakkan wajah menjijikkan itu sebelum menghabiskannya menjadi debu. Naruto menarik tangannya, mendapati sekian senti sayatan yang memisahkan sekian senti serat kain jaketnya dengan pandangan murka.

"Tuh, kan. Apa kubilang."

Naruto menggosok-gosokkan bagian luar telapaknya ke atas jaket. Dia menimbang-nimbang tongkat bertuliskan H.S. O itu sebelum membulatkan matanya

"Yah, kurasa kali ini kau kuampuni, Jendral."

(TBC)


YEAH! And finally The BATTLE BEGUN! Hahaha... Ane sendiri geregetan bagaimana harus menggambarkannya. Chapter-chapter depan akan lebih ke battle, otomatis. Kalau seandainya nanti serasa membosankan, silahkan disampaikan. Akan ane reka agar tidak terlalu nyebelin. Khikhikhi...

.

Yoh, dan kalau sekedar ingin mengevaluasi, ane ingin tahu apakah dari ketiga chapter ini serasa terlalu pendek, atau bahkan sudah pas. Mungkin di antara kalian ada yang menyadari, bahwa ane terbiasa condong untuk menulis ke LONG-SHOOT. Jarang sekali ane punya konsep untuk menyelesaikan cerita dalam karakter pendek. Sekarang sebagai pembelajaran pula, ane mencoba untuk menaruh cerita dalam sebuah kerangka, agar tidak terlalu berat untuk dibaca.

.
So, segala macam masukan, ide, kritik membangun, hingga ucapan sekedar lewat pun akan akan ane hargai setinggi-tingginya. Saling mendukung itu penting untuk kita karena kita sama-sama belajar, teman :DD

.
I always waiting.

Regards,

Alp Arslan