Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Yey, akhirnya update lagi. Trus soal Ratenya, aku belum ada rencana buat naikin Ratenya. Maaf buat kekurangan dan kesalahan fic ini. Kayaknya chapter ini bakal ngebosenin deh. Semoga kalian suka...
Thanks buat: Zeeitha, Hazena, elflameshawol, hana-chan, GaaHinaSasu-L, ika chan, Ma Simba, uchihyuu nagisa, ulva, Ekha, Dasya-chanTalibun, lonelyclover, Sugar Princess71, Rival, Gui gui, nn, zoroutecchi, Ai HinataLawliet, Rishawolminyu, fuyu-yuki-shiro, mayraa, OraRi HinaRa, Aya Harukawa, kyu's neli-chan, Dindahatake, Nerazzuri, Mimi love, gaahinalover, p-chan, Rie Mizuki, Bliebers, Cutie white, Kyuber Hyuuzu, and all silent reader
Zeeitha: nih udah update, gomen lama.
Hazena: wuih, senengnya dipanggil kakak^.^ baru aku update maaf kalau lama
elflameshawol: hehe... Makasih
hana-chan: sama aku juga mau_
GaaHinaSasu-L: mungkin juga tuh. Jauh juga nyasarnya ya...^.^
ika chan: kompaknya sih buat ngerjain GaaHina aja^.^
ulva: aku juga senyum2 gaje pas nulis chap 2 sampai kakak aku heran^.^ soal Sasuke aku belum tahu bakal muncul atau gak, lihat dulu ya...
Ekha: yup chapter ini mereka nikahnya
Dasya-chanTalibun: haha... maafkan aku. Aku gak buat adegan MPnya ntar ratenya naik lagi.
Rival: setuju sama kamu. Hehe... Chapter ini gak ada adegan gituan. Mungkin chapter depan, paling sekilas aja
Gui gui: hehe... Thx ya. Aku juga suka ShikaTema
nn: udah update, maaf lama
zoroutecchi: setuju(ditendang ma Neji) iya semi M. Aku belum ada rencana naikin Ratenya
Ai HinataLawliet: hehe... Mereka emang pair yang manis. Reaksi Hiashi? Mirip2 reaksi Neji kali ya. Chapter ini mereka nikah kok. Tapi MPnya chapter depan itupun sekilas2 aja. Takut Ratenya naik
Dindahatake: makasih ya... Maaf chapter ini lebih pendek dari chapter sebelumnya
Mimi love: gomen kalau GaaHinanya dikit
gaahinalover: thx ya. Udah update maaf lama
p-chan: masih lanjut kok^.^
Bliebers: thx ya...
Cutie white: hehe.. Betul juga ya. Gak kepikiran sampai situ...
Desert
Chapter 3
Temari dan Kankuro menatap Gaara dalam diam. Mereka baru saja dimarahi oleh Gaara. Akibat kejahilan mereka. Temari karena ia memfoto Gaara dan Hinata kemudian mengirimkannya ke Konoha. Dan Kankuro karena ia menyebarkan foto itu ke seluruh desa Suna. Yang mengakibatkan kantor Gaara kebanjiran surat. Ya, surat itu pun bermacam-macam isinya. Mulai dari yang mengatakan bahwa ternyata Gaara orang yang romantis juga para orang tua yang memprotes anaknya melihat foto itu. Para orang tua menganggap foto itu tak pantas dilihat oleh anak-anak. Sebenarnya foto itu tak benar-benar parah. Hanya saja karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan dimana mereka masih belajar membedakan hal yang pantas dan tidak dilakukan. Jadilah Gaara dikecam karena hal itu.
Dan kedua tersangka yang melakukan hal itu. Yang menyebabkan dirinya dan Hinata menjadi bahan gosip. Harus mendapat hukuman. Itu keputusan Gaara. Maka dari itu setelah mengomel serta berceramah panjang lebar. Gaara memutuskan hukuman mereka.
"Aku akan menahan uang belanja kalian untuk dua minggu. Lalu tidak ada misi untuk kalian selama satu bulan," putus Gaara.
Ya, bagaimanapun Gaara seorang Kazekage karena itu ia bisa melarang misi untuk mereka. Juga menahan uang belanja mereka. Karena ia lah yang mengurus pemberian uang untuk mereka. Meski ia adalah anak yang paling kecil, tapi ialah yang punya sikap lebih dewasa dibanding ketiganya. Di keluarga Sabaku, Gaaralah yang bertindak sebagai kepala keluarga.
"Lalu sebagai gantinya. Temari-nee akan bekerja di kantor Kazekage untuk menyortir dan membalas surat selama sebulan. Dan Kankuro-nii akan bekerja sebagai guru di akademi. Kankuro-nii akan mengajarkan teori-teori pada murid akademi. Dan tak ada praktek," kata Gaara.
Sontak Temari dan Kankuro menatap Gaara seakan tak percaya. Pekerjaan menyortir dan membalas surat itu sangat membosankan. Terutama bagi Temari yang menyukai udara bebas. Ia sangat benci melakukan tugas itu. Sementara Kankuro, ia sih tak masalah untuk mengajar. Apalagi jika diizinkan untuk mempraktekkannya. Tapi, ia sangat membenci teori. Dari dulu ia tak suka menghafal. Dan sekarang Gaara menyuruhnya mengajar teori yang berarti ia harus membuka buku dan mempelajari materi yang diajarkannya. Ini sungguh neraka bagi mereka berdua.
Maka kedua kakak-beradik ini memutuskan untuk menggunakan jurus pamungkas mereka. Selama ini jika mereka berbuat ulah dan mengeluarkan jurus pamungkas ini, Ayah mereka akan mengalah. Siapa tahu Gaara juga bereaksi sama.
Temari dan Kankuro saling berpandangan kemudian mengangguk sepakat lalu menatap Gaara dengan pandangan memohon dan mata berkaca-kaca diiringi dengan permohonan yang menyedihkan hati.
"Kami mohon Gaara. Kami janji tak kan mengulanginya lagi," kata Temari dengan suara memohon.
"Ya, Gaara. Jangan masukkan kami ke dalam neraka itu. Kami mohon," bujuk Kankuro lagi, masih dengan suara memohon.
"Tidak," kata Gaara tegas masih dengan ekspresi yang dingin seakan tak tersentuh dengan permohonan kedua kakaknya.
Hinata yang sedari tadi melihat dan mendengarkan kejadian itu dalam diam. Tersenyum geli. Sungguh ini sangat menggelikan. Temari dan Kankuro terlihat seperti anak-anak. Apalagi ketika Gaara memarahi mereka. Mereka betul-betul terlihat seperti anak nakal. Apalagi ketika mereka memandang Gaara sekarang. Pandangan memohon mereka bagi Hinata terlihat seperti pandangan anak anjing yang memelas. Hinata masih tersenyum geli sampai akhirnya pandangan memelas itu berpindah ke arahnya.
"E-eh," kata Hinata bingung.
Temari dan Kankuro memindahkan pandangan mereka ke arah Hinata. Memohon agar Hinata menolong mereka dari hukuman Gaara.
"Uh...uh..." Hinata merasa tak enak dipandang seperti itu. Pandangan itu membuatnya merasa kasihan pada mereka. Akhirnya Hinata putuskan untuk menolong mereka.
"Ga-Gaara-kun sudahlah. Ha-hapuskan saja hu-hukuman mereka. Ka-kasihan Temari-nee dan Kankuro-nii," kata Hinata gagap. Jujur saja ia sendiri takut dengan Gaara saat ini.
Temari dan Kankuro menatap Hinata dengan pandangan terima kasih. Dan Hinata mau tak mau terpaksa melanjutkan pembelaannya itu.
"Tidak. Mereka harus dihukum agar tak mengulangnya lagi," kata Gaara masih dengan nada tak mau dibantah.
"Tapi Gaara..." Belum selesai Hinata berkata, Gaara sudah memotongnya.
"Tidak usah membela mereka. Dan kalian jangan meminta dukungan Hinata lagi karena aku takkan berubah pikiran," kata Gaara. Ia pun berlalu dari ruangan itu.
Temari dan Kankuro menunduk kecewa. Sedih karena mereka tetap dihukum. Sebenarnya mereka mau melawan. Tapi tak berani. Gaara itu sungguh menyeramkan.
"Temari-nii, Kankuro-nee, maaf aku tak bisa menolong kalian," kata Hinata sedih.
"Tak apa Hinata. Ini memang salah kami," kata Temari yang mendapat anggukann persetujuan dari Kankuro.
"Kalau begitu, ayo kita masak makan malam, Hinata," ajak Temari. Mereka berduapun berlalu ke dapur untuk memasak makan malam.
"Masakanmu kemarin sangat enak, Hinata," puji Temari.
"Te-terima kasih Temari-nee," kata Hinata senang.
"Ah, bagaimana kalau besok kita memasak kue," ajak Temari.
"Ya, itu ide yang bagus," balas Hinata.
"Setelah itu kamu bisa mengurus persiapan pernikahanmu dengan Gaara. Dan aku terjebak dengan surat-surat yang membosankan itu," kata Temari sedih.
"Ku-kurasa tak seburuk itu," kata Hinata lagi. "Kalau begitu besok aku akan mengunjungi Temari-nee di kantor," hibur Hinata.
"Ah, terima kasih Hinata. Kamu memang adikku yang baik," balas Temari. Setidaknya ia tidak akan terkurung di dalam ruangan sendirian seharian. Selanjutnya mereka memasak diselingi dengan canda tawa.
Makan malam hari ini, dengan suasana sepi. Sebab mood Gaara masih dalam keadaan buruk dan Temari maupun Kankuro tak berani berkata-kata. Takut hukuman mereka ditambah. Seperti biasa, Gaara selesai makan duluan dan menghilang ke kamarnya. Hinata pun setelah selesai makan juga kembali ke kamar karena hari ini ia sangat kelelahan. Bukan hanya dari segi fisik melainkan juga dari segi mental.
Hinata POV
Aku masuk ke kamarku dan berbaring di kasur. Aku memandang ke arah tembok. Di sebelah tembok itu adalah kamar Gaara. Sudah dua hari aku berada di Suna. Dan aku merasa nyaman disini. Aku merasa diterima. Meski begitu aku tetap merindukan desaku. Ayah. Neji-nii. Hanabi. Kurenai-sensei. Teman-teman timku, Shino dan Kiba. Teman-teman sesama Rookie 12. Terutama aku merindukan Naruto-kun. Nama Naruto terngiang di benakku. Aku ingat terakhir kali aku melihatnya Naruto sedang bersama Sakura. Itu membuat hatiku sakit. Meski aku sudah tahu sejak awal bahwa Naruto mencintai Sakura. Tapi melihat mereka bersama tetap membuat hatiku sakit. Tanpa kusadari air mata kini mengalir di wajahku. Aku berusaha menahan agar suara isak tangisku tak keluar. Melainkan kini aku menangis dalam diam.
Lalu aku teringat dengan Gaara dan juga kejadian tadi pagi. Kejadian itu membuat wajahku memerah. Aku tak menyangka di malam kedua aku tidur di Suna, aku akan bangun dalam pelukan Gaara. Dan yang membuatku bertambah malu, Gaara tak juga mau melepaskanku. Aku tahu bahwa Gaara jarang bisa tidur lelap. Tapi bukan berarti ia harus terus memelukku bukan, dalam tidurnya itu.
"Lupakan," kataku pada diriku sendiri. Perlahan pikiranku pun mulai mengelana. Hingga tak sadar kantuk itu pun menyerang dan aku jatuh tertidur.
.
..
...
Normal POV
Hari ini Hinata dan Temari pergi ke pasar mencari bahan untuk membuat kue sesuai janji mereka kemarin. Setelah puas menemukan bahan-bahan yang mereka cari. Mereka kembali ke rumah. Dan bersiap untuk memasak. Sayangnya meski Temari sudah bisa memasak makanan untuk dimakan, ia sama sekali tak punya kemampuan dalam membuat kue. Dan ini merupakan percobaan pertamanya. Maka Hinata pun menjadi guru untuk Temari. Untungnya Hinata orang yang sabar sebab bila tidak mungkin ia sudah sangat kesal dengan Temari yang tak juga mengerti apa yang dikatakan Hinata. Akhirnya setelah perjuangan beberapa jam pun, Hinata dan Temari berhasil membuat kue. Hinata memutuskan untuk membuat Chocolate Cake. Tapi mereka tak menggunakan cokelat biasa yang manis melainkan menggunakan cokelat pahit. Sebab anggota keluarga Sabaku tak menyukai makanan manis.
Temari pun segera bersiap-siap ke kantor untuk menjalankan hukumannya. Hinata yang juga ingin pergi ke kantor Kazekage untuk menemui Gaara memutuskan ikut dengan Temari. Mereka berjalan cepat-cepat. Karena sebenarnya Temari sudah terlambat dan ia jelas tak ingin dimarahi ataupun ditambah lagi masa hukumannya. Sesampainya di gedung yang merupakan tempat jalannya pemerintahan Sunagakure itu, Hinata dan Temari memutuskan untuk berpisah. Hinata berjalan pelan menuju ruangan Gaara diiringi sapaan serta senyum tertahan dari para ninja yang ada di sana. Hinata tentu saja tahu apa arti senyum tertahan itu. Hal itu otomatis membuat wajah Hinata memerah. Maka ia pun berjalan sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
Hinata mengetuk pintu ruang kerja Gaara. Dan kemudian terdengar suara balasan dari dalam.
"Masuk"
Hinata membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Sekilas ia melihat sofa yang kemarin ditidurinya bersama Gaara. Cepat-cepat ia alihkan pandangannya sebelum wajahnya semakin merah.
"Ada apa?"
"A-aku datang me-membawa kue untukmu," kata Hinata. Hinata kemudian meletakkan kue yang dibawanya di meja Gaara. Lalu membukanya untuk menunjukkan isinya pada Gaara.
"Aku tak suka makanan manis," kata Gaara.
"A-aku menggunakan cokelat pahit u-untuk kue ini," jelas Hinata.
Gaara mengerutkan keningnya mendengar perkataan Hinata. Lalu ia mengambil garpu yang dibawa Hinata bersama kue itu kemudian mencicipinya.
"Ba-bagaimana?" tanya Hinata gugup. Takut Gaara tak menyukai kue buatannya.
"Hmm..." hanya itu respon Gaara dan melanjutkan makannya.
'Mungkin itu artinya ia suka,' pikir Hinata.
"Terima kasih," kata Gaara setelah menyelesaikan makannya.
"Sama-sama," jawab Hinata kemudian tersenyum pada Gaara. Gaara melihat senyum itu dan ia menyukainya. "Kalau begitu aku pamit dulu," kata Hinata lagi.
"Hn," balas Gaara.
Hinata pun berlalu dari ruangan itu. Ia putuskan untuk menuju ruangan Temari sesuai janjinya kemarin.
"Temari-nee," panggil Hinata sambil mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara perempuan dari dalam yang menyuruh Hinata masuk.
Hinata masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ruangan itu tidak besar. Kecil malah. Hanya ada meja dan kursi dalam ruangan itu. Hinata bisa melihat rambut kuning Temari di atas tumpukan surat dan juga dokumen. Surat-surat serta dokumen menumpuk tinggi di meja dan sisanya tersebar di lantai. Hinata prihatin melihatnya.
"Temari-nee, baik-baik sajakah?" tanya Hinata cemas.
"Semoga saja Hinata. Ini sangat melelahkan," kata Temari putus asa.
"Apa Temari-nee mau kubantu?" tanya Hinata.
"Benarkah? Terima kasih Hinata," kata Temari senang.
Maka Hinata pun duduk di kursi yang tersisa dan mulai membantu Temari. Setelah beberapa jam, Hinata mulai merasa lelah dan frustasi karena apa yang dikerjakannya tak juga kunjung selesai. Selesai ia mengerjakan dokumen itu maka muncul lagi dokumen baru. Hinata malah ingin sekali melempar keluar Shinobi yang membawa masuk tumpukan dokumen itu.
"Hinata sudah cukup. Kamu pergilah beristirahat. Terima kasih Hinata," kata Temari.
"Kamu yakin Temari-nee?" tanya Hinata ragu melihat tumpukan kertas yang menggunung.
"Ya, ini semua takkan pernah selesai," kata Temari lagi masih dengan tangan yang menulis laporan.
"Baiklah. Aku pamit Temari-nee."
"Ya. Bersenang-senanglah."
Hinata pun keluar dari ruangan itu. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah Suna. Bagaimanapun tempat ini akan menjadi rumahnya. Dan ia masih belum paham daerah-daerah Suna. Yang ia tahu daerah Suna sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari. Daerah Suna yang diketahuinya pun hanya dikelilingi oleh padang pasir. Jujur bila soal cuaca ia tak tahan dengan cuaca Suna. Ia tak nyaman tinggal di sini. Apalagi ia lahir di Konoha yang memiliki udara tropis.
Hinata berjalan-jalan hingga akhirnya ia tiba di suatu taman. Ia duduk di taman itu sambil melihat anak-anak yang tengah bermain. Anak-anak itu tampak riang. Ketika melihat mereka Hinata teringat masa kecilnya. Saat kecil ia selalu sendiri. Tak diterima oleh klannya sendiri. Neji pun menjauhinya. Ia sungguh kesepian. Saat melihat anak-anak lain bermain dan kemudian dijemput oleh orang tua mereka. Ia merasa iri. Tak ada yang mempedulikan dirinya. Tanpa sadar Hinata pun menangis.
"Nee-san, kenapa menangis?" tanya seorang anak laki-laki kecil.
"Eh..." Hinata terkejut mendapati suara itu. "Tidak kok," kata Hinata lagi sambil menghapus air matanya. "Kamu Kei bukan?" tanya Hinata lagi.
"Hehe... Iya. Nee-san masih ingat aku?" kata anak kecil itu senang.
"Tentu saja. Mana mungkin aku lupa," kata Hinata kemudian menggendong Kei. Hinata lalu mendudukkan Kei di pangkuannya.
"Mana Ibumu?" tanya Hinata lagi.
"Ibu sedang bekerja. Karena Ayah sudah tiada. Jadi Ibu yang bekerja," kata Kei polos.
"Apa kamu tidak sedih?" tanya Hinata lagi. Ia merasa kasihan pada anak itu. Ia dan anak itu sama, sama-sama kehilangan seorang orang tua. Hinata kehilangan Ibu. Kei kehilangan Ayah.
"Tidak. Karena Ibu bilang Ayah ada di surga. Dan Ibu bilang surga adalah tempat yang sangat indah. Ayah pasti bahagia di sana," kata Kei.
Hinata memeluk Kei. Terharu mendengar jawaban polos Kei. "Apa kamu tidak kesepian?" tanya Hinata lagi.
"Tidak. Ibu bekerja untukku. Dan aku punya banyak teman," katanya lagi.
Hinata tersenyum mendengar jawabannya. Tiba-tiba Kei melompat turun dari pangkuan Hinata. Dan berlari menuju teman-teman yang memanggilnya untuk mengajak bermain. Sebelum itu ia berteriak pada Hinata, "Sampai jumpa lagi, Nee-san."
"Iya," balas Hinata setengah berteriak. Setelah itu Hinata berdiri dan berlalu dari taman itu. Ia kemudian berjalan-jalan mengelilingi desa Suna. Sebenarnya desa Suna itu cukup indah, dengan pasir yang menggelimpah serta arsitektur bangunan yang khas. Seperti peradaban yang telah dijaga beratus-ratus tahun. Dengan adat serta tradisi yang khas.
.
..
...
Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Besok adalah hari pernikahan Hinata dengan Gaara. Dan hari ini keluarga Hinata serta Hokage juga Rookie dan para Sensei yang lain akan datang untuk menghadiri pesta pernikahan Hinata. Membuat Hinata semakin cemas akan bertemu dengan Ayahnya juga Naruto. Apa yang harus dikatakannya pada mereka. Ia gugup sekali. Tambah lagi sejak kejadian ia dan Gaara yang tidur sambil berpelukan itu, Gaara semakin sedikit bicara dengannya. Memang sih sebelumnya Gaara juga irit bicara. Tapi entah mengapa Hinata merasa ada sesuatu yang berbeda. Meski mereka baru berkenalan beberapa hari. Hinata bergerak-gerak gelisah di kamarnya.
"Hinata teman-teman dari Konoha sudah tiba," panggil Temari dari bawah.
"Ah, i-iya," balas Hinata setengah berteriak. Cepat-cepat ia merapikan dirinya. Setelah melihat pantulan dirinya di cermin. Dan ia anggap cukup. Ia segera turun ke bawah. Kemudian ia dan Temari berjalan ke gerbang desa Suna. Disana tampak rombongan desa Konoha.
"Tou-san," panggil Hinata cemas. Masih teringat oleh Hinata perkataan Ayahnya yang terakhir. Ayahnya hanya mengangguk sebagai respon dari panggilan Hinata. Kemudian Hiashi melanjutkan pembicaraannya pada para tetua Suna itu.
Sementara itu Gaara sendiri tengah asyik berbincang dengan Naruto. Ya, lebih tepatnya Narutolah yang berbicara panjang lebar dan dibalas Gaara dengan jawaban yang singkat. Hinata mendekati kedua orang itu.
"Gaara-kun, Naruto-kun," panggil Hinata lirih.
"Ah, Hinata-chan. Bagaimana kabarmu?" kata Naruto semangat. Kemudian ia beranjak mendekati Hinata dan merangkulnya.
"Ba-baik," jawab Hinata gugup. Juga dengan wajah yang merah padam. Dan kemudian Naruto melanjutkan dengan menggoda Hinata soal foto itu.
Tanpa disadari mereka, Gaara menatap mereka dengan pandangan dingin. Ia kesal melihat sahabatnya merangkul Hinata.
Untung saja sebelum Gaara memutuskan untuk menyingkirkan Naruto. Sakura muncul lalu memukul Naruto. Membawanya menyingkir dari Hinata. Kalau saja Sakura tak membawa Naruto pergi mungkin kini Naruto sudah menjadi pasir hidup.
Gaara menatap Hinata dan berjalan mendekatinya. Tapi pandangan gadis itu masih terfokus pada pria dengan rambut pirang jabrik. Pandangan mata gadis itu lembut. Seperti pandangan mata Temari saat melihat Shikamaru ingat Gaara. Tapi ada yang berbeda dalam pandangan itu. Pandangan itu terlihat sakit dan sedih. Hinata yang melihat hal itu merasa dadanya sesak dan ditusuk ribuan jarum. Entah mengapa ia ingin sekali Hinata tak menatap Naruto. Melainkan menatap dirinya.
"Hmm..." deham Gaara berusaha menyadarkan Hinata. Sontak saja Hinata mengalihkan pandangannya pada Gaara.
"Ah, Gaara-kun," panggilnya lirih. Meski begitu Gaara masih dapat melihat sorot kesedihan di mata lavender itu. Ia tak ingin melihat gadis itu sedih. Gadis itu terlihat rapuh dan ia ingin melindunginya. Perasaan itu membuat Gaara bingung. Belum pernah ia merasakan hal seperti ini pada seorang gadis. Temari merupakan gadis yang kuat. Dan Temari selalu bilang ia dapat menjaga dirinya sendiri. Sedangkan Matsuri sama saja dengan Temari. Terlebih mereka berdua memiliki orang yang akan melindungi mereka. Ya Shikamaru dan Kankuro. Tapi gadis di hadapannya ini siapa yang akan melindunginya. Kakak sepupunya yang kelewat protektif itu?
Gaara melihat ke arah Neji yang sedang asyik mengobrol dengan seorang gadis berambut cepol dua. Dan ya ia bisa melihat kedekatan mereka.
Jadi kesimpulannya, Neji tidak bisa melindungi Hinata. Karena ia memiliki seseorang. Dan meski sikap protektifnya itu disebutnya melindungi. Bagi Gaara sendiri itu terlihat seperti sikap seorang kakak lelaki yang tak ingin adik perempuannya diganggu. Mungkin Gaara mengerti perasaan itu karena ia merasakan hal yang sama saat melihat Temari dan Shikamaru. Tapi ia tak bisa apa-apa karena ia seorang adik. Hal yang sangat menyebalkan bagi dirinya. Maka Gaara pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melindungi Hinata.
.
..
...
Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Hinata sangat cantik dalam balutan kimono berwarna ungu muda dengan corak bunga lavender. Ia digandeng oleh Ayahnya menuju altar dimana Gaara tengah berdiri menantinya. Gaara sendiri terlihat sangat tampan dalam balutan kimono merah bata serta jubah Kazekage yang membalut tubuhnya. Membuatnya semakin menawan dan berkuasa.
"Sabaku Gaara, bersediakah kamu menerima Hyuuga Hinata sebagai istrimu dan berjanji selalu setia kepadanya dalam suka dan duka, sakit dan sehat, untung dan malang, kaya dan miskin, serta selalu mencintainya hingga maut memisahkan kalian?" tanya pemimpin upacara pernikahan itu.
Cinta? Kata-kata terngiang di pikiran Gaara. Ia tidak tahu apakah ia mencintai gadis itu. Yang ia tahu ia menyukai gadis itu dan ingin melindunginya. Maka Gaara pun menjawab dengan tegas, "Ya, saya bersedia."
Pemimpin upacara pernikahan itu tersenyum mendengar jawaban Gaara yang tegas. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah Hinata dan mengulang pertanyaannya.
"Hyuuga Hinata, bersediakah kamu menerima Sabaku Gaara sebagai suamimu dan berjanji selalu setia kepadanya dalam suka dan duka, sakit dan sehat, untung dan malang, kaya dan miskin, serta selalu mencintainya hingga maut memisahkan?" tanya pemimpin upacara pernikahan lagi.
Hinata tertegun sejenak. Ia menutup matanya dan menghembuskan napas perlahan. Berharap dengan itu ia akan mendapatkan kekuatannya. "Ya, saya bersedia," jawab Hinata lirih namun tegas. Dengan ini ia harus melupakan masa lalunya. Melupakan Naruto.
Pemimpin upacara pernikahan itu tersenyum lagi mendengar jawaban Hinata. Lalu ia berkata, "Kunyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami-istri. Sebagai tanda bukti ikatan kalian berdua, kalian dipersilahkan untuk salin menukar cincin," kata sang pemimpin upacara pernikahan.
Temari yang sedari tadi berdiri di samping Gaara. Segera datang mendekat dengan sebuah baki yang diatasnya terdapat sebuah kotak kecil berwarna merah. Gaara mengambil kotak itu kemudian membukanya. Tampak disana sepasang cincin dengan dua ukuran yang berbeda. Cincin itu terbuat dari emas putih dengan batu permata berwarna biru pekat di tengahnya. Batu permata itu dikelilingi oleh sebuah ukiran seperti tanaman yang menjulur kemudian menjalar mengelilingi cincin itu. Gaara mengambil cincin yang berukuran lebih kecil kemudian memasangkannya di jari manis kanan Hinata. Melambangkan bahwa ia sudah menikah. Setelah itu Hinata mengambil kotak itu dan mengambil cincin yang tersisa. Ia memasangkan cincin itu di jari manis Gaara. Setelah tugasnya selesai, Temari langsung menyingkir dari sana.
"Kamu boleh mencium mempelaimu," terdengar suara sang pemimpin upacara pernikahan.
Gaara mendekati Hinata, kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajah Hinata. Ia membawa wajahnya ke wajah Hinata. Dan mencium gadis itu dengan lembut dan manis. Itu bukan ciuman yang panjang dan penuh gairah. Itu hanya sebuah ciuman singkat yang menjanjikan kasih sayang. Bagi mereka berdua yang memiliki masa kecil yang suram, memiliki seseorang di sampingmu adalah perasaan yang sangat membahagiakan.
Terdengar tepuk tangan riuh dari ruangan itu setelah Gaara melepaskan ciumannya. Gaara hanya menatap mereka dengan pandangan tanpa ekspresi. Sedangkan Hinata sendiri wajahnya sudah merah padam karena malu.
Setelah pemberkatan pernikahan itu selesai. Mereka melanjutkan dengan resepsi pernikahan yang dirayakan serta dihadiri oleh seluruh penduduk Suna. Mereka menerima ucapan selamat yang tak ada habis-habisnya. Rata-rata ucapan selamat itu berisi harapan agar mereka hidup bahagia. Yah kecuali untuk Neji tentu saja. Bukannya memberikan ucapan selamat pada pengantin pria. Ia malah memberikan pandangan bermusuhan padanya. Gaara tentu saja mencuekinya dengan sepenuh hati. Kalau ada orang yang tak menikmati pesta itu, Nejilah orangnya.
Hanabi yang melihat kelakuan kakak sepupunya itu hanya terkikik geli. "Untung Neji-niisan hanya protektif pada Nee-san. Aku tak akan tahu bagaimana aku bisa bertahan jika Neji-niisan seprotektif itu padaku," gumamnya.
Ya, jika Neji adalah orang yang paling tak menikmati pesta itu. Maka Hanabi adalah orang yang paling menikmatinya. Karena ia mendapat tontonan gratis. Jarang-jarangkan ia bisa melihat suami mempelai wanita dan kakak mempelai wanita saling menatap dengan pandangan membunuh. Sungguh itu sangat lucu. Hanabi yang tak sadar bahwa kikikannya terlalu keras. Langsung saja mendapatkan pandangan membunuh dari kedua orang yang ditertawakannya. Sontak saja Hanabi cengo melihat kekompakan mereka. Dan segera lari dari sana sebelum ia dihabisi oleh mereka berdua.
Hinata yang melihat itu hanya bisa mendesah pasrah. 'Mereka hanya kompak untuk hal-hal yang aneh,' pikirnya. Setelah Hanabi lari, Gaara dan Neji melanjutkan pandangan membunuh mereka.
"Ga-Gaara-kun, hentikan itu," pinta Hinata. Sayangnya permintaan Hinata sama sekali tak ditanggapi oleh Gaara. Hinata yang kesal karena Gaara masih saja melanjutkan perang tatapan dengan Neji memutuskan untuk meninggalkan mereka.
Ia pergi berbincang-bincang dengan teman-teman kunoichi serta adiknya, Hanabi. Ya, pembicaraan antar perempuan.
"Hinata, apa kamu tidak gugup karena nanti malam?" tanya Ino dengan seringainya.
"Eh..." kata Hinata gugup.
"Ino-pig, jangan goda Hinata lagi," seru Sakura.
"Apa? Sebenarnya kamu sendiri penasarankan?" kata Ino lagi.
Sakura memerah mendengarnya. Sedangkan yang lain kecuali Hinata terkikik geli melihat Sakura.
"Hei, lagi ngomongin apaan? Gabung dong," kata Naruto yang tiba-tiba muncul.
"Ngak boleh, cuma khusus perempuan aja," kata Tenten.
"Eeehh? Kenapa? Aku kan juga mau gabung," tanya Naruto.
Sakura langsung menjitak kepala Naruto. Lumayan ada pengalih perhatian buat menghilangkan rasa malunya. Sedangkan Hinata hanya menatap sedih kejadian di depan matanya. Sakura dan Naruto tampak sangat akrab.
Di sudut ruangan lain. Ada seorang pria dengan mata jade menatap kejadian itu. Bingung melihat gadis berambut indigo itu.
.
..
...
Gaara dan Hinata masuk ke sebuah rumah. Rumah itu terletak di bagian ujung dari desa Suna. Dimana dekat rumah itu terdapat sebuah oasis yang sangat indah. Di rumah itulah selama seminggu mereka berdua akan menjalani bulan madu. Dan merupakan pertama kalinya mereka berdua sendirian tanpa orang lain. Ya, kecuali pada malam di kantor Gaara. Itupun ada beberapa penjaga di luar. Tapi saat ini mereka betul-betul hanya berdua saja. Sedangkan rumah terdekat ada dalam jarak satu km.
Rumah itu tidak besar. Malah bisa dibilang kecil. Hanya satu lantai. Hanya ada satu kamar dalam rumah itu. Yang artinya mereka berdua akan tidur dalam satu kamar. Meski memang itu sudah sewajarnya karena mereka sudah menikah walau baru beberapa jam yang lalu. Hinata sangat gugup dengan apa yang menantinya di depan. Mereka berdua langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Pesta pernikahan serta perjalanan ke sini sangat melelahkan. Ya mungkin awalnya begitu untuk mereka berdua. Namun setelah Hinata membuka jaket yang sedari tadi dikenakannya untuk menekan udara dingin Suna. Mata Gaara langsung membelalak.
Hinata hanya menggunakan baju kaos tipis. Sehingga Gaara dapat melihat apa yang ada dibaliknya. Sedangkan Hinata sendiri yang kelewat polos atau mungkin gak peka. Tidak menyadari hasil perbuatannya pada Gaara. Ia mengambil pakaian dari tas yang dibawanya. Sayangnya ketika ia membuka tas dan melihat ke dalamnya. Ia sangat terkejut.
"Ah, ti-tidak mungkin," kata Hinata tak percaya.
"Ada apa?" tanya Gaara.
"A-ada yang me-menukar isi tasku," jawab Hinata gugup dengan wajah yang memerah.
"Bagaimana bisa?" tanya Gaara lagi.
"A-aku tak tahu," jawab Hinata lirih.
.
..
...
"Kamu mengganti isi tasnya Hinata, Temari?" tanya Tenten tak percaya.
"Iya. Hehe... Habisnya Gaara tuh dingin banget. Jadi harus dipanasin deh," jawab Temari dengan sebuah cengiran di wajahnya.
"Iya, setuju. Tambah lagi Hinata-nee sangat pemalu," dukung Hanabi.
"Andai aku bisa melihat reaksi mereka," kata Sakura.
"Pastinya bakal lucu sekali. Haha..." setuju Ino
Sayangnya mereka tak menyadari ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan itu. Seorang pria dengan rambut hitam panjang.
"Apa maksud kalian?" tanya Neji sinis.
Sontak saja mereka semua langsung merinding mendengar suara itu.
"Neji-niisan," kata Hanabi gugup.
Sontak mereka semua melihat ke arah Tenten. Dan dengan kekompakan yang luar biasa. Mereka menarik Tenten dan mendorongnya ke arah Neji kemudian lari dari sana. Dan dengan kompaknya berteriak, "Maaf!"
Lagipula mereka pikir lebih baik menerima amarah Tenten dibanding dengan amarah Neji. Bagaimanapun kenyataannya adalah Neji jauh lebih menyeramkan dari Tenten. Setidaknya hal yang mereka lakukan mampu menghindarkan mereka dari amarah Neji meski Tenten menjadi korbannya.
Sedangkan Tenten yang terkejut hanya bisa pasrah jatuh menimpa Neji. Neji tentu saja dengan sigap memeluk Tenten agar tidak terjadi hal yang buruk pada Tenten.
"Te-terima kasih Neji," kata Tenten dengan wajah yang merah padam.
"Sama-sama," jawab Neji gugup. Wajahnya sendiri merona kemerahan.
Setelah itu cepat-cepat Tenten berdiri dan menatap Neji dengan gugup. "A-aku ada urusan. A-aku pergi dulu."
"Iya," balas Neji.
Langsung saja Tenten menghilang dari hadapan Neji. Setelah dirasa cukup jauh dan Neji takkan bisa melihatnya. Tenten jatuh terduduk dengan kaki yang terangkat dan dia langsung memeluk kakinya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Ah, aku memeluk Neji," katanya dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan malu.
Pliiss reviewnya buat chapter ini...
