Random
Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)
Rate K+
Friendship
…
..
.
oOo
Drabble Three
Scream
oOo
.
..
…
:Scream:
Matt celingukan, wajahnya gelisah. Sejak waktu makan siang berakhir, Ia masih mencari seseorang yang akhir-akhir ini keberadaannya sulit ditemukan. Belum lagi dengan kondisi kelas mereka yang berbeda—hal ini membuat Matt semakin jarang melihatnya.
Biasanya ia bisa menemukan sosok bocah beraura penuh intimidasi itu di lapangan pada sore hari, atau di perpustakaan dengan buku-buku setebal kitab suci, atau di kamarnya—kamar Matt juga—tapi aneh, kali ini ia tidak bisa menemukan sosok itu di tiga tempat yang paling mungkin dikunjungi.
Ia menghela napas. Sambil melamun—kakinya melangkah mengitari koridor Wammy tanpa perintah dari otak. Hingga akhirnya ia tidak sengaja melewati sebuah ruang multimedia—dan menemukan sosok yang selama ini dicarinya.
Bingo!
"Mells~ apa yang kau lakukan disini? Aku mencarimu tahu!"
Hening.
Matt seperti menghampiri sebongkah batu. Batu yang memiliki telinga dan telinga itu dijejali oleh headphone sebesar dada Halle—mungkin pada waktu itu Mello dan Matt belum kenal dengan si cantik Halle.
"Hallo~ Mells."
Positif.
Positif Mello tidak bisa mendengarnya. Matt mengerutkan alis. Mello yang fokus dan tidak berkedip samasekali dari layar komputernya terasa sangat menjengkelkan.
"Oh ayolah Mells! Aku bicara padamu—"
Tanpa ancang-ancang, Matt mencabut kabel headphone sahabat karibnya itu dari CPU dan terkaget-kaget tatkala sebuah suara penuh jeritan terdengar amat keras—hingga mengganggu pengguna komputer di sekitarnya.
Bukan—itu bukan suara Mello yang menggila padanya, tapi suara musik—bergenre scream yang Mello setel di komputernya.
Mello juga sama kagetnya—lantas ia pause alunan musik metalnya itu dan mulai nyerocos bak air terjun kepada sosok yang sudah mengganggu ketenangannya.
"Kau mau kutendang ya!"
Daripada mengindahkan omelan Mello, Matt justru penasaran dengan alasan apapun yang membuat orang seperti Mello mau-maunya mendengarkan musik 'berat' sejenis itu.
"Kau kesambet jin Mells? Atau kepalamu terbentur jidat Roger? Apa yang kau lakukan disini? Dengan lagu seberisik itu?"
"Wow—Matt, kau menginterogasiku?"
Mello hanya menggeleng sambil mendecak. Wajahnya yang sempat beralih pada Matt, kembali ke layar komputernya.
"Aku sedang belajar kok. browsing. Mencari informasi. Etcetera."
"Belajar? Bercanda kan?" Matt tidak percaya, "Dengan musik seperti itu? bisa konsen?"
"Ck! Aku tidak sengaja menemukan lagu ini di internet. Lalu tertarik. Lalu kusadari bahwa aku bisa konsentrasi belajar dengannya."
"Haaah?" Matt membuat wajahnya tampak bodoh dengan bibir yang dimonyong-monyongkan secara slow motion.
"Hentikan Matt. Kau tahu, itu menjijikan sekali."
Sungguh respon yang tajam. Matt sempat beku sejenak, pada posisinya.
"Tapi Mell—"
"Ssshh!"
"Jadi err… dalam kata lain, aku tidak bisa mengajakmu bermain, sekarang?"
"You got it right, Sir. Jeevas!" Mello kembali mencolok kabel headphone-nya ke CPU, "Nah sekarang, menghilanglah sebentar saja. Yah—yang lama juga tidak apa-apa. aku akan mengaktifkan kembali mode konsentrasiku yang paling tinggi untuk belajar dan mengalahkan Near. Jangan coba-coba untuk mengganggu, memanggil, berteriak atau menyentuhku kalau kau tidak ingin kepingan CD game-mu patah dan kabel-kabel PS-mu ku potong-potong seperti hasil karya gigitan tikus."
Dan—Bam bam bam. Musik kembali menggetarkan koklea Mello.
Matt hanya bisa melongok, di usir sedemikian rupa oleh teman sekamarnya itu.
.
..
…
:Scream 2:
Sejak Mello mengenal musik beraliran scream, perilakunya akhir-akhir ini agak berubah. Menjadi lebih kasar? Oh—tidak. Kekasaran miliknya sudah mencapai batas maksimal—tidak bisa ditingkatkan lagi. yang dimaksud dengan berubah adalah, Ia jadi terlihat agak—santai. Mello yang biasanya selalu berkeliaran di Wammy dengan muka kusut dan tangan yang menggenggam buku seperti pelajar otaku, kini terlihat lebih rileks.
Kali ini ia hanya bersama dengan buku catatan kecil. Bahkan kadang—ia berkeliaran di koridor Wammy tanpa membawa buku satupun kecuali ponsel dengan earphone yang menyumbat telinga-telinganya. Kadang Mello juga bergumam—bernyanyi-nyanyi, atau bersiul-siul sendirian dengan kondisi mata yang tertutup saat sedang berjalan. Tak jarang ia mendapat pertanyaan dari teman-temannya—yang penasaran dengan apa yang tengah menyita perhatian seorang Mihael Keehl—setelah cokelat—hingga membuatnya pergi kemana-mana dengan earphone di telinga.
Bahkan rivalnya saja—Near, bertanya padanya. Saat itu, dengan bangganya Mello menyusupkan earphone kesayangannya pada telinga mungil Near, lalu berbicara dengan nada pamer.
"Ini musik yang akhir-akhir ini sedang kuminati. Orang sepertimu mungkin takkan mengerti seninya."
Lubang hidungnya membesar. Senang sekali ia bisa memamerkan suatu hal yang menurutnya tidak mungkin Near ketahui. Tapi—
"Oh, musik scream ini—"
"…"
"—Maximum the Hormone, What's Up People?"
WUT.
Mello epilepsi ditempat.
"K-kenapa kau bisa tahu?"
Dengan mata polosnya, Near menoleh kepada Mello. ada senyum kecil disana—entah senyum pelecehan atau gembira karena bisa berbagi kesukaan.
"Ini musik kesukaanku juga. Pernah kupakai sebagai soundtrack pada tugas drama boneka."
Drama macam apa yang ia mainkan dengan musik sekeras itu?
Mello baru saja akan bertanya tetapi Near sudah menjawabnya lebih dulu.
"Tentang perburuan serial killer paling kejam di dunia. Judulnya—"
.
.
.
Ah—
Mello tidak peduli. Apapun itu—yang dikatakan Near setelahnya, ia tidak peduli.
Keesokkan harinya, ia kembali ke asal. Menjadi Mello yang tukang ngeluh, study holic, dan pecinta buku. Matt yang melihatnya sedang berkutat di meja belajar dan berstress-stress ria, langsung menepuk pundak si ranking dua dan menyapanya dengan riak muka girang.
"Hey Mells—! Kembali normal? ada apa dengan musik yang biasanya sering kau putar itu?"
"Screw that. Scream tidak keren. Mereka payah."
"Lho? Kenapa? Katanya musik itu bisa meningkatkan level konsentrasimu?"
Matt berubah unyu. Dan Mello hanya bisa mengkerut, menekuk wajahnya laksana kain pel yang tidak pernah di cuci selama lima bulan.
"Apanya? Musik itu cuma bikin emosi tahu! Dasar musik idiot. Musik kampret."
Dan sumpah serapah lainnya tercecer keluar dari mulut Mello dengan indah. Sementara Matt? Wajahnya berubah aneh.
"Err—Mells, kau membicarakan musik itu seperti membicarakan Near saja."
.
..
…
Tuberkulosis (?)
A/N : Interaksi MelloNear-nya berkurang drastis ya? chapter 4 mungkin akan saya perbanyak :v Matt jadi pihak apa ya… yang—numpang eksis? XD
Muchas Gracias
RnR?
