Makasii buat yang keep reviews~ SungRaeYoo, Viyomi, narti.c, Ourwonu, Tipo, kookies, meaniemeanie , wanUKISS, svtlovers, mshynngts, zhrsyrn, hvyesung, Ara94, meanie shipper, Mbee, Beanienim, haya, Gigi onta, Byunki, restypw, equuleusblack, bubblegyu, wonuumingyu, Phunny08, manusia males login, Itsmevv, PeaNdut.
Notes : Ini Pure school love story~ tidak ada wonwoo vampire atau apa yaaa~ update cepet special ulang tahun gue hari ini :")
.
.
.
.
.
.
.
"Maafkan aku wonwoo hyung, aku hampir saja lepas kenda—"
"Eh? Hy-hyung?" mingyu sangat terkejut saat dengan tiba tiba wonwoo berdiri, meraih tengkuk mingyu dan menyandarkan kepala mingyu didadanya. Mingyu bisa merasakan kembali aroma tubuh wonwoo.
"Wonwoo hyung?" ucap mingyu pelan.
"Ming-gyuh.." seru wonwoo amat pelan, yang lebih tepatnya terdengar seperti 'desahan'. Kedua tangan mingyu melingkar di pinggang wonwoo, mengelus lembut pinggang dan juga punggung wonwoo.
"Tubuhmu kurus sekali hyung, apa kau tidak makan dengan baik?" mingyu mencoba mencairkan suasana yang tiba tiba membuatnya gerah.
"Mingyu, badanku.. panas"
mingyu meremas pinggang wonwoo dan segera meraih tengkuk wonwoo dengan kedua tangannya, membawanya kedalam ciumannya kasar. Melumatnya tak beraturan. Wonwoo yang mulai terbiasa, mengimbangi lumatan dan hisapan mingyu dibibirnya. Ia pun balas melumat bibir mingyu. Tangan kiri wonwoo berpegangan pada bahu mingyu dan tangan kanannya meremas mengacak rambut belakang mingyu.
Mingyu mendudukkan tubuh wonwoo diatas meja dengan kancing seragam sekolahnya yang sudah terbuka setengahnya entah sejak kapan. Kedua tangan wonwoo sudah berubah dengan memegang tengkuk mingyu untuk terus saling melumat. Bahkan mereka tak sadar dengan jendela kaca yang tanpa gorden di depan mereka, murid bahkan guru yang jalan melewati perpustakaan itu bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.
-Tengtongteng
Mendengar suara bel pertanda jam istirahat yang selesai, mingyu dan wonwoo melepas tautan bibirnya masing masing. Mingyu membuka kedua matanya perlahan, dan yang pertama ia tangkap adalah wajah merona wonwoo dengan bibirnya yang merekah merah, poni hitamnya tersibak kesamping kanan, memperlihatkan kedua mata sipitnya yang menatap mingyu sayu.
Jemari wonwoo mengelus lembut pipi mingyu.
"Masuki aku, Mingyu"
Mingyu membelalak seolah bola matanya akan mencuat keluar dari dalam sana mendengar ucapan wonwoo barusan. Wonwoo yang bahkan tak pernah bergaul dengan orang orang sekitarnya, bagaimana bisa ia mengucapkan hal seperti itu dengan mudah? Bahkan kepada mingyu yang baru dikencani nya kurang dari 24 jam.
Wonwoo mendekatkan wajahnya ke wajah mingyu yang masih shock total. Tapi mingyu menahannya. Menahan pipi wonwoo dengan tangan kirinya.
"Apa yang kau katakan barusan itu, wonwoo hyung?" Tanya nya meyakinkan dengan suara yang pelan serak khas nya. Wonwoo menatapnya bingung.
"Memangnya apa?" Tanya nya balik.
Mingyu sedikit menajamkan kedua matanya menatap wonwoo.
"Kau penyendiri, tak pandai bergaul, penyuka hal aneh dan tak wajar, tapi apa yang kau katakan barusan? Apa kau tahu arti yang kau pinta tadi?" Demi tuhan mingyu tak pernah mempedulikan siapa orang yang akan ia kukung dibawahnya selama ini, tapi orang yang ada dihadapan nya ini berbeda. Permintaan yang keluar dari mulut polos wonwoo. Entah kenapa ia merasa sedih mendengarnya.
Dan wonwoo masih tetap menatap mingyu tak mengerti. Ia diam.
"Kalau bukan aku yang mengencanimu, apa kau akan meminta hal seperti itu juga?"
Wonwoo masih diam. Ia menundukkan kepalanya dan poni nya pun ikut bergerak menutupi kedua mata sipit itu.
"Kalau bukan aku orang yang ada dihadapanmu sekarang, orang yang menciummu, apa kau akan tetap pasrah?" wonwoo menggigit bibir bawahnya. Ia tak mengerti kenapa mingyu menanyainya seperti itu. Kedua tangannya mendorong dada mingyu kuat, membuat tubuh mingyu terhuyung melangkahkan kakinya kebelakang karena kuatnya dorongan tangan wonwoo.
Kedua mata mingyu menatap dada putih wonwoo karena ulahnya sendiri yang tadi membuka kancing bajunya.
Wonwoo berdiri, membawa buku buku horornya, dan berjalan keluar perpustakaan tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan mingyu.
"Wonwoo hyung! Kancingkan baju seragammu!" sahut mingyu cukup keras, menatap tubuh belakang wonwoo yang terus berjalan keluar sampai pintu perpustakaan itu tertutup. Meninggalkan Kim Mingyu sendiri didalam ruangan itu yang tengah mengacak rambutnya sendiri.
Ia duduk dengan memijat pelipisnya yang tak pusing tapi penuh dengan kebingungan.
"Sial. Ada apa denganmu Kim Mingyu? Kenapa perasaanmu seperti ini? Ingatlah, dia hanya taruhanmu. Kembalilah pada dirimu yang seperti biasa" ujar mingyu pada dirinya sendiri. Ia hanya tersenyum lirih, merasa malang pada dirinya sendiri. Kurang dari 24 jam, orang aneh seperti wonwoo bisa mengubahnya secepat ini.
"Sial, Jeon Wonwoo…"
.
.
2 hari berlalu, selama itu pula mingyu tak pernah menampakkan dirinya didepan wonwoo. tapi seperti biasanya, wonwoo selama jam istirahat dan setelah bubar kelas akan selalu mampir ke perpustakaan, menghabiskan waktunya disana dengan buku buku kesayangannya.
Dan selama itu pula, mingyu hanya bisa memandangi wonwoo dari sebrang luar perpustakaan tersebut. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa jika ia harus menemui wonwoo setelah kejadian tersebut. Mingyu mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin, ia kembali berjalan ke kelasnya. Mingyu duduk disamping sahabatnya, Soonyoung dan Seokmin di depannya.
Kedua sahabatnya saling menatap bingung karena beberapa hari ini ia melihat mingyu yang selalu terlihat lemas.
"Kau kenapa Kim Mingyu? Apa semelelahkan itu berkencan dengan wonwoo?" Tanya seokmin.
"Tidak juga" jawabnya singkat tanpa melihat kearah soonyoung dan seokmin. Kedua matanya terfokus ke layar ponselnya.
"Lalu kenapa kau lemas seperti ini? Apa karena kau kelelahan karena membawanya ke ranjang?" celetuk soonyoung. Dan mendapatkan tatapan tajam dari mingyu.
"Aku tidak mungkin bisa sebrengsek itu padanya!" tekan mingyu.
"Hooo? Jadi kau frustasi karena tidak bisa menyeretnya ke ranjang?" tambah seokmin. Dan mingyu hanya menggeleng gelengkan kepalanya pelan mendapatkan godaan dari kedua temannya itu.
"Demi batu rebus pakai sambal otak kalian lebih bejad dari otakku! Aku ke kantin, aku lapar" ucap nya seraya keluar kelas meninggalkan kedua temannya yang tertawa puas menggoda mingyu.
.
.
Mingyu melangkahkan kakinya kearah perpustakaan, mengabaikan rasa laparnya. Entah kenapa ia ingin melihat wajah tampan dan manis itu sekarang juga.
"Wonwoo hyung.." mingyu menghentikan langkahnya mendapati orang yang akan ia jumpai tengah berdiri di ambang pintu perpustakaan, sepertinya ia akan kembali ke kelasnya, mingyu melihat jam ditangannya waktu istirahat tinggal 10 menit.
Mingyu berjalan kembali mendekati wonwoo yang terdiam disana.
Mingyu tepat didepan wonwoo dengan jarak yang begitu dekat. Wonwoo melangkahkan kaki jenjangnya beberapa langkah kebelakang. Dan mingyu menghela nafasnya berat dengan wonwoo yang menjauhinya.
"Cukup lama tak berjumpa ya, apa kau sudah makan?" sapa mingyu. Wonwoo hanya mengangguk pelan. Mingyu mengernyit melihat benda yang terselip diantara buku buku horror yang wonwoo pegang.
"A-apa itu, hyung?" Tanya nya sedikit gelagapan.
Wonwoo menoleh ke benda yang mingyu tunjuk ditangannya.
"Boneka. Lucu kan?" jawabnya seraya tersenyum manis dan menyodorkan benda tersebut tepat didepan wajah mingyu.
"Wuuaah!" mingyu terlonjak kebelakang dengan tangan kanannya yang memegang dadanya sendiri, takut jantungnya terlepas saking kagetnya.
"Itu memang boneka, tapi i-itu boneka santet hyung, apanya yang lucu?" ucap mingyu. Senyum sumringah wonwoo memudar dan memandangi boneka ditangannya dengan kecewa.
"Sudah kubilangkan, aku tidak tahu hal wajar mana yang seharusnya kusukai.." serunya lemas. Mingyu mengepalkan kedua tangannya, tak kuat melihat sosok didepannya. Sungguh, wonwoo terlalu polos untuk dijadikan bahan mainannya. Ia tak ingin menodai wonwoo begitu saja.
Mingyu melangkah maju, mendekati wonwoo. Kedua tangan besarnya memegang kedua sisi lengan wonwoo kuat, membuat buku buku ditangannya terjatuh ke lantai. Ia menarik tubuh kurus wonwoo untuk merapat ketubuh berototnya. Mingyu memeluknya erat, mendekap rapat tubuh wonwoo membuatnya tanpa celah.
"Mingyu?" sahut wonwoo lembut. Mingyu memejamkan kedua matanya dan terus mendekap tubuh itu seolah ia tak ingin kehilangan sosok tersebut.
Ia menyesal. Menyesal menerima tawaran teman temannya untuk menjadikan wonwoo sebagai taruhan. Ingin sekali rasanya mingyu memutar waktu kebelakang, ia ingin mengganti posisi wonwoo dengan orang lain, mungkin ia tidak akan merasakan sesuatu yang ganjal dihatinya seperti sekarang ini.
Dan 4 hari lagi, mingyu harus mengakhiri hubungan nya dengan wonwoo.
"Mingyu, ada orang dibelakangmu" sahut wonwoo. Seketika tubuh mingyu menegang mendengarnya. Keseriusannya yang tengah memikirkan dosanya lenyap begitu saja. Ia berpikir apa wonwoo bisa melihat hantu? Orang yang dimaksud wonwoo adalah hantu? Mengingat disekitaran perpustakaan selalu sepi.
"Han-tu kah?" Tanya mingyu ragu ragu. Dan ia tak ingin mendengar kata 'Ya' dari mulut wonwoo.
"Hai~ aku bukan hantu" sahut seseorang dibelakang mingyu. Dan mingyu sontak melepas pelukannya dan menoleh cepat keasal suara.
Orang tersebut tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kearah wonwoo dan mingyu bergantian.
"Junhui hyung?" mingyu tersenyum kikuk kepada orang tersebut, yang tak lain adalah teman sekelas wonwoo. Wonwoo berjongkok mengambil buku bukunya dan juga boneka yang terjatuh dilantai tadi.
"Hai Kim Mingyu, tenang saja, aku tidak akan membocorkan kepada siapapun dengan apa yang kulihat barusan kok" ujar jun dan membuat mingyu menggaruk kepala belakangnya yang gatal dibuat buat.
"E-eh? Ada perlu apa hyung?" Tanya mingyu mengalihkan topic pembicaraan.
"Aku ada sedikit urusan dengan wonwoo, bisa kupinjam dia sebentar?" ucapnya. Wonwoo dan mingyu saling bertatapan, walau mingyu tak bisa melihat mata rubah wonwoo karena poni hitamnya.
"Kalau boleh tahu, urusan apa?" jawab mingyu, seakan ia mewakili wonwoo.
"Hm, wonwoo memang tidak pandai bicara ya.. jadi mungkin kau menjadi wakilnya sekarang" mingyu menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan jun.
"Kau tahu, sekolah kita ada Ekskul Permodelan. Dan aku salah satu anggotanya, kami mempunyai projek dan kami kekurangan orang" jelas jun perlahan.
"Lalu?"
"Aku tertarik dengan tubuh Jeon Wonwoo, tubuhnya bagus untuk jadi model. Karena itu aku menyarankannya kepada ketua dan dia memintaku untuk membawa wonwoo sekarang" lanjut jun.
"Ha? Apa kau yakin? Sepertinya wonwoo hyung tidak akan cocok, bisa kau cari yang lain saja?" celoteh mingyu. Entah ia tiba tiba merasa tidak rela kalau wonwoo harus masuk ekskul permodelan itu.
"Hey, aku menawarkannya pada Jeon-Won-Woo, bukan padamu" tekan jun. Dan mingyu menatapnya tak suka.
"Bagaimana, Jeon wonwoo?" tambah jun.
"Aku ikut" jawab wonwoo enteng dan sukses membuat mingyu terbelalak tak percaya.
"W-wonwoo hyung?" sahut mingyu dengan menatapnya tak percaya. Jun tersenyum lebar mendengar penerimaan dari wonwoo.
"Sekarang ikut aku" ujar jun dan berjalan diikuti wonwoo dibelakangnya, meninggalkan mingyu yang masih membeku ditempat.
Rasanya mingyu ingin sekali menarik tangan wonwoo melarangnya mengikuti jun. Tapi ia sadar, ia sama sekali tak berhak untuk melarangnya dalam hal apapun.
.
.
"Seungcheol hyung, aku sudah membawa orangnya" sahut jun sembari membuka pintu ruangan ekskul itu. Terlihat seseorang yang dipanggil jun sedang duduk dikursi dengan satu gelas kopi ditangannya.
Orang tersebut tersenyum dengan kedua matanya yang bulat. Wonwoo dan jun berdiri tepat didepan seungcheol. Ia memperthatikan wonwoo dengan teliti. Melihat buku yang dipegang wonwoo dan jangan lupakan boneka santetnya.
"Jadi kau, Jeon Wonwoo murid yang sedikit aneh itu—ah maaf maksudku—"
"Ya. Aku" jawabnya memutus ucapan seungcheol. Seungcheol mengangguk anggukan kepalanya sambil terus memperhatikan wonwoo.
"Tubuhmu bagus, akan sangat cocok untuk projek kita kali ini" ujar seungcheol seraya menatap jun.
"Tapi poni rambutmu menghalangi sebagian wajahmu itu. Aku harus melihat bagaimana wajah aslimu terlebih dahulu" lanjutnya sambil berdiri mendekati wonwoo. Tangan kanannya tanpa persetujuan wonwoo bersiap menyibak poni wonwoo. Tapi dengan cepat wonwoo menahan tangan kekar seungcheol.
"Bisa kau tutup terlebih dahulu gorden jendelanya? Mataku tidak kuat dengan cahaya" pinta wonwoo.
"Begitukah? Jadi itu alasannya kau menutupi sebagian wajahmu" tanggap seungcheol lembut dan berjalan kearah jendela menutup semua gorden jendela.
Seungcheol berjalan kembali mendekati wonwoo, tangan nya menyibak poni wonwoo perlahan, bisa dilihat kedua mata rubah wonwoo menatapnya, hidung mancung wonwoo, kulit putih sempurna dan bibir bersemu merah muda, sukses sejenak membuat seungcheol tertegun.
"Kau…" wonwoo menepis tangan seungcheol dan merapikan kembali poninya. Sebelum junhui juga ikut bergerak kedepan wonwoo untuk melihat wajah wonwoo yang sayangnya wonwoo sudah kembali menutupnya kembali.
"Wonwoo, apa kau memiliki kekasih?" Tanya seungcheol tiba tiba.
Wonwoo terdiam sejenak, dan menganggukan kepalanya pelan. Dan seungcheol menatapnya tak percaya.
"Sayang sekali, padahal aku akan menembakmu" ujarnya dengan nada kecewa yang entah dibuat buat atau tidak. Jun melotot kearah seungcheol karena ucapannya barusan.
"Apa salahku? Kenapa kau ingin membunuhku seperti itu?" ujarnya polos dan melangkahkan kaki nya kebelakang, mengeratkan pegangan pada buku buku ditangannya, takut seungcheol benar benar menembaknya. Seungcheol membulatkan kedua matanya menatap wonwoo.
"Hahahaha. Kenapa kau bisa sepolos ini, Jeon wonwoo? Kau benar benar tak tahu menembak dalam arti kata lain?" tawa seungcheol geli dan gemas karena ucapan polos wonwoo.
Seungcheol memperdekat jaraknya dengan wonwoo, memegangi kedua sisi lengan wonwoo. ia tersenyum lebar menatap wonwoo, lebih tepatnya seperti seringaian.
"Itu artinya, aku akan menjadikanmu sebagai—" seungcheol menggantungkan kata katanya, mendekatkan wajahnya tepat ditelinga kiri wonwoo.
"—Kekasihku" lanjutnya.
Wonwoo melepas pegangan seungcheol dikedua lengannya.
"Tidak bisa"
"Huh? Apanya?" Tanya seungcheol bingung.
"Aku tidak bisa menduakan pacarku. Itu tidak boleh!" ungkap wonwoo. Dan kembali seungcheol tidak bisa untuk menahan tawa gelinya.
"Kau benar benar menarik" ucap seungcheol dengan menekan kata kata antusiasnya.
"Besok jam istirahat datanglah lagi kemari, kau benar benar sangat cocok untuk modelku kali ini"
Dan wonwoo menganggukan kepalanya sekali, dan membungkukkan badannya sedikit sebelum ia keluar dari ruangan tersebut. Seungcheol terus tersenyum memandang wonwoo yang menjauh sampai hilang dibalik pintu ruangan yang sudah tertutup.
"Kau gila seungcheol hyung?" Tanya jun yang sedari tadi menjadi pendengar setia.
"Sepertinya begitu" jawabnya, dan menolehkan kepalanya kearah jun.
"Kau pun akan merasa seperti itu, kalau kau melihat wajah asli wonwoo" tambah seungcheol dengan nada menantang.
Dan jun hanya menyunggingkan bibirnya sambil menggelengkan kepalanya merasa tidak mungkin dengan perkataan seungcheol.
"Persiapkan semuanya, dan kita lihat besok. Apa kau juga akan merasa seperti yang aku rasa"
.
.
Wonwoo mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kelas dan berjalan ke toilet. Entah ia sadari atau tidak sedari tadi ia keluar ruangan modeling, wonwoo diikuti seseorang sampai dengan sekarang ia memasuki toilet yang kosong.
Orang dibelakang wonwoo tersebut menutup pintu toilet nya dan membuat wonwoo sontak menoleh kearahnya, orang tersebut langsung memojokkan tubuh wonwoo ke dindingtepat disamping pintu, buku dan boneka ditangan wonwoo terjatuh kembali dilantai. Wonwoo berontak sebentar dan langsung terdiam seketika karena orang tersebut yang merapatkan tubuhnya dengan tubuh wonwoo, memeluknya, wonwoo bisa mencium aroma parfum yang begitu familiar dihidungnya.
"Maaf mengagetkanmu"
"Mingyu?"
"Aku.. mendengar semuanya tadi" mingyu mengeratkan kedua tangannya yang merangkul wonwoo. wonwoo bingung tak mengerti maksud perkataan mingyu.
Tanpa jun dan wonwoo ketahui, mingyu mengikuti mereka sampai diruangan khusus permodelan. Ia menempelkan kupingnya ke pintu ruangan tersebut, mendengar samar perbincangan didalam sana. Sampai dengan perkataan wonwoo yang membuatnya semakin tak tega menjadikan wonwoo korban taruhan.
"Maafkan aku, wonwoo hyung" ujarnya lirih. Walau ia bisa menebak kalau wonwoo tidak akan pernah mengerti tujuan dari permintaan maafnya untuk apa.
Mingyu tahu kalau dirinya memang seorang Playboy brengsek, tapi dia tidak ingin membawa wonwoo seperti dirinya, disamakan dengan orang orang yang sebelumya menjadi mainannya, dan membuangnya begitu saja, ia benar benar menyesal membawa wonwoo dalam kehidupannya.
Dan disisi lain juga mingyu merasa tidak ingin melepas wonwoo begitu saja. Tapi ego nya terlalu kuat untuk mengunci wonwoo menjadi miliknya secara utuh. Dan dia ingin memastikan nya terlebih dahulu dari wonwoo.
Wonwoo mendorong kedua bagian sisi perut mingyu. Tangan itu beralih menangkup kedua pipi mingyu yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Mingyu, cium aku"
.
.
.
-Bughh
"Aw!" seokmin menoleh ke bangku dibelakangnya, dimana soonyoung memukul kepalanya dengan buku tebal seberat 2kg.
"Ada apa, sialan?" umpatnya dan mengusap kepalanya yang sakit.
"Mingyu kemana? Sudah masuk jam pelajaran dia belum kembali. Tumben sekali dia membolos" ucap soonyoung pelan.
"Mungkin dia tersangkut bersama wanita yang menarik perhatiannya dikantin" tebak seokmin.
"Kuharap sifat buruk mingyu berubah, setelah dia bersama wonwoo" lanjut seokmin.
Saat soonyoung membuka mulutnya untuk bersuara, tapi terurung karena ekor matanya menangkap sosok wonwoo diluar melewati kelasnya berjalan menuju kelasnya sendiri. Seokmin pun ikut melihat keluar sana, mengikuti pergerakan wonwoo. Bersamaan dengan itu, mulut soonyoung yang masih terbuka, mingyu masuk kedalam kelas, membungkukkan badannya meminta maaf kepada guru yang berdiri tepat dipapan tulis, mengomeli mingyu sejenak dan membiarkannya untuk duduk ke bangkunya.
Terlihat mingyu menekuk wajahnya, duduk disamping soonyoung tanpa berucap sepatah katapun. Membuka buku pelajarannya, dan mulai focus pada guru dan papan tulis didepan sana.
Soonyoung dan seokmin saling bertukar pandang.
"Kau, menghabiskan waktu istirahat dengan wonwoo?" bisik soonyoung.
Mingyu mengabaikan soonyoung. Kedua matanya tetap focus kedepan dan sesekali menulis apa yang dirangkum diotaknya dari penjelasan guru didepan. Seokmin dan soonyoung bertatapan kembali, mereka sudah tahu kalau mingyu sudah begini takkan bisa ditanyai apa apa.
"Hey, wajahmu seperti orang yang baru saja dicampakkan, Kim Mingyu" ujar seokmin. Dan mingyu pun menghentikan jemari kirinya yang sedang focus menulis. Seokmin kembali duduk kedepan, dan soonyoung pun demikian.
Mingyu mengepalkan tangannya kuat dan meremas bolpoin ditangan kidalnya. Menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
"Aku… sudah memutuskan wonwoo" seru mingyu pelan dan cukup terdengar jelas dikedua telinga soonyoung dan seokmin yang sontak menoleh kepada mingyu dan berteriak.
"APA?!"
Soonyoung dan seokmin meringis bersamaan, karena lemparan bolpoin yang cukup keras mengenai kepala mereka berdua dari sang guru.
.
.
.
.
.
-END/?
Hahaha To be continued^^/
