Title: Akatsuki Nonton...
Chapter: 3
Author: MiraiIzError
Disclaimer, Warning, E Te Ce: Baja aja sendiri di chap 1! ^^~
Setelah 6 hari ngendarain tuh mobil Princess, mereka masih belum nyampe-nyampe juga. Soalnya bioskop terdekat dari markas mereka aja jaraknya 1000 mil.
"Pi... Papi... Belum nyampe, ya, ke bioskop? Ita-chan udah capek, nih..." Itachi mulai mewek.
"Papa yang capek, tauk, bukan kamu! 'Kan papa yang nyetir! Kamu ngapain, coba? Cuma duduk aja capek!" Pein ngomel nggak jelas, maklum, lagi PMS.
"PAPII!!! DEI-CHAN MAU PIPISS, UN!!" Deidara akhirnya ngaku setelah 3 hari nahan pipis.
"Terus, kenapa? Pipis aja, toh, nggak perlu bilang-bilang papa!"
"JANGAN!! JANGAN!! NANTI SASO-CHAN JADI KORBAN!!" Sasori yang mangku Deidara kejat-kejit bayangin Deidara pipis selagi dia pangku.
"Pein, nepi bentar kenapa, sih? Kasian, tuh, mereka," Konan yang jadi keibuan membela anak-anaknya.
"Ya udah, deh..." Pein akhirnya nepi.
Deidara turun dari mobil.
Setelah kaki kirinya nginjek tanah, Pein nancep gas. Otomatis kaki kanan Deidara yang belum turun ikut papanya tersayang.
"HWEE!! KAKI DEI-CHAN, UN!!!!" Deidara histeris dan langsung lompat-lompat dengan satu kaki, plus pipis. Alhasil dia sukses jadi 'hantu banci cacat yang jorok' di mata orang-orang.
Deidara akhirnya nyerah buat ngalahin mobil balap pemenang tahun lalu. Dia berlutut, sesenggukan.
"Mengapa ini yang terjadi... Bukankah kita diciptakan untuk dapat saling melengkapi...? Mengapa ini yang terjadi... Huk huk huk..."
Deidara disorot lampu. Sekelillingnya menjadi gelap. Suasana dramatis memenuhi sekelilingnya. Penonton ikut terharu melihatnya...
Dalam bayangan Deidara.
Sementara itu, banci-banci beneran yang lagi nongkrong di pinggir jalan ngeliatin Deidara, terus deketin dia.
Apa yang akan terjadi dengan Deidara??
Bahasnya nanti... Sekarang, kita kembali ke Pein dan keluarganya...
Di dalam mobil, Tobi dan Hidan nangis-nangis.
"Dei-nii... Huweee... Dei-nii...." Tobi menyesali kepergian kakaknya, karena sekarang dia nggak bisa dipangku sama Deidara lagi, melainkan sama Sasori yang kakinya keras... (Sasori itu badannya boneka, red).
"Kaku-nii... Kaku-nii... Hi-chan kangen... Kaku-nii..." Hidan akhirnya nangisin kakaknya yang masih di dalem lubang. Dia inget masa-masanya bersama Kakuzu... Tarung bareng... Makan bareng... Tidur bareng... Apa-apa selalu dilakuin barengan, sampe-sampe mandi aja bareng. Mungkin nanti mati juga bareng-bareng.
Kisame yang nggak tegaan ngelap air mata dan ingus mereka yang nyebar ke mana-mana dengan rasa belas kasihan yang teramat sangat. Sementara ngelap, Kisame juga jadi inget sama peliharaannya di markas.
"Matthew-chan... Dhea-chan... Michael-chan... Angel-chan..." Kisame masih terus nyebutin satu-satu nama peliharaannya, baik yang masih idup, udah mati, masih dipelihara, atopun yang udah dilepas dia sebutin semuanya.
Yang laen juga kebawa suasana, pengen nangis.
"Dango... Ita-chan laper... Pangen dango... Huweee... Laper...."
"Taneman Zetsu... Belum disiram 6 hari... Belok kiri, pa... Belum disiram..."
"Boneka Saso-chan belum dilap... Boneka... Hiks..."
"Dapurku... Dapurku tersayang... Udah 6 hari nggak masak..."
Cuma Pein yang bertahan di tengah segala macam tangisan itu.
Kembali ke laptop... Melihat Deidara dari CCTV...
Deidara yang udah dikelilingin sama banci-banci masih nggak nyadar.
"Mas, mas ditinggal yah? Kacian... Eike jadi pengen nangis juga, nih..."
"Aduh, mas-nya kiyut banget, sih! Eike jadi gemess...deh!"
"Mas, udah jangan nangis, sini eike peluk!!"
Deidara baru nyadar.
Dalam pikirannya langsung terbesit, 'OH NO'
Pikirannya bergerak slow motion. Dengan perlahan dia berdiri lalu melompat-lompat... Dan langsung berubah jadi fast motion.
Banci-banci itu ngejar Deidara dengan sepenuh jiwa.
"MAS!!! Mas-nya tungguin eike, dong!! Aduhh, masa eike ditinggal, sih?!"
"Wah, mas-nya lompatnya cepet banget! Eike nggak sanggup! Eike nyerah!!"
Dan terdengar suara-suara di belakang Deidara memanggil-manggil, kayak gini: mas... mas... mas...
Deidara tetep aja nggak noleh. Dia emang jago lompat-lompat, soalnya dulu dia juara lomba balap karung waktu 17-an di Indonesia. Jelas aja para banci itu nggak bisa ngejar.
Sementara di belakang Deidara lagi asyik mengenang masa lalunya memenangkan lomba balap karung, di depan Pein masih melaju kencang dan nggak berhenti-berhenti.
Pein ngeliat ada belokan... dan langsung nge-drift.
"Pi! Sejak kapan papi bisa nge-drift? Ita-chan yang udah 19 tahun belajar mobil aja nggak bisa! Papi curang!!" Itachi yang udah lama banget belajar mobil tapi nggak dapet-dapet SIM ngambek.
"Papa juga baru kali ini ngendarain mobil, tuh," Pein jawab dengan gaya super duper santai ngak karuan.
"Hah?? Masa, sih, pa?! Kok bisa??!!" semuanya jantungnya copot.
"Bakat alami...." Pein membanggakan diri, membuat semuanya muntah.
"Ya iyalah bisa, secara mobilnya mobil maenan!" Sasori meruntuhkan kebanggaan papanya tercinta.
Tobi ngeliat spion, dan ngeliat Deidara.
"Dei-nii!! Dei-nii!! Dei-nii dateng!! HOREE!!!" Tobi riang gembira.
"HAH?? Padahal papa udah pake kecepatan penuh!!" Pein kaget seperempat mati.
"Emang berapa, pi, kecepatan maksimalnya?" tanya Kisame.
"10 km/jam,"
"YEE!! ITU SIH KECEPATAN SUPER LAMBAT, KALI!! Bahkan nggak pantes disebut 'kecepatan'!"
"Oh, gitu, yah?" Pein berlagak bego, padahal emang beneran bego.
"Tapi, kok Dei-chan nggak nyampe-nyampe, sih?" tanya Hidan.
"Lha, itu kan bukan Dei-chan beneran. Itu sih gambarnya Dei-chan, tadi Saso-chan tempel di spion!" Sasori merusak suasana bahagia Tobi.
"HWEE!! DEI-NII!!" Tobi nangis lagi.
"Apa, un?" kepala Deidara tiba-tiba udah nongol di jendela mobil.
"Loh?"
"Hmm? 'Loh' apanya?! AKu emang udah dari tadi di sini, kok, un!"
"Terus, tadi itu, kok.."
"Oh, aku sih, dari tadi emang udah nyampe, un. Cuma buat mendramatisir suasana, aku sembunyi dulu," Deidara jelasin aksi kurang kerjaannya.
"Capek, tauk!" Sasori ketularan Pein, sama-sama PMS.
"Capek? Hi-nii pijetin, deh..." Hidan mulai mijet Sasori, "BUSEET!! KERASS!!!"
"Badanku kan boneka, gimana nggak keras?"
"Kayak teddy bear Hi-nii dong, empuk lebut, sehalus sutra... makanya pake molto!!"
"Sabunan, sampoan, dan gosok gigi pake molto, gitu?"
"YUPZ!"
"Wow, belum pernah nyoba, tuh!"
"Makanya coba! Beli 10 botol dapet diskon 0%, loh!"
"Oh, yah?"
Itulah asal mula Sasori pake molto dan akhirnya mati keracunan, bukan dibunuh sama Chiyo dan Sakura.
Setelah 3 hari, akhirnya mereka sampe di bioskop yang jadi tujuan.
"AKHIRNYA!! 'TOILET', I'M COMING!!" teriak Kisame, yang menyebabkan orang-orang bisik-bisik 'ngapain tuh orang, suka amat sih sama toilet??'.
Mereka pun masuk ke dalam bioskop, dan ngeliat daftar film yang dipajang kecil-kecil di atas tempat mesen tiket.
"Hmm... 'Menjadi Mingce'... 'Menjadi Mingce: The Second'... 'Menjadii Mingce: Come Back Again, Third Time'... 'Menjadi Mingce: 4th Sequel'... 'Menjadi Mingce: The Last Time'... 'Toilet'-nya mana??!!" Pein kaget duaperempat alias setengah mati karena film yang ada cuma 'Menjadi Mingce'. Nggak ada 'Toilet'.
"Oh, maaf ya pak, tapi film 'Toilet' kan sudah habis tahun lalu... Film yang sekarang sedang nge-tren adalah 'Menjadi Mingce'. Gimana, bapak jadi nonton?" jelas petugas yang ada di depan Pein.
"Hah? Taon lalu?? Kok???"
"Iya, pak. Tahun lalu,"
'Keluarga' itu pun ngumpul. Mengingat-ngingat kembali...
"Oh ya! Ita-chan sama Kisa-nii 'kan ke Konohagakure dan denger cewek-cewek itu ngegosip, 'kan, taon lalu!" Itachi mengingat-ingat rasa dango Konohagakure yang tahun lalu dia makan.
"Iya, iya! Hi-chan sama Kaku-nii denger Kazekage ngabaikan tugasnya itu juga taon lalu!" Hidan inget-ingat gado-gado yang tahun lalu dia sampe nangis-nangis saking enaknya. Katanya mirip masakan mamanya dulu waktu dia kecil.
"Saso-chan sama Dei-chan juga nggak jadi beli boneka beruang gede itu taon lalu!" Sasori nangis-nangis karena waktu itu nggak jadi beli boneka beruang gede yang jadi incerannya sejak 20 taon lalu.
"Koran yang 14 hari lalu kita baca ternyata koran tahun lalu, un!" Deidara melototin tanggal di koran yang dipengangnya, masih nggak percaya.
Setelah itu, terdengarlah teriakan-teriakan gila yang nggak jelas dari dalem bioskop.
"JASHIN-SAMAAAA!!!!"
"UUUUUNNNNNN!!!!!!!!"
"BONEKA BERUANG GEDEEE!!!"
"TOBI-CHAN ANAK BAIIIKKK!!!"
"LAPEERR!! DANGOO!!!"
"AIIIRRRR!!!!"
"SYUKURLAHHH!!!! DUIT GUEEE!!!"
Yang terakhir sih bukan dari bioskop, tapi dari markas Akatsuki. Tepatnya dari dalem lubang.
Mereka pulang dengan perasaan kecewa, tersakiti, dan terkhianati. Hati suci mereka runtuh menjadi puing-puing. Setelah 9 hari, mereka sampe markas. Hidan langsung lari-lari ke arah pintu masuk markas sambil teriak-teriak 'Kaku-nii....!!! Kaku-nii.....!!! Hi-chan dateng buat nyelamatin Kaku-nii!!!'. Tapi dia langsung kejedok pintu karena kuncinya belum dibuka.
Setelah ngeluarin kakuzu dari dalem lubang, Kakuzu langsung cekikikan mirip kuntilanak.
"Ihihihihihi!!! Udah gue bilang, sewa aja!! Nggak percaya, sih!! Ihihihihihi!!! Ihihihihihi!!"
"Udah, ah. Hentiin tuh, ketawa Kaku-nii. Serem, tauk," kata Kisame, ngambek, karena nggak bisa ngeliatin cowok cakep di layar lebar.
"Ya, ya. Pokoknya, kalo mau nyewa tuh film, jangan pake duit gue, yah! Ihihihihi!!!"
"Udah dibilangin jangan ketawa gitu!!"
"HWEE!!!" Tobi nangis.
"Tuh liat, Tobi-chan aja sampe nangis! Kasihilah adikmu dengan segenap hatimu!!!"
"Tobi nangis karena kelilipan, kok, Kisa-nii,"
Tobi dicincang pake Samehada Kisame, dan dimasak sama Zetsu, terus dijadiin makan malem hari itu.
Hmmm... Masih ada chap berikutnya, kok! 'Kan mereka belum nonton film-nya. Kalau udah nonton, baru selesai.
Maafin yah, karena kelamaan update dan kelamaan nontonnya, mereka!
Please R yah! R-nya menunjuk pada Review, karena pastinya udah R yang satunya, dong, yaitu Read...
Makasih karena udah baca fic ini!!!
