Sementara itu, tidak jauh dari perbatasan sebelah Selatan Hastina. Terlihat tenda-tenda perang dengan bendera berlambang Sasangkala Emas berkibar disekelilingnya.

Mereka adalah Pasukan dari Wangsa Dhurma, sekelompok pasukan yang kini tengah menyerbu Hastinapura.

" Bagaimana perkembangan penyerbuan kita rekan-rekan? " Tanya Dhurmagati, pemimpin pasukan penyerbuan dari Wangsa Dhurma ini.

"Lapor yang mulia… Lapis utama bagian timur sudah bobol oleh Pasukannya Dursala. Namun bagian tengah dan barat masih bertahan bahkan bagian barat tengah membobol lapis tengah Pasukan Hastina" Jawab salah seorang jendral wangsa Dhurma.

"Yang Mulia...! dapat dipastikan informasi yang dibawa oleh rekan kita di Hastina itu benar bahwa tiga besar Kurawa kini sedang tidak ada di Istana. Hampir dua hari penyerbuan kita disini. Dhuryudhana, Dhursasana dan Karna tidak Nampak menyokong para Kurawa." Tambah salah seorang jendral lagi.

Dhurmagati tersenyum sambil menatap peta Marcapada yang terbentang diatas meja.

"Hmmm… Bagus! Jika begitu tambahkan pasukan kuda dan laras panjang ke bagian timur dan perintahkan Madara memimpin pasukan Sabit Emasnya ke bagian barat!" Dhurmagati memberi perintah kepada kelima jendral lapangannya.

Kelima jendral itu segera bangkit dari duduknya. Tak jauh di belakang mereka tampak pasukan perang Wangsa Dhurma yang terlihat sangat bersemangat.

.

.

Terbayang di angan mereka jika pertempuran ini mereka menangkan, maka mereka bisa membawa kabar gembira pada istri, ibu dan anak-anak serta sanak saudara mereka di Wilayah Dhurmada bahwa mereka tak perlu lagi tinggal di daerah rawa yang kotor yang memiliki sedikit sumber makanan. Angan-angan akan masa depan yang lebih baik inilah yang membuat para prajurit ini akan berjuang mati-matian merebut wilayah Hastinapura.

" Pastikan kita memenangkan pertempuran ini dengan cepat! Ketidakhadiran tiga besar Kurawa di pertempuran ini adalah berkah Dewata untuk wangsa kita! Akhirnya… wangsa Dhurma tidak akan lagi hidup di wilayah kumuh dan terpencil! Demi masa depan dan kesejahteraan rakyat kita...! GEMPUUUR!"

Teriak Dhurmagati sambil mengangkat tombak emas kebanggannya memberi semangat pada pasukan-pasukan yang selanjutnya akan berangkat ke medan perang, dan disambut oleh teriakan-teriakan semangat para pasukan dari Wangsa Dhurma.

Tidak lama kemudian Pasukan Sabit Emas yang dipimpin oleh Madara berangkat bersama lima jendral lainnya yang memimpin pasukannya masing-masing menuju medan perang, wilayah selatan Hastinapura.

.

.

Dhurmagati menatap kepergian orang-orang andalannya tersebut, dalam lubuk hatinya sebenarnya muak sudah ia menggunakan tombak emas kebanggannya untuk mencabut nyawa manusia lagi. Namun kematian Ayahnya Sang Pemimpin Wangsa Dhurma akibat kuman penyakit yang bersumber dari tempat tinggal mereka di wilayah Dhurmada tempat kumuh dan terpencil, membuatnya merasa harus mencarikan wilayah yang lebih baik untuk rakyatnya, anggota Wangsa Dhurma, kerajaan tanpa Istana.