Ohayo Minna

Ai update nih

RnR Ya Please

Discalimer : Bleach akan selalu menjadi milik om Tite Kubo

Rating : T

Pairing : Ichiruki *selalu*

Genre : Romance and Hurt/comfort *ga yakin untuk chap ini*

Warning : OOC, AU, GEJE ABIS, EYD BERANTAKAN, dll

Selamat Reading aja deh

RAINBOW FOR LIFE

Chapter 3

Secret Time

.

.

XXXXXX

.

.

Ichigo POV

"Ha...ha...ha...ha..." Aku muak mendengar suara tawa dari si babon Renji yang menertawakanku saat ini. Ingin rasanya aku menjahit mulut rakusnya itu agar dia tidak bisa lagi tertawa seumur hidupnya.

"Kau. Ha...ha...ha... Kau ditampar seorang gadis Ichigo?. Kasihan sekali kau ini. Ha...ha...ha..." Renji melanjutkan kesenangannya menertawakan ku saat ini. Bahkan dia sekarang sampai berguling dia atas kasur ku. Sekarang ini aku memang sedang berada di kamarku, tempat biasa aku dan teman-temanku berkumpul sehabis pulang sekolah.

Di sekolah kalian tau kan, aku ini adalah cowok yang terkenal di antara para murid. Begitu pula dengan teman-temanku, bisa di katakan bahwa teman-temanku itu sudah ku anggap sebagai keluarga. Mereka adalah Toushirou Hitsugaya, Renji Abarai, Grimmjow Jeagerjaquez, dan Ulquiorra Schiffer. Mereka sama terkenalnya sepertiku. Yah walaupun masih terkenal aku sih diantara mereka semua.

"Diam kau babon." Kataku membentak Renji si babon dan melemparnya dengan bantal yang ada di hadapanku kini.

Bletakk!

Berhasil bantal itu tepat mengenai kepala merahnya itu. Tapi bukannya berhenti tertawa dia malah semakin menjadi menertawakanku. Memang dia ini, temannya sedang seperti ini dia malah menertawakannya. Hah bagus!. Teman macam apa dia?.

"Sudahlah Ichigo percuma kau terus memintanya untuk diam. Dia tidak akan pernah berhenti tertawa sampai dia merasa puas." Ucap Hitsugaya dengan nada suaranya yang dingin sedingin es itu.

Aku menyerah menyuruh Renji untuk diam. Hitsugaya benar si babon itu tidak akan berhenti tertawa. Bahkan sampai mulutku ini berbusa untuk menyuruhnya diam, selama dia belum merasa puas dia tidak akan pernah berhenti.

"Ha...ha...ha...ha...ha..." Renji masih asik dengan kegiatannya. Menertawakan kesengsaraanku.

"Tapi apa benar kau ditampar oleh anak baru itu?." Kini Grimmjow ikut bicara.

"Tentu saja. Siapa lagi gadis di sekolah kita yang berani melakukan ini kepada seorang Ichigo Kurosaki." Kataku kesal sambil menunjuk ke arah pipiku yang masih merah akibat gamparan gadis baru itu.

"Baguslah." Ulquiorra berkata dengan nada datar. Dia tidak melihat kepada lawan-lawan bicaranya, ia asik memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukannya dengan ponsel itu.

"Apa maksudmu dengan baguslah hah.?" Tanyaku kesal. Mungkin jika dia bukan temanku sudah hancur muka tampannya itu oleh pukulan-pukulanku.

"Baguslah karena gadis itu sudah menamparmu. Kau sekali kali memang perlu ditampar." Katanya lagi masih sibuk dengan ponselnya.

"Kau. Teman macam apa kau ini?." Tanyaku mulai kesal atas perkataannya tadi. Grimmjow dan Hitsugaya saat ini menepuk-nepuk punggungku, bermaksud untuk menenangkanku. Sedangkan Renji masih tertawa, meski sekarang suaranya sudah sedikit agak pelan.

"Macam ini." Kata Ulquiorra enteng. Dia ini! Habis sudah. Benar-benar habis kesabaranku kali ini.

"Kau ini. Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau menjadi temanku kalu tingkahmu macam ini pada teman sendiri." Aku bersiap-siap akan membuat wajah tampan Ulquiora yang tak terlalu tampan dari wajahku itu hancur berkeping-keping. Tapi aku merasakan berat tubuhku bertambah 2 kali lipat. Aku melirik ke kiri dan ke kanan badanku. Oh! pantas saja badanku terasa berat, saat ini Hitsugaya dan Grimmjow sedang memegangi kedua tanganku untuk menahanku melakukan hal yang tidak-tidak kepada Ulquiorra sialan itu.

"Lepaskan aku bodoh, lepaskan." Kataku sambil berusaha terbebas dari ke dua temanku yang sedang memegangi ke dua tanganku itu.

"Tenanglah Ichigo,tenang. Kau seperti tidak tau dia saja. Dia memang begitu." Ujar Grimmjow padaku.

"Benar Ichigo, jangan bersikap seperti anak-anak." Hitsugaya menambahkan.

"Diam kalian akan kubuat si brengsek itu menyesal telah mengatakan itu padaku." Kataku tidak mau kalah dengan ke dua temanku yang menghalangi ku untuk memukul si brengsek itu.

Ayo, ayo Ichigo tinggal beberapa senti lagi aku bisa menghajar muka kalem si brengsek itu. Ah! kenapa juga sih Hitsugaya dan Grimmjow menghalangi ku segala. Tubuhku jadi susah di gerakan kan sekarang. Padahal hanya beberapa senti lagi tanganku ini berhasil menjangkau wajah Ulquiorra si brengsek itu. Aku tidak mau kalah dengan Hitsugaya dan Grimmjow, aku harus bisa melepaskan diri dari mereka berdua. Itu lagi Ulquiorra tau aku sudah seperti gunung meletus masih saja dia berdiri dihadapanku, pergi menjauh dariku ke, atu apa ke. Apa dia tidak takut aku akan merusak wajahnya apa.

"Tenang Ichigo." Kata Hitsugaya dan Grimmjow barengan.

"Lepaskan. Lepaskan aku baka!." Kataku pada Grimmjow dan Hitsugaya. Tapi tatapanku masih mengarah pada Ulquiora.

"Ha...ha...ha...ha...ha..." Aku, Hitsugaya,Grimmjow, dan Ulquiorra melihat ke arah Renji babon yang saat ini tertawa sangat-sangat keras, bahkan yang tadinya dia berada di atas kasurku kini sudah berguling di lantai sambil memegangi perutnya dengan ke dua tangannya.

Grimmjow dan Hitsugaya melepaskan pegangan mereka padaku. Tapi niatku yang tadi ingin menghajar Ulquiorra sekarang hilang entah kemana. Sekarang ini aku malah merasa kesal kepada si babon yang satu itu. Sepertinya teman-temanku yang lain juga merasa kesal pada Renji. Kecuali Ulquiorra, aku tak tau apakah dia itu sedang kesal pada Renji atau tidak. Ekspresi wajahnya memang selalu datar.

"Diam kau babon." Kataku, Hitsugaya, dan Grimmjow serempak.

Mungkin karena tidak mendengar teriakan kami atau memang dia tidak mempedulikannya, Renji masih saja berguling di atas lantai.

"Diam kau bodoh." Kata Hitsugaya sambil melemparkan buku kamus bahasa Inggris yang tebalnya 500 halaman ke arah Renji.

Bletakk!

Lemparan Hitsugaya berhasil mengenai sasaran. Kali ini tepat di kepala si babon itu. Tidak seperti tadi saat aku melemparnya dengan bantal, kali ini dia diam dari kegiatan tertawanya tadi. Dia kini mengelus-ngelus kepalnya yang pastinya terasa sakit dilempar buku setebal itu. Badannya membelakangi kami yang kesal padanya, terutama Hitsugaya. Menurutku.

"Apa yang kau lakukan. Kepalku jadi sa~" Renji membalikan badannya ke arah Hitsugaya.

"Kau ini apanya yang lucu hah?. Kau bukannya membantu malah menertawakan kami." Sahut Hitsugaya mengeluarkan aura jahatnya.

Kami yang berada di dekat Hitsugaya saat ini sampai merinding melihatnya seperti seorang raja iblis sekarang. Mungkin jika sekarang ini aku mempersembahkan tubuh Renji dia pasti sudah membunuhnya, dan memakannya hidup-hidup tanpa di kunyah terlebih dahulu. Rasanya kini hanya sekedar untuk menelan ludah saja susahnya minta ampun. Temanku yang satu ini memang kalu sudah marah bisa membunuh orang yang hanya menatap mukanya yang dingin itu.

.

.

XXXXXX

.

.

"Sudahlah Hitsugaya. Aku tadi kan hanya bercanda. Habisnya kalian juga sih bersikap seperti anak-anak, aku kan jadi tidak tahan untuk tertawa." Kata Renji yang saat ini sedang mengompres kepalanya yang benjol akibat lemparan buku dari Hitsugaya tadi.

Hitsugaya tidak menanggapi kata-kata Renji. Sepertinya dia masih kesal dengan perbuatan Renji.

"Aku jadi ingin tau seperti apa gadis yang sudah menamparmu." Kata Grimmjow menetralkan suasana. Mereka memang tidak tau wujud gadis yang berani menampar wajah tampanku. Walaupun satu sekolahan tapi aku dan teman-temanku masing-masing berada di kelas yang berbeda-beda. Aku kelas 12-2, Hitsugaya kelas 12-5, Grimmjow kelas 12-9, Ulquiora kelas 12-7, dan Renji kelas 12-10. Jadi wajar saja kalau teman-temanku itu tidak tau si murud baru, yang memang tidak mencolok di antara murid-murid yang lain.

"Dia itu tetanggaku." Kataku sambil menutup ke dua mata amberku. Aku merasakan kamarku hening sesaat.

"APA?." Kata teman-temanku serempak, tentu saja tidak dengan Ulquiorra yang hanya merubah raut wajahnya menjadi sedikit terkejut.

"Biasa saja jangan seperti itu." Kataku datar. Aku enek melihat wajah Renji, Hitsugaya, dan Grimmjow yang terlalu berlebihan menanggapi perkataanku tadi. Mereka sampai membuka lebar mulutnya masing-masing.

"Tetangga mu?. Apa kau tidak bercanda Ichigo?." Tanya Renji mendekatkan wajahnya ke depan wajahku.

"Iya. Menjauh dariku." Aku berkata sambil menjauhkan wajah Renji babon dari hadapan wajahku.

"Itu kamarnya." Lanjutku sambil menunjuk kamar gadis baru itu dengan mukaku.

Hitsugaya, Renji, dan Grimmjow langsung mengikuti arah yang aku tunjukan. Sedangkan Ulquiorra hanya melirik dengan ekor matanya. Sepertinya dia tidak merasa penasaran.

"Di sini. Sedekat ini?." Tanya Hitsugaya tak memalingkan tatapannya dari rumah yang ada di sebelah rumahku.

"Em..." Kataku sambil membaringkan tubuhku di lantai.

"Kalau begitu kau akan sering bertemu dengannya Ichigo." Ucap Hitsugaya lagi kini mendekati ku yang tengah terbaring di lantai.

"Begitulah." Ucapku dingin.

"Ngomong-ngomong kenapa kau ditampar oleh gadis itu?." Kini Grimmjow yang bertanya.

"Aku mau menciumnya." Jawabku enteng.

"Apa kau mau menciumnya?." Renji tampak terkejut dengan kata-kataku tadi.

"Pantas saja kau ditampar olehnya. Kau pantas mendapatkannya." Ulquiorra berkata dengan santainya. Dia itu apa dia benar-benar mau mengajak ku berkelahi?.

"Ulquiorra benar. Wajar jika gadis itu menamparmu. Kau itu terlalu nekat Ichigo." Kata Hitsugaya membenarkan kata-kata Ulquiorra. Aku hanya menatap Hitsugaya dengan tatapan tidak suka.

"Kenapa kau mau menciumnya Ichigo?. Apakah dia gadis yang cantik?." Tanya Grimmjow lagi dengan begitu antusiasnya.

"Tidak juga. Kalu ditanya gadis itu cantik atau tidak, menurutku dia biasa-biasa saja. Tapi dia berbeda dengan gadis-gadis yang lain." Kataku sedikit tersenyum. Entah mengapa kalau memikirkan saat dia menampar wajahku kemarin aku merasa ingin tertawa.

"Berbeda. Apa maksudmu dengan berbeda?." Tanya Renji mendekatkan wajahnya lagi ke wajahku. Kenapa dia itu senang sekali mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jangan-jangan dia itu maho lagi. Terus dia tertarik denganku yang tampan ini. Amit-amit, amit-amit.

"Heh Ichigo ayo jawab. Kenapa kau malah bengong sih?." Tanya Renji wajahnya masih berada dekat dengan wajahku.

"Dia tidak seperti gadis yang lain. Yang tiap melihatku akan berteriak histeris. Dan memuji ketampananku ini. Padahal aku tidak memerlukan semua itu, aku malah muak dengan sikap gadis-gadis itu. Dia juga pernah bilang kalau aku ini aneh. Jadi aku penasaran juga apakah dia benar-benar tidak tertarik padaku seperti kebanyakan gadis di sekolah kita. Yah, aku coba saja untuk menciumnya apakah perkataan dia yang selalu mencela ku itu benar-benar dari hatinya atau hanya untuk menutupi rasa sukanya padaku. Mungkin dia merasa malu kalau dia berterus terang padaku kalu dia menyukaiku. Tapi. Sepertinya dia memang tidak tertarik sedikit pun denganku." Kataku panjang lebar sambil menjauhkan wajah Renji dari wajahku dengan tangan kiriku.

Teman-temanku hanya melongo mendengar penjelasan dariku itu. Mungkin mereka merasa heran, ternyata ada juga seorang gadis yang tidak merasa tertarik pada diriku ini. Aku juga sebenarnya sedikit tidak percaya dengan kenyataan ini.

"Aku jadi benar-benar ingin tau siapa gadis yang menamparmu itu." Kata Renji memecah keheningan sesaat tadi.

"Kalau begitu kalian besok harus ke kelasku." Kataku kepada mereka semua.

"Kenapa harus besok. Kenapa tidak sekarang saja. Rumahmu kan tetanggaan dengannya." Kata Renji kecewa.

"Tidak ada. Aku mau istirahat sekarang. Aku tidak mau berurusan dengannya sekarang ini." Jawabku ketus pada Renji.

"Kalau begitu biar aku sendiri saja yang pergi ke rumahnya." Kata Renji lagi.

"Terserah kau sajalah. Sebaiknya kalian sekarang pergi dari kamarku ini." Kataku sambil mengusir teman-temanku itu dari dalam kamarku.

"Baik-baik Ichigo, tak usah mengusir seperti itu." Kata Renji sambil keluar dari kamarku diikuti oleh Hitsugaya, dan Grimmjow.

"Ichigo apakah kau berencana untuk membalas perbuatan gadis itu padamu?." Kata Hitsugaya menghentikan langkahnya yang sudah beberapa langkah keluar dari kamarku ini. Renji dan Grimmjow pun menghentikan langkah mereka.

"Iya Ichigo. Gadis itu sudah mempermalukanmu, walaupun tidak di depan umum sih. Tapi kau harus memberinya pelajaran agar dia tidak kurang ajar lagi padamu." Kali ini Grimmjow yang berbicara. Memang di antara kami semua dialah yang paling bersemangat kalau sudah menyangkut mengerjai orang.

"Tentu saja. Akan ku bicarakan itu besok di sekolah." Kataku dengan seringai yang menghiasi wajahku ini.

"Baguslah kalau begitu." Kata Grimmjow lagi. Hitsugaya, Renji, dan Grimmjow mereka lalu melanjutkan langkah kaki mereka untuk keluar dari kamarku ini.

"Tapi aku masih mau melihat gadis yang sudah menampar Ichigo itu sekarang juga."

"Ok. Kita akan coba ke rumahnya sekarang."

Ku dengar samar-samar suara Renji dan Hitsugaya yang merencanakan untuk pergi ke rumah gadis itu.

Tunggu dulu hanya Hitsugaya, Renji dan Grimmjow yang keluar dari kamarku. Aku rasa teman-temanku itu ada empat orang. Jadi siapa yang tertinggal. Tunggu. Hitsugaya, Renji, Grimmjow, jadi yang tertinggal adalah...

"KENAPA KAU MASIH DISINI HAH? CEPAT KELUAR DARI KAMARKU." Aku benar-benar kesal pada si muka datar Ulquiorra itu.

"HEH APA KAU TAK DENGAR?." Kataku semakin membentak Ulquiorra yang tidak kunjung keluar dari kamarku ini.

"KAU MAU AK~" Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku si Ulquiorra itu sudah berjalan melewatiku dan terus berjalan ke luar kamarku. Aku hanya membiarkannya pergi dari tempat istirahatku ini dengan wajah kesal bercampur bingung dengan sikap temanku yang satu ini.

Ichigo POV End

.

.

XXXXXX

.

.

Rukia POV

"Rukia-chan, bisa kau ajari aku soal yang ini. Dari tadi aku mencoba untuk mengerjakannya tapi tetap tidak bisa." Kata Senna padaku. Saat ini aku sedang berada di rumah Senna untuk mengerjakan tugas sekolahku bersamanya.

"Baiklah, begini." Kataku sambil mengambil buku yang sedang dipegang oleh Senna dan memulai untuk mengajarinya soal yang menurutnya susah itu.

"Kau mengerti?" Tanyaku pada Senna setelah selesai menjelaskan soal tadi.

"Aku mengerti. Terima kasih Rukia." Katanya sambil tersenyum ramah kearahku.

"Emm.. sama-sama." Kataku tak kalah ramahnya

Tok tok tok tok

Aku dengar suara kamar Senna yang diketuk dari luar. Dan tidak lama kemudian ibu dari Senna Yoruichi masuk kedalam ruangan yang kami jadikan sebagai temmpat belajar bersama itu.

"Rukia-chan sepertinya ada tamu yang datang kerumahmu. Sebaiknya kau cepat datangi mereka. Sepertinya mereka sudah menunggu cukup lama."

"Ah. Iya bibi nanti aku kesana. Terima kasih." Kataku pada wanita yang sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri itu. Ah tidak. Bukan hanya bibi Yoruichi yang kuanggap sebagai keluarga tetapi semua keluarga Kisuke sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, mereka sangat baik padaku. Tapi tamu? Siapa tamuku itu. Seingatku aku tidak pernah memberi tahu alamat rumahku yang sekarang kepada keluarga atau teman-temanku di Tokyo. Di sini juga aku belum begitu mengenal banyak orang. Siapa tamuku itu?. Kenapa juga mereka bertamu saat hari sudah hampir malam begini?.

"Baiklah bibi pergi memasak dulu ya Rukia-chan." Katanya ramah lalu pergi dari kamar Senna ini.

Aku kemudian berdiri dan membuka tirai jendela kamar Senna sedikit. Kebetulan kamar Senna ini menghadap lurus ke arah depan rumahku. Jadi aku bisa melihat siapa yang menjadi tamuku sekarang.

"Siapa mereka?. Aku tidak kenal." Gumamku, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Senna.

"Mana mana. Awas coba aku lihat." Kata Senna sedikit menarik tubuhku agar mundur dari depan jendela kamarnya.

"Kya.. Kau beruntung Rukia-chan di kunjungi oleh mereka." Kata Senna menggebu-gebu

"Beruntung, memangnya siapa mereka?." Tanyaku bingung.

"Mereka itu teman-temannya Kurosaki-kun. Kau ingat kan Rukia-chan kalau Kurosaki-kun itu sangat terkenal di sekolah kita?" Tanya Senna padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban ya.

"Teman-temannya juga terkenal di sekolah kita sama sepertinya." Kata Senna lagi tanpa melepaskan pandangannnya dari tamu-tamuku itu.

"Kau lihat mereka Rukia-chan." Aku tidak mempedulikan Senna yang terus berbicara tentang teman-temannya si manusia jeruk itu. Pasti sifat mereka sama dengan si jeruk baka itu.

"Yang rambutnya merah, itu adalah Renji Abarai, yang imut-imut itu namanya Toushirou Hitsugaya, Lalu yang berwajah datar tetapi cool itu adalah Ulquiorra Schiffer, dan yang terakhir yang berambut biru namanya adalah Grimmjow Jeagerjaquez." Apa tadi yang Senna bilang?

"Si-siapa yang tadi kau katakan Senna?." Tanyaku panik.

"Siapa? Tadi aku menyebutkan Renji Abarai, Ulquiorra Schiffer, Grimmjow Jeagerjaquez, dan Toushirou Hitsugaya." Kata Senna yang aneh dengan sikapku. Tidak salah lagi itu namanya, benar itu namanya.

"Memangnya kenapa Rukia-chan.?" Aku tidak menjawab pertanyaan dari Senna dan berlari keluar dari rumahnya itu. Aku harus cepat-cepat.

.

.

XXXXXX

.

.

Aku kini sudah keluar dari dari rumah kediaman keluarga Kisuke. Aku mendengar sura langkah kaki Senna yang mengikutiku saat ini. Tapi aku tidak peduli yang harus aku lakukan sekarang adalah bertemu dengannnya. Tapi sepertinya aku telat, mereka sudah pergi dari rumahku, mungkin karena akau membiarkan mereka menunggu terlalu lama. Aku tidak menyerah aku lihat mereka masih belum jauh dari rumahku. Aku pun terus berusaha mengejar mereka, yang pergi dengan mengendarai sebuah mobil.

"Hey tunggu." Kataku berteriak. Tapi kelihatannya percuma saja, mobil itu malah melaju semakin cepat. Aku menyerah. Hilang sudah kesempatanku untuk bertemu dengannya.

Tapi, bukankah kata Senna aku satu sekolah dengannya, jadi masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku pun berjalan untuk pulang kerumahku. Mungkin sekarang aku berada 100 meter dari rumahku.

"Siapa yang kau kejar?" Aku mengenal suara ini. Suara yang selalu membuatku kesal.

"Bukan urusanmu." Kataku judes. Aku tidak tau kenapa dia ada di sini, apa mungkin dia mengikutiku ya?. Ah, aku tidak peduli dengan semua itu. Sekarang yang penting adalah menemui Senna untuk menanyakan kelas orang yang tadi kukejar itu.

"Kau mau kemana?." Tanyanya. Pertanyaan yang bodoh menurutku

"Tentu saja pulang baka." Kataku ketus. Aku kemudian pergi meninggalkan si manusia jeruk itu untuk pergi ke rumah Senna.

.

.

XXXXXX

.

.

"Rukia-chan disini." Aku mendengar suara Senna yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumahku. Apa yang sedang dia lakukan di sana?

"Senna. Apa yang kau lakukan di sini. Baru saja aku mau kerumahmu." Kataku sedikit heran.

"Aku tadi mengikutumu. Tapi ternyata larimu itu cepat juga, jadi aku malah ketinggalan deh. Ya sudah aku tunggu saja kau di sini. Tapi. Sebenarnya tadi ada apa sih Rukia-chan?" Tanya Senna sepertinya dia sangat penasaran dengan tingkahku sekarang. Tapi maaf Senna belum waktunya aku menceritakan ini padamu.

"Tidak kenapa-napa." Kataku sambil memaksakan tersenyum ke arahnya

"Senna bisa kau beri tahu aku kelas teman-temannya Ichigo padaku." Aku belum bisa menyebutkan nama orang yang kucari. Jika itu aku lakukan aku takut Senna akan bertanya yang macam-macam padaku.

"Memangnya kenapa Rukia-chan kau menanyakan hal itu padaku. Seingatku kau tadi malah tidak tertarik waktu aku menceritakan teman-teman Kurosaki-kun itu." Katanya sambil menunjukan tampang heran.

"Itu. Aku ada urusan saja." Kataku sambil tertawa dibuat-buat.

"Oh, begitu. Hitsugaya-kun kelas 12-5, Grimmjow-kun kelas 12-9, Abarai-kun kelas 12-10 , dan Schiffer-kun kelas 12-7." Kata Senna.

"Terima kasih Senna." Kataku sumringah.

Baiklah besok aku harus menemuinya, pokoknya aku harus bertemu dengannya besok. Harus.

.

.

XXXXXX

.

.

Horeh selesai juga akhirnya chap 3 *author sorak-sorak girang*

Padahal sebelumnya Ai bingung bagaimana kelanjutan ceritanya he...he...

Tapi sekarang ceritanya udah dikonsep kok, jadi sedikit lebih tenang n_n

Ok Ai mau bales review dulu deh

Mautauaja : He...he...Ichigonya jadi terkesan mesum ya. Ini udah update

Mitsuki-ota : Salam kenal juga n_n. Ichigonya mau ngapain Rukia ya?. Tunggu aja ok *plakk*

Kyucchi : Udah update nih ^^

Miss Almaverga : Aduh jangan shock dong. Hisagi kan udah sering membunuh *membunuh hollow maksudnya* wkwkwkwk

Nana-chan Kuchisaki : Kalau Rukianya gila beneran, nanti Ai ikutan gila juga lagi hahaha. Dinanti review selanjutnya ya *maksa*

Yah segitu aja deh makasih buat yang udah rela-relain ngereview cerita Ai yang geje ini ^^

Tolong Review ya please

Sebelum dan sesudahnya Ai benar-benar ucapkan terima kasih n_n