Aku mengerti kalau cinta kita mulai terasa menjauh, entah apa alasannya….

Mungkin karena kau sibuk dengan pekerjaanmu, mungkin karena aku tak pernah jadi pasangan yang bisa membahagiakanmu, atau mungkin bahkan cinta ini memang tak pernah ada semenjak awalnya….

Karena itu hanya untuk satu hari Natal ini saja…untuk satu natal terakhir ini….

Bisakah kau mencintaiku…seperti dulu?


Tao perlahan-lahan membuka mata dari tidurnya. Namja manis berambut pirang itu mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat untuk mengusir kantuk yang masih menyelimuti otak dan pikirannya sebelum akhirnya bangkit dari ranjang yang ditempatinya dan menoleh ke samping. Sebuah senyum sedih segera tersungging di bibir namja manis itu saat dia menemukan kalau sisi samping ranjangnya sudah kosong tanpa ada yang menempati.

"Kris-ge…dia sudah pergi ya?" gumam Tao pelan. "Tanpa mengucapkan selamat pagi atau apa padaku." Dia menyandarkan diri di kepala ranjangnya yang besar itu. "Apa dia sudah tak peduli lagi padaku?"

Tao tersenyum getir mengingat kekasihnya itu. Namja manis berambut pirang itu segera bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela kamarnya dan membuka gorden besar yang menutupi jendela kaca besar itu, membiarkan sinar matahari menyusup masuk dan menerangi kamar tidur yang tadinya gelap itu.

Dia tak ingin memikirkan namjachingunya itu sekarang…setidaknya tidak saat ini…saat tidak ada pikiran baik apapun yang bisa dia pikirkan tentang Kris.

Wu Yi Fan, atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Kris, adalah namjachingu Tao sejak dua tahun terakhir. Namja tampan berambut pirang itu adalah dosen Tao di universitas seni, sekaligus seorang pelukis yang namanya sekarang cukup naik daun.

Belakangan ini nama Kris semakin terkenal sebagai seorang pelukis yang hebat dan membuatnya mendapat tawaran melakukan pameran di mana-mana. Di satu sisi, Tao senang karena namjachingunya itu akhirnya mendapatkan pengakuan masyarakat, sesuatu yang selama ini Kris inginkan dengan berusaha keras tanpa kenal lelah. Tao tahu betapa banyak waktu yang dihabiskan Kris untuk mengurung diri di galerinya untuk mebuat sebuah lukisan yang bisa mempesona banyak orang, dan betapa keras Kris menapak karirnya sebagai pelukis, dari bawah hingga saat ini, dengan penuh kerja keras, keringat, dan air mata, tapi… jujur saja ada satu sisinya yang tidak bisa bahagia dengan semua ini….

Karena semua lukisan itu membuatnya menjauh dari Kris….

Tao menghela napas sebelum berjalan keluar dari kamarnya, membuatnya disambut oleh kesunyian apartemen yang dihuninya bersama Kris sejak setahun terakhir. Namja manis berambut pirang gelap itu berjalan menyusuri apartemen mereka sebelum duduk di kursi sofa di tengah ruangan.

Sejak kapan apartemen ini menjadi sesunyi dan sedingin ini? Tao ingat kalau dulu saat dia pertama datang ke sini apartemen ini terasa begitu hangat, begitu nyaman, seperti rumah baginya. Lalu kenapa sekarang jadi begini?

Sejak Kris terlalu fokus dengan lukisannya dan sering sekali menghabiskan waktu di galerinya, berangkat sebelum Tao membuka mata dan pulang saat dia sudah tertidur (itupun kalau namja tampan itu memang pulang dan bukannya menginap di galeri lukisnya) rasanya saat itulah apartemen ini menjadi dingin. Tak ada lagi kecupan manis di pagi hari, tak ada lagi tawa ceria yang mengisi obrolan saat sarapan pagi, tak ada lagi pelukan hangat sebelum mereka berpisah untuk melaksanakan aktivitas masing-masing dan yang paling penting…tak ada lagi cinta yang bisa Tao rasakan dari Kris. Apa yang mau dia rasakan? Kris tak pernah lagi dia lihat…tak pernah lagi menyentuhnya, memeluknya, ataupun mencumbunya…. Bagaimana dia bisa merasakan perasaan Kris kalau namja tampan itu bahkan sekarang seolah-olah pergi untuk selamanya dari hidupnya?

Tao kembali menghela napas sebelum membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu dan memejamkan matanya, mencoba mengingat bagaimana pertemuan pertama dia dan Kris…saat pertama kali dia sadar kalau dia mengagumi namja tampan berambut pirang itu.


BRUK!

"Ah, maafkan aku," kata Tao saat dia menyadari bahwa dia menabrak seseorang. Namja manis itu segera mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan saat dia menyadari ada satu barangnya yang menghilang.

Buku sketsanya….

"Kau mencari ini?" tanya namja di hadapannya. Tao segera mengangkat kepalanya dan melihat kalau namja tampan di hadapannya tengah menyodorkan sebuah buku sketsa di hadapannya. Tao tersenyum saat dia mengambil buku itu.

"Terima kasih, ini benda berhargaku," kata Tao sambil memeluk erat buku sketsanya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ini hilang. Sekali lagi terima kasih."

"Sketsamu indah," kata namja tampan di hadapannya membuat Tao memandang namja tampan di hadapannya itu dengan tatapan terkejut. "Kau punya bakat melukis. Dengan sketsa seindah itu kau pasti bisa menciptakan lukisan yang indah. Teruslah melukis dan aku akan senang sekali menantikan karya-karyamu."

Namja tampan itupun segera melangkah pergi, meninggalkan Tao yang hanya terpaku diam di tempatnya berdiri, masih belum sadar dari keterkejutannya bahwa baru saja ada seorang namja tampan tak dikenal yang memuji lukisannya.

Sebuah senyum segera tersungging di bibir Tao saat dia berbalik dan menatap punggung namja tampan itu. "Terima kasih atas pujiannya…kakak tampan," katanya sebelum kembali berjalan pergi. "Suatu hari nanti aku pasti akan menemuinya lagi dan aku akan kembali menunjukkan lukisanku padanya."


Dan sejak saat itu Tao mulai mencari informasi soal namja tampan itu dan dia menemukan kalau namja tampan itu, Kris, adalah seorang dosen seni rupa di sebuah universitas seni ternama di Seoul. Tao pun berusaha keras untuk bisa masuk ke universitas itu, hanya untuk bertemu Kris lagi. Dari sana…hubungan mereka semakin dekat hingga akhirnya di sinilah mereka, hidup bersama di satu apartemen setelah dua tahun berpacaran.

Lukisan yang menyatukan mereka…tapi ironisnya…apa lukisan juga yang memisahkan mereka?

Tao memandang kalender dan menyadari kalau hari ini tanggal 24 Desember, Christmas Eve. Hari dimana biasanya dia dan Kris akan pergi keluar bersama, entah belanja, makan, apapun, Tao tak peduli, yang penting dia bis menghabiskan waktu bersama Kris. Hari ini adalah hari dimana Kris biasanya menghabiskan waktu bersama seharian penuh, hari yang dulu ditunggu-tunggu Tao melebihi apapun.

Tapi sekarang…saat dia dan Kris terasa begitu jauh….

Tao menghela napas sebelum mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu di sana sebelum memandang layar handphonenya yang perlahan-lahan menggelap dengan pandangan nanar.

Kalau Kris tidak menginginkan hubungan mereka berjalan lagi, biarlah seperti itu adanya…Tao tak akan menghentikannya, juga tidak akan meminta Kris untuk melanjutkan hubungan mereka kalau memang Kris tidak lagi menginginkannya….

Tapi Tao menolak untuk hanya diam di tempat dan tidak melakukan apa-apa, mencoba menyangkal dan menolak kenyataan dengan berpikir semuanya baik-baik saja, kalau semuanya sudah terasa begitu jelas….

…Karena tak ada gunanya lagi mencoba menyalakan bara api lilin yang sudah hampir padam, kan?


Kris memandang kanvas di depannya, tersenyum saat dia melihat lukisannya yang sudah setengah jadi itu. Namja tampan berambut pirang itu berdiri sejenak dan melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum kembali duduk di kursinya menghela napas sambil kembali memegang pensilnya, kembali melanjutkan lukisannya.

Masterpiecenya yang terbaik….

"Kris-ge, kau masih ada di sini?" tanya seorang namja China berambut cokelat dan sambil tersenyum, menunjukkan lesung pipinya. "Hari ini Christmas Eve kan? Tumben sekali kau tidak pulang menghabiskan waktu bersama Zitao."

"Aku akan pulang cepat kok malam ini," kata Kris sambil tetap melanjutkan sketsanya. "Kau sendiri kenapa ada di sini, Yixing-ah? Tidak pergi kencan dengan Jongdae?"

Yixing tersenyum. "Dia ada konser natal di concert hall dan dia sedang gladi resik sekarang, jadi aku ke sini untuk menyelesaikan lagu yang kubuat untuknya untuk hadiah natalku sebelum bertemu dia untuk kencan natal nanti malam setelah konsernya selesai." Yixing segera berjalan pergi menuju ruang musik sebelum berhenti dan menoleh ke arah Kris. "Jangan terlalu malam di sini, ge. Sudah tiga hari ini kau pulang larut, bahkan kadang dini hari, hanya untuk menyelesaikan lukisanmu kan? Kau tidak merindukan Zitao?"

"Aku merindukannya, sangat merindukannya malah…. Selama tiga hari ini hanya dia yang bisa kupikirkan," kata Kris sambil tetap melukis, tak sekalipun melepaskan pandangannya dari kanvas yang ada di hadapannya. "Karena itu juga aku ingin menyelesaikan lukisan ini sebelum Christmas Eve…memberikan masterpieceku untuknya."

Yixing memandang lukisan yang dibuat Kris sebelum tersenyum. "Lukisan yang indah, ge…" katanya sebelum kembali meneruskan langkahnya ke ruang musik, meninggalkan Kris yang masih larut dalam lukisannya.


Tao menghela napas saat dia berdiri di depan cermin di kamarnya, memandang bayangannya di kaca yang bahkan menurut Tao sendiri…menyedihkan.

Di mana salah hubungan mereka sebenarnya hingga sekarang menjadi sedingin ini?

Apa salah mereka berdua yang terlalu tenggelam dalam pekerjaan mereka masing-masing?

Apa salah Kris yang terlalu menyukai dunianya yang penuh lukisan dan sketsa hingga tidak bisa membagi sedikit waktunya untuk Tao?

Atau itu salah dirinya…yang tidak siap dinomorduakan oleh Kris dibandingkan sebuah benda mati bernama lukisan?

Tao menyukai melukis, tentu. Dari dulu dia sangat suka mencorat-coret dinding wallpaper rumah dan buku-buku di rumahnya sampai akhirnya dia memutuskan untuk mendalami melukis. Dia suka lukisan…dan semakin menyukainya semenjak sesuatu yang bernama 'lukisan' itu menjadi jalan penyambungnya bersama Kris.

Tapi sakit rasanya…dinomorduakan oleh orang yang suka dengan sesuatu yang kau suka….

Tao menyandarkan diri di permukaan kaca sebelum memakai jaketnya dan tersenyum getir. "Setidaknya aku ingin mempertahankan apa yang bisa kupertahankan…" kata Tao sambil memandang buku sketsa yang tergeletak di meja belajar di sebelahnya. "Kalau Kris-ge sudah tidak menginginkanku lagi dan memang hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan…setidaknya aku tidak mau kehilangan rasa cintaku untuk melukis. Aku tidak mau membenci lukisan…dan menyalahkannya kalau hubunganku dan Kris-ge harus berakhir hari ini…."


Kris menghela napas sebelum kembali merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama melukis. Dia tersenyum sebelum kembali memandang lukisannya yang akhirnya selesai.

Indah.

Tidak salah dia menyebut lukisan itu sebagai masterpiece terbaiknya. Bagi Kris lukisan ini indah…bahkan terlalu indah. Lukisan yang akan selalu disimpannya…koleksi pribadinya yang terindah.

Terlebih objeknya…

Namja tampan berambut pirang itu segera berdiri dan merogoh kantong mantelnya untuk mengambil handphonenya, mengecek pesan-pesan dan panggilan yang tadi dia abaikan untuk menyelesaikan lukisannya.

"Tao?" gumamnya bingung saat dia melihat sebuah pesan dari namjachingunya itu. Namja tampan berambut pirang itu segera membaca pesan itu sebelum wajah datarnya berubah menjadi ekspresi terkejut sebelum dia memandang jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 10 malam.

'Gege, aku…aku tahu kau sibuk dengan lukisanmu selama 3 hari ini tapi…hari ini aku perlu bicara denganmu. Bisakah kita bertemu hari ini. Aku menunggumu di depan gerbang kampus seni jam 7 tepat. Tolong…datang, ge. Hanya ini yang kuminta darimu…sebelum aku menyerah dan melupakan segalanya.'

Tanpa pikir panjang Kris segera berlari keluar galeri seni menuju universitas mereka.


Tao menghela napas saat dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam sebelum kembali menyandarkan diri di gerbang bata universitas mereka. Tao tersenyum sedih saat dia mendongakkan kepalanya, memandang butiran-butiran salju yang berjatuhan dari langit malam di atas kepalanya.

"Apa ini jawaban Kris-ge?" gumam Tao pelan. "Apa ini artinya dia memang ingin semua berakhir dan karena itu tidak mau datang? Apa baginya aku memang sudah tidak ada artinya sehingga dia bahkan tidak mau mendatangiku untuk mengakhiri segalanya?"

Tao memejamkan matanya, bersamaan dengan air mata yang menetes dari matanya. Sebuah isakan terdengar dari bibirnya sebelum dia mengangkat tangannya dan membuka matanya, menghapus air matanya.

"Baiklah aku mengerti, ge…" kata Tao sambil tersenyum. "Terima kasih atas segalanya…wo ai ni, gege…."

Namja manis itu pun segera melangkah pergi, tapi baru saja beberapa langkah melangkah….

"TAO!"

Tao segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gerbang dengan pandangan terkejut. Dia melihat Kris yang berlari dengan cepat dari arah gedung galeri universitas, tempat dia selama ini menyelesaikan lukisannya, tempat di mana semua masalah hubungan mereka…mungkin bermula.

"Gegege?" tanya Tao tidak percaya saat Kris sudah berdiri di hadapannya. "Kenapa?"

"Ma…maaf…" kata Kris sambil mengatur napasnya setelah berlari sambil memandang Tao. "Aku…aku baru saja membaca pesanmu…jadi…."

Tao tidak perlu penjelasan lain. "Karena lukisan lagi kan?" desisnya pelan, membuat Kris kembali memandang namja manis itu. "Sudah cukup, ge! Kalau kau memang tidak mau peduli padaku karena lebih memperhatikan lukisanmu, sudah cukup! Aku tidak bisa tahan lagi, sekarang juga di sini, kita akhiri semuanya!"

Kris memandang Tao dengan pandangan terkejut. "A…apa yang kau katakan, Tao? Aku…aku…."

"Aku lelah, ge. Aku begitu mencintaimu…sangat mencintaimu sampai aku rela menunggumu untuk kembali, setelah menyelesaikan lukisanmu. Aku mencoba mengerti saat aku tidak bisa lagi melihatmu karena kau selalu pergi saat aku terbangun dan datang saat aku tertidur! Aku mengerti kau tidak akan ada saat aku pulang kuliah! Aku mencoba mengerti saat tidak ada lagi ciuman dan pelukan hangat yang kuterima saat aku berangkat dan tertidur! Aku mengerti semuanya!" Air mata kembali menetes dari mata Tao saat dia kembali terisak pelan. "Tapi aku manusia ge, aku tidak sekuat yang kau kira. Aku bukan orang sempurna dan aku…punya batas untuk menunggu dan mengerti, jadi….hmmmfff…."

Mata Tao terbelalak saat dia merasakan sebuah bibir yang membungkam bibirnya dalam sebuah ciuman. Tao hanya bisa terpaku saat dia merasakan bibir Kris yang menyentuh bibirnya, mengunci semua perkataan yang ingin keluar dari bibirnya. Tao hanya diam tanpa reaksi selama beberapa saat sebelum memejamkan matanya dan mengalungkan lengannya di leher Kris, membalas ciuman namja tampan berambut pirang itu.

Dia rindu ciuman ini…dia begitu merindukan Kris. Kalau ini ciuman mereka yang terakhir….

…Setidaknya biarkan Tao menikmati ciuman ini lebih lama….

Tao mendesah pelan saat dia merasakan ciuman mereka menjadi semakin panas dengan tambahan lidah Kris yang mulai mengobrak-abrik isi mulutnya untuk membelit lidahnya dalam sebuah ciuman nafsu. Tangan Tao menggenggam erat sweater yang dipakai Kris saat dia merasa bahwa lututnya mulai lemas dan hampir terjatuh kalau saja Kris tidak mengalungkan lengannya di pinggang dan bahu Tao untuk menopang tubuh namja manis itu.

"Gegege…" kata Tao dengan napas terengah-engah saat akhirnya mereka berdua mengakhiri ciuman panas mereka. Kris memandang Tao dengan tatapan intens sebelummenarik mereka berdua menuju galerinya. "Gege…."

Tapi panggilan itu hanya dijawab kebisuan oleh Kris.


Begitu sampai di sana, Kris segera menarik Tao hingga namja manis itu berdiri di tengah ruangan yang gelap itu sebelum berjalan untuk menyalakan lampu yang ada di ruangan itu. Begitu lampu di ruangan itu menyala dan Tao menyadari apa yang ada di hadapannya, dia langsung menarik napas tajam.

Lukisan dirinya…. Di hadapannya ada sebuah canvas dimana ada lukisan dirinya, terbaring di sebuah ranjang berwarna putih, dengan latar laut yang sangat disukainya sebagai pemandangannya. Indah…bahkan baru pertama kali Tao melihat lukisan seindah itu….

Dan yang paling penting meski hanya memandangnya, entah kenapa…Tao bisa merasakan perasaan yang dirasakan Kris saat dia melukis lukisan itu. Ada rasa cinta yang sangat dalam di tiap goresan kuas dan sapuan warna di lukisan itu, membuat lukisan itu terasa semakin indah.

"Aku bermaksud untuk memberikan lukisan itu besok saat natal," kata Kris sambil berjalan ke belakang Tao yang masih terpaku kaget dan memeluk namja manis itu. "Tapi karena sekarang sudah hampir tengah malam kurasa tidak apa-apa menunjukkan ini padamu sekarang. Inilah jawabanku, Tao. Inilah lukisan terindah yang bisa kubuat…dari model yang paling sempurna yang pernah kukenal. Bagiku ini masterpieceku yang terbaik…lukisan terbaik yang pernah kubuat seumur hidupku."

Tao masih terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan-lahan dia mengalihkan pandangan dari lukisan dirinya itu untuk memandang Kris yang berdiri di belakangnya. "Gege…."

"Aku mencintaimu…sangat mencintaimu. Karena itu kau selalu menjadi inspirasi dalam karya-karyaku. Dalam tiap karyaku aku pasti selalu memasukkan sesuatu yang kau sukai, entah warna favoritmu, buku kesukaanmu, bunga kesukaanmu, ataupun menggambar tempat-tempat yang ingin kau kunjungi sebagai latar lukisanku, baju yang kau pakai saat kencan kita…semua hal yang dapat membuatku mengingat dirimu," kata Kris sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Tao. "Aku ingin mengingatmu setiap kali aku melihat lukisanku…karena aku sangat mencintaimu. Maaf kalau itu jadi membuatku melupakanmu tapi percayalah, bahkan sampai detik ini…aku tetap sangat mencintaimu."

Tao tertegun mendengar perkataan Kris sebelum akhirnya sebuah senyum manis tersungging di bibir namja manis itu. Namja manis itu segera berbalik untuk menghadap Kris sebelum mencium pipi namja tampan berambut pirang itu. "Terima kasih, gege…" bisiknya pelan. "Wo ai Ni…."

Kris ikut tersenyum sambil mengusap pipi Tao. "Wo Ye Ai Ni, my panda…" bisik Kris lembut di telinga Tao sebelum kembali menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman lembut penuh sayang.