Hope you like this fiction :)
"Kai bangun." Kata Sehun pelan sambil menepuk pipi Kai. Tapi bukan Kai namanya kalau bisa bangun sekali tepuk.
"Aku ada kuis penting pagi ini. Aku berangkat ya." Sehun menyerah untuk menepuk-nepuk pipi Kai. Jadi sekarang dia sedang membereskan semua catatan dan literatur yang dibutuhkan dan memasukannya ke dalam tas.
Kai tiba-tiba terbangun, masih dengan suara seraknya dia berkata, "Berangkat sama siapa? Naik apa?"
"Sendiri. Naik bus." Kata Sehun sambil memakai tasnya.
"Kuantar. Tidak lucu kalau sampai kampus kau malah basah kuyup, hujannya deras begitu." Kata Kai cepat, sambil memakai mantelnya.
"Kau belum mandi. Aku bisa terlambat kalau menunggumu mandi dulu." Kata Sehun, memasukkan sandwich yang dibuatnya ke dalam kotak bekal.
"Tidak usah mandi dulu. Kau sudah siap kan? Kutunggu di bawah." Dengan itu Kai keluar flat mereka menuju garasi.
Sehun hanya menggelengkan kepala melihatnya. Sehun sebenarnya tidak setuju Kai sampai harus membawa mobil begitu. Kampus mereka kan bisa ditempuh selama 15 menit dengan naik bus. Tapi Kai memaksa, katanya jadi mahasiswa itu sibuk. Akan sering pulang malam, bus kan cuma ada sampai jam 10 malam. Kalau Sehun mendebat, ada saja alasan Kai.
Sehun membuka pintu mobil Kai, "Ada kelas jam berapa nanti?" Tanya Sehun.
"Libur." Kata Kai sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Sehun sebelum memakai untuk dirinya sendiri.
"Bukannya kau ada jadwal jam 1 nanti ya?"
Kai mengacak rambut Sehun gemas, "Itu tahu, kenapa masih bertanya tadi?"
Sehun mendengus kesal, "Ku kira benar libur. Ayo cepat jalan, aku bisa terlambat kalau kita disini terus." Sehun menikmati perjalanan sambil membaca rangkuman yang sudah dibuatnya untuk kuis nanti sedangkan Kai fokus menyetir.
"Kubuatkan sandwich, jangan lupa mandi lalu makan ya." Kata Sehun sambil memasukkan kertas rangkumannya dan menyiapkan payung, kampusnya sudah dekat.
"Kapan sih aku pernah tidak menghabiskan makanan yang kau buat?"
"In case kau lupa, seperti kau lupa membayar tagihan air atau mengganti sprei kita." Kata Sehun tidak berusaha menyembunyikan sarkasmenya sama sekali.
"Mungkin kau harus lebih sering mengirimiku pesan untuk mengingatkanku tentang apa saja yang harus ku lakukan?" Kata Kai, tidak yakin.
Sehun mendengus, "Umurmu bahkan sudah lewat 20, apa jadinya kalau tidak ada aku?"
"Maka dari itu Oh Sehun, aku tidak bisa hidup tanpamu. Mau tidak kau menjadi kekasihku?" Kai menanyakan itu dengan nada biasa saja seperti bertanya, cuaca hari ini cerah ya? Saking seringnya dia menanyakan itu pada Sehun.
"Kau bisa berhenti di depan, aku ada janji untuk bertemu Amber dulu." Sehun bahkan tidak lagi memberikan jawaban pada Kai.
"Ay. Sampaikan salamku untuknya." Kai menepikan mobilnya.
"Kalau tidak lupa." Kata Sehun sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Tidak ada pelukan atau ciuman terima kasih?" Berusaha kan tidak ada salahnya.
"Kau belum mandi." Kata Sehun cepat.
"Yasudah, nanti kalau sudah mandi ku tagih lagi ya." Kata Kai bersamaan dengan Sehun yang keluar dari mobil, entah Sehun mendengarnya atau tidak.
Sehun langsung berlari ke dalam gedung, tidak mau berlama-lama terkena air hujan. Sehun melipat payungnya begitu sampai di bagian gedung yang bisa melindunginya dari hujan saat melihat mobil Kai menjauh.
"Oi Sehun!" Sapa Amber. "Terlambat 2 menit ya." Amber berkata sambil memerhatikan jam tangannya.
"Sorry, tadi Kai susah sekali dibangunkan." Sehun menyeka titik-titik air yang ada di kulitnya.
"Well, you're so into that Kim's boy. Lucunya Kai juga seperti itu, kau pernah tidak sih memerhatikannya kalau menyebut namamu? Dia seperti memujamu di setiap nafasnya." Kata Amber berlebihan.
"With cherry on top biar ceritamu tambah manis."
"Oh ayolah, satu angkatan juga tahu kalau kau itu sudah punya Kai begitu pun sebaliknya."
"Aku dan Kai hanya teman satu flat, oke?" Sehun lama-lama kesal juga dengan orang-orang yang menganggapnya dan Kai mempunyai hubungan khusus.
"Tinggal berdua dalam flat yang hanya mempunyai satu tempat tidur, tentu kalian hanya teman satu flat. Selain untuk berhemat juga kan?"
"Terserah." Sebenarnya Sehun sudah malas sekali menanggapi perkataan orang-orang itu mengenai dirinya dan Kai. Paling ujung-ujungnya mereka akan menyalahkan Sehun, seperti temannya di asrama dulu.
"In my dreaaam, you're with me. Will be everything I want us to beee." Kai bernyanyi sambil memainkan gitarnya di tempat tidur mereka sementara Sehun sedang membaca beberapa literature untuk tugasnya.
"Kaaaai." Kata Sehun pelan, menahan kesal. "Apa tidak ada tugas yang harus kau kerjakan?"
Kai menghentikan permainan gitarnya, "Sudah selesai. Aku mengerjakannya tadi pagi sebelum berangkat ke kampus."
Sehun menghadapkan kursinya ke arah tempat tidur mereka, "Oke, jadi boleh tidak aku minta tolong agar kau tidak bernyanyi dulu. Bukannya suaramu jelek ya, tapi aku sedang berusaha berkonsentrasi dengan literature yang kubaca ini. Kalau kau bernyanyi, malah lagunya yang masuk ke otakku."
"Baiklah." Kata Kai, dia langsung menaruh gitarnya dan berbaring.
Kai tahu sekali kalau nilai itu segalanya untuk Sehun, tidak heran kalau setiap malam Sehun selalu belajar. Tapi ini kan malam sabtu, masa sih Sehun masih juga harus belajar? Well, namanya juga Sehun, mau seambisius apa pun Kai tetap cinta.
Sehun itu kesal sekali karena Kai bukan tipe orang yang rajin belajar. Kerjaannya hanya main gitar saja, tapi nilainya selalu tidak kurang dari A, sementara Sehun, sehari saja tidak belajar, nilainya langsung jadi B. Bukannya B nilai yang buruk sih, tapi ini kan Sehun, kalau bisa A kenapa harus B?
Sehun mematikan laptopnya dan menutup buku catatannya. Sehun menghampiri Kai. "Kau tidak keluar? Ini kan malam sabtu."
"Menemanimu." Kata Kai enteng.
"Well, kau tahu kan kalau kau tidak harus menemaniku? Maksudku kalau memang kau ingin keluar ya keluar saja."
"Aku lapar." Kai membalas, tidak nyambung.
"Ayam atau bacon?" Sehun beranjak ke dapur kecil mereka.
"Chicken of course."
"I bet you love chicken more than me Kai."
"Oh you have no idea Oh Sehun. Let's watch a movie, Love, Rosie or Me Before You?" Kai mengangkat dua DVD di tangannya.
"Now what? Are you in love with Sam Claflin?"
Kai tertawa, "Just admit it Oh Sehun, isn't he," Kai terlihat berpikir, "potential lad?"
Sehun mendengus sambil membalikkan ayam yang sedang di gorengnya, "Cepatlah matang ayam, temanku aneh kalau sedang lapar."
"Kau yang berbicara dengan ayam, kenapa aku yang dibilang aneh?" Tapi Sehun tidak memberikan tanggapannya. "Jadi, Me Before You atau Love, Rosie yang kau pilih Oh Sehun?"
"Aku ingin menonton sesuatu yang lucu." Kata Sehun.
"Me Before You kalau begitu." Kai menyimpan DVD yang satunya dan memasukkan yang satunya ke dalam DVD player.
Sehun meniriskan ayam yang baru digorengnya dan beralih membuat saus lemon kesukaan Kai, "Apa aku pernah bilang kalau kau punya definisi yang aneh masalah lucu Kai?" Tapi Kai sudah terlalu kebal dengan semua sarkasme yang diucapkan Sehun. Jadi dia tetap memasang DVDnya.
Sehun datang membawa ayam goreng kesukaan Kai, well, Kai menyukai semua jenis ayam kan?
Mereka menonton filmnya dengan serius, yaah lebih seperti Sehun menonton film dengan serius, sesekali tertawa dan Kai yang menonton Sehun menonton film sambil memakan ayamnya.
"Will itu dingin sekali ya, kasihan Lou." Sehun berkomentar.
"Sadar atau tidak kadang kau pun begitu Sehun."
Sehun menengok ke arah Kai dan tersenyum. Tangan Sehun mengelus rambut Kai yang mulai panjang, "Maaf ya." Katanya pelan.
Melihat Sehun tersenyum sudah menjadi pemicu otomatis untuk senyuman Kai juga, Kai menidurkan kepalanya di paha Sehun yang sedang memangku bantal dan tangan Sehun secara otomatis mengelus rambut Kai lagi. Sehun suka sekali memainkan rambut Kai. Entahlah, seperti terasa pas ditangannya.
"Kalau aku seperti Will, lumpuh, lebih baik mati, apa kau juga akan mengurusku seperti Lou mengurus Will? Ya termasuk seperti Lou mencintai Will juga."
Tangan Sehun berhenti mengusap rambut Kai. "Sebenarnya aku memikirkan sesuatu akhir-akhir ini." Kai membiarkan Sehun meneruskan apa yang ingin diucapkannya, "Mungkin akan lebih mudah bagimu kalau dari awal tidak bertemu denganku saja."
Kai bangkit dari kursi dan berjalan ke tempat tidur mereka. Begitu saja, Kai malas menanggapi omongan Sehun kalau dia sudah berandai-andai yang aneh begitu.
"Mau kemana hari ini?" Kai bersikap seolah tadi malam Sehun tidak mengatakan apa pun.
"Aku sedang malas keluar, tapi persediaan kita banyak yang habis di kulkas." Kata Sehun sambil memainkan ponselnya.
"Tuliskan daftarnya, biar aku yang beli." Kai memakai mantel dan juga celana jeans kesayangannya.
"Sudah ku kirimkan ke ponselmu ya." Kata Sehun.
"Aku pergi dulu." Kata Kai sambil mengambil kunci mobilnya.
Sesampainya di supermarket Kai langsung membuka pesan dari Sehun. Kai mengambil keranjang kecil. Catatan dari Sehun tidak cukup banyak sampai dia harus membawa troli segala.
Ayam merupakan nomor satu di daftar yang ditulis Sehun. Tentu saja, Kai kan selalu ingin makan ayam. Jadi Kai membeli macam-macam ayam yang dikiranya akan enak kalau dimasak Sehun.
"Susu sudah, kecap sudah, sabun sudah, tinggal satu lagi." Kai berbisik pada dirinya sendiri.
Begitu dia melihat daftar terakhir dalam catatan yang diberikan Sehun, Kai langsung dengan cepat ke kasir yang untungnya tidak antri saat itu. Setelah selesai dia bahkan mengendarai mobilnya dengan cepat, hampir saja menerobos lampu merah. Setelah sampai dengan cepat Kai naik ke flat mereka.
"Aku kira kau tidak akan secepat ini." Kata Sehun.
"Oh Sehun." Kai mengatur nafasnya susah payah.
"Aku tahu. Ayo duduk dulu. Biar kita bicarakan dengan tenang." Kata Sehun memberikan segelas air pada Kai.
Sehun membawa Kai duduk di sofa kesayangan mereka, karena memang hanya cukup untuk mereka berdua.
"Setelah sekian tahun kenapa kau dengan mudahnya berkata begitu? Dari semua waktu yang kita punya, kenapa kau memilih saat aku berbelanja di sabtu yang dingin ini?" Kata Kai menahan kesal.
"Jadi kau tidak mau aku jadi kekasihmu?"
"Tentu saja mau!" Kai mengatur nafasnya, "Tapi caramu tadi hampir saja membunuhku, aku berkendara secepat mungkin kesini, hampir menerobos lampu merah, aku bahkan mehmph" Sehun mencium Kai. Menempel saja, supaya Kai diam. Lagi pula bibir Kai lebih sexy kalau diam. Sehun melepaskan ciumannya.
"Dimana kau taruh belanjaannya?" Sehun beranjak dari duduknya.
"Di mobil." Entah Kai sadar atau tidak mengucapkannya, "Kau luar biasa Oh Sehun."
Sehun kembali dengan paper bag yang berisi belanjaan mereka, "Kalau kau tidak sedang sibuk, aku akan sangat menghargai bantuanmu untuk membereskan semua barang ini." Kata Sehun.
Kai bangkit dari duduknya dan menghampiri Sehun, "Oh Sehun tell me, ini nyata kan? Bukan imajinasiku kan?"
Sehun tertawa geli, "Baca saja pesan di ponselmu sekali lagi."
Dan Kai pun menurutinya
Shopping list:
1. Chicken
2. Milk (1 chocolate, 1 plain)
3. Soy sauce
4. Soap
5. Yoghurt (1 plain, 1 blueberry)
6. Iwannabeyourboyfriend
"Kai, kau lupa membeli yoghurt ya?" Kenapa malah yoghurt yang ditanyakan?
how?
