Lu Han
Remake from Jang Ok Jung Living In Love Drama (Yoo Ah In & Kim Tae Hee)
Warning: Content boyxboy. Saya tidak bermaksud merubah sejarah Korea atau melecehkannya. Meskipun fanfiction ini adaptasi dari sejarah yang ada, namun seperti dramanya, fanfiction ini 100% fiksi di berbagai bagian. Penggunaan gelar kebangsawanan bagi ratu dan anggota istana lainnya adalah untuk memudahkan pembaca dalam memahami cerita ini. Saya hanya meminjam dan mengubah beberapa hal untuk disesuaikan dengan pemain (HunHan). Saya memakai jaman pemerintahan Raja Hyeonjong (Raja ke-18 Joseon) dan mengubah beberapa hal seperlunya untuk keperluan cerita.
.
.
Luhan terus berjalan ke depan, menjauh dari Sehun yang sedang sibuk bercengkrama dengan seorang gadis yang Luhan sendiri tak tahu siapa. Hatinya terasa nyeri, ia masih belum bisa menerima bahwa pria tampan yang sudah dua kali ia temui namun belum ia ketahui namanya ini ternyata sudah ada yang punya. Seharusnya ia tidak boleh merasa seperti ini, toh tadinya ia tidak pernah benar-benar tertarik, kan?
Malam semakin larut namun kemeriahan pesta seperti tak ada habisnya, dapat Luhan lihat beberapa anak-anak bangsawan masih betah mengobrol dan minum arak. Luhan tak habis pikir, apa sebegitu santainya hidup orang kaya? Hidupnya hanya dihabiskan untuk bersenang-senang, berbeda sekali dengan hidupnya yang untuk sesuap nasi saja ia harus bekerja dengan keras.
Saat hendak berjalan ke arah pintu keluar yang letaknya sudah tak jauh lagi, tiba-tiba tiga bangsawan pria menghadang Luhan. Pemuda-pemuda itu masih tampak muda, mungkin tidak lebih dari dua puluhan. Semuanya memakai gat yang menunjukan bahwa mereka benar-benar dari keluarga yang berkasta tinggi dan terpandang.
"Kita tak pernah bertemu sebelumnya. Kau berasal dari keluarga mana?" tanya salah satu dari mereka. Pemuda itu memakai hanbok pria berwarna marun dengan beberapa perhiasan yang lebih mencolok dari kedua orang lainnya.
"Dia ini putra kedua dari Menteri Kebudayaan, aku putra tertua dari Menteri Pertahanan. Apa ini pertama kalinya kau ada di acara seperti ini?" tanya si pemuda yang memakai hanbok hijau dengan corak bunga anggrek. Ia mengenalkan kedua orang disebelahnya, si pria yang memakai hanbok marun dan yang memakai hanbok hitam.
Luhan menghela napas pelan namun berusaha untuk tetap tersenyum, ia terlalu malas untuk berurusan dengan orang-orang seperti tiga orang pria dihadapannya ini. Puluhan kali Luhan bertemu dengan orang kaya semacam mereka, apalagi yang mereka butuhkan selain menghabiskan malam dengan tubuh molek Luhan? Pasti tak jauh-jauh dari berbagi kenikmatan di tengah-tengah pesta. Berkenalan, seks, lalu menghilang keesokan paginya bagai di telan bumi. Untungnya Luhan selalu pintar mencari alasan untuk menolak.
"Aku bukan putra dari keluarga terkemuka manapun. Mohon permisi," ucap Luhan sambil bergegas untuk melanjutkan jalannya. Belum ada dua langkah, ketiga pria itu menghadangnya lagi mencegah Luhan untuk pergi. Luhan mulai takut. Badannya terlalu kecil, dan ia sudah dikepung dengan tiga orang pria yang badannya jauh lebih besar. Mustahil sekali untuk kabur.
"Tunggu sebentar. Ku dengar, semua orang baik pria maupun wanita rela bertelanjang demi mendapatkan Putra Mahkota. Dengan wajahmu yang cantik, kau pikir bahkan anak bangsawan seperti kami tidak cukup baik untukmu?"
Luhan menghela napas lagi, benar-benar tak habis pikir dengan ketiga orang didepannya ini. Bertelanjang demi mendapatkan Putra Mahkota? Bermimpi bertemu dengan Putra Mahkota saja Luhan tidak berani apalagi ikut bersaing melawan anak-anak bangsawan untuk mendapatkan Putra Mahkota? Luhan mencoba untuk tetap tenang. "Orang bilang berlaku salah terhadap sesuatu lebih buruk dari pada tidak mengetahui apapun. Dan aku tak seperti yang kalian tuduhkan, jadi permisi." Luhan mencoba berjalan ke arah sebaliknya tapi sepertinya ketiga orang itu masih belum mau melepaskan Luhan. Salah satu dari mereka mencengkram erat tangan Luhan.
Luhan ketakutan, pria yang memakai hanbok marun berjalan makin dekat ke arah Luhan, "Adalah sikap yang pantas untuk mengenalkan dirimu karena kami sudah mengenalkan diri kami padamu. Tidakkah kau berpikir kalau kau terlalu kasar?" ucap pria ber-hanbok marun dengan nada yang tinggi.
Baru saja Luhan akan menjawab, tiba-tiba dua orang perempuan muncul dari arah belakang dan berjalan mendekat ke arah mereka, "Lihatlah siapa ini. Bukankah ini Luhan si cantik yang senang tidur dengan pria-pria kaya?"
"Yah. Dia bahkan bukan dari keluarga bangsawan, tapi dia mengikuti semua pria bangsawan kesana kemari. Hahahaha…" ucap salah satu dari dua orang gadis itu. Cepat-cepat Luhan menggeleng, membantah apa yang dikatakan gadis benar-benar merasa terpojokkan. Bagaimana bisa orang-orang ini menuduhnya sekejam itu? Ia miskin, tapi tidak pernah ia menjajakan tubuhnya pada pria-pria kaya. Luhan penjahit, bukan pelacur.
"Kau seperti seekor rubah! Kau memberikan kami senyum licik! Kenapa kau tidak mau menuangkan arak padaku?" Pria ber-hanbok hitam tiba-tiba menarik pinggang Luhan agar mendekat ke arahnya. Luhan berusaha melepaskan diri dari pria besar itu, ia benar-benar ketakutan sekarang. Ini pelecehan!
Apa semua pria bangsawan seperti ini? Berbuat seenaknya saja? Mata Luhan mulai berair, sebisa mungkin ia menahan air matanya yang akan menetes. Walaupun Luhan memiliki tubuh yang seperti wanita tapi sejatinya ia adalah seorang pria. Dan seorang pria harus kuat, ia tidak boleh pasrah saat dilecehkan seperi ini.
"Lepaskan aku!" Luhan mendorong pria ber-hanbok hitam itu kuat-kuat sampai terjatuh. Melihat temannya ditolak mentah-mentah oleh Luhan membuat si pria ber-hanbok hijau mendekat ke arah Luhan, tangannya sudah diudara siap untuk menampar keras wajah cantik dihadapannya. Baru saja tangan itu akan mengenai wajah Luhan, tiba-tiba saja ada sosok lain yang mencegah tangan itu untuk bergerak lebih jauh.
Luhan menolehkan kepalanya kearah sosok lain yang berdiri tepat disebelahnya. Postur tubuh yang tinggi, bermata tajam, berahang tegas, ini pria tampan yang bersamanya tadi! Tapi bagaimana bisa? Bukankah tadi ia sedang bersama kekasihnya?
Sehun datang tepat waktu, "Orang bilang selalu yang lemah dan pengecut yang cepat menunjukkan kekuatan mereka," ucap sosok itu pada pria yang hendak menampar Luhan. Ketiga bangsawan dan dua orang gadis itu terkejut dengan kehadiran si penyelamat Luhan. Pria ber-hanbok hitam marah.
"Kau siapa? Berani-beraninya kau menghalangi kami menghabisi pria murahan disebelahmu itu! Jangan ikut campur!"
Sehun tertawa meremehkan lalu menjawab, "Kau pikir aku ini siapa? Tidak seharusnya kau berbicara seperti itu padaku. Tak seorang pun dari kalian."
"Kalau begitu siapa kau?" tanya salah satu dari tiga bangsawan itu pada Sehun. Luhan terdiam memperhatikan sosok tampan yang lagi-lagi ia temui ini. Bohong kalau Luhan tidak penasaran dengan sosok disampingnya ini. Sehun mengisyaratkan salah satu dari mereka untuk mendekat padanya dan berbisik.
Setelah mendengar bisikan dari Sehun, pria itu syok dan pucat. "Lalu pria manis ini… tak apa jika aku membawanya?" tanya Sehun dengan tenang pada mereka.
Anak menteri itu langsung membungkuk sembilan puluh derajat pada Sehun, "Ya,silahkan saja. Lakukan saja apa yang anda suka,"ucap pria ber-hanbok hitam itu dengan raut wajah yang masih benar-benar pucat. Melihat hal itu Luhan bingung, siapa gerangan sosok disampingnya ini sampai-sampai anak menteri itu ketakutan seperti habis dikejar setan.
Setelah mendengar jawaban dari si anak menteri, langsung saja Sehun menarik tangan Luhan dan keduanya pergi menjauh dari tempat itu. Setelah Sehun dan Luhan menjauh dari kelima anak bangsawan itu, pria yang baru saja dibisiki oleh Sehun terjatuh karena syok.
"Hey! Ada apa denganmu? Siapa dia?" tanya pria ber-hanbok hijau sambil membantu temannya yang terjatuh dengan wajah yang benar-benar pucat pasi.
"Dia… Yang Mulia Putra Mahkota," jawabnya terbata-bata, napasnya masih tercekat, masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja bertindak tidak sopan pada calon penguasa Joseon. Pria ber-hanbok hijau itu yakin sebentar lagi ia harus merelakan mimpinya terbuang jauh-jauh untuk bekerja di kerajaan.
"Putra Mahkota?!" teriak keempat anak bangsawan lainnya tak percaya. Sial!
Setelah berada agak jauh dari lima anak bangsawan menyebalkan tadi, Luhan baru sadar bahwa dari tadi pria tampan didepannya ini masih menggenggam erat tangannya, menuntunnya untuk berlari lebih jauh. Luhan yang masih tidak mengerti mengapa ia selalu saja bertemu dengan sosok tampan itu langsung memberhentikan langkahnya lalu menghempaskan tangan Sehun. Takut, bisa saja orang itu penculik, kan?
"Tolong lepaskan tanganku! Sebenarnya kau siapa terus menerus ikut campur dalam urusanku?" tanya Luhan.
Sehun mengernyitkan dahinya bingung, "Aku? Aku adalah Dangsanggwan. Dan aku awalnya tak sengaja melihatmu diperlakukan tidak baik oleh orang-orang itu. Itu bukan ikut campur," Sehun terpaksa berbohong tentang identitasnya yang seorang Putra Mahkota, karena memang selama ini tidak ada yang tahu pasti wajah Putra Mahkota selain anggota kerajaan atau orang-orang yang bekerja di kerajaan. Putra Mahkota dilarang keras menujukkan identitasnya pada orang diluar kerajaan selama dirinya belum menjadi Raja. Pengecualian untuk anak-anak bangsawan tadi, ia terpaksa membuka identitasnya demi menyelamatkan pria manis dihadapannya ini.
"Bagaimana bisa putra bangsawan tadi gemetar ketakutan di depan pengawal istana?" tanya Luhan tak percaya.
Sehun terdiam sebentar, mengapa pria manis didepannya ini begitu kritis? Sehun memutar otak mencari kebohongan lain, "Yah, aku pengawal kesukaan dari Puta Mahkota. Karena aku melayaninya dengan begitu dekat. Putra Mahkota dan aku sangat dekat. Ketika aku baru saja menyelamatkanmu dari masalah, bukannya berterima kasih, aku malah diinterogasi?" jawab Sehun lancar melontarkan kebohongan lainnya. Kepintarannya dalam berbohong sepertinya harus diacungi jempol, dengan tetap menjaga nada bicara dan wibawanya.
"Kau seharusnya mengabaikannya saja. Bukankah kau membuat kejadiaannya bertambah parah dengan terlibat didalamnya? Terutama ketika… sepertinya ada nona lain yang seharusnya kau perhatikan." Nona lain yang dimaksud Luhan adalah gadis bernama Sena yang beberapa waktu lalu bersama sosok tampan didepannya ini. Ada sedikit rasa nyeri yang datang lagi saat Luhan sengaja menyindir Sehun.
Lagi-lagi Sehun heran dengan pertanyaan tak jelas dari Luhan, "Gadis lain yang harus ku perhatikan? Hahahaha… Maksudmu Sena? Apa kau melihat semuanya?"
Luhan memutar bola matanya jengah, bagaimana bisa ia tidak melihatnya jika mereka berdua berpelukan dengan erat disampingnya sampai-sampai ia dilupakan? Tak mau berurusan lebih lama dengan pria tampan―namun menyebalkan―didepannya ini, ia pun segera pamit, "Bagaimanapun, terimakasih atas bantuanmu. Permisi."
Luhan segera melangkahkan kakinya, belum ada tiga langkah suara berat pria tampan itu menginterupsinya. Membuat Luhan memutar badannya sedikit menghadap ke arah Sehun yang berada dibelakangnya, "Apa mungkin… kau cemburu?"
Luhan terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Sehun. Ia? Cemburu? Tidak mungkin. Eh, tapi Luhan sendiri tidak yakin, sih. Tapi lebih tak mungkin jika ia bilang bahwa ia memang sedikit cemburu, mau ditaruh mana harga dirinya. "Tidak mungkin aku cemburu!"
"Tidak mungkin? Di kasus seperti ini, jawabanmu seharusnya bukanlah 'tidak mungkin'. Tidakkah kau harusnya bertanya, 'Apa yang kau bicarakan?" Sehun yakin sosok mungil dihadapannya ini pasti cemburu karena interaksinya dengan Sena. Tapi ia sendiri belum merasa puas jika pernyataan bahwa 'aku cemburu' itu belum benar-benar keluar dari bibir mungil milik pria manis yang sampai saat ini masih belum ia ketahui namanya.
"Kau dan aku tidak saling mengenal. Bagaimana bisa kau bertingkah seperti ini padaku?!" ucap Luhan dengan nada yang sedikit ia tinggikan. Pemuda bermata rusa itu benar-benar kesal, ia menatap sosok jangkung dihadapannya ini dengan tatapan sinis.
Sehun tertawa kecil meremehkan,"Bukankah tadi kau yang mengatakannya? Memiliki informasi yang salah lebih bermasalah daripada tidak cukup informasi. Itulah kau yang sekarang. Gadis ceria bernama Sena itu.. dia lebih penting bagiku daripada siapapun di dunia ini dan dia adalah adikku. Tapi kenapa aku harus menjelaskan diriku padamu seperti ini?"
Skak mat! Luhan terdiam tak bisa menjawab apapun. Banyak sekali kata-kata yang berputar dipikiran Luhan untuk membalas ucapan Sehun, tapi rasanya lidahnya sulit sekali untuk digerakkan. Oh, ia benar-benar merasa malu sekarang. Jadi gadis itu adalah adiknya?
Luhan hanya bisa menatap lekat mata elang milik Sehun, Sehun pun membalas tatapan Luhan sama lekatnya. Ia berusaha mengingat-ingat, dimana dan kapan ia pernah bertemu sosok manis ini. Tetapi berkali-kali ia mencoba mengingat, tetap tak ada hasil. Nihil.
"Apa kau yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sehun yang kesekian kalinya.
"Ketika aku bertemu denganmu sebelumnya, aku sudah memberimu jawaban kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Tegas Luhan. Sehun menundukan kepalanya, ya mungkin memang ia hanya salah lihat.
"Hey kau disana!" suara dari kejauhan menginterupsi mereka berdua, membuat Sehun memalingkan kepalanya ke arah suara. Luhan yang melihat itu pun memutuskan untuk pergi menjauh dari sosok dihadapannya itu. Lagi-lagi tanpa pamit dan tanpa saling mengetahui nama satu sama lain. Biarkanlah hubungan mereka hanya sebatas orang asing yang bertemu ditengah jalan.
Sehun akhirnya tau suara itu adalah milik Jongin saudaranya, "Kau datang? Pertemuan rahasia yang direncanakan Ibu Suri dianggap begitu penting? Apa kau sudah bertemu anak Menteri Do yang cantik itu?" goda Jongin.
Sehun terkekeh, "Hey, jangan menggo―" baru saja ia akan menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Sehun teringat dengan sosok manis yang bersamanya tadi. Ia harap saat ia membalikkan badannya, ia masih bisa menemukan sosok itu dibelakangnya. Tapi sayang, sosok itu pergi tanpa meninggalkan jejak apapun.
Lagi-lagi kau pergi tanpa nama yang dapat kuingat dikepalaku, batin Sehun. Mungkin lain kali, Sehun-ah. Sehun kembali menghadap ke arah Jongin, "Oh ya… kapan kau akan menunjukkan kembang api yang begitu sering kudengar?"
Jongin memukulkan kipas tangannya pelan ke lengan Sehun, "Oh ya.. Kita tidak bisa melewatkannya di acara seperti hari ini, bukan?"
Sehun mengangguk tersenyum mengiyakan lalu melangkahkan kakinya mengikuti Jongin.
Luhan baru saja melewati pintu keluar dari pesta, tiba-tiba obsidiannya melihat sosok Kyungsoo berjalan ke arahnya. Sepertinya Kyungsoo baru saja akan memasuki area pesta, kebetulan pintu masuk dan pintu keluar sama. Luhan yang melihat pelanggannya berada dekat dengannya langsung saja membungkukan badan dan menyapanya. Kyungsoo masih seperti biasa, terlihat anggun dan elegan. Aura bangsawannya menguar, membuat siapapun yang memandangnya pasti terpesona.
Kyungsoo heran apa yang dilakukan Luhan disini karena memang sebenarnya yang bisa menghadiri pesta ini hanya orang berkasta tinggi atau bangsawan, "Kenapa… kau ada di tempat seperti ini?"
Luhan tersenyum, "Nyonya rumah ini memakai pakaianku."
Kyungsoo mengangguk-angguk tanda mengerti lalu tersenyum tak kalah manis dari Luhan,"Kalau begitu… kembalilah ke pekerjaanmu." Kyungsoo mempersilahkan Luhan untuk melanjutkan pekerjaannya. Luhan lalu membungkuk lagi untuk berpamitan. Baru saja Kyungsoo akan melanjutkan perjalanannya, keduanya hampir berpisah saat terdengar bunyi orang memukul genderang.
Kembang api… akan dimulai!
Pelayan membuka tabung yang terbuat dari kertas dan akhirnya keluarlah riabuan kunang-kunang kecil yang menyala dengan indah beterbangan menuju ke langit gelap. Semua orang mengaguminya. Inilah kembang api yang selalu dinanti-nanti semua orang tiap tahun. Semua bersorak sorai.
Kyungsoo akhirnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanannya lalu memilih untuk berdiri disamping Luhan, bersama-sama melihat kembang api kunang-kunang itu. Tanpa disadari mereka berdua tersenyum sambil menengadah ke langit, mengagumi keindahan kunang-kunang kecil yang berterbangan semakin jauh ke atas langit sana.
"Ketika aku melihat kembang api seperti itu.. untuk beberapa alasan, hatiku merasa sedih. Kembang api yang bersinar terang untuk sesaat dan menghilang seperti itu mengingatkanku pada kehidupan kita―," ucap Kyungsoo membuat Luhan pelan-pelan menolehkan kepalanya ke arah pemuda cantik bermata bulat itu.
"Karenanya.. aku memilih sinar bulan yang selalu bersinar lembut di langit malam." Lanjut Kyungsoo,
Luhan merasa tidak setuju dengan pernyataan Kyungsoo tadi, "Tidak. Hatiku berdebar ketika aku melihat kembang api. Jika aku hanya akan hidup sekali, bahkan meskipun itu singkat, aku memilih bersinar terang dan menghilang di langit malam seperti kembang api itu." Jelas Luhan. Kyungsoo yang mendengarnya hanya terdiam, masih belum mnegerti dengan pilihan Luhan. Ya, hidupnya tak pernah sebebas Luhan yang mampu melakukan apapun yang laki-laki itu sukai.
Kyungsoo kesepian dan terkekang.
Tak mau berpikir lebih jauh lagi, Kyungsoo kembali memusatkan pandangannya kea rah langit yang sudah dihiasi ribuan kunang-kunang.
Keesokan harinya di istana, Ratu Myeongseong dan Putri Sena sedang duduk-duduk dan mengobrol. Ratu penasaran, gadis atau pemuda mana yang dipilih Putra Mahkota. Sena mengusulkan pada ibunya bagaimana kalau mereka mengundang dua kandidat teratas untuk datang ke istana. Tapi Ratu merasa usulan anaknya itu tidak adil untuk calon yang lain.
"Kau bisa mengatakan bahwa kau membawa mereka untuk menemaniku yang kebosanan, eomonim!" usul Sena dengan antusias.
Ratu terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya tersenyum puas dengan usulan anaknya itu, "Kurasa.. kau mungkin benar."
Keduanya pun melanjutkan pembicaraan tentang perjodohan Sehun. Hari ini keadaan istana sangat tenang, berbeda jauh dengan keadaan butik Luhan yang porak poranda karena rentenir. Semua kain-kain rajutan Luhan disobek, meja-meja dilempar ke sembarang arah. Seorang rentenir dengan kaki tangannya berniat menagih hutang Luhan yang sudah semakin menumpuk.
"Jika kau meminjam uang, maka kau harus membayarnya kembali! Bayar uangnya! Bayar kembali sekarang!' teriakan berat dari salah seorang kaki tangan si rentenir membuat para pekerja di butik Luhan yang rata-rata adalah wanita berteriak ketakutan.
Luhan yang baru saja datang ke butiknya dari arah rumah terkejut dengan keadaan butik yang sudah berantakan, "Apa yang kalian lakukan?!" teriak Luhan pada para perusak butiknya itu.
"Luhan hyung!" teriak Baekhyun pada Luhan lalu menghampiri sahabatnya itu. Luhan bertanya pada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi pada butiknya. Baekhyun yang sebenarnya adalah akar dari permasalahan ini terdiam sebentar agak sedikit takut jika saja Luhan memarahinya.
"Sebenarnya, aku mengambil pinjaman dengan bunga tinggi untuk membayar para gisaeng yang kita pakai untuk acara peragaan busana pakaian minggu lalu. Maafkan aku hyung karena bertindak ceroboh," ucap Baekhyun takut.
Luhan terkejut, bagaimana bisa Baekhyun tidak merundingkan masalah ini dulu dengannya dan langsung mengambil keputusan ceroboh seperti ini. Mau marah tapi sia-sia, nasi sudah menjadi bubur lebih baik ia mencari cara untuk mengatasi rentenir itu.
"Jika kalian memberiku sedikit waktu, aku akan membayar semuanya, jadi tinggalkan kami sekarang." Ucap Luhan pada salah satu kaki tangan si rentenir itu. Kaki tangan si renternir terlihat berpikir sebentar lalu mengiyakan namun meminta Luhan untuk jangan lupa membayar hutangnya dengan segera.
Sehun yang sedang berada di ruang kerjanya memanggil Do Kyungshin, tak lama sosok tua bangka yang Sehun benci itu memasuki ruang kerjanya. Pria tua itu membungkuk hormat pada Sehun, meskipun hatinya pun juga benci terhadap Putra Mahkota didepannya ini, sebagai menteri ia harus tetap menjaga sikap dan berpura-pura baik. Ia merasa Sehun adalah hambatan terbesarnya untuk menguasai Joseon.
Sehun tak mau membalas salam hormat dari Menteri Do, ia langsung melemparkan petisi-petisi berisi keluhan para sarjana tentang kemiliteran pada Menteri Do. Menteri Do membaca sebentar petisi-petisi itu dan ia merasa ini tidak adil.
"Semua ini tentang dirimu,"ucap Sehun.
"Laporan pribadi seperti ini biasanya menyalahkan yang lain, jadi sulit untuk bersikap adil," bantah Menteri Do.
Sehun terkekeh kecil, "Keadilan katamu? Tak peduli betapa baiknya burung meniru suara manusia, tetap saja bukan manusia, melainkan seekor burung. Tak peduli bagaimana kau bicara tentang keadilan, aku sudah tahu tidak pernah ada keadilan dalam dirimu. Tapi bagaimana aku bisa mencabut tugasmu atau mengasingkan dirimu?" sindir Sehun.
Menteri Do menatap jengkel pada Sehun karena semua kecurangannya terhadap produksi pakaian perang dan senjata ternyata tercium juga, "Jadi apa maumu?"
"Aku akan membuat kesepakatan dengan pemasok yang membuat baju pelindung terbaik. Artinya jangan ikut campur kali ini!" ucap Sehun dingin, mata elangnya menatap lekat pria tua dihadapannya. Hanya keserakahan yang dapat Sehun lihat dari pancaran mata Menteri Do.
"Terserah padamu. Menurutku dari pada kau pusing memikirkan semua hal ini, mungkin kau harus lebih perhatian pada proses seleksi calon istrimu saat ini. Meskipun ini hanya bagian kecil dari urusan istana, pernikahan kerajaan adalah proses yang lebih penting Aku hanya bicara sebagai pelayan yang perhatian." Ucap Menteri Do pada Sehun. Berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah seleksi Permaisuri yang diikuti oleh Kyungsoo anaknya.
Sehun hanya terdiam dan menyuruh Menteri Do keluar dari ruangannya.
Lagi-lagi pernikahan.
Siang itu Luhan dan Baekhyun sedang berjalan-jalan di pasar, sekedar makan siang di suatu kedai mie yang tak jauh dari butiknya. Luhan hanya ingin melepaskan penat dengan berjalan-jalan. Masalah rentenir dua hari yang lalu benar-benar membuat kepalanya serasa mau pecah. Luhan melihat pengumuman dari istana yang ditempel di dinding kedai tersebut.
Pemerintah akan mengadakan perlombaan bagi masyarakat untuk membuat rompi militer yang bagus. Disana terpampang jelas jika menang perlombaan tersebut maka ada hadiah uang dengan nilai yang besar yang akan didapat si pemenang. Mengingat hutangnya yang semakin menumpuk, membuat Luhan ingin mengikuti perlombaan tersebut.
"Tapi kita tak pernah membuat baju pelindung, hyung. Dan juga modal dari mana untuk membeli semua bahan-bahan yang di perlukan," Baekhyun berkata dengan sedih. Uang mereka sudah benar-benar habis untuk membayar rentenir. Luhan terdiam untuk berpikir sebentar, mencari cara bagaimana mendapatkan modal untuk mengikuti lomba -tiba saja Luhan teringat paman Ko.
"Baekhyun-ah, ada tempat yang harus kutuju. Lebih baik kau pulang untuk menjaga butik," ucap Luhan lalu bergegas pergi meninggalkan Baekhyun. Baekhyun yang masih bingung dengan maksud Luhan hanya bisa terbengong dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Mungkin sepulang dari perginya Luhan akan menceritakan semuanya.
Luhan berlari kencang ke arah rumah pamannya. Dapat ia lihat dari pintu gerbang rumah paman Ko, pria tua itu sedang asyik bermain golf di taman. Luhan segera menghampiri pamannya. Paman Ko yang menyadari kedatangan Luhan langsung mengalihkan pandangan ke ponakannya itu dan bertanya apa maksud kedatangan Luhan.
Luhan mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang pada pamannya. "Kau kemari untuk meminjam uang? Apa jaminannya?"
"Jaminan apa yang lebih baik daripada diriku sendiri?" ucap Luhan.
"Kalau begitu.. bagaimana kau akan membayarnya kembali?"
Paman Ko benar-benar perhitungan, itulah yang dari dulu Luhan tak suka dari pamannya ini. "Pasukan prajurit mencari pemasok baju pelindung baru. Yang membuat pelindung terbaik bisa menjadi pemasok. Jika kau terpilih sebagai pemasok dengan baju pelindungku, kau bisa menjualnya pada prajurit. Ambil dua pertiga dari keuntungan untuk membayar hutangku." Jelas Luhan panjang lebar. Ia berharap sekali pamannya ini mau membantu meskipun kemungkinannya sangat kecil. Paman Ko benar-benar pedagang yang sangat pelit.
"Untuk apa aku membantumu? Terlalu banyak kerumitan," jawab Paman Ko sambil menaruh bola golfnya di tanah untuk melanjutkan permainannya yang tertunda karena kedatangan Luhan.
"Aku tahu paman adalah dalang dari rentenir yang tempo hari merusak butikku. Aku tahu aku telah terlalu banyak berhutang pada paman. Tapi sampai hari ini pun aku masih berusaha untuk mendapatkan uang agar bisa membayar semua hutangku. Aku mohon paman," Luhan memang tahu, selain menjadi pedagang pamannya ini adalah seorang rentenir, mungkin dengan mengancam pamannya tentang hal itu, paman Ko akan bersedia membantunya. Karena memang tak banyak yang tahu juga bahwa pamannya ini adalah seorang rentenir. Paman Ko dikenal sebagai orang yang selalu berperilaku positif, jauh sekali dari imej rentenir yang negatif.
Paman Ko mengangguk, "Baik. Tapi aku harap aku akan mendapat banyak keuntungan dari sini. Jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya.
Hari ini Luhan kedatangan tamu di butiknya. In Kyeong salah satu dari dua kandidat teratas Permaisuri itu ingin memboyong Luhan ke istana saat pemilihan Permaisuri. Selain Kyungsoo, gadis cantik bernama Inkyeong ini lah yang dianggap paling cocok untuk menjadi Permaisuri. In Kyeong sendiri adalah anak dari salah satu menteri dan berasal dari Partai Selatan. Berlawanan dengan Kyungsoo yang berasal dari Partai Barat.
Inkyeong tahu benar selain mahir menjahit, Luhan juga pandai dalam merias diri. Ia ingin sekali dirias oleh Luhan. Mungkin saja dirinya akan terlihat berpuluh-puluh kali lebih indah dari para peserta lainnya. Terlebih jika ia mengenakan hanbok buatan Luhan. Ia bisa saja jadi pemenangnya, kan?
"Apa maksudmu, kau ingin bantuanku di putaran pertama, Nona?" tanya Luhan pada Inkyeong yang sedang duduk di depannya. Gadis cantik itu terlihat gelisah.
"Aku akan jujur padamu. Sebenarnya, aku ingin membawamu sebagai pelayanku di putaran pertama. Sebagai pelayan kecantikan," ucap Inkyeong pada Luhan.
Luhan tersenyum, "Kudengar nona dengan potensial tinggi diperkenankan membawa pelayan. Tapi aku bukan pelayan. Kenapa kau tidak mencari orang lain?" tanya Luhan penasaran. Luhan bingung, bukankah masih banyak penata rias lain diluar sana yang jauh lebih terkenal daripada dirinya? Tapi mengapa nona muda ini lebih memilih dirinya? Apa Inkyeong tidak kemakan rumor buruk tentang Luhan?
Tiba-tiba saja Inkyeong terbatuk-batuk membuat Luhan panik. Sepertinya Inkyeong sedang kurang sehat. Wajahnya yang cantik hari ini terlihat pucat, nafasnya seperti tersengal-sengal. Buru-buru Luhan menyodorkan sapu tangan pada Inkyeong dan bertanya tentang kondisi gadis itu.
Inkyeong menggeleng lalu berkata bahwa dirinya tidak apa-apa. Inkyeong lalu bercerita pada Luhan bahwa sebenarnya ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Putra Mahkota saat tak sengaja berpapasan di istana saat ia hendak membawakan makan siang untuk ayahnya yang notabene seorang menteri dan bekerja di istana. Inkyeong menganggap bahwa Putra Mahkota adalah pria yang selama ini diimpikannya.
Inkyeong juga mendengar rumor dari orang sekitar bahwa Lady Sohae yang berwajah jelek setelah dirias oleh Luhan berubah menjadi cantik, akhirnya bisa memincut hati pria idamannya dan menikah. Inkyeong ingin hal itu terjadi juga dengan dirinya dan Putra Mahkota. Setelah mendengar cerita Inkyeong akhirnya Luhan setuju untuk membantu Inkyeong. Inkyeong senang sekali dan mengucapkan banyak terima kasih pada Luhan lalu segera pamit pulang.
Baekhyun yang mendengar pembicaraan Luhan dengan Inkyeong tadi langsung menegur Luhan. Bagaimana bisa Luhan masih mau membantu orang lain sedangkan masalahnya sudah banyak. Urusan mereka dengan rentenir saja belum selesai tapi sudah mau mengurusi pemilihan Permaisuri.
"Yah, Xi Luhan! Kita sedang dikejar-kejar rentenir. Ini bukan waktunya bagimu untuk mengkhawatirkan seleksi Permaisuri. Bagaimana dengan pembuatan rompi pelindung? Pekerjaanmu sudah menumpuk banyak,hyung."
Luhan memegang tangan Baekhyun dan meyakinkan sahabatnya itu bahwa ia bisa melakukan keduanya "Selama aku bisa melakukannya, aku akan melakukan yang terbaik untuk menolong orang lain,"
Baekhyun masih belum setuju, "Hal ini akan membantu kita dalam membuat pakaian yang jauh lebih indah lagi, Baekhyun-ah. Dua tempat mode terkemuka di Joseon adalah istana dan rumah gisaeng. Karena kita sudah seringkali berurusan dengan gisaeng berarti hanya istana yang belum kita taklukkan karena memang tak sembarang orang bisa keluar masuk istana,"
"Dan juga aku yakin di istana juga aka nada prajurit yang melakukan pelatihan. Aku bisa mencari ide untuk membuat rompi yang bagus disana. Membayangkan saja tidak cukup, aku perlu melihat bagaimana cara kerja prajurit sehingga aku bisa membuat rompi yang kuat dan nyaman untuk mereka," jelas Luhan panjang lebar dan berharap Baekhyun akan meyetujui tindakannya.
Setelah mendengar penjelasan dari Luhan akhirnya Baekhyun setuju.
Hari pemilihan Permaisuri.
Keesokan harinya Luhan dan Inkyeong sudah siap di depan istana bersama para peserta lain. Luhan memandangi tembok istana yang berdiri kokoh dan megah. Tak disangka ternyata mereka berdiri berdekatan dengan Kyungsoo. Inkyeong yang memang mengenal Kyungsoo memberi salam pada Kyungsoo, kedua anak dari keluarga menteri ini saling memberi hormat.
Kyungsoo heran melihat keberadaan Luhan. Luhan membungkuk dan menjelaskan pada Kyungsoo bahwa ia disini sebagai pelayan Nona Inkyeong. Kyungsoo mengangguk tanda mengerti. Tak lama, munculah dayang istana lalu meminta para peserta untuk berbaris sesuai jabatan ayah mereka.
Para dayang meletakkan benda seperti sebuah tutup panci besar dan meminta para peserta untuk menginjak pegangan tutup panci tersebut. Itu juga termasuk salah satu ujian untuk menguji keseimbangan dari para peserta. Luhan heran, apakah untuk menjadi seorang Permaisuri juga harus bagus keseimbangannya? Konyol.
Luhan mendengar, ada beberapa dayang istana yang ber-gossip bahwa sebenarnya calon Permaisuri sudah ditentukan tanpa perlu ada nya seleksi. Dayang itu menunjuk Kyungsoo.
Rombongan peserta calon Permaisuri masuk istana bersama pelayan mereka. Luhan yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di dalam istana merasa senang sekali dan langsung mengeluarkan kertas dan pensil untuk menggambar seragam yang dipakai oleh beberapa pasukan prajurit yang ia lihat di dekat pintu masuk, lalu mengamati aksesoris para calon gungnyeo, mengamati setiap detail seragam dayang-dayang istana.
Ratu dan rombongan keluarga Raja pun tiba. Semua orang membungkuk. Luhan mengintip dan mengamati detail busana kerajaan dan aksesoris Ratu Myeongseong serta keluarga kerajaan lain. Salah satu teman Luhan bernama Kkka Koong yang memang seorang dayang dari Ratu Myeongseong melihat Luhan, ia langsug berseru dengan suara tertahan.
"Luhan! Luhan!" teman dibelakang Kka koong langsung memukul kepala gadis tambun itu. Luhan hanya bisa tersenyum lebar pada Kka koong.
Semua peserta duduk untuk diperbaiki riasannya oleh pelayan pribadi mereka masing-masing. Kyungsoo tetap pada tema anggun, elegan dan tidak menonjol. Sementara Luhan merapikan rambut halus di dahi Inkyeong sehingga dahi gadis itu terlihat lebih bersih. Inkyeong memiliki bintik-bintik hitam di wajahnya dan meminta Luhan untuk menutupinya dengan bedak.
"Bintikmu tidak begitu buruk, lebih baik menonjolkan fiturmu yang lain daripada mencoba menyembunyikan bintikmu. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menukar hiasan rambutmu untuk menarik perhatian ke atas?"
Luhan mengganti aksesoris Inkyeong dengan aksesoris yang cukup mirip dengan aksesoris yang dipakai Ratu Myeongseong hari ini. Luhan melihatnya saat tadi berpapasan. Ratu Myeongseong sudah hadir dan baru saja bersiap-siap untuk duduk saat dayang mengumumkan kehadiran Ibu Suri Cho. Ibu Suri Cho adalah nenek Sehun yang juga mertua dari Ratu Myeongseong.
Ratu Myeongseong jelas tidak terlalu suka dengan Ibu Suri Cho karena dengan adanya Ibu Suri Cho maka kesempatannya untuk menguasai kerajaan menjadi terhambat. Usahanya untuk memenangkan Kyungsoo anak dari menteri Do dengan cara curang pasti akan terhalangi. Walaupun tidak suka, Ratu Myeongseong tetap menjaga sikap dan berpura-pura baik karena Ibu Suri Cho adalah orang tertua di istana dan begitu dihormati.
Saat makan siang, dayang istana mengumumkan akan ada proses penyisihan dari cara makan para peserta. "Akan ada penilaian cara makan kalian. Silahkan persiapkan diri kalian," ucap kepala pelayan. Para pelayan-pelayan pun keluar membawa makanan. Dayang yang bertugas membawakan makan untuk Inkyeong tak sengaja menumpahkan makanan tersebut ke pakaian Inkyeong. Membuat pakaian Inkyeong basah dan rusak.
Sebenarnya pelayan tersebut adalah pendukung Kyungsoo, ia melakukan itu agar Inkyeong yang notabene adalah saingan terberat Kyungsoo kalah. Kyungsoo sendiri terkejut dengan kelakuan dayang tersebut. Ia tidak suka, bukan begini caranya untuk menang.
"Bagaimana ini, Luhan? Sudah berakhir sekarang.. sudah berakhir. Aku pasti kalah. Pakaianku sudah rusak dan tidak terlihat indah lagi. Hiks.." tangis Inkyeong. Luhan membantah sambil tangannya masih tetap bergerak membersihkan pakaian Inkyeong. Ia berjanji pada Inkyeong akan mencarikan rok baru untuk Inkyeong.
Luhan membungkuk pada dayang kepala, "Saya adalah pelayan dari salah peserta yang mengikuti pemilihan. Saya berharap saya bisa mendapatkan rok untuk menggantikan rok Nona Inkyeong yang rusak. Apa giliran Nona saya bisa ditunda?"
Dayang kepala marah, "Beraninya kau meminta perlakuan khusus padahal kau hanya pelayan!"
Luhan membungkuk, "Maafkan saya, tapi ini kecelakaan yang tidak adil dan tidak terduga yang terjadi pada Nona saya. Jika anda―"
Dayang itu baru saja akan menampar Luhan karena bertindak lancang namun Kyungsoo menyela, "Tolong pahami permintaannya! Bahkan istana adalah rumah bagi beberapa orang. Tidak adakah yang namanya rasa iba? Tidak akan adil bila Nona Inkyeong mundur sendiri, jadi aku juga akan mundur dengannya," ucap Kyungsoo.
Dayang istana yang lain membisiki kepala dayang, menyuruhnya untuk memberikan izin. Terlebih Kyungsoo sudah mengancam untuk mundur. Ratu tidak akan senang mendengarnya jika Kyungsoo kesayangannya mengundurkan diri, jadi ada baiknya memeberi izin. Akhirnya kepala dayang memberikan izin. Luhan meminta Inkyeong untuk menunggunya.
Luhan langsung lari keluar dan untungnya bertemu dengan Kkakoong. Luhan bertanya dimana ia bisa mendapatkan chima untuk nonanya. Kka koong yang bukan pelayan bagian menjahit tidak tahu . Kkakoong menyuruh Luhan untuk pergi ke sedab-bang karena disana ada banyak kain yang siap dijahit. Luhan bertanya arah menuju sedab-bang.
"Jalanlah lurus ke sana dan belok kiri di pojok. Dan tanyalah pada orang pertama yang kau lihat di sana dan tanyakan lagi. Aku pergi. Aku benar-benar sibuk saat ini. Maafkan aku!" lalu Kka koong pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Luhan bingung, tapi ia nekat berjalan ke arah yang diberitahukan Kkakoong. Luhan melihat dua orang dayang dari kejauhan, ingin berjalan ke arah dayang-dayang itu untuk menanyakan dimana sedab-bang berada, tapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang dari arah kiri. Oh Tuhan! Itu adalah pria tampan yang ada di pesta!
Sehun senang sekali, pertama di rumah seorang wanita untuk mengukur tubuhnya, kedua di perpustakaan dan sekarang di istana. Apa mungkin mereka berjodoh? Karena sepertinya para dewa selalu mempertemukan mereka di banyak kesempatan.
Luhan terkejut dan Sehun tersenyum manis ke arah Luhan, "Apa kau kemari untuk ikut berpartisipasi di putaran awal pemilihan Permaisuri?" tanya Sehun penasaran. Sehun berharap pria cantik dihadapannya ini ikut mencalonkan diri untuk menjadi istrinya.
Namun jawaban Luhan benar-benar mengecewakan Sehun, "Tidak. Aku kemari sebagai pelayan dari salah satu nona yang ikut seleksi. Maafkan aku menanyakan ini, tapi bisa kau beritahu dimana ruang cucinya? Karena kau pengawal kerajaan, aku yakin kau tahu jalan di sekitar sini," ucap Luhan ramah sambil tersenyum. Sampai hari ini Luhan masih belum tahu identitas asli Sehun.
"Ruang cuci?" Sehun lalu menolehkan kepalanya ke arah Shindong―pengawal pribadi Sehun―dengan tatapan bertanya. Jujur saja, Sehun yang seorang Putra Mahkota mana pernah berjalan-jalan ke area seperti itu. Kasim Shin yang mengerti dengan tatapan Sehun langsung menunjukkan jalan. "Untuk ke sana, kau ikuti jalan ambil kanan, dan ambil empat puluh lima derajat berput―"
Sehun tidak sabar, "Apa kau tak tahu betapa luasnya istana? Segera tuntun jalannya," Luhan tersenyum senang mendengar perkataan Sehun dan langsung mengikuti Kasim Shin yang menunjukkan jalan. Sehun tersenyum kecil lalu mengikuti kedua orang itu dari belakang.
Akhirnya setelah sekitar lima menit berjalan, mereka sampai di lapangan yang penuh dengan kain warna-warni yang sedang dijemur. Luhan sampai terpesona melihat warna-warna cantik itu. Sehun bertanya alasan Luhan ingin pergi ke ruang cuci istana.
"Rok merah tua dari nona yang kudampingi di putaran awal rusak dan menyebabkan beberapa masalah. Aku berharap aku bisa menggunakan kain disini untuk membuat rok baru sekarang Apa kau bisa mendapatkan izin untukku melakukannya? Untuk biaya kainnya, aku yakin nonaku akan membayarnya." Pinta Luhan.
"Yah, itu… lakukan sesukamu. Izin urusan belakangan. Pilihlah yang kau butuhkan." Ucap Sehun dengan suara beratnya yang dibalas ucapan terimakasih dari Luhan. Luhan langsung bergegas ke arah jemuran kain-kain itu untuk menemukan kain yang cocok. Meninggalkan Sehun berdua dengan Shindong.
"Yang Mulia, sebenarnya siapa pemuda itu bagimu hingga kau melakukan ini untuknya?"
Sehun tertekekeh mendengar pertanyaan Shindong lalu menjawab, "Kenapa? Bukankah menyenangkan mengalami sesuatu di dalam tembok istana yang hanya bisa dialami di luar?" Sehun langsung menyusul Luhan ke arah jemuran. Meninggalkan Shindong sendirian dengan kebingungannya.
Sehun berjalan diantara lembaran-lembaran kain yang sedang dijemur itu. Memandangi Luhan yang sedang mencari kain merah sambil sesekali berdecak kagum dengan kain-kain lain yang berwarna indah. Dapat Sehun lihat keindahan Luhan dibalik kain berwarna-warni itu.
Ia amati sekali lagi Luhan, mata rpia cantik itu akan melengkung indah jika sedang tersenyum, jemarinya yang kecil pasti akan terasa sangat pas jika berada dalam genggaman Sehun, tubuhnya yang mungil pasti akan pas sekali dalam pelukan Sehun. Sehun benar-benar memuja keindahan pria manis yang hanya berjarak lima langkah darinya ini.
Sepertinya ia jatuh cinta.
Akhirnya Luhan menemukan kain yang cocok, ia segera berjalan ke arah Sehun yang ternyata sedang berdiri tak jauh darinya dan bertanya dimana ruang menjahit. Sehun yang kebetulan tahu dimana ruang tersebut segera menuntun Luhan kesana.
Luhan dan Sehun segera masuk ke ruang jahit dan mulai menggelar bahan. Sehun bingung, acara pemilihan sedang berlangsung apakah Luhan bisa menyelesaikan roknya dalam waktu sedemikian sempit?
"Meskipun membuat atasan lumayan sulit, tapi jika hanya membuat chima aku bisa mengerjakannya dengan waktu singkat. Kau boleh meneruskan perjalananmu, jadi aku akan menghargai jika kau pergi. Aku akan menyampaikan terima kasihku begitu aku selesai dengan tugas ini." Sehun terdiam tak percaya, mulutnya menganga lebar tak percaya. Hey! Apa pemuda manis pencuri hatinya ini baru saja mengusirnya?
"Aku boleh terus jalan, jadi menyingkirlah?" ucap Sehun tak terima pada Luhan. Namun tak ada sautan dari Luhan, dapat Sehun lihat pemuda manis itu sedang serius mengukur, menggambar dan menggunting pola rok. Sehun akhirnya mengalah dan berjalan keluar dari ruang menjahit.
Saat sudah sampai di depan pintu Sehun menolehkan kepalanya sekali lagi ke arah Luhan,
Ayo kita bertemu lagi di lain kesempatan!
To Be Continue
Dictionary:
Dangsanggwan: pengawal kerajaan
Gungnyeo: istilah Korea yang mengacu pada dayang wanita yang melayani raja dan bangsawan lainnya
Chima: rok yang dikenakan wanita dalam busana hanbok, berbentuk panjang mengembang yang dikenakan dari bawah dada sampai mata kaki. Chima merah dipakai wanita yang belum menikah.
Sedab-bang: ruang cuci di istana
Gat: jenis topi tradisional Korea yang dikenakan sebagai lambang status sosial oleh kaum bangsawan pria dalam pakaian sehari-hari
Hai! Ketemu saya lagi di chapter 3. Udah lama nunggu ya? Chapter ini cukup panjang, maaf banget kalo buat kalian bosen. Saya sudah berusaha menuruti permintaan kalian dengan memperbanyak interaksi Hunhannya, semoga interaksi mereka di chapter ini tidak mengecewakan ya hehehe. Saya berterima kasih dengan semua review kalian, sebisa mungkin saya selalu membalasnya. Mau kasih bocoran aja, di fanfic ini Sehun memang menikah dengan beberapa orang, sama persis seperti Raja Sukjong jadi jangan kecewa ya. Saya masih belum bisa menjelaskan siapa Inkyeong biar surprise hehe. Kalau Ibu Suri Jo dalam sejarah adalah nenek dari Raja Sukjong (difanfic ini diperankan Sehun). Dia istri dari kakek Sukjong. Untuk Ibu Suri Cho dan Inkyeong saya tidak mengubah nama mereka dan tetap menggunakan nama mereka sesuai dengan sejarahnya. Sekian penjelasannya, maaf kalau panjang. Sampai ketemu lagi di chapter depan!
