Kimi no Shiranai Monogatari

Your Unknown Story

© nanodayo-san

[Disclaimer : Kuroko no Basuke Fujimaki Tadatoshi sensei]

Cover Picture by Kuroko no Basuke OP 3/OP 1 Season 2

Chapter : 3/?

Warning : Shonen ai, typo, rawan OOC, AU

A/N : Sejauh ini ternyata bahasa saya berantakan sekali ya. Semoga maksud dari kalimatnya dimengerti ya (_ _) kalo masalah EYD memang malas meratiin-ssu. Terus… ah sudahlah langsung aja dah yah xD

.

.

.

Akashi terbagun dan merasakan sesuatu yang hangat telah membebani telapak tangan kanannya. Hangat yang tersalur dari pipi seseorang bersurai baby blue di dekatnya —Kuroko Tetsuya yang kini tengah tertidur berbantalkan telapak tangan pria bermata heterokrom tersebut. Akashi tersenyum lantas mengusap puncak kepalanya, pria itu pasti sangat lelah seharian ini, terlebih ia menyuruhnya melantunkan lagu-lagu tidur dengan suaranya yang lembut.

Ruangan yang luas itu kini hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sisi kanan tempat tidur Akashi, siapa yang tahu kalau Kuroko sebegitu perhatian pada Akashi. Padahal, lampu utama kamar belum dimatikan ketika Akashi beranjak ke atas tempat tidurnya. Dengan hati-hati Akashi menarik tangannya dari tindihan kepala Kuroko dan mulai duduk. Kuroko sempat menggeliat pelan ketika merasakan bantalnya hilang.

"Tetsuya, bisa kau bangun sebentar? Aku tidak bisa mengangkatmu." Bisiknya pelan tepat di telinga Kuroko. Berhasil, Kuroko kembali menggeliat lalu bangun. "Tidurmu pasti terganggu." Tambah Akashi.

Butuh beberapa detik sampai kesadaran Kuroko benar-benar kembali. Meski wajah Kuroko tak banyak menggambarkan emosinya, tetapi percayalah Kuroko sangat terkejut ketika sadar ia tengah bertatap muka dengan Akashi. "Maaf, Akashi-kun."

Akashi menggeleng. "Apa kau masih belum mengerti maksud dari 'tidak perlu meminta maaf'?" Tanyanya. "Lagipula kau tidak melakukan kesalahan apapun."

Kuroko bungkam, tak tahu harus bicara apa lagi. Bukan karena takut, sungguh Kuroko sama sekali tidak merasa takut seperti biasanya. Iris berbeda warna yang kini tengah menatapnya seolah menyimpan begitu banyak rasa sayang untuknya. Untuk saat ini ia ingin sekali menyalakan lampu utama untuk memastikan bahwa pria yang tengah berhadapan dengannya saat itu adalah Akashi, tetapi sayangnya tubuh Kuroko hanya bergeming di tempatnya, seolah diikat oleh sorot Akashi Seijuurou.

Akashi menepuk sisi kosong di sebelahnya. "Kau bisa kedinginan jika terus di situ." Katanya. Tetapi, Kuroko hanya menatapnya ragu. Akashi menghela napasnya. "Kau membenciku, Tetsuya?"

"Iie desu." Kuroko menjawab apa adanya dan dibalas lengkungan tipis di bibir Akashi. Kuroko bangun lalu mengambil tempat di sebelah Akashi.

"Oyasuminasai." Ucap Akashi sambil menarik selimut hingga sebatas leher Kuroko lantas menyelimuti dirinya sendiri.

Pria itu kembali menutup kedua matanya, melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda. Begitupun Kuroko. Mereka tidur bersebelahan dan tanpa sengaja mengingatkan Akashi saat pertama kali Kuroko berada di rumahnya. Persis seperti saat ini, Akashi memeluknya erat sepanjang malam hingga membuat Kuroko sedikit sulit terlelap karena tak bisa mengubah posisinya. Namun, kali ini rasanya agak berbeda karena tak ada ketegangan dalam diri kuroko seperti dulu.

Juga, entah mengapa saat ini Kuroko merasa lebih nyaman berada di sebelah Akashi.


"Setelah mengantar anak itu, kemana lagi kau akan pergi sepulang mengajar?" Tanya Akashi sambil membalik sendok di atas piringnya yang isinya telah ia tandaskan. Ia menatap Kuroko yang masih menyantap sarapannya.

"Aku sepertinya akan mengunjungi makam Ayah dan Ibuku. Mungkin tak akan lama." Jawab Kuroko.

"Benarkah? Jangan buat aku mencarimu lagi, Tetsuya." Ujar Akashi, sementara Kuroko tak memberi jawaban apapun.

Nada bicara Akashi masih sama seperti hari-hari sebelumnya, lembut dan tenang. Namun, tegas. Akashi bukanlah seorang yang mudah dimengerti. Jalan pikirannya nyaris tak bisa ditebak, meski Kuroko sudah tinggal dengannya lebih dari tiga tahun. Selama ini, Kuroko menilai Akashi sebagai sosok yang menyebalkan dan mungkin agak sedikit berbahaya, tetapi setelah kejadian semalam agaknya tak ada yang perlu ditakutkan lagi dari seorang Akashi. Kuroko sama sekali tidak menyangka Akashi bisa menatapnya selembut itu. Entahlah, Kuroko hanya merasa Akashi memiliki alasan atas sikapnya dalam memperlakukannya selama ini. Alasan yang mungkin tak akan pernah Kuroko ketahui.

"Bisakah kau membatasi waktuku?" Tanya Kuroko, menatap lurus ke arah Akashi.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Akashi tersenyum sekilas. "Kutunggu sampai pukul 2. 3 jam setelah kelasmu berakhir, kurasa cukup."

"Baik, akan kuusahakan sampai sebelum pukul 2." Kuroko merapikan alat-alat makannya yang sudah kosong. "Ittekimasu." Ia bangkit lalu meninggalkan Akashi, sementara Akashi hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Kuroko keluar dari rumah Akashi, dari pintu rumah ia harus melewati halaman yang begitu luas. Di sana ia melihat beberapa orang maid tengah membersihkan dedaunan kering. Pepohonan di halaman tersebut tidaklah sedikit, pada saat musim gugur seperti ini pohon-pohon tersebut pasti meranggas dan memberikan pekerjaan yang berat bagi maid-maid tersebut untuk membersihkannya.

Kuroko merapatkan jaket yang dikenakannya. Udara menjadi lebih dingin dari hari ke hari menjelang musim dingin. Rasanya ia menjadi tak sabar ingin cepat-cepat bertemu musim dingin. Ia tidak tahu Akashi akan mengijinkannya atau tidak, tetapi ia sangat ingin menonton winter cup tahun ini. Sudah lama sekali, dan rasanya ia merindukan benda bundar berwarna oranye yang dulu sering bersamanya.

Langkah kaki Kuroko terhenti di depan gedung kecil taman kanak-kanak. Dengung yang sama kembali terdengar ketika Kuroko mendorong pagar besi yang sudah agak berkarat tersebut, dan seperti hari sebelumnya ia kembali bertemu dengan Satou Ayana yang menyirami bunga-bunga kesayangannya.

"Ohayou, Satou-san." Ucapnya sambil berjalan pelan melewatinya.

"Ah, Ohayou Kuroko sensei." Balasnya sambil tersenyum ramah.

Kuroko melanjutkan langkahnya. Ia memasuki koridor, lantas meletakkan tasnya di ruang guru. Belum ada siapapun dalam ruangan tersebut, persis seperti hari sebelumnya. Apakah ia akan terus-menerus menjadi orang pertama yang datang ke ruangan tersebut atau hanya karena ia datang terlalu pagi?

Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut dan pergi ke kelasnya. Setidaknya, ia bisa mempersiapkan bahan ajarannya di kelas daripada berdiam diri di dalam ruangan kosong tersebut. Sebelumnya, Kuroko mengira ruangan kelasnya akan kosong, tetapi tenyata tidak karena sekarang seorang gadis kecil telah menarik sebuah kursi dan duduk menumpu dagu di tepi jendela.

Kuroko mendekat dan berdiri di sampingnya. "Kau datang terlalu pagi juga, Kagami-san?" Tanya Kuroko dan berhasil membuat gadis tersebut berjengit kaget.

"Kuroko sensei, kau mengejutkanku." Katanya setengah berteriak. "Datanglah dengan cara yang wajar!" Tambahnya lagi.

Kuroko tak menanggapi kalimat Tora. Ia sudah biasa diprotes seperti itu karena kehadirannya yang selalu tiba-tiba dan dianggap tidak wajar. Karenanya, kalimat tersebut ia anggap seolah angin lalu saja.

"Kau selalu datang sepagi ini?" Tanya Kuroko.

"Tidak juga. Papa bangun terlalu pagi hari ini, karena tidak tahu apa yang ingin dilakukan selain memasak sarapan, ia akhirnya membangunkanku dan memaksaku untuk pergi ke sekolah. Padahal aku masih mengantuk." Jelasnya lantas menguap lebar.

"Kau tidak seperti anak perempuan, Kagami-san." Sindir Kuroko.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Berhenti memanggilku Kagami-san. Terdengar seperti nama anak laki-laki."

"Tapi bukankah Tora juga terdengar seperti nama anak laki-laki?" Gadis itu hanya mendelik ke arah Kuroko. "Ayahmu itu seperti apa?" Tanya Kuroko tanpa mempedulikan tatapan tajam gadis kecil itu.

"Kenapa tiba-tiba bertanya tentangnya?"

"Hanya sedikit penasaran saja." Kuroko menarik kursi di belakangnya, lalu menjajarkannya dengan kursi Tora. "Aku juga punya teman yang bernama Kagami."

"Benarkah? Tapi, aku yakin itu bukan Papa. Kuroko sensei tidak mungkin berteman dengan orang bodoh seperti Papa. Papa orang yang bodoh, terlalu bodoh sampai tidak bisa kuceritakan. Dengan bodohnya ia memberi nama seorang anak perempuan, Kagami Tora."

"Ibumu tidak protes?"

Kagami tertawa kecil. "Aku tidak punya ibu."

Sedikit rasa bersalah terlukis di wajah minim ekspresi Kuroko. Seharusnya ia tidak mempertanyakan hal tersebut. "Maaf."

"Daijoubu. Walaupun tidak punya ibu, tapi aku sudah cukup bahagia menemukan Papa."


Dengung kembali terdengar ketika Kuroko membuka pintu pagar taman kanak-kanak. Ia tidak melihat keberadaan Tora di sekitar taman TK dan sepertinya kali ini Papanya tidak lupa menjemput. Baguslah, ia jadi lebih leluasa mempergunakan waktunya.

Seperti rencana sebelumnya, hari ini ia akan mengunjungi makam ayah dan ibunya. Sudah sekitar satu bulan sejak terakhir kali ia pergi ke sana, dan ini kali pertama ia mengunjungi makam mereka seorang diri karena sebelumnya Akashi selalu mendampinginya. Dari tempatnya sekarang, perlu berjalan sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke makam mereka.

Makam keluarganya berada di atas sebuah bukit kecil, untuk kesana ia perlu menaiki anak-anak tangga yang kecil dan agak licin karena sedikit ditumbuhi lumut. Ia tidak berlama-lama disana. Usai meletakkan bunga yang sempat dibelinya di perjalanan dan mendoakan kedua orangtuanya, Kuroko kembali pulang. Namun, sungguh tanpa diduga ia bertemu dengan seorang pria berambut biru gelap dan seorang gadis berambut merah muda yang begitu dikenalnya.

"Aomine-kun, Momoi-san."

Mendengar suara Kuroko, sontak keduanya mengangkat wajah secara bersamaan. Keduanya memberikan sorot yang sama ke arah Kuroko, sorot keterkejutan.

"Tetsu-kun… kau Kuroko Tetsuya?" Sang gadis membuka suara lebih dulu.

"Ya, Momoi-san. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kuroko.

Pria berambut biru gelap mengusap tengkuknya. "Kami mau mengunjungi makam keluargamu. Bagaimanapun juga mereka sangat baik."

Kuroko tersenyum haru. "Terima kasih, Aomine-kun, Momoi-san. Baru saja aku dari sana."

"Kau langsung pulang?" Tanya Momoi.

Kuroko mengangguk. "Aku tidak bisa berlama-lama. Aku pergi dulu." Kuroko menuruni anak tangga, namun baru dua langkah Aomine tiba-tiba menahannya.

"Tetsu, kau baik-baik saja?"

Kuroko terdiam sesaat ketika Aomine mempertanyakan hal tersebut. Baik-baik saja? Entahlah sejauh ini mungkin baik-baik saja. Ujung bibir Kuroko terangkat sedikit, membentuk senyum tipis. "Mochiron desu. Jya ne." Ujar Kuroko lantas berlalu.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertatap muka dan bicara dengan mereka, terlebih dengan Aomine. Semenjak kelulusan SMA, Ia masih berkirim e-mail dengan Momoi meski tak sesering dulu, tetapi dengan Aomine nyaris tidak pernah. Bohong jika Kuroko tidak merindukan mereka. Jika saja ia bisa, ia ingin sekali membicarakan banyak hal dengan dua sahabatnya tersebut. Saat ini ia hanya bisa mengharapkan kesempatan lain untuk bertemu mereka. Bukankah mereka masih berada di tanah yang sama?


Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya Kuroko menginjakkan kakinya di atas lantai marmer rumah Akashi. Ia berhasil memenuhi janjinya pada Akashi untuk sampai sebelum pukul 2, meski hanya kurang dua puluh menit. Saat itu, tumben sekali Akashi tidak bercengkrama dengan shogi-nya. Pria bersurai merah itu sekarang sedang serius menatap layar televisinya.

"Okaeri." Ucap Akashi tiba-tiba, sepertinya ia mendengar langkah Kuroko di dekatnya.

"Hm, tadaima." Balas Kuroko sedikit salah tingkah. Harusnya ia yang mengucapkan 'tadaima' terlebih dahulu. Ia mengira Akashi tidak peduli akan kedatangannya.

"Kau pulang lebih cepat dari dugaanku. Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Akashi, kedua matanya masih menatap lurus ke arah televisi.

"Sama seperti kemarin. Baik-baik saja." Jawabnya. "Hari ini, Tora pulang bersama ayahnya. Aku sangat penasaran dengan ayahnya. Sayang sekali, aku tidak bisa bertemu dengannya." Lanjut Kuroko.

Akashi mendelik tajam ke arahnya, tetapi nampaknya Kuroko tak menyadarinya. "Hooh, sehebat apa dia sampai menarik perhatianmu?"

Kuroko menggaruk kepala dengan telunjuknya. "Mungkin hanya orang yang bodoh. Tapi sepertinya dia cukup menarik." Kuroko tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, tadi aku sempat bertemu Aomine-kun dan Momoi-san."

Akashi tak menjawab sepatah katapun, bahkan kelihatannya tidak tertarik sama sekali dengan topik pembicaraan tersebut. Ia melirik sedikit ke arah Kuroko yang belum beranjak dari tempatnya. "Kau masih mengingat Ryouta?"

Kuroko menautkan kedua alisnya. Mengapa Akashi tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Tentu saja ia ingat seseorang yang pernah menjadi muridnya tersebut. "Ya, tentu saja."

Akashi menghela napasnya sejenak. "Berita buruk untukmu." Kalimatnya jeda sejenak. Pria itu sekarang menatap Kuroko lurus. "Kise Ryouta hilang."


TBC


Minna, gimana? Menjurus OOC-kah atau sudah OOC? Aduuuuh makin gaje sepertinya. Bete nih gara-gara bonenkai plus ga bisa ketemu cosu midorin u,u besok sudah dipastikan galau -_- seperti biasa, minta saran, komentar dan segala macemnya di review ya. Oiyaa, big thanks buat yang udah ngebaca dari awal ff gaje ini. terharuuu doumo arigatou gozaimashita ^^ (chapter selanjutnya Insya Allah minggu depan hehe)