xxXxx

Bab 7

Just You

Lee Hyukjae

"Uhm, permisi."

Aku menoleh pada namja yang memakai masker hitam, topi, dan kacamata hitam itu. Kalau boleh main tebak-tebakan, aku pasti akan mengatakan kalau namja ini artis top di Korea Selatan. Dari posturnya, kurasa dia bukan pelawak.

"Ne, apa ada yang bisa kubantu?" Tanyaku ramah.

"Ne, begini. Apa ada pelayan yang bernama Kim Kibum?"

Aku menatap namja ini bingung. "A-ada. Sebentar ya."

Aku memiringkan kepalaku singkat dan mulai mencari Kibum yang berada didalam café. Mataku mencari yeojya cantik itu diseluruh ruangan. Dan kutemukan dia sedang berada dibelakang meja kasir, menghitung tagihan pelanggan sepertinya.

Kakiku melangkah mendekatinya. "Kibumie…"

Yeojya itu tidak menoleh. "Wae, eonnie?"

Aku kembali memperhatikan namja yang mencari Kibum diluar café. Namja itu menyender pada tembok café. Kalau dia artis, mungkin kah dia mencari Kibum?

"Hyukie eonnie?"

Reflek, aku menoleh pada Kibum. "Ah! Kau dicari seorang namja diluar. Dari pakaiannya yang mencurigakan, kurasa dia artis."

Kibum mengerutkan dahinya. "Nugu?"

Aku mengangkat bahuku. "Sebaiknya kau temui dia dulu."

Yeojya itu membuka celemek maidnya dan melenggang pergi. Tentu saja sebelumnya dia menitipkan meja kasir untuk kujaga sebelum dia keluar café. Aku masih memperhatikan Kibum yang berbicara dengan namja itu. Tapi… ah! Penyakitku kumat! Jangan mencampuri urusan orang lain, Lee Hyukjae.

"Permisi, aku mau membayar."

Aku mengangkat kepalaku. Seorang namja mungkin seumurku menatapku bingung. Aku hanya tersenyum semanis mungkin dan mengambil kertas pesanannya dan beberapa lembar uang yang ia sodorkan padaku. Kurasakan dia memperhatikanku yang sedang mengambil uang kembalian dari dalam kotak uang yang disediakan. Setelah aku mendapatkan beberapa uang kembalian, aku menyerahkannya pada namja ini.

"Gamsahamnida." Aku tersenyum lagi sembari menyerahkannya.

Dia membalas senyumanku, tapi kurasa berbeda. Senyumnya memang tidak dipaksakan, tapi dari sorot matanya. Dia tidak benar-benar tersenyum. Hanya bibirnya yang terangkat. Matanya tidak tersenyum setulus bibirnya. Sorot matanya… kosong?

xxXxx

"Kali ini ada pengganti yeojya waktu itu, eonnie."

Aku menoleh pada Kibum yang juga sedang mengambil pesanan didapur. Dia menata beberapa potongan kue diatas piring kecil. "Pengganti yeojya waktu itu? Yeojya yang mana?"

Dia tidak menatapku. Yeojya cantik ini memang senang menjawab tanpa menatapku ya? "Yeojya imut yang selalu datang setiap hari dan membawa buku kecil. Sekarang yeojya itu sudah tidak pernah datang. Yeojya yang Yesung oppa suka itu loh. Digantikan oleh namja baru."

"Digantikan oleh namja baru?" Tanyaku tak paham.

Akhirnya yeojya ini menoleh dan menatapku. "Aigo, Hyukie eonnie! Eonnie ini benar-benar deh. Sudahlah, aku mau mengantar makanan dulu. Kita bicarakan setelah shift kita selesai, hm?"

Yeojya itu pergi membawa nampannya yang berisi makanan. Aku juga keluar dari dapur membawa beberapa pesanan. Aku mengantarkan makanan ini dan kembali mencatat pesanan baru. Selalu seperti ini setiap harinya. Café selalu penuh. Bahkan terkadang Heechul eonnie juga membantu.

"Hyukjae-sshi! Aku mau memesan!"

Aku tersenyum dan menghampiri salah satu meja. "Ne, aku akan mencatat pesanannya."

xxXxx

"Jadi, ada seorang namja yang dua hari ini terus datang dan memesan makanan yang sama. Dia memesan untuk dua orang, padahal dia sendirian. Pandangan matanya kosong, eonnie. Kadang aku takut kalau tiba-tiba dia menyerang pelanggan."

"Loh? Memang dia seperti kriminal sampai-sampai mau menyerang pelanggan?" Tanyaku bingung.

Kibum menghela nafasnya. "Bukan begitu, eonnie! Aku hanya takut."

Kali ini aku mengangguk paham. "Kalau begitu, besok kau harus beritahu aku yang mana orangnya. Kalau perlu, aku yang akan melayaninya besok."

"Arraseo. Ah, aku harus turun sekarang. Annyeong Hyukie eonnie, sampai bertemu besok."

Kibum melambai dan turun dari bus. Ketika bus mulai berjalan, aku kembali melambai pada Kibum yang berada diluar. Setelah bus mulai berjalan, aku menyenderkan kepalaku ke jendela dan menutup mataku. Mencoba fokus pada musik yang kupasang ke ear-phone yang sudah menempel ditelingaku.

xxXxx

"Umma, aku berangkat ya!"

Aku keluar dari rumah dan mendengar teriakan ummaku dari dalam rumah. Yeojya yang sudah hampir setengah abad itu meneriakan kata 'hati-hati' dengan cukup kencang. Meskipun umurnya sudah tidak mauda lagi, ummaku yang bernama lengkap Kim Kibum itu masih tetap cantik dengan cat-eyes-nya yang membuat appaku tergila-gila. Namanya memang sama dengan Kibumie, tapi umma lebih sering dipanggil Key. Dan kenalkan juga, appaku bernama Lee Jinki dan lebih sering dipanggil Onew.

Cha, annyeonghaseo! Naneun Lee Hyukjae imnida. 27 tahun dan dikenal sebagai yeojya enerjik, yah… kalau tidak semangat tidak seru menurutku. Appaku memiliki sebuah industri kecil yang menjual makanan kecil, lumayan berhasil. Dan ummaku, dia bekerja disebuah stasiun tv untuk memilah-milih pakaian mana yang cocok untuk dikenakan artis-artis pada kegiatan tertentu.

Kenapa aku bekerja sebagai pelayan? Sebenarnya aku sudah menjabat sebagai manager disebuah perusahaan, tapi pekerjaan itu membuatku tidak bisa bergerak leluasa. Aku memilih untuk meninggalkan profesiku dan memilih untuk menjadi pelayan dicafe Sapphire Blue ini.

Hari ini aku mendapat shift sore sampai café tutup nanti malam. Aku tidak pernah merasa keberatan sih. Lagipula aku menyukai pekerjaanku. Aku bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya belum pernah kukenal. Tak jarang pula orang yang sudah kukenal datang kecafe.

"Hyukie eonnie? Aku baru saja mau pulang nih."

Aku menoleh pada Kibumie yang sudah melepas seragam kerja dengan baju biasa. "Gwaenchana. Lagipula setiap hari Kamis kan kita beda shift."

Dia mengangguk paham. "Keurom, aku pulang duluan ya. Ah… namja yang kemarin, dia sudah datang dan sudah memesan. Dia ada dimeja 7."

"Oh? Keurae? Aku akan mencarinya."

"Annyeong!"

Aku mengangguk. "Hati-hati."

Yeojya cantik itu melenggang keluar ruangan khusus pegawai. Aku mengganti bajuku dengan seragam maid dan keluar ruangan. Ketika aku baru saja keluar dan membereskan celemek putih yang kukenakan, mataku bertemu pandang dengan namja itu. Dia duduk dimeja nomor 7?

Dia tersenyum kecil padaku, tapi sorot matanya tetap kosong. Sedangkan aku? Aku tersenyum canggung dan buru-buru melangkah kearah kasir. Detak jantungku berdegup tidak karuan! Tapi belum sampai, kakiku terselengkat kursi. Dan sialnya lagi, aku terjatuh. Menjadi sasaran tatapan mata terkejut itu… tidak enak.

Seseorang memegang pinggangku dan mengangkatku tanpa kesulitan. Aku menoleh dan kulihat namja itu masih dengan senyuman palsunya. "Gwaenchana?"

Aku mengangguk dan membungkuk. "Ne, gamsahamnida."

Kurasakan tangannya menepuk puncak kepalaku pelan dan lembut. "Lain kali hati-hati, ne?"

"Eh? Uhm… ne." Aku mengangguk paham.

Ya! Lee Hyukjae! Wae geuraeee?!

xxXxx

Namja itu datang lagi. Di jam yang sama dan ditempat duduk yang sama. Aku menghampiri namja itu dengan membawa sebuah buku menu. Aku membungkuk kecil padanya ketika aku tepat didepan namja itu. Dia tersenyum palsu lagi.

"Selamat datang dicafe kami… ini buku menunya," Aku menyodorkan buku menu berwarna biru itu. "Jika sudah siap memesan, bisa panggil aku. Naneun "

"Hyukjae, kan? Aku akan memanggilmu ketika aku siap memesan." Potong namja itu sambil tersenyum.

Ya Tuhan! Kenapa dia selalu tersenyum seperti itu?!

Aku membungkuk permisi dan kembali ke meja kasir. Menunggu pelanggan yang akan memasuki pintu masuk café kami dan bersiap menyambut mereka. Tapi aku tidak bisa fokus saat ini. Aku hanya terus saja memandangi namja yang selalu tersenyum palsu itu. Aku menunggunya memanggil namaku.

Eh? Menunggunya memanggil namaku?

Kulihat namja itu mengedarkan pandangannya. Lalu matanya menemukanku yang berdiri disini. Senyumnya kembali merekah, tangannya melambai padaku. Aku balas tersenyum dan menghampirinya.

"Aku sudah siap untuk memesan." Ucapnya pelan.

Aku menyiapkan kertas untuk mencatat. "Baik, aku akan mencatatnya."

"Tirramissu satu potong, strawberry cake satu potong, satu milkshake strawberry, dan satu ice latte. Dan bolehkah aku memesan hal lain yang tidak ada dibuku menu ini?" Tanya namja itu sambil menatapku dalam.

"Eh? Tentu. Asalkan kami masih bisa membuatnya. Ada yang kau butuhkan lagi?"

Dia tersenyum. "Bolehkah… aku memintamu untuk mengobrol denganku? Hanya untuk hari ini. Jebal?"

Aku menatapnya ragu. Kalaupun aku mau, Heechul eonnie tidak akan mengijinkan aku bersantai dan mengobrol bersama seorang pelanggan. Apalagi namja asing. Aku tidak mau pelanggan lain menyalah artikan café ini sebagai host-club.

"A-aku tidak yakin…" Jawabku kikuk.

"Tenang saja. Aku akan meminta ijin pada atasanmu."

xxXxx

"Jadi, Donghae-sshi "

"Jangan panggil aku dengan embel-embel 'sshi'," Kali ini dia memotong ucapanku lagi. "Cukup dengan Donghae-ya. Lagipula kita masih seumur, bukan?"

Aku mengangguk dan menatap milkshake strawberry yang sudah hampir tidak dingin lagi itu. Dia ikutan menatap objek yang kuperhatikan. Aku bisa melihat dia tersenyum lagi, kali ini kulihat dia tersenyum miris menatap milkshake itu.

"Apa yang membuat kau tersenyum?" Tanyaku penasaran.

Donghae mengalihkan pandangannya padaku. "Apa kau tidak penasaran kenapa aku memesan ini setiap kali aku kesini?"

Aku menunduk dan mengangguk. Kurasa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku mulai penasaran akannya. Dia terkekeh dan memainkan garpu untuk memakan tirramissu cakenya yang sudah tinggal setengah. Aku mengangkat kepalaku dan memperhatikannya yang sedang menerawang keluar café.

"Kau mau membantuku?"

Aku mengangguk. "Aku akan berusaha sebisaku."

Tiba-tiba dia mengeluarkan secarik kertas dan menulis sebuah alamat disana. Dia menyodorkan alamat itu padaku dan tersenyum kecil. "Ini alamat yeojyachinguku. Dua bulan lagi aku seharusnya bertunangan dengannya. Namanya Im Yoona."

Hatiku perih. Yeojyachingu? Bertunangan? Secepat itukah aku menerima kenyataan ini? Aku baru saja merasakan jatuh cinta lagi setelah lama. Tunggu, ada yang aneh dari kalimat yang diucapkannya tadi.

"Seharusnya?"

Dia kembali tersenyum. "Kau bisa mencari tahu sendiri."

xxXxx

Dan disinilah aku sekarang. Menatap pintu apartemen bernomor 305 yang berada dilantai lima. Apartemen cukup mewah dan menawan. Aku memencet bel dan menunggu jawaban. Sekejap, ada suara dari dalam.

"Nuguseyo?"

Aku mengangkat wajahku dan menatap kamera yang memang dipasang khusus untuk melihat tamu. Aku tersenyum kecil. "Naneun Lee Hyukjae. Aku mencari Im Yoona."

Tiba-tiba pintu apartemen dibuka. Menampakan seorang yeojya dewasa yang mungkin seumur ummaku. Tatapan matanya sendu, tersirat kesedihan mendalam didalamnya. Apa aku salah bicara? Aku kan hanya ingin membantu Donghae.

"Kau… siapanya Yoona-ya?" Tanya yeojya itu.

"A-aku temannya ketika sekolah dulu. A-apa Yoona-ya ada?"

Maaf, ahjumma. Aku terpaksa berbohong kali ini. Tapi aku janji, hanya kali ini.

"Mianhada, Lee Hyukjae-sshi. Anakku, Im Yoona… meninggal tepat empat hari yang lalu karena sakit. Mungkin karena kau sudah lama tidak mendengar kabar, kau baru tahu sekarang. Mianhada, Hyukjae-sshi." Jawab yeojya itu terbata.

Seketika lidahku kelu. Aku hanya bisa menatap ahjumma yang sudah ingin menangis ini dengan tatapan tidak enak. Seenaknya aku menanyakan seseorang yang sudah meninggal didepan orang yang menyayanginya? Kau ini bodoh atau apa sih, Lee Hyukjae?!

"Ahjumma… jwisunghamnida," Aku membungkuk beberapa kali dan menatap yeojya itu serba salah. "A-aku seharusnya tidak bertanya apapun. Jwi-jwisungieyo…"

Yeojya cantik itu tersenyum pilu. "Gwaenchana, Hyukjae-sshi."

Aku membungkuk lagi dan segera pergi dari tempat itu. Aku memencet lift tak sabar dan memencet tombol G. Donghae… kehilangan calon tunangannya? Mungkin kalau aku jadi Donghae, aku akan bunuh diri saat ini juga.

Aku buru-buru keluar ketika pintu lift terbuka. Aku berjalan lagi menuju halte bus dengan gusar. Aku langsung mendudukan diriku dibangku halte. Kalau begini, aku tidak bisa membantu Donghae. Aku juga tidak mungkin menghidupkan orang mati bukan? Aku… tidak berguna?

Aku ingin, sekali saja. Berguna untuk orang yang kucintai.

"Kau sudah kembali?"

Aku menoleh cepat kesamping kananku. Kulihat Donghae yang sedang menatap langit mendung dengan wajah damainya. Dia menoleh padaku dan tersenyum lagi.

"Kau menyiksaku, Donghae-ya." Ujarku marah.

"Aku menyiksamu?" Ulangnya.

Aku mengangguk. "Dengan menyuruhku seperti ini. Apa yang sebenarnya kau ingin? Kau tahu kan kalau aku juga sama denganmu? Aku hanya manusia biasa. Aku tidak mungkin menghidupkan orang yang sudah "

"Meninggal?" Dia memotong ucapanku lagi.

Aku menunduk dan menatap sepatuku pilu. Apa yang dia ingin dariku sebenarnya? Tak tahukah, aku sudah cukup sakit ketika tahu ia sudah bertunangan? Aku juga merasa bersalah karena bertanya pada umma dari Im Yoona itu.

Kurasakan sebuah tangan melingkar dipinggangku. Masa bodoh! Aku tidak peduli lagi. Kubiarkan air mataku yang sudah tidak bisa kubendung lagi mulai berjatuhan dan membasahi sweater abu-abu milik Donghae.

"Aku ingin melepas sedikit penderitaanku, Hyukjae-ah. Dengan cara seperti ini, kau bisa mengerti kan apa yang kurasakan? Dengan mengerti, aku bisa sedikit lebih tenang sekarang." Jelas Donghae sambil mengelus punggungku.

"Kau jahat…" Isakku didada bidangnya.

Kudengar suara kekehannya yang menggema. "Hyukjae-ah… gomawo."

xxXxx

Bab 8

Y

Lee Donghae

"Noona…"

Minnie noona menoleh padaku. "Ne, Hae-ya? Ada yang kau inginkan? Atau kau merasakan sesuatu yang buruk?" Tanya Minnie noona dengan wajah khawatir.

Aku menggeleng. "Kapan lukaku sembuh?"

Kuperhatikan Minnie noona yang menatapku sendu. Dia menyibakkan poniku dengan jemarinya yang terlalu halus. Dia menatapku sayang dan mengusap pipiku lembut. "Secepatnya, Hae-ya. Kami semua menyayangimu."

"Apa dengan cara menyayangiku, lukaku akan sembuh?" Tanyaku lagi.

"Tentu saja. Tapi, kau juga harus bisa merelakan dan membuka hatimu kembali. Noona tahu pasti itu berat, tapi perlahan… kau akan sembuh. Sembuh dari luka ini." Dia menunjuk dadaku yang tertutup kaus berwarna putih yang kupakai.

Aku menggeleng. "Aku tidak akan bisa menemukan yeojya lain. Aku hanya mencintai Yoona, noona."

Minnie noona mengusap air mataku yang terjatuh dari tempat asalnya. "Aku yakin kau bisa. Kau percaya noona kan? Walaupun lama, aku yakin kau bisa."

"Entahlah…"

xxXxx

Lagi-lagi, aku memasuki café ini untuk yang mungkin keseratus kali. Hari ini aku tidak mau menunggu Yoona lagi ditempat kami berjanji waktu itu. Dia bilang akan menemuiku hari itu. Tapi dia tidak datang-datang. Telfonku juga tidak diangkat. Suara deru hujan yang membasahi jendela café menemaniku sampai café akhirnya tutup.

Dan tidak lama, aku mendapat kabar dari abeonim, appa Yoona. Dengan segera aku membayar pesananku dan menjalankan motorku ditengah hujan. Tidak peduli pada orang-orang yang meneriakiku karena mengebut. Aku memang sudah tahu, Yoona memang sakit selama ini. Tapi yang aku tidak pernah tahu, kenapa Yoona meninggalkanku secepat ini?

"Kau mau memesan?"

Aku menengadah dan tersenyum pada Hyukjae. Dia menatapku datar, tanpa ekspresi apapun diwajahnya. Aku menggeleng dan menepuk kursi yang ada disampingku. Tapi dia tidak beranjak dari posisi berdirinya saat ini.

"Aku sibuk, Donghae-ya." Ujarnya benar-benar datar.

Aku mengatupkan tanganku dan memasang wajah memohon padanya. "Jebal."

Hyukjae memutar bola matanya dan duduk disebrangku. "Apa yang mau kau bicarakan?"

"Aku ingin berhenti datang kesini karena aku sudah tidak mau menunggu Yoona lagi. Aku takut kau salah paham. Aku tidak mau mau mengira kalau aku tidak kesini lagi karena kau," Aku memperhatikannya yang masih diam. "Aku mau berusaha membuka hatiku lagi dan melupakan Yoona."

Hening.

'Kau pasti menemukan yeojya yang tulus mencintaimu setelah aku pergi nanti.' Ujar Yoona lemah.

Aku menggeleng cepat. 'Jangan bodoh. Kau tidak akan pergi kemana-mana chagiya.'

Yeojya cantik yang tengah berbaring didepanku ini menatapku sendu. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kukecup singkat bibirnya. 'Jangan mengatakan hal aneh lagi.'

'Jangan menyangkal oppa. Aku yakin yeojya itu bisa menggantikan kekosongan tempatku untukmu.'

"Kau tidak akan datang kemari lagi? Sekalipun?" Tanya Hyukjae dengan berbisik.

Aku mengangguk. "Aku akan kembali kekehidupanku yang normal. Kau juga baik-baik saja kan sebelum kau mengenalku?"

Yeojya manis ini mengangguk. "Tentu saja aku baik-baik saja. Tapi…" Dia menatapku dengan senyumannya yang sedikit agak aneh. "Aku mengerti kalau kau akan kembali kekehidupanmu sebelumnya."

"Gomawoyo, Hyukjae-ah."

Hyukjae mengangguk dan menunduk. "Cheonmaneyo, Donghae-ya."

xxXxx

"Sudah mau berangkat kerja?"

Aku mengangguk dan meneguk susu cokelat milikku sampai habis. "Noona berangkat sore?"

Kali ini noonaku yang mengangguk, senyumnya yang memperlihatkan gigi kelincinya membuatku sedikit gemas padanya. Tapi sayang, kalau saja dia bukan noonaku. Aku pasti akan jatuh cinta padanya. "Aku dapat shift sore."

Aku berdiri dan menaruh tasku dibahu kiriku. Minnie noona memelukku singkat sebelum aku berangkat kerja setelah seminggu cuti. Lagipula aku juga pemilik perusahaan, jadi santai saja. Aku melangkah menuju mobilku yang terparkir digarasi. Aku memasuki mobil Audi seri A5 itu dan meninggalkan area rumahku menuju kantor.

Lee Donghae imnida, 27 tahun saat ini. Sekarang menjabat sebagai Bendahara Utama Perusahaan Sendbill yang dipimpin abeoji. Perusahaan keluarga yang cukup terkenal dan sukses. Seharusnya Minnie noona juga ikut membantu mengurus perusahaan, tapi dia lebih memilih untuk membantu mengurus anak-anak kecil yang sakit.

Aku melewati daerah Dongdaemun yang selalu ramai. Tepat sekali, sekarang macet didepan café Sapphire Blue yang masih sepi. Sepagi ini jarang yang sudah mengunjungi café. Dengan jelas aku bisa melihat Hyukjae yang memakai baju maid berwarna hitam putih yang melekat sempurna ditubuhnya. Yeojya itu diam dan menatap keluar café dengan tatapan kosong.

Melamun… tidak bagus untuknya.

Aku menepikan mobilku dan keluar cepat-cepat. Aku menyebrang dan memasuki café itu dengan pura-pura santai. Apa yang kau lakukan dicafe ini? Kau bisa terlambat kekantor, Lee Donghae.

"Donghae?"

Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah. "Kau itu sudah manis dengan baju seperti itu. Jangan melamun."

Dia melotot padaku. "Ke-kenapa kau tahu?"

Aku mengangkat bahuku dan berpura-pura misterius. "Aku ini punya cctv sendiri dicafe ini. jangan melamun lagi, kalau melamun lagi aku akan datang lagi loh. Keurom, annyeong!"

Aku berjalan keluar café dan kembali kemobilku. Aku menoleh sebentar kedalam café. Kulihat Hyukjae dan sedang tersenyum kearahku. Lebih baik ia tersenyum daripada melamun dengan tatapan seperti orang yang kehilangan semangat.

Nah, Hyukjae. Kajja kajja fighting!

xxXxx

"Donghae hyung… Aku turut berduka."

Aku menyenderkan tubuhku yang terasa lemas dikursi kerjaku. "Gomawo, Kyuhyun-ah."

Suara desahan lelah Kyuhyun diujung telefon membuatku juga merasa lelah. "Mian aku baru menelefonmu sekarang. Aku baru tahu kabarnya beberapa menit yang lalu. Jeongmal mianhada…"

"Ya, gwaenchana. Sudah jangan bicarakan hal ini. Bagaimana perusahaan Cho ahjusshi? Kau tidak mengacaukan perusahaan itu kan?" Aku terkekeh kecil.

Kudengar kekehan jernih Kyuhyun. "Kapan SB akan bekerjasama dengan CP?"

"Akan kuatur pertemuan kita untuk membahasnya, hm? Main sesekali kerumahku, babo."

"Ya! Tingkatkan dulu kemampuan bermain Starcraft-mu." Ucapnya tanpa sopan santun sedikitpun, walaupun dia lebih muda tapi memang sifat kurang ajarnya sudah melekat dari dia lahir.

"Kau akan kaget ketika aku mengalahkanmu, Kyu."

Kyuhyun tertawa renyah. "Baiklah, kutunggu. Aku masih banyak kerjaan, hyung. Aku akan mengabarimu lewat pesan singkat."

Aku mengangguk mengerti. "Hm, arraseo."

Suara klik dari ponselku membuatku menjauhkan ponsel hitam tipis ini dari telingaku. Aku menaruh ponsel itu dimeja kerjaku yang agak lebih rapi dari biasanya. Kutatap foto yang terbungkus rapi dipigura. Fotoku dengan Yoona, malam natal tahun lalu. Aku mengambil foto itu dan menatapnya sebentar. Aku membuka laci dan menaruh foto itu diujung laci. Kututup lagi laci itu rapat-rapat.

Mengubur rasa kehilangan, apa bisa?

xxXxx

Aku menyetir dengan kecepatan sedang untuk menuju pulang kerumah. Hampir jam delapan malam, tapi rasanya aku tidak ingin pulang dulu. Aku mengarahkan stir mobil kearah café Sapphire Blue dan parkir didepan café bernuansa biru itu. Dari luar café itu masih ramai. Padahal hari ini hari Kamis.

Aku keluar dari mobilku dan berjalan memasuki café itu. Kutengokan kepalaku kesegala arah. Mencari seseorang, eh? Tapi dia tidak terlihat dimanapun.

"Mencari seseorang?"

Aku menoleh dan kulihat seorang yeojya yang lumayan cantik menatapku heran. Baju maidnya bergoyang pelan ketika angin meniup bajunya pelan. "Ne."

"Nugu?" Tanyanya lagi.

"Uhm… Lee Hyukjae?" Ucapku sepotong-potong.

Kenapa aku mencari Lee Hyukjae? Hyukjae yang kemarin berniat membantuku? Hyukjae yang kupikirkan tadi siang? Hyukjae yang sedikit demi sedikit menarik hatiku? Ya! Kenapa cepat sekali aku berpaling? Apa ini karena aku pernah jadi playboy? Tapi aku kan sudah taubaattt!

"Shiftnya sudah selesai tadi sore. Kau benar-benar ingin bertemu dengannya?"

Aku mengangkat bahuku, ragu. "Molla. Aku saja bingung kenapa aku mencarinya."

Yeojya cantik yang berdiri didepanku terkekeh pelan. "Jatuh cinta padanya, ya?"

Aku melotot dan menggeleng cepat. "Aniya. Aku hanya temannya dan tidak berniat untuk kearah yang seperti itu."

Untuk saat ini, kurasa itu yang terbaik.

"Baiklah," Yeojya itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna biru muda. "Akan kuberitahu nomor ponsel milik Hyukie eonnie. Mau tidak?"

Aku menatap yeojya itu yang tersenyum menggodaku. Aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Akupun mengeluarkan ponselku dan mencari dial-app untuk menulis sebuah nomor.

"Beritahu aku."

xxXxx

Aku menimbang-nimbang ponselku ditanganku. Dilayar ponselku sudah tertera sebuah deretan angka yang menurutku mudah diingat. Diatas deretan angka itu juga tertera sebuah nama pemilik nomor ini.

Lee Hyukjae.

Aku kembali bolak-balik dikamarku yang bernuansa biru dengan wallpaper ikan nemo yang super imut seperti aku. Sudah hampir lima menit aku berpikir keras untuk menelefonnya. Berlebihan? Tentu tidak! Aku hanya sedang bingung dan berpikir. Apa yang akan kukatakan jika dia benar-benar mengangkatnya?

Tapi ketika aku ingin lihat lagi, tidak sengaja layar ponselku terpencet dan langsung menelefon nomor itu otomatis.

"Ya? Ya! Ya andwae! Ponsel layar sentuh sialan!" Rutukku kesal.

Aku menempelkan ponsel sialan ini ditelingaku. Tidak lama, suara menunggu jawaban diponselku berganti menjadi sebuah suara klik. "Yeoboseyo?"

Suaranya… lembut.

"Nuguseyo?" Tanyanya lagi.

Sekali lagi, suara itu terasa menghipnotisku. Apa benar ini suaranya Hyukjae? Kalau aku bicara langsung kurasa suaranya tidak selembut dan sejernih ini.

"Ya!"

Kali ini aku menjauhkan ponselku karena teriakan Hyukjae dari ujung telepon. Suaranya yang kencang dan agak cempreng membuat telingaku sedikit sakit. Tapi aku tidak akan menarik kata-kataku yang memuji suaranya tadi.

"Hyukjae?" Ucapku akhirnya.

"Eh? Donghae?" Tanyanya ragu.

Aku terkekeh canggung. "Mian mengganggumu."

"Kau dapat nomorku darimana?"

"Eh? K-kau pernah memberitahuku waktu itu. Kau ini pelupa sekali." Dustaku.

Kudengar gumaman Hyukjae. "Oh… begitu. Aku tidak ingat."

Aku mengelus dadaku lega. "Dasar pelupa."

Hyukjae tertawa. "Aku tidak pelupa kok. Mungkin hanya sedang lupa saja."

"Bukankah itu sama saja?"

"Beda. Lalu… kenapa kau meneleponku?"

Pertanyaan ini, haruskah kujawab? Tapi aku harus menjawab apaaa?

"Hanya memastikan kau memberi nomor ini palsu atau tidak."

"Aku tidak mungkin bohong, Donghae-ya."

Hening.

Aku bingung mau mengatakan apalagi padanya. Dia juga hanya menungguku bicara. Lalu aku harus bagaimana? Aku memang dulu mudah mendapatkan yeojya cantik. Tapi kalau begini, aku bisa mati gaya juga.

"Kau sudah melupakan Yoona?" Tanyanya pelan.

"Belum. Tapi tidak seperti dulu yang setiap saat mengingatnya. Berusaha membuka hati juga sedang kulakukan."

Kudengar gumaman Hyukjae lagi. "Kalau ada yang mengatakan kalau dia menyukaimu atau mencintaimu, kau akan bilang apa?"

Aku berpikir sebentar. Tapi akhirnya aku mengangkat bahu. "Mollaseoyo. Habis selama ini juga belum ada yang seperti itu."

"Keuromyeon, saranghae."

xxXxx

Bab 9

Your Eyes

Choi Siwon

"Jadi, kau belum punya yeojyachingu?"

Aku mengangguk dan tersenyum setampan mungkin. "Saat ini sih belum. Doakan saja yang terbaik."

Kulihat MC Shin Dongyup dan Lee Dongwook yang memandu acara Strong Heart ini melanjutkan acaranya. "Tapi, Siwon-sshi. Kau masih muda, 26 tahun kan?"

"Ne, benar."

"Aku juga baru 26 tahun kok," Ucap MC Dongyup. "Dulu."

Sontak kami semua yang berada distudio tertawa. Tak terkecuali aku. Kami melanjutkan acara dan sekarang giliran tiga namja tampan yang terkumpul dalam boyband bernama EXO. Kulihat didepan samping kamera, Leeteuk noona yang sedang bersantai.

"Cha! Akhirnya kita sampai dipenghujung acara. Dan kandidatnya untuk pemenang hari ini adalah," Ucap kedua MC itu kompak. "Siwon dan Sehun."

"Siapa ya yang akan menang?" Tanya Dongwook hyung pura-pura penasaran.

"Dan… pemenang hari ini adalah…"

Aku menutup mataku untuk menghidari angin yang akan keluar dari bawah kakiku. Tapi ternyata suara angin bertiup dari arah belakangku. Kulihat rambut Sehun yang sudah berantakan tidak karuan. Namja itu tertawa geli bersama para tamu.

"Ne, Siwon-sshi! Chukhahae!"

xxXxx

Annyeonghashimnikka, Choi Siwon imnida. Aku berumur 26 tahun saat ini dan bekerja sebagai entertainer, lebih berfokus didrama sih. Aku hyung dari Choi Minho yang baru menginjak umur 6 tahun. Jauh? Yah… umma bilang membuat Minho karena tak sengaja. Haha kasihan Minho.

Sebagai anak pertama, abeoji selalu bilang aku harus bertanggung jawab atas segala yang kupunya. Apalagi agama yang kuanut saat ini. Yang kedua, jangan membuat malu keluarga. Sebaiknya abeoji mengkhawatirkan Minho yang mempunyai sikap kekanak-kanakan.

Saat ini aku sedang berada di-van bersama Teukie noona dan tentu saja supir kantor. Aku baru saja pulang dari acara Strong Heart dan sedang menuju ke SM Building untuk mengkonfirmasi kerjaanku hari ini dan kerjaanku esok. Biasanya Teukie noona akan mengeluh jika kami pulang larut seperti saat ini, tapi kenyataannya dia sedang asik terkekeh sambil menatap layar ponselnya. Kangin hyung ya?

Aku menutup mataku dan menyenderkan tubuhku senyaman mungkin dikursi van. "Teukie noona benar-benar tidak menyukai Kangin hyung?" Tanyaku dengan mata terpejam.

"Geumanhae," Ujar Teukie noona kesal. "Aku hanya sahabatnya."

"Untuk saat ini memang Teukie noona itu sahabatnya. Tapi untuk nanti? Bisa saja kalian jatuh cinta dan menjadi pasangan kekasih."

Kudengar Teukie noona mendecak kesal. "Kubilang hentikan, Choi Siwon. Lebih baik kau tidur."

Aku tidak berniat membuka mataku yang berat. Teukie noona dan Kangin hyung sekarang memang dekat dan kudengar mereka juga sering bertemu disuatu tempat berdua. Tapi Teukie noona selalu bilang kalau Kangin hyung itu hanya sahabatnya, sedangkan Kangin hyung hanya bungkam dan membicarakan hal lain ketika kutanya.

Ryeowook, adik dari Kangin hyung yang membuat mereka bersahabat. Teukie noona jadi penyemangat Kangin hyung untuk terus optimis kalau Ryeowook bisa sembuh. Memang berat sih kalau aku menjadi Kangin hyung. Sekarang Ryeowook juga dengan dengan Yesung hyung. Aku berani bertaruh kalau kedua namja itu sedang jatuh cinta saat ini.

Dan hanya aku yang sendirian.

Tiba-tiba bayangan seorang yeojya cantik memakai setelan seragam maid berterbangan dipikiranku. Yeojya yang kukenal sejak SMA itu sudah merebut hatiku sejak lama. Tapi dulu aku pengecut. Aku tidak berani mendekati apalagi menyatakan cinta. Menyapanya saja aku sudah gemetar hebat.

"Ah… Kim Kibum."

"Ya! Cepat tidur!"

Aku membuka mataku dan menatap Teukie noona yang membuat pikiranku tentang Kim Kibum buyar seketika. Aku melayangkan tatapan kesal padanya. "Noona cerewet."

xxXxx

Hari ini aku mendapat libur. Tentu saja agensiku tidak akan memberikan waktu lama untuk libur. Aku hanya diberi waktu dua hari untuk beristirahat dari syuting drama di Taiwan yang membuat kulitku menghitam. Tapi kebanyakan orang menyukainya, karena aku terlihat lebih seksi. Tapi kalau aku terlalu hitam, aku terlihat seperti bocah kampung dari Indonesia.

Aku memeriksa ponselku dan menatapnya bosan. Aku tidak punya janji bertemu dengan siapa-siapa hari ini. Diapartemenku yang kadang Teukie noona menginap ini juga tidak ada hiburan selain tv. Mau makan, tapi tidak ada makanan. Memasak? Oh ayolah… aku hanya bisa memasak ramyun. Itupun aku membuat ramyun itu membengkak karena terlalu lama memasaknya.

Apa aku harus ke café tempat Kibum bekerja?

Aku terkekeh ketika otakku yang diatas rata-rata ini berpikir jernih layaknya air mineral. Aku langsung mengganti pakaianku dan menyambar kunci mobil yang tergeletak dimeja samping pintu apartemen. Tapi aku mengurungkan niat untuk membuka pintu apartemenku ketika suara dering telepon nyaring terdengar olehku.

Aku merogoh saku celanaku dan mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang menelepon. "Yeoboseyo?" Ucapku sedikit kesal.

"Hyung! Minho cedang belada dicafe loh cama Kyu ahjuci. Hyung kecini dong~" Rajuk namja kecil itu manja diujung telefon.

Sudah kuduga, Kyuhyun pasti mengajak namdongsaengku pergi ketika ia mengunjungi rumah keluargaku. "Hyung tidak bisa, Minho-ya."

Kudengar suara kecewa Minho. "Waeyo? Padahal aku cama Doktel Lee juga dicini."

Uh… bagaimana ini? Aku juga rindu ingin bertemu Minho, tapi aku lebih rindu lagi pada Kibum. Aish! Memutuskan pilihan seperti ini memang berat!

"Mianhae, Minho-ya. Lain kali hyung akan makan ice cream bersama Minho, Kyuhyun ahjussi, dan Dokter Lee. Hm? Hyung janji." Ucapku sambil membuka pintu apartemen.

Kudengar desahan kecewa Minho. "Kalau hyung bohong, belikan aku kacet Winning Eleven telbalu. Yakcok?"

"Yaksok, aegya. Keurom, annyeong."

xxXxx

Café tampak ramai dari luar. Bisa kulihat dengan jelas Kibum yang ada didalam sedang melayani beberapa tamu. Aku memasuki café itu dan seketika banyak pelanggan yeojya yang terkejut akan kehadiranku. Beginilah nasib menjadi namja tampan.

"Ciwon hyung!"

Aku menoleh cepat kearah sumber suara. Kulihat namja kecil tampan itu sedang melambai padaku. Dia bersama dengan Kyuhyun dan seorang yeojya cantik yang kukenal bernama Lee Sungmin itu. Ternyata café yang dimaksud Minho itu… café ini?

"Ciwon hyung! Cini!" Teriak Minho lagi.

Aku menghampiri meja berbentuk bulat yang diatasnya terdapat beberapa pesanan. Aku duduk disebelah Kyuhyun. "Aku tidak tahu kalian berada disini."

"Siwon hyung sendiri kenapa kesini?" Tanya Kyuhyun dengan wajah superdatar miliknya.

"Aku? Aku hanya mau makan siang."

Dan tentu saja bertemu Kibum.

"Aku baru saja mau pulang. Hyung telat." Jelas Kyuhyun sambil menyesap latte.

"Gwaenchana kalau mau pulang duluan. Ah… Sungmin-sshi? Kau sedang libur?"

Sungmin menggeleng dan tersenyum. "Aniya, Siwon-sshi. Aku hanya istirahat makan siang."

Aku mengangguk paham. Aku mengedarkan pandanganku dan tidak sengaja langsung bertemu pandangan dengan Kibum yang sedang berjalan kearahku. Dia membawa sebuah buku menu berwarna biru didekapannya. Rambutnya yang hitam panjang bergoyang pelan ketika ia berlari kecil.

"Selamat datang dicafe kami… ini buku menunya," Kibum menyodorkan buku menu yang tadi dibawanya. "Jika sudah siap memesan, bisa panggil aku. Naneun Kibum imnida."

Aku menerima buku menu itu dan tersenyum setampan mungkin. "Gomawo."

Dia ikut tersenyum dan melenggang pergi. Membuat aroma tubuhnya tercium sampai kehidungku. Harum masih sama. Sampai sekarang aku penasaran sebenarnya dia memakai parfum apa. Harumnya tidak menyengat dan lembut. Ah… snow whiteku.

xxXxx

"Ya! Choi Siwon-ah."

Aku menoleh dan kulihat namja jangkung itu berjalan masuk kedalam ruangan yang sudah kusewa untuk makan siang. Dia memelukku singkat dan duduk didepanku. Shim Changmin, namja tukang makan yang dulu salah satu teman sekelasku. Aku dan Changmin juga lumayan terkenal disekolah.

"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku sambil mulai makan ketika pesanan makanan sudah sampai.

Changmin sibuk mencocol sambal. "Baik, baik sekali. Nae abeoji merestuiku dengan namjachinguku." Dia terkekeh dan tersenyum lebar.

Aku melotot. "Jeongmal? Uwah! Chukhahae, Changmin-ah. Lalu kapan undangan akan disebar?"

Dia menatapku sebal. "Aku ini baru direstui, Kuda. Tidak mungkin aku langsung menikah dengannya, babo."

"Oh, kupikir kau ingin buru-buru memiliki Seven hyung seutuhnya."

"Tentu saja, tapi tidak secepat itu. Tunggu saja, aku pasti akan mengirim undangannya," Changmin menyuap makanannya. "Kau sudah bertemu dengan yeojya kutu buku itu?"

Aku menatapnya tajam. "Kibum namanya."

Changmin terkekeh takut. "Tentu saja, aku hanya bercanda. Kau sudah bertemu dengannya belum?"

"Sudah, tapi kurasa dia tidak mengingatku."

"Tidak mungkin. Dia pasti tahu siapa kau dan mengingatmu sebagai teman satu sekolah bahkan satu kelas dulu. Keadaannya dia tidak bisa menyapamu duluan. Jadi kau yang harus mengingatkannya."

"Tapi "

"Ah! Ada reuni sekolah! Aku baru ingat. Tadi sebenarnya aku ingin memberitahumu. Tapi aku lupa." Dia nyengir.

"Kapan?" Tanyaku cepat.

Dia memiringkan kepalanya dan menatap jam tangannya. "Hm… hari ini dan acaranya sudah dimulai kurasa."

"Babo!"

Aku meminum colaku dan menarik namja jangkung itu keluar. Aku buru-buru kekasir dan membayar sejumlah uang. Aku masih menariknya menuju mobilku yang terparkir diluar. Kupaksa ia masuk dan duduk dikursi depan. Aku langsung menancap gas kearah SM High School.

"Ya! Choi Siwon! Aku ini membawa mobil, tahu?" Changmin menoleh terus menatap mobil silver naas yang tertinggal.

"Aku tak punya banyak waktu, Changmin. Kenapa kau tidak memberitahuku daritadi?!"

Changmin terdiam. "Aku lupa."

Aku terus menatap jalanan dan menyetir dengan kecepatan yang biasanya tidak kugunakan. Aku selalu hati-hati membawa mobil. Aku ini aktor yang tidak mau menyulitkan pengguna jalan karena membawa mobil dengan ceroboh. Tapi untuk kali ini saja, aku ingin cepat-cepat sampai.

Aku membelokan mobilku dan mataku sudah melihat gedung sekolah itu. Aku tersenyum kecil dan terus melajukan mobil. Setelah aku tepat berada didepan sekolah, aku memarkirkan mobil itu. Changmin tampak pusing.

"Waeyo?" Tanyaku tanpa menatapnya. Mataku sibuk mencari yeojya kutu buku yang bermetamorfosis menjadi yeojya cantik.

"Kau mengebut, dan membuatku mual." Jawab namja itu lemah.

Aku menoleh dan melihat Changmin yang sudah pucat, aku terkekeh. "Mian. Sekarang bantu aku mencari yeojya itu."

Aku memasuki area SM High School dengan sedikit gugup. Kurasa aku tak akan mudah menemukan yeojya itu. Meskipun aku hafal dengan harum parfumnya, tapi satu banding seribu yang datang benar-benar tak mudah.

Beberapa orang mengenaliku dan Changmin. Kebanyakan orang-orang yang tak kukenal. Tapi Changmin yang dulu banyak temannya jadi sedikit terganggu. Dia malah mengobrol dan tidak membantuku mencari Kibum. Ah… masa bodoh.

Aku terus menajamkan pandanganku kesetiap penjuru. Kulihat diarah jam dua, Kibum sedang tertawa. Entah dengan siapa, yang jelas aku harus segera kesana. Aku berlari menuju kearah Kibum tadi. Tapi tiba-tiba bayangan yeojya itu menghilang.

Aku mengatur nafasku yang tak tentu karena lelah berlari. Kurasakan sentuhan dibelakangku. Aku menoleh dan kulihat seorang yeojya cantik tersenyum padaku. Rambut hitam panjangnya dibentuk bergelombang. Riasannya tampak natural. Dan baju terusan berbelahan dada rendah berwarna abu-abu itu membuatnya terlihat seksi. Ini halusinasi kan?

"Senang bertemu lagi denganmu disini."

Tak ada lagi kacamata berbingkai tebal dan sejumlah buku tebal yang ia dekap erat. Tak ada lagi menunduk untuk menatapku sekarang. Tapi gugup yang kurasakan masih sama dengan beberapa tahun lalu. Apa dia masih membenci orang kaya?

Aku membalas senyumannya. "Aku jauh lebih senang bertemu lagi denganmu."

Seketika senyumnya hilang, digantikan dengan wajah bingung. "Kenapa kau jauh lebih senang?"

"Karena aku bertemu denganmu?" Jawabku dengan nada tanya.

Dia malah terkekeh. "Lebih baik kita menuju aula sekarang. Otte?"

Aku mengangguk dan mengikutinya berjalan. Dia terlalu mempesona hari ini. Aku hanya ingin lihat dia mempesona didepanku, tidak didepan namja lain. Banyak orang yang memperhatikan kami. Bertatapan iri.

"Semua menatap kita." Bisiknya.

"Mereka iri. Kenapa kedua orang itu tampak serasi." Jawabku sambil mengikuti perkataan orang.

Kibum tertawa. "Setenar itukah jika aku sungguhan jadi pasanganmu? Aku tak menyangka."

Aku tersenyum. "Kenapa kau tidak membuktikannya sendiri. Setenar apa jika kau sungguh menjadi yeojyachinguku."

"Eh?"